BAB II LANDASAN TEORI
B. Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Winkel (dalam Siregar dan Hartini Nara, 2010:12) pembelajaran adalah seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian ekstrim yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-kejadian-kejadian-kejadian intern yang berlangsung dialami siswa, sedangkan menurut Sugihartono dkk (dalam Muhammad Irham dan Novan Ardy Wiyani, 2014:131) Pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan pendidik atau guru secara sengaja dengan tujuan menyampaikan ilmu pengetahuan, dengan cara mengorganisasikan dan menciptakan sebuah sistem lingkungan belajar dengan berbagai metode sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara lebih optimal. Lebih lanjut Gagne (dalam Siregar
dan Hartini Nara, 2010 : 12) mengemukakan suatu definisi pembelajaran yang lebih lengkap : “Intruction is intemded to promote learning, external situation need to be arranged to activate, support and maintain the internal processing that constitutes each learning event”. Pembelajaran dimaksudkan untuk menghasilkan belajar, situasi eksternal harus dirancang sedemikian rupa untuk mengaktifkan, mendukung dan mempertahankan proses internal yang terdapat dalam setiap peristiwa belajar. Dari definisi pembelajaran yang sudah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah tindakan sengaja yang dilakukan oleh guru secara terencana dan terarah dengan tujuan agar belajar terjadi pada diri individu atau siswa.
Keberhasilan suatu pembelajaran tidak lepas dari kemampuan guru mengembangkan model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran (Aunurrahman, 2012:140). Penggunaan model pembelajaran yang tepat dapat mendorong tumbuhnya rasa senang siswa terhadap pembelajaran, menumbuhkan motivasi dalam belajar dan mengerjakan tugas, memberikan kemudahan bagi siswa untuk memahami pembelajaran sehingga memungkinkan siswa mencapai hasil belajar yang lebih baik. Salah satu model pembelajaran yang sering digunakan adalah model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning).
Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama
antarsiswa untuk mencapai tujuan pembelajaran (Suyanto dan Asep Djihad, 2013:163). Roger, dkk. (dalam Miftahul Huda, 2012:29) menyatakan pembelajaran kooperatif merupakan aktivitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh satu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial diantara kelompok-kelompok pembelajar yang di dalamnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota lain. Secara umum pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara berkelompok dan lebih mengutamakan keaktifan serta kerjasama antarsiswa dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran.
Terdapat empat hal penting dalam pembelajaran kooperatif (Rusman, 2010:204), yakni: (1) adanya peserta didik dalam kelompok, (2) adanya aturan main (role) dalam kelompok, (3) adanya upaya belajar dalam kelompok, (4) adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok. Slavin (dalam Suyanto dan Asep Djihad, 2012:165-166) mengungkapkan struktur pengelompokan pembelajaran kooperatif adalah kelompok heterogen. Kelompok yang heterogen bisa dibentuk dengan memperhatikan aspek gender, latar belakang sosio-ekonomi, dan etnik serta kemampuan akademis siswa.
Menurut Roger dan David Johnson (dalam Rusman, 2010 : 212) ada lima prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif, yaitu sebagai berikut.
1. Prinsip ketergantungan positif, yaitu dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam menyelesaikan tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Keberhasilan tersebut ditentukan oleh kinerja kelompok sehingga semua anggota dalam kelompok akan merasa saling ketergantungan.
2. Tanggung jawab perseorangan, yaitu keberhasilan kelompok sangat bergantung dari masing-masing anggota kelompok, setiap anggota kelompok memiliki tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan di dalam kelompok tersebut.
3. Interaksi tatap muka, yaitu memberikan kesempatan yang luas bagi setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain.
4. Partisipasi dan komunikasi, yaitu melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.
5. Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
Terdapat enam langkah utama atau tahapan dalam pembelajaran kooperatif (Rusman, 2010 : 211), enam langkah atau tahapan tersebut dituangkan dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 2.1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
TAHAP TINGKAH LAKU GURU
Tahap 1
Menyampaikan Tujuan dan Memotivasi Siswa
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada kegiatan
pembelajaran dan menekankan pentingnya topik yang akan dipelajari dan memotivasi siswa belajar.
Tahap 2
Menyajikan Informasi
Guru menyajikan informasi atau materi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau melalui bahan bacaan.
