• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN PENGEMBANGAN DAN PEMBAHASAN 59

B. Pembahasan

Pengembangan produk perangkat pembelajaran inovatif yang dikembangkan oleh peneliti menggunakan prosedur pengembangan Borg and Gall. Pengembangan produk dalam bidang pendidikan dapat mencakup metode dan model pembelajaran, rekayasa kurikulum, peralatan pembelajaran, dan pengembangan alat atau instrumen pembelajaran (Putra, 2015: 28). Sesuai dengan pendapat Sugiyono (2015: 38) pengembangan produk yang sudah dirancang, kemudian dilakukan validasi dan uji coba produk setelah itu dilakukan revisi produk sampai dihasilkan produk yang sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan.

97

Hasil validasi terhadap pelaksanaan uji coba terbatas dan pekerjaan siswa dari soal evaluasi berpedoman pada beberapa aspek yang dinilai dari 7 komponen yaitu (1) Program Tahunan (Prota), (2) Program Semester (Prosem), (3) silabus, (4) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), (5) media, (6) Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dan (7) bahasa. Aspek-aspek yang terdapat pada komponen Prota, Prosem dan silabus yaitu, (1) kelengkapan identitas, (2) kelengkapan tema, subtema, dan alokasi waktu, (3) kesesuaian jumlah jam efektif dan jumlah alokasi waktu, (4) Kesesuaian pembagian waktu setiap tema dan subtema, (5) kelengkapan tema, subtema, pembelajaran, bulan, dan alokasi waktu, (6) kesesuaian materi pokok dan alokasi waktu yang digunakan sesuai, (7) memuat identitas sekolah, Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), dan tema/subtema, (8) memuat materi pokok, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar, dan (9) keterkaitan antar komponen dalam silabus sesuai. Sedangkan aspek-aspek yang terdapat pada komponen RPP, media, LKPD, dan Bahasa yaitu (1) kejelasan dan kelengkapan identitas RPP, (2) kesesuaian rumusan indikator, (3) kesesuaian tujuan pembelajaran, (4) materi sesuai sistematis, dan lengkap, (5) rumusan tujuan, (6) kesesuaian strategi pembelajaran, (7) kesesuaian pemilihan media pembelajaran, (8) pemilihan sumber belajar, (9) evaluasi, (10) mengembangkan HOTS, (11) rancangan kegiatan sesuai dengan model pembelajaran yang digunakan, (12) rancangan kegiatan sesuai karakteristik model pembelajaran, (13) kegiatan sesuai dengan sintaks kegiatan pembelajaran, (14) mengembangkan 5M, (15) mengembangkan 4C, (16) kelengkapan instrumen evaluasi, (17) kesesuaian media yang digunakan, (18) media mudah digunakan, (19) media yang digunakan menarik, (20) kesesuaian LKPD, (21) kelayakan isi, (22) kelayakan bahasa, (23) kelayakan kegiatan, (24) kelayakan tampilan, (25) kelayakan penyajian, (26) kesesuaian dengan PUEBI, (27) sesuai tingkat perkembangan siswa, (28) komunikatif, (29) jelas dan mudah dimengerti, dan (30) kejelasan petunjuk/arahan.

98

Hasil validasi produk perangkat pembelajaran inovatif dengan menggunakan model pembelajaran inovatif Generatif dan Problem Based

Learning (PBL) diperoleh dari dua validator pembelajaran inovatif (Ibu N

dan Ibu E). Validasi dari validator A (Ibu N) pada model Generatif diperoleh skor rata-rata 4,7 dengan kategori “sangat baik” dan pada model Problem

Based Learning (PBL) diperoleh skor rata-rata 4,75 dengan kategori “sangat

baik”. Validasi dari validator B (Ibu E) pada model Generatif diperoleh skor rata-rata 3,92 dengan kategori “baik” dan pada model Problem Based

Learning (PBL) diperoleh skor rata-rata 3,92 dengan kategori “baik”.

Hasil uji coba produk diperoleh dari dua observer yaitu guru Kelas I dan satu calon guru yang menilai kegiatan pembelajaran menggunakan dua model pembelajaran inovatif Generatif dan Problem Based Learning (PBL). Pada uji coba produk menggunakan model Generatif Guru kelas 1 (Ibu E) memberi skor 3,98 dengan kategori “baik” dan pada uji coba produk menggunakan model Problem Based Learning (PBL) diperoleh skor 3,86 dengan kategori “baik”. Sedangkan calon guru (B) pada uji coba produk menggunakan model Generatif memberi skor 4,5 dengan kategori “sangat

baik” dan pada uji coba produk menggunakan model Problem Based

Learning (PBL) diperoleh skor 4,83 dengan kategori “sangat baik”.

