BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
5. Model Pembelajaran Inovatif
kehidupan nyata sesuai dengan pokok bahasan yang dipelajari untuk ditemukan hasil dari pemecahan masalah tersebut.
7 F. Spesifikasi Produk
1. Fisik Produk
a. Cover produk
Cover depan produk terdiri dari judul pengembangan perangkat
pembelajaran inovatif yaitu Perangkat Pembelajaran Inovatif pada Subtema 4 Aku Istimewa Mengacu Kurikulum 2013 untuk Siswa Kelas I Sekolah Dasar; gambar yang mencerminkan pembelajaran inovatif; nama penulis; logo Universitas Sanata Dharma, keterangan yang berisi Program Studi yaitu Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan yaitu Ilmu Pendidikan, Fakultas yaitu Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas yaitu Sanata Dharma Yogyakarta. Cover belakang berisi sinopsis dan biodata singkat peneliti.
b. Ukuran kertas
Produk dicetak dalam ukuran kertas A4 dengan berat 70 gram sedangkan sampul dicetak dengan kertas ivory 230 supaya terlihat kokoh.
c. Format tulisan
Produk ditulis menggunakan theme font “Times New Rowman” dengan spasi 1,5 supaya setiap bagian dalam perangkat pembelajaran terlihat jelas.
2. Isi Produk
a. Kata Pengantar
Kata Pengantar berisi tentang ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah membantu dalam pembuatan produk yang dikembangkan; orang-orang yang sudah membantu dalam penyusunan pengembangan produk; kesediaan peneliti dalam menerima kritik dan saran dari pembaca terkait produk yang dikembangkan.
b. Daftar Isi
Daftar Isi terdiri dari garis besar isi yang terdapat di dalam buku beserta nomor halaman.
8
c. Program Tahunan (Prota) untuk Kelas I SD
Program Tahunan merupakan rencana umum pelaksanaan pembelajaran yang berisi antara lain rencana penetapan alokasi waktu satu tahun pembelajaran. Program tahunan dibuat sesuai dengan kalender pendidikan dari tahun 2018/2019. Komponen-komponen dalam menyusun Program Tahunan: Identitas (antara lain satuan pendidikan, kelas, semester) dan format isian (antara lain tema, subtema, dan alokasi waktu). Program tahunan terdapat 2 sampai 3 halaman berbentuk potrait.
d. Program Semester (Prosem) untuk Kelas I SD semester gasal
Program Semester merupakan penjabaran dari program tahunan sehingga program tersebut tidak bisa disusun sebelum tersusun program tahunan. Program semester dilihat melalui kalender pendidikan dari semester gasal tahun 2018/2019. Program Semester berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Program semester berbentuk landscape.
e. Silabus untuk Kelas I SD semester gasal tahun 2018/2019
Silabus merupakan salah satu produk pengembangan kurikulum berisikan garis-garis besar materi pelajaran, kegiatan pembelajaran dan rancangan penilaian. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu atau kelompok mata pelajaran/ tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar.
f. Komponen perangkat pembelajaran RPP
Perangkat pembelajaran RPP disusun lengkap yang terdiri dari: 1) identitas RPP; 2) kompetensi inti; 3) kompetensi dasar, indikator, dan tujuan pembelajaran; 4) pendekatan, tipe, model dan metode; 5) alat dan bahan serta sumber belajar; 6) langkah pembelajaran; 7) penilaian; 8) rangkuman materi 9) lampiran yang berisi LKS, media
9
dan rubrik penskoran. Dalam satu subtema terdapat enam pembelajaran, sehingga menghasilkan 6 (enam) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
g. Model Pembelajaran
RPP menggunakan dua model pembelajaran inovatif yaitu 1) Generatif yang menekankan pada proses pembelajaran yang menekankan pada proses pembelajaran agar siswa mampu membangun pengetahuan yang ada di pikirannya dan 2) Problem
Based Learning (PBL) atau yang dikenal juga dengan Pembelajaran
Berbasis Masalah (PBM) yang menekankan pembelajaran berdasarkan pada masalah mengenai materi yang akan dipelajari. h. Pendekatan scientific
Pendekatan scientific merupakan proses pembelajaran yang dirancang supaya peserta didik mengkonstruk konsep, hukum, atau prinsip melalui tahap mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum, atau prinsip yang ditemukan.