Tahap 3
Mengorganisasikan Siswa ke dalam Kelompok-kelompok Belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membimbing setiap kelompok agar melakukan transisi secara efektif dan efisien.
Tahap 4
Membimbing Kelompok Bekerja dan Belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Tahap 5 Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Tahap 6
Memberikan Penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
Ada beberapa variasi tipe dalam pembelajaran kooperatif, tipe-tipe pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.
1. Tipe Student Teams Achievement Division (STAD)
Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin. Dalam tipe ini siswa dikelompokkan secara beragam berdasarkan kemampuan, gender, ras, dan etnis. Pertama-tama siswa mempelajari materi bersama dengan
teman-teman sekelompoknya, kemudian mereka diuji secara individu melalui kuis. Perolehan nilai kuis setiap anggota menentukan skor yang diperoleh oleh kelompok mereka. Jadi, setiap anggota harus berusaha memperoleh nilai maksimal dalam kuis jika kelompok mereka ingin mendapatkan skor yang tinggi. Tipe STAD dapat diterapkan di semua materi pembelajaran yang didalamnya terdapat unit tugas yang hanya memiliki satu jawaban benar.
2. Tipe Jigsaw
Tipe jigsaw dikembangkan oleh Aroson (1975). Tipe jigsaw dapat diterapkan untuk materi-materi yang berhubungan dengan keterampilan membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara, dapat juga diterapkan untuk beberapa mata pembelajaran seperti ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, matematika, agama, dan bahasa. Tipe ini cocok untuk semua tingkatan kelas. Dalam tipe ini, guru harus memahami kemampuan dan pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skema ini agar materi pembelajaran menjadi lebih bermakna. Tipe jigsaw memberikan banyak kesempatan pada siswa untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
3. Tipe Investigasi Kelompok (Group Investigasi)
Metode ini dikembangkan oleh Sharan (1976) ini lebih menekankan pada pilihan dan kontrol siswa daripada menerapkan teknik-teknik pengajaran di ruang kelas. Dalam tipe ini, siswa diberi kontrol dan
pilihan penuh untuk merencanakan apa yang ingin dipelajari dan diinvestigasi setelah siswa ditempatkan di kelompok-kelompok kecil yang diberi tugas atau proyek yang berbeda.
4. Tipe Make a Match (membuat Pasangan)
Tipe ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Tipe ini bisa diterapkan untuk semua mata pembelajaran dan tingkatan kelas. Salah satu keunggulan tipe ini adalah siswa mencari pasangan sambil mempelajari suatu konsep atau topik tertentu dalam suasana yang menyenangkan. Penerapan tipe ini dimulai dengan teknik, yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin.
5. Tipe TGT (Teams Games Tournament)
Dikembangkan oleh Slavin dan rekan-rekannya, penerapan TGT mirip dengan STAD dalam hal komposisi kelompok, format intruksional, dan lembar kerjanya. Bedanya jika STAD fokus pada komposisi kelompok berdasarkan kemampuan, ras, etnik, dan gender, maka TGT umumnya fokus hanya pada level kemampuan saja. Selain itu, jika dalam STAD, yang digunakan adalah kuis, maka dalam TGT istilah tersebut biasanya berganti menjadi game akademik.
6. Tipe Struktural
Spencer Kagan (1990) adalah yang pertama kali merancang struktur-struktur pembelajaran kooperatif. Ada 15 struktur-struktural pembelajaran
kooperatif (Miftahul Huda, 2012 : 154), yakni Roundrobin, dirancang khusus untuk mengembangkan teambuilding di antara siswa. Corners, di rancang untuk fokus pada classbuilding di ruang kelas.
Parapharase Passport, Spend a Buck, dan Group Processing dirancang untuk meningkatkan Skill komunikasi di antara siswa. Numbered Heads Together, Send a Problem, dan Cooperative Review
dirancang untuk menguasai materi pembelajaran. Three step interview, Brainstroming, dan Group Dicussion dapat diterapkan untuk mengembangkan kemampuan konseptual siswa. Sementara itu, Rountabel, Partners, Co-Op Co-Op, dan Group Investigation dapat digunakan untuk meningkatkan berbagai kebutuhan dan keterampilan siswa.
C. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Team