Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta model konsep pendidikan yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam sistem pendidikan dan pengelolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang desentralisasi. Model pengembangan dalam kurikulum yang sifatnya subjek akademis berbeda dengan kurikulum humanistik, teknologis, dan rekonstruksi sosial.
a. Model Tyler
Model pengembangan kurikulum Tyler, dalam bukunya yang berjudul Basic Principles of Curriculum and Instruction, adalah lebih bersifat bagaimana merancang suatu kurikulum sesuai dengan tujuan dan misi suatu institusi pendidikan. Dia menekankan pentingnya upaya pengembangan kurikulum dilakukan secara rasional dan sistematis.37
36Ibid., 151.
Proses pengembangan kurikulum menurut Tyler ada 4, yaitu pertama, menentukan tujuan pendidikan yang ingin dicapai; kedua, menentukan pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa untuk mencapai tujuan tersebut; ketiga, mengorganisasi pengalaman belajar; dan keempat, evaluasi untuk mengetahui tingkat ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan.38
b. Model Taba
Berbeda dengan model yang dikembangkan Tyler, model Taba lebih menitikberatkan pada bagaimana mengembangkan kurikulum sebagai suatu proses perbaikan dan penyempurnaan. Tahapan-tahapan pengembangan kurikulum yang ditawarkan Taba adalah bersifat induktif yaitu diawali dengan mendiagnosis kebutuhan. Hal ini dilakukan agar pengembang kurikulum mempunyai informasi (input) yang cukup pada setiap proses pengembangan kurikulum.
Model pengembangan yang ditawarkan Taba sebenarnya memodifikasi model dasar Tyler agar lebih representatif terhadap pengembangan kurikulum di tingkat sekolah. Menurutnya, ada 7 langkah utama yang harus dilakukan dalam pengembangan kurikulum, yaitu mendiagnosis kebutuhan, menformulasikan tujuan, memilih isi, mengorganisasi isi, memilih pengalaman belajar, mengorganisasi pengalaman belajar, menentukan alat evaluasi dan menguji keseimbangan isi kurikulum.39
38Wina Sanjaya, Kurikulum, 82-87.
Hal yang perlu diperhatikan dalam mendiagnosis kebutuhan adalah diperlukannya data-data yang bersumber dari tuntutan masyarakat di mana siswa akan memanfaatkan hasil pendidikannya, kebutuhan perkembangan siswa yang dilihat dari perkembangan mental dan pengalaman yang telah dimiliki siswa, dan isi bahan pelajaran yang mencakup materi dan metode pembelajaran.40
Langkah-langkah tersebut dilakukan sebagai unit percobaan. Jika eksperimen dinilai layak digunakan maka kurikulum yang telah teruji akan diimplementasikan. Pada tahap ini perlu dipersiapkan kemampuan guru-guru melalui penataran, lokakarya dan lain-lain, serta mempersiapkan fasilitas dan alat-alat sesuai dengan tuntutan kurikulum.41
c. Model Beauchamp
Model ini dikembangkan oleh seorang ahli kurikulum Beauchamp. Dia mengemukakan lima hal dalam pengembangan suatu kurikulum.
Pertama, menetapkan arena atau lingkup wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum tersebut, apakah suatu sekolah, kecamatan, kabupaten, propinsi, atau negara. Pentahapan arena ini ditentukan oleh 40Daniel Tanner dan Laurel Tanner, Curriculum Development, (New Jersey: Prentice Hall, Inc., 1995), 232.
wewenang yang dimiliki oleh pengambil kebijaksanaan dalam pengembangan kurikulum.
Kedua, menetapkan personalia, yaitu siapa-siapa yang turut serta terlibat dalam pengembangan kurikulum. Ada empat kategori orang yang turut berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum, yaitu 1) ahli pendidikan/kurikulum yang ada pada pusat pengembangan kurikulum dan ahli bidang ilmu dari luar, 2) ahli pendidikan/kurikulum dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih, 3) para profesional dalam sistem pendidikan, 4) profesional lain dan tokoh- tokoh masyarakat.
