entuk kegiatan pendampingan pada pola pendidikan al-ternatif dirumuskan berdasarkan kebutuhan yang ada pada kelompok lokal. Pada dasarnya masing-masing kelompok lokal mengalami proses kemiskinan yang sama, juga dalam hal memperoleh pendidikan atau pengembangan diri. Dari pengalaman selama ini bentuk pendampingan seperti di atas dapat berguna, seperti meningkatkan solidaritas anak-anak. Dengan bentuk ini anak-anak semakin yakin akan pentingnya kerjasama dan solidaritas dalam menghadapi masalah yang terjadi atau yang akan timbul.
Kegiatan seperti ini juga dapat menumbuhkan kesadaran baru. Dari kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, ternyata mampu membuka cakrawala anak terhadap diri sendiri dan lingkung-annya. Mereka tidak lagi curiga, percaya akan kemampuan sendiri, berani, kreatif serta kritis terhadap lingkungan sekitar, menumbuhkan kebebasan, penghargaan serta suasana saling berdialog dalam setiap pertemuan, menumbuhkan dan me-ngembangkan daya kreatifitas sesuai dengan zamannya.
Mereka juga sadar akan hak-hak dan kewajiban sebagai anak dan warga negara yang selama ini belum pernah mereka nikmati. Anak-anak mampu dengan bebas mengungkapkan
B
Advokasi Atas Penindasan Dan Pemiskinan Anak
93 tentang sesuatu yang menjadi masalah, kebutuhan, serta me-mahami keterbatasan secara rasional.
Melalui beberapa catatan di atas kiranya memberi gambaran pada kita bagaimana situasi anak-anak miskin di kota, bagai-mana sikap masyarakat dan pemerintah daerah. Hingga akhir-nya dapat membantu kita untuk menyusun beberapa agenda penting guna melakukan advokasi sebagai langkah pembelaan dan penyadaran. Pembelaan ini dilakukan agar mereka diper-lakukan aman oleh pihak pemerintah dan masyarakat umum. Ini baru dapat kita lakukan jika dibarengi dengan langkah penyadaran terhadap si anak sendiri, pada masyarakat dan pihak pemerintah. Anak diajak dan dibuka kesadarannya bahwa hak-hak mereka sebagai anak atau warga negara telah dihancurkan oleh orang-orang sekitarnya. Untuk itulah mereka diajak memperjuangkannya agar dapat mereka raih kembali. Proses perjuangan itu juga memberikan kesadaran anak bahwa selama ini sistem yang dibuat oleh penguasalah penyebabnya. Sistem tersebut juga telah merasuk ke dalam masyarakat, sehingga masyarakat ikut memperlakukan mereka secara tidak manusiawi.
Guna mendukung advokasi di atas, patut dibarengi pula dengan langkah-langkah membangun kesadaran baru pada pihak penguasa dan masyarakat umum. Agar kedua pihak tersebut memberikan pengakuan serta (perlakuan) perlindung-an bagi anak-anak miskin perkotaan. Misalnya saja agar pemerintah daerah mau mencabut peraturan-peraturan, seperti Perda No. 11 tahun 1988 tentang Ketertiban Umum atau yang sejenis yang selama ini menindas dan merampas kesempatan mereka sebagai warga kota, utamanya dialami oleh anak-anak miskin perkotaan agar dapat bekerja dengan aman.
Menghadapi masalah anak-anak miskin perkotaan, hendaknya pihak „penguasa‟ mau pula membangun atau mengadakan Komisi Nasional Anak-anak, semacam Komisi Nasional Hak Azasi Manusia. Melalui Komisi Nasional Anak-anak ini dapat dilakukan secara khusus penanganan dan monitoring urusan anak-anak, sehingga pemerintah secara sadar turut merubah
pandangan dan pendekatan dalam penanganan anak-anak miskin perkotaan melalui pendekatan kesejahteraan dan bukan lagi dengan pendekatan ketertiban. Dengan demikian anak-anak mendapat kesempatan memperbaiki kehidupan di tengah-tengah masyarakat.
