PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
A. Penyajian Data
5. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Akhlak
a. Dasar Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum pendidikan akhlak di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo dilakukan setelah adanya evaluasi terhadap siswa. Evaluasi dilakukan oleh seluruh guru dengan melihat perkembangan sikap dan prilaku siswa serta dari hasil laporan orangtua siswa maupun pihak lain yang peduli terhadap perkembangan siswa. Dari hasil evaluasi tersebut, didapatkan kesimpulan pentingnya dikembangkan upaya-upaya yang mengarah pada peningkatan aspek akhlak siswa. Hal ini karena, sebagaimana diungkapkan Kepala Sekolah bahwa siswa masih cenderung menunjukkan perilaku-perilaku positif hanya ketika berada di lingkungan sekolah saja. Salah satu
upaya yang dilakukan adalah dengan mengembangkan kurikulum pendidikan akhlak. Hal ini berdasarkan beberapa pertimbangan yaitu:
Pertama, sebagai sekolah yang berlandaskan nilai-nilai Islam, adalah menjadi suatu keharusan bagi sekolah untuk menjamin terciptanya kualitas keimanan siswa yang salah satunya tercermin pada aspek akhlak. SD Muhammadiyah 1 selama ini dinilai telah banyak mengantarkan siswa-siswanya meraih prestasi di bidang akademik dan non akademik. Hal ini dapat dilihat dari berbagai penghargaan yang didapatkan siswa pada perlombaan dan kejuaraan mulai tingkat Kabupaten sampai Nasional. Maka akan menjadi suatu ironi jika keberhasilan ini tidak dibarengi meningkatnya kualitas spiritual siswa, di antaranya akhlak yang mulia sebagaimana visi yang telah ditetapkan sekolah. Hal ini akan menjadi bekal yang dibutuhkan siswa ketika ia masuk dalam lingkungannya dan menghadapi permasalahan yang serba kompleks di tengah masyarakat.
Kedua, perkembangan iptek yang semakin cepat memaksa anak untuk berada pada lingkungan yang terus berubah. Tidak hanya perubahan yang bersifat materi tetapi juga perubahan pola hidup dan pergeseran nilai di masyarakat. Hal ini membawa dampak yang besar pada perkembangan anak. Anak akan menjadi sangat terbiasa hidup dalam era serba teknologi sehingga pola pergaulan pun menjadi semakin bebas. Masalah-masalah moral yang berkaitan dengan perkembangan iptek ini harus segera disikapi oleh sekolah dengan
meneguhkan benteng keimanan anak agar tidak mudah terseret arus yang negatif.78
Ketiga, kurikulum pendidikan akhlak yang selama ini diterapkan dinilai kurang efektif dalam mengembangkan sikap dan perilaku siswa. Padahal jika dilihat dari isi kurikulum pendidikan akhlak telah mencakup nilai-nilai yang dibutuhkan siswa dalam berperilaku antara dirinya dengan Sang Pencipta, manusia, dan makhluk lainnya. Kelemahan pendidikan akhlak dinilai ada pada tataran implementasi yang masih lebih banyak menekankan pada domain kognitif.
Hal ini dikarenakan orientasi pendidikan akhlak seolah-olah hanya proses untuk mengejar target kurikulum yang telah ditetapkan. Bagaimana tidak, materi kurikulum yang demikian banyak, disampaikan dalam waktu 1 jam pelajaran yaitu 35 menit tiap minggu. Waktu yang demikian pendek hanya cukup untuk menyampaikan materi tanpa ada kesempatan bagi guru untuk mengajak dan memantau siswa membiasakan diri mengimplementasikan materi yang diajarkan.
Di samping itu, materi yang diberikan serta evaluasi yang dilakukan masih lebih banyak menekankan pada teori sehingga metode evaluasi pun melalui pemberian soal-soal.79 Hal ini memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menghafal sehingga siswa lebih banyak menggunakan kemampuan kognitifnya dibandingkan
78Burhanuddin, Wawancara, Sidoarjo, 12 Juni 2010. 79Ikhsan, Wawancara, Sidoarjo, 22 April 2010.
kemampuan afektif dan psikomotoriknya. Sedangkan penilaian terhadap sikap dan perilaku siswa hanya dilakukan melalui pengamatan guru yang dilakukan sebatas kemampuan guru mengamati sejumlah siswa yang diajarnya.
