Abdurrahman Saleh (1994: 159), mengantarakan bahwa untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan harus menyeleksi dengan baik, efektif, dan tepat sasaran materi ajar yang tertuang dalam kurikulum. Materi ajar pendidikan adalah mengorganisir bidang atau rumpun ilmu pengetahuan yang membentuk basis aktivitas lembaga pendidikan, bidang-bidang atau rumpun-rumpun ilmu pengetahuan tersebut antara yang satu dengan yang lainnya dipisah-pisahkan namun merupakan satu kesatuan yang utuh dan terpadu. Materi ajar pendidikan harus mengacu pada tujuan, bukan sebaliknya tujuan mengarah pada suatu materi ajar, oleh karena itu materi ajar pendidikan tidak boleh berdiri sendiri terlepas dari kontrol tujuan.
Materi ajar atau rumpun ilmu pengetahuan menempati tempat yang sangat strategis dalam rangka pencapaian sebuah tujuan pendidikan secara umum dan tujuan pembelajaran secara khusus. Lalu timbul beberapa pertanyaan mengenai ilmu pengetahuan itu, seperti: apakah ilmu pengetahuan itu? Jenis ilmu pengetahuan yang bagaimana yang semestinya diajarkan kepada peserta didik? Dari mana sumber ilmu pengetahuan tersebut? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan selalu muncul dengan berbagai jenisnya. Dari beberapa pertanyaan tersebut, kita ambil contoh pertanyaan tentang apakah ilmu pengetahuan itu? Maka jawabannya di sini muncul dengan berbagai
Internalisasi Nilai dalam Pendidikan
85
macam bentuk atau bermacam-macam perspektif (Saifullah Idris, 2014: 118-122).Dari konsep tersebut di atas, hakikat ilmu pengetahuan itu adalah bebas dari pengamatan indera, tetapi ilmu pengetahuan tersebut adalah pemberian atau karunia Tuhan kepada makhluknya. Model jawaban atau pendapat seperti ini dikemukakan oleh mazhab atau aliran berpikir rasionalisme. Sebaliknya, mazhab atau aliran berpikir empirisisme mengatakan bahwa tidak ada pengetahuan yang sampai ke dalam otak seseorang kecuali harus melalui pintu indera. Model jawaban atau pendapat ini kebalikan dari pendapat yang telah disebutkan oleh mazhab atau berpikir rasionalisme di atas. Ada juga yang memandang ilmu pengetahuan tersebut secara tentatif dibandingkan dengan pandangan mazhab atau aliran rasionalisme.
Mazhab atau aliran pragmatisme yang dipelopori oleh John Dewey berpendapat bahwa ilmu pengetahuan itu bersifat hipotesis, oleh sebab itu selalu mengalami perubahan, adaptif dan evaluatif. Pendapat atau jawaban seperti ini mengajak kita untuk menerima pendapat yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu sama dengan pengalaman. Dengan demikian, seorang peserta didik memiliki ilmu pengetahuan yang dapat dipergunakan dalam menciptakan hipotesa-hipotesa untuk mengontrol mellieu di mana peserta didik itu hidup. Dengan kata lain, kita tidak dapat memaksakan ilmu pengetahuan kita kepadanya, kita hanya menolongnya mengembangkan ilmu pengetahuan dan hipotesa-hipotesa yang akan berbeda dari ilmu pengetahuan dan hipotesa kita agar supaya evolusi berjalan terus.
Ini juga dapat diartikan bahwa ilmu pengetahuan itu sendiri bersifat personal dan subyektif, walaupun Dewey sendiri berpendapat bahwa model yang terbaik bagi semua pengetahuan adalah pengetahuan saintifik (Hasan Langgulung, 1993: 302-303). Dengan demikian, ada dua hal mendasar yang harus diperhatikan
86
Dr. Saifullah Idris, S.Ag., M. Ag.pada materi ajar pendidikan, yaitu: pertama, peranan pendidik dan
kedua, perkembangan materi ajar dalam pengalaman peserta didik.
Materi ajar dalam perspektif yang pertama, mengandung dua hal prinsipiil tentang hubungan antara pendidik, peserta didik, dan materi ajar. Peranan pendidik dalam pendidikan adalah untuk menawarkan sebuah lingkungan yang kondusif yang akan merangsang jawaban dari seorang peserta didik dan kemudian mengarahkannya pada orientasi belajar. Artinya, peranan seorang pendidik adalah untuk menolong seorang peserta didik menginternalisasikan atau menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik pada perkembangan intelektual peserta didik tersebut, demikian juga pendidik menyiapkan rangsangan-rangsangan untuk hal tersebut.