Berdasarkan hasil validasi dan uji coba produk pengembangan perangkat pembelajaran inovatif menggunakan model Generatif dan Problem Based

Learning (PBL) diperoleh skor rata-rata 4,3 dengan kategori “sangat baik”.

Pada hasil uji coba produk diperoleh juga skor rata-rata dari seluruh siswa. Skor yang diperoleh dari tiap muatan pelajaran tiap KD dengan menggunakan model pembelajaran inovatif Generatif yaitu, (1) PPKn KD 3.3: 87, (2) Bahasa Indonesia KD 3.3: 95, dan (3) SBdP KD 3.4: 96. Sedangkan skor yang diperoleh dari tiap muatan pelajaran tiap KD dengan menggunakan model pembelajaran inovatif Problem Based Learning (PBL) yaitu (1) Bahasa Indonesia KD 3.3: 96 dan (2) PJOK KD 3.4: 89. Melalui rata-rata skor dari seluruh siswa tersebut, mencapai Kriteria Ketuntasan

99

Minimal (KKM) dari setiap muatan pelajaran yaitu, (1) PPKn: 75, (2)Bahasa Indonesia: 70, (3) SBdP: 75, dan (4) PJOK: 75.

Sebelum uji coba produk diperoleh skor rata-rata pada tiap muatan pelajaran dan tiap KD sesuai dengan muatan pelajaran yang digunakan uji coba produk yaitu, (1) PPKn KD 3.3: 84, (2) Bahasa Indonesia KD 3.3: 84, (3) SBdP KD 3.4: 79, dan (4) PJOK KD 3.4: tidak ada. Berdasarkan skor yang diperoleh sebelum dan sesudah uji coba produk dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa mencapai KKM SD dan hasil belajar siswa meningkat dengan menggunakan perangkat pembelajaran inovatif.

Selain dari segi aspek kognitif, peneliti juga melihat dari segi afektif yaitu siswa mampu menunjukkan sikap percaya diri yang tinggi hal tersebut ditunjukkan ketika guru menanyakan siapa siswa yang bersedia untuk membacakan hasil pekerjaan (LKPD) mereka di depan kelas banyak siswa yang tunjuk jari bersedia membacakan di depan kelas. Siswa-siswi yang mempresentasikan hasil pekerjaan mereka, mereka dapat menyampaikannya di depan kelas dengan percaya diri hal ini ditunjukkan dengan suara yang lantang dan tatapan mereka yang berani menatap ke depan. Selain itu, dari segi psikomotor siswa sudah mampu menunjukkan kemampuan dalam bercerita dan kemampuan dalam membuat suatu keterampilan sesuai kreativitas mereka. Hal tersebut selaras dengan pendapat Uno dan Nurdin (2011: 106) yang menyebutkan karakteristik dari pembelajaran inovatif salah satunya yaitu siswa terlibat secara aktif (siswa aktif bertanya, mengemukakan pendapat, dan lain-lain dalam pembelajaran).

Perangkat pembelajaran dinyatakan “sangat baik” karena memenuhi semua aspek pada setiap komponen perangkat pembelajaran yaitu (1) Program Tahunan (Prota), (2) Program Semester (Prosem), (3) silabus, (4) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), (5) media, (6) Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dan (7) bahasa. Hal ini selaras dengan pendapat Kunandar (2014:3) yang menyatakan bahwa suatu perangkat pembelajaran yang baik harus mencakup mencakup Program Tahunan (Prota), Program Semester (Prosem), silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

100

Hasil ujicoba produk perangkat pembelajaran inovatif dengan menggunakan dua model pembelajaran inovatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini selaras dengan pendapat Sugiyono (2017: 414-415) yang memaparkan produk yang dikembangkan di dunia pendidikan dapat di diujicobakan dengan membandingkan efektivitas keadaan sebelum dan sesudah menggunakan metode mengajar yang baru dengan indikator: pemahaman siswa lebih tinggi, siswa bertambah kreatif, dan hasil belajar meningkat. Semiawan (2007: 186) juga menjelaskan bahwa penelitian dan pengembangan produk di dalam dunia pendidikan diarahkan untuk membawa perbaikan kualitas bagi peserta didik.

