• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Rukun dan Syarat Talak

2. Nafkah Idah

Fuqaha telah sepakat bahwa perempuan yang berada dalam masa idah talak raj’i masih berhak mendapat nafkah dan tempat tinggal. Begitu juga halnya perempuan yang hamil, berdasarkan firman Allah SWT. berkenaan istri yang ditalak raj’i, dan istri-istri yang ditalak dalam keadaan hamil:

َّنُهوُنِكْسَأ

َلَع اوُقِ يَُِتِل َّنُهو ُّراَُِت َلَ َو ْمُكِدْج ُو ْنِم ْمُتْنَكَس ُثْيَح ْنِم

ۚ َّنِهْي

َّنُك ْنِإ َو

لْمَح ِت َلَوُأ

َُ ْرَأ ْنِ َف ۚ َّنُهَلْمَح َنْعََِي ٰىَّتَح َّنِهْيَلَع اوُقُِْنَأَف

َنْع

َّنُه َروُجُأ َّنُهوُتآَف ْمُكَل

Artinya: “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin”.

Kemudian fuqaha berselisih pendapat tentang nafkah idah bagi istri yang menjalani idah karena talak ba’in. Hanafi mengatakan, “wanita tersebut berhak atas nafkah, baik dia hamil atau tidak, dengan syarat dia tidak meninggalkan rumah yang disediakan oleh suaminya yang menceraikannya guna menjalani idah.59

Maliki berpendapat, “kalau wanita tersebut tidak hamil dia berhak atas nafkah berupa tempat tinggal saja, tetapi bila sedang hamil dia berhak atas nafkah dalam segala bentuknya dan haknya atas nafkah tidak menjadi gugur

57 Indar, “Iddah dalam Keadilan Gender”, Pusat Studi Gender STAIN Purwokerto, vol.5,

no.1, (Januari-Juni, 2010), h. 7.

58 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia Antara Munakahat dan

Undang-undang Perkawinan, cet.2, h. 307.

dengan keluarnya mereka dari rumah, sebab nafkah tersebut diperuntukan bagi bayi yang dikandungnya dan bukan lagi wanita yang mengndungnya. Syafi’i dan Hambali berpendapat, “wanita tersebut tidak berhak atas nefkah idah maupun tempat tinggal bila dia tidak hamil dan apabila dia hamil maka berhak atasnya nafkah berupa tempat tinggal dan segala bentuknya. Tetapi syafi’i mengatakan bahwa kalau wanita tersebut keluar dari rumah tanpa adanya kebutuhan yang tak terhindarkan, maka gugurlah hak atas nafkah idah itu. Mazhab Imamiyah tidak mengategorikan fasakh akad sama dengan talak ba’in. Mereka berpendapat bahwa orang yang menjalani idah akibat fasakh nya akad, baik dia hamil atau tidak, dia tetap berhak atas nafkah.60

3. Mut’ah

Mut’ah dalam istilah fikih dimaksudkan sebagai suatu pemberian dari suami kepada istri akibat terjadinya perceraian, sebagai penghibur atau ganti rugi.61 Menurut jumhur fuqaha, mut‘ah adalah pemberian yang bertujuan untuk menyenangkan hati istri.62 Mazhab Syafi’i mengartikan mut‘ah sebagai harta yang wajib dibayar oleh suami untuk istrinya yang diceraikan dalam kehidupan dengan perceraian serta apa yang memiliki makna yang sama dengan beberapa persyaratan. Sedangkan mazhab Maliki mengartikan sebagai kebaikan untuk perempuan yang diceraikan ketika terjadi perceraian dalam kadar sesuai dengan jumlah sedikit dan banyaknya harta si suami.63

Para ulama sepakat bahwa memberikan mut’ah atau kenang-kenangan itu tidak diwajibkan untuk setiap istri yang ditalak. Tetapi menurut ulama-ulama mazhab Zhahiri, memberikan mut’ah wajib untuk setiap istri yang ditalak. Menurut sebagaian ulama, memberikan mut’ah itu sunah, bukan wajib. Imam Malik setuju pada pendapat ini. Menurut Imam Abu Hanifah, mut’ah wajib diberikan kepada setiap wanita yang dicerai sebelum dicampuri, dan suami belum menentukan maskawin untuknya. Menurut Imam Syafi’i, mut’ah

60 Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Madzhab, h. 402.

