TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Teori dan Konsep Pelaksanaan Ekowisata
5) Wisata Pertanian (Agrowisata)
2.7. Wisata Syariah
2.7.2. Perkembangan Wisata Syariah Dunia
Pertumbuhan dan perkembangan Agama Islam tumbuh lebih cepat daripada agama dunia lainnya, pada tahun 2010 populasi Muslim global melampaui satu miliar setengah dan diperkirakan akan meningkat menjadi 2,2 miliar pada tahun 2030 (Pew Forum, 2011 dalam Carboni dan Janati (2016). Pertambahan penduduk muslim di dunia, turut berpengaruh positif pada permintaan pasar wisata halal yang menjadi bagian dari wisata berbasis syariah.
Menurut Battour et.al (2016) industri pariwisata mengakui terhadap peningkatan minat wisatawan Halal baik dari sudut pandang praktisi maupun peneliti. Kenaikan minat wisata halal ini sebagian disebabkan oleh pertumbuhan populasi Muslim di seluruh dunia. Konsumen Muslim merupakan salah satu segmen pasar yang paling cepat berkembang dan kebutuhannya tidak dapat diabaikan oleh penyedia tujuan dan operator pariwisata (Battour & Ismail, 2014).
Sesuai dengan Laporan Ekonomi Islam Dunia, Pasar perjalanan Muslim global bernilai $ 140 miliar pada tahun 2013, yang sebanding dengan 11,5 % dari pengeluaran global. Laporan yang sama memprediksi bahwa segmen tersebut
pengeluaran global (Battour et. al, 2016). Saat ini terjadi Perebutan pasar wisatawan muslim sehingga membawa beberapa negara seperti Malaysia lebih fokus dalam menarik kaum Muslim dengan mengembangkan industri pariwisata mereka agar sesuai dengan kebutuhan para pengunjung Muslim (Al-Hamarneh &
Steiner, 2004).
Persiapan wisata syariah tidak hanya di lakukan oleh Malaysia saja, berbagai negara berkembang, menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat dan alat yang efektif untuk investasi asing dan cadangan keuangan, kegiatan pariwisata internasional telah menjadi sumber utama pendapatan devisa bagi beberapa Negara Anggota OKI seperti Benin, Chad, Gambia, Maladewa, Mali, Senegal, Sierra Leone, dan Uganda (Farahani & Eid, 2016).
Carboni dkk. (2014) menambahkan bahwa wisata Islam tidak dibatasi hanya untuk tujuan keagamaan dan tidak eksklusif di negara-negara Muslim saja, wisata Islam banyak menarik wisatawan non muslim yang tertarik dengan apa yang di sebut 'Budaya Islam. Budaya Islam dalam hal ini syariah dan prakteknya oleh Umat Islam seharusnya tidak dianggap statis. Sebaliknya, Islam merespons perubahan budaya dan perubahan aktivitas seperti pariwisata. Misalnya, dalam kasus Malaysia, terjadi perkembangan pariwisata yang berbeda dengan dipahami Barat dalam memenuhi kebutuhan pengunjung Muslim (Jafari and Scott, 2014) 2.7.3. Kondisi Wisata Syariah di Indonesia
Peningkatan jumlah pengujung parawisata berbasis syariah, berkaitan erat dengan jumlah umat Islam di dunia, sekarang melebihi +1,5 miliar, dan
diperkirakan meningkat menjadi 2,2 miliar pada tahun 2030 (Carboni et.al, 2015). Pendapat di atas ikut didukung oleh Mohsin et.al (2016), negara-negara yang memiliki populasi Muslim yang tinggi seperti Malaysia dan Indonesia, menikmati preferensi yang lebih besar sebagai tujuan yang dipilih untuk pariwisata Halal oleh umat Islam di seluruh dunia.
Dalam satu laporan yang di rilis UNWTO (Utilizing the World Tourism Organization) menunjukkan bahwa wisatawan muslim mancanegara berkontribusi 126 miliar dolar AS pada 2011. Jumlah itu mengalahkan wisatawan dari Jerman, Amerika Serikat dan Cina (Aulia. 2017), hal senada dan yang terbaru berdasarkan studi Global Muslim Travel Index (GMTI, 2016), menjelaskan total jumlah wisatawan Muslim dunia mencapai 117 juta pada 2015, jumlah itu diperkirakan terus bertambah hingga mencapai 168 juta wisatawan pada 2020 dengan pengeluaran di atas 200 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2,6 triliun, Sedangkan Indoensia berdasarkan data World Travel Tourism Council atau WTTC baru bisa mendatangkan devisa negara dari pariwisata halal sebesar 11,9 miliar dollar AS (Kompas. 2017).
