HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.2. Tanggapan Pengujung Terhadap Pengembangan Ekowisata di Pulau Reusam Reusam
4.2.1. Data dan Karakteristik Responden
4.2.2.4. Penerapan Syariat Islam
Megetahui tanggapan masyarakat tentang sistem pengelolaan Pulau Reusam selama ini, dan tanggapan masyarakat terhadap ekowsiata berbasis syariah itu sendiri, selain itu juga untuk mengetahui pengetahuan pengunjung terhadap penerapan Syariat Islam, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.5. di bawah ini:
Tabel. 4.5. Tangapan masyarakat terhadap penerapan Syariat Islam di kawasan ekowisata Pulau Reusam
6
Penginapan di sekitaran Pulau Reusam, sudah mengikuti kaidah kaidah Syariat Islam.
8 12 167 258 213 660
Persentase (%) 1,21 1,82 25,30 39,09 32,27 100
Keterangan:
STS : Sangat tidak setuju. N: Netral SS : Sangat Setuju TS : Tidak Setuju. S: Setuju
Tanggapan responden tentang fasilitas pemandian yang tersedia di Pulau Reusam, apakah sudah sesuai dengan Kaidah penerapan Syariat Islam di Aceh, sebanyak 31,21 % pengujung menjawab sangat tidak setuju, 29,39 % menjawab tidak setuju dan 12,73 % memilih jawaban netral. 13,94 % menjawab setuju dan 11,06 % sangat setuju.
Persoalan yang sama juga terjadi dalam hal operasional sarana transportasi menuju Pulau Reusam, apakah sudah sesuai dengan aturan Syariat Islam di Aceh, sebanyak 25,91 % pengujung menjawab sangat tidak setuju, 31,97 % tidak setuju, dan 11,67 % netral, 15,45 % setuju dan sisanya 14,55 % menjawab sangat setuju, selain itu terdapat 2 orang atau 0,30 % tidak memberikan jawaban.Tanggapan pengunjung tentang pengembangan Kawasan wisata Pulau Reusam apakah sudah sesuai dengan konsep penerapan Syariat Islam di Aceh, sebanyak 24,09 % sangat tidak setuju, dan 29,39 % tidak setuju, dan 11,82 % netral dan 16,82 % setuju, sisanya 15,91 % memilih sangat setuju, selain itu terdapat 1,97% responden tidak memberikan jawaban.
Dalam rangka meningkatkan kepuasan pengunjung dalam hal kesesuaian atraksi yang terdapat di Pulau Reusam dengan penerapan Syariat Islam di Aceh, salah satunya dengan membuat zonasi, atau pemisahan antara laki-laki dan perempuan, hal ini di dalam Qanun Aceh no 8 tahun 2013 Pasal 83 mengenai
pemisahan area pemandian dan atraksi lainya wisata lainya antara laki-laki dan perempuan.
Berdasarkan verikasi hasil penyebaran kuesioner, dapat kita ketahui kondisi lapangan, kendala, harapan pengunjung dan solusi dalam pengembangan Pulau Reusam kedepan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Jaya. Kegiatan atraksi dan upacara budaya belum ada sampai saat ini,salah satu kendalanya adalah tidak adanya sarana pendukung yang lengkap di Pulau Reusam, seperti dermaga pendaratan kapal.
Selain itu, salah satu nilai kelebihan dari Pulau Reusam ini adalah keindahan alam, di antaranya kondisi pantai dan ombat yang tidak terlalu besar, sehingga bisa untuk berenang, untuk surfing masih bisa dilakukan, namun lokasinya terbatas, karena ada sebagian pantainya terdapat karang. Pengembangan atraksi di Pulau Reusam kedepan, dapat dinikmati oleh semua kalangan, mulai dari orang tua sampai dengan anak-anak, termasuk kuliner dan destinasi pemancingan, namun dalam pengembangannya harus sesuai dengan Syariat Islam yang diterapkan di Aceh Jaya,
Selain itu dalam meningkatkan pendapatan masyarakat juga perlu diberdayakan masyarakat sekitar dalam memproduksi suvernir khas Aceh Jaya, khususnya Pulau Reusam, sehingga pendapatan masyarakat juga terangkat dengan adanya aktivitas ekowisata di Pulau Reusam, sumbangan untuk pendapatan masyarakat selama ini hanya dari jasa transportasi perahu dan beberapa pengunjung yang ingin didampingi oleh penduduk lokal ketika berada di Pulau Reusam.
