Pendidikan dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak terpisahkan, ibarat dua sisi mata uang. Kemajuan kebudayaan sebuah bangsa dapat dilihat jejaknya dalam kemajuan pendidikannya dan, sebaliknya, sulit ditemukan pendidikan yang unggul dalam sebuah bangsa yang relatif tertinggal. Pada satu sisi pendidikan merupakan indikator bagi perubahan dan kemajuan kebudayaan suatu masyarakat,
46
Raja>’ al-Naqqa>sh, Naji>b Mah}fu>z}: S{afah}a>t min Mudhakkira>tih wa Ad}wa>’ Jadi>dah ‘ala> Adabih wa H{aya>tih (Kairo: Markaz al-Ahra>m, 1998), 26 dan 85.
47
tetapi pada sisi lain pendidikan menjadi faktor penggerak aktif bagi perubahan dan kemajuan kebudayaan itu.48
Kenyataan inilah yang tampaknya disadari oleh Muh{ammad ‘Ali> Pa>sha> ketika ia memulai modernisasi bangsa Mesir dengan mengirimkan sejumlah elemen bangsa dalam sebuah "misi ilmiah" ke Eropa (Italia, Perancis, dan Inggris) demi mempersiapkan para agen perubahan dan pendidik yang cakap bagi sistem pendidikan modern sekuler yang dirintisnya. Pengiriman misi ilmiah ke negara-negara maju yang dimulai pada tahun 1813 ini terus berlanjut di masa-masa selanjutnya. Ma'mu>n Rid}wa>n, salah satu tokoh yang unggul secara akademis dalam QJ misalnya, digambarkan sedang menunggu keberangkatannya dalam sebuah misi seperti ini ke Sorbon, Perancis, setelah kelulusannya dari sebuah universitas di Mesir pada tahun 1933/4.49 Antara 1824 dan 1839 sekolah-sekolah dalam beragam bidang keilmuan didirikan: ilmu pengetahuan militer, ilmu kedokteran dan farmasi, kebidanan, kedokteran hewan, kimia terapan, pertambangan, akuntansi dan adiministrasi sipil, bahasa dan terjemah, dan teknologi. Sistem pendidikan ini berjalan berdampingan dengan sistem sekolah-sekolah dasar lama yang berada di majid-masjid (kutta>b) dan pendidikan klasik dan agama yang ditawarkan oleh al-Azhar.50
Dalam sebuah masyarakat modern atau yang sedang memodernisasi diri pendidikan memberikan hubungan yang paling mungkin antara agen-agen modernisasi dan lingkungan sosio-kultural yang mengitarinya. Di sini, pendidikan digunakan sebagai instrumen perubahan dalam sistem-sistem sosial, ekonomi, dan politik. Pendidikan menjadi variabel utama modernisasi dan kunci yang membuka pintu bagi modernisasi.51 Karena itu, pembicaraan tentang subsistem sosial ini menjadi niscaya dalam proses modernisasi. Inilah barangkali yang dimaksudkan
48
Sa>mi> Sulayma>n Muh{ammad al-Sahm, al-Ta‘li>m wa al-Taghyi>r al-Ijtima>'i> fi> Mis}r fi> al- Qarn al-Ta>si‘ ‘Ashar (Kairo: Hay'ah Mis}ri>yah ‘A<mmah li al-Kita>b, 2000), 10.
49
Naji>b Mah}fu>z}, al-Qa>hirah, 78-9.
50
Judith E. Tucker, Women in nineteenth-century Egypt (Cambridge: Cambridge University Press, 1985), 123.
