• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoritik

2. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran dengan serangkaian aktivitas yang menuntun siswa untuk memecahkan suatu permasalahan yang diberikan guru. Berikut ini akan dijelaskan mengenai konsep model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), hakikat

13

masalah dalam model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), tahapan dalam model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), dan keunggulan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).

a. KonsepModel Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Problem Based Learning (PBL) diartikan sebagai rangkaian aktivitas

pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Terdapat 3 ciri utama dari PBL, yaitu:14 1) PBL merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi PBL ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa, seperti siswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan; 2) Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. PBL menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran; 3) Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.

Menurut John Dewey seperti yang dikutip oleh Assriyanto, dkk., model pembelajaran PBL merupakan suatu cara penyajian bahan pelajaran dengan menghadapkan siswa pada persoalan yang harus dipecahkan atau diselesaikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.15 Oleh karena itu, penggunaan model pembelajaran ini diharapkan dapat membantu siswa untuk memahami konsep atau materi yang diajarkan serta mampu mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam memunculkan ide-ide untuk menjawab permasalahan yang diberikan.

14

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2011), Cet. VIII, h. 214-215.

15

Kiki Efi Assriyanto, J. S. Sukardjo, dan Sulistyo Saputro, “Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah Melalui Metode Eksperimen dan Inkuiri Terbimbing Ditinjau Dari Kreativitas Siswa Pada Materi Larutan Penyangga Di SMAN 2 Sukoharjo Tahun Ajaran 2013/2014”, Jurnal Pendidikan Kimia, Vol. 3, No. 3, 2013, h. 90.

PBL merupakan pembelajaran yang penyampaiannya dilakukan dengan cara menyajikan suatu permasalahan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, memfasilitasi penyelidikan, dan membuka dialog mengenai permasalahan kontekstual yang ditemukan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. 16 PBL juga didefinisikan sebagai suatu model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip menggunakan masalah sebagai titik awal akusisi dan integrasi pengetahuan baru dengan lebih memfokuskan pada masalah kehidupan nyata yang bermakna bagi siswa.17 “PBL menuntut aktivitas mental siswa dalam memahami suatu konsep, prinsip, dan keterampilan melalui situasi atau masalah yang disajikan di awal pembelajaran”.18 Sehingga situasi atau masalah tersebut dijadikan sebagai titik tolak pembelajaran untuk memahami konsep atau materi yang diajarkan oleh guru.

Berdasarkan definisi yang telah dijelaskan, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran PBL merupakan pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga siswa dengan pengetahuannya sendiri mampu mencari dan menemukan solusi untuk memecahkan permasalahan tersebut. Hal itu akan mendorong siswa untuk selalu berpikir kreatif dalam menghadapi setiap persoalan di dalam kehidupan.

b. Hakikat Masalah dalam Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Pada Problem Based Learning, masalah merupakan alat pembelajaran yang utama. Menurut Fogartty seperti yang dikutip oleh Sri Hastuti Noor bahwa pada pembelajaran berbasis masalah, siswa dihadapkan pada masalah-masalah

ill-structured, open-ended, ambigu, dan konstekstual. Sedangkan menurut Savoi dan

Hughes, masalah bersifat ill-structured yaitu masalah yang tidak menyediakan

16

Sani, op. cit., h. 127-128.

17

Agus N. Cahyo, Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar Teraktual dan Terpopuler, (Jogjakarta: Diva Press, 2013), h. 283.

18

informasi yang lengkap untuk mengembangkan solusi.19 Oleh karena itu, masalah yang diberikan harus dieksplorasi agar tercipta banyak solusi alternatif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Masalah dalam pembelajaran berbasis masalah adalah masalah yang bersifat terbuka. Artinya jawaban dari masalah tersebut belum pasti. Setiap siswa, bahkan guru, dapat mengembangkan kemungkinkan jawaban. Dengan demikian, pembelajaran berbasis masalah memberikan kesempatan pada siswa untuk mengeksplorasi dalam mengumpulkan dan menganalisis data secara lengkap untuk memecahkan masalah yang dihadapi.20 Sehingga siswa dapat menemukan alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data yang dilakukan. Hal tersebut akan melatih siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikirnya salah satunya adalah kemampuan berpikir kreatif.

