• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA (Halaman 53-73)

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui interaksi yang terjadi pada penggunaan kombinasi ekstrak etanol 70% daun sidaguri dan Allopurinol dalam menurunkan hiperurisemia.

DAFTAR PUSTAKA

Aldiyati, (2012). Interaksi Allopurinol dan Ekstrak Etanol Daun Gandarusa (Justicia gendarussa B) terhadap Kadar Asam Urat Darah pada Tikus Putih Jantan. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Arts et al. 2012. The Impact of Transportation on Physiological and Behavioral Parameters in Rats: Implications for Acclimatization Periods. ILAR J (2012) 53 (1): E82-E98 DOI: 10.1093/ilar.53.1.82

Azizahwati et al (2005). Efek Penurunan Kadar Asam Urat Dalam Darah Tikus Putih Jantan dari Rebusan Akar Tanaman Akar Kucing (Acalypha indica L). Departemen Farmasi FMIPA-UI. Depok. ISSN: 1412-2855. Vol. 4 No.

I. hlm. 213-218.

BPOM RI. 2005. Gerakan Nasional Minum Temulawak. Jakarta: BPOM RI.

Budiharto. 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan dengan Contoh Bidang Ilmu Kesehatan Gigi. Jakarta: Penerbit IKAPI. hlm. 51.

Dahlan, Sopiyudin. (2010). Mendiagnosis dan Menata Laksana 13 Penyakit Statistik: Disertai Aplikasi Program Stata. Jakarta: IKAPI. hlm. 178.

Deglin, Judith Hopfer. (2004). Pedoman Obat untuk Perawat (4 ed.). Jakarta:

EGC.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Edisi I. hlm. 13-31.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1995). Farmakope Indonesia.

Jakarta: Ditjen POM. Edisi IV. hlm. 1035.

Departemen Kesehatan republik Indonesia. (2005). Materia Medika Indonesia.

Jilid VI. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. hlm.

247-251.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2008). Farmakope Herbal Indonesia.

Edisi I. hlm. XXV.

Dipiro et al. (2005). Pharmacotherapy ; A Pathophysiologic Approach (6 th).

New York: McGRAW-HILL. hlm. 1705.

Dipiro et al. (2009). Pharmacotherapy Handbook (7 th). New York: McGRAW-HILL. hlm. 1-3.

Firdausi (2012). Interaction of Allopurinol with Salam (Eugenia polyantha Weight) Leaves Infusion to Blood Uric Acid Level of Male White Rat.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Hardman et al. (2012). Goodman & Gilman Dasar Farmakologi Terapi (10 ed., Vol.2). Jakarta: EGC. Hlm. 666-705.

Kusmiyati, A. (2008). Kadar Asam Urat Serum dan Urin Tikus Putih Hiperurikemia Setelah Pemberian Jus Kentang (Solanum tuberosum L).

Skripsi. Jurusan Biologi Fakultas Mipa UNS, Surakarta.

Hidayat. (2006). Obat Herbal (H. Medicine): Apa Yang Perlu Disampaikan Pada Mahasiswa Farmasi dan Mahasiswa Kedokteran. Pengembangan Pendidikan. 3. No. 1. hlm. 141-147.

Howkin, DW, Rahn, DW. (1997). Pharmacotherapy; A Pathophysiological Approach (3 th). London: Black Well Scientific Publication. hlm. 1755-1760.

Iswantini et al. (2009). Indonesian Sidaguri (Sida rhombifolia L) as Antigout and Inhibition Kinetics of Flavonoids Crude Extract on the Activity of Xanthine Oxidase. Biopharma Research Center. IPB. hlm. 408-504.

Lancet. (2000). Herb-drug Interaction. Vol. 355. hlm. 134-138.

Longe et al. (2002). The Gale Encyclopedia of Medicine (Vol. 3). America: Gale Group.

Malole dan Pramono. (1989). Penggunaan Hewan-hewan di Laboratorium.

Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Antar universitas Bioteknologi. hlm. 104-107.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Formularium Obat Herbal Indonesia. hlm. 58-60.

