HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.5. Komponen Penyusun Model Konseptual
4.6.2. Sosial dan Budaya
Keadaan sosial masyarakat Aceh Jaya, yang menerapkan Syariat Islam sebagai pedoman dalam pergaulan sehari-hari, menjadikan kehidupan sosial masyarakat Aceh Jaya umumnya dan Gampong Lhok Timon khususnya, juga mengikuti norma-norma penerapan Syariat Islam, termasuk dalam hal kegiatan dan upacara adat istiadat dan budaya lokal.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Gampong (RPJMG) Desa Lhok Timon dijabarkan bahwa sebelum Konflik tatanan kehidupan masyarakat Gampong Lhok Timon sangat kental dengan sikap solidaritas sesama, kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan sangat berjalan dan dipelihara hal ini terjadi karena adanya ikatan emosional keagamaan yang sangat kuat antara sesama masyarakat di mana dalam agama Islam memang sangat di tekankan untuk saling berkasih sayang, membantu meringankan beban saudaranya dan dituntut pula untuk membina dan memelihara hubungan ukhwah Islamiah antar sesama.
Berdasarkan landasan inilah sehingga tumbuhnya motivasi masyarakat untuk saling melakukan interaksi dengan baik. Pasca konflik kondisi ini perlahan-perlahan juga mulai pulih meskipun tidak sama seperti sebelum konflik. Hal ini dapat dilihat dari keadaan masyarakat pada umunya sangat berpartisipasi dalam kegiatan sosial seperti gotong royong, kegiatan keagamaan, dan yang bersifat silaturrahmi lainya seperti hajatan, khanduri takhziah, dilakukan secara bersama-sama dan saling saling tolong - menolong dalam proses pelaksanaan kegiatan tersebut di atas, untuk lebih jelas tentang komponen sosial dan budaya dapat dilihat pada Gambar 4.2. di bawah ini:
Gambar 4.2. Komponen sub sistem sosial budaya
Dalam rangka memaksimalkan potensi sosial dan budaya masyarakat Aceh Jaya dan Gampong Lhok Timon, membutuhkan tindakan penguatan dari berbagai pihak, terutama Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya, melalui pertemuan rutin, penyuluhan maupun pelatihan yang bekaitan dengan kearifan lokal Kabupaten Aceh Jaya, dengan adanya penguatan, akan member manfaat langsung, antara lain dapat menggali kembali keadaan sosial budaya dan kerarifan lokal di daerah tersebut. selain itu ikut memberi pengetahuan kepada generasi baru tentang kehidupan sosial dan budaya Aceh Jaya, sehingga diketahui oleh lintas generasi.
Penguatan komponen pada sub sistem sosial dan budaya juga perlu dilakukan, dalam rangka mensinergikan pemahaman masyarakat tentang ekowisata dan penerapan Syariat Islam, yang selama ini masih ada sebagian penduduk sekitar Pulau Reusam, menganggap aktivitas wisata akan mencedrai penerapan Syariat Islam. Penguatan ini dapat dilakukan oleh pemerintah maupun LSM dengan menglibatkan Alim Ulama, melalui kegiatan diskusi, penyuluhan dan metode sosialisasi lainya, sehingga masyarakat dapat memahami manfaat keberadaan kawasan ekowisata Pulau Reusam.
1) Partisipasi Masyarakat
Penglibatan masyarakat, harus dimulai ketika tahap-tahap awal perencanaan pengembangan kawasan ekowisata berbasis syariah, sehingga akan
mengintegrasikan kebijakan Kabupaten Kota dan kepentingan masyarakat lokal, di samping itu, dengan pelibatan masyarakat dari tahap awal. Dengan demikian akan terhindar dari kerugian salah satu pihak, dan masyarakat akan merasa lebih dihargai dan bertanggung jawab dalam mengelola dan menjaga lingkungan. Selain itu, dengan keterlibatan masyarakat secara langsung diharapkan dapat meningkatkan taraf pendapatan masyarakat lokal di Aceh Jaya, yang tingkat kemiskinan berada pada taraf 16,89 % (BPS 2017).
2). Distribusi Manfaat Ekowisata Berbasis Syariah
Pengembangan kawasan ekowisata di Aceh Jaya umumnya dan Pulau Reusam khususnya, merupakan pariwisata berbasis masyarakat, sehingga lebih ditingkatkan ekonomi kreatif masyarakat lokal, dengan demikian keberadaan wisata ini akan memberi manfaat kepada semua komponen yang terlibat langsung maupun tidak langsung.
