114
John L. Esposito (ed.), Identitas Islam: pada Perubahan Sosial-Politik, terjem. A. Rahman Zainuddid (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), 7.
115
Raja>’ al-Naqqa>sh, Fi> H{ubb Naji>b Mah}fu>z}, 71-3. Lihat pula, Soha Abdel Kader, EgyptianWomen, 19.
116
Ketika hampir tiba di Iskandariyah, Napoleon Bonaparte dari laut
mengirimkan selebaran berbahasa Arab fus}h}a> kepada masyarakat Mesir.
Dalam selebaran itu ia menyebut Mesir sebagai negara indah dan ia datang untuk memperkuat prinsip-pinsip kebebasan. Masyarakat Mesir itu menyembah Allah dan mengagungkan nabi Muhammad SAW dan al-Qur'an. Semua orang sama di hadapan Allah, tetapi akal, bakat, dan pengetahuanlah yang membedakan mereka. Dalam hal ini para bek tidak berbeda dari anggota masyarakat yang lain sehingga mereka memonopoli semua kekayaan. Tidak seorang pun masyarakat Mesir yang tidak bisa mencapai jabatan dan kedudukan tertinggi. Ia pun menyerukan kepada para tentara Perancis untuk menghomati syiar-syiar kaum muslimin dan memiliki toleransi beragama.117
Dalam selebaran ini Napoleon menyebut-nyebut "Mesir" dan "masyarakat Mesir." Sebutan ini seolah-olah merupakan pengakuan tidak langsung Napoleon atas adanya sebuah kelompok bangsa tertentu dengan segala cita-cita dan harapan ideal yang akan dikejarnya. Dengan kata lain, Napoleon telah menyadari adanya semangat nasionalisme dalam masyarakat Mesir. Kesadaran Napoleon ini tidak lama pun terbukti ketika kedatangannya segera disambut dengan perlawanan oleh bangsa Mesir di berbagai daerah meskipun pembebasan Mesir dari orang-orang Mamluk yang disebutnya menindas Mesir telah menjadi bagian dari propagandanya.118
Pengangkatan Muh}ammad ‘Ali> Pa>sha> sebagai penguasa Mesir oleh masyarakat dan para ulama Mesir, lalu dukungan penuh mereka terhadapnya dalam menghadapi kekuatan-kekuatan luar yang ingin menguasai Mesir dan juga dalam menghadapi para penguasa Turki Usmani itu sendiri, menjadi tanda lain dari terus menguatnya rasa kebangsaan ini. Demikian pula dengan penentangan dan sikap oposisi sebagian mereka terhadap Muh}ammad ‘Ali> Pa>sha> ketika yang terakhir ini menyimpang dari syarat-syarat yang mereka tetapkan. Sikap
117
Sa>mi> Sulayma>n Muh}ammad al-Sahm, al-Ta‘li>m, 191.
118
‘Ali> Sala>mah al-Jamal, Mudhakkira>t fi> Ta>ri>kh Mis}r: Qadi>m wa al-Jadi>d (Kairo: Da>r al-Fikr al-‘Arabi>, 1997), 29-31.
mereka ini tentu lahir dari kesadaran berbangsa dan semangat memperoleh kebebasan.
