BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, menyebabkan terjadinya globalisasi yang tidak dapat dihindari. Produk iptek yang berupa teknologi industri, sarana transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, dan sebagainya, berdampak pada pesatnya perubahan kehidupan masyarakat menjadi semakin terbuka, semakin mudah dan instant, serba teknologi, dan bersifat global.
Derasnya arus perubahan dan perkembangan masyarakat tersebut berakibat pada besarnya gelombang modernisasi dan globalisasi yang melahirkan kompleksitas dalam segala aspek kehidupan. Hal ini pada gilirannya membawa dampak pada perubahan orientasi kehidupan manusia modern yang semakin materialistik, individualistik, hedonistik, bahkan menjadi semakin permissif terhadap nilai-nilai di masyarakat. Orientasi pola hidup yang demikian ini tidak sedikit membawa konsekuensi pada termarginalkannya nilai-nilai moral dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
(akhlak) yang sempurna sebagaimana risalah Rasulullah s.a.w yang memproklamirkan misi penyempurnaan akhlak.
Penyimpangan terhadap nilai-nilai moral ini menghinggapi hampir seluruh golongan masyarakat. Di dunia internasional, Indonesia termasuk salah satu negara terkorup. Praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme seakan menjadi hal yang sangat biasa, semuanya dilakukan tanpa malu-malu lagi. Belum lagi pertikaian antar etnis ataupun penganut agama yang tak kunjung berakhir. Bahkan dekadensi moral ini juga menjangkiti kaum muda, yang mayoritas adalah pelajar dan mahasiswa. Hal ini dapat dilihat dari maraknya penggunaan narkoba, tawuran antar pelajar, seks bebas, pornografi dan pornoaksi, pembunuhan, dan lain-lain yang sampai saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.
Realitas ini secara langsung ataupun tidak, sangat mempengaruhi kinerja dunia pendidikan. Tudingan masyarakat seringkali diarahkan kepada dunia pendidikan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas masalah ini. Dunia pendidikan Indonesia dianggap belum berhasil menjalankan peran mendasar dalam membentuk budi pekerti peserta didik, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional yang salah satu tujuannya adalah mendidik manusia agar berakhlak mulia.1
belum mampu membina peserta didiknya dengan kualitas berpikir yang andal. Kedua, pendidikan moral dan etika belum mendapat porsi yang selayaknya atau belum dilakukan dengan metode pembinaan yang efektif dan bermakna.2
Merespon hal tersebut, salah satu upaya yang harus dilakukan sekolah adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya pada aspek pendidikan moral yang seringkali terabaikan. Karena sesungguhnya, fungsi pendidikan tidak hanya untuk transfer pengetahuan, tetapi juga transfer nilai (moral). Pendidikan adalah kegiatan yang dilakukan dengan sengaja, seksama, terencana, dan bertujuan yang dilaksanakan oleh orang dewasa dalam arti memiliki bekal ilmu pengetahuan menyampaikannya kepada anak didik secara bertahap.3
Faktanya, pendidikan moral yang selama ini dilaksanakan dalam sistem pendidikan di Indonesia dinilai belum berhasil memperbaiki dan meningkatkan moralitas peserta didik. Hal ini bisa dimaklumi karena materi pendidikan moral atau pendidikan akhlak yang diselipkan dalam mata pelajaran PPKN, agama, atau budi pekerti, pengajarannya hanya sebatas teori tanpa adanya refleksi dari nilai-nilai pendidikan tersebut. Contohnya dapat kita lihat dari teks soal-soal ujian yang lebih banyak menekankan pada aspek kognitif, kemampuan hafalan siswa, tanpa mencerminkan aspek afektif dan psikomotorik. Sehingga siswa hanya memiliki hafalan teori-teori akhlak tanpa memiliki penghayatan, sikap, dan ketrampilan merefleksikan nilai-nilai moral
yang mereka butuhkan untuk menghadapi realita kehidupan di luar pagar sekolah yang sangat kompleks.
Padahal, di era globalisasi, ketika segala sesuatu bisa berubah dengan begitu cepat, dunia pendidikan dituntut untuk tampil lebih cepat dan tanggap dalam merespon dan memecahkan berbagai tantangan baru yang timbul dari perubahan tersebut. Ini berarti bahwa sekolah mempunyai tanggungjawab untuk melawan pengaruh-pengaruh negatif terhadap siswa yang timbul dari masyarakat dan memberikan pengalaman belajar yang edukatif, bukan eksploitatif.4 Hal yang demikian adalah logis mengingat dunia pendidikan
adalah salah satu pranata yang terlibat langsung dalam mempersiapkan masa depan umat manusia. Oleh karena itu pendidikan harus terus mengembangkan strategi dan rencana yang lebih baik untuk mengimbangi arus perubahan pola kehidupan masyarakat, demi memperbaiki moralitas bangsa ini.
Sedangkan dalam Islam, moral sering merupakan terjemahan dari kata akhlak. Akhlak adalah berasal dari bahasa Arab “Akhla>q” merupakan jamak dari “khuluq” yang berarti adat kebiasaan (al-‘a>dah), perangai, tabiat, watak, adab atau sopan santun dan agama. Menurut ulama Salaf, akhlak adalah kemampuan jiwa untuk melahirkan suatu perbuatan secara spontan, tanpa pemikiran atau paksaan. Sering pula yang dimaksud akhlak adalah semua perbuatan yang lahir atas dorongan jiwa berupa perbuatan baik atau buruk.5 Sedangkan menurut al-Syaibany, akhlak adalah kebiasaan atau
4Daniel Tanner and Laurel Tanner, Curriculum Development, (New Jersey: Prentice Hall, Inc., 1995), 257.
sikap yang mendalam dalam jiwa dari mana timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang.6
Upaya peningkatan kualitas pendidikan akhlak sangat perlu dilakukan mengingat beberapa hal, pertama, bahwa siswa adalah generasi penerus yang akan memimpin bangsa dan negara, jika krisis akhlak ini tidak segera diatasi, maka kehancuran bangsa dan Negara bukanlah hal yang mustahil. Kedua, bahwa pembinaan akhlak adalah inti ajaran Islam. Ketiga, bahwa akhlak mulia tidaklah terjadi dengan sendirinya, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama lingkungan keluarga, pendidikan dan masyarakat pada umumnya. Dan keempat, pembinaan akhlak terhadap siswa, yang berada pada usia remaja, amat penting dilakukan mengingat secara psikologis usia remaja merupakan usia yang mudah terpengaruh dan goncang sebagai akibat dari keadaan dirinya yang belum memiliki pengetahuan, mental, dan pengalaman yang cukup, sehingga mudah sekali terpengaruh oleh lingkungan7.
Salah satu langkah meningkatkan kualitas pendidikan akhlak adalah dengan terus menerus mengembangkan kurikulum pendidikan akhlak sesuai kondisi dan kebutuhan masyarakat. Kurikulum adalah aktivitas dan kegiatan belajar yang direncanakan, diprogramkan bagi peserta didik di bawah bimbingan sekolah, baik di dalam maupun di luar sekolah.8 Sedangkan
Ronald Doll mengartikan kurikulum ……all the experiences which are
6Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, t.t.), 319.
7Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2007), 215-217.
offered to learner under the auspices or direction of the school.9 Sedangkan pengembangan kurikulum adalah proses di mana dirancang di dalamnya pengalaman-pengalaman belajar bagi siswa dan dilaksanakan melalui aktivitas-aktivitas yang terkoordinir.10 Hal ini berarti bahwa kurikulum bukan
hanya berupa materi yang disampaikan di kelas, melainkan juga mencakup berbagai pengalaman belajar dan aktivitas-aktivitas yang dirancang bagi siswa, baik di dalam maupun di luar sekolah, dengan pengawasan dari sekolah untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya dalam hal ini adalah untuk tujuan pendidikan akhlak.
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam proses pendidikan di mana kurikulum merupakan salah satu sarana terwujudnya proses pendidikan, sehingga kurikulum sebagai alat hendaknya mampu menjamin tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, kurikulum harus bersifat dinamis dan selalu berkembang agar dapat merespon tuntutan perubahan di masyarakat dan mampu mengatasi segala persoalan yang dihadapi masa sekarang dan masa yang akan datang.11
Penelitian ini akan dilakukan di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo sebagai salah satu sekolah dasar yang berlandaskan kepada nilai-nilai Islam. Sehingga pendidikan akhlak merupakan kurikulum yang harus diterapkan di sekolah tersebut. Sebagai salah satu sekolah unggul di Kabupaten Sidoarjo, 9Ronald Doll, Curriculum Improvement Decision Making and Processes, (t.tp.: Ally and Bacon, 1974), 22.
