BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Model Hewan Uji pada Pengujian Efek Antihiperurisemia
Tikus putih sering digunakan dalam penelitian karena memiliki beberapa kelebihan antara lain: mudah dipelihara dalam populasi yang sangat besar, dapat berkembang biak dengan pesat, dan memiliki ukuran yang lebih besar daripada mencit sehingga untuk beberapa percobaan tikus lebih menguntungkan. Tikus putih memperlihatkan masa hamil yang singkat (21-23 hari), jumlah anak yang cukup banyak (6 - 12 ekor), dan dapat hidup sampai 4 tahun. Seekor tikus putih
Artritis gout akut
Onset gejala < 48 jam? NSAID pilihan
Kontraindikasi terhadap NSAID?
Jumlah sendi yang terlibat Respon tidak mencukupi
Kolkisin
Kortikosteroid intraartikular
Respon tidak mencukupi
Parenteral atau kortikosteroid oral
dewasa membutuhkan 15 gram makanan dan 20 - 45 ml air per 100 gram berat badan perhari. Suhu kandang yang dibutuhkan tikus 18-27˚C dan kelembapan relatif 40-70%.
Ada beberapa galur tikus putih antara lain: Long-Evans, Sprague-Dawley, dan Wistar. Tikus putih galur Wistar mempunyai ciri-ciri: warna tubuh putih, mata berwarna merah (albino), ukuran kepala dan ekor lebih pendek dari badannya; galur Sprague-Dawley mempunyai ciri-ciri: warna tubuh putih, mata berwarna merah (albino), ukuran kepala yang kecil, dan ekor lebih panjang dari badannya; sedangkan galur Long-Evans ditandai dengan warna hitam dibagian kepala, dan tubuh bagian depan (Malole dan Pramono, 1989).
2.5 Metoda Pemeriksaan Kadar Asam Urat Darah 2.5.1 Metode Enzimatik Spektrofotometer UV-Vis
Metode ini menggunakan enzim-enzim yang bekerja secara spesifik pada asam urat, sehingga memberikan hasil yang relatif lebih tepat dibandingkan metode lainnya. Prinsip reaksinya adalah mengoksidasi asam urat menjadi alantoin, hidrogen peroksida dan karbon dioksida yang dikatatalisis oleh enzim urikase. Hidrogen peroksida yang terbentuk bereaksi dengan 3,5 dikloro 2-hidroksibenzen sulfonat (DCHBS) dan 4 aminophenzon (PAP) membentuk zat warna quinonimin yaitu N-(4-antipirin)-3 klor-5-sulfonat-p-benzokuinonimuin yang diukur pada panjang gelombang 520 nm dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis (Yuno, 2003).
2.5.2 Tes Strip Asam Urat
Pengukuran kadar asam urat darah tikus putih dilakukan dengan alat tes strip asam urat. Alat ini merupakan alat yang digunakan untuk memonitor tingkat asam urat di dalam darah. Tes ini merupakan spesifik untuk asam urat. Tes tersebut menggunakan oksidasi asam urat dan berdasarkan pada kemajuan teknologi biologi sensor (Prasetya, 2009).
20
2.6 Kafein
Gambar 2.4 Kafein Sumber: www.informasiobat.com
Kafein adalah komponen alkaloid derivat xantin yang mengandung gugus metil yang akan dioksidasi oleh xantin oksidase membentuk asam urat sehingga dapat meningkatkan kadar asam urat dalam tubuh. Pada penelitian ini kafein digunakan sebagai penginduksi asam urat yang dapat menyebabkan hewan coba menjadi hiperurisemia (Azizahwati et al. 2005).
Kafein adalah basa sangat lemah dari larutan air atau alkohol tidak terbentuk garam yang stabil. Kafein terdapat sebagai serbuk putih, atau sebagai jarum mengkilap putih, tidak berbau dan rasanya pahit.
Kafein larut dalam air (1:50), alkohol (1:75), atau kloroform (1:6) tetapi kurang larut dalam eter. Kelarutan naik dalam air panas (1:6 pada 80ºC) atau alkohol panas (1:25 pada 60ºC). Kafein merupakan perangsang susunan saraf pusat, merangsang otot jantung dan melemaskan otot jantung dan melemaskan otot polos bronkus (Sudarmi, 1997).