Penelitian pengembangan produk yang berjudul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif Berbasis Kontekstual pada Mata Pelajaran

IPA Kelas V Sekolah Dasar” memiliki persamaan langkah-langkah

pengembangan yang digunakan oleh peneliti dalam mengembangkan produk ini. Akan tetapi terdapat perbedaan dari penelitian sebelumnya dengan penelitian ini yaitu penelitian ini menggunakan dua model pembelajaran inovatif pada 6 RPP dan tidak hanya berfokus pada satu muatan pelajaran saja melainkan semua muatan pelajaran yang terdapat di dalam Subtema 4 Aku Istimewa untuk siswa kelas I SD. Pelaksanaan uji coba produk juga menunjukkan bahwa produk yang dibuat oleh peneliti dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran sesuai dengan karakteristik pembelajaran inovatif dan Kurikulum 2013. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki beberapa persamaan dengan penelitian sebelumnya, tetapi penelitian ini juga memiliki perbedaan yaitu pada penggunaan model pembelajaran inovatif dan muatan pelajaran yang digunakan pada penelitian.

Produk yang dikembangkan sesuai dengan spesifikasi produk yang sudah dijelaskan di bab I. Spesifikasi produk pengembangan perangkat pembelajaran inovatif yang menggunakan 2 (dua) model pembelajaran inovatif ini mencakup 17 komponen. Berikut akan dipaparkan 17 komponen tersebut.

101

Pertama, Cover depan produk terdiri dari judul pengembangan perangkat pembelajaran inovatif yaitu Perangkat Pembelajaran Inovatif pada Subtema 4 Aku Istimewa Mengacu Kurikulum 2013 untuk Siswa Kelas I Sekolah Dasar; gambar yang mencerminkan pembelajaran inovatif; nama penulis; logo Universitas Sanata Dharma, keterangan yang berisi Program Studi yaitu Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan yaitu Ilmu Pendidikan, Fakultas yaitu Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas yaitu Sanata Dharma Yogyakarta. Cover belakang berisi sinopsis dan biodata singkat peneliti. Kedua, ukuran kertas produk dicetak dalam ukuran kertas A4 dengan berat 70 gram sedangkan sampul dicetak dengan kertas ivory 230 supaya terlihat kokoh. Ketiga, format penulisan produk ditulis menggunakan theme

fontTimes New Rowman” dengan spasi 1,5 supaya setiap bagian dalam

perangkat pembelajaran terlihat jelas.

Keempat, Kata Pengantar berisi tentang ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah membantu dalam pembuatan produk yang dikembangakan; orang-orang yang sudah membantu dalam penyusunan pengembangan produk; kesediaan peneliti dalam menerima kritik dan saran dari pembaca terkait produk yang dikembangkan. Kata pengantar yang dibuat tertera pada halaman. Kelima, Daftar Isi terdiri dari garis besar isi yang terdapat di dalam buku beserta nomor halaman. Daftar isi tertera pada halaman.

Keenam, perangkat pembelajaran program tahunan untuk kelas I SD semester gasal dan genap. Program Tahunan adalah rencana umum pelaksanaan pembelajaran muatan pelajaran berisi antara lain rencana penetapan alokasi waktu satu tahun pembelajaran. Program tahunan dibuat sesuai dengan kalender pendidikan sekolah yang digunakan untuk penelitian dari tahun 2018/2019. Komponen-komponen dalam menyusun Program Tahunan: Identitas (antara lain satuan pendidikan, kelas, semester) dan format isian (antara lain tema, subtema, dan alokasi waktu). Program tahunan terdapat 2 sampai 3 halaman berbentuk potrait.

102

Ketujuh, perangkat pembelajaran program semester untuk kelas I SD semester gasal. Program Semester merupakan penjabaran dari program tahunan sehingga program tersebut tidak bisa disusun sebelum tersusun program tahunan. Program semester dilihat melalui kalender pendidikan sekolah yang digunakan untuk penelitian dari semester gasal tahun 2018/2019. Program Semester berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Program semester berbentuk landscape.