Tampaknya, perasaan kebangsaan mudah berkembang di Mesir. Bahkan sebelum nasionalisme itu menjadi sebuah doktrin kesadaran diri, para penulis Mesir secara spontan mengidentifikasi Mesir sebagai wat}an, tanah air.119 Homogenitas dan isolasi negeri ini, sejarah panjang pemerintahan terpusatnya,120 dan peradaban masa lalunya yang khas, memperkuat kesadaran atas identitas Mesir.121 "Mas}r Umm al-Dunya>" (Mesir adalah ibu atau pusat peradaban dunia) adalah ungkapan yang lazim terlontar dengan penuh rasa bangga dari
119
Ada banyak pengertian nasionalisme. Stanley Benn, misalnya, menyebut lima hal dalam nasionalisme: semangat ketaatan pada suatu bangsa; kecenderungan untuk mengutamakan kepentingan bangsa, terutama jika ia bertentangan dengan kepentingan lain; sikap menonjolkan ciri suatu bangsa; doktrin pentingnya kebudayaan bangsa dipertahankan; dan suatu teori politik atau anthropologi bahwa manusia secara alami terbagi-bagi menjadi berbagai bangsa dan bahwa ada kriteria yang jelas untuk mengenali suatu bangsa berserta para anggota bangsa itu. Namun, pada intinya nasionalisme menunjuk pada kecenderungan memberikan nilai tertinggi kepada bangsa, dengan mengorbankan nilai-nilai lain. Eksistensi bangsa itu sendiri didasarkan pada kesamaan tertentu, sehingga dapat dikenali dan dibedakan dari bangsa lain. Dalam literatur Arab ada dua istilah yang digunakan secara bergantian, yang menunjuk pada perasaan berbangsa. Kedua istilah dimaksud adalah "ﺔﻴ ﻮ ا" dan "ﺔﻴﻣﻮ ا". Namun, Sati' al-Husri membedakan dua istilah ini. Baginya, ﺔﻴ ﻮ ا (patriotisme) cinta tanah air dan rasa keterikatan batin dengannya; sedangkan
ﻣﻮ ا
ﺔﻴ (nasionalisme) adalah cinta bangsa (ﺔﻣ ا) dan rasa keterikatan yang sama dengannya. Meskipun keduanya berbeda, menurutnya, ada saling hubungan yang rapat antara keduanya. Cinta tanah air pada dasarnya menyebabkan cinta kepada masyarakat penghuninya dan, demikian pula, cinta bangsa menyiratkan cinta negeri, tempat bangsa itu berada. Karena adanya saling hubungan inilah, penulis tidak membedakan pengertiannya ketika menjumpainya dalam novel-novel realis Naji>b Mah{fu>z}. Lihat, Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan keindonesiaan (Bandung: Mizan, 1987), 37; Zeenath Kausar, Islam and Nationalism: An Analysis of the views of Azad, Iqbal and Maududi (Kuala Lumpur: A.S. Noordeen), 34-7; William L. Cleveland, The Making of an Arab Nationalist (Princeton: Princeton University Press, 1971), 92-3.
120
Begitu panjangnya sejarah pemerintahan tersentral di Mesir hingga, dalam wacana tentang "negara," Mesir dianggap sebagai salah satu negara tertua di dunia. Lima ribu tahun yang lalu Menas telah menyatukan Mesir Delta dan Upper Egypt di bawah satu otoritas sentral yang pada akhirnya membuat penggunaan yang paling mungkin atas potensi pertanian dan pengairan negara. Namun, dalam pengertian negara sebagai sebuah entitas teritorial yang secara ekternal didasarkan pada kedaulatan dan secara internal pada institusi-institusi legal dan pasar tunggal sebagaimana yang dipahami oleh Eropa modern, sejarah "negara modern" di Mesir biasanya diidentifikasi dengan pemerintahan Muh}ammad ‘Ali Pa>sha> yang mulai berkuasa pada 1805. Ia tidak hanya membangun tentara nasional, tetapi juga jaringan industri yang ekstensif dan sistem pendidikan yang impresif. Di bawah pemerintahannya, isyarat-isyarat awal atas konsep kewarganegaraan (atau minimal kebangsaan) telah muncul. Lihat, Nazih N. Ayubi, Over-stating the Arab State: Politics and Society in the Middle East (London: I>.B.Tauris, 1995), 99.
121
Ira M. Lapidus, A History of Islamic Society (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), Edisi II, 518.
masyarakat Mesir dewasa ini ketika berbincang dan memperkenalkan Mesir kepada orang asing yang datang berkunjung ke negaranya.
Semangat kebangsaan ini pada akhir abad ke-19 bercampur dengan ide tentang reformasi yang memodernisasi. Para penulis seperti Mus}t}afa> Ka>mil (1874-1908) mengemukakan gagasan tentang bangsa yang bersatu, berjiwa patriotik, bergelora dalam membenci penguasa asing, dan bahkan juga mengabdikan diri bagi pembentukan pemerintahan konstitusional dan pendidikan model Barat. Ah}mad Lut}fi> al-Sayyid (1872-1963) menjadi pemikir tentang sebuah masyarakat konstitusional dan sekular. Kebebasan, menurutnya, merupakan basis masyarakat. Kebebasan dari penguasa asing, kebebasan dari kontrol negara, dan pengakuan hak-hak sipil dan politik warga negara adalah prinsip-prinsip utama masyarakat. Baginya, nasionalisme berarti kemerdekaan dan juga sebuah sistem sosial dan politik baru bagi Mesir.