51
Ghulam Nabi Saqib, Modernization of Muslim Education in Egypt, Pakistan, and Turkey: A Comparative Study (Lahore: al Faried, 1983), 12.
oleh Naji>b ketika ia mengawali novel realis pertamanya, QJ, dengan melukiskan latar kampus dan suasana mahasiswa pulang kuliah sambil mengobrol tentang masa depan kampusnya yang mulai menerima mahasiswa perempuan. "Matahari
sedikit condong ke Barat. Dari kejauhan bulatannya terlihat di atas kubah
raksasa kampus, seolah-olah beranjak atau kembali lagi ke langit setelah
berputar-putar … Kubah itu berdiri di depan dua baris pepohonan tinggi di
sepanjang jalan, tampak seperti tuhan dan di hadapannya para pendetanya yang beribadah di waktu As}ar bersujud," demikian papar Naji>b.52
Pendidikan dalam masyarakat-masyarakat demikian, paling tidak seperti yang dideskripsikan oleh Shipman, memiliki tiga fungsi.53 Sosialisasi adalah fungsi pertama pendidikan. Sebagai agen sosialisasi, pendidikan merupakan sarana mengintegrasikan generasi muda atau elemen masyarakat yang lebih luas ke dalam nilai-nilai kelompok yang dominan. Tentu saja, nilai-nilai yang disosialisasikan para agen modernisasi yang dominan secara politik ini adalah nilai-nilai yang menopang proses modernisasi, seperti keniscayaan perubahan, rasionalitas, dan positivisme.
Sosialisasi nilai melalui pendidikan terbukti berlangsung cukup efektif. Inilah setidaknya yang tergambar dalam novel-novel realis Naji>b. Generasi baru dengan kesadaran penuh atas kondisi dan problem bangsanya pun segera lahir. Dari kesadaran ini mereka kemudian berusaha mencari pemecahan-pemecahan. Meskipun mengambil jalan beragam dan acapkali menemukan hambatan yang terlihat lebih memiliki daya lebih kuat sehingga kurang menjanjikan hasil yang positif, usaha-usaha pemecahan, setidaknya, telah diambil oleh generasi baru terdidik ini. Tokoh-tokoh seperti Ma'mu>n Rid}wa>n, ‘Ali> T{aha, dan Ah}mad Badi>r (dalam QJ); Ah}mad Ra>shid dan Ah}mad ‘A<kif (dalam KHAN); Raba>b (dalam SA); dan H{asan dan H{asanayn (dalam BN); dan Kama>l, Riya>d} Qaldas, ‘Abd al-Mun‘im Shawkat, dan Ah}mad Shawkat (dalam SU) adalah prototype-prototype generasi baru dengan kesadaran penuh ini.
52
Naji>b Mah}fu>z}, al-Qa>hirah, 5.
53
Efektivitas pendidikan dalam sosialisasi ini telah menggeser atau mengurangi fungsi sosialisasi dari institusi keluarga. Sebelum pendidikan formal muncul atau sebelum anak memulai pendidikan formalnya, sosialisasi anak-anak berawal di rumah. Anak-anak-anak belajar apa yang patut mereka ketahui dengan metode "bantu-pandang," yaitu dengan menyaksikan dan mengambil bagian dalam apapun yang sedang berlangsung.54 Pada saat yang sama, orang tua senang melihat dan mendorong anak-anaknya berpartisipasi dalam pola-pola dan tatanan yang berlaku. Ka>mil Ru'bah La>z} dalam SA, misalnya, terbiasa menjalankan kewajiban-kewajiban agama sejak usia dini karena mengikuti dan meniru ibunya. Ia juga hapal surat-surat pendek karena mendengar ibunya membaca surat-surat itu dalam shalat-shalatnya.55 Namun, ketika pendidikan formal menjadi penting akibat dari tuntutan kompleksitas kehidupan masyarakat, keluarga harus membagi peran sosialisasi ini dengan institusi pendidikan formal. Bahkan, institusi baru ini dalam banyak hal terlihat lebih berpengaruh kepada generasi muda daripada institusi keluarga.