Kedelapan, perangkat pembelajaran silabus untuk kelas I SD semester gasal tahun 2018/2019. Silabus merupakan salah satu produk pengembangan kurikulum berisikan garis-garis besar materi pelajaran, kegiatan pembelajaran dan rancangan penilaian. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu ataukelompok mata pelajaran/ tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar.

Kesembilan, komponen perangkat pembelajaran RPP. Perangkat pembelajaran RPP disusun lengkap yang terdiri dari: (1) identitas RPP, (2) kompetensi inti; (3) kompetensi dasar, indikator, dan tujuan pebelajaran; (4) pendekatan, tipe, model dan metode, (5) alat dan bahan serta sumber belajar; (6) langkah pembelajaran, (7) penilaian, (8) rangkuman materi (9) lampiran yang berisi media, LKPD, rubrik penskoran setiap aspek (sikap, pengetahuan, dan keterampilan), soal evaluasi dan kunci jawaban, soal pengayaan, rubrik remedial, dan deskripsi model pembelajaran. Dalam satu subtema terdapat enam pembelajaran, sehingga menghasilkan 6 (enam) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

Kesepuluh, model pembelajaran yang digunakan. RPP menggunakan dua model pembelajaran inovatif yaitu (1) Generatif yang menekankan pada proses pembelajaran yang menekankan pada proses pembelajaran agar siswa mampu membangun pengetahuan yang ada di pikirannya dan (2) Problem

103

Masalah (PBM) yang menekankan pembelajaran berdasarkan pada masalah mengenai materi yang akan dipelajari.

Kesebelas, terdapat pendekatan scientific. Pendekatan scientific merupakan proses pembelajaran yang dirancang supaya peserta didik mengkonstruk konsep, hukum, atau prinsip melalui tahap mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum, atau prinsip yang ditemukan.

Kedua belas, mengembangkan keterampilan 4C (critical thinking,

creative thinking, collaborative, communicative). Ketigabelas, menggunakan

pembelajaran terpadu. Pembelajaran terpadu mempunyai karakteristik berpusat pada siswa, memberikan pengalaman langsung, pemisah mata pelajaran yang tidak begitu jelas, menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, bersifat fleksibel (guru dapat mengaitkan mata pelajaran yang satu dengan yang lain), dan menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.

Keempat belas, mengembangkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter diintegrasikan dalam seluruh mata pelajaran pada setiap bidang studi yang terdapat dalam kurikulum. Pendidikan karakter yang dikembangkan memuat aspek spiritual dan aspek sosial. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap bidang studi perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dihubungkan dengan kontekas kehidupan sehari-hari.

Kelima belas, menerapkan High Order Thinking Skill (HOTS). High

Order Thinking Skill (HOTS) meliputi tingkat taksonomi bloom pada C4

sampai C6 dalam perumusan indikator dan tujuan. C4 merupakan kegiatan menganalisis yang menggunakan kata kerja operasional memilih, membandingkan, menguraikan, mengaitkan, dan lain-lain. Sedangkan C5 yaitu kegiatan mengevaluasi yang menggunakan kata kerja operasional mengkritik, memeriksa, menilai, membuktikan, dan lain-lain. Dan C6 yaitu kegiatan mencipta yang menggunakan kata kerja operasional merumuskan,

104

merencanakan, memproduksi, membuat hipotesis, mendesain, menciptakan, dan lain-lain.

Keenam belas, menerapkan penilaian otentik. Penilaian otentik mengandung aspek sikap spiritual dan sosial, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan. Penilaian dilengkapi dengan instrumen penilaian yang memuat kunci jawaban dari soal tertulis, daftar cek atau pedoman observasi bagi penilaian dengan teknik observasi, dan cara penskoran.

Ketujuh belas, memperhatikan ketentuan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang meliputi tanda baca, huruf kapital, ejaan baku, kalimat baku, nama orang, nama tempat, dan kata penghubung.

Dengan demikian, produk yang dikembangkan oleh peneliti dapat dikatakan memiliki kualitas yang “sangat baik” dan layak digunakan sebagai perangkat pembelajaran inovatif dengan menggunakan dua model pembelajaran inovatif yaitu Generatif dan Problem Based Learning (PBL) dalam Subtema 4 Aku Istimewa untuk Kelas I Sekolah Dasar yang mengacu Kurikulum 2013.

105 BAB V

KESIMPULAN, KETERBATASAN PENGEMBANGAN, DAN SARAN

Dokumen terkait