Pancasasti, Ranthy. (2016). Pengaruh Elevasi Terhadap Kadar Asam Oksalat Talas Beneng (Xanhosoma undipes K.Koch) Di Sekitar Kawasan Gunung Karang Provinsi Banten. Volume 5. No. I. p-ISSN: 2301-4652 / e-ISSN : 2503-068X.

Prasetya, Yudha. (2009). Uji Efektifitas Etanol Daun Sirih (Piper betle L) terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Darah pada Tikus Putih Jantan yang Diinduksi Kafeina. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

40

Price et al. (1995). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 4.

Jakarta: EGC. hlm. 1402-1406.

Purwatiningsih et al. (2010). Antihyperuricemic Activity of the Kepel (Stelechocarpus burahol (BI.) Hook.F.& Th). Leaves Extract and Xanthine Oxidase Inhibitory Study. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Science. Vol.2. hlm. 123-127. rhombifolia L.) Terhadap Penurunan Kadar Kolesterol Total Pada Tikus Putih Jantan Galur Sprague-Dawley. FMIPA. Universitas Pakuan.

Riskesdas. (2013). Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. hlm. 96-97.

Saifudin, Aziz. 2014. Senyawa Alam Metabolit Sekunder. Teor, Konsep, dan Teknik Pemurnian. Yogyakarta: Deepublish

Simarmata, Y. B., Saragih A., & Saiful Bahri. (2002). Efek Hipourikemia Ekstrak Daun Sidaguri (Sida rhombifolia L) Pada Mencit Jantan. Journal of Pharmaceutics and Pharmacology, Volume 1. Edisi I. hlm. 21-28.

Sukandar et al.,(2008). Iso Farmakoterapi. Jakarta: PT. ISFI. hlm. 645-658.

Syafrullah. (2015). Indonesian Sidaguri (Sida rhombifolia L) an Antigout and Inhibition Kinetics of Flavonoid. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Nomor 1. hlm. 81-85.

Tjay dan Rahardja. (2007). Obat-obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-efek Sampingnya. Edisi 6. Jakarta: Gramedia.

Tjitrosoepomo, C. (1991). Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

WHO. (1998). Quality Control Methods For Medicinal Plant Materials. Geneva:

WHO. hlm. 26-27.

WHO. (2000). General Guidelines for Methodologies on Research and Evaluation of Traditional Medicine. hlm. 28.

Yuno, S. (2003). Uji Efek Campuran Ekstrak Herba Seledri (Apium graveolens L) dan Jahe Merah (Zingeber Officinale R) terhadap Penurunan Kadar Asam Urat pada Tikus Putih Jantan yang Diinduksi Kalium Oksonat.

Departemen Farmasi FMIPA-UI.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Hasil determinasi Daun Sidaguri

44

Lampiran 2. Surat Keterangan Tikus Uji

Lampiran 3. Surat Keterangan Lolos Kaji Etik

46

Lampiran 4. Surat CoA Allopurinol

Lampiran 5. Alur Penelitian

Tikus uji diaklimatisasi selama 2 minggu

Tikus uji dipuasakan selama 12 jam, diukur kadar asam urat pada hari ke 0

Kontrol

Induksi kafein 27 mg/ 200 g BB selama 6 hari Na CMC

0,5%

Pengukuran asam urat pada hari ke 6

Kombinasi

Pengukuran adar asam urat pada hari ke 9, 12 dan 15

48

Lampiran 6. Perhitungan Dosis dan Rendemen

 Perhitungan Dosis

Konversi Dosis Hewan ke HED (Human Equivalent Doses) berdasarkan BSA (Reagan-Shaw, Shannon, Nihal, Minakashi and Ahmad, 2008)

( ) ( ) ( )

a. Perhitungan dosis ekstrak etanol 70% daun sidaguri konsentrasi 1% (b/v) Dosis pada mencit 50 mg/kgBB, dikonversikan pada manusia:

( ) ( ) ( )

Volume yang diberikan pada tikus 200 g:

( ) ( ) ( )

( ) 5 mg/ml

 Sediaan dibuat menjadi 50 ml, sehingga ekstrak yang ditimbang sebanyak:

Ekstrak (mg) = Volume (ml) x Konsentrasi (mg/ml) Ekstrak = 50 ml x 2,5 mg/ml = 125 mg

 Pembuatan suspensi ekstrak etanol 70% daun sidaguri: ditimbang 125 gram ekstrak sidaguri, kemudian dimasukkan ke dalam lumpang, digerus.

