Bahwa karya-karya Naji>b mengandung nilai-nilai humanis dan universal, dan publik internasional telah mengakui muatan humanisme dan universalitas karya Naji>b adalah kenyataan yang tidak terbantahkan dari fakta historis
55
Naji>b mengakui bahwa hadiah nobel berpengaruh terhadap perbaikan kondisi materinya dan luasnya gerakan penerjemahan atas karya-karyanya. Namun, nobel juga dirasakan Naji>b secara pribadi berdampak tidak baik. Pertama, sejak pengumuman kemenangan nobelnya, tiada hari tanpa permintaan wawancara koran, radio atau TV, dari Mesir atau dari negara-negara dunia. Ini tentu membebaninya karena dua alasan: bertentangan dengan sifat introvertnya yang tidak suka popularitas; dan kesehatannya tidak lagi mampu menanggung beban fisik ini, terutama dalam usia lanjutnya. Kedua, Perasaan-perasaan bermusuhan yang tampak pada beberapa sastrawan, tetapi ini mampu dihadapinya secara rasional. Namun, yang pasti pengaruh positif nobel diakuinya jauh lebih besar dari ketidakbaikannya. Lihat, Raja>’ al-Naqqa>sh, Naji>b Mah}fu>z}: S{afah}a>t, 166.
56
pemberian nobel sastra kepadanya pada tahun 1988. Namun, bahwa karya-karya Naji>b mengambil tempat peristiwa dan tokoh-tokoh cerita dari tempat dan kalangan tertentu adalah kenyataan lain dalam karya-karyanya yang juga tidak bisa dipungkiri. Dari dua kenyataan ini pertanyaan di seputar kaitan antara karya sastra dan sastrawan, dan antara sastrawan dan lingkungannya patut dimunculkan: karya sastra sebenarnya merupakan ekspresi tentang siapa, sastrawan atau lingkungan sekitarnya? Dalam hubungannya dengan Naji>b, pertanyaan ini pun menjadi: karya-karya Naji>b itu merupakan ekspresi tentang dirinya sendiri atau ekspresi tentang lingkungan dan masyarakat sekitarnya? Apabila jawabannya adalah pertama, maka mengapa karya-karya tersebut dinikmati dan mendapat apresiasi masyarakat di sekitarnya, bahkan masyarakat internasional. Apabila jawabannya kedua, maka lingkungan atau masyarakat seperti apa yang terekspresikan dalam karya-karya Naji>b. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan memperjelas posisi kelas sosial Naji>b.
Karya sastra pada dasarnya merupakan wujud konkret dari pengalaman, pikiran, emosi, dan apa yang diangankan oleh pengarang (baca: sastrawan). Dengan daya imajinasi dan invensinya, sastrawan mampu menyatakan pengalaman, pikiran, emosi, dan angan-angannya ini dalam wujud tulisan yang membentuk dunia yang utuh. Jika sumber tulisan itu merupakan “dunia dalam” sastrawan, maka tulisan adalah “dunia luar”nya yang sesuai dengan dunia dalam itu.57 Tentu saja, harus digarisbawahi bahwa yang dimaksud dengan kesesuaian antara “dunia luar” dan “dunia dalam” di sini adalah “dunia luar” sebagaimana yang dipahami oleh pengarangnya sendiri, bukan penikmat karyanya. Pada kenyataannya, kesesuaian dua dunia ini tidak selalu bisa diverifikasi, mengingat dunia kedua biasanya menjadi wilayah penikmatnya.
Sebagai makhluk sosial, sastrawan adalah bagian dari lingkungan sekitar dan harus hidup di tengah-tengah masyarakatnya. Jika ia secara fisik mungkin dapat mengambil jarak dan hidup terpisah dari masyarakatnya, maka secara mental-spiritual ia tidak mungkin dapat lepas dari masyarakatnya. Bahasa yang
57
Redyanto Noor, Pengantar Pengkajian Sastra (Semarang: Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 2005), 35.
digunakannya adalah salah satu bukti dari keterkaitannya dengan lingkungan sekitarnya.58 Oleh karena itu, pengalaman, pikiran, emosi, dan angan-angan yang terjelma dalam wujud karya sastra tersebut hampir bisa dipastikan bukan hanya pengalaman, pikiran, perasaan, dan angan-angan sastrawan semata, melainkan juga pengalaman, pikiran, perasaan, dan angan-angan lingkungan dan masyarakatnya. Dengan kata lain, di samping merupakan ekspresi tentang diri sastrawan, karya sastra juga merupakan ekspresi tentang lingkungan dan masyarakat sastrawan. Bedanya ekpresi pertama adalah langsung, sedangkan ekpresi kedua adalah tidak langsung.