Ketegangan yang sering terjadi antara generasi baru terdidik, dan anggota keluarga dan masyarakat tempatnya berasal menjadi bukti atas kuatnya pengaruh pendidikan formal dalam membentuk cara berpikir dan bersikap anak-anak didiknya. Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi individu, terutama dalam membuka pikirannya dan menerima hal-hal baru dan juga mengajarkan manusia cara berpikir obyektif. Kama>l dalam QS, misalnya, tetap memilih kuliah di sekolah tinggi guru, sebuah pilihan yang bertentangan dengan keinginan ayahnya yang menghendakinya masuk Fakultas Hukum. Pilihan Kama>l itu dilatarbelakangi oleh kedudukan guru dan misinya dan, terutama, oleh anggapannya bahwa ilmu pengetahuan itu segala-galanya; sedangkan keinginan ayahnya didasarkan pada kedudukan dan harta yang dijanjikan bagi lulusan Fakultas Hukum, dan pada pandangan bahwa yang terpenting itu bukan ilmu itu sendiri, melainkan hasil. Lagi pula, menurut sang ayah, sekolah tinggi guru itu
54
Vincent Jeffries dan H. Edward Ransford, Social Stratification: A Multiple Hierarchy Approach (Boston: Allyn and Bacon, Inc, 1980), 190.
55
gratis, profesi guru tidaklah prestisius, dan orang-orang besar dan pejabat tinggi
enggan menikahkan putrinya dengan guru.56 Keponakan-keponakan Kama>l,
‘Abd al-Mun‘im Shawkat dan Ah}mad Shawkat, juga sering bersitegang dengan orang tua, terutama ibu mereka, Khadi>jah, akibat perbedaan horison dan sudut pandang. Berbeda dengan orang tuanya yang menginginkannya masuk Fakultas Hukum seperti kakaknya, ‘Abd al-Mun‘im Shawkat, dan sepupunya, Rid}wa>n, Ah}mad Shawkat memilih kuliah di Fakultas Sastra. Setelah lulus ia pun lebih memilih profesi jurnalistik daripada menjadi pegawai seperti kakak dan sepupunya itu. Gadis yang dipilihnya sebagai pendamping hidupnya juga jauh dari harapan orang tuanya. Bahkan, ia melangsungkan pernikahannya tanpa
sepengetahuan dan kehadiran keluarganya.57 Demikian pula dengan kakaknya,
‘Abd al-Mun‘im Shawkat. Ia menolak menunda keinginannya untuk menikah sampai selesai kuliah sebagaimana yang disarankan orang tuanya, karena ia tidak ingin seperti pemuda kebanyakan. Dengan menikah, ia ingin --dalam bahasa gurunya Shaykh ‘Ali> al-Manu>fi>- mengalahkan setan tanpa harus mengabaikan hukum alam.58
Konflik dan ketegangan antara generasi baru (terdidik) dan orang tua ini tidak jarang berakhir dengan kekalahan atau, lebih tepatnya, "mengalah" di pihak orang tua. Generasi baru tidak lagi mau diatur dan dikendalikan oleh orang tuanya dalam semua pilihan hidup. Dengan horison intelektual dan estetisnya mereka merasa dapat menentukan pilihan-pilihan bagi masa depannya secara lebih baik. Bagi mereka, orang tua --meminjam bahasa Ah}mad Shawkat-- hanyalah "rem" yang sebenarnya tidak diperlukan oleh masyarakat Mesir yang terbelenggu. Ini dapat dilihat dari dialog antara Ah}mad Shawkat dan pamannya, Kama>l, setelah yang pertama bersitegang dengan kedua orang tuanya yang menginginkannya menjadi pegawai, bukan jurnalistik seperti yang dipilihnya:59
56
Naji>b Mah}fu>z}, Qas}r, 51-8
57
Naji>b Mah}fu>z}, al-Sukkari>yah, 25, 177, 208, 267, dan 270-1.
58
Naji>b Mah}fu>z}, al-Sukkari>yah, 117.