Pertimbangan keempat, yaitu perlunya meningkatkan peran orangtua dalam mendukung proses pembelajaran anak di luar sekolah. Selama ini siswa hanya melakukan aktivitas-aktivitas belajar dan beribadah hanya ketika berada di lingkungan sekolah. Anak masih menganggap bahwa seluruh aktivitas tersebut adalah kewajiban di sekolah saja. Hal ini bisa terjadi karena ketika anak berada di luar sekolah, orangtua kurang mengawasi atau cenderung memberikan kelonggaran kepada anak dalam segala tindakannya. Sehingga anak akan beranggapan aktivitas belajar dan beribadah dilakukan karena takut kepada guru, bukan sebagai tindakan yang harus dilaksanakan karena kesadaran dan pemahamannya.
Menurut Kepala Sekolah, pengembangan kurikulum pendidikan akhlak yang berupa kurikulum pembiasaan untuk menciptakan iklim learning culture bagi siswa, karena selama ini hanya diterapkan learning habit. Di mana siswa hanya melakukan proses belajar, melakukan aktivitas ibadah hanya ketika ia berada di lingkungan sekolah. Ketika anak berada di luar sekolah, ia akan berhenti melakukannya. Sedangkan dalam learning culture, anak akan dibiasakan untuk melakukan kegiatan dan berperilaku positif di
manapun berada, dan anak akan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.
b. Proses Pengembangan Kurikulum
Proses pengembangan kurikulum pendidikan akhlak dimulai dengan melakukan analisis kebutuhan pendidikan akhlak bagi siswa. Hal ini didapatkan dari hasil evaluasi terhadap kurikulum pendidikan akhlak yang selama ini diterapkan di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Dalam pendidikan akhlak, siswa tidak harus dikejar dengan target terselesaikannya kurikulum selama waktu yang ditentukan. Lebih dari itu, siswa membutuhkan waktu lebih banyak untuk mempraktekkan apa yang ada di kurikulum secara berulang-ulang sampai siswa terbiasa melakukannya.
Analisis kebutuhan siswa terhadap model baru pendidikan akhlak tersebut disambut positif oleh beberapa guru dengan memberikan ide dasarnya berupa rancangan pokok-pokok materi yang akan diberikan kepada siswa dalam format kurikulum baru yaitu kurikulum pembiasaan. Rancangan materi ini didasarkan pada pengamatannya terhadap beberapa perilaku siswa yang perlu dibenahi dan ditingkatkan. Adapun rancangan Kurikulum Pembiasaan yang akan diterapkan pada tahun ajaran 2010-2011 tersebut tersaji dalam Tabel 5.
