• Tidak ada hasil yang ditemukan

Resepsi Agama di dalam Budaya Politik

Dalam dokumen Peta Penelitian Budaya di Lingkungan Bal (Halaman 100-104)

Oleh karena sistem kepercayaan mayoritas penduduk Yogyakarta adalah Islam, ajaran Islam pun dilaksanakan dengan warna dan corak khas masyarakatnya yang sarat dengan nuansa sejarah, budaya lokal, konsep kosmologi, dan pranata masa lampau. Sebagaimana diakui oleh Gubernur DIY, proses Islamisasi masyarakat di Yogyakarta masih berlanjut hingga masa kini. Hubungan antara agama dan budaya bersifat dialogis, saling meminjam, dan bahkan diakronik dan sinkronik. Demikian dapat dilihat resepsi agama Islam ke dalam budaya penduduk lokal sebagai proses memperkaya, transformasi,

transportasi, heterodoksi hingga akulturasi, dan inkulturasi. Dengan demikian melalui penelitian ini telah digali upaya pemahaman masyarakat Yogyakarta terhadap ajaran dan ritual keagamaan. Melalui pendekatan resepsi telah dilakukan pemberian makna bagi suatu ritus dan merefleksikannya sebagai suatu pembahasan sosiologis-antropologis. Di samping itu, akan jelas terlihat peresapan dan penyerapan teks keagamaan melalui kajian historis dan filologi. Fakta sosial, budaya, norma, dan hasil bacaan merupakan metodologi menemukan hubungan fungsional agama dan budaya.

Planologi kota Yogyakarta dipercaya oleh Kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai yang mencerminkan perjalanan hidup manusia di dunia menuju akhirat, dan sultan adalah pembina umat. Oleh karena itu, Keraton, Masjid Ghede, Masjid Patoknegoro, Pasar Bringharjo, Tugu Golong Gilik, dan lain sebagainya adalah lingkungan kesultanan yang dibangun atas dasar Islam. Berikut ini Planologi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dari Gunung Merapi hingga Laut Selatan.

Adapun tentang keberadaan dimensi agama di dalam aspek kenegaraan tercermin pada planologi Keraton dan kedudukan sultan sebagai pelaksana hukum Allah Ta’ala. Terdapat garis lurus visioner yang menghubungkan antara Laut Selatan dan Gunung Merapi, dan di tengah-tengah terdapat Keraton. Hal ini berarti bahwa dengan perantara Keraton manusia dapat menempuh perjalanan ke alam baqa melalui bimbingan sultan. Garis lurus ini dimulai di sebelah utara dari Panggung Krapyak, kemudian dilanjutkan ke selatan melalui kawasan Siti Hinggil, lalu ke Keraton, dan di akhir tibalah di Tugu Golong Gilig. Akhir perjalanan manusia adalah bersatu dengan Tuhan. Tugu ini sekarang bernama Monumen Yogya Kembali. Garis lurus masih dilanjutkan hingga Turgo di Samudra Hindia.

Di Sekitar Alun-alun Utara terdapat 63 pohon beringin. Bilangan ini berasal dari usia Rasulullah saw. Oleh karena itu, jumlah pohon harus tetap, jika ada yang tumbang, maka harus ditanam gantinya. Terdapat sembilan pintu masuk Keraton; hal ini menunjukkan ada sembilan lubang yang ada di tubuh manusia. Pentingnya Alun-

alun dalam kehidupan manusia adalah karena menjadi tempat para remaja mengaktualisasikan diri. Kemudian mereka akan menempuh margi utomo atau as­sirath al­mustaqim yang sudah dilambangkan dengan adanya garis lurus dari utara ke selatan. (GBPH Joyokusumo, “Sangkan Paraning Dumadi Manunggaling Kawulo Gusti”, Bahan presentasi, 2009). http://id.mc773.mail.yahoo.com/mc/welcome?. gx=1&.tm=1306337663&.rand=e8nc37l4va7m1 - _ftn10.

Termasuk di dalam planologi Keraton Ngayogyakarta keberadaan terowongan dari Keraton ke hutan di Krapyak untuk keluar berburu kijang. Kini terowongan ini sudah tidak ada karena di atasnya sudah dibangun rumah dan gedung. Masih banyak spiritualis Jawa yang ingat sejarah Keraton dengan baik dan memberikan penafsiran yang Islami terhadap struktur dan budaya Keraton.

Benda-benda pusaka yang disimpan di Keraton mempunyai lambang yang bersumber dari piwulang agung. Di samping itu, masyarakat Yogyakarta melalui pengamatan perilaku mereka, terlihat bahwa Keraton kini terbuka untuk praktek keagamaan inovatif, seperti budaya sema’an, bukhoren, dan mujahadah akbar. Pengamatan selanjutnya dilakukan untuk kondisi alam dan lingkungan, khususnya Desa Argomulyo dan Bantul. Dari sinilah dikumpul keterangan tentang kehidupan manusia yang menjalankan budaya dan ritus keagamaan yang diyakini sesuai dengan ajaran leluhur.