Dalam dosis standar antara 50-200 mg, kafein utamanya mempengaruhi lapisan luar otak. Pengaruh ini biasanya kelelahan. Dalam dosis besar pusat vasomotor dan pernapasan terpengaruh. Konsumsi kafein sebaiknya tidak melebihi 300 mg sehari. Para ahli menyarankan 200-300 mg kafein dalam sehari merupakan jumlah yang cukup. Mengkonsumsi kafein sebanyak 100 mg tiap hari dapat menyebabkan individu tersebut tergantung pada kafein. Keracunan kafein kronis, bila minum 5 cangkir teh setiap hari yang setara dengan 600 mg kafein.
Lama kelamaan akan memperlihatkan tanda dan gejala seperti gangguan percernaan makanan, rasa lelah, gelisah, suka tidur, tida nafsu makan, sakit kepala, pusing, bingung, berdebar, serak, sesak nafas, dan kadang sukar buang air besar (Setiawan, 2012).
2.7Allopurinol
Gambar 2.5 Allopurinol
Sumber: Buku Dasar Farmakologi Terapi, 2014
Allopurinol merupakan analog hipoxantin. Baik allopurinol maupun metabolit utamanya yaitu oksipurinol (aloxantin), merupakan inhibitor xantin oksidase. Penghambatan enzim inilah yang menghasilkan efek farmakologis utama allopurinol.
Pada gout atau pirai, allopurinol umumnya digunakan untuk bentuk kronis parah yang ditandai dengan satu atau lebih keadaan berikut: nefropati pirai, pengendapan tofi, batu urat di ginjal, gangguan fungsi ginjal, atau hipourikemia yang tidak mudah dikendalikan dengan obat-obat urikosurik.
Tujuan terapi ini adalah untuk menurunkan konsentrasi asam urat dalam plasma di bawah 6 mg/dl (setara dengan 360 μM). Terapi dimulai dengan dosis rendah untuk meminimalkan risiko memicu serangan akut artritis pirai. Dosis awal 100 mg sehari dinaikkan dengan penambahan 100 mg pada interval satu minggu sampai maksimum 800 mg per hari. Dosis lazim pemeliharaan untuk orang dewasa 200 sampai 300 mg sehari untuk pasien dengan pirai ringan dan 400 sampai 600 mg untuk pasien dengan pirai tofi yang parah sedang. Dosis sehari yang melebihi 300 mg harus diberikan dalam takaran terbagi. Dosis harus dikurangi pada pasien yang mengalami gangguan ginjal sebanding dengan penurunan filtrasi glomerulus (Hardman et al., 2012).
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratotium Penelitian 1 dan Animal House Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada bulan Mei – Agustus 2017.
3.2 Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian eksperimental.
Hewan uji yang digunakan adalah tikus putih jantan galur Sprague-Dawley dengan umur 2 - 3 bulan dan berat badan 200 - 250 gram sebanyak 25 ekor dengan pengelompokan secara acak.
Metode induksi hiperurisemia yang digunakan adalah induksi kafein pada dosis 27 mg/200 g BB.
Penelitian ini dilakukan dengan mengekstraksi daun sidaguri menggunakan pelarut etanol 70% dengan metode maserasi. Ekstrak yang diperoleh diberikan kepada tikus yang telah diinduksi hiperurisemia dengan kafein dan selanjutnya diamati penurunan kadar asam urat tikus tersebut.
3.3 Alat dan Bahan 3.3.1 Alat
Terdiri dari: timbangan hewan (Ohauss), kandang tikus beserta tempat makan dan minum, sonde oral, jarum suntik, hot plate (Wiggen Hauser), blender, oven, timbangan analitik (Wiggen Hauser), holder, vaccum rotary evaporator (Memmert Eyele), kertas saring, kapas, kamera, uric acid TBHBA, Spektrofotometer UV Vis, sentrifus, mikropipet, mikrohematokrit dan alat-alat gelas (Iwaki pyrex).