Setelah terjadi tragedi WTC pada tahun 2001 di Amerika Serikat, dan berbagai kejadian yang berbentuk intimidasi terhadap umat Islam di sebagian negara-negara eropa dan barat lainnya, di antaranya pembuatan film kartun Nabi Besar Muahamad SAW, pelarangan burqa dan penyeranngan mesjid. Menjadikan umat Islam kurang nyaman mengujunggi negara tersebut, karena tidak mendapatkan sambutan hangat seperti sebelumnya, fenomena ini ikut mendorong terjadinya pergeseran detinasi wisata bagi Umat Islam, untuk mencari tempat wisata yang lebih bersahabat.
Berdasarkan fenomena di atas, yang diawali pertumbuhan penduduk muslim yang begitu cepat, dan persoalan ketidak nyamanan yang dirasakan oleh wisatawan muslim dunia. Harusnya menjadi pendorong dan modal bagi bangsa Indonesia untuk bersaing merebut pasar wisata syariah dunia, karena Indonesia saat ini merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar dunia, dengan jumlah penduduk sebesar 255.182.144 (BPS, 2015).
Perkembangan dan kemajuan wisata syariah di Indonesia saat ini, juga tidak kalah dengan negara Islam lainnya seperti Malaysia. Dalam sebuah acara World Halal Travel Award 2015 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Indonesia berhasil memenangkan tiga kategori yaitu: World’s Best Family Friendly Hotel, World’s Best Halal Honeymoon Destination, dan World’s Best Halal Tourism Destination (NTB). (Aulia. 2017).
Dari prestasi di atas kita berharap, dapat memenuhi enam (6) target utama pemerintah Indonesia di bidang parawisata untuk periode 2014-2019:
a. Pertama, kontribusi pariwisata terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) meningkat dari 9 persen pada 2014 menjadi 15 persen pada 2019.
Hingga November 2015, kontribusi pariwisata terhadap PDB sebesar 9,5 persen.
b. Kedua, devisa meningkat dari Rp 140 triliun pada 2014 menjadi Rp 280 triliun pada 2019. Saat ini kontribusi pariwisata terhadap PDB Nasional diperkirakan mencapai 4 persen dengan devisa Rp 155 triliun.
c. Ketiga, kontribusi terhadap kesempatan kerja meningkat dari 11 juta pada 2014 menjadi 13 juta pada 2019.
d. Keempat, indeks daya saing pariwisata meningkat dari peringkat 70 pada 2014 menjadi 30 pada 2019.
e. Kelima, jumlah kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) meningkat dari 9,4 juta pada 2014 menjadi 20 juta pada 2019. Hingga September 2015, jumlah wisman adalah 8,69 juta. Hingga September 2015, jumlah wisman adalah 8,69 juta.
f. Keenam, jumlah perjalanan wisatawan nusantara meningkat dari 250 juta pada 2014 menjadi 275 juta pada 2019. (Kemenpar, 2015 dalam Widagdyo. 2015).
Upaya pemerintah dalam memperkuat dan mengembangkan sektor parawisata khusunya wisata syariah/halal sudah dilakukan berbagai gebrakan program, satu di antarnya dengan mempersiapkan 13 (tiga belas) provinsi untuk menjadi destinasi wisata syariah, yakni Nusa Tenggara Barat (NTB), Aceh, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Bali. Namun dari ke-13 provinsi tersebut yang dinyatakan siap yaitu Jakarta, Jawa Barat, NTB, Yogyakarta, dan Jawa Timur (Kemenpar. 2015)
Gambar. 2.2. Destinasi Wisata Syariah di Indonesia Sumber: Kemenpar. (2015).
Sampai saat ini, periode bulan agustus 2017, gambaran jumlah wisman ke Indonesia mengalami peningkatan di bandingkan tahun lalu. Berdasarkan data BPS RI Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia bulan Agustus 2017 naik 36,11 persen dibanding jumlah kunjungan pada Agustus 2016, yaitu dari 1,03 juta kunjungan menjadi 1,40 juta kunjungan. Begitu pula, jika di bandingkan dengan Juli 2017, jumlah kunjungan wisman pada Agustus 2017 mengalami kenaikan sebesar 1,79 persen (BPS RI. 2017).