Melalui pendidikan, pengiriman misi ilmiah ke Eropa, dan media massa seperti yang telah diuraikan di atas, ide kebangsaan ini terus menguat di kalangan elit terdidik. Peristiwa Dinshaway 1906 menebarkan ide nasionalis dari milieu kelas menengah, asal mulanya, kepada mahasiswa dan bahkan masyarakat luas. Sekelompok tentara Inggris yang sedang berburu merpati terlibat bentrok dengan masyarakat lokal. Seorang tentara pun terbunuh dan, sebagai tindakan balasan, Inggris menghukum mati empat orang petani dan mencambuk sejumlah orang lainnya di depan khalayak umum. Kekejaman ini membangkitkan permusuhan masyarakat Mesir secara luas terhadap penguasa Inggris.122
122
Inggris mulai berkuasa dan menduduki Mesir pada 1882 setelah memadamkan pemberontakan ‘Ura>bi> 1881. Tindakan Inggris atas "permintaan resmi" Khedive Tawfi>q itu diklaimnya sebagai bertujuan mencegah anarkhi dan mengembalikan otoritas khedive, padahal tujuan Inggris sebenarnya adalah India dan untuk melindungi investasinya di Mesir. Pemberontakan ‘Ura>bi> sendiri dilatarbelakangi oleh penolakan campur tangan asing dalam urusan dalam negeri Mesir. Karena banyak berhutang pada pemerintahan dan bank Eropa untuk membeli barang-barang mewah, peralatan militer, mesin pabrik, dan peralatan penting bagi pembangunan jalan kereta api dan Terusan Suez, Mesir sejak 1875 dinyatakan sebagai pailit dan harus menerima manajemen administrasi hutang oleh asing di bawah kontrol Anglo-French. Inggris sendiri berkepentingan menguasai Mesir dalam rangka memperkokoh imperiumnya di India dan karena Mesir menjadi importir pakaian dari Inggris. Sejak pemberontakan ‘Ura>bi> yang gagal, Mesir harus berjuang melawan dominasi tiga tipe orang asing: Inggris yang mengontrol negara secara politik dan ekonomi, orang-orang asing yang menetap (mayoritas orang Eropa) yang mendominasi kehidupan ekonomi, dan aristokrat lokal dari keturunan asing. Lihat, Ira M. Lapidus, A History, 515 dan 519; Trevor Mostyn dan Albert Hourani (Ed.), The Cambridge
Perang Dunia I dalam beberapa hal membawa implikasi positif bagi masyarakat Mesir. Perang mempercepat pertumbuhan nasionalisme Mesir, melicinkan jalan bagi penentuan identitas politik, dan mengkristalisasikan kebulatan tekad Mesir untuk merdeka. Pendeklarasian Mesir sebagai sebuah protektorat pada 18 Desember 1914 oleh Inggris secara sepihak tentu saja
mengimplikasikan pemberian kemerdekaan de facto kepada Mesir dari imperium
Turki Uthmani.123 Selain administrasi kolonial yang dipimpin oleh Komisaris Tinggi Henry McMahon, administrasi militer dijalankan di bawah komando panglima tertinggi pasukan Inggris di Mesir, John Maxwell, yang memperluasnya sampai kawasan-kawasan jauh dan terpencil Mesir. Administrasi baru yang tersentral ini pada gilirannya mendukung identitas politik elit Mesir. Di mata mereka Mesir sekali lagi menjadi keseluruhan yang integral, yang mereka interpretasikan sebagai sebuah bangsa (nation). Mesir harus berdiri tanpa ikatan politik dengan entitas apapun yang lebih besar dari Mesir itu sendiri. Pemisahan negara dari imperium Turki Uthmani atas inisiatif Inggris ini kemudian diterima secara umum oleh para nasionalis, bahkan oleh beberapa orang yang merasa rindu dengan periode Turki Uthmani.124
Melalui perlawanannya terhadap Inggrislah, Mesir diorganisir kembali sebagai sebuah negara bangsa. Dapat dikatakan bahwa sejak menjelang Perang Dunia I sampai akhir 1920-an apa yang disebut nasionalisme telah menjadi roh masyarakat Mesir untuk melawan pendudukan Inggris dan meraih kemerdekaan. Perang telah mengubah sifat nasionalisme Mesir. Dari sebuah gerakan elit terdidik, ia menjadi sebuah gerakan yang, pada saat krisis, dapat membangkitkan
Encyclopedia of the Middle East and North Africa (Cambridge: Cambridge University Press, 1988), 319; dan Nicholas S. Hopkins dan Saad Eddin Ibrahim (Ed.), Arab Society (Kairo: The American University in Cairo Press, 1994), 48-9.