3.3.2 Bahan
3.3.2.1 Tanaman Uji
Tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah daun sidaguri.
Tanaman sidaguri yang diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (BALITRO) sebanyak 5 kg daun segar dan digunakan 500
gram serbuk kering daun sidaguri. Sebelum diproses menjadi ekstrak, tanaman dideterminasi yaitu memverifikasi identitas tanaman di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Kebun Raya Bogor.
3.3.2.2 Hewan Uji
Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus putih jantan galur Sprague-Dawley berusia 2-3 bulan, memiliki berat badan 200-250 gram.
Hewan uji yang digunakan sebanyak 25 ekor dengan 5 ekor tiap kelompok (WHO, 2000). Tikus uji diperoleh di Institut Pertanian Bogor.
3.3.2.3 Bahan Uji
Bahan uji yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
- Ekstrak etanol 70% daun sidaguri
Ekstrak etanol 70% daun sidaguri diperoleh dari 5 kg daun sidaguri.
Dibuat menjadi simplisia serbuk kering sebanyak 500 gram. Simplisia kemudian diekstraksi dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%.
Pembuatan ekstrak dilakukan di Laboratorium Penelitian 1.
- Allopurinol (kontrol positif) yang diperoleh dari PT. Indofarma
- Kafein (penginduksi hiperurisemia) yang diperoleh dari Aldrich Chemical.
3.4 Tahapan Penelitian 3.4.1 Pembuatan Simpliasia
Daun sidaguri sebanyak 5 kg disortasi untuk memudahkan pencucian dan pemisahan pengotor pada simplisia. Pencucian daun sidaguri dilakukan dengan air mengalir. Daun sidaguri dikeringkan dengan cara diangin-anginkan pada suhu ruang yang tidak terpapar sinar matahari langsung hingga simplisia kering.
Simplisia kering dilakukan kembali sortasi untuk memastikan simplisia bebas dari pengotor. Simplisia ditimbang dan diblender hingga menjadi serbuk.
3.4.2 Ekstraksi
Serbuk simplisia kering daun sidaguri ditimbang sebanyak 500 gram, kemudian dimasukkan ke dalam toples kaca berwarna gelap (agar tidak tembus cahaya). Pembuatan ekstrak dilakukan secara maserasi dengan merendam serbuk simplisia dengan menggunakan pelarut etanol 70% dan pelarut dilebihkan setinggi
24
lebih kurang 2 cm di atas permukaan serbuk simplisia. Masa perendaman pada maserasi dilakukan selama 3 hari dan selama perendaman dilakukan pengadukan pada 6 jam pertama dan dibiarkan terendam selama 3 hari. Maserat di saring dengan kertas saring. Maserat dipisahkan dan diremaserasi, proses yang sama diulangi sebanyak tiga kali dengan jenis dan pelarut yang sama. Semua filtrat diuapkan dengan vacuum rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak cair (Simarmata et al., 2012).
Ekstrak yang diperoleh dihitung rendemen ekstrak dengan rumus:
3.4.3 Pengujian Parameter non Spesifik
3.4.3.1 Parameter Kadar Air
Metode yang digunakan untuk uji kadar air yaitu metode Aufhauser.
Dibersihkan tabung penerima dan pendingin dengan asam pencuci dan dibilas dengan air. Tabung penerima dan pendingin dikeringkan dalam lemari pengering.
Dimasukkan ke dalam labu kering sejumlah ekstrak yang ditimbang saksama yang diperkirakan mengandung 2 ml sampai 4 ml air. Dimasukkan lebih kurang 200 ml toluen ke dalam labu, alat dihubungkan. Dituang toluen ke dalam tabung penerima (R) melalui alat pendingin. Dipanaskan labu secara hati-hati selama 15 menit.
