1.3 Tujuan Penelitian
2.1.2 Model Dua Jurang ( Two Gap Model )
Terdapat aspek lain yang mendesak negara berkembang melaksanakan utang luar negeri yaitu terdapatnya suatu keadaan yang di hadapi oleh tiap negara berkembang serta permasalahan itu merupakan minimnya dana dalam proses
17 pembangunan baik itu dari dalam negeri ataupun luar negeri. kondisi ini di sebut two gap models( model 2 jurang) ialah kesenjangan antara investasi-tabungan( I–
S gap) serta kesenjangan antara ekspor-impor( X– M gap).
Inti dari teori ini mengatakan bahwa negara berkembang menghadapi masalah yaitu keterbatasan tabungan dalam negeri yang jauh dari lumayan untuk menggarap kesempatan investasi dan kelangkaan devisa yang tidak membolehkan untuk mengimpor benda modal yang sangat berarti untuk pembangunan. Secara umum teori ini berasumsi bahwa kesenjangan antara persediaan dan kebutuhan tabungan serta kesenjangan devisa tidak sama nilainya. Tabungan domestik dan transfer capital dari luar negeri bukanlah pengganti yang sempurna di antara keduanya. Kekurangan tabungan tidak bisa di ubah oleh cadangan devisa begitu juga kebalikannya kekurangan devisa pula tidak bisa di memenuhi oleh tabungan domestik.
Adanya asumsi yang berbeda dengan kenyataan, hal ini dilakukan guna mempermudah analisisnya. Implikasi salah satu dari kedua jenis kesenjangan ini akan lebih dominan bagi negara berkembang dalam waktu tertentu. Jika kesenjangan tabungan lebih dominan berarti negara tersebut tidak dapat menggapai keadaan full employment dan juga tidak bisa menggunakan pendapatan devisa secara efisien (Todaro, 2000). Adapun kedua jurang tersebut antara lain:
1. Suatu negara akan berhutang karena mengalami saving investment gap, yaitu kesenjangan yang mencerminkan sejumlah dana yang di perlukan untuk menutupi kekurangan tabungan dalam negeri. dengan masuknya modal dari luar negeri di harapkan bisa mencapai target yang di inginkan. Bagi negara
18 berkembang tabungan lebih kecil dari pada investasi ( S < I ) yaitu rendahnya tabungan dalam pendapatan nasional. Keadaan ini di sebabkan dengan rendahnya penumpukan modal yang terbentuk di dalam negara serta rendahnya pemasukan warga, hingga buat dengan metode melaksanakan utang luar negara serta investasi asing.
2. Suatu negara akan berhutang karena mengalami foreign exchange gap, yaitu kesenjangan yang di sebabkan antara ekspor ( X ) dan impor ( M ) yang dimana kelebihan impor atas ekspor dan harus di biayai dengan menggunakan modal dari luar negeri guna menutupi defisit tersebut. Kesenjangan ini di sebut Trade Gap atau Ekspor-impor Gap.
Adanya kesenjangan tabungan-investasi mengindikasikan bahwa kebutuhan dana untuk investasi di dalam negara tidak dapat dipenuhi oleh sumber dana dari dalam negeri, sehingga investasi tergantung pada dana yang bersumber dari luar negeri. Dengan adanya kerangka two gap model, apabila sesuatu negara terletak dalam keadaan dimana neraca transaksi berjalannya tidak balance, hingga di butuhkan aliran dana ataupun modal dari luar negeri. pada pendekatan two gap model dorongan serta tabungan luar negeri ialah penyumbang buat investasi serta buat memperbesar impor (Arsyad, 1999).
Two gap model yang menunjukkan bahwa defisit pembiayaan investasi swasta terjadi karena tabungan lebih kecil dari investasi I-S = resource gap, dan defisit perdagangan disebabkan karena ekspor lebih kecil dari impornya. X-M = trade gap. Disamping itu, masih ada defisit dalam anggaran pemerintah karena penerimaan pemerintah dari pajak lebih kecil dari pengeluaran pemerintah T-G = fiscal gap.
19 Hubungan antara defisit investasi swasta,defisit anggaran pemerintah dan defisit perdagangan dapat dijelaskan sebagai berikut: Pendapatan nasional Y dari sisi pengeluaran merupakan penjumlahan dari pengeluaran konsumsi swasta C, pengeluaran investasi swasta I, pengeluaran pemerintah G dan ekspor bersih X-M atau: Y = C + I + G + X – M dan Pendapatan nasional Y dari sisi alokasi penggunaan merupakan penjumlahan dari Konsumsi Masyarakat C, Tabungan S dan Pajak T atau: Y = C + S + T.