Distribusi manfaat ekowisata berbasis syariah Pulau Reusam dapat dilaksanakan antara lain dengan membuat/menyisakan pendapatan dari aktivitas ekowisata berbasis syariah untuk dana yang berhubungan dengan dampak lingkungan, pengembangan kawasan, upacara adat istiadat dan budaya lokal serta kegiatan sosial lainya. Hal ini sangat didukung masyarakat Gampong Lhok Timon sehingga kegiatan seperti itu sudah berjalan 2 tahun, dengan mejadikan Pulau Reusam merupakan aset gampong.
Dukungan perangkat Desa Lhok Timon dalam mengembangan kawasan ekowisata Pulau Reusam selaras dengan regulasi yang ada, salah satunya undang-undang no 6 tahun 2014 tentang desa, menurut Badaruddin et.al, (2017) menjelaskan bahwa melalui UU nomor 6 tahun 2014 selain pengakuan kembali desa adat, juga
memberikan otonomi yang lebih besar bagi desa untuk dapat mengelola dan mengembangkan desa dalam mencapai tujuan pembangunan nasional, serta tercapai masyarakat yang makmur dan adil, selain itu pemberian otonomi diikuti oleh administrasi alokasi dana yang lebih besar untuk desa.
Dalam penelitian lain Badarudin dan Ermansyah (2017) mengatakan bahwa dalam konteks implementasi UU desa untuk pembangunan pedesaan, kemampuan orang untuk bekerja bersama, baik sesama warga desa maupun dengan berbagai pemangku kepentingan lainnya adalah suatu keharusan. Penjelasan di atas menekankan kepada keselarasan semua pilar, ketiga (3) pilar ekowisata (Lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya) mempuyai siklus saling melengkapi dalam menghindari degradasi lingkungan.Sistem pengelolaan lingkungan dan SDA yang terintegrasi melibatkan masyarakat sekitar, sehingga menghasilkan pendapatan.Pendapatan yang didapat dari berbagai kegiatan di lapangan tersebut, digunakan sebagian untuk dampak geografi dan keruskaan alam.
3). Adat Istiadat
Dengan adanya distribusi manfaat ekowisata tersebut, maka akan menghidupkan semua lini kehidupan masyarakat sekitar Pulau Reusam, termasuk upacara adat istiadat dan budaya lokal, bahkan kegiatan kearifan lokal tersebut akan menjadi daya tarik dan nilai jual tersendri bagi pengunjung yang datang, tentu harus ada konsep dengan yang bagus seperti Bali dan Jogjakarta.
Potensi kearifan lokal tersebut tidak dapat di manfaat oleh masyarakat Aceh Jaya dan Pemerintah Gampong, hal ini disebabkan tidak adanya kejelasan sistem pengelolaan Pulau Reusam, selain itu masih terkendala dengan sarana pendukung seperti dermaga untuk pendaratan kapal, dan kegiatan ini masih hanya bersifat lokal
untuk masyarakat gampong, belum berpengaruh terhadap pengunjung.
4). Kebijakan dan Sistem
Pelibatan pemangku kepentingan ini harus dimulai dari proses perencanaan ekowisata sehingga akan mensinergikan program pariwisata tingkat nasional dan kepentingan lokal, kemudian melahirkan partisipasi lokal dan juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konservasi lingkungan wisata baik alam, sosial dan budaya, hal ini sesuai dengan pendapat Auesriwong et. al (2015).
Perencanaan Pemda Aceh Jaya kedepan dalam memfasilitasi penetapan Aceh Jaya menjadi kawasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) salah satunya menyiapkan pengelolaan Pulau Reusam menjadi kawasan ekowisata, Pemerintah Daerah melalui Dinas Pariwisata, akan melakukan pemantapan manajemen dalam rangka pengelolaan Pariwisata di setiap daerah termasuk Pulau Reusam,
Peningkatan kapasistas SDMnya, baik dalam menerima tamu, memberikan informasi yang jelas terhadap tamu, kenyamanan dan kebersihan, baik fasilitas parkir dan penyeberangan, untuk selanjutnya Pemda mendorong agar ada sinkronisasi antara program Pemerintah Daerah dan BUMG Desa Lhok Timon.
Selain itu Pemerintah Daerah akan mensinergikan pengembangan ekowisata dengan penerapan Syariat Islam, sehingga kenyamanan ini tidak hanya kepada pengunjung, namun juga terhadap masyarakat itu sendiri, tentang aktivitas wisata yang berdampak langsung kepada Masyarakat, jadi penerapan manajemen pengelolaan dengan meningkatkan SDM dalam memberikan informasi-informasi dibolehkan dan bertentangan dengan Syariat Islam.
