• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Teori dan Konsep Pelaksanaan Ekowisata

5) Wisata Pertanian (Agrowisata)

2.6. Pengelolaan Kawasan Ekowisata Berbasis Masyarakat

Pengelolaan ekowisata dan kawasan lindung yang sukses memerlukan pemanfaatan pengunjung yang berkelanjutan, yang mengharuskan pengelolaan kawasan alam secara efektif untuk kesenangan pengunjung dan perlindungan sumber daya untuk selama-lamanya (WCED, 1987 dalam Farrell & Marion, 2001). Dalam menjalankan aktivitas ekowisata yang efektif dan berkelanjutan, maka perlu memahami Beberapa karakteristik umum ekowisata, telah diidentifikasi oleh UNEP dan Organisasi Pariwisata Dunia sebagai:

• Melibatkan apresiasi bukan hanya tentang alam, tapi juga budaya asli yang berlaku di daerah alami, sebagai bagian dari pengalaman pengunjung;

• Berisi pendidikan dan interpretasi sebagai bagian dari penawaran wisata;

• umumnya, tetapi tidak eksklusif, diselenggarakan untuk kelompok-kelompok kecil oleh usaha kecil, khusus-ised dan milik lokal (sambil mengakui bahwa operator asing juga pasar dan mengoperasikan ekowisata);

• Meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan alam dan sosial budaya;

• Mendukung perlindungan kawasan alami dengan menghasilkan keuntungan ekonomi bagi pengelola kawasan alami;

• Menyediakan pendapatan alternatif dan lapangan kerja untuk masyarakat lokal;

• Meningkatkan kesadaran lokal dan pengunjung akan konservasi (WWF, 2001).

Menurut Das dan Chatterjee (2015) tujuan pembangunan ekowisata adalah untuk melindungi daerah-daerah tertentu melalui penyediaan pendapatan, perlindungan lingkungan, pendidikan dan keterlibatan penduduk setempat.

Masyarakat Ekowisata Internasional mendefinisikan ekowisata sebagai perjalanan yang bertanggung jawab ke daerah-daerah alami yang melestarikan lingkungan dan menopang kesejahteraan masyarakat setempat (WWF. 2001).

Tantangan terhadap pelaksanaan ekowisata untuk mencapai tujuannya tidaklah mudah, karena harus memiliki tanggung jawab ketika mengujungi kawasan yang masih alami, melestarikan lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Menurut Blamey dalam Zambrano et.al, (2009), pengembangan kawasan ekowisata memiliki 3 (tiga) tantangan yang harus ambil secara bersamaan (a) meminimalkan dampak lingkungan sehingga hanya memiliki sedikit dampak kerusakan ekologi, (b) berkontribusi terhadap konservasi melalui upaya langsung (misalnya reboisasi di tempat, restorasi habitat , dll.) dan (c) mempromosikan mata pencaharian lokal melalui pemberdayaan politik dan kombinasi antara manfaat sosial dan ekonomi yang sesuai dengan budaya dengan masyarakat lokal.

Keberhasilan mencapai ketiga hal tersebut membutuhkan usaha maksimal, apalagi untuk mencapai ketiga tujuan sekaligus, banyak faktor penghalang seperti adanya interversi politik, ekonomi dan lainnya. Menurut madu (2002) dalam Zambrano et. al, (2009) untuk mencapai setiap tujuan ekowisata harus didukung oleh seperangkat standar yang jelas dan diterapkan secara konsisten, seperti yang terjadi pada area dengan program sertifikasi ekowisata nasional atau regional, Hutan Lindung dan lain sebagainya.

Dari paparan para ahli di atas, dalam pengelolaan dan pengembangan ekowisata sangat menekankan unsur-unsur yang berkaitan langsung dengan masyarakat lokal, khususnya dalam hal kesejahteraan masyarakat sekitar lokasi.

Dengan penglibatan masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan ekowisata secara nyata, akan memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan tarah ekonomi masyarakat khusunya dan daerah secara umum. Dalam hal ini ekoturisme menjadi alat yang handal untuk memperbaiki ekonomi lokal, terutama di daerah tertinggal. Di daerah terpencil dan alami, ekowisata bertanggung jawab untuk menghasilkan pendapatan bagi perlindungan lingkungan (Santarem et. al, 2015).