123
Meskipun sejak ditaklukan Sultan Sali>m I 1517 sampai sebelum pendudukan Inggris 1882 bersatus sebagai bagian dari imperium Turki Uthma>ni> dan diperintah oleh seorang wa>li (gubernur) dari Mamluk atas nama Sultan Turki Uthma>ni>, Mesir sejak Muh}ammad ‘Ali> mulai berkuasa 1805 praktis hanya dalam "nama" berada di bawah imperium Turki Uthma>ni>. Pada kenyataannya, Mesir di masanya menjadi negara paling terkemuka di Timur Tengah, jauh melebihi imperium Turki Uthma>ni> sendiri. Lihat, Ghulam Nabi Saqib, Modernization, 80.
124
Reinhard Schulze, A Modern History of the Islamic World (New York: New York Unversity Press, 2002), 42.
dukungan pasif dan aktif dari hampir seluruh masyarakat. Inggris menjelma menjadi musuh bersama dan utama seluruh elemen bangsa bagi terwujudnya dunia baru, tanah air baru, rumah baru, dan warga baru masyarakat Mesir sebagaimana yang terlintas dalam benak Fahmi>, salah seorang tokoh mahasiswa dalam BQ, ketika mendengar obrolan-obrolan tentang nasionalisme, “karena betapa obrolan-obrolan tentang patriotisme atau nasionalisme itu membangkitkan mimpi-mimpi besar dalam dirinya. Dalam dunia penuh pesonanya ia melihat dunia baru, tanah air baru, rumah baru, warga baru, yang semuanya membangkitkan vitalitas dan semangat.”125
Semangat nasionalisme ini berpuncak pada lahirnya peristiwa terpenting pada dekade kedua abad ke-20 di Mesir, yaitu Revolusi 1919. Revolusi yang terjadi pada bulan Maret ini dipicu oleh penangkapan dan pengasingan Sa‘ad Zaghlu>l (1860-1927) bersama teman-temannya, Isma>‘i>l S{idqi>, Muh}ammad Mah}mu>d, dan H{amad al-Ba>sil, ke Malta. Ini diawali dengan petisi "menuntut pencabutan status protektorat dan pendeklarasian kemerdekaan Mesir" yang diajukan pada 13 Nopember 1918 kepada sultan oleh tiga orang,
yang kemudian terkenal dengan sebutan wafd (delegasi) Mesir. Ketiga orang
tersebut adalah Sa‘ad Zaghlu>l,126 ‘Abd al-‘Azi>z Fahmi>, dan ‘Ali>
125
Lihat, Naji>b Mah}fu>z}, Bayn, 311:
..."
وو،ةﺪ ﺪ ﺎﻴ د ﻴ ىءاﺮ ةﺮ ﺎ اﺎهﺎﻴ دﻰ ، ﻰ مﻼ ﻷاﺮ آأﺔﻴ ﻮ اﺚ دﺎ أﺮﻴﺜ ﺎﻣﺪ
ﺔﺳﺎ وﺔ ﻮﻴ ﺎ ﻴ نﻮﻀ هأو،دﺪ هأو،ﺪ ﺪ ﻴ و،ﺪ ﺪ
"...
