• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Neraca Luas dan Volume Tegakan

5.2.2 Neraca Volume Tegakan Hutan Kabupaten Blora

Neraca volume tegakan hutan di Kabupaten Blora menggambarkan sediaan awal dinamika perubahan volume dan stok akhir antar waktu selama periode tahun analisis dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2010.Data stok awal pada tahun 20003 diperoleh berdasarkan data inventarisasi tegakan menyeluruh berkala yang dilaksanakan oleh Perum Perhutani yang dipergunakan sebagai dasar untuk penyusunan rencana pengelolaan hutan atau Rencana Pengaturan Kelestarian Hutan (RPKH) yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali di masing- masing unit manajemen yaitu Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH).

Sediaan volume tegakan secara agregat untuk keseluruhan jenis kayu pada tahun 2003 adalah 3.493.808,13 m3, yang terinci atas jati sebesar 3.330.568,65 m3, mahoni 94.334,89 m3 sonokeling dan sonobrit sebesar 12.819,39 m3 dan kayu jenis lain yang dikelompokkan sebagai jenis kayu rimba campuran 56.085,20 m3.

Tabel 5.5 Stok Awal ( 2003) Volume Tegakan di Kabupaten Blora

No Jenis tegakan Volume (m3) Prosentase

1 Jati 3.330.568,65 95,33% 2 Mahoni 94.334,89 2,70% 3 Sonokeling/sonobrit 12.819,39 0,37% 4 Rimba Campur 56.085,20 1,61% Jumlah 3.493.808,13 100,00%

Sebagai salah satu bentuk aset biologis, tegakan hutan akan mengalami dinamika yang disebabkan oleh berbagai sebab sehingga akan mengalami fluktuasi atau perubahan sepanjang waktu. Keseluruhan faktor yang meyebabkan perubahan tersebut akan terakamulasi pada sediaan akhir yang dari perbedaan antara stok awal dan stok akhir tersebut dapat dihitung apakah telah terjadi penambahan atau pengurangan neto.Sediaan akhir volume tegakan di Kabupaten Blora pada tahun 2010 adalah sebesar 2.923.853,92 m3, yang terdiri dari jenis tegakan jati sebesar 2.794.497,47 m3, mahoni sebesar 76.497,73 m3, sonokeling/sonobrit sebesar 5.467,99 m3dan rimba campur sebesar 47.390,72 m3. Tabel 5.6 Sediaan Akhir (2010) Volume Tegakan di Kabupaten Blora

No Jenis Tegakan Volume (m3) Prosentase

1 Jati 2.794.497,47 95,58%

2 Mahoni 76.497,73 2,62%

3 Sonokeling 5.467,99 0,19% 4 Rimba Campur 47.390,72 1,62%

Jumlah 2.923.853,92 100,00%

Sumber: Lampiran 1, data diolah

Selama periode analisis dari tahun 2003 sampai dengan 2010 secara total volume tegakan hutan di Kabupaten Blora mengalami penurunan (deplesi) sebesar 569.954,22 m3atau rata-rata sebesar 81.422,03 m3/tahun. Apabila dirinci menurut jenis tegakan maka deplesi yang terbesar selama periode waktu tersebut adalah untuk jenis tegakan jati yaitu sebesar 536.071,18 m3atau rata-rata sebesar 76.581,60 m3/tahun diikuti dengan jenis mahoni yaitu sebesar 17.837,16 m3 atau rata-rata sebesar 2.548,17 m3/tahun, menyusul berikutnya adalah jenis rimba campur yaitu sebesar 8.694,47 m3 atau rata-rata sebesar 1.242,07 m3/tahun dan yang terkecil adalah jenis sonokeling/sonobrit yaitu sebesar 7.351,41 m3 atau rata-rata sebesar 1.050,20 m3/tahun.