10Jon Wiles and Joseph Bondi, Curriculum Development A Guide to Practice, (New Jersey: Pearson Education, Inc., 2002), 19.
selayaknya terus digali hal-hal positif yang bisa diterapkan bagi sekolah lain, terutama pada aspek pendidikan akhlak.
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
Pendidikan akhlak merupakan kebutuhan mendesak di era globalisasi. Hal ini disebabkan semakin merosotnya akhlak setiap individu bangsa Indonesia mulai dari anak-anak sampai orang dewasa dalam berbagai jabatan, kedudukan, dan profesinya. Nilai-nilai kejujuran, kebenaran, keadilan, tolong menolong dan kasih sayang sudah tertutup oleh penyelewengan, penipuan, penindasan, dan saling menjegal, dan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya.12
Yang paling mengkhawatirkan adalah kemerosotan akhlak tersebut telah menjangkiti kalangan pelajar sebagai generasi penerus bangsa. Hal ini tentu saja mencoreng kredibilitas dunia pendidikan. Para pelajar yang seharusnya menunjukkan akhlak yang baik sebagai hasil didikan itu, justru menunjukkan tingkah laku yang buruk. Sehingga kemudian patut dipertanyakan di manakah letak fungsi dan peranan sekolah sebagai salah satu penyelenggara dan penanggungjawab pendidikan – di samping keluarga dan masyarakat - dalam meningkatkan akhlak bangsa?
implementasinya, pendidikan akhlak tidak mendapat perhatian yang selayaknya. Kurikulum pendidikan agama yang di dalamnya mencakup pendidikan akhlak, selama ini dianggap tidak berhasil, karena pengajarannya hanya sebatas teori tanpa adanya refleksi dari nilai-nilai pendidikan tersebut. Pendidikan akhlak terlalu banyak menekankan aspek kognitif anak didik -hal ini dapat dilihat dari contoh soal mata pelajaran agama untuk tes-tes di sekolah- dan kurang memberikan tekanan pada aspek afektif dan psikomotorik.13
Kegagalan pendidikan dalam membentuk moralitas peserta didik harus segera diperbaiki dengan terus mengembangkan kurikulum pendidikan akhlak. Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam proses pendidikan di mana kurikulum merupakan salah satu sarana terwujudnya proses pendidikan. Untuk itu yang perlu segera dipikirkan dan dirumuskan sebagai langkah kongkrit dalam mengatasi dan mengantisipasi masalah moralitas di era globalisasi adalah bagaimana mengisi dan memberi muatan kurikulum pendidikan akhlak dan bagaimana metode yang efektif untuk mengimplementasikan kurikulum tersebut. Hal ini mengingat bahwa derasnya arus perubahan di masyarakat menuntut setiap individu memiliki kapasitas yang memadai untuk menyikapi dan menfilter efek negatif yang ditimbulkannya. Sehingga diperlukan muatan pendidikan akhlak serta metode pembelajaran yang efektif, yang dapat mengantarkan peserta didik agar tidak mudah terkontaminasi oleh budaya global.
Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka penelitian ini akan dibatasi pada hal-hal yang menyangkut proses pengembangan kurikulum pendidikan akhlak, muatan kurikulum pendidikan akhlak serta metode yang digunakan dalam implementasi kurikulum pendidikan akhlak.
C. Rumusan Masalah
Berpijak dari latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana proses pengembangan kurikulum pendidikan akhlak di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo?
2. Apa saja muatan kurikulum pendidikan akhlak di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo?
3. Bagaimana cara mengimplementasikan kurikulum pendidikan akhlak yang telah dikembangkan?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
1. untuk mengetahui proses pengembangan kurikulum pendidikan akhlak di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo
3. untuk mengetahui cara mengimplementasikan kurikulum pendidikan akhlak yang telah dikembangkan
E. Kegunaan Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Memberikan sumbangan pemikiran kepada pihak-pihak yang berkecimpung di bidang pendidikan
2. Memberikan alternatif model pengembangan kurikulum pendidikan akhlak bagi institusi pendidikan yang lain
F. Penelitian Terdahulu
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, sampai saat ini tidak ada satupun penelitian baik dalam bentuk buku, skripsi, tesis, maupun disertasi yang menfokuskan pada pengembangan kurikulum pendidikan akhlak bagi siswa tingkat Sekolah Dasar. Demikian halnya belum pernah dilakukan penelitian mengenai kurikulum Pendidikan Islam di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo.
G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
pihak lembaga pendidikan yang menjadi obyek penelitian, guru, siswa, dan orang tua siswa, dengan harapan dapat memperoleh informasi yang kongkrit. Dengan demikian, data dan konsep yang telah ada di lingkungan pendidikan dapat segera diketahui.
Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti suatu kelompok manusia, obyek, sistem pemikiran, ataupun suatu kasus peristiwa pada masa sekarang, bertujuan untuk membuat gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.14
Data yang dikumpulkan lebih banyak merupakan data kualitatif, yaitu data yang disajikan dalam bentuk kata-kata verbal, bukan dalam bentuk angka.15
2. Obyek Penelitian
Obyek penelitian ini adalah kurikulum pendidikan akhlak di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo dan perkembangannya dengan mengambil beberapa informan yang terkait dengan permasalahan penelitian.
3. Metode Pengumpulan Data
a. Wawancara
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diambil melalui wawancara dengan
14Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988), 63.
15Robert L. Bogelan dan Sari Knoop Biklen, Qualitative Research for Education: An Introduction
menggunakan daftar pertanyaan terstruktur dan semi terbuka. Wawancara dilakukan dengan tatap muka agar setiap pertanyaan semi terbuka dapat disampaikan dan memperoleh jawaban atau data secara langsung.
b. Observasi
Observasi yaitu kegiatan mengamati gejala-gejala obyektif yang terkait langsung dengan penelitian, di mana peneliti terlibat langsung dalam observasi tersebut. Metode ini digunakan peneliti untuk mengamati model kurikulum yang diterapkan di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo
c. Dokumentasi
Metode pengumpulan data ini digunakan peneliti dalam upaya menghimpun data yang bersumber dari tulisan (naskah), seperti buku, majalah, peraturan, dokumen sekolah, bank data, dan sebagainya. Data-data yang terkait dengan hal tersebut adalah mengenai sejarah dan profil SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo, sarana pembelajaran dan fasilitas lain yang berhubungan langsung dengan usaha pengembangan kurikulum.
4. Metode Analisis Data
sebagaimana metode yang diketengahkan oleh Miles and Huberman16,
yaitu:
a. Reduksi Data
Reduksi data berkenaan dengan proses penyeleksian, pemfokusan, penyederhanaan, dan perubahan data kasar yang terdapat dalam bentuk tulisan hasil dari catatan lapangan. Reduksi data dilakukan secara terus menerus selama pelaksanaan penelitian yang mengarah pada rancangan penelitian.
b. Display Data
Display data adalah suatu proses pengorganisasian data. Proses ini dilakukan dengan cara membuat matriks, diagram, atau grafik. Penyusunan display data membantu peneliti dalam memahami data dan menganalisisnya, sehingga peneliti dapat dengan mudah menguasai data dan tidak tenggelam dalam tumpukan data yang banyak.
c. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi
Langkah ini dimulai dengan mencari pola, hubungan, hal-hal yang sering muncul, dan sebagainya yang mengarah pada konsep pengembangan kurikulum pendidikan akhlak di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo, kemudian diakhiri dengan menarik kesimpulan sebagai hasil dari temuan di lapang.
H. Sistematika Bahasan
Penelitian ini akan disusun dengan sistematika sebagai berikut: Bab I mengungkapkan Latar Belakang Masalah, Identifikasi dan Batasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Penelitian Terdahulu, Metode Penelitian, dan Sistematika Bahasan.
Bab II memuat landasan teori yang mencakup 2 sub bab, pertama adalah mengenai Pengembangan Kurikulum yang terdiri dari Pengertian Kurikulum dan Pengembangan Kurikulum, Jenis-Jenis Kurikulum, Landasan Pengembangan Kurikulum, Prinsip Pengembangan Kurikulum, dan Model Pengembangan Kurikulum, Implementasi Kurikulum, dan Evaluasi Kurikulum. Kedua, adalah mengenai Pendidikan Akhlak yang terdiri dari Pengertian Pendidikan Akhlak, Materi Pendidikan Akhlak, dan Metode Pendidikan Akhlak.