2.6.1. Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Kawasan Ekowisata

Pengembangan suatu kawasan ekowisata, tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan penduduk lokal dan masyarakat sekitar kawasan destinasi ekowisata, hal ini sesuai dengan teori ekosistem komplek dalam ekowisata, yang menekankan keseimbangan antara sosial budaya, ekonomi dan lingkungan, dari ketiga unsur di atas terdapat interaksi yang saling terkait dan melengkapi satu

wisata, di mana salah satunya adalah Ancillary Services yang merupakan lembaga pendukung dan pengelola ekowisata, tentu lembaga pendukung dan pengelola wisata tidak bisa dipisahkan dari peran serta masyarakat sekitar kawasan ekowisata.

Pelibatan masyarakat, harus dimulai ketika tahap-tahap awal perencanaan pengembangan kawasan ekowisata, hal ini dilakukan agar terjadi sinkronisasi perencanaan dari tingkat pengambil kebijakan sampai kelompok masyarakat paling bawah. Di samping itu, dengan pelibatan masyarakat dari tahap awal, akan terhindar dari kerugian salah satu pihak, dan masyarakat akan merasa lebih dihargai dan bertanggung jawab dalam mengelola dan menjaga lingkungan.

Berdasarkan hasil penelitian Auesriwong et.al (2015) meyimpulkan bahwa Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat yang Bersifat Integratif ke Kabupaten Sangkhom berhasil menyatukan para pemangku kepentingan yang berbeda, dan meningkatkan partisipasi para pemangku kepentingan dalam proses perencanaan pariwisata.

Selain itu, melalui proses perencanaan dapat mengintegrasikan kebijakan pariwisata nasional dengan kepentingan lokal untuk memulai perencanaan ekowisata berbasis masyarakat yang sesuai dengan Kabupaten Sangkhom.

Berdasarkan hasil penelitian Auesriwong menjadi bukti pengembangan pariwisata berbasis masyarakat telah menjadi alat penting untuk pengelolaan berkelanjutan (Sebele, 2010).

2.6.2. Ekowisata Sebagai Sarana Konservasi Berbasis Masyarakat

Kehadiran kawasan ekowisata bisa bersifat positif dan negatif. Secara positif dapat memengaruhi standar kehidupan warga, meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja baru, memperbaiki infrastruktur lokal, meningkatkan ketersediaan fasilitas hiburan, mempromosikan identitas lokal, dan sebagainya, meskipun demikian, pariwisata juga berpotensi menimbulkan dampak negatif dengan membuat biaya hidup dan kejahatan mikro meningkat, memperburuk kepadatan penduduk dan konflik gangguan, dan mengubah ekosistem (Chiappa et. al, 2016).

Dengan penetapan status sebuah kawasan sebagai daerah ekowisata tidak otomatis habitat dan keanekaragaman yang berada dalam kawasan tersebut terlindungi dengan baik. Ancaman paling dekat berasal dari masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar kawasan ekowisata. Sering terjadi konflik kepentingan dalam pengelolaan dan pengembangan ekowisata antara kebijakan pemerintah dan masyarakat dalam hal pemenuhan berbagai kebutuhan hidup.

Dalam meminimalisasi dampak negatif dan konflik kepentingan di atas, memerlukan kontribusi positif yang jelas terhadap pelestarian lingkungan, walau dalam prakteknya, terkadang sulit dicapai. Perasaan masyarakat memainkan peran penting dalam mendorong dukungan masyarakat terhadap pengembangan dan konservasi kawasan pariwisata ( Abang et. al, 2016).

Menurut Farrell & Marion, (2001), peningkatan pendidikan lingkungan masyarakat dan partisipasi masyarakat akan sangat membantu proses konservasi di wilayah sekitar ekowisata, menjadikan masyarakat lokal untuk menghargai

penggunaan sumber daya alam yang tidak hanya bersifat konsumtif, (Farrell &

Marion, 2001). Hal senada juga disampaikan oleh Tsung (2013) yang memahami dukungan warga tuan rumah untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan merupakan faktor penting dalam keberhasilan pengelolaan dan pemasaran pariwisata berbasis masyarakat.