Daya invensi dan imajinasi sastrawan dalam konteks ini perlu mendapat penekanan agar tidak timbul kesan bahwa sastrawan hanya memindahkan kenyataan eksternal ke dalam untaian verbal, tanpa menambah atau menguranginya sedikitpun. Kata “invensi” mengacu pada gabungan atau
penggunaan baru atas pengalaman dan pengetahuan yang ada.59 Dengan daya
invensinya, sastrawan mampu mengolah dan menghasilkan karya baru dari bahan-bahan mentah yang dimilikinya ketika berinteraksi, baik secara fisik maupun non fisik, dengan masyarakatnya. Bahan-bahan mentah ini kemudian disatukan dan selanjutnya terbangunlah sebuah dunia yang “utuh.” Kemampuan sastrawan menyatukan dan membangun citra dalam angan-angan atau pikirannya tentang "sesuatu" ini disebut daya imajinasi. "Sesuatu" yang dimaksud di sini bisa berupa kenyataan yang pernah dialaminya dan kenyataan yang belum pernah dialami tetapi “yang mungkin ada.” Dengan dua daya ini, sastrawan menjadi pribadi aktif dan mampu menghasilkan karya-karya yang orisinil.60
Karena karya sastra pada hakekatnya juga merupakan ungkapan tentang lingkungan dan masyarakat dengan segala pengalaman, pikiran, perasaan, dan angan-angannya, maka tidak mengherankan kemunculan karya sastra selalu
58
Saini K.M., Protes Sosial, 8.
59
Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, Sociology (Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha, Ltd., 1972), edisi III, 466.
60
St. Sunardi, The Ecstasy of Creation: The Birth of Modern Egyptian Society in Naji>b Mah}fu>z}’s Trilogi (Yogyakarta: Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, tt.), 74-5.
mendapat tanggapan dari masyarakat (pembaca). Tidak jarang respon ini menembus batas-batas geografis, budaya, dan zaman. Karya sastra kemudian menjadi alat komunikasi antara sastrawan dan masyarakat pembacanya, pembaca lokal dan, bisa jadi, pembaca internasional sebagaimana yang terjadi pada karya-karya sastra Naji>b. Lokalitas, bagi Naji>b, seolah hanya titik tolaknya untuk menyapa dan menjalin komunikasi dengan dunia internasional. Pertanyaan selanjutnya adalah lokalitas manakah yang dipilih Naji>b untuk menjadi titik tolaknya: masyarakat Mesir seluruhnya, masyarakat Kairo saja atau bahkan hanya kelas sosial tertentu masyarakat Kairo.
Cerita-cerita Naji>b hampir selalu dibuat di distrik-distrik kota Kairo yang berpenduduk padat. Fokusnya pada “the little man” yang menghadapi tradisi-tradisi yang sedang berubah, pemberontakan generasi-generasi yang lebih muda, dan godaan nilai-nilai Barat.61 Aristokrat, kelas menengah ke atas, kelas pekerja, dan kaum petani nyaris tidak mendapat tempat dalam karyanya. Ketika individu-individu dari kelompok-kelompok ini muncul, maka mereka biasanya dipotret dari luar dan melalui kaca mata protagonis borjuis kecil (dalam
Mira>mar, misalnya, tokoh utama Zahra yang seorang petani diceritakan dari empat sudut pandang yang satu pun tidak berasal dari Zahra sendiri). Karena itu, ia kemudian dijuluki para kritikus sebagai novelis borjuis kecil.62 Tokoh-tokoh fiktifnya, seperti Ah}mad ‘A<kif (Kha>n al-Khali>li>), al-Sayyid Rid}wa>n H{usayni> dan al-Sayyid Sali>m ‘Ulwa>n (Zuqa>q al-Midaq), Kama>l ‘Abd al-Jawwa>d dan Ya>si>n (Trilogi), dan H{asan (Bida>yah wa Niha>yah) adalah tokoh-tokoh dari kelas sosial borjuis kecil.
