• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Pembinaan Guru Kejuruan agar siap menghadapi MEA

Dalam dokumen prosiding nasional aptekindo 2016 (Halaman 186-192)

PENINGKATAN MUTU GURU PENDIDIKAN KEJURUAN DI ERA MEA

D. Model Pembinaan Guru Kejuruan agar siap menghadapi MEA

Memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), akan muncul sejumlah kekhawatiran tentang tenaga profesional ASEAN yang akan membanjiri pasar tenaga kerja Indonesia. Kondisi ini tidak luput karena masih rendahnya daya saing nasional dibanding dengan negara ASEAN lainnya. Kualitas tenaga kerja (guru) bergantung pada kualitas sistem yang dimiliki seseorang dengan keterampilan yang pantas, kebiasaan (habits), dan sikap dalam setiap langkah kehidupannya sebelum memasuki dunia kerja, selama dalam pekerjaan, dan diantara pekerjaan dan karier (Stern, 2003 dalam Herminanto Sofyan). Selama proses persiapan karier pertama-tama sangat perlu memperhatikan fundamental skills (keterampilan dasar )yang terdiri dari basic skills (listening, reading, writing, speaking, math), thinking skills (how to learn, create, solve problem, make decition,ect ), dan personal qualities (Responsibility, integrity, self-confidence, moral, character,loyality, etc). Fundamental skills sangat penting dan pokok dalam perkembangan karier seseorang dalam pekerjaan. Di atas fundamental skills ada genericworkskills, industry-specific skills,dan company/employer specific skills seperti Gambar 3.

Gambar 1 . Struktur Skill Pendidikan Dan Pelatihan Untuk Kerja (Barry Stern, 2 003)diadaptasi dari Herminanto Sofyan,dkk

Guru pendidikan kejuruan menurut Beven (2009),dalam Herminanto Sofyan, harus kompeten dalam merancang pembelajaran yang sarat dengan pemberian pengalaman kepada anak didik melalui penguasaan kaidah-kaidah pedagogik dan kurikulum pendidikan kejuruan.

Agar sukses dalam menjalankan profesi guru pendidikan kejuruan diperlukan pemahaman karakteristik pendidikan kejuruan yaitu: (1) Mempersiapkan peserta didik memasuki lapangan kerja; (2) Didasarkan kebutuhan dunia kerja “Demand-Market-Driven” ; (3) Penguasaan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja; (4) Kesuksesan siswa pada “Hands- On” atau performa dunia kerja; (4) Hubungan erat dengan dunia kerja merupakan kunci sukses Pendidikan vokasi; (5) Responsif dan antisipatif terhadap kemajuan teknologi; (6) learning by doing dan hands on experience; (7) membutuhkan pasilitas mutakhir untuk praktek; (8) Memerlukan biaya investasi dan operasional yang lebih besar dari pendidikan umum.

Masih menurut Herminanto Sofyan,2015 Ada beberapa kesalahan yang sering dianggap biasa dipraktekkan di dalam pendidikan kejuruan yaitu: (1) Diklat dasar kompetensi kejuruan tidak diajarkan secara mendasar; (2) Kesalahan diterima dan dimaafkan sebagai suatu kewajaran; (3) Mutu hasil kerja dibiarkan apa adanya tanpa standar mutu; (4) Guru yang lemah mutunya ditugaskan mengajar di tingkat awal; (5) Alat yang sudah tua, tidak standar dipakai oleh siswa tingkat awal; (6) Kebiasaan salah tingkat awal mutu tidak penting. Padahal untuk mendapat hasil pendidikan yang bermutu harus diawali dengan dasar yang kuat dan benar; (7) Dalam praktek siswa dibiarkan bekerja dengan cara yang salah; (8) Tidak mengikuti langkah, posisi tubuh dan gerak yang benar. Padahal kualitas teknis dan produktivitas kerja sangat ditentukan oleh cara kerja yang benar; (9) Membiarkan siswa bekerja di lantai bukan di tempat kerja; (10) Membiarkan siswa menggunakan peralatan tidak sesuai dengan fungsi dan tempatnya; (11) Membiarkan siswa dengan mutu hasil kerja asal jadi. Hanya formalitas telah mengerjakan tanpa standar mutu. Guru memberi angka :”Angka Guru” tidak ada hubungannya dengan standar mutu dunia kerja; (12) Siswa tidak peduli dengan “Sense of Quality” dan “Sense of added Value”; (13) Kegiatan praktek tidak