Toluen yang mulai mendidih, disuling dengan lebih kurang 2 tetes per detik hingga sebagian air tersuling. Kecepatan penyulingan dinaikkan hingga lebih kurang 4 tetes per detik. Setelah semua air tersuling, dibilas bagian dalam tabung kondensor dengan toluen, sambil dibersihkan dengan sikat tabung yang disambungkan pada kawat tembaga dan dijenuhkan dengan toluen. Penyulingan dilanjutkan selama 5 menit, pemanasan dihentikan dan dinginkan hingga suhu kamar. Bila ada tetesan air menempal pada dinding tabung penerima, digosok dengan karet yang dikaitkan pada sebuah kawat tembaga dan dibasahi dengan toluen hingga tetesan air turun. Bila air dan toluen memisah sempurna, dibaca volume air, dan dihitung persentase yang ada dalam zat (Depkes RI, 2000).
3.4.3.2 Parameter Kadar Abu
Lebih kurang 2 g sampai 3 g ekstrak yang telah digerus dan ditimbang saksama, dimasukkan ke dalam krus silikat yang telah dipijarkan dan ditara ratakan. Dipijarkan perlahan-lahan hingga arang habis, dinginkan, dan ditimbang.
Jika cara ini arang tidak dapat dihilangkan, ditambahkan air panas, disaring melalui kertas saring bebas abu. Dipijarkan sisa kertas dan kertas saring dalam krus yang sama. Dimasukkan filtrat ke dalam krus, diuapkan, dan dipijarkan hingga bobot tetap, dan ditimbang. Dihitung kadar abu terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 2000).
3.4.4 Pengujian Parameter Spesifik 3.4.4.1 Identitas
Diidentifikasi dengan tata nama meliputi nama ekstrak, nama latin tumbuhan, bagian tumbuhan yang digunakan, dan nama Indonesia tumbuhan (Depkes RI, 2000).
3.4.4.2 Organoleptik
Dalam Depkes RI (2005) identifikasi organoleptik menggunakan pancaindera mendeskripsikan berupa: bentuk, warna, bau dan rasa.
3.5 Penginduksian Hiperurisemia dengan Kafein 27 mg/200 g BB
Prosedur induksi kafein terhadap tikus uji sebagai berikut: hewan uji diaklimatisasi selama 2 minggu sebanyak 25 ekor. Tikus uji sebanyak 5 ekor dijadikan sebagai kontrol normal dan 20 ekor diinduksi dengan kafein. Tikus uji dipuasakan selama 12 jam, sebelum dilakukan pengambilan darah tikus diinduksi dengan kafein. Induksi kafein diberikan secara oral dengan dosis 27 mg/200 g BB.
Induksi kafein dilakukan selama 6 hari. 1 jam setelah penginduksian pada hari ke-6, kadar asam urat tikus uji diukur dengan metode kolorimetri enzimatik.
Pada hari ke-7 hewan uji diberikan perlakuan berdasarkan kelompok masing-masing setiap hari. Pengukuran kadar asam urat selanjutnya dilakukan pada hari ke 9, 12 dan 15.
Parameter hiperurisemia adalah tikus uji dengan kadar asam urat melebihi batas normal. Taconic Technical Laboratory, 1998 dalam Kusmiyati, 2008
26
menyebutkan kadar asam urat normal pada tikus jantan adalah 4,37 ± 1.11 mg/dl dan 2,92 ± 0,241 mg/dl pada tikus betina.
3.6 Uji Antihiperurisemia
3.6.1 Pembuatan Sediaan Dosis Uji a. Dosis Ekstrak Daun Sidaguri
Dosis yang digunakan pada ekstrak etanol 70% daun sidaguri adalah dosis 50 mg/kgBB pada mencit. Untuk dosis pada tikus dikonversikan menjadi 25 mg/kgBB. Perhitungan dosis ada pada Lampiran 6. Jumlah suspensi ekstrak yang diberikan kepada 1 ekor tikus dengan berat badan 200 gram adalah 2 ml. Ekstrak diberikan secara oral dalam bentuk suspensi. Suspending agent yang digunakan adalah Na CMC dengan konsentrasi 0,5%. Proses pembuatan suspensi Na CMC 0,5% adalah dengan mengembangkan Na CMC dengan air panas sebanyak 20 kali berat Na CMC.
b. Dosis Allopurinol sebagai Kontrol Positif
Dosis allopurinol untuk asam urat pada manusia adalah 100 mg per hari.