i. Menggunakan keterampilan belajar abad 21
Mengembangkan empat keterampilan 4C yaitu berpikir kritis
(critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kerjasama
(collaborative), dan komunikasi (communicative).
j. Pembelajaran terpadu
Pembelajaran terpadu mempunyai karakteristik berpusat pada siswa, memberikan pengalaman langsung, pemisahan mata pelajaran yang tidak begitu jelas, menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, bersifat fleksibel (guru dapat mengaitkan mata pelajaran yang satu dengan yang lain), dan menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.
10 k. Penguatan pendidikan karakter
Pendidikan karakter diintegrasikan dalam seluruh mata pelajaran pada setiap bidang studi yang terdapat dalam kurikulum. Pendidikan karakter yang dikembangkan memuat aspek spiritual dan aspek sosial. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap bidang studi perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dihubungkan dengan konteks kehidupan sehari-hari.
l. Menerapkan High Order Thinking Skill (HOTS)
High Order Thinking Skill (HOTS) meliputi tingkat taksonomi
bloom pada C4 sampai C6. C4 merupakan kegiatan menganalisis yang menggunakan kata kerja operasional memilih, membandingkan, menguraikan, mengaitkan, dan lain-lain. Sedangkan C5 yaitu kegiatan mengevaluasi yang menggunakan kata kerja operasional mengkritik, memeriksa, menilai, membuktikan, dan lain-lain. Dan C6 yaitu kegiatan mencipta yang menggunakan kata kerja operasional merumuskan, merencanakan, memproduksi, membuat hipotesis, mendesain, menciptakan, dan lain-lain.
m. Menerapkan penilaian otentik
Penilaian otentik mengandung aspek sikap spiritual dan sosial, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan. Penilaian dilengkapi dengan instrumen penilaian yang memuat kunci jawaban dari soal tertulis, daftar cek atau pedoman observasi bagi penilaian dengan teknik observasi, dan cara skoring.
n. Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar
Penyusunan perangkat pembelajaran memperhatikan ketentuan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yang meliputi tanda baca, huruf kapital, ejaan baku, kalimat baku, nama orang, nama tempat, dan kata penghubung.
11 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
1. Karakteristik Kurikulum SD 2013
Sebelum membahas mengenai karakteristik kurikulum SD 2013, ada baiknya terlebih dahulu mengenal pengertian dari kurikulum itu sendiri. Kurniasih dan Berlin (2014: 6) menjelaskan kurikulum adalah seperangkat yang dijadikan acuan untuk proses pembelajaran peserta didik dengan harapan tercapainya suatu tujuan pembelajaran dalam dunia pendidikan secara umum. Majid (2014: 1) menjelaskan kurikulum merupakan program yang disediakan oleh lembaga pendidikan khususnya sekolah untuk peserta didik. Yani (2014: 5) juga menjelaskan bahwa kurikulum merupakan perancangan kegiatan interaksi yang dilakukan oleh peserta didik selama kegiatan pembelajaran dengan lingkungan belajar, sumber belajar, dan dengan lingkungan sosialnya.
Kurikulum pada dasarnya merupakan program yang sudah disediakan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Edward A. Kurg (dalam Kurniasih dan Berlin, 2014: 5) menjelaskan bahwa dengan adanya kurikulum, maka suatu tujuan yang dibuat sekolah dapat tercapai melalui berbagai cara yang sudah disusun di dalamnya. Berdasarkan ketiga pengertian kurikulum di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah suatu program yang memuat rancangan-rancangan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.
