• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modal Sosial di Kota Banjar

Dalam dokumen BAB II Gambaran Umum Kota Banjar (Halaman 44-49)

2.2.4 Sosial Kependudukan

2.2.4.2 Modal Sosial di Kota Banjar

Modal sosial (social capital) menunjuk pada ciri pengelompokan sosial atau organisasi sosial, termasuk asosiasi dan jaringan-jaringannya, di mana orang-orang yang terlibat di dalamnya satu sama lain memiliki kepercayaan, bahwa hubungan-hubungan yang berlangsung di antara mereka dapat memfasilitasi dan mewujudkan kepentingan tertentu. Modal sosial ini berisi norma-norma yang mengatur hubungan, dengan sanksi dan ganjaran yang cukup jelas bila ada yang melanggar. Hubungan itu juga menunjuk adanya “resiprositas” yang mutualis-simbiotik, hubungan yang saling menguntungkan.

Sebagai contoh, modal sosial dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan kedaerahan, kekerabatan, dan keagamaan di daerah perantauan cukup berperan penting dalam membuka kesempatan kerja dan peluang usaha atau peningkatan kesejahteraan pada anggota perkumpulan bersangkutan, karena di antara mereka saling mempercayai untuk melakukan kerja sama. Saling mempercayai itu memungkinkan mereka memiliki kemampuan kompetitif dalam kegiatan usaha ekonomi dibandingkan dengan kelompok lain yang anggotanya kurang memiliki kepercayaan untuk bekerja sama. Jadi, keunggulan bersaing tersebut bukan hanya karena mereka memiliki bakat kewirausahaan dan modal ekonomi, tetapi juga bersumber dari perkumpulan tersebut, di mana di antara anggota perkumpulan tersebut saling membantu dalam rangka transaksi ekonomi di pasar modern.

Modal sosial sebagai organisasi dan asosiasi lebih banyak terbentuk dari hubungan yang berlangsung di antara mereka, jadi bukan hanya suatu jaringan hubungan yang dibentuk dengan sengaja secara formal. Modal sosial akan terlihat operasional bila terkait dengan sektor kehidupan yang lain, umpamanya dengan kepentingan ekonomi atau aktivitas pemeliharaan ketertiban. Modal sosial yang kuat menunjuk pada adanya saling mempercayai di antara warga masyarakat, ada norma yang cukup jelas dalam sanksi dan ganjaran, kerja sama, dan saling mengendalikan atau mengawasi di antara anggota jaringan itu. Bila modal sosial ini dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi, umpamanya dalam usaha bisnis, maka usaha bisnis dari warga masyarakat itu akan berkembang, karena di antara anggotanya akan saling membantu, mengawasi, dan bekerja sama. Juga bila dikaitkan dengan upaya menjaga

ketertiban dan kebersihan, maka warga masyarakat yang modal sosialnya kuat tempat tinggal mereka akan menunjukkan kebersihan dan ketertiban. Sebaliknya, bila modal sosialnya lemah, maka usaha-usaha bisnis tidak akan banyak berkembang atau kalaupun berkembang tidak akan dinikmati oleh banyak warga jaringan, tetapi hanya oleh sebagian kecil. Juga terkait dengan kebersihan dan ketertiban, wilayah di mana penghuninya menunjukkan modal sosial yang lemah, cenderung menunjukkan adanya kekurangtertiban dan wilayahnya kurang bersih. Kota Banjar dilihat dari kewilayahan dan mata pencaharian penduduknya bercorak pedesaan dan juga perkotaan. Dalam konteks pedesaan berarti sebagian besar penduduknya bertumpu pada mata pencaharian yang banyak terkait dengan sektor pertanian, sementara dalam konteks perkotaan berarti sebagian besar sumber nafkah penduduknya akan terkait dengan sektor jasa, perdagangan, dan industri.