59
Lihat, Naji>b Mah}fu>z}, al-Sukkari>yah, 205, yang terjemahannya adalah: “Adalah sebuah kesalahan seseorang mempunyai orang tua,” keluh Ah}mad.
-ﻣ
ﺄﻄﺨ ا
نأ
نﻮﻜ
نﺎ
ناﺪ او
!
لﺎ آ
ﺎﻜ ﺎﺿ
:
-ﻴآ
نﺎه
ﻚﻴ
نأ
لﻮ
ﻚ ذ
؟
ةﻮ ﻷﺎ ،ﻰﺿﺎ ا ﺪﻴ ﺎ ﻣ ناﺪ اﻮ ا ﻴ إ ﺰﻣﺮ ﺎﻣ ﻜ و ، ﻴ ﺮ ﻰ أ
رﺄ ﺮﻴ و ﻣاﺮ ا ﻰ إ ﺎ ﺎ ﺎ ﻣو ،ﺔ ﻣﺮ مﻮ ا و ﻰ
؟ لﻼ ﻷﺎ ﺔ ﻜﻣ
!
Seringnya anak-anak memaksakan keinginannya di satu sisi dan melemahnya kontrol orang tua atas anak-anaknya di sisi lain ini disesalkan oleh al-Sayyid Ah}mad ‘Abd al-Jawwa>d. Menurutnya, orang tua sekarang (orang tua cucu-cucunya) merusak generasi muda karena membiarkannya memaksakan
kehendaknya.60 Namun, perlakuannya terhadap anak-anaknya juga mengalami
perubahan. Sebelumnya, ia bak tuhan yang zalim, bukan yang adil, bagi keluarganya. Ia menuntut kepatuhan buta dari anak-anaknya. Kepatuhan terhadapnya adalah mutlak bagi semua anggota keluarganya. Musyawarah, dalam pandangannya, hanyalah untuk memperkuat pendapatnya, bukan untuk mengubahnya. Anak-anaknya bisa dimaafkan karena berbuat salah, tetapi tidak karena melecehkan kemauannya. Kepatuhan keluarganya pada kehendaknya pun laksana kepatuhan pada otoritas agama. Di hadapannya semua anaknya duduk dengan sopan laiknya sedang shalat berjama'ah, baik yang pegawai di Sekolah al- Nah}h}a>si>n (Ya>si>n), mahasiswa Fakultas Hukum (Fahmi>) maupun siswa Sekolah Khali>l Agha> (Kama>l).61 Hanya saja, setelah anaknya, Kama>l, berusia 17 tahun, sikapnya terhadap anak-anaknya berubah. Perubahan ini tampak jelas dalam persetujuannya secara terpaksa atas pilihan Kama>l untuk kuliah di
Kama>l pun tertawa:
“Bagaimana kamu bisa mengatakan seperti itu?”
“Maksudku bukan literalnya, melainkan tradisi-tradisi masa lalu yang disimbolisasikan orang tua, karena ayah (orang tua) pada umumnya adalah rem. Apa kita, yang berjalan dengan kaki terbelenggu ini, perlu rem?"
60
Naji>b Mah}fu>z}, al-Sukkari>yah, 121.