Kurikulum yang digunakan di Indonesia saat ini adalah Kurikulum 2013. Dalam perkembangan sejarah kurikulum di Indonesia mengalami beberapa pergantian kurikulum (Kurniasih dan Berlin, 2014: 6). Kurikulum yang pernah digunakan di Indonesia sebelum Kurikulum 2013 beberapa di antaranya adalah KBK atau Kurikulum 2004 dan Kurikulum 2006 atau KTSP. Adanya suatu perubahan kurikulum dari
12
Kurikulum 2006 ke Kurikulum 2013 diharapkan mampu memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia (Idi, 2016: 25).
Adanya pergantian Kurikulum 2006 menjadi Kurikulum 2013 memiliki tujuan untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan efektif serta mampu berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, hingga pada peradaban dunia (Kunandar, 2014: 16). Pergantian kurikulum ini juga didasarkan karena masih ada kelemahan-kelemahan pada kurikulum sebelumnya (Mulyasa, 2013: 60). Untuk mencapai tujuan tersebut, Kurikulum 2013 mengimplementasikan kegiatan yang menekankan kegiatan 5 M (mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan) sehingga dapat meningkatkan kreativitas siswa (Mulyasa, dkk, 2016: 19). Selain itu, untuk mencapai tujuan tersebut Kurikulum 2013 perlu melakukan penguatan pada tiga aspek yang harus dimiliki oleh peserta didik yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang merupakan tindak lanjut dari Kurikulum 2004 untuk mengembangkan ketiga ranah tersebut dalam proses pembelajaran secara terintegrasi (Mulyasa, 2013: 65 & 68).
Berdasarkan pembahasan kurikulum dan kurikulum 2013, dapat disimpulkan bahwa Kurikulum 2013 adalah kurikulum hasil dari penyempurnaan kurikulum sebelumnya dengan menerapkan tiga ranah belajar dalam kegiatan pembelajaran yaitu keterampilan, sikap, dan pengetahuan. Kurikulum 2013 memiliki karakteristik sendiri. Berikut karakteristik Kurikulum SD 2013.
a. Menggunakan pembelajaran tematik terpadu
Pembelajaran terpadu merupakan pembelajaran yang mengaitkan beberapa disiplin ilmu atau mata pelajaran dalam suatu fokus tertentu dalam penyampaian materi (Kurniawan, 2014: 59). Sedangkan pembelajaran tematik merupakan salah satu model pembelajaran terpadu yang bertolak dari suatu tema dengan memperhatikan keterkaitannya dengan materi yang disampaikan
13
sehingga memungkinkan siswa untuk dapat menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik, bermakna, dan otentik (Rusman, 2014: 254). Fogarty (2009: 65) menjelaskan bahwa pembelajaran terpadu dengan model tematik atau tematik terpadu merupakan pembelajaran yang membahas suatu tema yang dipelajari dari beberapa disiplin ilmu.
Pemetaan tema dalam pembelajaran tematik sangat diperlukan karena merupakan salah satu langkah yang perlu dilakukan sebelum guru membuat perangkat pembelajaran seperti silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) (Kadir dan Hanun, 2014: 63). Tema dapat diambil dari konsep atau pokok bahasan yang terdapat di lingkungan sekitar siswa, oleh sebab itu tema dapat dikembangkan berdasarkan minat dan kebutuhan siswa yang bergerak dari lingkungan terdekat siswa kemudian beranjak ke lingkungan yang terjauh dari siswa (Alwasilah, dkk dalam Majid, 2014: 100). Tema dapat ditetapkan atas kesepakatan guru dengan siswa atau guru dengan guru kemudian tema yang sudah disepakati, dikembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan kaitannya dengan beberapa disiplin ilmu (Daryanto, 2014: 15).
