• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nasib Anak-anak

Dalam dokumen Dehumanisasi Anak Marginal Dehumanisasi (Halaman 88-93)

ecara khusus kita sering menjumpai anak-anak, baik laki-laki atau perempuan, anak masih balita ataupun sudah remaja, bekerja untuk membantu orang tua atau untuk menghidupi diri sendiri. Anak-anak itu ada yang bekerja pada sektor formal sebagai buruh pabrik dan sektor informal sebagai pedagang asongan atau pedagang kaki lima, kuli panggul, pengamen, penyemir sepatu, pemulung, pembantu, calo kendaraan umum, tukang parkir, pekerja prostitusi dan peminta-minta. Terlihat memang kemiskinan ekonomi menyebabkan mereka harus mencari uang dan merelakan diri untuk kehilangan masa kanak-kanak yang seharusnya diisi dengan belajar dan bermain, bukan bekerja membanting tulang. Juga pengalaman mendapat perlakuan kasar dan kejam yang mereka alami di lapangan ketika bekerja (nanti) akan menunjukkan bahwa mereka mengalami juga dimensi kemiskinan yang lain. Begitu pula dengan masalah anak-anak miskin perkotaan yang merupakan salah satu bagian dari kehidupan kaum urban yang miskin di Jakarta. Berdasarkan pengalaman, anak-anak miskin (berumur antara 5 sampai 18 tahun) perkotaan ini dapat kita bagi menjadi tiga bentuk, yakni:

1. Anak-anak miskin pemukiman kumuh;

mereka ini adalah anak-anak para kaum urban yang tinggal bersama orang tuanya di pemukiman-pemukiman kumuh. Kelompok anak-anak ini ada juga yang bersekolah dan banyak juga yang tidak mampu mengenyam pendidikan formal. Penghasilan mereka berperanan penting dalam me-nopang perekonomian keluarga. Tidak jarang juga karena kemiskinan keluarga, para orang tua terpaksa memilih tidak lagi menyekolahkan anak-anaknya dan mempekerjakan mereka.

2. Pekerja anak-anak perkotaan;

mereka hidup di Jakarta, tidak tinggal bersama keluarga atau orang tua, melainkan menyewa ruangan secara bersama-sama dan dekat dengan tempat mereka berusaha atau bekerja. Mereka bekerja untuk menghidupi kebutuhan

S

sendiri, namun apabila ada sisa uang ditabung untuk dikirim ke desa, banyak dari mereka yang tetap melanjutkan sekolah, tentunya dengan biaya sendiri. Pola hidup mereka mengelompok atau menyewa ruangan bersama rekan seprofesi atau daerah asal. Orang tua atau keluarga mereka tetap berada di desa, secara berkala mereka pulang ke desa atau mengirimkan uang hasil berdagang ke desa.

3. Anak-anak jalanan;

kelompok anak-anak ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan dua kelompok anak-anak di atas. Mereka ini tidak memiliki tempat tinggal seperti dua kelompok sebelumnya, tempat tinggal mereka adalah „alam terbuka‟, tidak berhubungan dengan keluarga batih dan menyewa ruang, melainkan di emperan perkotaan, stasiun, terminal, kolong jembatan atau taman-taman kota. Latar belakang mereka turun ke jalan pun agaknya memiliki alasan yang berbeda. Mereka banyak yang lari dari keluarga, sehingga jarang yang masih memiliki atau memelihara hubungan dengan tempat asal atau keluarga. Dapat dikatakan waktu atau hidup sehari-hari mungkin „dilahirkan di jalanan‟, tumbuh dan berkembang di jalanan lebih banyak dihabiskan di jalanan atau jauh dan „terputus‟; memutuskan hubungan dengan keluarga batih.