61 M. Bagir Al-Habsyi, Fiqih Praktis (Bandung: Mizan 2002), h. 230.

62 Ibnu Rusyd. Bidâyatul Mujtahid wa Nihâyatul Muqtashid Jilid 2. Penerjemah Abdul Rasyad Shiddiq, h. 551.

63 Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami Wâ Adilatuhu, Penerjemah Abdul Hayyie al-Kattani, Fiqih Islam 9, h. 285.

wajib diberikan kepada setiap istri yang dicerai jika pemutusan pernikahan datang dari pihak suami, kecuali untuk istri yang telah ditentukan maskawinnya dan ditalak sebelum dicampuri. Mayoritas ulama setuju pada pendapat ini.64 Imam Abu Hanifah berpedoman pada firman Allah SWT. surat al-Baqarah )2): 236:

ُج َلَ

َِي ِرَف َّنُهَل اوُُ ِرَُْت ْوَأ َّنُهوُّسَمَت ْمَل اَم َءاَسِ نلا ُمُتْقَّلَط ْنِإ ْمُكْيَلَع َ اَن

ۚ ًة

ىَلَع َو ُه ُرَدَق ِاِسوُمْلا ىَلَع َّنُهوُعِ تَم َو

َلَع اًّقَح ِفو ُرْعَمْلاِب اًعاَتَم ُه ُرَدَق ِرِتْقُمْلا

ى

َنيِنِسْحُمْلا

Artinya: “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan hendaklah kamu berikan suatu mut'ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan”.

4. Rujuk

Rujuk atau dalam istilah hukum disebut raja’ah secara arti kata berarti “kembali”. Orang yang rujuk kepada istrinya berarti kembali kepada istrinya. Sedangkan definisinya dalam pengertian fikih menurut al-Mahalli ialah:

ْلا

َر

َُّ ِا

َّل

ِ نلا ى

َك

ِ ا

ِم

ْن

َط

َلً

ِق

َغ

ْي

َر

َب

ِئا

ِن

ِف

ْلا ى

ِع

َّد

ِة

Artinya: "kembali ke dalam hubungan perkawinan dari cerai yang bukan ba’in, selama dalam masa idah".

Sedangkan rujuk menurut para ulama mazhab ialah sebagai berikut:65

a. Hanafiyah, rujuk adalah tetapnya hak milik suami dengan tanpa adanya pengganti dalam masa idah, akan tetapi tetapnya hak milik tersebut akan hilang bila habis masa idah.

b. Malikiyah, rujuk adalah kembalinya istri yang dijatuhi talak, karena takut berbuat dosa tanpa akad yang baru, kecuali bila kembalinya tersebut dari

64 Ibnu Rusyd, Bidâyatul Mujtahid wa Nihâyatul Muqtashid Jilid 2, Penerjemah Abdul Rasyad Shiddiq, h. 205.

65Abdurrahman Al-Jaziri. Kitâb al-Fiqh ‘ala Mazâhib al-Arba’ah, Juz IV. Penerjemah Moh. Zuhri, Fikih Empat Mazhab. h. 377-378.

talak ba’in, maka harus dengan akas baru, akan tetapi hal tersebut tidak bisa dikatan rujuk.

c. Syafi’iyah, rujuk adalah kembalinya istri ke dalam ikatan pernikahan setelah dijatuhi talak satu atau dua dalam mas aidah. Menurut golongan ini bahwa istri diharamkan berhubungan dengan suaminya sebagaimana berhubungan dengan orang lain, meskipun suami berhak merujuknya dengan tanpa kerelaan. Oleh karena itu rujuk menurut golongan Syafi’iyah adalah mengembalikan hubungan suami istri ke dalam ikatan pernikahan sempurna.

d. Hambali, rujuk adalah kembalinya istri yang dijatuhi talak selain talak ba’in kepada suaminya dengan tanpa akad, baik dengan perkataan atau perbuatan (bersetubuh) dengan niat ataupun tidak.