Pembelajaran PBL membahas situasi kehidupan yang ada di sekitar dengan penyelesaian yang tidak sederhana. Guru berperan untuk memberikan berbagai masalah autentik atau memfasilitasi siswa untuk mengidentifikasi permasalahan autentik, memfasilitasi penyelidikan, dan mendukung pembelajaran yang dilakukan oleh siswa.21 Oleh karena itu, permasalahan yang akan guru berikan kepada siswa harus relevan dengan konsep atau materi ajar yang akan disampaikan. Sehingga melalui permasalahan yang guru berikan, siswa mampu memahami konsep atau materi ajar tersebut.

Kompleksitas permasalahan PBL dapat bervariasi dan akan menentukan lamanya proses belajar yang dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Permasalahan yang dibahas dapat berupa permasalahan dalam satu pelajaran saja atau merupakan permasalahan yang membutuhkan penguasaan atau kerjasama dari beberapa mata pelajaran. Variasi kompleksitas masalah dideskripsikan pada Gambar 2.1 sebagai berikut. 22

19

Sri Hastuti Noor, “Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis dan Pembelajaran Matematika Berbasis Masalah Open-Ended”, Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 5, No. 1, 2011, h. 105-106.

20

Sanjaya, op. cit., h. 216.

21

Sani, op. cit., h. 136.

22

Permasalahan yang lebih kompleks

Gambar 2.1 Variasi Kompleksitas Permasalahan yang Digunakan dalam PBL

Pada saat melakukan penyelesain masalah siswa akan membutuhkan waktu yang lebih lama ketika peremasalahan yang disajikan semakin kompleks. Selain itu, dengan semakin kompleksnya permasalahan yang disajikan maka keterampilan yang dibutuhkan menjadi lebih beragam untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

c.

Tahapan dalam Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Tahapan dalam model pembelajaran PBL berbeda-beda menurut ahlinya. Namun, pada dasarnya tahapan-tahapan tersebut menuntun siswa untuk menemukan masalah, menganalisis permasalahan dan mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh guru. Sehingga tahapan-tahapan yang dijelaskan oleh para ahli memiliki maksud yang sama, hanya saja kerincian dalam proses pemecahan permasalahannya yang berbeda.

Menurut Made Wena secara operasional kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran dapat dijabarkan pada Tabel 2.2 berikut ini:23

23

Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan Konseptual Operasional, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), h. 94.

Permasalahan dalam sebuah topik

Permasalahan yang mencakup beberapa topik

Permasalahan antardisiplin

Permasalahan multidisiplin

Tabel 2.2 Tahapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

No. Tahap

Pembelajaran Kegiatan Guru Kegiatan Siswa

1. Menemukan Masalah Memberikan permasalahan yang diangkat dari latar kehidupan sehari-hari siswa. Berikan masalah yang bersifat tidak terdefinisikan dengan jelas (ill-defined)

Berusaha menemukan permasalahan dengan cara melakukan kajian dan analisis secara cermat terhadap permasalahan yang diberikan.

Memberikan sedikit fakta diseputar konteks permasalahan.

Melakukan analisis terhadap fakta sebagai dasar dalam menemukan permasalahan. 2. Mendefinisikan

Masalah

Mendorong dan

membimbing siswa untuk menggunakan kecerdasan intrapersonal dan kemampuan awal (prior knowledge) untuk memahami masalah.

Dengan menggunakan kecerdasan intrapersonal dan kemampuan awal (prior knowledge) berusaha memahami masalah

Membimbing siswa secara bertahap untuk

mendefinisikan masalah.

Berusaha mendefinisikan permasalahan dengan menggunakan parameter yang jelas.

3. Mengumpulkan Fakta Membimbing siswa untuk melakukan pengumpulan fakta

Melakukan pengumpulan fakta dengan menggunakan

pengalaman-pengalaman yang sudah diperolehnya.

Membimbing siswa melakukan pencarian informasi dengan berbagai cara/metode.

