• Tidak ada hasil yang ditemukan

Muchit A Karim

Dalam dokumen Peta Penelitian Budaya di Lingkungan Bal (Halaman 111-115)

Peneliti Puslitbang Kehidupan Keagamaan

Sumarah dengan pimpinan yang disebut Pengurus Besar dipimpin seorang priyayi Yogyakarta bernama dr. Soerono Projohoesodo dan berkedudukan di Yogyakarta. Dengan segala keterbatasannya, fungsi organisasi waktu itu masih belum dapat optimal dan terfokus pada pengembangan kehidupan spiritual Sumarah. Ketika itu organisasi lebih menekankan pada bimbingan kelompok kanoman (generasi muda) yang berorientasi pada “sujud ing harep nafsu” dan kelompok kesepuhan agar dapat melaksanakan “sujud ing rasa jiwa” untuk mencapai tingkat-tingkat keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa.

Pada awal perjuangan Orde Baru (1966-1970) Organisasi Sumarah mulai menggeliat dengan melakukan pada pendekatan penguasa. Waktu itu kepengurusan dipindahkan ke Jakarta, dengan sebutan Dewan Pimpinan Pusat Sumarah di bawah komando Trio Pimpinan Aryamurti, Sidoyono, dan Pranyoto. Mulai saat itu Pengurus Organisasi Sumarah (organisasi memasuki ranah politik dibawah kendali Aryamurthi, seorang tokoh intelektual, birokrat sekaligus tokoh politik. Sumarah mulai berjuang mengangkat posisinya melalui kancah politik. Ia ingin menghimpun Aliran Kepercayaan di Indonesia, dengan membentuk Badan Karyawan Kerohanian/ Ketabiban/Kejiwaan Indonesia (BK5I), secara kelembagaan kelompok ini berada dibawah kendali Paguyuban Sumarah, dan secara politis melekat pada partai besar kala itu, yakni Golongan Karya. Pada saat itulah Sumarah menjadi besar dan dibesarkan pengaruhnya sampai ke daerah-daerah, lebih besar lagi tatkala Zahid Hussein masuk kepengurusan Sumarah pada periode 1970-1974. Ia menjadi ketua bidang organisasi dan pengembangan, dikenal sebagai orang Istana, kepercayaan Presiden Soeharto. Dia menduduki beberapa jabatan atau posisi strategis sangat berpengaruh di kalangan istana serta birokrasi pemerintah, karena dia dikenal dekat dengan presiden Soeharto. Tak heran jika pada bulan Desember 1970 di bawah komando Arymurthi, Soetjipto dan Zahid Hussein diselenggarakan Munas Kepercayaan yang melahirkan Sekretariat Kerjasama Kepercayaan (SKK). Pada dekade ini Sumarah mencapai puncak kejayaannya dan menyebar hampir ke seluruh pulau Jawa.

Ketika itu di Indonesia telah terbentuk kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah di 11 daerah, yakni Jakarta, Bandung, Semarang, DI. Yogyakarta, Surabaya, Solo, Nganjuk dan Magelang. Sumarah pada waktu itu mempunyai sekitar 8.000 orang anggota. Sedangkan di Yogyakarta jumlah anggota Sumarah diperkirakan 499 orang, terdiri 57 orang wanita dan 342 pria.

Dalam kepengurusan 3 orang pendekar Sumarah Arymurthi, Soejipto dan Zahid Hussein, telah mencapai prestasi yang sangat monumental dengan dibangunnya Pendopo Sumarah yang terletak di tempat kediaman alm. R. Ng. Sukino Hartono ditandai dengan Suryosengkolo Noto Kaweruh Sanggen Manggul (1935), yang dilaksanakan oleh Sukino. Pendopo Sumarah tersebut disamping sebagai monumen peringatan ajaran Sumarah, juga berfungsi sebagai pusat kegiatan ritual dan organisasi Sumarah; Terbentuknya Sekretariat Kerjasama Kepercayaan yang dapat menghimpun dan merupakan potensi bagi para Penghayat Kepercayaan Seluruh Indonesia; Keberhasilan memperjuangkan terbentuknya Direktorat Pembinaan Penghayatan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang bernaung di bawah Dirjen Kebudayaan Departemen P & K pada tahun 1978. Kata Arymurthi terbentuknya Direktorat tersebut merupakan petunjuk Warono Perintis Bapak Soekino Hartono (alm), bahwa penghayatan Sujud Sumarah pada Tuhan Yang Maha Esa merupakan manifestasi budaya batin tertinggi.