Problem borjuis kecil sebagai titik tolak kreatifitas Naji>b didasari oleh kenyataan bahwa kelas sosial ini menunjukkan potret yang menarik dalam situasi masyarakat yang sedang berubah. Karena lingkungan yang berubah, memiliki akses terhadap pendidikan, dan bisa melihat pesona material peradaban Barat,
61
Lihat, http://litweb.net/biogs/mahfouz_naguib.html, Naguib Mahfouz (1911-), 30 Juni 2010.
62
Rasheed el-Enany, Naguib Mahfouz: The Pursuit, 28. Lihat pula, Yu>suf al-Sha>ru>ni>, al-Rawa’i>yu>n, 13.
kelas borjuis ini membangun harapan-harapan perubahan. Ia ingin mendaki kelas sosial yang lebih tinggi dan lepas dari akar-akar lama yang mempertautkannya dengan kelas bawah miskin. Karena persiapannya tidak cukup, harapan-harapannya pun kandas. Ia pun menjadi tersiksa: tidak lagi merasa nyaman dengan kehidupan sebagaimana yang dijalani dan dirasakan kelas rendah, juga tidak mampu memenuhi ambisi-ambisinya naik ke kelas sosial atas atau borjuis besar untuk menikmati harta, pangkat, dan kekuasaan yang dinikmati kelas itu.63 Tidak jarang, harapan dan ambisinya yang gagal ini harus dibayarnya dengan menggadaikan kehormatan (seperti yang dialami oleh Mah}ju>b ‘Abd al-Da>’im dalam al-Qa>hirah al-Jadi>dah) atau dengan kematian (seperti yang dialami ‘Abba>s al-Hilu> dalam Zuqa>q al-Midaq dan H{asanayn (dalam Bida>yah wa Niha>yah).
Meskipun tersiksa dan mengalami krisis yang berujung pada akhir yang tragis, kelas ini memiliki keutamaan mengagumkan, bahkan barangkali hanya merekalah yang memiliki keutamaan-keutamaan yang mengangkat nilai kemanusiaan. Di antara keutamaan mereka adalah memiliki rasa tanggung jawab atas keluarga, berkorban demi keluarga, dan mengorbankan diri demi keluarga dan saudara. Keputusan Ah}mad ‘A<kif untuk mengubur mimpi melanjutkan studi, kerelaannya bekerja setamat sekolah menengah demi menggantikan peran produktif sang ayah yang dipensiunkan dini, dan penundaannya menikah adalah salah satu contoh sifat kemanusiaan yang dimiliki kelas ini, yang mensakralkan keluarga dan berkorban demi keluarga.64
Apakah dengan menulis tentang suatu kelas sosial itu secara otomatis penulisnya memiliki kaitan dengannya tidaklah bisa dipastikan. Hal ini karena menulis sesuatu tidak selalu identik memiliki kaitan dengan sesuatu. Untuk memastikan kelas penulis, tampaknya karya-karya penulis tersebut harus dilihat secara utuh, tidak parsial. Dalam kaitannya dengan karya-karya Naji>b yang
63
Muh}ammad H{asan ‘Abdulla>h, al-Wa>qi‘i>yah fi> al-Riwa>yah al-‘Arabi>yah (Kairo: Maktabah Usrah, 2005), 523 dan 525.
64
banyak menyoal proses perubahan dan pengaruhnya terhadap kelas sosial borjuis kecil, meskipun tokoh-tokoh borjuis ini umumnya berakhir tragis sehingga ada kritikus yang menyimpulkan nuansa pesimisme Naji>b, “nada” utama sikap Naji>b adalah memberikan penghargaan atas perjuangan mereka untuk berubah dan bertahan hidup. Akhir tragis nasib mereka itu tidaklah berarti bahwa Naji>b merasa pesimis dengan perjuangan mereka. Dengan akhir seperti ini, Naji>b ingin menunjukkan kokohnya benteng pertahanan tradisi masyarakat untuk menerima perubahan, karena kegagalan dan nasib tragis para tokoh borjuis kecil itu lebih disebabkan oleh faktor-faktor luar. Dari sini, tidaklah jauh dari kebenaran bila dikatakan bahwa Naji>b, terutama dalam fase realismenya, adalah penulis, jubir, dan berkecenderungan dalam pemikiran kepada kelas borjuis (kecil).