126
Sebelum menjadi wakil ketua dewan legislatif, lulusan al-Alzhar dan peraih sarjana Hukum dari Perancis ini mengawali karirnya sebagai pengacara, lalu hakim pada pengadilan-pengadilan ahli>yah (pengadilan yang jurisdiksinya terbatas pada warga negara Mesir). Pada 1892 ia menjadi hakim di Pengadilan Banding dan di masa Khedive ‘Abba>s H{ilmi> II (1892-1914) pernah menjabat sebagai menteri keadilan (wazi>r lilh}aqqa>ni>yah) tahun 1910/11 dan menteri pendidikan 1906. Ia menyerukan, dan berhasil, menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa semua materi ajar di semua sekolah, menggantikan bahasa Inggris. Di masanya pula universitas pertama Mesir berdiri. Tahun 1913 murid Jama>luddin al-Afgha>ni> dan teman Muh}ammad ‘Abduh ini meninggalkan jabatannya untuk masuk dewan legislatif. Setelah Revolusi 1919 anak seorang kepala kampung, ‘umdah, dan lulusan al-Azhar ini berubah menjadi pahlawan nasional dan bapak spiritual bagi masyarakat Mesir. Masyarakat mencintai, mengkultuskan, dan mengagungkannya sampai tingkat ibadah. Hal ini karena bangsa Mesir, dalam pandangan Muh}ammad Fari>d, laksana “pipa air” yang putus dan tidak ada harapan untuk tersambung kembali, minimal pada saat itu. Sa‘ad Zaghlu>l lalu datang memperbaiki “pipa air yang putus itu” dan mengubahnya menjadi revolusi rakyat terbesar dalam sejarah Mesir modern. Lihat, ‘Ali> Sala>mah al-Jamal, Mudhakkira>t, 63; Soha Abdel Kader, Egyptian Women, 78; dan Raja>’ al-Naqqa>sh, Naji>b Mah}fu>z}: S{afah}a>t, 208-9.
Sha‘ra>wi>. Yang pertama adalah wakil ketua dan dua terakhir adalah anggota dewan legislatif (al-Jam‘i>yah al- Tashri>‘i>yah). Petisi ini mendapat dukungan dan sambutan dari seluruh negeri. Dukungan masyarakat diwujudkan dengan gagasan "penunjukan wakil rakyat" yang tiada bandingannya dalam sejarah. Jutaan tanda tangan atau cap jempol masyarakat Mesir berhasil dikumpulkan sebagai semacam "mandat rakyat" bagi para wakilnya dalam menuntut hak kemerdekaannya, setelah sebelumnya Inggris mempertanyakan atas dasar apa Sa‘ad Zaghlu>l dan teman-temannya bicara tentang kemerdekaan Mesir. Isi lembar penunjukan wakil ini disebutkan Naji>b dalam BQ sebagai berikut:127
"
ىواﺮ ﻰ و ﺎ ﺎ لﻮ ز ﺪ ﺳ تاﺮﻀ ﺎ ﺎ أ ﺪ اﺬه ﻰ ﻴ ﻮ ا
ﺪ ﻣو ﻰ ﺎ ﻜ ا ﻴﻄ ا ﺪ و ﻚ ﺔ ﻮ ﻰ ﺪ ﻣو ﻚ ﻰ ﻬ ﺰ ﺰ ا ﺪ و ﺎ ﺎ
نأ ﻰ ،نورﺎ ﺨ ﻣ ﻬﻴ إ اﻮ ﻀ نأ ﻬ و ،ﻚ ﺪﻴ ا ﻰ ﻄ ﺪ أو ﺎ ﺎ دﻮ ﻣ
ﻰ اوﺪ و ﺎ ﺜﻴ ﺔ وﺮ ا ﺔ ﻴ ا قﺮﻄ ﺎ اﻮ
ﺮ ﻣ لﻼ ﺳا ﻰ ﻼﻴ ﺳ
ﺎﻣﺎ ﻼ ﺳا
.