Tabel 4.8 Kurikulum Pembiasaan Tahun 2010-2011 STANDAR
KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR
MATERI POKOK INDIKATOR
1. Menerapkan tertib berdo’a, dzikir dan tertib di masjid.
a. Menjelaskan adab berdo’a dan berdzikir
b. Menjelaskan adab masuk dan keluar masjid
Disiplin diri
Tanggung jawab Siswa dapat:1) Menjelaskan adab-adab berdo’a dan berdzikir dalam Islam
2) Siswa dapat membiasakan diri berdo’a dan berdzikir dengan tertib
3) Menjelaskan adab-adab masuk dan keluar masjid
4) Membiasakan diri tertib ketika masuk dan keluar masjid 5) Membiasakan diri cinta akan masjid (menjaga kebersihan
dan memakmurkan masjid) 2. Menerapkan senyum dan salam dalam kehidupan sehari- hari a. Menjelaskan adab mengucap salam b. Menjelaskan
senyum dalam Islam
Menghormati
Merawat
Siswa dapat:
1) Menjelaskan salam dalam Islam 2) Menjelaskan hikmah salam
3) Membiasakan diri mengucap salam ketika bertemu dengan saudaranya
4) Menjelaskan senyum dalam Islam
5) Menjelaskan hikmah senyum bagi diri dan orang lain 6) Membiasakan diri mengulum senyum pada saudaranya 3. Menerapkan adab dalam menuntut ilmu Menjelaskan adab menuntut ilmu Ketekunan Menghormati Merawat Tanggung jawab Keadilan Siswa dapat:
1) Menjelaskan adab-adab siswa terhadap guru 2) Menjelaskan adab siswa terhadap sesama siswa 3) Menjelaskan hikmah dalam menuntut ilmu
4) Membiasakan diri untuk hormat dan taat kepada guru 5) Membiasakan diri untuk menghargai dan berbuat baik
kepada sesama siswa
6) Membiasakan diri tekun dalam belajar 4. Menerapkan adab-adab dalam berbicara Menjelaskan adab-adab dalam berbicara Menghormati Disiplin diri Siswa dapat :
1) Menjelaskan sopan santun dalam berbicara dengan orang yang lebih tua atau muda
2) Membiasakan diri bersikap santun dalam berbicara. 5. Menerapkan
perilaku mulia
Menjelaskan amalan kecil berpahala besar
Merawat Disiplin Tanggung jawab Kejujuran Keberanian Siswa dapat :
1) Menjelaskan hikmah membuang sampah pada tempatnya 2) Menjelaskan hikmah menyingkirkan benda yang
menghalangi dan membahayakan jalan (duri, sampah, batu, dll)
3) Menjelaskan pentingnya mengingatkan teman (amar ma’ruf nahi munkar)
4) Membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya 5) Membiasakan diri menyingkirkan benda yang
menghalangi dan membahayakan jalan (duri, sampah, batu, dll)
6) Membiasakan diri untuk berani mengingatkan teman dengan baik
6. Menerapkan adab
makan dan
minum
Menjelaskan adab makan dan minum
Disiplin diri
Merawat
Menghormati
Siswa dapat :
1) Menjelaskan adab makan dan minum
2) Membiasakan makan dan minum sesuai tuntunan Rasulullah
Kurikulum pembiasaan tersebut digolongkan dalam kurikulum Muatan Lokal. Hal ini dikarenakan kurikulum pembiasaan termasuk kurikulum yang ditetapkan oleh lokal sekolah saja yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Kurikulum ini akan diberlakukan bagi seluruh siswa mulai kelas I sampai kelas VI dengan alokasi waktu 1 jam pelajaran/minggu.
Sesuai dengan namanya, kurikulum pembiasaan ini akan menekankan proses implementasinya pada upaya membiasakan siswa untuk berperilaku sebagaimana materi kurikulum yang telah ditetapkan tanpa meniadakan metode penyampaian materi seperti ceramah, diskusi, eksplorasi, atau pun melalui cerita untuk memperdalam pemahaman siswa terhadap materi.
Pada implementasinya, aspek pembiasaan akhlak yang menjadi target kurikulum ini akan diupayakan melalui mekanisme kontrol terhadap perilaku siswa dengan menggunakan beberapa strategi. Strategi yang akan diimplementasikan tidak hanya terbatas pada perilaku siswa di sekolah, namun juga ketika siswa berada di rumah.
Sebagai sekolah yang menerapkan sistem full day school, SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo menetapkan jam sekolah yang lebih panjang dibandingkan sekolah lain. Setiap hari, siswa menghabiskan waktu kurang lebih 8 jam di lingkungan sekolah, yang berarti sepertiga waktu dari 24 jam sehari dimanfaatkan sekolah untuk pendidikan siswanya. Dalam waktu yang cukup panjang ini lah sekolah berupaya
merencanakan dan menyediakan pengalaman belajar dan sarana parasarana bagi pembiasaan akhlak siswa.
Pembiasaan siswa terhadap perilaku tertib ketika masuk dan keluar masjid diupayakan ketika siswa melakukan shalat dhuhur berjamaah di masjid sekolah. Pada saat tersebut, guru akan mengamati perilaku siswa mulai berangkat ke masjid, ketika berada di dalam masjid, dan ketika keluar dari masjid. Perilaku siswa yang selama ini sering terjadi, seperti berlari ketika berangkat ke masjid, bergurau di dalam masjid, dan kurang peduli terhadap kebersihan masjid diharapkan dapat berubah sesuai adab yang diajarkan Islam melalui kurikulum pembiasaan ini.