Kerangka two gap model di atas menunjukkan apabila sesuatu negara terletak dalam kondisi dimana neraca transaksi berjalannya terjadi ketidakseimbangan, hingga diperlukan aliran modal masuk capital inflows.
Tetapi, bila sesuatu negara yang mengalami permasalahan defisit neraca transaksi berjalan serta memakai aliran modal masuk sebagai jalur keluarnya, hingga sepatutnya negara tersebut pula mempersiapkan kebijakan- kebijakan yang bertujuan buat menurunkan defisit tersebut. apabila terus terjadi retriksi serta kontrol, maka akan susah untuk sebuah negara menurunkan defisit. Jika suatu negara sudah melakukan tight money policy, menerapkan kebijaksanaan fiskal dan melakukan kontrolatas tarif dan impor, tetapi masih mengalami defisit neraca pembayaran, maka akan semakin sulit mengatasinya (Sodersen, 2000).
Dengan minat yang kuat pada investasi swasta dengan sumber pendanaan domestik yang terbatas, sektor swasta meminjam dari luar negeri baik dalam bentuk investasi langsung maupun pinjaman komersial, dan melakukan investasi portofolio dalam bentuk surat berharga yang diterbitkan oleh sektor swasta domestik. Persyaratan pinjaman luar negeri swasta, baik tingkat bunga dan jatuh tempo, umumnya tidak ringan. Langkah-langkah untuk mengendalikan laju
20 permintaan domestik untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Termasuk pemerintah memperkenalkan kebijakan Kredit Perdagangan Luar Negeri (PKLN) untuk utang luar negeri swasta. Inti dari kebijakan pinjaman komersial luar negeri ini adalah memutuskan secara nasional dan rinci pinjaman komersial luar negeri swasta kepada badan usaha milik negara, bank dan sektor swasta lainnya sesuai dengan kemampuan perekonomian Indonesia untuk membayar kembali pinjaman komersial luar negeri.
Untuk negara berkembang seperti Indonesia, pinjaman luar negeri ialah perihal yang tidak bisa dipisahkan dalam rangka pembiayaan pembangunan.
Kebutuhan pembiayaan pembangunan demikian besar namun sumber dana dalam negeri masih relatif terbatas. Pinjaman luar negeri tersebut digunakan buat menutupi selisih tabungan dalam negeri dengan investasi serta menutup kebutuhan devisa akibat selisih tabungan ekspor serta impor. Terdapatnya pinjaman luar negeri membolehkan pemerintah buat tingkatkan pengeluaran lebih besar dari yang bisa dicoba. Bila pinjaman tersebut dimanfaatkan dengan sebaik- baiknya hingga pinjaman tersebut hendak membagikan perkembangan ekonomi yang lebih besar serta tingkatkan kesejahteraan rakyat. Kebalikannya bila tidak dialokasikan serta dikelola secara pas, pinjaman luar negeri hendak memunculkan permasalahan terhadap manajemen ekonomi makro dalam wujud beban pembayaran utang yang sangat besar.
Kebutuhan dana dalam pembangunan ekonomi pada biasanya berasal dari dalam negeri serta luar negeri. Dana dari luar negeri bisa berbentuk penanaman modal asing( PMA) ataupun berbentuk utang luar negeri. kebutuhan akan modal asing serta utang luar negeri itu didasarkan atas terdapatnya apa yang diucap
21 dengan masalah 2 jurang( two gap problem), yang diucap model Chenery and Strout( 1966). Problem tersebut merupakan, Awal jurang saving( saving gap).
Negara berkembang dengan pendapatannya yang rendah menimbulkan tabungan masyarakat rendah, namun pada sisi lain negara tersebut memerlukan pembangunan ekonominya yang besar dengan investasi yang besar- besaran.