Menanggapi pernyataan yang disampaikan oleh Daryanto, sebagai contoh Majid (2014: 103) menyebutkan daftar Tema untuk pembelajaran di Kelas I yaitu: 1) Diriku, 2) Kegemaranku, 3) Kegiatanku, 4) Keluargaku, 5) Pengalamanku, 6) Lingkungan Bersih, Sehat, dan Asri, 7) Benda, Hewan, dan Tanaman di Sekitarku, 8) Peristiwa Alam yang pada setiap temanya dipelajari dalam jangka waktu 4 minggu. Seperti yang dijelaskan oleh Daryanto setelah tema disepakati, maka hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengembangkan menjadi subtema. Dalam beberapa Tema proses pembelajaran di Kelas I yang sudah disebutkan oleh Majid, Kemendikbud 2017 mengatakan bahwa salah satu subtema yang terdapat di dalam Tema 1 Diriku terdapat
14
Subtema 4 Aku Istimewa. Pada Subtema 4 Aku Istimewa siswa diajarkan untuk lebih mengenal dirinya sendiri sehingga dapat menghargai dan menyayangi diri sendiri dan orang lain serta menumbuhkan sikap untuk bersyukur atas kemampuan yang dimilikinya dan dapat mengembangkan kemampuan tersebut.
Berdasarkan penjelasan tersebut, pembelajaran tematik terpadu merupakan proses pembelajaran yang dilakukan dengan mengaitkan beberapa disiplin ilmu atau mata pelajaran sesuai dengan materi yang akan dibahas dan dikaji ke dalam suatu tema tertentu.
b. Menggunakan pendekatan scientific
Pembelajaran dengan pendekatan scientific adalah proses pembelajaran yang dirancang agar siswa aktif dalam membangun dan menemukan konsep, hukum atau prinsip dengan menggunakan keterampilan proses 5M (Daryanto, 2014: 51). Keterampilan proses 5M tersebut di antaranya: 1) mengamati, 2) menanya, 3) mengumpulkan informasi/ mencoba, 4) mengasosiasi/ menalar, dan 5) mengomunikasikan (Yani dan Mamat, 2018: 99). Kelima langkah tersebut menuntun siswa untuk mempelajari suatu materi berdasarkan pengalaman langsung yang berupa observasi, eksperimen, atau cara lainnya sehingga siswa lebih memahami materi yang dipelajari (Kosasih, 2014: 72). Senada dengan pernyataan tersebut Hosnan (2014: 34) menjelaskan bahwa dengan pendekatan scientific siswa diharapkan mampu mengenal dan memahami berbagai materi melalui berbagai sumber belajar dan tidak bergantung pada informasi yang diberikan oleh guru.
Berdasarkan penjelasan tersebut, pendekatan scientific dalam Kurikulum 2013 merupakan proses pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan (5M) untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung sehingga siswa dapat memahami materi yang dipelajari melalui berbagai sumber belajar.
15
c. Mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi
Yani (2014: 74) menjelaskan bahwa Kurikulum 2013 mengembangkan keterampilan menalar, mengomunikasikan, dan mencipta dan akan dianggap berhasil apabila lulusannya memiliki kemampuan-kemampuan tersebut. Dalam penyusunan indikator pembelajaran di dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) harus menggunakan kata kerja operasional sebagai penanda pencapaian Kompetensi Dasar (KD) yang memperhatikan tingkatan kognitif siswa (Prastowo, 2014: 165). Kata kerja operasional terdapat dalam Taksonomi Bloom (revisi) dengan 6 tingkatan berpikir dari yang terendah (mengingat, memahami, dan menerapkan) sampai yang tertinggi (menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta) (Anderson dan Krathwohl, 2014: 6).