61
sekolah tinggi guru dan atas pernikahan Ya>si>n dengan seorang janda tetangganya sendiri, Maryam.62
Meskipun pikiran-pikiran dan pandangan-pandangannya seringkali tidak sejalan dan diabaikan oleh generasi muda produk "dunia baru," dunia sekolah, orang tua tidak mungkin lagi dapat menjauhkan pendidikan formal dari anak-anaknya. Alih-alih menolaknya, para orang tua bahkan berupaya dengan segala cara untuk memasukkan anak-anaknya ke institusi pendidikan. Bagi mereka, pendidikan adalah aset utama dan komoditas dambaan. Dengan memasukkan anak-anaknya ke pendidikan, mereka berarti menjamin masa depan mereka dan anak-anaknya. Semakin tinggi pendidikan, maka semakin besar dan banyak pula peluang-peluang di masa depan yang dapat diraih. Jika tidak semua, maka sebagian anaknya harus dapat masuk pendidikan tinggi. Inilah yang mendasari keluarga Sami>rah dalam BN untuk tetap meneruskan sekolah anak-anaknya, H{usayn dan H{asanayn, sepeninggal almarhum Ka>mil Afandi> ‘Ali> meskipun harus berjibaku dengan kemelaratannya. Sang kakak perempuan, Nafi>sah, terpaksa harus mengambil upah dari jahitannya yang semula hanya sebuah hobi, satu profesi yang dirasakannya menjatuhkannya dari gadis terhormat. Bahkan, demi uang yang dibutuhkan keluarganya dan, tentu saja, karena dahaga cintanya, ia pun jatuh ke lembah nista sebagai pelacur. H{usayn sendiri, setelah meraih BA, harus rela menjadi pegawai dan mengeyampingkan pikiran lanjut studi untuk melicinkan jalan adiknya, H{asanayn, ke jenjang pendidikan tinggi.63
Penerimaan masyarakat atas institusi pendidikan formal ini terkait dengan fungsi kedua pendidikan, yaitu schooling. Pendidikan berfungsi mempersiapkan para peserta didik bagi penempatan sosialnya dan memberi mereka kualifikasi-kualifikasi profesional dan pendidikan yang memungkinkan mereka menampilkan "peran sekunder"nya di masyarakat. Fungsi ekonomi pendidikan inilah yang membuat para orang tua dan masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah, mendorong anak-anaknya masuk sekolah. "Jangan bicara seperti itu. Kamu akan terbiasa dan menyukainya. Bagaimana kamu bisa tetap di rumah sementara semua
62
Naji>b Mah}fu>z}, Qas}r, 22-3, 57, dan 59.
63
anak laki-laki di sekolah? Apa mungkin kamu menjadi perwira seperti kakekmu bila kamu tidak bersekolah?" bujuk sang ibu kepada Ka>mil Ru'bah La>z} saat yang terakhir ini berniat tidak lagi pergi ke sekolah.64
Memang, pembagian kerja dalam masyarakat yang sedang memodernisasi diri semakin rumpil akibat adanya differensiasi dalam struktur politik dan pemerintahan. Selain itu, spesialisasi dan profesionalisasi adalah menjadi ciri dari masyarakat ini. Keahlian-keahlian khusus untuk mengisi posisi-posisi tertentu dibutuhkan. Ini semua tentu memerlukan sistem pendidikan formal, tempat individu memperoleh kualifikasi-kualifikasi untuk memegang jabatan dan melaksanakan fungsinya dalam struktur masyarakat yang baru. Hakim, jaksa, guru, penerjemah, wartawan, akuntan, polisi, dan tentara adalah beberapa profesi yang bisa disebut yang dilukiskan Naji>b dalam karya-karya realisnya sebagai terkait dengan pendidikan formal.
