Perlu disadari bahwa di dalam pendidikan Islam terwujud prinsip-prinsip demokrasi, kebebasan, persamaan dan kesempatan
Internalisasi Nilai dalam Pendidikan
89
yang sama dalam belajar, tanpa diskriminasi antara si kaya dan si miskin. Kaum muslimin beranggapan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban agama, kewajiban rohaniah, bukanlah suatu jalan untuk keuntungan-keuntungan materi dan kebendaan, di mana siswa belajar dengan sepenuh hati dan didorong oleh kemauan keras dari pihak mereka sendiri. Banyak terdapat para siswa muslim yang melakukan pengembaraan dan perantauan yang cukup jauh dan berat demi untuk meneliti masalah ilmiah.Metode pendidikan dan pengajaran pendidikan Islam juga sangat banyak dipengaruhi oleh prinsip-prinsip kebebasan dan demokrasi tersebut. Islam menyerukan adanya prinsip persamaan dan mempunyai kesempatan yang sama dalam belajar, sehingga terbukalah jalan yang mudah belajar bagi semua orang. ”tidak ada kelebihan orang Arab dengan yang bukan Arab, kecuali dengan takwa”. Keadaan ini dapat dilihat dalam pelajaran-pelajaran yang diberikan kepada siswa secara gratis, dan tidak terikat dengan batas umur tertentu (Muhammad Athiyah Al- Abrasyi, 1970: 5). Untuk lebih yakin lihat QS. Yunus: 99 dan QS. Al-An’am: 151-153.
Berdasarkan ayat-ayat di atas, Allah memperlihatkan kepada kita dengan jelas bahwa sebagai tujuan pendidikan Al-Qur’an adalah membangun masyarakat yang didominasi dengan sikap takwa kepada Allah dan keadilan sosial, dari dampak takwa, membangun masyarakat yang didasari sikap saling cinta dan kasih sayang, cinta kebaikan, toleransi, ukhuwah, kebebasan berpikir tapi bertanggung jawab, dan demokrasi yang sejati.
Nabi Muhammad SAW senantiasa memerintahkan kita agar menggunakan akal dan pikiran kita sendiri, dan memanfaatkan sarana pendidikan sebagai pendidikan pembebasan, janganlah kita mengikuti orang lain secara membabi buta, jika mereka menganggap sesuatu itu baik kita mengikutinya, dan jika mereka menganggap
90
Dr. Saifullah Idris, S.Ag., M. Ag.sesuatu itu jelek kita juga menjelekkannya bersama mereka. Dengan demikian kita harus percaya dengan diri kita sendiri, berpikir, dalam berpendapat maupun berbuat sesuatu.
Di antara sifat-sifat yang mendasar yang harus dimiliki untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan adalah percaya diri dan berpegang teguh kepada kepercayaan yang ada dalam dirinya. Apabila kita percaya diri, maka dengan mudah berpegang teguh pada kepercayaan yang dimiliki dalam setiap melakukan perbuatan karena manusia mempunyai insting rasa kebersamaan, dan insting ini kuat dan sangat mengakar dalam diri manusia, sehingga kita menjadi biasa untuk berpikir kelompok dan bukan berpikir bebas.
Kebebasan berpikir di sini adalah bukan untuk agar murid melepaskan diri dari guru, terputus dari manusia lainnya dan hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Jika demikian, maka metode ini sangat tidak manusiawi, bahkan merupakan pengasingan atau pemisahan yang sangat tidak menguntungkan. Yang diinginkan dari kebebasan ini adalah hendaknya guru membiasakan para peserta didiknya mempunyai kebebasan secara individu dan mendidiknya dengan pendidikan pembebasan, supaya para peserta didik tersebut mempunyai kemampuan untuk menentukan kehidupannya tanpa harus bergantung pada orang lain. Di samping itu, para peserta didik dimungkinkan dapat melaksanakan kewajiban-kewajibannya baik terhadap dirinya maupun terhadap negaranya (Muhammad Athiyah Al- Abrasyi, 1996: 55-62).