mengikuti prinsip belajar tuntas “Mastery Learning” ; (14) Siswa bekerja tanpa bimbingan dan pengawasan guru; (15) Siswa bekerja tanpa persyaratan keselamatan kerja, tidak bertanggung jawab; (16) Siswa bekerja tanpa lembar kerja; (17) Guru berada di sekolah hanya pada jam-jam mengajar saja; (18) Menjadi Guru Provinsi atau Kabupaten karena mengajar di berbagai sekolah lintas kabupaten; (19) Menggunakan waktu belajar hanya untuk catat mencatat; (20) Sekolah kejuruan kurang memiliki wawasan ekonomi, Mesin rendah waktu pemakaiannya ; (21) Kurang etos kerja.

Tujuan utama pendidikan kejuruan adalah menyiapkan lulusan untuk memasuki dunia kerja sehingga proses belajar mengajar yang dilaksanakan dipastikan mampu membekali lulusannya dengan pengetahuan,ketrampilan,dan sikap yang dibutuhkan oleh duniakerja. Keberhasilan pembelajaran pada pendidikan kejuruan tersebut sangat bergantung pada kualitas guru sehingga diperlukan upaya penyiapan guru yang ideal bagi pendidikan kejuruan. Tuntutan kompetensi guru kejuruan berbeda dengan kompetensi guru pada sekolah umum.Selain bekal ilmu pedagogik,psikologi pendidikan,dan kompetensi sesuai bidang keilmuan, guru pada pendidikan kejuruan juga harus memiliki pengalaman di industry serta pengalaman mengajar dalam kurun waktu tertentu.

Guru sebagai sumber daya manusia (SDM) yang ada di SMK mempunyai peran yang sangat menentukan dan merupakan kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan.Agar pelaksanaan KBM berjalan dengan efektif dan efisien sesuai dengan tujuan pembelajaran maka harus diciptakan guru yang professional dan berkualitas sesuai kebutuhan SMK baik jumlah, kualifikasi maupun spesialisasinya.

Mutu Guru tidak lepas dari Proses pembinaan guru baik langsung oleh kepala sekolah maupun oleh Pusat-pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan Tenaga Kependidikan (P4TK). Permasalahan peningkatan mutu guru tidak hanya dapat diselesaikan dengan memberikan gaji dan kesejahteraan yang cukup, tapi perlu juga dilakukan upaya-upaya pembinaan kompetensi guru , karena perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat cepat sehingga menuntut guru untuk terus menerus untuk “meng Up Grade” dirinya sehingga dapat mengikuti bahkan membuat suatu rekayasa teknologi yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.Selain Upaya guru meng-Up Grade dirinya sendiri, pemerintah berkewajiban membina guru agar memiliki kompetensi yang memadai (professional). Berikut diuraikan beberapa konsep pembinaan guru kejuruan agar professional :

a. Pembinaan melalui Supervisi

Menurut Glickman dalam Arif Rahman,2009. Supervisi pengajaran yaituserangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses belajar mengajar demi pencapaian tujuan pengajaran. Melalui supervise pengajaran diharapkan mutu pengajaran yang dilakukan oleh guru meningkat. Mengembangkan kemampuan dalam konteks ini tidak hanya ditekankan pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengajar, melainkan juga pada peningkatan komitment, kemauan dan motivasi guru.