Akses menuju ke Pulau Reusam, khususnya sarana penyebrangan, dalam hal
kuantitas boat penyebrangan dan intesistas penyebrangan dapat dikatakan tidak masalah, yang menjadi persoalan bagi sebagian pengunjung adalah masih kurangnya unsur keamanan ketika melakukan penyebrangan, seperti tidak adanya fasilitas baju pelabung di boat penyebrangan.Selain fasilitas penyeberangan tidak ada persoalan, karena pengunjung dapat memilih jenis kapal/boat besar atau kecil untuk melakukan penyebarangan, hal ini juga didukung oleh biaya penyebrangan sangat terjangkau untuk semua kalangan, sekitar Rp. 30.000 s/d Rp. 40.000 pulang pergi ke Pulau Reusam.
Lokasi Pulau Reusam sangat strategis, karena dilihat dari lokasinya langsung terlihat ketika melintas di jalan raya Banda Aceh- Meulaboh, selain itu tidak terlalu jauh dari ibukota Provinsi dan Kabupaten Aceh Barat selaku kabupaten tetangga.Persoalan tidak ada lagi fasilitas dermaga di Pulau, menyebabkan sebagian besar pengunjung membatalkan kunjungan ke Pulau Reusam, hal ini telah di antisipasi oleh Pemerintah Gampong, di mana pada tahun 2020 akan mengalokasikan Dana Gampong untuk sarana penyebarangan, salah satunya dermaga.
Selain dermaga, yang masih perlu dilengkapi antara lain adalah pentunjuk jalan menuju dan di Pulau Reusam itu sendri, sehingga pengunjung merasa di arahkan ketika mengunjungi Pulau Reusam, memang di tepi jalan Nasional sudah ada, petunjuk arah, namun di Pulau belum ada, termasuk petunjuk larangan-larangan area mandi dan lain sebagainya.Fasilitas Pendukung selain dermaga, sarana yang masih sangat perlu di kembangkan antara lain mushala yang masih sangat kecil, selain itu tempat mengambil air sembayang dan Toilet yang tidak terurus, sehingga perlu pengelolaan yang lebih maksimal.
Dalam hal ketersediaan warung nasi dan sejenisnya, lokasinya sudah tersedia, namun seiring dengan menurunya minat pengunjung menjadikan pedagang lokal tidak berjualan lagi di Pulau Reusam, sedangkan untuk area parkir kendaraan pengujung sudah sangat memadai baik, di halaman TPI maupun di Tepi Pantai Rigaih.Sistem kelembagaan pengelolaan Pulau Reusam yang tidak jelas, baik karena belum adanya lembaga pengelola Resmi di Pulau Reusam dan masih tumpang tindihnya penanggung jawab antara Pemerintah Daerah dan Gampong Lhok Timon, berakibat pada tidak adanya pusat informasi kawansan wisata Pulau Reusam ini.
Sistem pengelolaan selama ini, dilaksanakan oleh masyarakat sekitar yang belum professional dan resmi, sehingga perlu adanya pelatihan kepariwisataan bagi pengelola tersebut, sehingga sesuai dengan kaidah-kaidah pariwisata syariat di Pulau Reusam, yang selama ini masih sangat kurang, baik dalam hal pemandian dan lain sebagainya.
Permasalahan keamanan selama ini, lebih disebabkan karena belum adanya lembaga pengelola resmi, menjadikan jaminan keamanan di Pulau Reusam belum bisa dikatakan terjamin, baik di Pulau maupun dalam kegiatan penyebrangan, walaupun demikian, sebagian besar pengunjung tidak merasa terancam dan khawatir ketika berada di Pulau Reusam, baik dai binatang buas maupun bencana alam lonsor dan badai, khusus masalah badai, selama ini penduduk sekitar mengambil iniasitif tidak melakukan aktivitas penyeberangan apabila keadan anggin tidak mendukung.
Keadaan Pulau Reusam yang masih alami menjadikan pengujung terhindari dari kebisingan dan aroma serta bau bauan yang tidak sedap, kenyamanan
pengujung juga didukung oleh keindahan pulau yang masih alami dan sambutan masyarakat di sekitar Pulau Reusam yang ramah dan baik. Kekurangan utama saat ini antara lain kebersihan pulau yang masih tidak terjaga, tentu hal ini berkaitan dengan tidak adanya tim pengelola resmi terhadap Pulau ini sendiri, selain itu beberapa sarana pendukung lainnya yang masih perlu dilengkapi atau diperbaiki, seperti toilet umum, tempat mengambil air wudhu dan tempat bersandar boat di Pulau.