Berdasarkan pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa Kurikulum 2013 mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dengan memperhatikan tingkatan berpikir dari Taksonomi Bloom (revisi) yaitu mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta dalam perumusan indikator dan tujuan.
d. Mengembangkan pendidikan karakter
Pendidikan karakter dalam lingkungan sekolah merupakan pembelajaran yang mengarah pada pengembangan dan penguatan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu (Kesuma, 2011: 5). Pendidikan karakter perlu dikembangkan sedini mungkin khususnya pada anak usia Sekolah Dasar yang memasuki tahap pendidikan karakter yaitu tanggung jawab diri agar anak dapat memenuhi kebutuhan dan kewajiban yang harus dilakukannya (Hidayatullah, 2010: 33). Yani (2014: 65 & 69) menjelaskan bahwa adanya Kurikulum 2013 memberikan mindset besarnya pendidikan karakter yang termuat di dalam Kompetensi Inti (KI) terutama dalam KI 1 tentang sikap spiritual dan KI 2 tentang sikap sosial yang
16
disampaikan secara terintegrasi dengan KI 3 dan KI 4 yang memuat aspek pengetahuan dan keterampilan. Selaras dengan pendapat Yani, Akbar (2013: 127) mengungkapkan bahwa pendidikan karakter dapat dilakukan melalui berbagai mata pelajaran oleh karena itu guru dituntut untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berorientasi pada pendidikan karakter dan mengimplementasikannya dalam pembelajaran sehari-hari.
Berdasarkan uraian di atas, pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 dapat diartikan sebagai pendidikan yang menanamkan nilai-nilai dalam diri siswa yang dalam pencapaiannya dilakukan secara terintegrasi dengan aspek kognitif dan keterampilan dalam pembelajaran sehari-hari.
e. Penilaian otentik
Penilaian otentik memiliki hubungan yang kuat dengan pendekatan scientific (scientific aproach) dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013 karena dengan menggunakan penilaian ini dapat menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa baik dalam mencoba, menalar, dan lain-lain (Daryanto, 2014: 112). Permendikbud No. 23 Tahun 2016 menjelaskan bahwa “penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik”. Rusman (2017: 36) berpendapat bahwa penilaian otentik tidak hanya mengukur apa yang diketahui oleh siswa melainkan juga mengukur apa yang dapat mereka lakukan. Senada dengan pernyataan tersebut Kunandar (2014: 35 – 36) juga menjelaskan bahwa penilaian otentik adalah kegiatan menilai siswa baik dari proses maupun hasil dari kegiatan pembelajaran menggunakan instrumen penilaian yang sudah disesuaikan dengan tuntunan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) dalam Kurikulum 2013. Oleh karena itu, penilaian otentik berusaha untuk menilai kemampuan siswa secara menyeluruh
17
yang mencakup penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan (Kosasih, 2014: 131).
Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penilaian otentik adalah penilaian yang dilakukan dengan menilai proses maupun hasil dari kegiatan pembelajaran yang mencakup penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai dalam pembelajaran.
f. Pembelajaran berpusat pada siswa
Pembelajaran yang berpusat pada siswa merupakan proses pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai subjek utamanya (Akbar, dkk, 2016: 19). Sedangkan peran guru dalam proses pembelajaran adalah sebagai fasilitator dengan memberikan sesuatu yang dapat mempermudah dan memperlancar siswa dalam kegiatan belajar (Daryanto, 2014: 5). Pada proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, guru harus mempertimbangkan beberapa karakteristik peserta didik yaitu karakteristik umum, kemampuan awal atau prasyarat, dan gaya belajar (Mudlofir dan Evi, 2016:34 – 35).