Melakukan pencarian informasi dengan berbagai cara serta dengan menggunakan kecerdasan majemuk yang dimiliki. Membimbing siswa melakukan pengelolaan informasi. Melakukan pengelolaan/pengaturan informasi (information management) yang telah diperoleh, dengan berpatokan pada:

a. know, yaitu informasi apa yang diketahui.

b. need to know, yaitu informasi apa yang dibutuhkan.

c. need to do, apa yang akan dilakukan dengan informasi yang ada.

4. Menyusun Hipotesis (Dugaan Sementara)

Membimbing siswa untuk menyusun jawaban/hipotesis (dugaan sementara) terhadap permasalahan yang dihadapi.

Membuat hubungan-hubungan antaraberbagai fakta yang ada.

Membimbing siswa untuk menggunakan kecerdasan majemuk dalam menyusun hipotesis.

Menggunakan berbagai kecerdasan majemuk untuk menyusun hipotesis.

No. Pembelajaran Tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa menggunakan kecerdasan interpersonal dalam mengungkapkan pemikirannya. interpersonal untuk mengungkapkan pemikirannya.

Membimbing siswa untuk menyusun alternatif jawaban sementara.

Berusaha menyusun beberapa jawaban sementara.

5. Melakukan Penyelidikan

Membimbing siswa untuk melakukan penyelidikan terhadap informasi dan data yang telah diperolehnya.

Melakukan penyelidikan terhadap data dan informasi yang telah diperolehnya.

Dalam membimbing siswa melakukan penyelidikan, guru membuat struktur belajar yang memungkinkan siswa dapat menggunakan berbagai cara untuk mengetahui dan memahami dunianya.

Dalam melakukan penyelidikan siswa menggunakan kecerdasan majemuk yang dimilikinya untuk memahami dan memberi mana data dan informasi yang ada. 6. Menyempurnakan permasalahan yang telah diidentifikasikan Membimbing siswa melakukan penyempurnaan terhadap masalah yang telah didefinisikan

Melakukan penyempurnaan masalah yang telah dirumuskan.

7. Menyimpulkan alternatif pemecahan masalah secara kolaboratif

Membimbing siswa untuk menyimpulkan alternatif pemecahan masalah secara kolaboratif.

Membuat kesimpulan alternatif pemecahan masalah secara kolaboratif.

8. Melakukan pengujian hasil (solusi) pemecahan masalah

Membimbing siswa melakukan pengujian hasil (solusi) pemecahan masalah.

Melakukan pengujian hasil (solusi) pemecahan masalah.

Menurut Agus N. Cahyo, langkah-langkah dalam model pembelajaran PBL terdiri atas lima langkah utama, yaitu mengorientasikan siswa pada masalah, mengorganisasikan siswa untuk belajar, memandu menyelidiki secara mandiri atau kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil kerja, serta menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah. Gambaran rinci kelima langkah tersebut diaplikasikan dalam langkah-langkah praktis berikut: 1) Mengajukan masalah kepada siswa; 2) Siswa mendiskusikan masalah tersebut dalam tutorial PBL kelompok kecil dengan mengklarifikasi fakta dari kasus, menentukan apa masalahnya, kemudian mengembangkan ide-ide dengan brainstorming

berdasarkan pengetahuan sebelumnya, mengidentifikasi apa yang mereka perlu pelajari untuk bekerja pada masalah, memberikan alasan tentang masalah tersebut, dan menentukan rencana aksi untuk bekerja pada masalah; 3) Siswa terlibat dalam

penyelidikan tentang isu-isu yang mereka pelajari di luar tutorial. Hal ini dapat meliputi perpustakaan, database, narasumber, dan pengamatan; 4) Siswa kembali pada tutorial PBL, berbagi informasi, mengajar sebaya (peer teaching), dan bekerja bersama-sama menyikapi masalah; 5) Siswa menyajikan penyelesaian untuk masalah; 6) Siswa meninjau apa yang telah mereka pelajari dari masalah.24