2. Persamaan
Untuk melihat persamaan, yaitu tidak membedakan terhadap siapa pun dalam melaksanakan dan menaati aturan-aturan dan undang-undang, kita harus merujuk kepada sumber utama dari nilai-nilai Islam itu sendiri, Firman Allah yang artinya: ”Hai manusia,
Internalisasi Nilai dalam Pendidikan
91
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal” (QS. 49: 13). Dari sini menunjukkan bahwa
seluruh umat manusia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, ras, dan warna kulit adalah sama, tidak ada perbedaan di antara mereka dari segi kemanusiaan. Karena semua manusia diciptakan dari asal kejadian yang sama, baik laki-laki maupun perempuan, sehingga tidak terdapat perbedaan di antara mereka.
Persamaan tersebut di atas mengandung makna bahwa untuk hidup sebagai anggota masyarakat, Islam menciptakan suatu persaudaraan yang di dalamnya setiap anggota masyarakat berada pada kedudukan yang sama. Islam mengajarkan agar setiap manusia berlomba-lomba untuk meraih dan mencapai ketakwaan serta membuktikan kualitas nilai moralnya masing-masing. Ini terbuka secara transparan dan gamblang bagi siapa saja. Karena mereka sama, sehingga mereka sendiri membedakan dirinya sendiri dari yang satu terhadap yang lain dalam aktivitas amalnya. Dan kehidupan mereka ditentukan oleh persamaan, persaudaraan, dan keadilan bukan oleh otoritas dan tindakan yang semena-mena (Ismail Raji Al-Faruqi, 2001: 36-37).
Di samping itu, prinsip persamaan tersebut ada dalam segala aspek kehidupan, seperti hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, kebudayaan, pengajaran dan hak bekerja, memperoleh hak bagi orang-orang Islam dan non-Islam, hak antara laki-laki dan perempuan, dan sebagainya, maka nilai persamaan yang dimaksudkan dalam Islam juga adalah keadilan Islam yang mempunyai satu-satunya ukuran yang dapat diikuti oleh semua manusia (Ali Abd al-Wahid Wafi, 2008: 331).
Dari itu dapat dilihat bahwa nilai persamaan dalam Islam, sebenarnya bertujuan agar setiap orang atau sekelompok orang menemukan harkat dan martabat kemanusiaannya dan dapat mengembangkan prestasinya dengan wajar dan layak. Nilai
92
Dr. Saifullah Idris, S.Ag., M. Ag.persamaan ini juga akan menimbulkan sifat saling tolong-menolong, dan juga sifat kepedulian sosial dalam arti yang lebih luas.
3. Penghormatan terhadap martabat manusia
Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa ”hai orang-orang yang beriman,
hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. 5: 8)
Nilai ini berhubungan dengan keadilan, dan keadilan adalah nilai-nilai kemanusiaan yang asasi dan menjadi pilar bagi berbagai aspek kehidupan, baik individu, keluarga, dan juga masyarakat. Karena keadilan memberikan sesuatu kepada yang berhak, baik secara pribadi maupun kelompok atau dengan nilai apapun tanpa melebihi atau mengurangi sehingga tidak ada yang merasa dicurigai atau diselewengkan haknya oleh orang atau pihak lain (Al-Qurthubi, 1997: 340).
Keadilan sebagai nilai-nilai kemanusiaan yang asasi bagi kehidupan manusia. Maka ada empat makna adil dan keadilan, yaitu: Pertama, keadilan mengandung makna pertimbangan atau keadaan yang seimbang;
Kedua, keadilan mengandung makna persamaan tetapi bukan persamaan
mutlak terhadap semua orang, dalam artian yang sempit; Ketiga, keadilan dalam perhatian kepada hak-hak pribadi, dan memberikan haknya karena dia yang mempunyai hak tersebut. Dan keempat, keadilan Tuhan merupakan kemurahan Allah dalam melimpahkan rahmat-Nya kepada sesuatu atau seseorang setingkat dengan kesediaannya untuk menerima eksistensi dirinya sendiri atau pertumbuhan dan perkembangan ke arah kesempurnaan (Nurchalis Madjid, 1992: 513-516).
Dengan demikian, apabila nilai-nilai dihubungkan dengan nilai penghormatan terhadap martabat orang lain, maka keadilan dalam arti perhatian kepada hak-hak pribadi dan keadilan ini adalah
Internalisasi Nilai dalam Pendidikan