Ditambahkan suspensi Na CMC 0,5% kemudian dihomogenkan.

Selanjutnya dituang ke dalam labu tentukur 50 ml sampai batas tanda.

b. Perhitungan dosis allopurinol

Dosis allopurinol pada manusia 100 mg 1 kali sehari. Dosis untuk tikus:

( ) ( ) ( ) ( )

( ) ( ) Volume yang diberikan pada tikus 200 g :

( ) ( ) ( )

( )

50

 Sediaan dibuat menjadi 50 ml, sehingga allopurinol yang ditimbang sebanyak:

Allopurinol (mg) = Volume (ml) x Konsentrasi (mg/ml) Allopurinol = 50 ml x 1 mg/ml = 50 mg

 Pembuatan suspensi allopurinol: ditimbang 50 mg allopurinol, kemudian dimasukkan ke dalam lumpang, digerus. Ditambahkan suspensi Na CMC 0,5% kemudian dihomogenkan. Selanjutnya dituang ke dalam labu tentukur 50 ml sampai batas tanda.

c. Perhitungan dosis kafein

Dosis yang digunakan yaitu 27 mg /200 g BB

( ) ( ) ( )

( )

 Sediaan dibuat menjadi 50 ml, sehingga kafein yang ditimbang sebanyak:

Kafein (mg) = Volume (ml) x Konsentrasi (mg/ml) Kafein = 50 ml x 13,5 mg/ml = 675 mg

 Pembuatan suspensi kafein: ditimbang 675 mg kafein, kemudian dimasukkan ke dalam lumpang, digerus. Ditambahkan suspensi Na CMC 0,5% kemudian dihomogenkan. Selanjutnya dituang ke dalam labu tentukur 50 ml sampai batas tanda.

 Perhitungan Rendemen Ekstrak Etanol 70% Daun Sidaguri

Persentase Rendemen Ekstrak =

=

Lampiran 7. Kadar Air dan Kadar Abu

52

Lampiran 8. Persentase Penurunan Kadar Asam Urat a. Kontrol Positif (Allopurinol) Tunggal

Hari ke-9 : = 39,29%

Hari ke-12 : = = 60,71 % Hari ke-15 : = = 67,86%

b. Ekstrak Sidaguri Tunggal

Hari ke-9 : = = -3,31 % Hari ke-12 : = = 49,67 % Hari ke-15 : = = 64,90 %

c. Kombinasi Ekstrak Sidaguri dan Allopurinol

Hari ke-9 : = = -8,46%

Hari ke-12 : = = 30,35 % Hari ke-15 : = = 50,25 %

Lampiran 9. Analisis Data Kadar Asam Urat

1. Uji Normalitas dan Homogenitas kadar asam urat a. Uji Normalitas Kolmograf-Smirnov

Tujuan: untuk melihat data kadar asam urat tikus uji terdistribusi normal atau tidak

Hipotesis:

Ho = Data kadar asam urat tikus terdistribusi normal Ha = Data kadar asam urat tikus tidak terdistribusi normal

Pengambilan Keputusan:

- Jika nilai signifikansi ≥ 0,05 maka Ho diterima - Jika nilai signifikansi ≤ 0,05 maka Ha ditolak

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 25

Normal Parametersa,b Mean ,0000000

Std. Deviation 1,04499852

Most Extreme Differences Absolute ,131

Positive ,079

d. This is a lower bound of the true significance.