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang berpusat pada siswa merupakan proses pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dan guru lebih bersifat sebagai pemberi fasilitas belajar pada siswa dengan
memperhatikan karakteristik yang dimiliki siswa. g. Berbasis kompetensi
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang berbasis kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi merupakan hasil yang berdasarkan pada kurikulum oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang sudah dirumuskan dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) (Kunandar, 2014: 27). Permendikbud No. 20 Tahun 2016 menjelaskan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) adalah kriteria mengenai keahlian kemampuan lulusan peserta didik yang mencakup tiga
18
ranah yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Senada dengan pernyataan dari Permendikbud, Mulyasa, dkk (2013: 68) menyebutkan bahwa Kurikulum 2013 yang berbasis pada kompetensi merupakan konsep kurikulum yang memberikan penekanan untuk mengembangkan kemampuan dalam pengetahuan, pemahaman, nilai, sikap, dan minat peserta didik sehingga mereka dapat merasakan hasilnya yang berupa penguasaan terhadap kemampuan tertentu.
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kurikulum berbasis kompetensi merupakan kurikulum yang menekankan untuk pengembangan kompetensi-kompetensi yang harus dicapai siswa dalam menyelesaikan masa belajarnya pada jenjang pendidikan yang sedang ditempuh.
Berdasarkan penjelasan karakteristik Kurikulum 2013 di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik Kurikulum 2013 yaitu: 1) pembelajaran tematik terpadu, 2) pendekatan scientific, 3) mengembangkan HOTS, 4) menerapkan pendidikan karakter, 5) menggunakan penilaian otentik, 6) berpusat pada siswa, dan 7) berbasis kompetensi.
2. Keterampilan Belajar Dasar Abad 21
Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu bersaing di era global terutama pendidikan memiliki peran yang sangat penting untuk menyiapkan membangun SDM yang bermutu tinggi (Trianto, 2009: 4). Dalam pendidikan abad ke-21 guru dan siswa sama-sama memiliki peran yang penting dalam kegiatan pembelajaran di mana guru berperan sebagai mediator dan fasilitator untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam diri siswa (Rusman, 2017: 135). Lahirnya Kurikulum 2013 diharapkan mampu menjawab tantangan dan menangani pergeseran pembelajaran pada abad
19
ke-21 yaitu: 1) pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber bukan diberitahu (informasi tersedia di mana saja dan kapan saja), 2) pembelajaran diarahkan untuk dapat merumuskan masalah (menanya) bukan menyelesaikan masalah (menjawab), 3) pembelajaran diarahkan untuk melatih berpikir analitis (pengambilan keputusan) bukan mekanitis (rutin), 4) pembelajaran menekankan pentingnya kerja sama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah (komunikasi dari mana saja dan kapan saja) (Kunandar, 2014: 21).
Gambaran ideal manusia Indonesia yang diciptakan oleh Kurikulum 2013 yaitu: 1) memiliki kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical-thinking and problem-solving skills), 2) memiliki kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama (communication
and collaboration skills), 3) memiliki kemampuan menciptakan dan
membaharui (creativity and innovation skills), 4) memiliki literasi teknologi informasi dan komunikasi (information and communications
technology literacy), 5) memiliki kemampuan belajar kontekstual
(contextual learning skills) dan 6) memiliki kemampuan informasi dan
literasi media (information and media literacy skills) (Yani, 2014: 74). Senada dengan Yani, Hosnan (2014: 87) menjelaskan bahwa tuntutan pada abad ke-21 menuntut anak untuk memiliki kecakapan 4C yaitu: 1)
communication skill (kecakapan berkomunikasi), 2) collaboration skill
(kolaborasi), 3) critical thinking and problem solving skill (kecakapan berpikir kritis dan pemecahan masalah), dan 4) creativity and inovation
skill (kecakapan kreativitas).
Berdasarkan uraian keterampilan dasar di abad 21 di atas dapat diartikan bahwa keterampilan abad 21 meliputi 4C (communication, collaboration, critical thinking and problem solving, creativity and
innovation) yang perlu dikuasai anak untuk menghadapi kemajuan zaman
sehingga anak perlu memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi agar mampu menghadapi berbagai tantangan global yang akan dihadapinya.