4.6.3. Ekonomi
Pengelolaan kawasan wisata dengan sistem ekowisata, mempuyai keunggulan yang tidak dimiliki oleh sistem wisata lainya, tidak hanya menikmati keindahan alam saja, namun ekowisata ikut mengakomodir perlindungan terhadap lingkungan, meningkatkan taraf ekonomi masyarakat sekitar serta mempromosikan sosial budaya setempat, pendapat yang sama juga disampaikan oleh Chiutsi et. al, (2011).
Manfaat ekonomi yang di terima oleh masyarakat, didapatkan dari berbagai sumber, di antaranya, masyarakat lokal dapat menjadi pemandu wisata bagi turis yang datang, menjual makanan dan souvenir khas Pulau Reusam, menyediakan sarana transportasi dan akomudasi penginapan berbasis rumah masyarakat.
Sementara untuk kalangan pengusaha, dapat membuka bisnis restoran dan perhotelan, gambaran di atas hanya sebagian dari maanfat ekonomi yang diterima oleh masyarakat Aceh Jaya khususnya apabila destinasi wisatanya hidup, untuk lebih jelasnya dijelaskan dalam gambar 4.3. tentang Komponen Sub Sistem Ekonomi:
Gambar 4.3. Komponen sub sistem ekonomi
Melalui manajemen pengelolaan yang baik, khususnya pemasaran dan strategi promosi yang benar dan efektif, maka potensi sub sistem bidang ekonomi di Aceh Jaya tidak akan bisa dijual, hal itulah yang sedang terjadi di Aceh Jaya, dengan
pemasukan terhadap APBK Kabupaten Aceh Jaya, sangat ironis bila dilihat Aceh Jaya akan menjadi kawasan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) salah satunya di bidang pariwisata di Propinsi Aceh.
Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya melaui Dinas Pariwisata dan Pokdarwis salah satu programnya menghubungkan Badan Usaha Miliki Gampong (BUMG) sebagai pusat usaha, pembenahan diawali dari manajemen pengelolaan agar lebih profesional, selain itu mengiatkan program promosi pariwisata Aceh Jaya, sehingga semua orang mengetahui dan ingin mengunjunginya, setelah kedua rancangan itu berjalan, akan direncanakan lagi kebutuhkan dalam pengelolaan ini.
1). Makanan
Melalui pengembangan kawasan ekowisata berbasis masyarakat, dengan cara memberdayakan sumber daya yang ada pada masyarakat setempat, di antaranya melalui melestarikan atraksi dan konsumsi khas daerah menjadi salah satu kunci mempertahankan sektor ekowisata secara berkelanjutan. Dengan adanya distribusi mamfaat kepada semua elemen, termasuk masyarakat biasa, melalui usaha menjual makanan khas Aceh Jaya, snack, nasi dan konsumsi lainnya, maka kepedulian masyarakat terhadap kawasan ekowisata akan terus terpelihara.
Melihat potensi ekonomi melalui usaha konsumsi, sudah seharusnya, Pemerintah Gampong dan Pemda Aceh Jaya memfasilitas usaha masyarakat ini, karena sampai saat ini, belum adanya restoran dan supermarket yang memadai di sekitaran Pulau Reusam termasuk menjadi keluhan bagi wisatawan, saat ini hanya satu warung nasi yang tersedia di dermaga menuju ke Pulau, tentu ini tidak mampu memberi pelayanan maksimal bagi pengunjung Pulau Reusam.
2). Atraksi
Selain usaha di bidang konsumsi, potensi ekonomi dari ekowisata berbasis syariah, juga bersumber dari atraksi, atraksi tidak hanya berkaitan dengan penampilan saja, namun atraksi merupakan apa yang bisa dilihat, apa yang bisa dilakukan, apa yang bisa dibeli pada suatu destinasi wisata sehingga bisa menjadi unsur daya tarik dan magnet bagi kedatangan wisatawan di suatu lokasi wisata, hal ini juga sesuai dengan pendapat Riswandi (2013).
Sehingga elemen-elemen atraksi dapat berupa keindahan alam Hasil Ciptaan Allah SWT, kegiatan pertunjukan seni dan budaya, sehingga memaknai atraksi tidak hanya sebatas tontonan bagi wisatawan semata, namun wisatawan juga dapat terlibat aktif menjadi pelaku dalam menikmati atraksi wisata, Selain itu modal atraksi yang menarik kedatangan wisatawan itu ada tiga, yaitu 1) Natural Resources (alami), 2) Atraksi wisata budaya, dan 3) Atraksi buatan manusia itu sendiri.