Dosis allopurinol untuk setiap 200 g BB tikus yaitu 10 mg/kgBB. Perhitungan dosis ada pada Lampiran 6. Jumlah suspensi allopurinol yang diberikan kepada 1 ekor tikus dengan berat badan 200 gram adalah 2 ml. Allopurinol diberikan secara oral dalam bentuk suspensi. Suspending agent yang digunakan adalah Na CMC dengan konsentrasi 0,5%. Proses pembuatan suspensi Na CMC 0,5% adalah dengan mengembangkan Na CMC dengan air panas sebanyak 20 kali berat Na CMC.
c. Dosis Kafein sebagai Penginduksi Asam Urat pada Tikus
Dosis yang digunakan pada kafein sebagai penginduksi asam urat adalah dosis 27 mg/ 200 g BB (Azizahwati, 2005).
Perhitungan dosis ada pada Lampiran 6. Jumlah kafein yang diberikan kepada 1 ekor tikus dengan berat badan 200 gram adalah 2 ml. Kafein diberikan secara oral dalam bentuk suspensi. Suspending agent yang digunakan adalah Na CMC dengan konsentrasi 0,5%. Proses pembuatan suspensi Na CMC 0,5% adalah dengan mengembangkan Na CMC dengan air panas sebanyak 20 kali berat Na CMC.
3.6.2 Pengelompokan Hewan Uji dan Cara Kerja
Menurut WHO (2000) untuk perlakuan menggunakan hewan uji berupa tikus tiap kelompok perlakuan terdiri dari 5 tikus. Untuk mengatasi drop out hewan uji dilebihkan 20% atau dilebihkan 1 ekor tikus tiap kelompok.
Tabel 3.1 Perlakuan Hewan Uji
Kelompok Jumlah Perlakuan
Kontrol normal 5 Diberikan suspensi Na CMC 0,5 %
Kontrol negatif 5 Diberikan suspensi kafein 27 mg/200 g BB sebanyak 2 ml
Kontrol positif (allopurinol)
5 Diberikan suspensi kafein 27 mg/200 g BB sebanyak 2 ml, satu jam kemudian diberi suspensi allopurinol 10 mg/kgBB sebanyak 0,5 ml
Ekstrak sidaguri tunggal
5 Diberikan suspensi kafein 27 mg/200 g BB sebanyak 2 ml, satu jam kemudian diberi suspensi ekstrak daun sidaguri dosis 25 mg/kgBB
Kombinasi ekstrak mg/kgBB dan allopurinol 10 mg/kgBB
3.6.3 Pengambilan Darah
Pengambilan darah dilakukan melalui sinus orbital mata tikus pada hari ke 0, 6,9,12 dan 15. Tikus diberikan anastesi umum secara inhalasi dengan eter. Pada mata tikus, mikrohematokrit dimasukkan ke dalam pangkal bola mata sambil diputar halus ke arah belakang bola mata sehinga darah mengalir melalui mikrohematokrit tersebut.
Darah ditampung hati-hati ke dalam mikrotube, kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 4000 rpm selama 5 menit. Serum yang diperoleh kemudian dipisahkan dengan mikropipet lalu disimpan dalam lemari pendingin pada suhu 2-8ºC hingga dilakukan pengukuran asam urat.
3.6.4 Pengukuran Asam Urat
Pengukuran kadar asam urat dilakukan dengan metode kolorimetri enzimatik menggunakan pereaksi untuk asam urat.
28
Prinsip reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
urikase
Asam urat + O2 + H allantoin + CO2 +H2O2
peroksidase
H2O2 + DCHBS + 4-aminoantipiril N-(4-antipiril)-3-kloro-5-sulfonat-p- benzokuinonimuin +HCl +H2O
Ket: DCHBS = diklorohidroksi benzen sulfonat
Pada kuvet blanko, sampel, dan standar dimasukkan 1000 µL pereaksi asam urat. Pada kuvet sampel ditambahkan 20 µL serum dan pada kuvet standar ditambahkan 20 µL standar asam urat, lalu dikocok. Campuran tersebut diinkubasi selama 30 menit pada suhu 25-30ºC hingga terbentuk warna merah muda. Serapan sampel dan standar diukur terhadap blanko pereaksi pada panjang gelombang 520 nm.