Menurut Wina Sanjaya terdapat 6 langkah dalam proses pembelajaran PBL, yaitu: 1) Menyadari masalah, pada tahapan ini guru membimbing siswa pada kesadaran adanya permasalahan yang harus dipecahkan dan siswa diharapkan dapat menentukan atau menangkap permasalahan yang terjadi dari berbagai fenomena yang ada; 2) Merumuskan masalah, pada tahap ini siswa diharapkan dapat memanfaatkan pengetahuannya untuk mengkaji, memerinci, dan menganalisis masalah sehingga pada akhirnya muncul rumusan masalah yang jelas, spesifik, dan dapat dipecahkan; 3) Merumuskan hipotesis, pada tahap ini siswa dapat menentukan sebab akibat dari masalah yang ingin diselesaikan dengan memadukan kemampuan berpikir deduktif dan induktifnya; 4) Mengumpulkan data, pada tahap ini siswa diharapkan dapat mengumpulkan dan memilah data, kemudian memetakan dan menyajikanya dalam berbagai tampilan sehingga mudah dipahami; 5) Menguji hipotesis, pada tahap ini siswa diharapkan dapat menelaah data dan sekaligus membahasnya untuk melihat hubungannya dengan masalah yang dikaji serta dapat mengambil keputusan dan kesimpulan; 6) Menentukan pilihan penyelesaian, pada tahap akhir ini, siswa diharapkan dapat memilih alternatif penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi sehubungan dengan alternatif yang dipilihnya, termasuk memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihannya.25

Berdasarkan pendapat para ahli mengenai langkah-langkah dalam model pembelajaran PBL, maka peneliti memutuskan untuk menggunakan langkah-langkah yang dicetuskan oleh Made Wena yang terdiri atas 8 langkah-langkah. Hal ini dikarenakan langkah-langkah yang terdapat dalam model pembelajaran PBL yang

24

Cahyo, op. cit., h. 287-288.

25

dicetuskan oleh Made Wena sudah sangat rinci dan komponen berpikir kreatif yang meliputi fluency, flexibility, originality, elaboration, dan evaluation dapat termunculkan melalui 8 langkah dalam model pembelajaran PBL menurut Made Wena. Keterkaitan antara langkah-langkah model PBL dengan komponen berpikir kreatif dapat dilihat pada Tabel 2.3 berikut ini.

Tabel 2.3 Keterkaitan antara Tahapan Model PBL dengan Komponen Berpikir Kreatif

No. Tahap PBL Kegiatan Komponen Berpikir

Kreatif

1. Menemukan Masalah Siswa bersama dengan teman kelompoknya berusaha menemukan permasalahan dengan cara melakukan kajian dan analisis secara cermat terhadap permasalahan yang diberikan oleh guru

Fluency

(Berpikir Lancar)

2. Mendefinisikan Masalah

Siswa berusaha mendefinisikan permasalahan dengan menggunakan parameter yang jelas dengan bimbingan guru dan bertanya kepada guru jika mengalami kesulitan

Flexibility

(Berpikir Luwes)

3. Mengumpulkan Fakta

Siswa melakukan pengumpulan fakta, pencarian informasi dengan cara/ metode kajian pustaka dan pengelolaan informasi dengan menggunakan buku ataupun internet

Elaboration

(Berpikir Memerinci)

4. Menyusun Hipotesis Siswa menyusun hipotesis dengan membuat hubungan-hubungan antara berbagai fakta yang ada

Originality

(Berpikir Orisinil)

5. Melakukan Penyelidikan

Siswa melakukan penyelidikan terhadap data dan informasi yang telah

diperolehnya terkait permasalahan pencemaran lingkungan

Elaboration

(Berpikir Memerinci)

6. Menyempurnakan Permasalahan

Siswa melakukan penyempurnaan terhadap masalah pencemaran lingkungan dengan mengaitkan antara permasalahan dalam artikel dengan data/informasi yang diperoleh dari literatur Elaboration (Berpikir Memerinci) 7. Menyimpulkan alternatif pemecahan masalah secara kolaboratif

Siswa membuat kesimpulan alternatif pemecahan masalah pencemaran udara dan suara secara kolaboratif