Hal lain yang menunjukkan kaitan Naji>b dengan kelas sosial ini adalah pengakuannya sendiri bahwa “borjuis kecil” merupakan “calon penyelamat manusia” dengan posisinya yang berada di tengah-tengah di antara borjuis atas yang, menurutnya, arogan dan berusaha mengendalikan dan mengeksploitasi masyarakat dan kaum proletar yang, dalam pandangannya, juga ingin merebut kekuasaan dari para eksploitatornya.65
Jika Naji>b dalam pemikiran berkecenderungan kepada borjuis kecil, maka apakah Naji>b secara sosial juga terkait dengan kelas bourjuis kecil? Dengan kata lain, apakah ia sendiri bagian dari kelas sosial borjuis kecil? Untuk menjawab pertanyaan ini, pengertian kelas sosial masyarakat pada umumnya, dan kelas sosial masyarakat Mesir atau Kairo dan kelas borjuis kecilnya pada khususnya, dan latar kehidupan Naji>b perlu dilihat.
Kelas sosial (biasa disebut kelas saja) didefinisikan sebagai “a group of people within a society who possess the same socioeconomic status.”66 Dalam pengertian ini kesamaan status sosio-ekonomi menjadi kriteria utama kelas sosial. Perbedaan dalam peran ekonomilah yang menentukan apakah sesorang menjadi bagian dari suatu kelas atau tidak. Peran ekonomi ini, dalam pemikiran Karl Marx, terkait dengan sarana produksi. Hanya saja, kelas dalam pengertian
65
Rasheed el-Enany, Naguib Mahfouz: The Pursuit, 28.
66
sosiologis melibatkan lebih dari sekedar kelas saja dalam pengertian logis. Dalam logika, semua orang yang berambut merah dapat diklasifikasikan bersama-sama dalam suatu kelas (logis). Namun, orang-orang yang berambut merah bukanlah kelas sosial, melainkan hanya suatu kategori. Mereka bukan suatu kelompok yang berperilaku serupa, yang sadar atas identitas dan kepentingan mereka sendiri.67 Kesadaran kelas di sini bisa bermakna kesadaran atas tingkat sosial dan status seseorang di masyarakat saja atau bisa bermakna kesadaran kelas sebagaimana yang dimaksud Karl Marx. Kesadaran kelas, menurutnya, mencakup kesadaran tentang kelasnya sendiri dan kelas lain, sebuah perasaan tentang identitas kelompok yang didasarkan pada posisi kelas yang sama, perasaan tentang ketidakadilan; dan kesadaran atas perlunya aksi politik kelompok untuk mengubah struktur sosial yang ada. Kesadaran kelas ini, baginya, adalah mekanisme dasar, alat perubahan-perubahan struktur yang mendasar di masyarakat. Jika Karl Marx hanya menekankan faktor ekonomi dalam pengelompokan kelas, maka Sorokin menambahkan faktor pekerjaan. Lain lagi dengan C. Wright Mills. Ia mendasarkan keanggotaan kelas itu pada jumlah dan sumber pendapatan, dengan peluang kehidupan yang sama akibat dari situasi kelas yang sama. Peluang kehidupan ini mencakup antara lain kesehatan dan pendidikan.68
Perbedaan penentuan komponen dasar kelas ini kemudian berpengaruh pada perbedaan pengelompokan kelas. Karl Marx, misalnya, meskipun mengakui keragaman kelas sosial, menekankan peran dua kelas: mereka yang mengontrol struktur produksi dan mereka yang harus menjual tenaganya. Di masyarakat Eropa abad ke-19, dua kelas dasar ini adalah kapitalis/borjuis dan pekerja kasar/proletar. Kahl dan Rossides menyebut ada lima struktur kelas, yang didasarkan pada pendapatan, pekerjaan, pendidikan, dan tabungan. Kelima
67
Peter Worsley et, al., Pengantar Sosiologi: Sebuah Pembanding, terjem. Hartono Hadikusumo (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1992), 199.