Dalam satu sisi rujuk itu adalah membangun kembali kehidupan perkawinan yang terhenti atau memasuki kembali kehidupan pernikahan. Kalau membangun kehidupan pernikahan pertama kali disebut pernikahan, maka melanjutkan disebut rujuk. Hukum rujuk demikian ulama berbeda pendapat. Jumhur ulama mengatakan bahwa rujuk itu adalah sunah,66 dalil yang digunakan jumhur ulama itu adalah firman Allah SWT. dalam surat al-Baqarah (2): 229:

َت ْنَأ ْمُكَل ُّل ِحَي َلَ َو ۗ ناَسْحِ ِب ٌُي ِرْسَت ْوَأ فو ُرْعَمِب ٌكاَسْمِ َف ِناَت َّرَم ُق َلًَّطلا

اوُذُخْأ

َّنُهوُمُتْيَتآ اَّمِم

َّلََأ اَفاَخَي ْنَأ َّلَِإ اًئْيَش

َميِقُي َّلََأ ْمُتُْ ِخ ْنِ َف ِهَّللا ََوُدُح اَميِقُي

ِهَّللا ََوُدُح ا

َعَتَي ْنَم َو ۚ اَهوُدَتْعَت َلًَف ِهَّللا َُوُدُح َكْلِت ۗ ِهِب ْتَدَتْفا اَميِف اَمِهْيَلَع َ اَنُج َلًَف

ِهَّللا ََوُدُح َّد

َنوُمِلاَُّلا ُمُه َكِئَٰلوُأَف

Artinya: “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu

66 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia: Antara Fiqih Munakahat

melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim”.

Ibnu Rusyd membagi hukum rujuk kepada dua, yaitu hukum rujuk pada talak raj’i dan hukum rujuk pada talak ba’in:

a. Hukum rujuk pada talak raj’i

Kaum muslimin telah sependapat bahwa suami mempunyai hak merujuk istri pada talak raj’i, selama istri masih berada pada masa idah, tanpa mempertimbangkan persetujuan istri,67 berdasarkan firman Allah SWT. pada surat Al-Baqarah (2): 228:

ُتاَقَّلَطُمْلا َو

ِف ُهَّللا َقَلَخ اَم َنْمُتْكَي ْنَأ َّنُهَل ُّل ِحَي َلَ َو ۚ ءو ُرُق َةَث َلًَث َّنِهِسُُْنَأِب َنَِّْب َرَتَي

َّنِهِماَح ْرَأ ي

َّنُك ْنِإ

َل َو ۚ اًح َلًْصِإ اوَُا َرَأ ْنِإ َكِلَٰذ يِف َّنِهِ َ َرِب ُّقَحَأ َّنُهُتَلوُعُب َو ۚ ِر ِخ ْ ا ِم ْوَيْلا َو ِهَّللاِب َّنِمْؤُي

ُلْثِم َّنُه

يِذَّلا

َّنِهْيَلَع

ٌميِكَح ٌٌي ٌَِع ُهَّللا َو ۗ ٌةَج َرََ َّنِهْيَلَع ِلاَج ِ رلِل َو ۚ ِفو ُرْعَمْلاِب

Artinya: “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

b. Hukum rujuk pada talak ba’in

Talak ba’in bisa terjadi pada talak yang kurang dari tiga. Semua ulama sepakat, ini berlaku terhadap istri yang belum digauli. Tetapi mereka berselisih pendapat jika berlaku pada istri yang menerima khuluk, hukum rujuk sesudah talak seperti itu sama seperti hukum memulai pernikahan, yakni menyangkut syarat adanya maskawin, wali, dan persetujuan. Tetapi dalam hal ini mayoritas ulama tidak memperhitungkan berakhirnya masa idah. Ada sebagian ulama yang mengemukakan pendapat kontroversial.