Flexibility (Berpikir Luwes) 8. Melakukan pengujian hasil (solusi) pemecahan masalah

Siswa melakukan pengujian hasil (solusi) pemecahan masalah pencemaran lingkungan dengan mempresentasikan hasil diskusinya

Evaluation

Berdasarkan Tabel 2.3 terlihat bahwa kelima komponen berpikir kreatif telah termunculkan pada tahapan model pembelajaran PBL yang dicetuskan oleh Made Wena. Komponen fluency termunculkan satu kali pada tahapan menemukan masalah, komponen flexibility termunculkan dua kali pada tahapan mendefinisikan masalah dan menyimpulkan alternatif pemecahan masalah secara kolaboratif, komponen originality termunculkan satu kali pada tahapan menyusun hipotesis, komponen elaboration termunculkan tiga kali yaitu pada tahapan mengumpulkan fakta, melakukan penyelidikan, dan menyempurnakan masalah, komponen evaluation termunculkan satu kali pada tahapan melakukan pengujian hasil (solusi) pemecahan masalah.

d. Keunggulan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Model pembelajaran PBL memiliki beberapa keunggulan. Menurut Taufiq Amir, keunggulan model Pembelajaran PBL diantaranya: 1) Menjadi lebih ingat dan meningkat pemahamannya atas materi ajar. Hal ini dikarenakan dengan mengajukan banyak pertanyaan melalui proses menyelidiki permasalahan, siswa akan lebih memahami materi ajar dibandingkan hanya sekedar menghafal saja; 2) Meningkatkan fokus pada pengetahuan yang relevan, karena permasalahan yang disajikan dalam PBL merupakan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa; 3) Mendorong untuk berpikir, karena melalui PBL siswa dilatih untuk tidak terburu-buru dalam menyimpulkan tetapi harus mencoba menemukan landasan atas argumennya, dan fakta-fakta yang mendukung alasannya sehingga kemampuan berpikir siswa dapat ditingkatkan; 4) Membangun kerja tim, kepemimpinan, dan keterampilan sosial. Hal ini dikarenakan PBL dikerjakan dalam kelompok-kelompok kecil sehingga siswa diharapkan dapat memahami perannya dalam kelompok, menerima pandangan orang lain, bisa memberikan pengertian bahkan untuk orang-orang yang barangkali tidak mereka senangi. Hal tersebut akan mendorong terjadinya pengembangan kecakapan kerja tim dan kecakapan sosial; 5) Membangun kecakapan belajar (life-long learning skills). Hal ini dikarenakan pemberian masalah dalam pembelajaran PBL dapat membuat siswa belajar terus menerus karena siswa dilatih untuk merumuskan permasalahan

dan mencari sendiri pengetahuannya; 6) Memotivasi Siswa. Hal ini dikarenakan melalui masalah yang guru berikan siswa akan merasa tertantang untuk menyelesaikannya sehingga hal tersebut dapat meningkatkan minat dalam diri mereka.26

Menurut Wina Sanjaya, model pembelajaran PBL memiliki beberapa keunggulan, diantaranya: 1) Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran; 2) Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa; 3) Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa; 4) Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata; 5) Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan; 6) Pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya; 7) Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran, pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus di mengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja; 8) Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa; 9) Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru; 10) Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata; 11) Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.27

Berdasarkan penjelasan dari para ahli mengenai keunggulan model pembelajaran PBL, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran PBL pada dasarnya dapat melatih kemampuan berpikir siswa, dalam hal ini

26

M. Taufiq Amir, Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 27-29.

27

kemampuan berpikir kreatif siswa. Hal ini dikarenakan dengan pemberian masalah, maka siswa akan terstimulus untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Sehingga mereka akan menggunakan segenap kemampuannya agar masalah yang diberikan dapat terselesaikan.

3. Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM)

Model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat merupakan salah satu model pembelajaran yang memanfaatkan isu-isu yang terjadi di masyarakat, kemudian isu-isu tersebut dianalisis dan dicarikan solusinya dengan mengaitkannya pada penerapan sains dan teknologi. Berikut ini akan dijelaskan mengenai konsep model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM), karakteristik model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM), tahapan dalam model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) dan keunggulan model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM).

a. Konsep Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat(STM) Istilah Sains Teknologi Masyarakat diterjemahkan dari bahasa Inggris

Science Technology Society”, yang pada awalnya dikemukakan oleh John Ziman

dalam bukunya Teaching and Learning about Science and Society. Pembelajaran

Science Technology Society berarti menggunakan teknologi sebagai penghubung

antara sains dan masyarakat.28

Menurut Pradeep M. Dase “Science Technology Society (STS) approach to

engage the preservice science students in scientific explorations around issues,

questions or problems drawn from real life situations”.29 Artinya bahwa Sains

Teknologi Masyarakat (STM) merupakan suatu pendekatan yang melibatkan siswa dalam melakukan eksplorasi ilmiah seputar isu, pertanyaan ataupun masalah yang diambil dari situasi kehidupan nyata.

28

Anna Poedjiadi, Sains Teknologi Masyarakat Model pembelajaran Kontekstual Bernuansa Nilai, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), Cet. I, h. 99.

29

Pradeep M. Dase, “Using a Science/Technology/Society Approach to Prepare Reform-Oriented Science Teachers: The case of a Secondary Science Methods Course”, Issues in Teacher Education, Vol. 14, No. 1, 2005, h. 96.

Pembelajaran STM merupakan model pembelajaran yang mengaitkan antara sains dan teknologi serta manfaatnya bagi lingkungan dan masyarakat, dengan cara memanfaatkan perkembangan sains dan teknologi serta masyarakat sebagai pengguna manfaat perkembangan sains dan teknologi.30

Model pembelajaran STM dapat mengembangkan keterampilan siswa dan menuntut siswa menjadi aktif, bertanggung jawab dan responsif terhadap isu-isu dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa akan menjadi seorang yang kreatif yang mampu melihat peluang dalam kehidupan ini, serta mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dalam kehidupan sehari-hari.31 Selain itu, model pembelajaran STM dapat membuat siswa terlibat dalam memperoleh pengalaman dan pemanfaatan isu-isu yang secara langsung berkaitan dengan kehidupan siswa ke dalam pembelajaran, sehingga dengan pembelajaran STM siswa akan lebih kreatif menyikapi kemajuan IPTEK dan perkembangan jaman, lebih mampu melihat celah dan peluang yang ada untuk bisa bertahan hidup, memiliki keterampilan proses sains yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan, dan memahami materi yang mereka pelajari dengan harapan akan meningkatkan pemahaman mereka dalam sains.32

Berdasarkan definisi yang terlah dijelaskan, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran sains teknologi masyarakat (STM) merupakan model pembelajaran yang mengaitkan sains dan teknologi serta manfaat dan dampaknya bagi lingkungan dan masyarakat. Model ini memanfaatkan isu-isu yang terjadi di masyarakat untuk digali dan dianalisis, lalu memecahkan masalah tersebut dengan mengaitkannya pada perkembangan sains dan teknologi. Jadi, proses pembelajaran sains teknologi masyarakat (STM) ini tidak hanya menekankan pada penguasaan konsep-konsep sains saja namun menekankan pada peran sains

30

N. Nurchayati, “Pengaruh Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis dan Sikap Sains Siswa SMP”, Jurnal Ilmiah Progresif,

Vol. 10, No. 30, 2013, h. 32.

31

N. W. Heni Desianti, dkk., “Pengembangan Perangkat Pembelajaran IPA dengan Setting Sains Teknologi Masyarakat untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMP”, e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha,

Vol. 5, 2015, h. 5.

32

dan teknologi di dalam kehidupan masyarakat serta menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial terhadap dampak dari perkembangan sains dan teknologi tersebut.

b. Karakteristik Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) Sains teknologi masyarakat memiliki karakteristik sebagai berikut: 1) Identifikasi masalah di dalam masyarakat yang mempunyai dampak negatif yang dilakukan oleh siswa; 2) Mempergunakan masalah yang ada di dalam masyarakat

Dokumen terkait