Melihat pengertian dan batasan atraksi yang begitu luas, tidak seharusnya Pulau Reusam hanya menjual dan mengandalkan keindahan alam semata, padahal cukup banyak kearifan lokal di Kabupaten Aceh Jaya yang dapat ditampilkan melalui aktivitas ekowisata berbasis syariah di Pulau Reusam, di antaranya Tarian Ranup Lampuan, Daboh, Kenduri laut, dan aktivitas berbasis kedaerahan lainya.
Pengembangan dan pengelolaan kegiatan atraksi kawasan ekowisata di Pulau Reusam, harus mengikuti aturan yang berlaku di Aceh Jaya khususnya, antara lain Qanun Hukum Jinayat dan Qanun kepariwisataan, dalam pasal Pasal 83 ayat 1 qanun Kepariwisataan disebutkan bahwa (1) Bagi wisatawan nusantara dan wisatawan manca negara diwajibkan berbusana sopan di tempat-tempat wisata.
(2) Bagi wisatawan muslim diwajibkan berbusana sesuai dengan Syariat Islam. (3) Pemandian di tempat umum dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. (4) Bagi masyarakat yang menonton pertunjukan/hiburan, dipisahkan antara laki-laki dan perempuan.
3). Transportasi
Aktivitas transportasi menuju Pulau Reusam selama ini, khususnya sarana penyeberangan, dalam hal kuantitas boat penyeberangan dan intesistas penyeberangan dapat dikatakan tidak masalah, yang menjadi persoalan bagi sebagian pengunjung adalah masih kurangnya unsur keamanan ketika melakukan penyeberangan. Ketiadaan fasilitas baju pelabung di boat penyeberangan dan kelayakan sebagian alat penyeberangan menjadi persoalan utama di Pulau Reusam.
Persoalan di atas menjadi komitmen Pemda Aceh Jaya dalam mengatasi hal tersebut, seperti tertuang dalam hasil Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan Pada hari kamis, tanggal lima bulan desember tahun dua ribu sembilan belas (05-12-2019) bertempat Café Pantai Pasie Luah Kota Calang, a).
Mendukung dan menyiapkan kebutuhan sarana prasarana dalam pengembangan ekowisata Pulau Reusam Berbasis Syariah. b). Membangun sarana dan prasarana dasar dalam pengembangan Pulau Reusam, seperti pelabuhan dan fasilitas umum lainya. c). Mendukung dan memfasilitasi peningkatan SDM lokal pengelolaan kawasan wisata Pulau Reusam berbasis ekowisata dan Syariah. d). Membagun sarana yang berkaitan langsung dengan peningkatan pendapatan masyarakat Aceh Jaya, di Pulau Reusam dan sekitarnya.
Selain masalah itu tidak ada persoalan, karena masyarakat dapat memilih jenis kapal/boat besar atau kecil untuk melakukan penyeberangan. Hal ini juga didukung oleh biaya penyeberangan sangat terjangkau untuk semua kalangan, sekitar Rp. 30.000 s/d Rp. 40.000 pulang pergi ke Pulau Reusam. Lokasi Pulau Reusam sangat strategis, karena dilihat dari lokasinya langsung terlihat ketika melintas di jalan raya Banda Aceh- Meulaboh, selain itu tidak terlalu jauh dari ibukota Provinsi dan Kabupaten Aceh Barat selaku kabupaten tetangga. Namun di karenakan tidak ada lagi fasilitas dermaga di Pulau, menyebabkan sebagian besar pengunjung membatalkan kunjungan ke Pulau Reusam, hal ini telah di antisipasi oleh Pemda Aceh Jaya, pada tahun 2020 akan mengalokasikan dana untuk pembangunan sarana penyebarangan, salah satunya dermaga apung di Pulau Reusam.
Selain dermaga, yang masih perlu di lengkapi antara lain adalah pentunjuk jalan menuju dan di Pulau Reusam itu sendri, sehingga pengunjung merasa di arahkan ketika mengunjungi Pulau Reusam, memang di tepi jalan Nasional sudah ada, petunjuk arah, namun di Pulau belum ada, termasuk petunjuk larangan-larangan area mandi dan lain sebagainya.