"
Revolusi 1919 mempunyai pengaruh besar dalam sejarah Mesir kontemporer. Ia menghasilkan pencapaian dalam semua level: menghapus hak-hak istimewa orang asing, mendirikan pemerintahan demokratis, kemajuan seni, kebangkitan perempuan, kesatuan nasional, dan kebebasan. Sebelum Revolusi 1919 Inggris adalah segalanya dan terpenting di Mesir, tetapi setelah revolusi rakyat menjadi memiliki peran penting. Sumbangan lainnya adalah ia secara tidak langsung menabur benih-benih Revolusi Juli 1952.128
Pascarevolusi ini Sa‘ad Zaghlu>l muncul sebagai figur sentral dalam perjuangan kemerdekaan di Mesir. Ia adalah seorang tokoh nasionalis yang
127
Lihat, Naji>b Mah}fu>z}, Bayn, 306-7, 311-6333, dan 306, yang terjemahannya adalah:
“Kami yang bertanda tangan di sini telah memberikan kuasa untuk mewakili kami kepada Sa‘ad Zaghlu>l Pa>sha>, ‘Ali> Sha‘ra>wi> Pa>sha>, ‘Abd al-‘Azi>z Fahmi> Bek, Muh}ammad ‘Ali> ‘Alwabah Bek, ‘Abd al-Lat}i>f al-Mikba>ti>, Muh}ammad Mah}mu>d Pa>sha>, dan Ah}mad Lut}fi> al-Sayyid. Mereka juga berhak merekrut orang-orang yang mereka pilih, untuk dengan jalan apa pun mengupayakan kemerdekaan Mesir sepenuhnya, dengan cara-cara damai dan legal.”
. "
128
berorientasi kemesiran. Dengan kata lain, ia adalah pendukung apa yang kemudian disebut sebagai nasionalisme Mesir, nasionalisme teritorial atau--meminjam istilah Albert Hourani-- nasionalisme sekular dan konstitusionalis.129 Bahkan, dapat dikatakan bahwa ia menjadi perwujudan dari orientasi nasionalisme mayoritas bangsa Mesir saat itu. Ketika bertemu dengan para delegasi Arab pada 1918 di Versailes, misalnya, ia berpendirian bahwa perjuangan mereka bagi statehood tidaklah berhubungan. "Problem kami adalah problem masyarakat Mesir, bukan problem masyarakat Arab."130 "Masyarakat Mesir pertama-tama dan terutama harus memfokuskan pada kemerdekaan, pembangunan, dan kemajuan Mesir, bukan pada masyarakat Arab atau Islam," demikian tampaknya maksud lain dari ucapan Sa‘ad Zaghlu>l tersebut.
Pandangan tokoh berpengaruh ini, secara implisit, menunjukkan struktur politik yang diperjuangkan bangsa Mesir saat itu. Struktur ini harus mewadahi aspirasi seluruh elemen bangsa dari aliran dan kepercayaan yang berbeda. Kriteria utama untuk menilai warga negara dalam proses politik lebih didasarkan pada kemampuan dan nasionalisme, daripada agama warga negara yang bersangkutan. Basis politik ini menjadi penting, terutama karena agama masyarakat Mesir tidaklah homogen. Selain agama Islam yang dianut oleh mayoritas masyarakat
129
Bentuk sekular berarti meyakini sebuah ikatan yang mencakup orang-orang dari aliran dan kepercayaan yang berbeda dan sebuah kebijakan yang didasarkan pada kepentingan-kepentingan negara dan masyarakat, sedangkan yang dimaksud dengan bentuk konstitusionalis bahwa keinginan negara seharusnya dinyatakan oleh pemerintahan terpilih yang bertanggung jawab pada majelis terpilih. Lihat. Albert Hourani, A History, 343.