Tabel 5.7 Perbandingan antara Stok Awal (2003) dan Stok Akhir (2010) Volume

No Jenis tegakan Volume Sediaan Awal (m3) Volume Sediaan Akhir (m3) Perubahan Neto (m3) 1 Jati 3.330.568,65 2.794.497,47 536.071,18 2 Mahoni 94.334,89 76.497,73 17.837,16 3 Sonokeling 12.819,39 5.467,99 7.351,41 4 Rimba Campur 56.085,20 47.390,72 8.694,47 Jumlah 3.493.808,13 2.923.853,92 569.954,22

Sumber: Lampiran 1,data diolah

Akumulasi neto atau perubahan neto sediaan yaitu perbedaan antara sediaan awal dan sediaan akhir volume tegakan dapat dikelompokkan menjadi 3 penyebab yaitu: (a) perubahan yang disebabkan oleh aktivitas ekonomi, (b) perubahan sediaan yang disebabkan oleh penyebab alami yang meliputi penambahan karena adanya pertumbuhan/riap (growth) dan penambahan akibat regererasi alami. Faktor yang menyebabkan perubahan sediaan yang berikutnya adalah (c) perubahan karena sebab alamiah dan yang terakhir adalah (d)

perubahan karena faktor lain-lain. Uraian mengenai faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sediaan volume tegakan akan dijelaskan dalam paragraf berikut ini.

Perubahan sediaan volume tegakan yang diakibatkan dari kegiatan perekonomian mencakup perubahan sediaan volume akibat adanya: (i) pemanenan tegakan dan kerusakan tegakan yang disebabkan oleh kegiatan penebangan, (ii)ngangguan keamanan hutan yang mencakup gangguan keamanan terhadap tegakan dan lahan, dalam hal ini kehilangan tegakan akibat pencurian pohon merupakan masalah yang umum terjadi, (iii) penanaman pada kawasan- kawasan yang mengalami degradasi atau pada tanah kosong bekas tebangan, dan (iv) kerusakan tegakan yang diakibatkan oleh kegiatan penggembalaan liar di mana dalam kasus hutan di Kabupaten Blora kerusakan tegakan akibat penggembalaan ini umumnya terjadi pada tegakan-tegakan yang masih muda (berumur kurang dari 10 tahun atau termasuk dalam Kelas Umur I). Secara total, pengurangan sediaan tegakan yang disebabkan oleh aktivitas perekonomian selama periode waktu analisis adalah sebesar 840.484,39 m3 yang terdiri atas pengurangan sediaan akibat pemanenan sebesar 787.897,14 m3, pengurangan sediaan akibat pencurian sebesar 48.326,00 m3 dan pengurangan sediaan akibat penggembalaan sebesar 4.261,25 m3.

Pertumbuhan tegakan (growth) dan regenerasi alami merupakan dua akun yang menyebabkan bertambahnya sediaan tegakan, sedangkan kerusakan tegakan yang disebabkan oleh bencana alam merupakan komponen yang menguranginya. Pertumbuhan tegakan dalam studi ini diperkirakan dengan mendasarkan kepada model pertumbuhan sesuai dengan pertumbuhan yang ada di tabel normal masing-masing jenis tegakan. Untuk jenis jati tabel normal yang diacu adalah Tabel Wolven van Wulving (Tabel WvWtahun 1932) yang sampai saat ini masih digunakan untuk kepentingan penaksiran volume maupun pertumbuhan tegakan jati di Perum Perhutani.

Tabel 5.8 Estimasi Pertumbuhan (Growth) Menurut Jenis Tegakan

No Jenis Tegakan Riap Volume (m3) Riap Tahunan (m3/tahun) 1 Jati 620.959,56 77.619,95 2 Mahoni 63.159,34 7.894,92 3 Sonokeling/sonobrit 6.875,15 859,39 4 Rimba Campur 14.904,25 1.863,03 Jumlah 705.898,30 88.237,29

Sumber: Tabel Normal Tegakan Jati, Mahoni, Sonokeling dan Jenis-Jenis Lain, Lampiran 1,data diolah

Penaksiran riap volume untuk jenis selain jati seperti mahoni, sonokeling, akasia dan jenis lain menggunakan tabel normal tegakan yang bersangkutan. Pertumbuhan tegakan selama jangka waktu analisis untuk keseluruhan tegakan di Kabupaten Blora diestimasi sebesar 705.898,30 m3 dan apabila dirinci menurut jenis tegakan maka pertumbuhan tegakan untuk jenis jati,mahoni, sonokeling dan jenis rimba campur yang lain masing-masing berturut-turut sebesar: 620.959,56m3; 63.159,34 m3; 6.875,15 m3; 14.904,25 m3.