4). Akomodasi
Perbedaan antara wisata halal dan syariah hanya sebatas pada ruang lingkup penerapan kaidah syariah dalam berwisata. Wisata halal hanya terfokus dalam hal bahan konsumsi dan sebagian juga mengikut sertakan akomodasi penginapan halal, Berbeda dengan wisata halal di luar Provinsi Aceh, maka ekowisata berbasis syariah di Pulau Reusam dalam pelaksanaannya mengatur seluruh aktivitas pariwisata yang sesuai dengan kaidah penerapan Syariat Islam atau Qanun nomor 6 tahun 2014.
Sehubungan dengan penerapan Syariat Islam di Aceh, secara tidak langsung menjadikan akomudasi penginapan di Aceh Jaya sudah menjadi penginapan syariah, Akomudasi penginapan bagi pengunjung Pulau Reusam baru tersedia di Kota Kabupaten Aceh Jaya, dengan menempuh jarak 8 Km. di Kota calang terdapat 2 hotel yaitu Hotel Pantai Barat dan Hotel kana, selain itu juga terdapat 1 wisma.
4.7. Hubungan Antar Sub Sistem Ekowisata Berbasis Syariah Pulau Reusam 4.7.1. Ekonomi dan Lingkungan
Dalam menjaga keseimbangan lingkungan dengan aktivitas ekowisata berbasis Syariah di Pulau Reusam, seperti atraksi, akomudasi, taouring dan aktivitas wisata lainya, semakin maju pariwisata, maka semakin banyak pengunjung yang datang, hal tersebut, ikut memperbesar beban yang harus di tampung oleh lingkungan, yang berakibat langsung pada degradasi lingkungan, tentu keadaan ini tidak boleh dibiarkan terus menurus, maka diperlukan aksi nyata dalam menanggulangi dampak lingkungan tanpa mematikan usaha di bidang pariwisata.
Salah satu tindakan nyata tersebut ialah dengan mengalokasikan pendapatan dari usaha dan aktivitas parawisata untuk menanggulangi dampak lingkungan dan konservasi ekologi lainya, dengan adanya dana untuk dampak lingkungan tersebut, akan menciptakan keseimbangan lingkungan walaupun dalam waktu bersamaan berlangsung aktivitas parawisata. Kesimbangan lingkungan dan ekonomi ini, termasuk dalam hasil FGD salah satunya disampaikan oleh Geuchik Gampong Lhok Timon Aceh Jaya, antara lain: a). Menigkatkan aktivitas swadaya masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan Pulau Reusam. b).
Memfasilitasi dan melayani pengunjung Pulau Reusam dengan baik. c).
Meningkatkan kesadaran dan ketrampilan masyarakat gampong dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Gambar 4.4. Bagan Interaksi Sub Sistem Ekonomi dengan Lingkungan Menurut Tuwo (2011), terdapat 8 (delapan) prinsip dalam pengembangan kawasan ekowisata, khususnya ekowisata pesisir dan laut, antara lain: 1).
Mencegah dan menanggulangi dampak dari aktivitas wisatawan terhadap bentang alam dan budaya masyarakat lokal. 2). Mendidik dan menyadarkan wisatawan dan masyarakat lokal terhadap aktivitas konservasi, 3). Mengatur kawasan ekowisata dapat menerima pendapatan langsung, untuk digunakan dalam kegiatan pemberdayaan baik lingkungan maupun sosial budaya lainya, 4). Keterlibatan masyarakat secara aktif baik di perencanaan maupun pengembangan, 5).
Keuntungan ekonomi dari ekowisata dapat mendorong masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan. 6). Semua pengembangan fasilitas harus melihat dan disesuaikan dengan keharmonisan dengan alam. 7). Membatasi pemenuhan permintaan untuk disesuaikan dengan daya dukung, 8). Adanya unsur proporsional dan adil dalam pembagian devisa dan belanja wisatawan antara pemerintah Pusat dan Daerah.
Dalam rangka mendukung keseimbangan lingkungan dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat di sekitar Pulau Reusam, maka perlu digiatkan sumber daya
aktivitas menuju dan di Pulau Reusam bersifat ramah lingkungan, selain itu SDM yang terlibat dalam aktivitas pariwisata harus mengerti tentang degradasi lingkungan. Ketersediaan SDA dalam kawasan ekowisata, dapat mendukung program pendidikan lingkungan bagi masyarakat sehingga tercipta sistem pemanfaatan SDA yang terintegrasi, sehingga unsur sosial dan budaya, dapat membantu dalam kegiatan advokasi lingkungan.