Sehingga terdapat gap antara kebutuhan tabungan selaku sumber pendanaan dengan kebutuhan buat investasi. Dengan demikian pada posisi seperti itu pembiayaan yang diperlukan dalam proses pembangunan ekonomi negara berkembang, baik utang luar negeri ataupun pembiayaan dari modal asing sangat dibutuhkan. Kedua jurang devisa( foreign exchange gap), Kebutuhan devisa buat mengimpor sebagai modal buat menggerakkan industri dalam negeri pada negara berkembang sangat besar, dilain pihak devisa negara terbatas sebab ekspor pada biasanya masih relative rendah. Dengan demikian buat menutup kebutuhan devisa itu dibutuhkan terdapatnya utang ataupun penanaman modal asing(Easterly, 2003) 2.1.2.1 Kesenjangan Tabungan-Investasi
Kesenjangan investasi-tabungan ( S-I Gap) timbul karena adanya kesenjangan antara tabungan yang telah di gabungkan dari masyarakat dengan kebutuhuan modal untuk investasi,artinya I > S. untuk menutupi kekurangan biaya yang di perlukan selama proses perbaikan ekonomi di suatu negara maka dengan cara melakukan utang luar negeri bisa menutupi kesenjangan tersebut. hal ini terjadi apabila kekurangan biaya untuk kegiatan investasi domestic melalui percetakan uang akan berdampak terjadinya inflasi,maka dari itu kesenjangan ini menyebabkan terjadinya aliran modal yang masuk terus meningkat(Kuncoro, 1994).
22 Menurut Non Keynesian theories, analisa investasi dan tabungan (I-S) menjelaskan tentang penentu tingkat suku bunga, dapat dijelaskan (I-S) sama dengan permasalahan harga pasar, dimana tingkat suku bunga terjadi karena keseimbangan permintaan dan penawaran tabungan. Dalam hal ini di dasari hukum Says yang juga menerapkan tabungan itu sama dengan investasi dan tujuannya supaya tingkat suku bunga berhasil(Purnomo, 2018).
Menurut Keynesian saving investment theories, bahwa aspek utama yang mempengaruhi konsumsi adalah tingkat pendapatan, walaupun adanya ketidakseimbangan antara investasi dan tabungan. Keynes membuktikan itu dengan adanya infliationary gap dan deflatinary gap(Purnomo, 2018).
Kekurangan sumber dana dari dalam negeri yang digunakan untuk membiayai kegiatan investasi didalam negeri yaitu dengan cara melakukan utang luar negeri. artinya jika I-S gap terus meningkat maka utang luar negeri juga terus meningkat. Dengan demikian ada hubungan positif antara kedua indikator tersebut(Tulus Tambunan, 2008).
Terbentuknya defisit ataupun surplus dalam tabungan serta investasi ialah akibat dari terdapatnya kesenjangan antara tabungan nasional yang sukses dikumpulkan, baik dari warga serta swasta lewat mobilitas modal perbankan serta lembaga keuangan yang lain, ataupun dari pemerintah yang bersumber dari penerimaan dalam negeri dengan anggaran teratur serta besarnya kebutuhan dana yang dibutuhkan buat membiayai investasi, baik yang dilakukan pihak swasta ataupun pemerintah. Kesenjangan tabungan-investasi bisa bernilai positif(
surplus), bernilai negatif( defisit) maupun bernilai nol( balance).
23 Kesenjangan tabungan-investasi( saving- investment gap) diakibatkan pada salah satu pihak tabungan dalam negeri rendah, sebaliknya dipihak lain kebutuhan dana buat membiayai investasi dalam negeri terus menjadi besar serta bertambah tiap tahun mengikuti perkembangan populasi serta kebutuhan pasar. Oleh sebab itu terbentuklah kesenjangan tabungan-investasi : S-I < 0 (S < I ). Perihal ini menunjukkan kalau negara yang bersangkutan terjadi investment-saving gap(Supriyanto, 1999).
Selisih antara tabungan dalam negeri serta investasi dalam negeri yang diucap arus modal keluar netto( net capital outflow) diucap pula investasi asing netto( net foreign investment). Bila arus modal keluar netto kita positif, hingga tabungan kita melebihi investasi serta kita meminjamkan kelebihannya kepada pihak asing. Bila arus modal keluar netto kita negatif, hingga investasi kita melebihi tabungan serta kita wajib meminjan dari luar negara, maksudnya bila investasi melebihi tabungan hingga dikatakan defisit.