Hutan yang ada di Kabupaten Blora yang dikelola oleh Perum Perhutani sebagian besar merupakan hutan tanaman (man made forest atau plantation forest) di mana regenerasi yang terjadi dilakukan oleh manusia sehingga komponen neraca yang berupa regenerasi alami sangat kecil dan tidak signifikan apabila tidak dimasukkan ke dalam perhitungan. Penyebab alami yang merupakan komponen pengurang sediaan volume tegakan adalah kerusakan tegakan yang disebabkan oleh bencana alam. Total volume kerusakan tegakan yang disebabkan oleh bencana alam selama kurun waktu 2003-2010 diestimasi sebesar 3.746,75 m3, yang terdiri dari jenis tegakan jati sebesar 3.580,99 m3, mahoni sebesar 98,03 m3, sonokeling 7,01 m3 dan jenis rimba campuran sebesar 60,73 m3.

Komponen terakhir yang menyebabkan perubahan sediaan volume tegakan adalah pengaruh lain selain dari pengaruh kegiatan perekonomian dan pengaruh alami sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya. Dalam penelitian ini dua komponen yang dimasukkan adalah kerusakan tegakan karena terjadinya kebakaran dan faktor lain yang berperan sebagai angka penyesuaian. Peristiwa kebakaran yang terjadi pada hutan di Kabupaten Blora bukanlah peristiwa yang terjadi dalam skala yang luas, namun demikian tetap menjadi faktor yang cukup menyebabkan kerusakan tegakan baik secara langsung seperti matinya pohon karena kebakaran maupun secara tidak langsung seperti menghambat pertumbuhan dan terganggunya ekosistem hutan yang dapat mempengaruhi produktivitas tegakan hutan. Kehilangan volume tegakan yang diakibatkan terjadinya kebakaran hutan di selama kurun waktu 2003-2010 mencapai 27.365,40 m3, yang terdiri dari tegakan jenis jati sebesar 26.154,71 m3, mahoni sebesar 715,97 m3, sonokeling/sonobrit sebesar 51,18 m3dan jenis rimba campur lain sebesar 443,55 m3.

Faktor lain yang belum dimasukkan sebagai komponen sebagaimana diuraikan sebelumnya disebut dengan angka penyesuaian untuk menyeimbangkan antara arus masuk (inflow) dan arus keluar (outflow) dalam neraca sediaan volume tegakan. Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian awal bab ini, estimasi yang tepat untuk menaksir pertumbuhan tegakan (growth), kehilangan tegakan karena pencurian, kerusakan karena penebangan, bencana alam dan kebakaran adalah hal yang sulit untuk dilaksanakan karena keterbatasan data dan masih terbatasnya pemahaman perilaku dinamis tegakan hutan. Dalam penyusunan neraca sediaan volume tegakan ini, ketidaktepatan estimasi tersebut dapat dikoreksi relatif tepat dengan data hasil inventarisasi berkala yang dapat memberikan informasi yang lebih mendekati kebenaran mengenai kondisi sumberdaya hutan selama minimal dua periode inventarisasi tersebut. Dengan membandingkan sediaan volume antar waktu berdasarkan hasil inventarisasi berkala tersebut sebenarnya sudah diketahui perubahan sediaan volumenya, sehingga ketidaktepatan estimasi dapat dikoreksi dan diperlakukan sebagai galat atau sisaan (error term). Dalam hal ini angka penyesuaian diberikan terminologi baku dalam kajian-kajian tentang neraca sumberdaya alam dan lingkungan sebagai omission and error.

Tabel 5.9 Rekapitulasi Komponen Neraca Sebagai Pengurang Sediaan Volume Tegakan

Tahun

Volume (m3)

Kegiatan Ekonomi Penyebab Alamiah Penyebab Lain

Pemanenan Pencurian Penggembalaan Bencana Alam Kebakaran

2003 77.928,00 13.958,82 471,50 195,00 2.841,00 2004 121.458,00 10.661,64 433,50 343,50 2.838,00 2005 112.291,00 8.770,34 564,50 144,25 2.682,00 2006 106.735,25 5.185,99 478,75 442,50 2.775,90 2007 105.757,00 3.229,26 540,50 665,50 6.935,55 2008 87.647,00 2.209,94 545,00 1.238,00 3.799,95 2009 79.192,89 1.922,77 490,50 342,75 3.837,00 2010 96.888,00 2.387,23 737,00 375,25 1.656,00 Jumlah 787.897,14 48.326,00 4.261,25 3.746,75 27.365,40