Diera reformasi prestasi semacam itu nampak mulai meredup karena Indonesia di era ini sebagai negara plural baik etnik maupun agama telah menjatuhkan pilihan sebagai negara demokrasi berdasarkan hukum, yang menuntut penyelesaian perbedaan dengan dialog didasarkan pada akal sehat, menghormati perbedaan, berkeyakinan sebagai sunnatullah.

Sebagai negara yang sedang melakukan konsolidasi demokrasi, dinamika kehidupan keagamaan di Indonesia nampaknya sedang mencari bentuk, seluruh perubahan yang disulut reformasi dibutuhkan kedewasaan. Betapapun aliran kepercayaan lokal seperti

Sumarah” sulit untuk didefinisikan sebagai agama (samawi), yang kelahirannya bisa disebabkan oleh pelbagai ketidakpuasan dalam menghadapi modernisasi, kebutuhan untuk mempertahankan identitas dan sejenisnya, tetapi keberadaan “Sumarah” merupakan bagian dari nano-nano kepercayaan di Nusantara yang kehadirannya dapat memperkaya moralitas kehidupan bangsa. Oleh karena itu dalam rangka memahami, meredupnya Paguyuban Sumarah diera reformasi ini, menjadi kebutuhan yang mendesak dilakukan rekonstruksi (penelitian) terhadap kelompok ini dalam upaya menciptakan kehidupan keagamaan yang harmonis.

Secara garis besar studi ini akan merekonstruksi dinamika perkembangan Paguyuban Sumarah pada era sebelum dan pasca reformasi, baik internal maupun eksternal. Dalam dinamika internal dikaji bagaimana Paguyuban Sumarah mengalami penyesuaian diri, dalam mempertahankan eksistensi dan dalam dinamika eksternalnya dikaji seberapa jauh faktor-faktor eksogen, khususnya respon terhadap kebijakan pemerintah menyangkut tidak adanya keharusan bagi penganut kepercayaan mencantumkan agama dalam KTP, atau belum termasuk respon pemerintah daerah maupun organisasi keagamaan dimaksudkan untuk mempermudah merumuskan masalah sehingga era konsolidasi demokrasi menjadi dasar pijakan perubahan itu (internal-eksternal).

Dengan begitu masalah yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut: a) Perubahan apa saja yang terjadi pada Paguyuban Sumarah di era reformasi, baik yang disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal; b) Bagaimana strategi adaptasi keberadaan Paguyuban Sumarah dalam menanggapi berbagai perubahan, berkaitan dengan kebijakan pemerintah maupun sikap agama resmi; c) Sejauhmana Paguyuban Sumarah menanggapi berbagai kebijakan pemerintah menyangkut eksistensinya, dan respon agama lokal maupun penyelenggara negara (pemerintah daerah) terutama pemangku kepentingan (baca: kelompok mainstrim).

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk menjadi sebuah rekomendasi kepada Pimpinan Kementerian Agama dalam

melayani dan membina keyakinan paham keagamaan lokal terutama untuk mewujudkan kerukunan intern Islam, dan antarumat beragama.

Penelitian ini akan mengkaji beberapa aspek kajian meliputi perkembangan faham keagamaan Paguyuban Sumarah, bentuk perubahannya penyebab kebertahanannya, pengaruhnya di masyarakat dan perhatian pemuka agama, masyarakat dan pemerintah dalam melakukan pembinaan dan pelayanan kepada komunitas Paguyuban Sumarah.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam bentuk studi kasus.

Dalam dokumen Peta Penelitian Budaya di Lingkungan Bal (Halaman 111-115)