Kedua corak wilayah dan sumber nafkah penduduk Banjar akan menunjukkan adanya perbedaan dalam hubungan sosialnya. Tetapi perbedaan itu bukan sesuatu yang diametris, yang bertentangan atau berlawanan satu sama lain, hanya suatu perbedaan relatif, karena masyarakat desa yang ada di Banjar juga tidak terletak jauh dari pusat kota. Hal ini bisa ditunjukkan oleh adanya penduduk Banjar yang sumber nafkahnya “rangkap”, bekerja di sektor pertanian dan sektor non-pertanian. Ini dimungkinkan karena aksesibilitas dari desa ke kota tidak begitu jauh terpisah, malah nampak berhimpitan. Di samping itu, karena wilayah kota dan desa saling berhimpitan, maka tingkat mobilitas penduduk antara kedua wilayah itu juga tinggi. Meskipun bukan suatu mobilitas geografis yang permanen, mobilitas tersebut lebih didorong oleh adanya kepentingan sosial, seperti untuk silaturahmi, ekonomi, kepentingan pekerjaan atau pemenuhan kebutuhan konsumsi rumah tangga. Mobilitas tersebut juga dapat dilakukan secara ulang-alik, artinya masing-masing orang yang melakukan mobilitas tidak mesti menginap di tempat tujuan mobilitas.

Terdapat tiga bentuk modal sosial. Pertama, modal sosial yang muncul dan bertumpu pada ekonomi pertanian, yakni modal sosial masyarakat desa; kedua, modal sosial yang muncul dan bertumpu pada ekonomi perkotaan, yakni modal sosial masyarakat kota; dan ketiga, modal sosial “campuran”, modal sosial yang merupakan hasil interaksi dari kehidupan sosial-ekonomi perdesaan dan kehidupan sosial-ekonomi perkotaan.

Modal sosial di perdesaan menunjukkan adanya hubungan sosial di antara warganya yang bersifat tatap muka (face to face relationship). Di antara warga desa biasanya saling mengenal, bahkan dengan warga desa tetangganya. Setidaknya desa itu masih menunjukkan ciri sebagai suatu komunitas, yakni wilayah yang dihuni oleh orang yang masih terikat oleh wilayah tempat

tinggalnya, ikatan hubungan ketetanggagaan, dan kekerabatan. Di antara warga komunitas tampak masih cukup banyak yang memiliki hubungan darah atau kekerabatan. Hubungan kekerabatan, apalagi bila tinggal dalam satu komunitas, memungkinkan terjadinya hubungan yang dekat di antara mereka dan juga memungkinkan hubungan saling bantu dan kerja sama. Hubungan ketetanggaan juga memungkinkan terjadinya hubungan dekat, saling bantu, dan kerja sama. Hal itu dimungkinkan, karena mereka bertempat tinggal di tempat yang sama dan juga kebersamaan di dalam komunitas yang sudah berlangsung cukup lama.

Hubungan kerja sama dan saling bantu di antara tetangga dan kerabat di perdesaan bisa dilihat bila di antara mereka ada acara yang melibatkan sebagian atau seluruh warga komunitas, misalnya dalam acara selamatan. Untuk pelaksanaan acara tersebut, setiap anggota komunitas yang diminta terlibat akan menyumbangkan tenaganya sesuai dengan kemampuan yang ada, baik berupa materi, tenaga maupun keduanya. Di samping itu, kerja sama di antara warga komunitas itu bisa dilihat pada pengerahan tenaga kerja dalam siklus kerja pertanian. Di situ akan terlihat bila seseorang membutuhkan tenaga kerja untuk membantu mengolah lahan pertaniannya, maka ia akan meminta bantuan pada kerabat atau tetangga yang dikenalnya. Meskipun sistem upah sudah berkembang, tetapi hubungan kerja dalam sistem pengupahan itu tetap dipengaruhi oleh hubungan kekerabatan dan ketetanggaan.

Walaupun warga komunitas perdesaan Banjar ada hubungan saling bantu dan kerja sama, tetapi organisasi yang secara khusus mengatur soal kerja sama dan saling bantu itu tidak begitu tampak pada acara komunitas, hubungan kerja yang ekonomis di sektor pertanian, maupun pada organisasi dalam bentuk yang formal. Modal sosial dalam arti pengorganisasian, yang ada di komunitas perdesaan Banjar jauh dari formalitas. Hubungan kooperatif dan pertukaran di antara mereka terbentuk oleh kebiasaan tradisi sebagai warga komunitas.