Keputusan: Kadar asam urat darah tikus uji terdistribusi normal pada data ( p ≥ 0,05)

b. Uji Homogenitas Levene

Tujuan: untuk melihat data kadar asam urat tikus uji terdistribusi homogen atau tidak

Hipotesis: Ho = Data kadar asam urat tikus terdistribusi homogen Ha = Data kadar asam urat tikus terdistribusi tidak homogen

54

Pengambilan Keputusan:

- Jika nilai signifikansi ≥ 0,05 maka Ho diterima - Jika nilai signifikansi ≤ 0,05 maka Ho ditolak

Test of Homogeneity of Variances ke 6, 9,12 dan 15 data terdistribusi homogen ( p ≥ 0.05). Pada hari ke-0 data tidak terdistribusi homogen ( p ≤ 0,05), sehingga analisis dilanjutan dengan uji Kruskal-Wallis.

2. Uji Kruskal-Wallis

Tujuan : untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan data kadar asam urat tikus uji

Hipotesis: Ho = Data kadar asam urat tikus tidak berbeda secara bermakna Ha = Data kadar asam urat tikus berbeda secara bermakna Pengambilan Keputusan:

- Jika nilai signifikansi ≥ 0,05 maka Ho diterima - Jika nilai signifikansi ≤ 0,05 maka Ho ditolak

Test Statisticsa,b

Keputusan: Tidak terdapat perbedaan yang bermakna ( p ≥ 0.05) pada H0, H6, H9 dan H12. Terdapat perbedaan yang bermakna ( p ≤ 0,05) pada H15, sehingga analisis dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney pada H15.

3. Uji Mann-Whitney

Tujuan: untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan data kadar asam urat tikus uji antar kelompok perlakuan

Hipotesis: Ho = Data kadar asam urat tikus tidak berbeda secara bermakna antar kelompok perlakuan

Ha = Data kadar asam urat tikus berbeda secara bermakna antar kelompok perlakuan

Pengambilan Keputusan:

- Jika nilai signifikansi ≥ 0,05 maka Ho diterima - Jika nilai signifikansi ≤ 0,05 maka Ho ditolak a. Kontrol Positif vs Ekstrak Tunggal

- Keputusan: Tidak ada perbedaan secara bermakna ( p ≥ 0.05) pada kontrol positif vs ekstrak tunggal pada H15.

b. Kontrol Positif vs Penggunaan Kombinasi

Test Statisticsa Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,548b a. Grouping Variable: Kelompok Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,151b a. Grouping Variable: Kelompok

b. Not corrected for ties.

56

- Keputusan: Tidak ada perbedaan secara bermakna ( p ≥ 0.05) pada kontrol positif vs penggunaan kombinasi pada H15.

c. Ekstrak Tunggal vs Penggunaan Kombinasi

- - - - -

- Keputusan: Tidak ada perbedaan secara bermakna ( p ≥ 0.05) pada ekstrak tunggal vs penggunaan kombinasi pada H15.

d. Kontrol Negatif vs Kontrol Positif

Test Statisticsa Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,016b a. Grouping Variable: Kelompok

b. Not corrected for ties.

- Keputusan: Terdapat perbedaan secara bermakna ( p ≤ 0.05) pada kontrol negatif vs kontrol positif pada H15.

Test Statisticsa Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,421b a. Grouping Variable: Kelompok

b. Not corrected for ties.

e. Kontrol Negatif vs Ekstrak Tunggal

- Keputusan: Terdapat perbedaan secara bermakna ( p ≤ 0.05) pada kontrol negatif vs ekstrak tunggal pada H15.

f. Kontrol Negatif vs Kombinasi

Test Statisticsa Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,008b a. Grouping Variable: Kelompok

b. Not corrected for ties.

- Keputusan: Terdapat perbedaan secara bermakna ( p ≤ 0.05) pada kontrol negatif vs kombinasi pada H15.

Kesimpulan:

- Data kadar asam urat tikus uji tidak berbeda secara bermakna ( p ≥ 0.05) antar kelompok perlakuan; kontrol positif, ekstrak tunggal, dan penggunaan kombinasi pada H15.

- Data kadar asam urat tikus uji kontrol negatif berbeda secara bermakna ( p ≤ 0.05) dengan kelompok perlakuan; kontrol positif, ekstrak tunggal dan penggunaan kombinasi pada H15.

Test Statisticsa Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,008b a. Grouping Variable: Kelompok

b. Not corrected for ties.

Dalam dokumen UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA (Halaman 53-73)

Dokumen terkait