Materi membiasakan siswa menerapkan senyum dan salam dilakukan selama siswa menghabiskan waktunya di sekolah. Pembiasaan perilaku mengucapkan salam dapat diterapkan pada siswa ketika memasuki ruang kelas, baik pada jam pembelajaran maupun pada jam istirahat, memasuki ruang guru, dan ketika bertemu guru di luar kelas. Demikian pula cara ini diterapkan untuk membiasakan siswa tersenyum dan tidak bersikap acuh tak acuh ketika bertemu teman, guru, dan orang lain yang dikenalnya.
Dalam upaya menerapkan adab siswa ketika menuntut ilmu, siswa akan lebih banyak dibiasakan dengan perilaku-perilaku ketika berada di dalam kelas. Misalnya, membiasakan siswa untuk memperhatikan penjelasan guru dan tidak berbincang-bincang dengan
teman, mentaati perintah guru, seperti mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, serta menghargai sesama teman ketika berada di kelas dengan cara tidak membuat kegaduhan di kelas atau mengganggu teman ketika proses pembelajaran. Pembiasaan perilaku ini akan diterapkan dan diamati oleh semua guru yang mengajar di tiap kelas.
Upaya membiasakan siswa untuk menerapkan adab santun dalam berbicara ditekankan pada saat siswa berada di luar kelas. Hal ini dikarenakan, ketika berada di dalam kelas, interaksi siswa terbatas dengan guru dan teman sekelasnya. Terlebih ketika berada di dalam kelas, pada saat pembelajaran, perilaku siswa lebih terkendali dengan adanya proses pembelajaran. Sedangkan ketika di luar kelas, siswa akan berinteraksi dengan orang yang lebih beragam, tidak hanya dengan teman dan guru, tetapi juga dengan karyawan sekolah, serta adik kelas ataupun kakak kelas.
Selain faktor lamanya waktu yang digunakan siswa di sekolah dengan berbagai aktivitas mereka yang dijadikan sebagai kontrol dalam implementasi kurikulum pembiasaan yang akan diterapkan, faktor tersedianya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah akan menjadi faktor yang juga mendukung upaya pembiasaan tersebut. Hal ini bisa dilihat pada upaya pembiasaan siswa untuk membuang sampah pada tempatnya dan menyingkirkan benda yang membahayakan jalan didukung dengan disediakannya tempat sampah di tiap ruangan, baik ruang kelas, maupun ruang perpustakaan, kantin, dan di halaman
sekolah. Adanya tempat sampah yang mudah dijumpai siswa, akan membantu siswa dalam membiasakan dirinya membuang sampah dan menyingkirkan benda yang mengganggu jalan pada tempat yang tersedia.
Upaya membiasakan siswa makan dan minum sesuai tuntutan Islam dilakukan pada saat siswa berada di luar kelas pada waktu istirahat. Untuk mendukung upaya tersebut, sekolah menyiapkan kantin lengkap dengan fasilitas tempat duduk untuk membiasakan siswa makan dan minum dengan duduk. Selain tempat duduk di kantin, sekolah juga menyiapkan tempat duduk di halaman sekolah ataupun beranda kelas yang bersih agar bisa dimanfaatkan siswa untuk duduk.
Untuk mengoptimalkan pelaksanaan kurikulum pembiasaan ini, sekolah akan melibatkan seluruh guru dalam mengontrol dan menilai perilaku siswa sesuai aspek-aspek yang ditekankan pada kurikulum. Upaya ini dilakukan sekolah dengan menginformasikan dan menyamakan persepsi tiap guru terhadap pelaksanaan kurikulum pembiasaan. Hasil pengamatan dan penilaian guru akan diinformasikan secara terkoordinasi kepada wali kelas pada acara rapat rutin guru yang diadakan setiap Sabtu. Dengan demikian, pemantauan terhadap perkembangan perilaku siswa dapat dilakukan setiap minggu.
