PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
A. Penyajian Data
3. Strategi dan Proses Pembelajaran Pendidikan Akhlak
Tahap ini merupakan tahap keseluruhan kegiatan proses pembelajaran yang dialami siswa untuk mencapai target kompetensi yang dituangkan pada indikator-indikator. Proses ini bertujuan agar anak didik mampu mengalami, menjalani, dan mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam proses pembelajaran akhlak digunakan pendekatan
integrated study, active learning, dan pendekatan individual.
Metode integrated study dimaksudkan bahwa dalam pembelajaran akhlak, guru tidak hanya menyampaikan materi yang tertulis pada kurikulum saja, akan tetapi menghubungkannya dengan materi lain yang dapat menambah pengkayaan kemampuan anak didik. Di samping itu ditekankan pula aspek-aspek yang mengarah pada pembentukan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hal ini meliputi:
a. Aspek keimanan, yaitu memberikan peluang kepada anak didik untuk mengembangkan pemahaman adanya Allah sebagai sumber kehidupan makhluk sejagat ini;
b. Pengamalan, yaitu memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mempraktekkan pendidikan akhlak dalam menghadapi tugas dan masalah kehidupan sehari-hari;
c. Pembiasaan, yaitu mengarahkan anak didik untuk membiasakan sikap dan prilaku baik yang sesuai dengan ajaran Islam;
d. Rasional, yaitu memberikan kesempatan kepada anak didik untuk memahami dan membedakan perilaku baik dan buruk dalam kehidupan di masyarakat;
e. Fungsional, yaitu menyajikan kepada anak didik semua manfaat dari materi pendidikan akhlak dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas; f. Emosional, yaitu upaya melatih dan menggugah emosi (perasaan) anak
didik dalam menghayati perilaku yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa;
g. Keteladanan, yaitu menjadikan figur semua guru dan karyawan sekolah muapun orangtua sebagai teladan dalam berkepribadian Islam.
Metode active learning adalah suatu strategi pembelajaran yang berbasis student centered yang dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Penggunaan metode ini diharapkan dapat memperkuat dan memperlancar stimulus dan respon anak didik dalam pembelajaran sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan dan tidak membosankan.
Pada penelitian ini penulis mengambil contoh pembelajaran akhlak di kelas VI.
a. Materi silaturrahim
Metode yang digunakan pada materi ini adalah eksplorasi diri, dan diskusi. Guru meminta kepada anak didik untuk menuliskan kegiatan
mereka selama liburan di buku masing-masing. Guru juga menuliskan kegiatannya selama liburan di papan tulis dengan memberi tanda pada kegiatan yang bernilai silaturrahim. Guru kemudian menjelaskan tentang kegiatan silaturrahim dan meminta kepada anak didik untuk mengidentifikasi kegiatan yang telah mereka catat yang termasuk dalam kegiatan silaturrahim. Pada akhir pembelajaran, guru mengajak anak didik untuk berdiskusi mengenai keuntungan silaturrahim.
b. Materi Ukhuwah Islamiyah
Strategi pembelajaran pada materi Ukhuwah Islamiyah adalah dengan memainkan game yaitu siswa diajak memperagakan permainan ‘gendong dengan tangan’ di depan kelas. Dari pengamatan siswa terhadap permainan tersebut, siswa diminta menuliskan kesimpulan dari game tersebut sesuai dengan pendapatnya sendiri. Setelah itu siswa diajak bermain bersama-sama sebuah permainan ‘saling pencet hidung’. Siswa mencatat pengalaman yang dirasakannya selama permainan tersebut. Pada akhir sesi, siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai hikmah keseluruhan permainan sesuai dengan materi pelajaran. Kemudian guru memberikan tugas kepada siswa untuk menghafal dalil Ukhuwah Islamiyah yaitu:
77"مُكْيَوَخَأ َنْيَبا ْوُحِلْصَأَف ٌةَوْخِإ َنْوُنِمْؤُمْلا اَمّنِإ"
c. Menghindari sikap acuh tak acuh, dzalim, dan merusak 77al-Qur’an, 49 (al-Hujurat): 10.