68
Vincent Jeffries dan H. Edward Ransford, Social Stratification: A Multiple Hirarchy Approach (Boston: Allyn and Bacon, Inc., 1980), 73.
struktur kelas ini adalah kelas atas, menengah atas, menengah bawah, pekerja, dan kelas bawah.69
Meskipun ada beragam teori kelas, para sosiolog umumnya menunjukkan
tiga kelas: atas, pekerja (bawah), dan menengah. Kelas atas dicirikan oleh
kepemilikan kekayaan yang besar. Dengan kekayaan ini mereka dapat menampilkan gaya hidup yang didasarkan pada kegiatan-kegiatan bersenang-senang, memiliki pengaruh besar terhadap keputusan politik dan kebijakan ekonomi, dan mampu memberikan kepada anak-anaknya pendidikan unggul dan
peluang ekonomi yang membantu mengekalkan kekayaan keluarga. Kelas
pekerja terdiri dari para pekerja kasar pada industri-industri dan pabrik-pabrik besar. Dalam kelas ini ada pekerja ahli (skilled worker), semi ahli (semiskilled worker), dan tidak ahli (unskilled worker), tetapi semuanya tidak memiliki cukup properti dan tergantung pada upah. Standar hidup yang relatif rendah, akses yang terbatas pada pendidikan tinggi, dan jauh dari ruang pengambilan keputusan penting adalah kondisi riil kelas ini. Kelas menengah mencakup para pekerja administrasi level menengah dan atas, supervisor, manager, dan pemilik toko berskala kecil, pengusaha, dan petani. Kelas menengah paling atas (para manager dan profesional kaya di perusahaan-perusahaan besar) bergabung dalam kelas atas, sedangkan kelas menengah paling bawah (yang bekerja di pemasaran, distribusi, dan transportasi yang bergaji rendah) bergabung dalam kelas pekerja.70
Masyarakat Mesir atau Kairo, seperti halnya masyarakat di belahan dunia yang lain, juga mengenal kelas meskipun sekat-sekat kelas ini tidak sampai menghalangi seseorang untuk melakukan mobilitas sosial apabila ia memiliki kesempatan. ‘Abd al-‘Az}i>m Ramad}a>n menyatakan bahwa di Mesir terdapat kelas-kelas sosial. Di sana ada kelas aristokrat Islam yang berkuasa, terdiri dari elemen-elemen Albania, Turki, dan Syirkasi. Aristokrat Islam ini muncul sejak masa Muh}ammad ‘Ali>. Pada saat yang sama juga muncul kelas kapitalis Eropa, yang terdiri dari para pedagang dan pemodal berkebangsaan Perancis, Inggris, dan
69
Peter Worsley et, al., Pengantar Sosiologi, 177-8. Lihat pula, Vincent Jeffries dan H. Edward Ransford, Social Stratification, 74.
70
Eropa lainnya. Selain aristokrat Islam dan kapitalis Eropa ini, masyarakat Mesir terbagi dalam kelas sosial borjuis, kelas bawah, dan kelas proletar.
Petani yang memiliki tanah terbatas yang diolah sendiri atau bersama keluarganya dan buruh tani adalah anggota utama kelas bawah. Para pekerja di pabrik-pabrik besar adalah anggota kelas proletar. Kelas borjuis ada dua macam, yaitu borjuis besar dan borjuis kecil. Borjuis besar memiliki dua sayap, yaitu sayap agricultural; dan sayap industri, perdagangan, dan keuangan. Borjuis kecil memiliki tiga sayap: industri dan perdagangan, intelegensia, dan petani. Kelas borjuis ini jumlahnya sedikit dibandingkan dengan kelas bawah maupun proletar. Sayap intelegensia terdiri dari para pegawai negeri dan profesional bebas seperti pengacara, insinyur, dokter, jurnalis, guru, dan akuntan. Kelas ini muncul sejak masa Muh}ammad ‘Ali> Pa>sha> akibat transformasi pendidikan dari sistem
kutta>b dan masjid menjadi sistem sekolah, tempat anak didik belajar ilmu-ilmu modern dan bahasa asing. Di Mesir sayap yang menjadi tulang punggung kelas borjuis kecil ini memainkan peran yang sama dengan peran yang dimainkan oleh kelas menengah Eropa dalam menopang demokrasi liberal.71
Dari struktur kelas sosial seperti ini, di mana posisi kelas Naji>b? Tampaknya, Naji>b adalah bagian dari kelas borjuis kecil dari sayap intelegensia. Ia merupakan produk transformasi pendidikan yang dijalankan Muh}ammad ‘Ali> Pa>sha>. Selain di Kutta>b Shaykh Buh}ayri>, ia menempuh seluruh pendidikannya di jalur formal: Sekolah Dasar H{usayn, Sekolah Menengah Fu’a>d I, dan Universitas Kairo. Setelah menjadi sarjana, ia pun langsung bekerja sebagai pegawai negeri. Pekerjaan ini ia jalani selama 37 tahun hingga pensiun. Ayahnya, ‘Abd al-‘Azi>z Ibra>hi>m Ah}mad Pa>sha>, juga seorang pegawai walaupun golongan rendah. Ibunya, meskipun hanya sebagai ibu rumah tangga, memiliki kebiasaan mengunjungi museum Mesir, sebuah kebiasaan yang jarang dilakukan oleh masyarakat kelas bawah. Tempat tinggalnya, al-‘Abba>si>yah, adalah distrik tempat permukiman kelas aristokrat dan menengah. Naji>b sendiri hanya pernah satu kali pergi ke desa di al-Fayyu>m semasa kecilnya dan tinggal
71
‘Abd al-‘Az}i>m Ramad}a>n, S}ira>‘ al-T{abaqa>t fi> Mis}r (Kairo: Hay’ah al-Mis}ri>yah al- ‘A<mmah li al-Kita>b, 1997), 145.
