HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.9. Model Konseptual Pengelolaan Pulau Reusam
Model Konseptual (conseptual model) merupakan suatu hipotesa yang digambarkan dalam diagram dari rangkaian hubungan antara faktor-faktor tertentu
yang diyakini mempengaruhi atau memberi dampak kepada kondisi sasaran.
model konseptual memiliki 3 fungsi utama, ketiga fungsi ini sesuai dengan pendapat Jonker et, al (2011), antara lain :
4. Model Konseptual sangat erat hubungannya dengan teori referensi/litelatur yang digunakan, keberadaan bantuan model konseptual, akan menunjukkan cara melihat fenomena yang di bahas dalam penelitian, sehingga konsep-konsep teoritis yang digunakan untuk membangun model konsep-konseptual akan menghasilkan perspektif atau cara pandang dalam melihat fenomena empiris.
5. Dengan pembangunan model dapat membantu dalam penataan masalah, mengidentifikasi faktor-faktor relevan, dan kemudian memberikan koneksi yang membuatnya lebih mudah untuk memetakan bingkai permasalahan.
6. Model konseptual akan menghubungkannya ke dalam sistem teori.
Dengan menghubungkan dengan teori yang sudah ada, dan terpercaya, akan menghasilkan perbandingan antara penerapan model di suatu tempat dengan tempat lain, sehingga terlihat keunggulan dan kelebihan penerapan model di suatu tempat, termasuk model pengelolaan Pulau Reusam di Aceh Jaya dengan bentuk dan karakter model wisata halal di tempat lain.
Purnomo (2012) dalam bukunya menjelaskan tahapan model konseptual dimulai dari indentifikasi setiap komponen yang dimasukan kedalam permodelan, komponen tersebut dicarikan interrelasi satu dengan yang lain dengan berbagai metode, diagram kotak dan panah, dan lainnya. Penyusunan model konseptual tentang pengelolaan kawasan wisata dengan sistem ekowisata, mempuyai
keindahan alam saja, namun ekowisata ikut mengakomodir perlindungan terhadap lingkungan, meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar serta mempromosikan sosial budaya setempat.
Teori ekosistem komplek yang di prakarsai oleh Ma & Wang dalam penelitiannya pada tahun 1984, menekankan pada keselarasan dan keseimbangan unsur sosial, ekonomi dan kemurnian lingkungan dalam pengembangan suatu kawasan ekowisata. Sistem ekosistem komplek dari Ma dan Wang tersebut, saat ini indentik dengan istilah pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) yang juga menekankan pada kesesuaian antara unsur sosial, ekonomi dan lingkungan. Sistem pengelolaan ekowisata bekelanjutan merupakan kawasan yang berorientasi pada sumber daya ekowisata di mana kegiatan pariwisata sedang berlangsung. Menurut Dwyer dan Edwards (2000), kerangka keberlanjutan (paradigma ekowisata) mencakup tiga bagian utama: masyarakat lokal, lingkungan, dan pariwisata.
Proses menyusun model konseptual harus bersifat sistematis dan terukur, Enemark, et, al (2018) berpendapat bahwa ada kebutuhan untuk pendekatan secara sistematis dalam membangun model konseptual di mana semua aspek konseptualisasi yang relevan dengan cakupan tujuan penelitian. Dengan pendekatan sistematis, akan menghidari penyusunan model dari kesalahan.
Menurut Wee & Ettema (2016) menyimpulkan bahwa penelitian dapat dengan mudah sampai pada kesimpulan yang 'salah jika hubungan kausal yang kompleks yang ada antara faktor-faktor yang relevan diabaikan.
Penyusunan model konseptual pengelolaan Pulau Reusam menjadi kawasan ekowisata berbasis syariah menjadi nilai lebih dan kebaruan dalam penelitian ini,
dengan dasar pengelolaan berbasis syariah berpedoman pada qanun nomor tahun 2014 tentang hukum jinayah dan qanun nomor 8 tahun 2013 tentang keparawisatan Aceh, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4.7 tentang model konseptual pengelolaan Pulau Reusam menjadi kawasan ekowisata berbasis syariah.
Gambar. 4.7. Model Konseptual Sistem Pengelolaan Pulau Reusam Menjadi Kawasan Ekowisata Berbasis Syariah.
Gambaran alur kerja dalam bagan konseptual di atas, menempatkan unsur syariah sebagai salah satu dasar dalam pengembangan dan pengelolaan Pulau Reusam menjadi kawasan ekowisata berbasis Syariah di Aceh Jaya dan Propinsi Aceh Umumnya. Dalam rangka membatasi istilah berbasis syariah, maka peneliti menjadikan Qanun no 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayah, qanun ini merupakan landasan penerapan Syariat Islam di Propinsi Aceh.
Dengan mengaplikasikan secara bersamaan unsur sosial budaya, lingkungan dan ekonomi, dan Syariat Islam, diharapkan permasalahan dan kendala dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan wisata di Kabupaten Aceh Jaya umumnya dan Pulau Reusam khususnya dapat di atasi. Potensi wisata yang ada di Aceh Jaya dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh Pemerintah Daerah dan masyarakat setempat, tanpa perlu mengkhawatirkan berbagai potensi konflik di lapangan, antara lain pertentangan penerapan Syariah Islam dengan pengembangan kawasan wisata, konflik penduduk lokal dengan pendatang maupun terjadi degradasi lingkungan.