130
Dalam perjuangan bangsa Arab mencapai kemerdekaannya dari kolonial Barat (Eropa), dikenal dua orientasi gerakan. Pertama, gerakan yang menekankan sentimen Arab dan menuntut kesatuan politik dunia Arab yang berakar pada kesamaan bahasa, sejarah, budaya, dan geografis. Kedua, gerakan yang menekankan dan menuntut kemerdekaan bagi masing-masing negara Arab, yang dipengaruhi oleh nasionalisme sekular-liberal Barat dan berakar pada perasaan identitas, sejarah, dan selanjutnya kebangsaan Mesir yang berbeda. Orientasi pertama disebut sebagai nasionalisme Arab atau pan-Arabisme, sedangkan orientasi kedua sebagai nasionalisme teritorial. Orientasi terakhir ini populer di Mesir, Saudi Arabia, Yaman, dan Lebanon. Ah}mad Lut}fi> al-Sayyid, Sa‘ad Zaghlu>l, dan T{aha H{usayn adalah representasi dari orientasi kedua. "Kemesiran kita menuntut bahwa tanah air kita menjadi qiblah kita dan bahwa kita tidak mengarahkan wajah kita ke yang lain," tegas Lut}fi> al-Sayyid. Dengan menggunakan kata qiblah, ia hendak menegaskan bahwa orang Mesir hendaknya hanya fokus ke satu arah, yaitu Mesir dan kepentingannya, sebagaimana fokusnya orang shalat menghadap ke arah satu qiblah (Ka‘bah). Michael N. Barnett, Dialogues in Arab Politics: Negotiations in Regional Order (New York: Columbia University Press, 1998), 60-3. Lihat pula, John L. Esposito, Islam and Politics (New York: Syracuse University Press, 1998), 68-77 .
Mesir, ada agama Kristen yang dianut oleh 8,5 % masyarakatnya, terutama orang Qibti; dan agama Yahudi yang sebelum 1948 diperkirakan dianut oleh 80.000 orang.131
Dalam perkembangan selanjutnya, setelah melalui serangkaian negosiasi dan gerakan ekstra parlementer, Inggris pun harus mengakhiri protektoratnya dan pada 28 Pebruari 1922 menyatakan Mesir sebagai negara merdeka. Namun, pernyataan itu mengandung empat klausul yang menegaskan bahwa Inggris tetap mengambil kontrol penuh atas area-area yang dianggapnya vital bagi kepentingan mereka, yaitu Sudan dan, termasuk di dalamnya, Sungai Nil; semua orang asing dan minoritas (Kristen dan Yahudi) di Mesir; sistem komunikasi; dan pertahanan Mesir.132 Selain empat klausul yang tidak pernah disetujui oleh pemerintah Mesir itu, urusan dalam negeri Mesir kini dijalankan oleh seorang raja Mesir --sebelumnya bergelar sultan-- dan sebuah parlemen. Konstitusi 1923 juga diundangkan.133 Dengan pemerintahan parlementer dan konstitusionalis ini, era politik liberal di Mesir pun dimulai.
Dengan status baru ini, berbagai kelompok sosial dan politik kemudian lahir. Di sana ada Partai al-Wat}ani> (Nasional), Wafd, Ah}ra>r
131
http://www.photius.com/countries/egypt/society/egypt_society_religion.html, Egypt Society: Religion, 25 Juli 2008.
132
Karena adanya empat klausul ini, ada yang menganggap bahwa Mesir sebenarnya baru berstatus semi merdeka dan belum merdeka sepenuhnya. Pernyataan kemerdekaan itu --dalam bahasa Sa‘ad Zaghlu>l-- seperti orang yang memberi Mesir 1000 dinar dengan satu tangannya dan mengambil 1000 dinar dari Mesir dengan tangannya yang lain. Kemerdekaan penuh Mesir, dalam arti keluarnya tentara pendudukan Inggris dari negara itu, baru diperolehnya setelah Revolusi 23 Juli 1952. Meskipun demikian, hari saat Mesir memperoleh semi kemerdekaannya ini diakui bangsa Mesir sebagai Hari Kemerdekaannya. Lihat Roy A. Andersen, Robert F. Seibert, dan Jon G. Wagner, Politics and Change in the Middle East: Sources of Conflict and Accomodation (New Jersey: Pearson Prentice Hall, 2004), 62; dan ‘Ali> Sala>mah al-Jamal, Mudhakkira>t, 81, 25 Juli 2008.
133
Dalam Konstitusi 1923 ini disebutkan bahwa parlemen terdiri dari Senat (majlis al- shuyu>kh) dan DPR (majlis al-nu>wa>b) yang dipilih oleh laki-laki yang memiliki hak pilih, kecuali untuk 2/5 anggota Senat yang ditunjuk raja. RUU yang dibuat parlemen baru mendapat status hukum setelah ditandatangani oleh raja. Apabila raja menolak dan mengirimnya kembali untuk diperbaiki, DPR dapat mengesahkannya dengan 2/3 mayoritas, dan raja lalu diharuskan