selama satu minggu, untuk menghabiskan liburan musim panas. Ketika itu ia tidak melihat dan mendalami kehidupan para petani. Bahkan, Naji>b tidak pernah pergi ke s}a‘i>d/upper egypt seperti al-Uqs}ur (Louxor) dan Aswa>n.72 Semua fakta dan latar ini memperkuat posisinya sebagai bagian dari kelas menengah Mesir.
C.Naji>b Mah{fu>z} dan Karya-karyanya
Sebagai sastrawan yang tulus dan konsisten di bidangnya, Naji>b sepanjang hidupnya telah melahirkan banyak karya. Lebih dari 50 cerpen dan novel ditulisnya. Beberapa tulisan non fiksi dan skenerio film juga lahir dari sastrawan yang telah mulai menulis sejak berusia lima belas tahun ini. Kepedulian sastrawan yang mengaku tidak suka dikunjungi orang ini terhadap berbagai masalah yang menyertai perubahan-perubahan besar di Mesir semasa hidupnya, baik politik maupun lainnya, merupakan faktor utama kelahiran karya-karyanya.
Sumber utama dalam sastra Naji>b adalah kantor pemerintah, tempat ia bekerja selama hampir 37 tahun; h}a>rah; dan maqha> (café). Dalam karya-karyanya banyak ditemukan dunia h}a>rah dengan futu>wah (algojo/jagoan),
taki>yah (bangunan keagamaan yang bertipe seperti biara yang berselimutkan
misteri), qabw (kubah/lengkungan gelap yang biasanya menjadi pintu gerbang
kota), sabi>l (kran air minum kuno), dan qarafah (tempat pemakaman) serta dunia khala>’nya (tanah lapang yang luas). Dunia yang muncul dalam kreasinya ini tidak berbeda dengan dunia atau lingkungan tempat hidupnya, yaitu distrik al-Jama>li>yah dan distrik al-‘Abba>si>yah.
Dunia h}a>rah, baik yang berada di distrik al-Jama>li>yah atau tempat lain di Kairo, di masa kecilnya tidak seperti masa sekarang yang dihuni oleh
masyarakat kelas bawah. Semasa kecilnya, h}a>rah merupakan model
masyarakat Mesir. Semua masyarakat terwakili di sana, dari yang sangat kaya sampai yang miskin papa. Dunia h}a>rah dan futu>wahnya ini, misalnya, dapat dijumpai dalam Aula>d H{a>ratina>.
72
Jama>l al-Ghi>t}a>ni>, seorang novelis yang dikenal baik dan teman karib Naji>b, yang juga tumbuh besar di al-Jama>li>yah menelusuri dan membuktikan bahwa Kha>n al-Khali>li> (1946), Zuqa>q al-Midaq (1947), dan Trilogi Kairo yaitu Bayn al-Qas}rayn (1956), Qas}r al-Shawq (1957), dan al-Sukkari>yah (1957) merupakan dokumentasi akurat dari area tersebut.73 Naji>b sendiri menekankan pentingnya al-Jama>li>yah atau dunia h}a>rah sebagai sumber inspirasi bagi karyanya sepanjang kehidupan kreatifnya. “Menurutku,