Banyak dari anak-anak tersebut bekerja memang karena di-minta atau dipaksa oleh orang tua mereka sendiri untuk me-nambah penghasilan keluarga. Seringkali bukan kasih sayang atau penghargaan yang diterima anak-anak sepulang bekerja, melainkan pukulan dan tinju dari pihak orang tua apabila pulang ke rumah tanpa pendapatan. Pengalaman ISJ (Institut Sosial Jakarta) menunjukkan bahwa banyak dari anak-anak jalanan yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Mere-ka sebelumnya memang tidak (perlu) bekerja tetapi sering menjadi sasaran kekerasan dari orang dewasa. Kehidupan di keluarga demikian mendorong anak-anak untuk memutuskan hubungan dengan keluarga dan memilih hidup di jalanan. Kondisi di tempat mereka bekerja seperti di jalanan dan di tempat umum, sebagai asongan, kaki lima, pengamen, calo,

Advokasi Atas Penindasan Dan Pemiskinan Anak

81 peminta-minta atau penyemir senantiasa ditindas, menjadi objek kekerasan, ditangkapi, disiksa atau dianiaya oleh petugas keamanan, petugas Tibum (ketertiban umum) pemda dan orang-orang dewasa lainnya. Barang-barang dagangan mereka dirampas oleh para petugas dan tidak pernah dikembalikan. Banyak di antara mereka disiksa entah dengan disiram air pa-nas, dilempari batu, disudut rokok, disilet maupun dipukul. Banyak pula yang diperkosa (melalui duburnya) dan meng-alami pelecehan seksual lainnya, seperti dipaksa bersenggama, berciuman, melakukan oral sex maupun bertelanjang di tempat umum. Ketika ISJ bersama dengan Jaringan LSM untuk Anak Jalanan mengadakan advokasi bersama (Juli 1995), didapatkan data bahwa peristiwa seperti ini dialami oleh anak-anak jalanan di Jakarta, Bandung, Medan, dan Yogyakarta. Pada bulan Januari 1993, lebih dari 10 anak jalanan/pedagang asongan ditangkapi ketika menjual surat kabar dan minuman botol di Stasiun Kereta Api Jatinegara, Jakarta Timur. Seluruh barang dagangan disita, mereka disiksa dan dipaksa membersihkan lantai stasiun dengan lidahnya. Seorang rekan kami pengasong yang mengalami hal itu, bernama Iwan menceritakan;

" ... saya dipaksa berbaring; aparat keamanan kemudian membawa setrika listrik. Ketika setrika itu digosokkan pada kulit saya, saya menangis karena sakit sekali. Kulit saya melepuh. Saya kemudian dipaksa menjilati lantai stasiun. Ketika saya menolak salah satu dari mereka menampar wajah saya. Rasanya saya hina sekali..."

Hingga saat ini, rekan-rekan pengasong tersebut sudah tidak bisa lagi masuk ke stasiun Jatinegara untuk berjualan. Untuk bekerja atau berjualan di tempat lain pun anak-anak itu harus berhadapan dengan petugas keamanan, apabila tidak ingin ditangkap. Alasan yang selalu digunakan oleh pihak pemda (pemerintah daerah) adalah kebijakan otorita kota, seperti di Jakarta, Perda no. 11 tahun 1988. Sumbernya adalah kebijakan pembangunan perkotaan seperti yang tercermin pada pemberian piala Adipura yang justru menyingkirkan anak dari kesempatan mereka untuk bekerja di sektor informal.

Di Jakarta, sejak keluarnya kebijakan Operasi Esok Penuh Harapan (10 Februari 1990), kemudian dilanjutkan persiapan kota untuk Konferensi Gerakan Non Blok dan konferensi APEC, ruang gerak para pengasong untuk berdagang semakin sempit. Mereka dikejar-kejar, ditangkapi dan begitu saja dirampas dagangannya. Keluar dari pos-pos keamanan, barang dagangan tak kembali utuh, kepala atau bagian tubuh lainnya penuh luka bocor, lecutan atau sembab mata.