Model Konseptual Ekowisata Syariah ini di landasi keseimbangan tiga (3) pilar utama dalam pengelolaan lingkungan, yaitu memberikan perlindungan sumber daya alam (SDA, daya dukung, pemandangan, konservasi dll), memajukan ekonomi (makanan, transportasi, akomudasi, touring, hiburan dan shoping), dan memperbaiki atau memelihara unsur sosial budaya setempat (partisipasi masyarakat, distribusi manfaat, kebijakan, adat istiadat dan budaya).
Selain itu ikut memperkuat penerapan Syariat Islam di Aceh Jaya sebagai salah satu unsur ke khususan yang di miliki Propinsi Aceh setelah penanda tanganan MoU Helsinki pada tanggal 15 agustus 2005 antara Pemerintah RI dan GAM, dengan menjadikan qanun nomor tahun 2014 tentang hukum jinayah dan Qanun nomor 8 tahun 2013 tentang keparawisatan Aceh sebagai landasan pengembangan ekowisata.
Ketiga (3) pilar (Lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya) mempuyai siklus saling melengkapi dalam menghindari degradasi lingkungan. Sistem pengelolaan lingkungan dan SDA yang terintegrasi melibatkan masyarakat sekitar, sehingga
menghasilkan pendapatan.Pendapatan yang didapat dari berbagai kegiatan di lapangan tersebut, digunakan sebagian untuk dampak geografi dan keruskaan alam.
Hubungan antara unsur ekonomi dan unsur sosial budaya dalam sistem ini, ikut mendorong terciptanya kenyamaman dan ketentraman kawasan ekowisata, di karenakan unsur ekonomi membantu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, di sisi yang lain, unsur sosial budaya ikut mendukung dan menjamin dalam manajemen pengelolaan kawasan ekowisata. Ketersediaan SDA dalam kawasan ekowisata, dapat mendukung program pendidikan lingkungan bagi masyarakat sehingga tercipta sistem pemanfaatan SDA yang terintegrasi, sehingga unsur sosial dan budaya, dapat membantu dalam kegiatan advokasi lingkungan.Menurut Hasan (2015) pariwisata bukan hanya sebagai fenomena ekonomi, akan tetapi juga sebagai fenomena sosial, budaya, lingkungan dan sumber daya alam lainya
Keberadaan Syariat Islam sebagai Pedoman Hidup sehari-hari masyarakat Aceh Jaya, akan menjadi nilai tambah dalam pengembangan kawasan ekowisata dengan minat khusus, dalam hal ini Syariat Islam. Hal yang lebih penting ialah terciptanya kerukunan dan toleransi antara penduduk lokal dengan wisatawan, sehingga menambah nilai pengembangan ekowisata Pulau Reusam.
Pemda Aceh Jaya melalui Dinas Syariat Islam Kabupaten Aceh Jaya menjelaskan bahwa dalam pengembangan Pariwisata, perlu wisata yang Islami, karena Aceh Jaya hidup dalam suasana Islam, jadi semua aktivitas baik pendidikan, pendidikan bersyariat, kesehatan bersyariah, kemudian wisata yang bersyariah. Dengan akses menuju ke Pulau Reusam harus menutup aurat, tersedia sarana ibadah, dan mengikuti
rambu-rabu Agama Islam, tidak boleh berduaan di tempat yang sepi dan berkhalwat di tempat umum, untuk memfasilitasi ini diperlukan tenaga pengawas Satpol PP, WH dan kepolisian.
Berdasarkan deskripsi dari Dinas Syariat Islam Aceh Jaya tersebut, menjelaskan bahwa keberadaan kawasan wisata tidak akan bertentang dengan Syariah Islam khusus qanun No 6 tahun 2014 tentang hukum jinayat yang berlaku di Aceh, namun dalam menyatukan konsep Ekowisata dan Syariat Islam di Aceh.Pengembangan kawasan ekowisata di Kabupaten Aceh Jaya, dengan mengakomodir dan mensinergikan kebijakan dengan Penerapan Syaraiat Islam di Propinsi Aceh, sebagaimana alur yang ada pada model konseptual di atas, maka akan tercipta hubungan mutualisme semua sektor yang ada di Aceh Jaya. Kawasan ekowsiata Pulau Reusam akan menjadi pembuka jalan terhadap sinergisitas tersebut.
Penerapan sistem ekowisata dengan model konseptual ekowisata berbasis syariah di Aceh Jaya, tepatnya Pulau Reusam, diharapkan akan lebih mendukung profesionalitas pengelolaan kawasan wisata, sehingga terjadi sinergisitas antara keempat aspek dalam kehidupan manusia (lingkungan, ekonomi, sosial budaya dan Syariat Islam) dapat tercapai. Dilihat dari keadaan sosial masyarakat Aceh Jaya, yang menerapkan Syariat Islam sebagai pedoman dalam pergaulan sehari-hari, tentu akan menambah peluang keberhasilan penerapan teori ekosistem komplek ini di Aceh Jaya.