Upacara adat Jawa yang sempat diliput di kawasan Desa Argomulyo, Sleman, adalah tari gambyong (selamat datang), ketoprak, wayang kulit, budoyo wiwit, gunungan, tedak siti, dan rangkaian lengkap upacara perkawinan. Masyarakat desa terlihat sangat bangga akan budaya yang ditampilkan; termasuk para ibu dan bapak yang sehari- harinya bertani, mengajar, dan profesi lainnya.

Adapun kawasan Imogiri adalah lingkungan budaya di mana proses dan peristiwa budaya mistis-politis Keraton Yogyakarta berlangsung. Di Pemakaman raja-raja Mataram ini terdapat makam 24 raja, tempat ibadah, tempat tinggal, tempat usaha, tempat berkumpul

masyarakat yang tersebar di wilayah DIY. Di tempat ini terdapat Peraturan dan “undang-undang” yang berlaku di Imogiri adalah yang dikeluarkan oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Walaupun beberapa di antaranya ada yang menyalahi aturan umum dari agama Islam. Misalnya, Sultan Hamengkubuwono X yang sedang berkuasa tidak diperkenankan mengunjungi kawasan pemakaman, para pengunjung perempuan bisa masuk ke lingkungan makan Sultan Agung hanya dengan mengenakan pakaian tradisional Jawa/kemben, dan juru kunci kawasan pemakaman yang ditetapkan oleh Sultan dapat memberi batu akik yang terbuat dari tongkat Sultan Agung untuk keselamatan orang yang diberi. Namun demikian, aturan tersebut di atas tidak berlaku di bulan Ramadan karena kawasan ini ditutup.

Sistem sosial-politik di Yogyakarta telah pula mengalami perubahan mencolok. Konsep Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat masih dipegang teguh pada sistem monarki dan mengharuskan jabatan gubernur DIY dipegang oleh sultan. Kini Yogyakarta telah mempersiapkan diri untuk menjadi Serambi Madinah. (Jurnal Ulama, April 2010).

Dengan adanya karakter Serambi Madinah ini, ajaran Islam diupayakan bisa berdialog dengan lokalitas yang sudah mendarah- daging dengan masyarakat. Berkat keterbukaan masyarakat dalam menerima kebudayaan baru, pada akhirnya dua kebudayaan yang berbeda itu bisa berakulturasi dengan baik tanpa menimbulkan konflik serius. Terbukti dengan adanya tahlilan dan pembacaan doa- doa Islam dalam pelaksanaan upacara di Keraton dan masyarakat awam, dan kebudayaan lokal seperti penggunaan garebegan dan sesaji yang diartikan bersedekah kepada yang kurang mampu.

Di Keraton tidak ada gereja dan hanya boleh satu masjid, yakni Masjid Gedhe di barat Alun-alun Utara. Peran Keraton besar dalam proses Islamisasi. Sesuai dengan pendapat Mark Woodward, yang telah menulis disertasi tentang Keraton Yogyakarta, Islam telah kembali ke Keraton. Buktinya adalah adanya upacara keagamaan yang sering dilakukan oleh pihak Keraton dan merupakan inisiatif dari

kalangan Keraton, Sultan dan keluarganya. Mark juga mendukung adanya planologi Keraton Yogyakarta yang menjadi petunjuk jalan menuju Allah dan mewujudkan tarekat atau jalan menuju pensucian diri. Dengan demikian, Mark ingin mengatakan bahwa keislaman terpancar dari Keraton. Ia menamakan teorinya dengan normative theory. Ia membantah pendapat Cliffort Geertz yang menyatakan bahwa budaya Jawa adalah yang melandasi filososi hidup di Keraton Yogyakarta. (Wawancara dengan Prof. Dr. Mark Woodward, pada tanggal 1 Agustus 2010 di Lobby Hotel Mutiara, Jalan Malioboro Yogyakarta).

Dukungan terhadap sistem dan budaya politik yang ada di Yogyakarta dapat dilihat di dua kampus besar yang dimilikinya. Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dan Universitas Gajah Mada (UGM) dijadikan tempat melacak sumber bacaan dan praktek budaya tradisional. Ketua Lembaga Penelitiannya sangat penting, sehingga didapat gambaran yang jelas tentang betapa kaya literatur Jawa, baik dalam bentuk manuskrip maupun penetilian tesis dan disertasi yang dilakukan oleh para peneliti dan pengajarnya. Kampus merupakan barometer dari perubahan sosial-keagamaan. Di samping itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) cabang DIY berperan penting dalam merumuskan masa depan corak dan praktek keagamaan Keraton dan masyarakat Yogyakarta.

Yogyakarta sebagai Prototipe Akulturasi Islam dalam

Dalam dokumen Peta Penelitian Budaya di Lingkungan Bal (Halaman 100-104)