Bab III memberikan gambaran umum profil SD Muhamadiyah 1 Sidoarjo yang memuat Sejarah Singkat, Visi Misi dan Filosofi Pendidikan, Keadaan Siswa, Keadaan Tenaga Pendidik, Keadaan Sarana dan Prasarana yang dimiliki, Struktur Organisasi Sekolah, Kurikulum Sekolah, Kegiatan Pembelajaran, Kegiatan Penunjang, serta Prestasi-prestasi Siswa.
Pembelajaran Pendidikan Akhlak, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Akhlak, Analisis Data secara keseluruhan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengembangan Kurikulum
1. Pengertian Kurikulum dan Pengembangan Kurikulum
Kurikulum sebagai subject matter atau bahan belajar adalah gambaran kurikulum paling tradisional yang menggambarkan suatu kurikulum sebagai kombinasi bahan untuk membentuk kerangka isi materi
(content) yang diajarkan.17 Konsep inilah yang dipahami oleh kebanyakan
guru ketika ditanya tentang kurikulum sekolah, yaitu sejumlah mata pelajaran atau bahan belajar yang yang diajarkan untuk anak didik.
Kurikulum juga dipahami sebagai seperangkat pengalaman yang telah direncanakan secara khusus dengan cara penulisan.18 Namun, pada
prakteknya, banyak pengalaman yang didapatkan anak didik dari proses belajar yang belum atau tidak direncanakan dalam kurikulum tertulis. Kurikulum inilah yang disebut hidden curriculum.
Salah satu karakteristik kurikulum yang menerima dukungan adalah pendapat bahwa kurikulum sebagai alat reproduksi kultural yakni harus merefleksikan suatu budaya masyarakat tertentu.19 Peranan sekolah
dalam hal ini adalah menyampaikan pengetahuan dan nilai-nilai yang penting untuk digunakan oleh suatu generasi ke arah generasi yang sukses.
17Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum, (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2007), 45. 18Ibid., 46.
Karakteristik kurikulum yang berkembang akhir-akhir ini adalah kurikulum sebagai currere, yang diartikan running of the race, yaitu jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Berbagai penafsiran yang berbeda-beda mengenai kurikulum muncul dari para ahli pendidikan. Namun, dari perbedaan tersebut terdapat kesamaan makna yang mengarah pada kurikulum sebagai suatu usaha untuk mengembangkan peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai.
Fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu, kurikulum mempunyai komponen-komponen penunjang yang saling mendukung satu sama lain. Komponen utama kurikulum adalah tujuan, isi atau materi, organisasi atau strategi, media, dan proses pembelajaran. Sedangkan komponen penunjangnya adalah sistem atau administrasi dan supervisi, pelayanan bimbingan dan penyuluhan, dan sistem evaluasi.20
Komponen tujuan merupakan hal yang paling penting dalam proses pendidikan, yakni hal yang ingin dicapai secara keseluruhan yang meliputi tujuan domain kognitif, domain afektif, dan domain psikomotorik.21
Kurikulum bukan hanya diharapkan dapat mengembangkan kemampuan intelektual atau kecerdasan saja, akan tetapi juga harus dapat membentuk sikap sesuai dengan sistem nilai yang berlaku di masyarakat, serta dapat memberikan ketrampilan untuk dapat hidup di lingkungan masyarakatnya.
Komponen isi dan struktur program atau materi adalah materi yang diprogramkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Isi atau materi yang dimaksud biasanya berupa bidang-bidang studi yang disesuaikan dengan jenis, jenjang, dan jalur pendidikan yang ada.22
Komponen media merupakan sarana dalam proses pembelajaran untuk memudahkan dalam mengaplikasikan isi kurikulum agar lebih mudah dimengerti oleh anak didik. Ketepatan memilih alat atau media merupakan suatu hal yang dituntut bagi seorang pendidik agar materi yang ditransfernya bisa berjalan sebagaimana mestinya, dan tujuan pendidikan dari proses belajar mengajar diharapkan bisa tercapai dengan baik.
Dalam proses belajar mengajar, seorang pendidik perlu memahami suatu strategi. Strategi menunjuk pada suatu pendekatan (approach), metode (method), dan peralatan mengajar yang diperlukan dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran lebih lanjut dapat dipahami sebagai cara yang dimiliki oleh seorang pendidik dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan strategi yang tepat, diharapkan hasil yang diperoleh dalam proses pembelajaran dapat memuaskan baik bagi pendidik maupun bagi anak didik. Namun, penggunaan strategi yang tepat dan akurat sangat ditentukan oleh tingkat kompetensi pendidik.
Untuk melihat sejauh mana keberhasilan dalam pelaksanaan kurikulum, diperlukan evaluasi. Komponen evaluasi berhubungan erat dengan komponen lainnya, sehingga cara penilaian atau evaluasi ini akan
menentukan tujuan kurikulum, materi atau bahan, serta proses belajar mengajar.
Dalam mengevaluasi, biasanya seorang pendidik akan mengevaluasi anak didik dengan materi atau bahan yang telah diajarkan, atau paling tidak, ada kaitannya dengan yang telah diajarkan. Hal ini sangat penting mengingat hasil penilaian tidak jarang menjadi barometer atas keberhasilan proses pendidikan. Lebih lanjut, evaluasi tidak hanya berfungsi untuk mengukur prestasi anak didik, tetapi juga sebagai sumber input bagi perbaikan dan pengembangan kurikulum.23
Sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara sistematis, kurikulum mengemban peranan yang sangat penting bagi pendidikan siswa. Diantara peranan tersebut adalah peranan konservatif, peranan kritis dan evaluatif, dan peranan kreatif. Ketiga peranan tersebut sama pentingnya dan saling berkaitan yang dilaksanakan secara berkesinambungan.24
Pada peranan konservatif, kurikulum bertanggung jawab mentransmisikan dan menafsirkan warisan sosial pada generasi muda. Sekolah sebagai sebuah lembaga sosial dapat memengaruhi dan membina tingkah laku siswa sesuai dengan berbagai nilai sosial yang ada dalam masyarakat. Hal ini seiring dengan hakekat pendidikan yang berfungsi sebagai jembatan antara para siswa selaku anak didik dengan orang
23Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum, 57.
dewasa dalam suatu proses pembudayaan yang semakin berkembang menjadi semakin kompleks.
Namun di sisi lain, sekolah tidak hanya mewariskan kebudayaan yang ada, melainkan juga menilai dan memilih berbagai unsur kebudayaan yang akan diwariskan. Dalam hal ini, kurikulum harus berperan kritis dan evaluatif dengan turut aktif berpartisipasi dalam kontrol sosial dan menghilangkan, memodifikasi, atau memperbaiki nilai-nilai sosial yang telah ada agar sesuai dengan keadaan di masa mendatang.
Kurikulum berperan dalam melakukan berbagai kegiatan kreatif dan konstruktif, dalam artian menciptakan dan menyusun hal yang baru sesuai dengan kebutuhan masyarakat di masa sekarang dan yang akan datang. Untuk membantu setiap individu dalam mengembangkan semua potensi yang ada padanya, maka kurikulum menciptakan pelajaran, pengalaman, cara berpikir, kemampuan, dan ketrampilan baru yang memberikan manfaat bagi masyarakat.25
Pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik. Proses ini berhubungan dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar mengajar, antara lain penetapan jadwal pengorganisasian kurikulum dan spesifikasi tujuan yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan, sumber dan alat pengukur pengembangan kurikulum.
kondisi itu meliputi pengembangan kurikulum oleh seorang guru kelas, pengembangan kurikulum oleh kelompok guru dalam satu sekolah, pengembangan kurikulum melalui pusat guru (teachers center), pengembangan kurikulum pada tingkat daerah, dan pengembangan kurikulum dalam/melalui proyek nasional.26
Dalam mengembangkan suatu kurikulum, banyak pihak yang turut berpartisipasi, yaitu administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli bidang ilmu pengetahuan, guru-guru, dan orang tua murid serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak-pihak tersebut yang secara terus menerus turut terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah administrator, guru, dan orang tua.