Selain kontrol terhadap perilaku siswa di sekolah, kurikulum pembiasaan juga menuntut adanya kontrol terhadap perilaku siswa di luar sekolah. Idealnya, penerapan kurikulum pembiasaan ini menuntut
keterlibatan banyak pihak untuk melakukan fungsi kontrol terhadap perilaku siswa, tidak hanya pihak sekolah, namun juga orang tua dan seluruh masyarakat. Namun, karena keterbatasan sekolah dalam upaya kontrol perilaku siswa secara keseluruhan, maka di luar lingkungan sekolah, pihak sekolah hanya akan melibatkan orang tua.
Strategi yang digunakan sekolah dalam hal ini adalah dengan membuat instrumen berupa buku check list yang memuat deskripsi perilaku yang tampak pada siswa selama berada di rumah sesuai dengan indikator sikap yang telah tertera pada kurikulum pembiasaan. Sekolah akan meminta orangtua mengisi check list tersebut sesuai keadaan siswa dan menyerahkannya ke sekolah setiap minggu. Dalam hal ini, orangtua dituntut bersikap jujur dalam mengisinya agar diperoleh data yang akurat sebagai informasi bagi guru untuk memperbaiki perilaku siswa.
Data dan informasi yang diberikan oleh guru dan orangtua akan dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk mengukur seberapa jauh penghayatan dan pengamalan siswa terhadap kurikulum pembiasaan serta seberapa besar keberhasilan pelaksanaan kurikulum tersebut. Dengan demikian, penilaian tidak dilakukan melalui ujian tes tertulis sebagaimana diterapkan pada kurikulum lainnya.80
Dimasukkannya kurikulum pembiasaan sebagai kurikulum baru menyebabkan perubahan struktur kurikulum yaitu kurikulum Laboratorium Bahasa Arab dan Inggris yang semula berdiri sendiri 80Tri Oktavia Wahyuningsih, Wawancara, Sidoarjo, 1 Juni 2010.
menjadi terintegrasi ke dalam kurikulum Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Perubahan struktur kurikulum SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo tahun 2010-2011 dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 4.9 Struktur Kurikulum SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo Tahun 2010-2011
Komponen Kelas dan alokasi waktu
I II III IV V VI A. Mata Pelajaran 1. Pendidikan Agama : Aqidah Akhlak 1 1 1 1 1 1 Ibadah Syari’ah/Fiqih 1 1 2 2 2 2 Al-qur’an Hadits 1 1 2 2 2 2 Tarekh 1 1 1 1 1 1 2. Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2 2 2 2 3. Bahasa Indonesia 6 6 6 6 6 8 4. Matematika 6 6 7 7 6 8
5. Ilmu Pengetahuan Alam 2 2 4 4 5 5
6. Ilmu Pengetahuan Sosial 2 2 3 3 3 3
7. Kerajinan Tangan dan
Ketrampilan 2 2 2 2 2 2 8. Pendidikan Jasmani 2 2 2 2 2 2 B. Muatan lokal : 1. Bahasa Arab - - 2 2 2 2 2. Kemuhammadiyahan - - 1 1 1 1 3. Pembiasaan 1 1 1 1 1 1 4. Bahasa Jawa 2 2 2 2 2 2 5. Bahasa Inggris 2 2 2 2 2 2 6. Math - - 2 2 2 - 7. Science - - 2 2 2 - C. Pengembangan diri
Total Jam Pelajaran 31 31 45 45 45 45
Remidi dan pengayaan umum 2 2 4 4 4 4
Sampai saat penelitian ini ditulis, SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo belum membentuk Tim Pengembang Kurikulum secara resmi. Rancangan pengembangan kurikulum yang disajikan dalam tulisan ini disusun oleh Wakil Kepala Sekolah, Ibu Tri Oktavia Wahyuningsih dan Ibu Zumaroh yang keduanya merupakan guru mata pelajaran Al- Islam.
Tim pengembang kurikulum dibentuk menjelang pelaksanaan tahun ajaran baru. Tim ini terdiri dari pimpinan (kepala sekolah dan wakil sekolah) dan 2 orang guru kelas. Tim bertugas untuk menetapkan garis-garis besar penyusunan kurikulum untuk kegiatan pembelajaran setahun ke depan. Dari hasil rumusan tersebut, kemudian disusun lebih rinci strategi pelaksanaannya secara riil di lapangan oleh semua guru.81