Di wilayah perkotaan Banjar, kondisi saling bantu dan kerja sama di antara warga komunitas itu sudah mulai memudar, meskipun belum sepenuhnya berubah. Saat ini, di komunitas kota Banjar yang terlihat menonjol adalah hubungan kerja yang bersifat ekonomis di antara warga. Namun hal ini belum sepenuhnya berlangsung, artinya masih ditemukan juga adanya hubungan sosial yang dekat di antara mereka, terutama dalam hubungan ketetanggaan. Hal ini disebabkan, Kota Banjar itu sendiri belum sepenuhnya bercorak kekotaan yang relatif terpisah dari komunitas perdesaan. Kota Banjar dikelilingi oleh komunitas perdesaan, yang akan mempengaruhi hubungan sosial di wilayah perkotaan. Sebagian warga Kota Banjar yang bekerja di daerah perkotaan, di sektor non-pertanian, bertempat tinggal di wilayah perdesaan. Hampir setiap hari mereka melakukan perjalanan ulang-alik untuk bekerja. Wilayah Banjar yang

tidak begitu luas, mempermudah perjalanan ulang-alik dengan sistem transportasi yang ada. Inilah yang disebut sebagai modal sosial campuran, yang dipengaruhi oleh kehidupan komunitas pedesaan. Dalam sistem ini, belum muncul organisasi yang lebih khusus mengelola hubungan kerja tersebut.

Sangat sulit untuk menyatakan bahwa di Kota Banjar sudah terbentuk modal sosial yang bercorak kekotaan. Jadi, wilayah Banjar masih bercorak kombinasi komunitas desa dan kota yang saling mempengaruhi. Sebaliknya, komunitas perdesaan yang utuh sulit ditemukan, karena mulai besarnya pengaruh perkotaan. Dalam hal ini, hubungan kerja di perdesaan dalam batas-batas tertentu harus memakai hubungan kerja ekonomi. Misalnya dalam hal pengelolaan teknologi elektronika atau perangkat teknologi pertanian, termasuk keperluan beberapa jenis sarana produksinya, bagaimanapun penduduk desa yang memiliki dan menggunakan teknologi itu harus berhubungan dengan hubungan kerja ekonomis yang kontraktual.

Hanya mungkin sejak satu dekade lalu nampak mulai tumbuh ragam organisasi di Kota Banjar yang bercorak kepentingan tertentu, di luar kepentingan-kepentingan urusan pemerintahan. Artinya, di Kota Banjar ini mulai tumbuh organisasi-organisasi yang memiliki kepentingan khusus, apakah itu yang bersifat kepentingan ekonomi, sosial, kebudayaan dan kesenian, politik, profesi, dan bahkan yang terkait dengan hobi. Karena kepentingan yang beragam itu, maka aktivitas-aktivitasnya juga beragam, ada bergerak di bidang bisnis atau usaha ekonomi, pengembangan seni tradisional, pengelolaan lingkungan hidup, organisasi-organisasi massa yang berafiliasi pada partai politik tertentu atau yang independen, ikatan-ikatan yang terkait dengan profesi keilmuan tertentu, lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di berbagai isu, termasuk isu hak-hak-hak asasi manusia, dan lain sebagainya. Kurang lebih organisasi-organisasi yang tercatat itu jumlahnya hampir mencapai lima puluh, bahkan ada di antaranya yang secara formal disahkan oleh akte notaris dan merupakan bagian dari organisasi besar pada tingkat provinsi dan nasional. Mungkin organisasi-organisasi inilah yang di atas kertas yang ada sekarang ini di Kota Banjar sudah bersifat formal.

Tetapi keformalan dari organisasi itu tidak sepenuhnya bercorak organisasi ideal perkotaan, yang dilandasi hubungan-hubungan kontraktual. Di antara anggota-anggota organisasi itu banyak juga yang anggotanya berasal dari komunitas-komunitas pedesaan Banjar. Sekali lagi, asal komunitas ini akan berpengaruh pada hubungan-hubungan yang terjadi pada organisasi-organisasi itu, meski formalnya bercorak kekotaan. Sebaliknya, organisasi-organisasi-organisasi-organisasi ini akan juga berpengaruh pada kehidupan komunitas-komunitas pedesaan yang ada di Banjar. Dengan

demikian, mungkin wilayah Banjar ini sedang dihadapkan pada perubahan-perubahan dalam bentuk modal sosial, yang mungkin ke depannya, akan cenderung lebih bercorak kekotaan. Yang menjadi persoalan, apakah modal sosial masyarakat desa dan kota di Banjar ini sudah fungsional dan dapat mendukung pada perkembangan ekonomi agropolitan? Secara garis besar untuk tujuan pengembangan Kota Banjar masalah inilah yang nampaknya perlu diidentifikasi dan kemudian didorong untuk berkembang dan dapat memberi kontribusi pada perkembangan Kota Banjar.