20 3. Perangkat Pembelajaran
KBBI (2008: 1052 & 23) menjelaskan bahwa perangkat memiliki pengertian alat atau perlengkapan sedangkan pembelajaran merupakan proses atau cara menjadikan orang belajar. Sehingga apabila digabungkan perangkat pembelajaran yaitu alat atau perlengkapan untuk proses atau cara menjadikan orang belajar. Pada pelaksanaan pembelajaran perangkat pembelajaran sangat dibutuhkan di sekolah agar pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan kompetensi yang diharapkan (Akbar, dkk, 2016: 24). Oleh karena itu, guru perlu membuat perangkat pembelajaran yang lengkap, sistematis, dan mudah diaplikasikan sebelum melakukan kegiatan pembelajaran agar perangkat pembelajaran yang dibuat dapat menjadi panduan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran (Abidin, 2014: 287).
Kunandar (2014: 3) menyebutkan program yang harus disusun oleh guru di antaranya: 1) program tahunan, 2) program semester, 3) silabus, dan 4) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Berdasarkan Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses, perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk Silabus dan RPP yang mengacu pada Standar Isi (Abidin, 2014: 289).
Pada penelitian ini, peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran dengan membuat program tahunan, program semester, silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dalam satu subtema di kelas I. Peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran sesuai dengan Permendikbud No. 22 Tahun 2016. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat peneliti disesuaikan dengan perkembangan abad ke-21 dimana siswa dituntut untuk memiliki 4 keterampilan dasar dan memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi. Sehingga dalam penyusunan RPP peneliti menggunakan tingkatan taksonomi bloom yang sudah direvisi dan menggunakan 4 keterampilan dasar abad ke-21
21
(communication, collaboration, critical thinking and problem solving,
creativity and innovation).
Peneliti mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada Tema 1 Diriku khususnya pada Subtema 4 Aku Istimewa Kelas I. Peneliti membuat 6 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan 2 model pembelajaran inovatif yaitu Generatif dan
Problem Based Learning (PBL).
a. Program Tahunan dan Semester
Kemendikbud (2016 : 34 – 36) menjelaskan bahwa program tahunan adalah rencana umum pelaksanaan pembelajaran dari seluruh muatan pelajaran yang berisi penetapan alokasi waktu dalam satu tahun pembelajaran. Sedangkan program semester adalah penjabaran dari program tahunan sehingga program semester belum bisa disusun apabila program tahunan belum disusun. Senada dengan Kemendikbud, Kunandar (2014: 3) menjelaskan bahwa program tahunan adalah program umum yang berisikan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran seperti jumlah minggu efektif dan tidak efektif dalam satu tahun dari setiap kelas yang dikembangkan oleh guru sebagai pedoman pengembangan program-program selanjutnya seperti program-program semester, program-program mingguan, program harian, atau program pembelajaran setiap pokok bahasan. Sedangkan program semester adalah program yang berisikan garis besar kegiatan yang akan dilakukan dalam satu semester (6 bulan).
Kemendikbud (2016: 36 – 38) menyebutkan komponen-komponen dalam penyusunan program tahunan dan program semester. Komponen dalam penyusunan program tahunan yaitu, 1) identitas (meliputi muatan pelajaran, kelas, dan tahun pelajaran) dan 2) format isian (meliputi tema, subtema, dan alokasi waktu). Sedangkan komponen dalam penyusunan program semester yaitu, 1) identitas (meliputi satuan pendidikan, muatan pelajaran, kelas/ semester, dan tahun pelajaran) dan 2) format isian (meliputi tema,
22
subtema, pembelajaran ke, alokasi waktu, bulan yang dirinci per minggu, dan keterangan yang diisi waktu pelaksanaan berlangsung).
Berdasarkan uraian di atas dapat diartikan bahwa program tahunan dan semester merupakan serangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan selama satu semester dan satu tahun agar dapat tercapai segala tujuan yang diharapkan dan mempermudah guru dalam