Tabel 3.2 Volume blanko, sampel, dan standar pada pengukuran asam urat Kuvet Pereaksi Asam
Terminasi hewan uji dilakukan dengan metode inhalasi senyawa eter.
Cairan eter dimasukkan ke dalam toples, lalu dijenuhkan. Tikus dimasukkan ke dalam toples yang telah dijenuhkan dengan eter, diamkan hingga denyut jantung tikus uji tidak terasa.
3.7 Analisis Data
3.7.1 Analisis secara Statistik
Data yang didapatkan diolah secara statistik dengan menggunakan aplikasi SPSS. Analisis data yang pertama yang dilakukan adalah uji normalitas dan uji
homogenitas. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Metode Kolmogorov-Smirnof, sedangkan uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan Metode Levene. Analisis masalah yang dilakukan adalah dengan Metode One-Way ANOVA yang dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) apabila data terdistribusi normal dan memiliki varian homogen. Apabila data tidak terdistribusi normal atau varian tidak homogen, dilakukan analisis dengan metode Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney (Dahlan, 2010).
Hipotesis :
Ho : tidak ada perbedaan bermakna antara setiap kelompok Ha : ada perbedaan bermakna antara setiap kelompok Pengambilan keputusan :
Apabila nilai signifikansi ≥ 0,05, maka Ho diterima.
Apabila nilai signifikansi ≤ 0,05, maka Ho ditolak.
3.7.2 Perhitungan Persentase Penurunan Asam Urat (Purwatiningsih et al., 2010)
Data yang diperoleh berupa persentase penurunan kadar asam urat dalam darah. Persentase penurunan kadar asam urat dihitung dengan rumus:
Persentase penurunan kadar asam urat =
Keterangan:
AU0: kadar asam urat darah normal pada hari ke-0 AU6: kadar asam urat darah pada hari ke-6
AUx: kadar asam urat darah pada hari ke-9, 12 dan 15
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Determinasi Tanaman
Determinasi tanaman dilakukan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor. Hasil determinasi menunjukkan bahwa tanaman uji adalah benar tanaman sidaguri dari famili Malvaceae. Surat determinasi dapat dilihat pada lampiran 1.
4.1.2 Ekstraksi
Berdasarkan hasil pengeringan maserat, diperoleh rendemen ekstrak etanol 70% daun sidaguri sebesar 17,26%. Perhitungan rendemen ekstrak sidaguri dapat dilihat pada lampiran 6.
4.1.3 Parameter Standar
Hasil pengujian parameter standar spesifik dan non spesifik yang dilakukan terhadap ekstrak dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Parameter standar ekstrak etanol 70% daun sidaguri
Pengujian Parameter Hasil
4.2 Pembahasan
Pada penelitian ini, dilakukan uji antihiperurisemia kombinasi ekstrak etanol 70% daun sidaguri dan allopurinol terhadap tikus Sprague Dawley yang diinduksi kafein. Bahan tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah tanaman sidaguri pada bagian daunnya yang diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (BALITRO). Sebelum daun sidaguri digunakan sebagai bahan penelitian, dilakukan determinasi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor. Hasil determinasi menunjukkan bahwa tanaman uji adalah benar daun sidaguri dari famili Malvaceae.
Daun sidaguri kemudian diproses menjadi simplisia dengan berbagai tahapan: yaitu sortasi basah, pencucian, pengeringan, sortasi kering dan penghalusan menjadi serbuk simplisia. Serbuk simplia daun sidaguri yang digunakan untuk ekstraksi sebanyak 500 gram yang kemudian diperoleh ekstrak kental etanol 70% daun sidaguri sebanyak 86,3 gram dengan rendemen 17,26%.