Menurut ulama, istri yang dikhuluk tidak boleh dinikahi oleh suami atau oleh orang lain pada masa idahnya. Seolah-olah menurut para ulama, larangan menikah pada masa idah adalah suatu ibadah.68

Hukum rujuk setelah talak tersebut sama dengan nikah baru. Mazhab empat sepakat bahwa hukum wanita seperti itu sama dengan wanita lain (bukan istri) yang untuk mengawinkannya kembali disyaratkan adanya akad. Hanya saja dalam hal ini selesainya idah tidak dianggap sebagai syarat.69 Berikut adalah beberapa syarat sah rujuk, yaitu:70

a. Rujuk dilakukan setelah jatuhnya talak raj’i (setelah talak pertama dan kedua), baik berasal dari suami meupun dari hakim.

b. Rujuk terjadi setelah suami menceraikan istrinya yang telah dicampuri sebelumnya. Jika seorang laki-laki menceraikan istrinya sebelum dicampuri dan dia ingin merujuknya maka hal tersebut tidaklah diperbolehkan menurut kesepakatan ulama mazhab, sebab wanita tersebut tidak mempunyai idah. Hal ini sebagaimana dalam Q.s. Al-Ahzab (33): 49:

اَهُّيَأ اَي

ْيَلَع ْمُكَل اَمَف َّنُهوُّسَمَت ْنَأ ِلْبَق ْنِم َّنُهوُمُتْقَّلَط َّمُث ِتاَنِم ْؤُمْلا ُمُتْحَكَن ا اوُنَمآ َن َذِإ يِذَّلا

ْنِم َّنِه

ًلًيِمَج اًحا َرَس َّنُهوُح ِ رَس َو َّنُهوُعِ تَمَف اَهَنوُّدَتْعَت ةَّدِع

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut'ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya”.

Para ulama mazhab Hambali telah menganggap bahwasannya hukum berduaan dengan istri yang telah ditalak raj’i kedudukannya sama dengan hukum mencampurinya, sehingga seorang laki-laki boleh

68 Ibnu Rusyd. Bidâyatul Mujtahid wa Nihâyatul Muqtashid. Penerjemah Imam Ghazali Sa’id, Bidayatul Mujtahid, Analisa Fiqih Para Mujtahid, h. 188.

69 Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat, 292.

70 Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Shahîh Fiqih Sunnah. Penerjemah Darwis dan

melakukan rujuk setelah menceraikan istrinya itu. Pendapat ulama tersebut berbeda dengan pendapat jumhur ulama.

c. Rujuk dilakukan pada masa idah. Jika waktu idah sudah selesai maka seorang laki-laki tidak diperbolehkan lagi untuk melakukan rujuk kepada mantan istrinya, sebagaimana yang telah disepakati oleh para ahli fikih. Landasannya adalah firman Allah SWT. Q.s. Al-Baqarah (2): 228:

ۚ ءو ُرُق َةَث َلًَث َّنِهِسُُْنَأِب َنَِّْب َرَتَي ُتاَقَّلَطُمْلا َو

Artinya: “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'”.

Dalam ayat yang sama Allah SWT. juga berfirman:

اًح َلًْصِإ اوَُا َرَأ ْنِإ َكِلَٰذ يِف َّنِهِ َ َرِب ُّقَحَأ َّنُهُتَلوُعُب َو

Artinya: “Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah”.

Dikarenakan rujuk merupakan bukti masih berlangsungnya kepemilikan, sehingga jika idah sudah berakhir, maka tidak terbayangkan bagaimana kepemilikan tersebut tetap ada.

d. Perpisahan sebelum rujuk itu tidak terjadi karena akad nikahnya dinyatakan batal (fasakh).

e. Perpisahan tersebut tidak dilakukan dengan penebusan. Jika dilakukan dengan penebusan maka tidak sah rujuk. Sebab, pada saat itu hukumnya menjadi talak ba’in. Alasannya, karena karena seorang perempuan telah menebus drinya dari suaminya dengan harta yang diserahkan kepadanya untuk mengakhiri ikatan pernikahan tersebut.