Kesenjangan tabungan serta investasi dalam negeri timbul selaku akibat dari terdapatnya defisit ataupun surplus dari tabungan dalam negeri serta pembiayaan investasi. Tabungan dalam negeri dikumpulkan dari warga serta swasta lewat mobilitas modal perbankan serta lembaga keuangan yang lain, ataupun dari pemerintah yang bersumber dari penerimaan dalam negara dengan anggaran teratur. Besarnya tabungan nasional digunakan buat membiayai investasi yang dicoba pihak pemerintah ataupun swasta. Oleh sebab itu, kesenjangan yang terjalin akibat terdapatnya selisih antara tabungan serta investasi dalam negeri bisa bernilai positif, negatif maupun balance.
24 2.1.2.1.1 Investasi
Investasi adalah suatu pengeluaran penanaman modal untuk industri agar dapat membeli barang- baarang modal, memenuhi perlengakapan produksi sehingga bisa menaikkan kemampuan dalam memproduksi barang atau jasa didalam zona perekonomian (Sukirno 2012). Investasi atau penanaman modal terdiri dari dua jenis yaitu sebagai berikut :
1. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Penanaman modal dalam negeri ataupun sering disebut PMDN merupakan suatu aset atau kekayaan yang dimiliki oleh masyarakat di suatu negara ataupun swasta asing bertempat tinggal di negara tersebut, yang dimanfaatkan untuk mengelolah usaha selama modal tersebut tidak diatur di dalam syarat Pasal 2 Undang- Undang Nomor. 1 Tahun 1967 tentang PMA yang mengatur mengenai pengertian modal asing. Pihak swasta yang mempunyai modal dalam negeri tersebut bisa secara perorangan maupun badan hukum yang didirikan berdasarkan pada hukum yang berlaku di Indonesia. Penanaman modal dalam negeri ialah sesuatu kekayaan yang digunakan secara langsung maupun secara tidak langsung untuk dapat melaksanakan usaha yang tertera melalui kententuan undang-undang penanaman modal.
2. Penanaman Modal Asing (PMA).
Penanaman modal asing mempunyai syarat yang diresmikan pada Undang- Undang Nomor. 1 Tahun 1967 ialah pemilik modal menanggung efek lewat penanaman modal tersebut. Penanaman modal asing disebut sebagai suatu alat yang digunakan untuk melakukan pembayaran pinjaman utang luar negeri yaitu cadangan devisa dengan melakukan persetujuan dari pemerintah untuk memeuhi
25 pembiayaan perusahaan. Terdapat beberapa faktor-faktor investasi yaitu sebagai berikut :
a. Estimasi tingkat keuntungan b. Suku bunga
c. Kondisi perekonomian di masa depan d. Teknologi yang semakin maju
e. Tingkatan pemasukan nasional serta perubahannya f. Keuntungan yang diterima oleh perusahaan
Fungsi investasi merupakan kurva yang menggambarkan ikatan antara tingkatan investasi dengan tingkatan pemasukan nasional. Guna investasi bisa dibedakan jadi 2 bentuk. Bentuk guna investasi yang awal ialah kurva investasi yang sejajar dengan sumbu datar ataupun investasi otonomi, setelah itu bentuk guna investasi yang kedua yaitu fungsi investasi yang semakin meningkat ke arah kanan atau investasi terpengaruh,dilakukannya penanaman modal asing yaitu untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dalam pembiayaan pembangunan ekonomi sehingga tersebar luasnya kesempatan kerja di suatu negara. Namun tinggi rendahnya pendapatan nasional di suatu negara tidak dapat mempengaruhi investasi, melainkan faktor yang memperngaruhi tingkat investasi adalah tingkat suku bunga.
2.1.2.1.2 Tabungan
Menurut Soemitro Djojohadikusumo (1954) tabungan didefinisikan sebagai kemampuan dan kesediaan untuk menahan napsu konsumsi selama beberapa waktu agar dimasa yang depan terbuka kemungkinan konsumsi yang memuaskan,
26 kemudian menurut Simorangkir (1991) tabungan diartikan sebagai bagian derajat pendapatan nasional pertahunnya yang tidak dikonsumsi.
Menurut teori klasik tabungan adalah fungsi dari tingkat bunga. Makin tinggi tingkat bunga makin tinggi pula keinginan masyarakat untuk menabung.
Artinya pada tingkat bunga yang lebih tinggi masyarakat akan lebih terdorong untuk mengorbankan atau mengurangi pengeluaran untuk konsumsi guna menambah tabungan (Nopirin:1992).