Sumber: Rekapitulasi Lampiran 2 dan Lampiran 3

Neraca sediaan volume tegakan di Kabupaten Blora dalam penelitian ini disusun dalam 5 format yaitu:

i. Neraca agregat volume keseluruhan jenis tegakan selama periode waktu analisis tahun 2003 sampai dengan 2010. Dalam format ini menggunakan data stok awal (opening stock) pada permulaan tahun 2003 dan stok akhir (closing stock) pada akhir tahun 2010. Format neraca yang pertama ini disajikan dalam Tabel 5.10

ii. Neraca volume untuk tiap-tiap jenis kayu penyusun tegakan hutan di Kabupaten Blora dengan stok awal pada permulaan tahun 2003 dan stok akhir pada akhir tahun 2010. Bentuk neraca yang kedua ini disajikan pada tabel 5.11

iii. Neraca volume agregat keseluruhan jenis tegakan setiap tahun berjalan, yaitu stok awal pada setiap permulaan tahun dan stok akhir pada akhir tahun.Format neraca yang ketiga ini sebagaimana disajikan dalam Lampiran 5

iv. Neraca volume untuk setiap jenis tegakan yang disusun setiap tahun berjalan dengan stok awal dan stok akhir pada setiap permulaan dan akhir tahun, Format neraca yang keempat ini sebagaimana ditampilkan dalam Lampiran 4

v. Neraca volume agregat volume keseluruhan jenis tegakan yang disusun setiap tahun berjalan yang disajikan dalam Tabel 5.12.

Tabel 5.10 Neraca Volume Tegakan Akumulatif Tahun 2003-2010

No Uraian Volume (m3)

A Stok Awal 3.493.808,13

B Perubahan karena kegiatan perekonomian:

1 Pemanenan 787.897,14

2 Pencurian dan Perusakan hutan 48.326,00

3 Penggembalaan 4.261,25

C Perubahan karena penyebab alami:

1 Riap/Pertumbuhan 705.898,30

2 Bencana Alam 3.746,75

D Perubahan Karena Penyebab lain:

1 Kebakaran hutan 27.365,40

2 Lain-lain dan penyesuaian 404.255,98

E Perubahan Neto -569.954,22

F Stok Akhir 2.923.853,92

Sumber: Rekapitulasi Lampiran 4 dan Lampiran 5

Tabel 5.10 di atas merupakan neraca volume tegakan di Kabupaten Blora selama jangka waktu antara tahun 2003 sampai dengan tahun 2010 yang merupakan ringkasan dari sediaan awal pada tahun 2003, aliran masuk (inflow) dan aliran keluar (outflow) selama jangka waktu 2003-2010 dan sediaan akhir atau stok penutup pada tahun 2010.Aliran masuk yang menambah sediaan tegakan berasal dari riap atau pertumbuhan tegakan dan aliran keluar yang mengurangi sediaan volume tegakan berasal dari akun pemanenan, pencurian dan perusakan hutan, penggembalaan, kebakaran dan sebab lain atau angka penyesuaian. Angka penyesuaian ini sebagaimana dijelaskan sebelumnya merupakan angka koreksi yang diperoleh dari data hasil inventariasi pada tahun 2003 dan 2010.

Angka penyesuaian mengkoreksi besaran volume estimasi kehilangan atau kerusakan volume tegakan karena pencurian, penggembalaan, kebakaran, bencana alam dan penambahan stok yang berasal dari pertumbuhan tegakan. Data pemenenan merupakan data yang diasumsikan memiliki validitas tinggi sehingga tidak perlu dilakukan koreksi karena untuk setiap kayu yang dipanen, tercatat dengan baik dalam hal volume maupun jumlah batangnya. Selain neraca agregat untuk keseluruhan jenis tegakan yang ada sebagaimana ditampilkan pada Tabel 5.10 di atas, tabel 5.11 berikut ini menampilkan neraca untuk masing-masing jenis tegakan.