Administrator pendidikan terdiri dari direktur bidang pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kepala kantor wilayah, kepala kantor kabupaten dan kecamatan serta kepala sekolah. Kepala sekolah mempunyai wewenang dalam membuat operasionalisasi sistem pendidikan pada masing-masing sekolah. Kepala sekolah ini yang sesungguhnya secara terus menerus terlibat dalam pengembangan dan implementasi kurikulum, memberikan dorongan dan bimbingan kepada guru-guru.
Walaupun guru dapat mengembangkan kurikulum sendiri, tetapi dalam pelaksanaannya sering harus didorong dan dibantu oleh para administrator.27 Administrator lokal harus bekerjasama dengan kepala
sekolah dan guru dalam mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan
26Oemar Hamalik, Evaluasi Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993), 183.
kebutuhan masyarakat, mengkomunikasikan sistem pendidikan kepada masyarakat, serta mendorong pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru di kelas.
Peranan kepala sekolah lebih banyak berkenaan dengan implementasi kurikulum di sekolahnya. Kepala sekolah juga mempunyai peranan kunci dalam menciptakan kondisi untuk pengembangan kurikulum di sekolahnya. Ia merupakan figur kunci di sekolah, kepemimpinan kepala sekolah sangat mempengaruhi suasana sekolah dan pengembangan kurikulum.28
Guru memegang peranan yang cukup penting baik di dalam perencanaan maupun pelaksanaan kurikulum. Dia adalah perencana, pelaksana, dan pengembang kurikulum bagi kelasnya. Sekalipun ia tidak mencetuskan sendiri konsep-konsep tentang kurikulum, guru merupakan penerjemah kurikulum yang datang dari atas. Dialah yang mengolah, meramu kembali kurikulum dari pusat untuk disajikan di kelasnya. Karena guru juga merupakan barisan terdepan pengembang kurikulum maka guru pulalah yang selalu melakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap kurikulum. Peranan guru bukan hanya menilai perilaku dan prestasi belajar muridnya, tetapi juga menilai implementasi kurikulum dalam lingkup yang lebih luas. Hasil penilaian yang demikian akan sangat membantu pengembangan kurikulum, untuk memahami hambatan-hambatan dalam implementasi kurikulum.29
Orang tua juga mempunyai peranan dalam pengembangan kurikulum. Peranan mereka berkenaan dengan dua hal: pertama, dalam penyusunan kurikulum, kedua, dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum, mungkin tidak semua orang tua dapat ikut serta, hanya terbatas pada beberapa orang saja yang cukup waktu dan mempunyai latar belakang yang memadai. Peranan orangtua lebih besar dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam pelaksanaan kurikulum diperlukan kerjasama yang erat antara guru atau sekolah dengan para orang tua murid. Partisipasi orangtua dapat berupa pengamatan yang mereka lakukan terhadap kegiatan belajar anak, dan melaporkan perkembangannya ke sekolah, serta aktif dalam kegiatan yang diadakan oleh sekolah. Peranan orangtua murid seperti ini akan memberikan umpan balik bagi penyempurnaan dan pengembangan kurikulum.
2. Jenis-jenis kurikulum
Dalam menyusun kurikulum, sangatlah tergantung pada asas organisatoris, yakni bentuk penyajian bahan pelajaran atau organisasi kurikulum. Ada tiga pola organisasi kurikulum yang dikenal juga dengan sebutan jenis-jenis kurikulum. Pertama, adalah separated subject
curriculum. Kurikulum ini dipahami sebagai kurikulum mata pelajaran
pelajaran dapat menetapkan syarat-syarat minimum yang harus dikuasai anak didik untuk bisa naik kelas. Biasanya, bahan pelajaran dan textbook merupakan alat dan sumber utama pelajaran.
Kedua, correlated curriculum, dimana sejumlah mata pelajaran dihubungkan antara satu dengan yang lain sehingga ruang lingkup bahan yang tercakup semakin luas. Misalnya, pada pelajaran shalat dapat dihubungkan dengan pelajaran al-Qur’an atau hadits yang berhubungan dengan shalat.
Ketiga, adalah broad fields curriculum atau kadang-kadang disebut kurikulum fusi. Kurikulum ini menghapuskan batas-batas dan menyatukan mata pelajaran yang berhubungan erat. Sebagai contoh, mata pelajaran sejarah, geografi, ilmu ekonomi, dan ilmu politik disatukan menjadi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).30
Jenis kurikulum lainnya adalah kurikulum terpadu (integrated
curriculum) yang merupakan suatu produk dari upaya pengitegrasian
bahan pelajaran dari berbagai macam pelajaran. Integrasi diciptakan dengan memusatkan pelajaran pada masalah tertentu yang memerlukan solusinya dengan materi atau bahan dari berbagai disiplin ilmu atau mata pelajaran.
didik, dan melibatkan anak didik dalam perencanaan pelajaran. Kurikulum terpadu sangat mengutamakan agar anak didik dapat memiliki sejumlah pengetahuan secara fungsional, yaitu mampu memecahkan masalah yang ada, dan mengutamakan proses belajarnya.31
Integrated curriculum mempunyai ciri yang sangat fleksibel dan
tidak menghendaki hasil belajar yang sama dari semua anak didik. Guru, orangtua, dan anak didik merupakan komponen yang bertanggung jawab dalam proses pengembangannya. Di sisi lain, kurikulum ini mengalami kesulitan bagi anak didik, terutama ketika anak didik mengikuti ujian akhir atau tes masuk yang uniform.
3. Landasan Pengembangan Kurikulum
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam seluruh kegiatan pendidikan, menentukan proses pelaksanaan, dan hasil pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam.
Ada beberapa landasan utama dalam pengembangan suatu kurikulum yaitu landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosial budaya, dan landasan perkembangan ilmu dan teknologi.
Filsafat berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu dari kata philos (cinta yang mendalam) dan sophia (kearifan). Dengan demikian, secara harfiah, filsafat diartikan sebagai cinta yang mendalam akan kearifan.32
Dalam batasan modern, filsafat diartikan sebagai ilmu yang berusaha memahami semua hal yang muncul di dalam keseluruhan lingkup pengalaman manusia, yang berharap agar manusia dapat mengerti dan mempunyai pandangan yang menyeluruh dan sistematis mengenai alam semesta dan tempat manusia di dalamnya. Sedangkan dalam istilah yang lebih populer, filsafat sering diartikan pandangan hidup individu atau masyarakat.
Sebagai induk dari semua pengetahuan, filsafat dapat dirumuskan sebagai kajian tentang metafisika, yaitu studi tentang hakikat realitas, epistemologi, yaitu studi tentang hakikat pengetahuan, aksiologi, yaitu studi tentang nilai, etika, yaitu studi tentang hakikat kebaikan, estetika, yaitu studi tentang hakikat keindahan, dan logika, yaitu studi tentang hakikat penalaran.33
Apabila diamati item-item tersebut, tampak filsafat mempunyai jangkauan kajian yang sangat luas. Namun demikian, seseorang tidak perlu mendalami semua bidang filsafat dalam mengembangkan kurikulum. Para pengembang hanya perlu memperhatikan falsafah yang dianut di mana lembaga pendidikan berada, yakni mencakup falsafah
bangsa Indonesia, yaitu falsafah Pancasila, dan falsafah lembaga pendidikan itu sendiri.
b. Landasan psikologis
Kondisi psikologis merupakan karakteristik psiko-fisik seseorang sebagai individu, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk perilaku dalam interaksi dengan lingkungannya.34 Perilaku tersebut
merupakan manifestasi dari ciri-ciri kehidupannya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.
Kondisi psikologis setiap individu berbeda karena perbedaan tahap perkembangannya, latar belakang sosial budaya, juga karena perbedaan faktor yang dibawa dari kelahirannya. Kondisi inipun berbeda pula bergantung pada konteks, peranan, dan status individu di antara individu lainnya. Interaksi yang tercipta dalam situasi pendidikan harus sesuai dengan kondisi psikologis para peserta didik maupun kondisi pendidiknya. Interaksi pendidikan di rumah berbeda dengan interaksi pendidikan di sekolah, interaksi antara siswa dan guru pada sekolah dasar berbeda dengan sekolah lanjutan pertama dan lanjutan atas.
Peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses perkembangannya. Tugas utama pendidikan adalah membantu perkembangan peserta didik secara optimal. Apa yang dididikkan dan bagaimana cara mendidiknya, perlu disesuaikan dengan pola perkembangan anak.
c. Landasan sosial budaya
Pendidikan bukan hanya berfungsi untuk transfer pengetahuan kepada anak didik, lebih dari itu, pendidikan diharapkan mampu memberikan bekal ketrampilan dan nilai-nilai kehidupan yang dibutuhkan anak ketika berbaur dalam masyarakatnya. Anak-anak berasal dari masyarakat, memperoleh pendidikan baik formal maupun non formal dari lingkungan masyarakatnya dan akan diarahkan bagi kehidupan dalam masyarakat pula.
Tujuan umum pendidikan sering dirumuskan untuk menyiapkan generasi muda menjadi orang dewasa anggota masyarakat yang mandiri dan produktif. Hal itu merefleksikan konsep adanya tuntutan individual dan sosial dari orang dewasa kepada generasi muda. Tuntutan individual merupakan harapan orang dewasa agar generasi muda dapat mengembangkan pribadinya sendiri, mengembangkan segala potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Tuntutan sosial adalah harapan orang dewasa agar anak mampu bertingkahlaku, berbuat dan hidup dengan baik dalam berbagai situasi dan lingkungan masyarakat.
kehidupan politik, maupun dari segi-segi kehidupan lainnya.35 Sejalan
dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga ikut berkembang.
Konsep pendidikan bersifat universal, tetapi pelaksanaan pendidikan bersifat lokal, disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat. Karena itulah dalam mengambil suatu keputusan mengenai kurikulum, para pengembang mesti merujuk pada lingkungan atau dunia di mana mereka tinggal, merespon berbagai kebutuhan yang dilontarkan atau diusulkan oleh beragam golongan dalam masyarakat, dan memahami pencantuman nilai-nilai falsafah pendidikan bangsa dan falsafah pendidikan yang berlaku di sekolah.
d. Landasan perkembangan ilmu dan teknologi
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hasil kemampuan berpikir manusia telah membawa umat manusia pada keadaan yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Terciptanya produk-produk teknologi, seperti teknologi komunikasi, transportasi, industri, dan lain-lain, membawa pengaruh yang sangat besar pada semua aspek kehidupan manusia. Di satu sisi, manusia memperoleh banyak kemudahan dan kenyamanan dengan hadirnya teknologi tersebut. Namun di sisi lain, berbagai efek negatif muncul yang justru sangat mencemaskan manusia itu sendiri, seperti masalah kriminalitas, ataupun gesekan antar budaya, bahkan perubahan tatanan nilai di masyarakat.
Munculnya permasalahan baru ini menyebabkan kompleksitas tugas pendidikan yang diemban oleh sekolah. Sekolah bukan hanya bertugas menanamkan dan mewariskan ilmu pengetahuan, akan tetapi juga harus memberi ketrampilan tertentu serta menanamkan nilai dan budi pekerti.
Sesuai dengan perubahan yang sangat cepat itu, maka kurikulum yang berfungsi sebagai alat pendidikan, harus terus menerus diperbarui menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar menjadi nilai yang positif bagi siswa, dan masyarakat pada umumnya.
4. Prinsip Pengembangan Kurikulum
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah. Dalam kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. Suatu kurikulum diharapkan memberikan landasan, isi, dan menjadi pedoman bagi pengembangan kemampuan siswa secara optimal sesuai dengan tuntutan dan tantangan perkembangan masyarakat. Untuk itulah perlu diperhatikan prinsip-prinsip umum dalam pengembangan kurikulum.
a. Prinsip relevansi
tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat.
Kurikulum menyiapkan siswa untuk bisa hidup dan bekerja dalam masyarakat. Apa yang tertuang dalam kurikulum hendaknya mempersiapkan siswa untuk tugas tersebut. Kurikulum bukan hanya menyiapkan anak untuk kehidupannya sekarang tetapi juga yang akan datang.
Kurikulum juga harus memiliki relevansi di dalam yaitu ada kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian, dan penilaian. Relevansi internal ini menunjukkan suatu keterpaduan kurikulum.
b. Prinsip Fleksibilitas
Kurikulum hendaknya memiliki sifat lentur atau fleksibel. Kurikulum mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, di sini dan di tempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda.
Suatu kurikulum yang baik adalah kurikulum yang berisi hal-hal yang solid, tetapi dalam pelaksanaannya memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang anak.
Prinsip kontinuitas adalah prinsip kesinambungan. Perkembangan dan proses balajar anak berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau berhenti-henti. Oleh karena itu, pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas, dengan kelas lainnya, antara satu jenjang pendidikan dengan jenjang lainnya, juga antara jenjang pendidikan dengan pekerjaan.
Pengembangan kurikulum perlu dilakukan serempak bersama-sama, perlu selalu ada komunikasi antara para pengembang kurikulum sekolah dasar dengan SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi.
d. Prinsip Praktis
Maksudnya adalah bahwa kurikulum harus mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. Prinsip ini juga disebut prinsip efisiensi. Betapa pun bagus dan idealnya suatu kurikulum, kalau menuntut keahlian dan peralatan yang sangat khusus dan mahal, maka kurikulum tersebut tidak praktis dan sukar dilaksanakan. Kurikulum dan pendidikan selalu dilaksanakan dalam keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia.
e. Prinsip efektivitas
merupakan penjabaran dari perencanaan pendidikan. Keberhasilan kurikulum akan mempengaruhi keberhasilan pendidikan.36
5. Model Pengembangan Kurikulum
Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta model konsep pendidikan yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam sistem pendidikan dan pengelolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang desentralisasi. Model pengembangan dalam kurikulum yang sifatnya subjek akademis berbeda dengan kurikulum humanistik, teknologis, dan rekonstruksi sosial.
a. Model Tyler
Model pengembangan kurikulum Tyler, dalam bukunya yang berjudul Basic Principles of Curriculum and Instruction, adalah lebih bersifat bagaimana merancang suatu kurikulum sesuai dengan tujuan dan misi suatu institusi pendidikan. Dia menekankan pentingnya upaya pengembangan kurikulum dilakukan secara rasional dan sistematis.37
36Ibid., 151.
Proses pengembangan kurikulum menurut Tyler ada 4, yaitu pertama, menentukan tujuan pendidikan yang ingin dicapai; kedua, menentukan pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa untuk mencapai tujuan tersebut; ketiga, mengorganisasi pengalaman belajar; dan keempat, evaluasi untuk mengetahui tingkat ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan.38
b. Model Taba
Berbeda dengan model yang dikembangkan Tyler, model Taba lebih menitikberatkan pada bagaimana mengembangkan kurikulum sebagai suatu proses perbaikan dan penyempurnaan. Tahapan-tahapan pengembangan kurikulum yang ditawarkan Taba adalah bersifat induktif yaitu diawali dengan mendiagnosis kebutuhan. Hal ini dilakukan agar pengembang kurikulum mempunyai informasi (input) yang cukup pada setiap proses pengembangan kurikulum.
Model pengembangan yang ditawarkan Taba sebenarnya memodifikasi model dasar Tyler agar lebih representatif terhadap pengembangan kurikulum di tingkat sekolah. Menurutnya, ada 7 langkah utama yang harus dilakukan dalam pengembangan kurikulum, yaitu mendiagnosis kebutuhan, menformulasikan tujuan, memilih isi, mengorganisasi isi, memilih pengalaman belajar, mengorganisasi pengalaman belajar, menentukan alat evaluasi dan menguji keseimbangan isi kurikulum.39
38Wina Sanjaya, Kurikulum, 82-87.
Hal yang perlu diperhatikan dalam mendiagnosis kebutuhan adalah diperlukannya data-data yang bersumber dari tuntutan masyarakat di mana siswa akan memanfaatkan hasil pendidikannya, kebutuhan perkembangan siswa yang dilihat dari perkembangan mental dan pengalaman yang telah dimiliki siswa, dan isi bahan pelajaran yang mencakup materi dan metode pembelajaran.40
Langkah-langkah tersebut dilakukan sebagai unit percobaan. Jika eksperimen dinilai layak digunakan maka kurikulum yang telah teruji akan diimplementasikan. Pada tahap ini perlu dipersiapkan kemampuan guru-guru melalui penataran, lokakarya dan lain-lain, serta mempersiapkan fasilitas dan alat-alat sesuai dengan tuntutan kurikulum.41
c. Model Beauchamp
Model ini dikembangkan oleh seorang ahli kurikulum Beauchamp. Dia mengemukakan lima hal dalam pengembangan suatu kurikulum.