b. Pembinaan guru melalui pelatihan

kinerja personil dalam suatu pekerjaan. Pelatihan merupakan salah satu tipe program pembelajaran yang menitikberatkan pada kecakapan individu dalam menjalankan tugas-tugasnya.Mangkuprawira (2002) memberikan tiga tahapan besar dalam pengelolaan program pelatihan yaitu tahap Asesmen,tahap pelatihan, dan tahap evaluasi. Dalam tahap asesmen dilakukan analisis kebutuhan pelatihan dan organisasi, pekerjaan dan individu; dalam tahap pelatihan dilakukan kegiatan merangcang dan menyeleksi prosedur pelatihan,serta pelaksanaan pelatihan; tahap terakhir adalah tahap evaluasi, dilakukan pengukuran hasil pelatihan dan membandingkan hasilnya dengan kreteria. c. Uji Kompetensi Guru (UKG)

Mulyasa ,(2005) menyatakan, untuk meningkatkan kualitas guru , perlu dilakukan suatu system pengujian terhadap kompetensi guru. Pentingnysa Uji Kompetensi guru disebabkan beberapa hal :

1. Sebagai alat untuk mengembangkan standar kemampuan professional guru 2. Merupakan alat seleksi penerimaan guru

3. Untuk pengelompokkan guru

4. Sebagai bahan acuan dalam pengembangan kurikulum. 5. Merupakan alat pembinaan guru

6. Mendorong kegiatan dan hasil belajar.

Dengan anggaran pendidikan yang memadai, seharusnya pemerintah lebih mampu melaksanakan agenda peningkatan guru secara lebih berkualitas, berkelanjutan dan merata sesuai dengan kebutuhan masing-masing guru.Selain itu guru juga harus lebih berdaya untuk peningkatan dirinya secara swadaya, terutama bagi mereka yang telah menerima tunjangan profesi.Keadaan tersebut dapat didukung oleh sekolah dengan melaksanakan pelatihan-pelatihan secara mandiri.Sekolah dapat mendesain sendiri program-program pelatihan yang menjadi kebutuhan guru.Sikap, kemampuan dan kemauan guru untuk melakukan perubahan merupakan sebuah modal besar untuk peningkatan dirinya.

Meminjam istilah Maister (1997) dalam Tilaar (2006) yang menulis tentang True Professionalism, bahwa profesionalisme tidak hanya sekedar pengetahuan teknologi dan manajemen, namun profesionalisme lebih merupakan suatu sikap (attitute). Seorang guru bukan hanya highly skilled, tetapi akan disebut profesional jika dia juga bertanggungjawab, inisiatif, serta menunjukkan komitmen personal terhadap kualitas pada pekerjaannya.

Persaingan di era MEA bukan hanya memberikan tempat kepada para ahli, namun juga bagi mereka yang mempunyai attitude. Ketrampilan dapat diajarkan secara cepat, namun pembentukan watak membutuhkan waktu yang jauh lebih lama.Siklus pembentukan watak harus terus berjalan dan beriringan.Bukan hanya di sekolah, namun juga di rumah dan di lingkungan. Kondisi demikian yang kini menjadi tuntutan untuk melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Dalam kondisi tersebut, dunia pendidikan memiliki tugas berat untuk melahirkan tenaga-tenaga terampil terdidik (skilled labour), memiliki karakter, dan daya juang serta kerja keras.Atau di kurikulum 2013 dunia pendidikan diamanahi untuk melahirkan generasi bangsa yang beradab,

produktif, kreatif, inovatif dan efektif, sehingga kita bisa menjadi bangsa kolaboratif-kompetitif. Penguatan dalam sikap, keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi menjadi kata kuncinya..

Kompetensi profesionalisme guru dan mutu institusi pendidikan, dengan demikian menjadi suatu keharusan mutlak serta sekaligus menjadi pasword atau kata kunci untuk melahirkan putra-putri bangsa yang beradab, produktif, kreatif, inovatif dan efektif. Cita dan harapan kelahiran manusia beradab tersebut di atas seharusnya lahir dari suatu institusi pendidikan yang berstandar nasional (SNPI) dan bahkan internasional, serta kerangka kurikulum nasional Indonesia (KKNI).

