• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

2.1.2. Pendekatan Saintifik

2.1.2.6. Model-model Pembelajaran Dalam Pendekatan Saintifik

3. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.

4. Penjelasan guru merespon peserta didik untuk melakukan interaksi antara guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, memiliki pemikiran yang subjektif, atau memiliki penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.

5. Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk berpikir secara kritis dan analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. 6. Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk berpikir secara

hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran.

7. Mendorong dan menginspirasi peserta didik agar mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.

2.1.2.6.Model-model Pembelajaran Dalam Pendekatan Saintifik 2.1.2.6.1. Model Inquiry Learning

Model pembelajaran menggunakan model inquiry learning biasanya cocok digunakan pada pembelajaran matematika, tetapi mata pelajaran lainnya juga dapat menggunakan model inquiry learning asal sesuai dengan karakteristik KD atau materi pembelajaran. Model inquiry

learning adalah sebuah model pembelajaran yang menempatkan peserta

didik sebagai subjek pembelajaran, yang berarti peserta didik memiliki andil besar dalam menentukan suasana belajar dan model pembelajaran (Anam, 2015: 7). Menurut Sufairoh (2016: 7-8), langkah dalam model inkuiri terdiri atas:

1. Observasi/mengamati berbagai fenomena gejala. Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik bagaimana mengamati berbagai fakta atau fenomena dalam mata pelajaran tertentu menggunakan gambar, video, maupun lingkungan sekitar. 2. Mengajukan pertanyaan tentang fenomena yang dihadapi. Tahap ini

24

kegiatan menanya baik terhadap guru, teman, atau melalui sumber lain.

3. Mengajukan dugaan atau kemungkinan jawaban. Pada tahap ini peserta didik dapat mengasosiasikan atau melakukan penalaran terhadap kemungkinan jawaban dari pertanyaan yang diajukan. 4. Mengumpulkan data yang terkait dengan dugaan atau pertanyaan

yang diajukan, sehingga pada kegiatan tersebut peserta didik dapat memprediksi dugaan atau yang paling tepat sebagai dasar untuk merumuskan suatu kesimpulan.

5. Merumuskan kesimpulan-kesimpulan berdasarkan data yang telah diolah atau dianalisis, sehingga peserta didik dapat mempresentasikan atau menyajikan hasil temuanya.

2.1.2.6.2. Model Discovery Learning

Model Discovery Learning merupakan proses pembelajaran yang berfokus pada penemuan masalah (sumber belajar) yang berasal dari pengalaman-pengalaman nyata siswa. Upaya yang diharapkan dalam model Discovery Learning adalah untuk membangun pengetahuan secara induktif dari pengalaman-pengalaman siswa dan pengalaman merupakan sumber materi yang dapat dieksplorasi dalam proses pembelajaran (Anam, 2015: 110).

Menurut Sufairoh (2016: 8), langkah dalam model discovery

learning terdiri atas:

1. Stimulation (memberi stimulus). Pada kegiatan ini guru memberikan stimulus melalui bacaan, gambar, atau situasi sesuai dengan materi pembelajaran/tema yang dibahas, sehingga peserta didik mendapat pengalaman mengamati pengetahuan konseptual melalui kegiatan membaca, mengamati situasi atau melihat gambar. 2. Problem Statement (mengidentifikasi masalah). Pada tahap ini peserta didik diharuskan menemukan permasalahan apa saja yang dihadapi, sehingga pada kegiatan ini peserta didik diberikan pengalaman untuk menanya, mencari informasi, dan merumuskan masalah.

25

3. Data Collecting (mengumpulkan data). Tahap ini peserta didik diberikan pengalaman mencari dan mengumpulkan data/informasi yang dapat digunakan untuk menemukan solusi pemecahan masalah yang dihadapi. Pada tahap ini melatih ketelitian peserta didik, kejujuran, serta membiasakan peserta didik untuk mencari dan merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah.

4. Data Processing (mengolah data). Kegiatan mengolah data akan melatih peserta didik untuk mencoba dan mengeksplorasi kemampuan pengetahuan konseptualnya untuk diaplikasikan pada kehidupan nyata, sehingga kegiatan ini juga melatih keterampilan berfikis logis dan aplikatif.

5. Verfication (memferifikasi). Tahap ini mengarahkan peserta didik untuk mengecek peserta didik untuk mengecek kebenaran atau keabsahan hasil pengolahan data, melalui berbagai kegiatan, antara lain bertanya kepada teman, berdiskusi, atau mencari sumber lain baik buku atau media, serta mengasosiasikan sehingga menadi kesimpulan.

6. Generalization (menyimpulkan). Tahap ini peserta didik digiring untuk menggeneralisasikan hasil simpulannya pada suatu kejadian atau permasalahan yang serupa, sehingga kegiatan ini juga dapat melatih pengetahuan metakognisi peserta didik.

2.1.2.6.3. Model Project Based Learning

Menurut Sufairoh (2016: 8-9), langkah dalam model project based

learning terdiri atas:

1. Menyiapkan pertanyaan atau penugasan proyek. Tahap ini sebagai langkah awal agar peserta didik mengamati lebih dalam terhadap pertanyaan yang muncul dari fenomena yang ada.

2. Mendesain perencanaan proyek. Sebagai langkah nyata menjawab pertanyaan yang ada disusunlah suatu perencanaan proyek bisa melalui percobaan.

26

3. Menyusun jadwal sebagai langkah nyata dari sebuah proyek. Penjadwalan sangat penting agar proyek yang dikerjakan sesuai dengan waktu yang tersedia dan sesuai dengan target.

4. Memonitor kegiatan dan perkembangan proyek. Guru melakukan monitoring terhadap pelaksanaan dan perkembangan proyek. Peserta didik mengevaluasi proyek yang sedang dikerjakan. 5. Menguji hasil. Fakta dan data percobaan atau penelitian

dihubungkan dengan berbagai data lain dari berbagai sumber. 6. Mengevaluasi kegiatan/pengalaman. Tahap ini dilakukan untuk

mengevaluasi kegiatan sebagai acuan perbaikan untuk tugas proyek pada mata pelajaran yang sama atau mata pelajaran lain.

2.1.2.6.4. Model Cooperative Learning

Cooperative Learning merupakan suatu model pembelajaran yang

mana peserta didik belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Anggota kelompok dalam model pembelajaran ini biasanya terdiri dari 4-5 orang (Shoimin, 2014: 45).

Langkah-langkah model pembelajaran Cooperative Learning dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Guru mendorong peserta didik untuk menemukan dan mengekspresikan ketertarikan mereka terhadap subjek yang akan dipelajari.

2. Guru mengatur peserta didik ke dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 peserta didik.

3. Guru membiarkan peserta didik memilih topik untuk kelompok mereka.

4. Tiap kelompok membagi topik untuk membuat pembagian tugas diantara anggota kelompok.

5. Setelah para peserta didik membagi topik kelompok mereka menjadi kelompok-kelompok kecil, mereka akan bekerja secara individu.

Dokumen terkait