Pertama, menetapkan arena atau lingkup wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum tersebut, apakah suatu sekolah, kecamatan, kabupaten, propinsi, atau negara. Pentahapan arena ini ditentukan oleh
40Daniel Tanner dan Laurel Tanner, Curriculum Development, (New Jersey: Prentice Hall, Inc., 1995), 232.
wewenang yang dimiliki oleh pengambil kebijaksanaan dalam pengembangan kurikulum.
Kedua, menetapkan personalia, yaitu siapa-siapa yang turut serta terlibat dalam pengembangan kurikulum. Ada empat kategori orang yang turut berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum, yaitu 1) ahli pendidikan/kurikulum yang ada pada pusat pengembangan kurikulum dan ahli bidang ilmu dari luar, 2) ahli pendidikan/kurikulum dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih, 3) para profesional dalam sistem pendidikan, 4) profesional lain dan tokoh-tokoh masyarakat.
Ketiga, organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum. Langkah ini berkenaan dengan prosedur yang harus ditempuh dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, serta kegiatan evaluasi, dan dalam menentukan keseluruhan desain kurikulum. Beauchamp membagi keseluruhan kegiatan ini dalam lima langkah, yaitu 1) membentuk tim pengembang kurikulum, 2) mengadakan penilaian atau penelitian terhadap kurikulum yang ada yang sedang digunakan, 3) studi penjajagan tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru, 4) merumuskan kriteria-kriteria bagi penentuan kurikulum baru, 5) penyusunan dan penulisan kurikulum baru.
bahan, maupun biaya, serta kesiapan manajerial dari pimpinan sekolah atau administrator setempat.
Langkah yang kelima adalah evaluasi kurikulum. Langkah ini minimal mencakup empat hal, yaitu 1) evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru, 2) evaluasi desain kurikulum, 3) evaluasi hasil belajar siswa, 4) evaluasi keseluruhan sistem kurikulum. Data yang diperoleh dari evaluasi kemudian digunakan bagi penyempurnaan sistem, desain kurikulum, dan prinsip pelaksanaannya.42
d. Model Wheeler
Menurut Wheeler, pengembangan kurikulum merupakan proses yang membentuk lingkaran. Ini berarti bahwa pengembangan kurikulum terjadi secara terus menerus, sistematis atau berurutan, dan tanpa ujung.43 Karena penekanannya terhadap hakikat lingkaran (cycle)
dari elemen-elemen kurikulum maka model ini disebut juga dengan
cycle models.
Elemen-elemen pengembangan kurikulum yang dimaksud terdiri dari 5 langkah, yaitu pertama, seleksi maksud, tujuan, dan sasaran; kedua, seleksi pengalaman belajar; ketiga, menentukan isi atau materi pembelajaran; keempat, mengorganisasikan dan mengintegrasikan pengalaman dan materi pembelajaran; kelima, melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan.44
e. Model Nicholls
42Nana Syaodih, Pengembangan Kurikulum, 163-165. 43Wina Sanjaya, Kurikulum, 94.
Model pengembangan kurikulum Nicholls menggunakan pendekatan siklus seperti model Wheeler. Model Nicholls digunakan apabila ingin menyusun kurikulum baru yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan situasi.
Ada lima langkah pengembangan kurikulum menurut Nicholls, yaitu, analisis situasi, menentukan tujuan khusus, menentukan dan mengorganisasi isi pelajaran, menentukan dan mengorganisasi metode, dan evaluasi.45
Analisis situasi adalah langkah pertama yang harus dipertimbangkan oleh para pengembang kurikulum secara mendetail dan serius agar mereka memahami faktor-faktor yang akan dikembangkan. Di samping itu, dengan masuknya fase analisis situasi ini, diharapkan para pengembang kurikulum juga lebih responsif terhadap perubahan lingkungan dan kebutuhan anak didik.46
f. Model Dynamic Skilbeck
Menurut Skilbeck, model pengembangan kurikulum yang ia namakan model Dynamic, adalah model pengembangan kurikulum pada level sekolah.
Model ini ditujukan untuk setiap guru yang ingin mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan sekolah. Agar proses pengembangan berjalan dengan baik, maka setiap pengembang
45Wina, Kurikulum, 95.
termasuk guru perlu memahami lima elemen pokok yang dimulai dari menganalisis situasi, menformulasikan tujuan, menyusun program, menginterpretasi dan implementasi, serta monitoring, feedback, penilaian, dan rekonstruksi.47
6. Implementasi Kurikulum
Implementasi kurikulum adalah penerapan atau pelaksanaan program kurikulum yang telah dikembangkan dalam dalam tahap sebelumnya, kemudian diujicobakan dengan pelaksanaan dan pengelolaan, sambil senantiasa dilakukan penyesuaian terhadap situasi lapangan dan karakteristik peserta didik, baik perkembangan intelektual, emosional, serta fisiknya. Implementasi ini juga sekaligus merupakan penelitian lapangan (field research) untuk keperluan validasi sistem kurikulum itu sendiri.
Implementasi kurikulum mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu pengembangan program, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi.
a. Pengembangan program mencakup program tahunan, semester atau catur wulan, bulanan, mingguan dan harian. Selain itu ada juga program bimbingan dan konseling atau program remedial
lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik tersebut.
c. Evaluasi proses yang dilakukan sepanjang proses pelaksanaan kurikulum catur wulan atau semester serta penilaian akhir formatif dan sumatif mencakup penilaian keseluruhan secara utuh untuk keperluan evaluasi pelaksanaan kurikulum.
Implementasi kurikulum dipengaruhi oleh tiga faktor,yaitu:
a. Karakteristik kurikulum, yang mencakup ruang lingkup bahan ajar, tujuan, fungsi, sifat, dan sebagainya.
b. Strategi implementasi, yaitu strategi yang digunakan dalam implementasi kurikulum, seperti diskusi profesi, seminar, penataran, lokakarya penyediaan buku kurikulum, dan berbagai kegiatan lain yang dapat mendorong penggunaan kurikulum di lapangan.
c. Karakteristik pengguna kurikulum, yang meliputi pengetahuan, keterampilan, serta nilai dan sikap guru terhadap kurikulum dalam pembelajaran.48
Dalam pengimplementasian kurikulum diperlukan komitmen semua pihak yang terlibat, dan didukung oleh kemampuan profesional seperti guru sebagai salah satu implementator kurikulum. Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi proses implementasi kurikulum di antaranya faktor guru, faktor siswa, sarana prasarana, serta faktor lingkungan.49
Guru adalah komponen terpenting dalam implementasi kurikulum. Peran guru dalam suatu pembelajaran tidak hanya sebagai model atau teladan bagi siswa, tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran. Dengan demikian, efektivitas proses pembelajaran sangat tergantung pada guru. Oleh karenanya, guru dituntut mempunyai kualitas atau kemampuan yang memadai untuk mengimplementasikan kurikulum.
7. Evaluasi Kurikulum
Sebagai suatu bagian dari sistem evaluasi pendidikan sekolah, secara fungsional evaluasi kurikulum juga merupakan bagian dari sistem kurikulum. Sistem kurikulum memiliki tiga fungsi pokok, yaitu pengembangan kurikulum, pelaksanaan kurikulum dan evaluasi efek sistem kurikulum.
Evaluasi merupakan kegiatan yang luas, kompleks, dan dilakukan terus menerus untuk mengetahui proses dan hasil pelaksanaan sistem pendidikan dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Evaluasi juga meliputi rentangan yang cukup luas, mulai dari yang bersifat informal sampai dengan yang sangat formal. Pada tingkat yang informal, evaluasi kurikulum berbentuk perkiraan, dugaan atau pendapat tentang perubahan yang telah dicapai oleh program sekolah. Pada tingkat yang lebih formal evaluasi kurikulum meliputi pengumpulan dan pencatatan data, sedangkan pada tingkat yang sangat formal berbentuk pengukuran berbagai bentuk kemajuan ke arah tujuan yang telah ditentukan.50
Evaluasi kurikulum minimal berfokus pada empat bidang, yaitu evaluasi terhadap penggunaan kurikulum, desain kurikulum, hasil dari siswa, dan sistem kurikulum. Umpan balik dari evaluasi akan memulihkan vitalitas berbagai bagian dari sistem kurikulum. Seleksi dan pengorganisasian pihak-pihak pengembang kurikulum, prosedur penyusunan, pengaturan dan pelaksanaan kurikulum, fungsi koordinator dalam tim penyusun, pengaruh tingkat guru dan kondisi pengajaran terhadap kurikulum, semuanya perlu dievaluasi dan hasilnya dapat memperbaiki sistem kurikulum secara keseluruhan.51
Luas atau sempitnya suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuannya. Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk menilai keseluruhan sistem kurikulum atau hanya komponen-komponen tertentu dalam kurikulum tersebut.