IV. PENUTUP

Berdasarkan uraian pada pembahasan di atas maka, dapat disimpulkan sebagai berikut: untuk menghadapi MEA (masyarakat Ekonomi Asia) salah satu aspek yang perlu disiapkan secara baik adalah mutu guru pendidikan kejuruan . Karena peran Guru dalam Pendidikan Kejuruan sangat signifikan dalam mencapai keberhasilan belajar siswa, oleh karena itu guru kejuruan dituntut Kualifikasi akademik guru melalui uji kelayakan dan kesetaraan Kualifikasi akademik yang dipersyaratkan untuk dapat mengajar pada pendidikan kejuruan. Selain itu Agar sukses dalam menjalankan profesi guru pendidikan kejuruan diperlukan pemahaman karakteristik pendidikan kejuruan diantaranya: (1) Mempersiapkan peserta didik memasuki lapangan kerja; (2) Didasarkan kebutuhan dunia kerja “Demand-Market-Driven” ; (3) Penguasaan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja; (4) Kesuksesan siswa pada “Hands-On” atau performa dunia kerja; (4) Hubungan erat dengan dunia kerja merupakan kunci sukses Pendidikan vokasi; (5) Responsif dan antisipatif terhadap kemajuan teknologi; (6) learning by doing dan hands on experience; (7) membutuhkan pasilitas mutakhir untuk praktek; (8) Memerlukan biaya investasi dan operasional yang lebih besar dari pendidikan umum. Selain itu diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru kejuruan sesuai dengan tuntutan perkembangan teknologi yang sangat cepat melalui berbagai bentuk pelatihan (workshop), uji kompetensi guru (UKG) , dan magang guru ke dunia usaha/industry.

DAFTAR PUSTAKA

Arifah Suryaningsih. Guru Menuju Masyrakat Ekonomi Asean. Artikel diterbitkan dalam Media Kedaulatan Rakyat, Sabtu/11 Okt 2014.

Basuki Wibawa. (2005). Pendidikan teknologi dan kejuruan. Surabaya: Kertajaya Duta Media Herminanto Sofyan,dkk. 2015. Paradigma Baru Pendidikan Vokasi.Artikel

Indra Djati Sidhi. (2000). Pendidikan dan peran guru dalam era globalisasi, Majalah Komunika No. 25 /tahun VIII/2000

Melvin,D. Miller. 1960. Priciples and A philoshopy For Vocational Education.Publisher: National center Publication ,National center for Research in Vocational education. Columbus

Michael A. Copland & Michael S. Knapp. 2006. Connecting leadership with learning. Assosciation for supervision and curriculum development. Alexandria, Virginia, USA

Mulyasa,2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung. Penerbit: PT. Remaja Rosdakarya

mmmmmH2 H2006HHHH

Nurhening Yuniarti .Model Penyiapan Guru Pendidikan Kejuruan,Makalah Prosiding Konvensi Nasional

Asosiasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (APTEKINDO) ke 7 FPTK Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, 13 sd.14 November 2014

.Suyanto. Profesionaisme Guru. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Entrepreneurship dan

Profesionalitas Guru di Era MEA pada Sabtu, (2/5/2015) di Auditorium UNY Kampus Wates.

0000000000000000000000000000000000000000000000

Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Wagiran, 2009.Peran LPTK dalam Mengembangkan Pendidikan Kejuruan secara Holistik dan Implikasinya Bagi Penyiapan Guru Kejuruan Profesional. Makalah . Disampaikan dalam Seminar Nasional Revitalisasi Peran UNY dalam MewujudkanTenaga Kependidikan Profesional. , 18 Mei 2009

A-01-031

Dalam dokumen prosiding nasional aptekindo 2016 (Halaman 186-192)