Oleh karena itu, pendidikan menjadi semacam investasi yang hasilnya suatu saat akan dapat dinikmati, baik bagi individu yang dari semula memaksudkannya sebagai investasi atau yang tidak. Orang laki-laki dan sebagian perempuan dari kelas menengah ke bawah seperti empat sekawan (Ma'mu>n Ridwa>n, ‘Ali> T{aha, Ah}mad Badi>r, dan Mah}ju>b ‘Abd al-Da>'im) dan Ih}sa>n Shah}a>tah dalam QJ, Ah}mad ‘A<kif dan Rushdi> ‘A<kif dalam KHAN, Raba>b dalam SA, H{usayn dan H{asanayn dalam BN, Kama>l dan Fu'a>d Jami>l al-H{amza>wi> dalam QS, dan Rid{wa>n, ‘Abd al-Mun‘im Shawkat, dan Ah}mad Shawkat dalam SU adalah individu-individu yang dari awal secara sadar mengaitkan pilihan pendidikannya dengan pekerjaan, baik negeri atau swasta, yang mungkin digelutinya kelak. "Aku tidak sepertimu, begitu menyukai pemikiran. Aku harus pilih jurusan kuliah dengan mempertimbangkan masa depan itu sendiri. Karena itu, aku pilih Hukum," kata Fu'a>d Jami>l al-H{amza>wi> menjawab pertanyaan Kama>l tentang alasannya memilih jurusan Hukum.65 Sebaliknya, sebagian individu laki-laki dan perempuan dari kelas atas aristokrat seperti H{usayn Shadda>d dan Aida Shadda>d dalam QS, dan
64
Naji>b Mah}fu>z}, al-Sara>b, 27.
65
‘Alawi>yah S{abri> dalam SU, dan sebagian perempuan dari kelas menengah ke bawah seperti Nawwa>l dalam KHAN adalah individu-individu yang sama sekali tidak memaksudkan pendidikan yang ditempuhnya sebagai alat untuk mencari pekerjaan. Mereka sejak awal memang tidak berniat untuk bekerja karena melimpahnya kekayaan orang tuanya atau, dalam kasus Nawwa>l, karena tidak ingin bekerja di luar rumah. Pada kenyataannya, bahkan bagi individu-individu kelompok terakhir ini, pendidikan terbukti sebagai sebuah investasi yang prospektif. Setelah ayahnya bangkrut dan bunuh diri, H{usayn Shadda>d yang dulu menganggap bekerja sebagai kriminalitas manusia, misalnya, kini harus bekerja dari tengah malam hingga pagi hari, di samping menerjemah di beberapa harian Eropa.66 Pekerjaan menerjemah ini, tentu saja, tidak lepas dari apa yang diperolehnya dahulu di dunia pendidikan.
Dengan fungsi ekonomi ini pendidikan mengakibatkan perubahan cukup berarti, paling tidak, terhadap dua hal, yaitu struktur kelas dan kedudukan perempuan. Perubahan dua hal ini menandai perubahan nilai-nilai ke arah ekualitas di antara warga masyarakat dalam kesempatan ekonomi, yang merupakan salah satu ciri dari sebuah masyarakat yang sedang melakukan proses modernisasi.67 Perubahan ini juga menunjukkan kuatnya daya ubah pendidikan, mengingat tidak mudahnya dua hal ini berubah dan mengingat dari awal modernisasi di Mesir ada upaya-upaya membatasi akses ke pendidikan.
Sejak upaya modernisasi Mesir dilakukan oleh Muh}ammad ‘Ali> Pa>sha>, sistem pendidikan diarahkan untuk melatih para birokrat dan pegawai atau perwira bagi pelayanan pemerintahan. Sistem elit ini pun dibangun dari atas ke bawah, yang dimulai dengan sekolah-sekolah profesi bagi perwira tentara, insinyur, dokter, dan penerjemah. Bahkan, saat reformasi-reformasi pendidikan dilakukan pada pemerintahan Khedive Isma>‘i>l dan ditujukan pada sistem dasar dan menengah, ada sekolah dasar elit dan sekolah dasar bergaya lama, yaitu
kutta>b. Sekolah terakhir ini pada akhirnya akan ke al-Azhar (lama), beberapa
66
Naji>b Mah}fu>z}, al-Sukkari>yah, 52-3 dan 306-7.
67
John J. Donohue dan John L. Esposito (peny.), Islam dan Pembaharuan: Ensiklopedi Masalah-masalah, terjem. Machnun Husein (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1993), xvi.
sekolah niaga sedang atau kembali ke kampung, tempat para siswa akan berubah kembali menjadi buta huruf dan kerja kasar di ladang-ladang kapas.