Apabila dikategorikan secara sifat, terdapat dua macam evaluasi, yaitu evaluasi formatif dan sumatif. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang diberikan sesudah satu kegiatan belajar diselesaikan yang bertujuan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang kualitas proses pembelajaran tersebut. Evaluasi dituntut dilaksanakan sejak awal dan sepanjang proses pengembangan kurikulum. Adapun evaluasi sumatif diberikan menyelesaikan kegiatan belajar dalam satu periode tertentu yang bertujuan untuk mengumpulkan data atau informasi mengenai taraf penyerapan siswa terhadap pelajaran yang telah diberikan.52
51Oemar Hamalik, Dasar-Dasar, 254.
B. Pendidikan Akhlak
1. Pengertian Pendidikan Akhlak
Pendidikan berasal dari kata didik yang mendapat awalan pen- dan akhiran –an, dan bearti perbuatan, hal, cara, dan sebagainya mendidik, pengetahuan tentang mendidik, dan berarti pula pemeliharaan, latihan-latihan dan sebagainya yang meliputi badan, batin, dan sebagainya.53
Pendidikan juga bisa diartikan usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek rohaniah dan jasmaniah berlangsung setahap demi setahap.54
Dalam Islam, akhlak menepati posisi sangat penting. Akhlak dalam
Lisa>n al-’Arab tertulis ”akhla>q” yang diartikan sebagai agama55.
Pemaknaan ini menunjukkan bahwa mengajarkan agama kepada anak didik berarti menanamkan nilai-nilai moral pada mereka. Al-Ghazali berpendapat bahwa akhlak harus menetap dalam jiwa, perbuatan itu muncul dengan mudah tanpa memerlukan pemikiranterlebih dahulu.
Senada dengan al-Ghazali adalah apa yang dikemukakan oleh Ibn Miskawaih (320-421 H/932-1030 M) dalam Tahdhi>b al-Akhla>q. Menurutnya, akhlak adalah keadaan jiwa yang menyebabkan seseorang bertindak tanpa dipikirkan terlebih dahulu, ia tidak bersifat rasional, atau dorongan nafsu56.
53W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), 763. 54H.M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), 11.
55Abi> al-Fad}l Jama>l al-Di>n Muh}ammad, Lisa>n al-‘Arab, Jil. 10, (Beirut:
Da>r al-Fikr, 1990), 86.
Demikian halnya dengan al-Syaibany yang mengartikan akhlak sebagai kebiasaan atau sikap yang mendalam dalam jiwa darimana timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah. Menurutnya, akhlak dalam Islam bersifat universal atau menyeluruh, seimbang yang berarti bahwa Islam memberi hak bagi setiap segi dan meletakkannya pada tempat yang seharusnya. Selain itu, akhlak juga bersifat menghargai berbagai kebutuhan manusia dan segala tuntutan hidup, serta sederhana dan tidak berlebihan.57
Menurut Abudin Nata, yang disebut moral mempunyai ciri-ciri diantaranya perbuatan tersebut telah mendarah daging sehingga menjadi identitas orang yang melakukannya, perbuatan tersebut dilakukan dengan mudah serta tanpa memerlukan pikiran lagi, perbuatan tersebut dilakukan dengan kemauan sendiri tanpa adanya paksaan dari luar, perbuatan tersebut dilakukan dengan sebenarnya, bukan karena berpura-pura, dan perbuatan tersebut dilakukan atas dasar lubuk hati karena Allah.58
Akhlak dalam istilah lain muncul dengan sebutan moral, etika, dan susila. Etika adalah ilmu yang menjelaskan arti baik buruk, tindakan yang harus dilakukan manusia terhadap yang lain, tujuan yang akan dicapai, dan jalan yang akan ditempuh. Etika bisa disebut filsafat yang mencoba menggali hakekat sesuatu dan juga mengarahkan orientasi dalam setiap
57Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, ter. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, t.t.), 319.
58Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia,
perilaku moral sehingga kita bisa mempertanggungjawabkan kehidupan kita dan tidak ikut-ikutan dalam bersikap begini atau begitu.59
Padanan istilah ini mengandung maksud yang sama, yakni sama-sama menentukan hukum atau nilai baik buruk suatu perbuatan yang dilakukan manusia. Baik akhlak maupun istilah yang lain menginginkan terwujudnya masyarakat yang baik, teratur, aman, damai yang berujung pada kesejahteraan lahir dan batin60. Kesamaan pengertian istilah ini dapat
diambil dari sudut substansi pemaknaan secara universal.
Adapun yang membedakan akhlak dengan etika, moral, dan susila adalah terletak pada sumber yang dijadikan rujukan dalam melakukan penilaian terhadap sesuatu menjadi baik atau buruk. Jika etika digali berdasarkan pendapat akal pikiran, moral atau susila mengacu pada kebiasaan (adat) yang berlaku umum di masyarakat, maka akhlak bersumber dari ketentuan al-Qur`an dan al-Hadith. Dalam ungkapan lain dapat dikatakan bahwa etika merupakan produk akal, moral atau susila sebagai produk budaya, sedangkan akhlak sebagai produk wahyu61.
Pendidikan moral (pendidikan akhlak) merupakan tema yang menjadi perdebatan di kalangan para tokoh filsafat. Perdebatan tersebut sudah terjadi sejak zaman Hellenis (Yunani Kuno), seperti Socrates (469-399 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Seperti pernyataan Meno kepada Socrates sebagai berikut:
59Rahmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2004), 17. 60Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), 97.
Socrates, apakah moral itu bisa diajarkan, atau hanya bisa dicapai melalui praktek sehari-hari? Seandainya melalui pengajaran dan praktek tidak bisa dicapai, apakah nilai moral bisa dicapai secara alamiah atau dengan cara lain?
Pernyataan Meno di atas sampai sekarang masih diperdebatkan terutama di kalangan ahli psikologi dan filsafat moral. Pernyataan tersebut pada masa sekarang dirumuskan sebagai berikut:
Apakah pendidikan moral diartikan dengan pendidikan tentang moral, atau apakah dimaksudkan agar manusia belajar menjadi manusia yang bermoral?62
Pernyataan tentang pendidikan moral yang terus diperdebatkan para tokoh filsafat etika telah memberikan perhatian terhadap perlunya pendidikan moral. Sampai saat ini, pendidikan moral masih tetap relevan untuk dibahas guna memperkuat bangunan moral dalam pranata kehidupan umat manusia. Pernyataan tersebut akan berpengaruh pada isi dan metode penyajian pendidikan moral serta dengan sendirinya berpengaruh pula pada kurikulum sekolah.
Bagi Socrates, pendidikan moral adalah suatu proses rasional63.
Dengan demikian, seseorang melakukan perbuatan buruk karena ia tidak mengerti tentang kebaikan atau hanya orang yang tidak mengerti akan melakukan kesalahan.
62Nurul Zuriah, Pendidikan Moral dan Budi Pekerti Dalam Perspektif Perubahan: Menggagas
Platform Pendidikan Budi Pekerti secara Kontekstual dan Futuristik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 21.
Adapun Aristoteles menganggap bahwa seseorang tidak cukup hanya mengetahui masalah moral, tetapi harus pula melakukannya secara berulang sehingga menjadi kebiasaan. Menurutnya, pendidikan moral itu seperti halnya seni yang memerlukan 3 bagian, yaitu pembawaan, kebiasaan, pengetahuan. Pembawaan merupakan potensi diri sebagai dasar untuk membentuk perilaku yang dapat dilatih untuk melakukan kebaikan. Kebiasaan merupakan hasil dari potensi yang dilatih melakukan kebaikan sehingga menjadi karakter. Pengetahuan yang bersifat rasional diperlukan untuk menentukan mana perbuatan baik atau buruk64.