Pada kenyataannya memang cita-cita ini tidak bisa tercapai dengan mudah dan cepat, banyak sekali kendala yang akan dihadapi karena telah mapannya masyarakat dan penguasa kita akan kenikmatan hasil fisik dari pembangunan yang telah dicapai selama ini. Untuk itu diperlukan kesabaran serta kese-tiaan dalam melakukan advokasi tersebut.
Sulit sekali kita untuk tidak mengakui atau hendak menghapus sumbangan dan jasa anak-anak miskin perkotaan terhadap penghasilan keluarga atau ekonomi nasional. Kehadiran mereka telah begitu banyak memberikan jasa, sulit bagi kita memungkiri bahwa anak-anak miskin perkotaan adalah pemeran penting dalam pengurangan biaya hidup keluarga.
Pandangan yang melarang anak-anak miskin bekerja atau menjauhkan mereka dari kegiatan ekonomi justru telah mem-permiskin kehidupan anak dan keluarga. Larangan itu justru telah menyesatkan kita sehingga masuk pada solusi sederhana, yakni menarik anak-anak miskin dari dunia pekerjaan agar lepas dari bayangan ancaman penindasan. Hendaknya kita mencermati lebih kritis lagi pelarangan bekerja bagi anak-anak miskin, karena ini justru cenderung menjadi sumber potensial bagi pendalaman kemiskinan, sekali pun itu dilandasi oleh itikad mulia. Ada kesan dengan pendekatan pelarangan anak-anak bekerja ini tidak akan memberikan ruang bagi sebagian besar anak-anak miskin yang bekerja lepas dari bayangan kemiskinan. Pelarangan itu sekaligus juga menunjukkan bahwa kita lupa, kemiskinanlah yang menjadi salah satu faktor yang mendo-rong anak-anak miskin bekerja. Dengan bekerja itulah yang menjadi sumbangan anak-anak miskin terhadap keluarganya, meski ukuran sumbangannya kepada keluarga relatif kecil. Namun yang kita tidak bisa disangkal lagi adalah bahwa ada arti khusus
Advokasi Atas Penindasan Dan Pemiskinan Anak
95 anak-anak sebagai faktor penting dalam me-ngurangi sebagian biaya yang mesti dikeluarkan orang tuanya.
Hal yang terasa lebih menggelisahkan juga adalah pasar tenaga kerja yang memberikan peluang besar bagi mereka untuk terlibat dalam proses produksi. Kita tentu tidak bisa menutup mata bahwa tenaga kerja anak-anak dihargai lebih murah dan mudah dikendalikan ketimbang tenaga kerja dewasa.
Sikap yang selalu dicoba dengan advokasi ISJ adalah mencoba agar anak-anak miskin perkotaan yang bekerja agar tetap diberi peluang mungkin ini cukup menggelisahkan banyak orang. Sambil mendukung keberadaan anak-anak miskin bekerja, ada kehendak yang kuat untuk melindungi anak dari ancaman kekerasan dan memberikan peluang bagi mereka untuk menikmati hak-hak sebagai anak. Juga ada kehendak kuat lain untuk terus mempertanyakan diri sendiri tentang sikap yang perlu kita ambil terhadap gejala yang menggelisahkan itu. Siapa-kah kita sebenarnya yang ingin menutup mata dan membiarkan anak-anak miskin yang keluar dari „buaya‟ kemiskinan, kemudian masuk ke dalam mulut „harimau‟ kemiskinan? Siapakah kita sebenarnya yang membiarkan kepalan jari-jari tangan kecil yang lemah berhadapan dengan situasi buruk yang bersama-sama kita ciptakan?
Perlindungan Anak Marjinal Terhadap HIV/AIDS
97