Meskipun tidak ada niat untuk membuka elit Mesir-Turki bagi seluruh penduduk, dari momen dibukanya sekolah-sekolah ada tekanan yang meningkat untuk memberikan akses pada anggota kelompok yang dekat dengan elit penguasa, yaitu bangsawan kampung. Akses juga diberikan kepada para pemuda dalam misi-misi mahasiswa yang dikirim untuk belajar ke Eropa. Selama tahun 1860-an dan 1870-an yang dinamis, akses tersebut menjadi rutin. Namun, Negara kolonial bertindak menutup banyak kesempatan. Kebijakan Lord Cromer, konsul jendral Inggris di Mesir dari 1882-1907, tidak mendukung sistem pendidikan yang solid di Mesir. Sebelum ia pergi, hanya ada tiga sekolah menengah negeri, yang pada tahun 1902 seluruhnya meluluskan kurang dari seratus siswa. Selama 20 tahun ia menjabat, pendidikan menerima kurang dari 1% anggaran Mesir, yang naik menjadi 3,4% sebelum PD I. Perubahan hanya terjadi ketika orang-orang Mesir mengambil kontrol atas kementerian pada 1922. Universitas Mesir sendiri baru dibuka di Kairo pada 21 Desember 1908 dengan Putra Mahkota Ah}mad Fu'a>d sebagai rektornya.68
Kelas sosial adalah salah satu bentuk pelapisan dalam masyarakat. Selain kelas, pelapisan masyarakat biasanya didasarkan pada etnis, jenis kelamin, dan usia. Setiap masyarakat senantiasa memiliki penghargaan tertentu terhadap hal-hal tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Inilah yang melahirkan pelapisan sosial, di samping karena setiap masyarakat ingin menempatkan individu-individu dalam tempat-tempat yang tersedia dalam struktur sosial dan mendorongnya agar melaksanakan kewajibannya yang sesuai dengan kedudukan dan peranannya.69
Berbeda dengan pelapisan atas dasar etnis, jenis kelamin, dan usia, pelapisan atas dasar kelas adalah pelapisan yang didasarkan pada kriteria-kriteria tertentu seperti peran ekonomi, pekerjaan, dan penghasilan. Karena itu, kelas
68
M. W. Daly (Ed.), The Cambridge History of Egypt:Modern Egypt from 1517 to the End of the Twentieth Century (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), vol. 2, 278-279.
69
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1990), 281.
sosial adalah sebuah status yang dicapai (achieved), bukan status yang diberikan (ascribed).70 Ini berarti bahwa individu-individu bisa bergerak atau berpindah dari kelas asalnya, baik naik atau turun dalam struktur, tergantung pada masih dimilikinya atau tidak kriteria-kriteria penentu kelasnya. Sebuah proses, saat individu bergerak dari satu posisi ke posisi lain dalam masyarakat ini, posisi yang secara umum diakui memberi nilai tertentu, baik lebih tinggi atau lebih rendah, disebut mobilitas sosial.71 Pendidikan, seperti yang akan terlihat, adalah salah satu dari saluran mobilitas sosial yang utama.
Secara umum dan sebagaimana yang tergambar dalam novel-novel Naji>b, kelas sosial dalam masyarakat Mesir dapat dibagi menjadi tiga: kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Hampir semua novel realis Naji>b, dalam porsi yang berbeda, memotret interaksi ketiga kelas ini. Kelas atas adalah individu-individu yang memiliki income (penghasilan) tinggi, baik dari kekayaan warisan atau dari jabatan tingginya di pemerintahan. Mereka umumnya bergelar bek atau
pa>sha>, tinggal di kawasan-kawasan perumahan elit dan tidak jarang mengajak keluarganya berlibur ke Alexandria atau, bahkan, Eropa apabila datang masa cuti atau musim liburan. Ah}mad Bek H{amdi>s dalam QJ, Ah}mad Bek Yusri>