Begitu pula sejak awal Agustus 1995, ratusan pedagang asongan ditangkap dari lima wilayah Jakarta. Penangkapan ini dilakukan oleh aparat pemda dan Kepolisian dalam rangka mensukseskan program Gerakan Disiplin Nasional yang diperkuat oleh Perda No. 11 tahun 1988. Salah seorang pengasong yang tertangkap adalah rekan kami yang sehari-hari tinggal pada sebuah open house. Anak tersebut tertangkap oleh petugas Tibum Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur ketika hendak menjual hasil kerajinan tangan yang dibuat bersama anak-anak jalanan di open house. Ketika kami menemani anak tersebut mengambil barang dagangannya di Kecamatan Jatinegara, diminta oleh seorang petugas di sana sebesar 10 ribu rupiah sebagai uang „tebusan‟. Petugas tersebut mengatakan pada kami berdua bahwa mem-bayar uang tebusan itu lebih mudah dan murah, ketimbang harus mengikuti jalur resmi yakni melalui proses persidangan di Pengadilan Negeri.

Memang berdasarkan pengalaman kami, para pedagang yang disita dagangannya tetap akan dihukum denda, karena diang-gap telah melanggar Perda No. 11 tahun 1988. Mengikuti proses pengadilan ini akan membutuhkan waktu lama, juga barang-barang yang disita belum tentu masih utuh jumlah dan keadaannya. Kondisi penindasan ini meminta anak-anak miskin perkotaan di Jakarta dan sekitarnya, yang bekerja di sektor informal harus berjuang keras untuk dapat hidup dan mendapatkan pengakuan atas keberadaannya.

Perda No.11 tahun 1988 yang dibuat oleh pemda DKI Jakarta tentang pengaturan ketertiban pemanfaatan ruang-ruang pub-lik, ternyata memang senjata ampuh para aparat untuk melindas anak-anak pekerja di sektor informal kota. Pengejar-an seperti

Advokasi Atas Penindasan Dan Pemiskinan Anak

83 telah diuraikan pada bagian sebelumnya, kerap kali berbuntut penangkapan yang disertai penyiksaan terhadap anak-anak. Tindakan penyiksaan ini jelas telah melanggar hak asasi anak-anak, tanpa ada usaha dari pihak pelaku untuk menghentikan-nya. Justru cenderung meningkat kualitasnya dari hari ke hari, walaupun masyarakat dan dunia inter-nasional telah banyak menekan agar penyiksaan tersebut dihentikan. Usaha tersebut misalnya melalui penulisan kasus-kasus, protes-protes dan pembuatan pelarangan melalui deklarasi internasional oleh PBB terhadap penyiksaan yang dialami anak-anak yang seharusnya mendapat perlindungan.

Pada tanggal 10 Desember 1984 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), telah mengesahkan sebuah konvensi bagi perlindungan hak-hak asasi manusia, yaitu konvensi untuk

Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman lain yang Kejam, Tidak Manusiawi dan Merendahkan Martabat Manusia. Melalui konvensi tersebut masyarakat internasional, utamanya negara-negara anggota PBB secara bersama-sama diajak untuk mencegah dan mengakhiri berbagai tindakan penyiksaan, perlakuan dan pemberian hukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia yang acap dilakukan oleh pejabat-pejabat publik atau aparat pemerintah dari banyak negara di dunia; perlakuan kejam dan tidak manusiawi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat negara atau orang lain atas seijin atau sepengetahuan pejabat negara tersebut, dilakukan terhadap para tersangka atau rakyat yang tak berdaya dan tak berdosa. Ditambah lagi bahwa sejak 1990 Indonesia juga telah meratifikasi deklarasi PBB tentang hak asasi anak-anak. Namun penyiksaan terhadap anak-anak terutama anak-anak miskin di perkotaan masih sering dilakukan oleh aparat pemda dan militer.

Dalam dokumen Dehumanisasi Anak Marginal Dehumanisasi (Halaman 88-93)