Materi-materi ini disampaikan dengan metode sosio drama, yaitu guru memainkan sebuah drama yang menggambarkan sikap acuh tak acuh, dzalim, dan merusak untuk membangkitkan reaksi siswa terhadap perilaku guru seperti itu. Misalnya, pada materi ‘Menghindari sikap acuh tak acuh’, guru melakukan tindakan yang akan menimbulkan reaksi siswa, tetapi guru tidak menghiraukannya (acuh tak acuh). Kemudian guru mendiskusikan kejadian tersebut dengan siswa. Setelah siswa memahami sosio drama tersebut, siswa diminta menyimpulkan sikap yang dilakukan guru serta memberikan pendapat tentang apa yang sebaiknya dilakukan guru. Kemudian guru memberikan penjelasan kepada siswa dengan membaca puku paket.
Sosio drama yang diperankan guru pada materi ‘Menghindari sikap dzalim’ yaitu guru meminta kepada petugas piket kelas untuk membersihkan kelasnya. Setelah itu guru membuat kotor kelas untuk membuat siswa bereaksi. Dari kejadian tersebut, siswa membuat catatan dan kesimpulan masing-masing. Kemudian guru mengajak siswa membahasnya dengan acuan buku paket. Pada akhir sesi, siswa diminta menghafal hadits yang artinya“sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”.
Sedangkan untuk materi ‘Menghindari sikap merusak’ disampaikan dengan metode praktek dan penjelasan. Di awal sesi, guru mengingatkan kembali siswa dengan slogan ‘bersih pangkal sehat’, ‘kebersihan sebagian dari iman’. Kemudian guru membagi siswa
menjadi beberapa kelompok dan mengajak siswa membersihkan kelas dan lingkungan sekitarnya. Setelah kegiatan tersebut, guru menjelaskan mengenai sikap menjaga lingkungan dan mengajak siswa membaca buku paket.
Selain metode integrated learning dan active learning, juga digunakan metode pendekatan individual yang dilakukan oleh guru terhadap siswa tertentu. Metode ini dilakukan dengan cara memberikan perhatian berupa pujian atau teguran kepada siswa yang berhasil menunjukkan perilaku positif atau pun kepada siswa yang dianggap bersalah dan melakukan sikap tidak terpuji. Metode ini diterapkan agar siswa langsung mendapatkan respon yang sesuai dari guru tentang segala tindakannya.
Pendekatan individual ini tidak hanya dilakukan ketika siswa berada di lingkungan sekolah saja, melainkan juga ketika siswa berada di rumah dengan cara guru menanyakan melalui telepon, sms, atau media lain tentang kegiatan siswa, di antaranya ibadah dan perilaku lainnya, baik kepada siswa ataupun melalui orangtua. Dengan metode ini, siswa secara tidak langsung akan belajar dari perilaku-perilaku yang ditunjukkannya sehari-hari.
Pendidikan akhlak tidak hanya disampaikan melalui proses belajar di dalam kelas, namun juga diimplementasikan dalam aktivitas siswa di luar kelas. Untuk menunjukkan rasa hormat pada guru, siswa dibiasakan bersalaman dengan guru ketika tiba di sekolah dan pada waktu pulang
sekolah. Saat akan memasuki kelas, siswa akan berbaris di depan kelas dengan teratur untuk melatih sikap kedisiplinan dan kerapian. Piket kelas diterapkan untuk melatih kemampuan siswa dalam menjaga kebersihan serta menumbuhkan tanggung jawab terhadap diri dan lingkungannya. Serta beberapa aktivitas lain seperti, berdo’a sebelum dan setelah belajar, bersikap jujur ketika terlambat datang di sekolah dengan melaksanakan konsekuensi berdo’a sendiri di depan kelas, dan lain-lain.
Pemilihan strategi pembelajaran dilakukan pada rapat guru yang diadakan setiap Sabtu. Pada rapat tersebut dibahas evaluasi sekolah selama seminggu dan rencana kegiatan pada pekan selanjutnya, termasuk membahas strategi pembelajaran tiap mata pelajaran. Jika dibutuhkan alat atau sarana untuk proses pembelajaran, maka hal ini akan disiapkan oleh guru mata pelajaran secara kolektif. Hal ini dilakukan agar terdapat keseragaman dalam metode pembelajaran antar kelas dan mata pelajaran yang sama.
Buku acuan pendidikan akhlak yang dipakai di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo adalah buku mata pelajaran Aqidah Akhlak yang disusun oleh Tim MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) SD/MI Muhammadiyah Sidoarjo. Buku yang khusus dipakai untuk SD/MI Muhammadiyah ini direvisi tiap tahun oleh Tim MKKS sesuai kurikulum yang diterapkan. Selain itu juga digunakan bahan lain yang relevan untuk pembelajaran yang dikembangkan oleh tiap guru mata pelajaran.