2.1.2.2 Kesenjangan Ekspor – Impor ( Ekspor Net )
Defisit perdagangan yang disebabkan oleh nilai ekspor yang lebih dari impornya( X- M= trade gap). Bila di asumsikan lebih mendalam bahwa sektor ekspor dan impor mencakup barang dan jasa, hingga pengertian defisit perdagangan lebih menuju kepada transaksi berjalan. Dengan kerangka toeri two gap model jika suatu negara dalam keadaan dimana neraca transaksinya tidak stabil atau tidak seimbang, maka negara tersebut membutuhkan dana tambahan yang masuk( capital inflows). Namun, bila negara tersebut mengalami permasalahan defisit neraca transaksi berjalan dan menggunakaan dana yang tambahan yang masuk untuk jalan keluarnya. Maka negara tersebut harus mempersiapkan cara untuk menurunkan defisit tersebut (Sodersen, 2000).
Kesenjangan ekspor – impor ini dapat mengakibatkan menurunnya persediaan nasional membuat gejala defisit sehingga pemerintah melaksanakan metode utang luar negara selaku pengganti persediaan nasional dalam menanggulangi permasalahan kesenjangan ekspor- impor dalam neraca perdagangan(Rahman, 2017).
27 Neraca perdagangan adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perbandingan nilai moneter antara ekspor dan impor. Ekspor neto merupakan neraca perdagangan karena menggambarkan bagaimana hubungan sistem perdagangan barang dan jasa berdasarkan standar kesetaraan impor dan ekspor (Imam, 2013). Ekspor bersih adalah selisih antara total ekspor suatu negara dan total impor (Case and Fair, 2007). Y (pendapatan) meningkat ketika ekspor lebih besar dari impor, baik karena neraca ekspor bersih positif atau karena neraca perdagangan dunia menguntungkan. Sebaliknya, jika nilai ekspor turun di bawah nilai impor, maka neraca ekspor neto akan menjadi negatif atau neraca perdagangan dunia akan memburuk sehingga menyebabkan penurunan Y (pendapatan) (Hamdy, 2001).
2.1.2.2.1 Ekpor
Ekspor merupakan kegiatan menjual produk oleh eksportir di suatu negara ke negara lain buat mencari keuntungan. Keuntungan yang dimaksud tidak hanya dalam bentuk nominal atau uang, melainkan bisa berbentuk hubungan kerjasama atau politik antar negara (Tan 2014). Produk ekspor dibagi dua ialah ekspor migas( Xmg) serta ekspor non- migas( Xnmg), maka :
X = Xmg + Xnmg
Jika dilihat dari sisi lain ekspor dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu barang mewah (raw materiels), barang jadi dan barang setengah jadi. Kemudian produk ekspor dapat dilihat dari sisi barang mentah (primer), barang olahan (sekunder), dan barang jasa (tersier). Adapun produk jasa berupa jasa aspek penciptaan serta jasa non aspek produksi. Dengan dilakukannya kegiatan ekspor barang yang memiliki keunggulam absolut dan keunggulan komparatif maka
28 dapat meningkatkan devisa. Tujuan dilakukannya kegiatan ekspor tidak hanya untuk meningkatkan devisa melainkan dapat menurunkan tingkat pengangguran, menurunkan penduduk miskin, serta dapat membayar bunga atau utang luar negeri.
2.1.2.2.2 Impor
Menurut Tan (2014) kegiatan impor merupakan proses membeli barang dari negara lain melalui batas negara. Kegiatan impor telah diatur oleh suau negara sehingga menyebabkan devisa mengalir ke negara lain ini diakibatkan karena transaksi perdagangan internasional. Suatu negara akan mengimpor suatu produk yang tidak memiliki keunggulan komparatif sehingga harganya relatif lebih mahal bila dibanding dengan membeli benda impor. Negara yang dikatakan sebagai negara maju akan kaya dengan tenaga kerja dan sumber daya alam sehingga akan mengimpor produk yang padat modal dan padat teknologi.
Produk yang diimpor dapat dibedakan menjadi empat yaitu impor benda mengkonsumsi, impor benda modal, impor barang baku dan impor barang jadi.
Tujuan dilakukannya kegiatan impor yaitu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam negeri. Secara teoritis, produk impor berdampak positifdan berpengaruh signifikanterhadap ProdukDomestik Bruto (PDB), karena kegiatan impor dilakukan untuk kebutuhan investasi baik barang setengah jadi maupun produk modal. Jika impor produk untuk kebutuhan konsumsi maka mengakibatkan mengalirnya devisa ke luar negeri.