Abdullah Ulwan mendefinisikan pendidikan akhlak sebagai keutamaan tingkah laku yang harus dilakukan anak didik yang diusahakan dan dibiasakan sejak kecil hingga dewasa. Adapun definisi lain mengatakan bahwa pendidikan akhlak adalah upaya penanaman, pengembangan, dan pembentukan akhlak mulia dalam diri anak. Pendidikan ini tidak harus menjadi pelajaran khusus, akan tetapi menjadi suatu dimensi dari seluruh usaha pendidikan secara terintegrasi65.
Dengan demikian, beberapa definisi di atas menunjukkan bahwa akhlak/moral anak dapat ditumbuhkan, dibentuk, dan dikembangkan melalui proses pendidikan.
Sementara di Indonesia, jika ditelaah berbagai nilai-nilai budaya yang tercantum dalam Pancasila, UUD 1945, GBHN, dan beragam Undang-Undang Pendidikan, maka pengertian pendidikan moral di
64Ibid., 320-321.
Indonesia dimaksudkan agar manusia belajar menjadi bermoral yang tujuannya adalah agar seseorang mampu menyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Oleh karena itu, pada tahap awal, perlu dilakukan pengondisian moral dan latihan moral untuk pembiasaan.
Namun ada pula paham yang beranggapan bahwa pendidikan moral adalah pendidikan tentang moral, yang akan mengutamakan penalaran moral dan pertumbuhan intelegensi. Dalam pendidikan ini, diterapkan penalaran moral dan konflik kognitif dalam membicarakan moral sehingga akan melatih siswa dalam melakukan pilihan dan penilaian moral yang paling tepat.
Akhlak adalah nilai-nilai hidup manusia yang sungguh-sungguh dilaksanakan bukan karena sekadar kebiasaan, tetapi berdasar pemahaman dan kesadaran diri untuk menjadi baik. Nilai-nilai ini hanya dapat diperoleh melalui proses yang berjalan sepanjang hidup manusia. Maka dari penanaman sikap dan nilai hidup dapat diberikan pada pendidikan formal yang direncanakan dan dirancang secara matang. Upaya tersebut mencakup penentuan nilai-nilai apa saja yang akan diperkenalkan, metode dan kegiatan apa saja yang dapat digunakan untuk menanamkan nilai-nilai tersebut. Dan hal ini harus dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan perkembangan kejiwaan anak.
Pemahaman mengenai arti pendidikan moral akan ikut menentukan isi pendidikan. Bagi pengikut paham yang mengartikan pendidikan moral untuk menjadikan seseorang bermoral, maka isi pendidikan merupakan pilihan yang paling tepat untuk mengantarkan seseorang hidup bermasyarakat. Bahan pendidikan yang diperkirakan tidak sesuai dengan tujuan moral, atau yang sifatnya tabu, bersinggungan dengan masalah SARA, tidak akan dimasukkan dalam kurikulum.
Bagi paham yang beranggapan bahwa pendidikan moral sebagai pendidikan tentang moral, penyusunan isi pelajaran hampir tidak ada pembatasan. Bahan pelajaran bisa diambil dari berbagai cabang ilmu pengetahuan dan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Isi pelajaran lebih banyak menekankan aspek kognitif sehingga pada akhirnya akan mengembangkan moral kognitif. Namun, penyusunan bahan seperti ini bisa mengakibatkan transfer negatif yang menimbulkan pilihan sikap yang negatif pula bagi siswa. Hal ini bisa terjadi jika guru kekurangan bahan dan pengetahuan dalam membahas suatu topik yang problematis.
berperasaan lemah lembut, seperti berbuat baik pada anak yatim dan fakir miskin.66
Jika merujuk pada ayat al-Quran yaitu,
"اًرْيِثَك َا َرَكَذ َو َرِخ ْلا َمْوَيْلا َو َا وُجْرَي َناَك ْنَمِل ٌةَنَسَح ٌةَوْسُأ ِا ِلْوُسَر يِف ْمُكَل َناَك ْدَقَل"67
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”68
maka pada ayat tersebut menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah teladan bagi umat manusia maka sesungguhnya materi akhlak adalah tergambar pada diri beliau yaitu yang tertera secara keseluruhan dalam al-Qur’an, sebagaimana pernyataan Aisyah R.A., istri Rasulullah SAW yang ditanya tentang bagaimana akhlak beliau, ia mengatakan
“ka>na khuluquhu> al-Qur’a>n” (akhlak beliau adalah
al-Qur’an). Maka menjadi kewajiban pendidik untuk mengkaji secara
mendalam isi al-Qur’an untuk menemukan materi-materi akhlak pada diri Rasulullah SAW, satu-satunya teladan bagi umat manusia. Di samping itu, pendidik juga dapat menggunakan realitas-realitas di masyarakat sebagai materi pendidikan akhlak.
3. Metode Pendidikan Akhlak
66‘Abdulla>h ‘Ulwa>n, Tarbiyah al-Awla>d f> al-Isla>m, Juz 1, (Beirut: Da>r
al-Sala>m, 1978), 180.
67al-Qur’an, 33 (al-Ahzab): 21.
Pendidikan akhlak sangatlah luas cakupannya, sehingga sesuatu yang tidak mungkin manakala pendidikan akhlak hanya menjadi tanggung jawab guru. Seluruh kegiatan guru, orang tua, masyarakat, dan negara diharapkan membantu dalam pencapaian tujuan pendidikan akhlak.
Sekolah sebagai salah satu institusi yang bertanggung jawab terhadap pendidikan akhlak, dianggap berada di barisan terdepan untuk melaksanakan pendidikan akhlak. Untuk itu, sekolah selalu dituntut untuk terus mengembangkan dan memperbaiki upaya pendidikan akhlak, terutama dari segi materi dan metode pembelajarannya agar dapat menghasilkan output siswa yang berkualitas dan berakhlak mulia sebagaimana tujuan pendidikan nasional pada umumnya.
Menurut Abdullah Ulwan, metode pendidikan anak yang efektif adalah mencakup 5 metode yaitu dengan keteladanan, pembiasaan, nasehat, perhatian, dan hukuman. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Muhammad Quthb dalam bukunya Manhaj al-Tarbiyah al-Isla>miyyah yang ditambahkan dengan metode bercerita dan pemberian pengalaman.
Keteladanan merupakan metode pendidikan yang dianggap paling efektif dalam membina akhlak anak dan membentuk kepribadian dan kemampuan sosialnya. Karena sebaik apapun model pendidikan yang diberikan, anak tidak akan berperilaku baik jika dia tidak melihat pendidiknya berperilaku baik pula.69 Pendidik yang dimaksud bukan hanya
69‘Abdulla>h ‘Ulwa>n, Tarbiyah al-Awla>d f> al-Isla>m, Juz 2, (Beirut: Da>r
terbatas pada guru, tetapi juga mencakup orang tua, keluarga, dan masyarakat pada umumnya.
Metode lainnya dalam pendidikan anak adalah dengan memberikan nasehat. Metode ini digunakan sebagai bentuk antisipasi terhadap perkembangan jiwa anak yang terus berubah dan memiliki kecenderungan untuk berbuat coba-coba dan melawan nilai-nilai yang ada di masyarakat.70
Dalam kondisi seperti ini, memberikan keteladanan saja tidak cukup sehingga harus menyertakan metode nasehat dengan memperhatikan cara penyampaian dan penggunaan kalimat yang sesuai.
Jika keteladanan dan nasehat tidak berpengaruh pada anak, maka dapat digunakan metode pemberian hukuman, meskipun ini bukanlah metode yang banyak dianjurkan dalam pendidikan anak serta tidak dapat diterapkan pada setiap anak.71 Sebelum pendidik memutuskan untuk
memberikan hukuman, pendidik harus mendahulukan memberikan nasehat dan mengajak anak berbuat baik dengan penuh kesabaran. Sehingga pemberian hukuman benar-benar menjadi cara terakhir untuk mendidik anak.
Pendidikan anak juga dapat diberikan melalui metode bercerita. Hal ini mengingat pada jiwa anak terdapat kecenderungan untuk menyukai cerita. Di samping itu, cerita juga dapat memberikan pengaruh yang tertanam dalam hati. Materi cerita yang disampaikan berupa cerita sejarah yang menyebutkan secara detail tempat, pelaku, dan kejadiannya, seperti 70Muh}ammad Qut}b, Manhaj al-Tarbiyah al-Isla>miyyah, juz 1, (Kairo: Da>r