Ekstraksi dilakukan secara maserasi, metode ini dipilih karena mudah dan menghasilkan rendemen yang tinggi (Saifudin, 2014). Penelitian yang dilakukan oleh Ridwanty (2011) rendemen ekstrak etanol 70% daun sidaguri diperoleh sebesar 29,21%. Pemilihan etanol sebagai pelarut berdasarkan metode yang distandarisasi BPOM (2005) bahwa untuk ekstraksi suatu bahan yang akan digunakan sebagai obat harus menggunakan etanol sebagai pelarutnya. Etanol memiliki sifat mudah menguap, murah, mudah didapat dan cukup aman. Etanol sebesar 70% digunakan karena etanol 70% dapat menarik senyawa bersifat polar, semipolar, dan non polar dimana senyawa yang diharapkan yaitu senyawa flavonoid yang bersifat polar.
Ekstrak kental yang diperoleh, dilakukan uji parameter standar ekstrak yakni parameter standar spesifik dan non spesifik. Uji parameter spesifik adalah identifikasi terhadap bentuk, warna, bau dan rasa ekstrak secara organoleptis.
Diperoleh hasil berupa ekstrak kental berwarna hijau tua, berbau aromatik dan memiliki rasa pahit.
Uji parameter non spesifik berupa uji kadar air dan kadar abu. Persentase kadar air ekstrak etanol 70% daun sidaguri diperoleh sebesar 16,85%. Batas kadar
32
air ekstrak yang memenuhi syarat menurut Depkes (1995) adalah dibawah 10%.
Penelitian yang dilakukan oleh Ridwanty (2011), persentase kadar air yang diperoleh yaitu sebesar 14,7%. Kelebihan air dalam simplisia menyebabkan pertumbuhan mikroba, jamur atau serangga serta mendorong kerusakan bahan aktif (WHO, 1998). Ekstrak yang diperoleh tetap digunakan pada penelitian walaupun tidak memenuhi standar karena selama penyimpanan ekstrak tidak ditumbuhi jamur ataupun mikroba.
Uji kadar abu dilakukan untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak.
Prinsip uji kadar abu yaitu dengan memanaskan ekstrak pada temperatur dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik (Depkes RI, 2000). Hasil uji kadar abu ekstrak didapatkan persentase 17,35%. Dalam Depkes (2005) kadar abu sidaguri adalah sebesar 8%.
Besarnya persentase kadar abu yang diperoleh pada penelitian ini dapat disebabkan oleh terdapatnya mineral seperti oksalat pada daun sidaguri yang menyebabkan kadar abu tinggi. Umur panen tanaman berkaitan erat dengan kadar pati maksimum, yang menentukan tinggi rendahnya kadar oksalat. Semakin panjang umur panen, maka kadar oksalatnya semakin rendah, demikian sebaliknya (Pancasasti, 2016).
Pada penelitian ini hewan uji yang digunakan adalah tikus putih galur Sprague-Dawley berjenis kelamin jantan yang berusia 2-3 bulan dalam kondisi sehat dengan berat badan 200-250 gram. Tikus dipilih sebagai hewan uji karena tikus memiliki sifat fisiologis yang mirip dengan manusia.
Kelompok perlakuan yang diujikan yaitu kelompok kontrol dan kelompok uji. Kelompok kontrol terdiri dari kontrol normal, kontrol positif, dan kontrol negatif. Menurut Budiharto (2008) kelompok kontrol digunakan untuk memastikan bahwa hasil uji tidak terpengaruh oleh faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil uji.
Senyawa yang digunakan pada kontrol positif adalah allopurinol dengan dosis tikus 10 mg/kgBB dengan tujuan untuk memastikan bahwa asam urat tikus uji terbukti menurun dengan obat asam urat yang telah beredar di masyarakat.
Obat allopurinol memiliki mekanisme kerja menghambat kerja enzim xantin
oksidase (Dipiro et al. 2009). Hal ini berkaitan dengan mekanisme kerja dari sidaguri, flavonoid yang terkandung dari ekstrak sidaguri memiliki efek inhibitor xantin oksidase (Iswantini, et al. 2009).
oksidase (Dipiro et al. 2009). Hal ini berkaitan dengan mekanisme kerja dari sidaguri, flavonoid yang terkandung dari ekstrak sidaguri memiliki efek inhibitor xantin oksidase (Iswantini, et al. 2009).