• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanggapan Masyarakat dan Pemerintah

Dalam dokumen Peta Penelitian Budaya di Lingkungan Bal (Halaman 72-77)

Sikap masyarakat misalnya seperti dari umat Islam atau Hindu, sangat menerima kepada para penganut paham Buda Sasak yang memilih agama Buddha sebagai keyakinannya.

Pihak pemerintah memberikan penyuluhan mengenai program keluaga berencana (KB), pertanian/peternakan, kesehatan dan tentang Undang-undang Perkawinan. Dari hasil pendekatan pemerintah dengan memberikan penyuluhan tersebut, lambat laun membawa hasil, mereka sudah ada yang mengerti tentang masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Bahkan kini tampak adanya kemajuan dalam berpartisipasi terhadap program yang dicanangkan pemerintah, termasuk dalam memberikan pendidikan keluarga.

Bagi masyarakat dan pemerintah daerah tidak menjadikan masalah kepada masyarakat penganut paham Buda Sasak yang telah memeluk agama Buddha, meskipun masih melakukan tradisi keagamaan Buda Sasak. Karena baginya tradisi itu merupakan norma yang harus dipelihara dan dijaga dan tidak boleh dilanggar bahkan tetap diwarisi secara turun temurun.

Analisis

Paham Buda Sasak bukanlah bagian dari ajaran agama Buddha, tetapi paham yang bertumpu pada anasir animisme, dinamisme, panteisme dan antropomorfisme. Oleh sebab pemujaan dan penyembahannya ditujukan kepada roh-roh leluhur yang merupakan fokus utama dari praktek keagamaan. Para penganut paham Buda Sasak di kecamatan Tanjung masih melakukan tradisi nenek moyangnya, meskipun kini sudah memeluk agama Buddha. Bahkan dalam praktik kehidupan keagamaan sehari-harinya mereka lebih dekat dengan masyarakat yang beragama Islam. Bila bertemu dengan orang atau sahabatnya yang beragama Islam, mereka mendahului mengucapkan kalimat “assalamualaikum”.

Umat Buddha yang berada di Desa Tegal Maja kecamatan Tanjung adalah asli etnik Sasak, dimana dalam kehidupan sehari-hari tak pernah ada permasalahan menyangkut keyakinan meskipun ada yang berbeda agama dalam keluarga, mereka saling menghargai dan menghormati, tolong menolong tanpa melihat identitas agamanya.

Ketika komunikasi dengan dunia luar sudah semakin intens, terjadi perubahan sosial budaya yang sangat cepat. Sebagai pemeluk

agama Buddha, sudah ada yang jadi Bikhsu, pegawai dan sebagainya. Jumlah pemeluk agama Buddha sekitar 20.000-an tersebar di KLU dan di setiap kampung sudah ada viharanya.

Sejak tahun 1970 masyarakat Buda Sasak, sudah menjadi Buddha karena ajakan dari tokohnya, antara lain Sudiasim, Tawilan, Martinom kini sudah ada pelajar tamatan SLTA yang dikirim ke Srilangka untuk mengikuti pendidikan menjadi bikhsu. Semua siswa yang dikirim untuk mendalami ajaran agama Buddha sepenuhnya di biayai oleh Perwalian Umat Buddha yang berada di Mataram atau dari Walubi Pusat. Para penganut paham Buda Sasak di KLU saat ini umumnya sudah secara resmi dan tertulis dalam KTPnya sebagai pemeluk Buddha.

Umumnya masyarakat awam, belum memahami ajaran Buddha. Meskipun pembinaan keagamaan berjalan dengan baik dan lancar, setiap hari Minggu di vihara diselenggarakan kegiatan meditasi (sembahyang) ±15 menit ditambah ceramah. Ajaran Buddha dalam kitab Tripitaka (Tiga Keranjang), tidak dikenal sama sekali oleh masyarakat penganut paham Buda Sasak.

Mengenai hubungan antarumat beragama, sampai saat ini tidak pernah terjadi konflik sosial, keadaannya cukup harmonis dan tolerans. Menurut keterangan Kepala KUA kecamatan Tanjung, ternyata hampir tiap bulan ada wanita dari penganut agama Buddha yang kawin dengan pria Islam, dan tidak ada reaksi penolakan atau hambatan dari pihak orang tua wanita.

Pelayanan pemerintah berupa penyuluhan, semakin meningkat, mengenai program keluaga berencana (KB), pertanian, peternakan, kesehatan dan tentang Undang-undang Perkawinan.

Penutup

Penganut paham Buda Sasak dalam menjalankan praktik ritualnya tidak mencerminkan ajaran agama Buddha. Perpindahannya tidak terlepas karena adanya kemiripan nama dari Buda tanpa dh menjadi Buddha dengan dh.

Setelah era reformasi terjadi perubahan internal karena penganut paham Buda Sasak telah menjadi pemeluk agama Buddha. Perubahan eksternal terjadi setelah peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965. Namun demikian sering terjadi perpindahan agama dari BUddha ke Islam yang dilakukan secara perorangan terutama melalui perkawinan.

Pemerintah tidak mem permasalahkan umat untuk melaksanakan acara tradisi yang diajarkan para leluhurnya, meskipun sudah memeluk agama Buddha, sebab dalam melaksanakan ritual ajaran agama Buddha masih pasif. Karena selama ini yang banyak mengetahui dan memahami ajaran Buddha hanya para tokoh- tokohnya. Dalam pencantuman identitas agama di KTP sebutan sebagai penganut paham Buda Sasak sudah tidak ada, yang tertulis sebagai penganut Buddha.

Studi ini merekomendasikan beberapa hal, diantaranya: a) Diharapkan kepada para bhikku dan bhikkuni, untuk memberikan bimbingan keagamaan secara intensif, agar lebih maksimal. b) Kepada pemerintah daerah sebaiknya lebih memperhatikan dan mempertimbangkan lagi untuk pengangkatan tenaga guru agama Buddha di NTB dengan status PNS karena yang ada selama ini masih merupakan guru agama honorer.

Daftar Pustaka

Arzaki, Jalaluddin. 2001. Kearifan Budaya Lokal Suku Bangsa Sasak Dalam Menciptakan Kehidupan Yang Harmonis, Sebuah Kajian Antropologis­ Sosiologis. Mataram Relawan Demokrasi dan Ham (REDAM). Moleong, Lexy, J, 2000, Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda

Karya.

Saiful, Muslim. et.al, 1996, Hasil Penelitian Paham Keagamaan Buda Sasak di Lombok Barat, dalam Direktori Penelitian Aliran, Paham dan Gerakan Keagamaan di Indonesia. Surabaya: IAIN Sunan Ampel.

Tim, 1996, Hasil Laporan Penelitian Faham Buda di Lombok BaratFakultas Tarbiyah Mataram, Surabaya: IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Zuriah, Nurul, 2006, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori

Abstract

This study was conducted in the old Amparita, the District of Tellu Limpoe, Sidenreng Rappang (Sidrap). The adherents are the Bugis people who have their own beliefs and rituals besides the six recognized religions in Indonesia. In the New Order (Orde Baru) era, Towani Tolotang was served by the government under the auspices of the Director General of Mass Guidance (Bimas) of Hinduism, even though the big day celebration is mostly similar to that of the Muslims. Although, not as vast as the six recognized religions in Indonesia, the existence of Towani Tolotang still

exists until this time, and experiences significant

growth,

Keywords: belief system, indigenous peoples, Bugis ethnic.

Dalam dokumen Peta Penelitian Budaya di Lingkungan Bal (Halaman 72-77)