Kota Banjar yang baru berdiri beberapa tahun, sebagai kota bagaimanapun memiliki potensi untuk berkembang. Sekarang ini nampaknya pemerintah kota berusaha untuk mengembangkan ekonomi, menjaga ketertiban, dan pemeliharaan kebersihan. Dan Kota Banjar sekarang ini nampak sebagai kota yang cukup bersih, meski di bagian-bagian luar kotanya, wilayah pedesaan, tidak sebersih di pusat kotanya. Kebersihan ini nampaknya merupakan inisiatif pemerintah kota ketimbang masyarakat dan pemerintah mengharapkan inisiatif ini akan berkelanjutan, artinya didukung dan diteruskan oleh warga masyarakat itu sendiri.

Juga dalam hal ketertiban, nampaknya pemerintah kota berusaha untuk menata tata ruang kota Banjar ini. Memang terlihat, bahwa tidak begitu banyak ruang-ruang publik yang ditempati oleh usaha-usaha ekonomi sektor informal, seperti Pedagang Kaki Lima (PKL) meski di beberapa bagian kota ada juga yang “diduduki”. Memang tugas menjaga ketertiban ini adalah wewenang langsung pemerintah. Tetapi nampaknya pemerintah belum secara penuh melibatkan warga masyarakatnya untuk menjaga ketertiban ini dan karenanya warga masyarakat ini umumnya menyebutkan bahwa memelihara ketertiban yang di sekitar lingkungan mereka adalah tugas pemerintah.

Ketertiban tata ruang kota ini terkait dengan perkembangan kota itu sendiri. Memang sekarang kota Banjar belum menunjukkan perkembangan yang pesat. Tetapi dalam tahapan ke depan Kota Banjar ini bagaimanapun akan berkembang sebagai kota, baik karena ada dukungan langsung dari pemerintah maupun inisiatif-inisiatif yang muncul dari warga masyarakatnya. Nah, dalam perkembangan kota ini akan muncul urbanisasi, perpindahyan penduduk ke Kota Banjar, baik yang dilakukan oleh penduduk pedesaan Kota Banjar itu sendiri maupun para pendatang dari luar Kota banjar, yang terkait dengan kepentingan berusaha dan pendidikan. Bagaimanapun urbanisasi ini akan berpengaruh pada masalah kebersihan, ketertiban tata ruang kota, dan hubungan sosial di antara penduduk pendatang dan penduduk yang sudah lama menetap. Meski belum begitu terlihat besar, nampak ada kecenderungan urbanisasi yang ada di Kota Banjar ini naik, terutama dalam kaitannya dengan usaha-usaha ekonomi. Dan

nampaknya mereka yang berurbanisasi ini berasal dari golongan muda usia produktif yang lebih banyak berusaha di sektor ekonomi informal.

Kasus-kasus kriminalitas, meski tidak berkembang secara berarti dan meluas, ada juga kecenderungan untuk naik. Masalah ini berhubungan dengan belum terbukanya kesempatan kerja dan peluang berusaha. Mungkin juga kasus-kasus ini terdorong oleh proses urbanisasi itu. Jadi di sini masalahnya, bagaimana mengendalikan urbanisasi, tetapi yang terutama dalah membuka kesempatan kerja dan peluang berusaha bagi warga masyarakat Banjar itu sendiri. Kenakalan remaja juga nampak mulai meningkat, terutama dalam kaitannya dengan penggunaan narkotika. Di Banjar telah ditemukan juga sebagian remaja dan kaum muda yang telah menggunakan narkotika.

Dari pengamatan yang dilakukan, nampak bahwa peran modal sosial masyarakat dalam upaya mencegah dan menanggulangi permasalahan-permasalahan yang dihadapi Kota Banjar belum terlihat. Perkumpulan-perkumpulan masyarakat yang ada di pedesaan atau di perkotaan masih terfokus pada kegiatan-kegiatan yang menjadi tugas mereka sehari-hari. Belum menunjukkan adanya upaya-upaya untuk memperluas kegiatannya. Di samping itu, perkumpulan-perkumpulan masyarakat itu sendiri tidak menunjukkan adanya kegiatan yang rutin, yang terus menerus mengerjakan apa yang menjadi perhatian utama mereka. Kegiatan mereka lebih bersifat temporer dan sporadis. Kemudian juga, Pemerintah Kota Banjar belum menunjukkan secara aktif untuk mengaktifkan kegiatan-kegiatan perkumpulan itu serta memperluas perhatian perkumpulan-perkumpulan itu serta memperluas jaringan-jaringannya.

Dalam dokumen BAB II Gambaran Umum Kota Banjar (Halaman 44-49)

Dokumen terkait