Ketiga, organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum. Langkah ini berkenaan dengan prosedur yang harus ditempuh dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, serta kegiatan evaluasi, dan dalam menentukan keseluruhan desain kurikulum. Beauchamp membagi keseluruhan kegiatan ini dalam lima langkah, yaitu 1) membentuk tim pengembang kurikulum, 2) mengadakan penilaian atau penelitian terhadap kurikulum yang ada yang sedang digunakan, 3) studi penjajagan tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru, 4) merumuskan kriteria-kriteria bagi penentuan kurikulum baru, 5) penyusunan dan penulisan kurikulum baru.
Keempat, implementasi kurikulum. Langkah ini membutuhkan kesiapan yang menyeluruh, baik kesiapan guru-guru, siswa, fasilitas,
bahan, maupun biaya, serta kesiapan manajerial dari pimpinan sekolah atau administrator setempat.
Langkah yang kelima adalah evaluasi kurikulum. Langkah ini minimal mencakup empat hal, yaitu 1) evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru, 2) evaluasi desain kurikulum, 3) evaluasi hasil belajar siswa, 4) evaluasi keseluruhan sistem kurikulum. Data yang diperoleh dari evaluasi kemudian digunakan bagi penyempurnaan sistem, desain kurikulum, dan prinsip pelaksanaannya.42
d. Model Wheeler
Menurut Wheeler, pengembangan kurikulum merupakan proses yang membentuk lingkaran. Ini berarti bahwa pengembangan kurikulum terjadi secara terus menerus, sistematis atau berurutan, dan tanpa ujung.43 Karena penekanannya terhadap hakikat lingkaran (cycle)
dari elemen-elemen kurikulum maka model ini disebut juga dengan
cycle models.
Elemen-elemen pengembangan kurikulum yang dimaksud terdiri dari 5 langkah, yaitu pertama, seleksi maksud, tujuan, dan sasaran; kedua, seleksi pengalaman belajar; ketiga, menentukan isi atau materi pembelajaran; keempat, mengorganisasikan dan mengintegrasikan pengalaman dan materi pembelajaran; kelima, melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan.44
e. Model Nicholls
42Nana Syaodih, Pengembangan Kurikulum, 163-165. 43Wina Sanjaya, Kurikulum, 94.
Model pengembangan kurikulum Nicholls menggunakan pendekatan siklus seperti model Wheeler. Model Nicholls digunakan apabila ingin menyusun kurikulum baru yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan situasi.
Ada lima langkah pengembangan kurikulum menurut Nicholls, yaitu, analisis situasi, menentukan tujuan khusus, menentukan dan mengorganisasi isi pelajaran, menentukan dan mengorganisasi metode, dan evaluasi.45
Analisis situasi adalah langkah pertama yang harus dipertimbangkan oleh para pengembang kurikulum secara mendetail dan serius agar mereka memahami faktor-faktor yang akan dikembangkan. Di samping itu, dengan masuknya fase analisis situasi ini, diharapkan para pengembang kurikulum juga lebih responsif terhadap perubahan lingkungan dan kebutuhan anak didik.46
f. Model Dynamic Skilbeck
Menurut Skilbeck, model pengembangan kurikulum yang ia namakan model Dynamic, adalah model pengembangan kurikulum pada level sekolah.
Model ini ditujukan untuk setiap guru yang ingin mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan sekolah. Agar proses pengembangan berjalan dengan baik, maka setiap pengembang
45Wina, Kurikulum, 95.
termasuk guru perlu memahami lima elemen pokok yang dimulai dari menganalisis situasi, menformulasikan tujuan, menyusun program, menginterpretasi dan implementasi, serta monitoring, feedback, penilaian, dan rekonstruksi.47