Tabel 5.11 Neraca Volume Tegakan Akumulatif Tahun 2003-2010 Menurut Jenis Tegakan

Uraian Jenis Tegakan

Jati Mahoni Sonokeling Jenis Lain

Stok Awal 3.330.568,65 94.334,89 12.819,39 56.085,20

Perubahan karena kegiatan perekonomian

Pemanenan 745.052,00 17.699,89 5.492,25 19.653,00

Pencurian dan Perusakan hutan 46.241,50 1.209,83 90,48 784,19

Penggembalaan 4.072,72 111,49 7,97 69,07

Perubahan karena penyebab alami

Riap/Pertumbuhan 620.959,56 63.159,34 6.875,15 14.904,25

Bencana Alam 3.580,99 98,03 7,01 60,73

Perubahan Karena Penyebab lain

Kebakaran hutan 26.154,71 715,97 51,18 443,55

Lain-lain dan penyesuaian 331.928,83 61.161,30 8.577,67 2.588,18

Perubahan Neto -536.071,18 -17.837,16 -7.351,41 -8.694,47

Stok Akhir 2.794.497,47 76.497,73 5.467,99 47.390,72

Sumber : Rekapitulasi Lampiran 4

Tabel 5.11 memperlihatkan bahwa perubahan neto yang terbesar adalah untuk jenis jati yaitu sebesar 536.071,18 m3 (94,01%) dan sisanya sebesar 33.883,04 m3 (5,99%) terdistribusikan ke jenis mahoni, sonokeling dan rimba campur. Prosentase perubahan neto tersebut searah dengan besarnya prosentase masing-masing jenis penyusun tegakan di mana lebih dari 90% hutan yang ada di Kabupaten Blora didominasi jenis tanaman jati. Tabel 5.10 dan 5.11 di atas menampilkan informasi mengenai tingkat stok dan perubahannya yang diuraikan menurut akun-akun yang menyebabkan terjadinya perubahan tersebut baik akun yang menambah maupun akun pengurang tingkat stok untuk keadaan pada awal tahun 2003 dan akhir tahun 2010. Tingkat stok dan perubahannya juga dapat disajikan per tahun berjalan selama periode waktu analisis untuk memberikan gambaran setiap tahunnya sebagaimana yang disajikan dalam Tabel 5.12 berikut ini.

Tabel 5.12 Ringkasan Neraca Tahunan Sediaan Volume

Tahun Volume Stok Awal (m3) Volume Stok Akhir (m3) Perubahan Neto (m3) 2003 3.493.808,13 3.436.119,10 57.689,03 2004 3.436.119,10 3.338.089,74 98.029,35 2005 3.338.089,74 3.251.342,95 86.746,80 2006 3.251.342,95 3.173.429,85 77.913,10 2007 3.173.429,85 3.094.007,33 79.422,52 2008 3.094.007,33 3.036.272,73 57.734,60 2009 3.036.272,73 2.988.192,11 48.080,62 2010 2.988.192,11 2.923.853,92 64.338,19 Jumlah 569.954,22

Berdasarkan Tabel 5.12 di atas terlihat bahwa selama jangka waktu tahun 2003-2010 sediaan akhir volume tegakan terus mengalami penurunan, dangan rata-rata penurunan sebesar 2,82%. Prosentase penurunan terbesar terjadi antara antara tahun 2003-2004 yaitu sebesar 2,84% dan yang terendah terjadi pada interval tahun 2008-2009. Penurunan stok penutup yang terjadi ini menunjukkan bahwa pengelolaan hutan di Kabupaten Blora terdapat masalah serius yang perlu mendapat penanganan para pihak khususnya Perum Perhutani yang mendapatkan mandat pengeloaan. Penurunan stok penutup yang terus menurun dapat menjadi indikator bahwa pengelolaan hutan belum memenuhi indikator pengelolaan hutan lestari (sustainable forest mangement).

Pengukuran besaran laju deplesi ini terkait dengan kepentingan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. Dengan mengetahui tingkat/besaran laju deplesi ini maka dapat dilakukan langkah pengelolaan dan intervensi kebijakan, apakah dalam bentuk pengurangan laju ekstraksi atau bahkan penghentian /moratorium berbagai kegiatan ekstraksi sumberdaya alam tersebut, baik penghentian tetap maupun sementara waktu tertentu sampai stok sumberdaya alam tersebut pulih (recovery) pada tingkat tertentu yang dianggap aman. Pengelola sumberdaya alam menggunakan referensi dari laju deplesi ini sebagai indikator dari status sumberdaya dan peringatan dini (signal early warning)bagi terlampauinya tingkat ekstraksi dari yang seharusnya.

Dokumen terkait