Dalam perspektif yang Kedua, materi ajar diperlukan untuk menyiapkan makna kebiasaan-kebiasaan yang akan ditanamkan atau yang akan di internalisasikan kepada peserta didik. Materi ajar tersebut secara langsung telah membawa kerangka hubungan sosial. Pernyataan seperti ini akan menolong pendidik untuk memahami bahwa materi ajar itu adalah orientasi yang bersifat sosial. Dewey mengklaim bahwa ilmu pengetahuan tentang pengalaman-pengalaman sosial harus diterjemahkan ke dalam materi ajar secara mendetail dan konkret tidak bersifat umum dan terlalu abstrak. Karena ilmu pengetahuan tentang materi ajar telah dipilih dan diorganisir terlebih dahulu sebagai hasil dari aktivitas-aktivitas manusia, untuk menolong pendidik memandu para pelajar menginterpretasikan makna dari reaksi-reaksi mereka sendiri.
Jadi, di mana saja, kapan saja dan dalam suasana apa saja para pendidik melakukan pembelajaran, mereka tidak hanya menguasai materi ajar semata, tetapi juga yang lebih penting dari itu adalah memberikan perhatian untuk merespons dan bersikap yang baik kepada peserta didik supaya mereka memahami bagaimana proses-proses belajar tersebut berinteraksi dengan materi ajar dan lebih jauh
Internalisasi Nilai dalam Pendidikan
87
lagi adalah mengembangkan kemampuan-kemampuan atau potensi-potensi peserta didik tentang materi ajar tersebut.Di sisi lain, ada tiga tahap pengalaman peserta didik dalam mengembangkan materi ajar, (Jo Ann Boydston, (Ed), 1899-1924: 192-196), yaitu:
Pertama, ilmu pengetahuan itu ada sebagai kandungan
kemampuan intelegensi, artinya adanya kekuatan untuk melakukan sesuatu. Ini dikenal sebagai materi ajar yang diungkapkan dengan memperkenalkan nama-nama atau benda-benda. Keterampilan ilmu pengetahuan yang datang pertama sekali pada seseorang dan mengingatnya dengan perasaan yang dalam, adalah ilmu pengetahuan tentang bagaimana melakukannya, seperti belajar membawa sepeda. Artinya, materi ajar yang pertama selalu ada sebagai sebuah materi dari sebuah pekerjaan yang aktif, di sini melibatkan penanganan materi ajar. Kemudian, jika para peserta didik dimotivasi untuk belajar, maka materi ajar tidak harus dipisahkan dari tujuan-tujuan dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik.
Dengan demikian, pengenalan berbagai rangkaian pembelajaran secara alami tentang perkembangan selalu dimulai dengan situasi-situasi yang melibatkan belajar dengan bekerja (learning by doing), seperti menggunakan benda-benda yang konkret, pulpen, kertas, meja, kursi, dan lain-lain. Di sini, disarankan untuk memperkenalkan benda-benda, dan menggunakannya dengan mempunyai sebuah tujuan tertentu. Peserta didik harus melakukannya dengan sangat sering sehingga dia dapat mengantisipasi bagaimana benda itu akan bertindak dan bereaksi. Dalam proses belajar disebut dengan makna pengenalan.
Kedua, materi ajar harus diberikan secara perlahan-lahan atau
sedikit demi sedikit ke dalam diri peserta didik melalui ”information” atau ”communicated subject matter”, yang disebut juga dengan ”indirect
88
Dr. Saifullah Idris, S.Ag., M. Ag.termasuk pendengaran dan berbicara dengan orang lain dan membaca buku-buku yang dapat menyesuaikan koneksi yang sama dengan orang lain secara efektif dan berkelanjutan. Artinya, komunikasi menjadi bagian bersama ini menunjukkan bahwa seorang peserta didik belajar lebih banyak dari yang lain, untuk para peserta didik yang telah merubah pengalaman tersebut menjadi ilmu pengetahuannya. Informasi ilmu pengetahuan ini di lakukan dengan ilmu pengetahuan mendengar dan membaca dari yang lain. Jenis ilmu pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan tidak langsung. Komunikasi seperti ini memainkan peran penting dalam menyiapkan sebuah standar bagi para peserta didik untuk mengalkulasikan nilai materi ajar di sekolah.
Ketiga, materi ajar adalah memperluas dan bekerja secara logis
untuk mengorganisir materi ajar dari berbagai pakar tentang pelajaran tersebut. Sains adalah ilmu pengetahuan yang telah dirasionalisasikan, artinya, sains tersebut telah merepresentasikan dalam berbagai level, menghasilkan pembelajaran yang sempurna, dan demikian juga perwujudannya dalam berbagai kehidupan manusia.
Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa nilai-nilai demokrasi sebagai materi ajar dalam pembelajaran harus didasarkan pada keharmonisan antara materi dengan peranan pendidik, dan antara pengembangan materi ajar yang sesuai dengan pengalaman peserta didik. Karena nilai-nilai demokrasi merupakan nilai-nilai universal dan juga warisan sosial budaya universal dan berorientasi pada pengalaman peserta didik, selalu membutuhkan kepada pelestarian dan internalisasi secara terus menerus kepada generasi berikutnya.
C. Nilai-nilai Demokrasi dalam Pendidikan Islam