Rujuk yang dilakukan adalah rujuk yang terlaksana secara langsung, tidak sah menggantung rujuk dengan syarat tertentu atau menyandarkannya dengan waktu yang akan datang. Hal ini menurut jumhur ulama fikih. Mereka mengatakan, rujuk merupakan bukti keberlangsungan akad nikah atau merupakan cara untuk mengulangi akad nikah. Akad nikah tidak sah jika ada pensyaratan atau penyandaran dengan waktu tertentu, maka rujuk mengikuti hukum nikah.

E. Hakam

Perdamaian berasal dari kata as-shulh. Menurut bahasa, perdamaian berarti mengakhiri pertikaian. Adapun dalam istilah syariat, perdamaian adalah kesepakatan untuk mengakhiri pertikaian kedua belah pihak antara dua belah pihak yang bertikai.71 Para ulama sepakat atas kebolehan mengirim dua juru damai ketika terjadi konflik antara suami istri tanpa diketahui sebab-sebabnya, dalam arti siapa yang benar dan siapa yang salah. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT. pada surat an-Nisa (4): 35:

ْنِإ َو

ْصِإ اَدي ِرُي ْنِإ اَهِلْهَأ ْنِم اًمَكَح َو ِهِلْهَأ ْنِم اًمَكَح اوُثَعْباَف اَمِهِنْيَب َقاَقِش ْمُتُْ ِخ

اًح َلً

َهَّللا َّنِإ ۗ اَمُهَنْيَب ُهَّللا ِقِ ف َوُي

ًرْيِبَخ اًمْيِلَع َناَك

Artinya: “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Para ulama sepakat bahwa kedua juru damai hanya boleh dikirim dari keluarga pasangan suami istri yang bersangkutan, salah satunya dari pihak suami, dan lainnya dari pihak istri. Kecuali kalau dari keluarga suami istri itu tidak terdapat orang yang pantas untuk menjadi juru damai, maka boleh dikirim orang lain yang bukan berasal dari keluarga mereka berdua. Mereka juga sepakat, kalau kedua juru damai tersebut berselisih pendapat, maka pendapat keduanya tidak bisa dilaksanakan. Mereka juga sepakat bahwa pendapat keduanya yang merukunkan kembali suami istri berlaku tanpa pemberian kuasa dari kedua belah pihak suami istri.72

Sedangkan menurut As-sya’bi dan Ibn Abbas mengatakan bahwa pihak ketiga atau Hakam dalam kasus syikak diangkat oleh Hakim atau Pemerintah.73

71 Sayyid Sabiq. Fiqih Sunnah. Penerjemah Abdurrahim dan Masrukhin, Fikih Sunnah 5,

h. 420.

72 Ibnu Rusyd. Bidâyatul Mujtahid wa Nihâyatul Muqtashid, Penerjemah Imam Ghazali Sa’id, Bidayatul Mujtahid, Analisa Fiqih Para Mujtahid, h. 206.

73 Abdurrahman al-Jaziry, Al-Fiqh ‘ala Mazhahib al-Arba’ah, sebagaimana dikutip oleh

Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syari’at, Hukum Adat dan Hukum Nasional, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 187.

Menurut Imam Nawawi, seorang Hakam atau Mediator harus laki-laki, cakap, dan saleh. Menurut Wahbah Zuhaili syarat Hakam antara lain adalah berakal, baligh, adil, dan muslim. Oleh karena itu tidak dibenarkan mengangkat orang kafir dzimmi, orang yang terhukum hudud karena qazaf, orang fasik, dan anak-anak untuk menjadi Hakam, karena dilihat dari segi keabsahannya, mereka tidak termasuk ahliyyah al-aqdha’ (orang yang berkopeten mengadili).74

74 Syahrizal Abbas, Mediasi dalam Perspektif Hukum Syari’at, Hukum Adat dan Hukum

36

A. Indonesia

Dokumen terkait