C. Antara Hamba Allah dan Khalifah Allah
2. Reformasi Sistem Pendidikan
Mendidik peserta didik yang berprilaku santun dan baik sangat dinanti-nantikan dan dibutuhkan dalam mereformasi sistem pendidikan. Selama ini, mungkin sistem pendidikan kita agak berat sebelah, atau terlalu terfokus pada satu aspek saja sehingga lupa terhadap aspek-aspek yang lain. Pada sebuah lembaga itu terdiri dari beberapa aspek, baik konseptual-teoritis, praktis-operasional maupun link and matchnya dengan lingkungan dan stockholder pendidikan. Untuk itu, ada beberapa hal yang
134
Dr. Saifullah Idris, S.Ag., M. Ag.menjadi perhatian dalam rangka mereformasi sistem pendidikan, di antaranya: Perumusan dasar filosofis , visi dan misi yang jelas; pengajaran karakter: pendidik, kurikulum, dan metode pengajarannya; membangun suasana atau atmosfer yang baik; dan perubahan dan keberlanjutan pendidikan karakter.
a. Perumusan dasar filosofis
Perumusan dasar filosofis, visi, dan misi lembaga pelaksanaan pendidikan yang baik adalah dimulai dari konsep ideal yang menjadi landasan berpijak semua kegiatan akan dilakukan dalam sebuah lembaga pendidikan. Untuk itu, sebelum membentuk atau membangun sebuah sistem pendidikan yang representatif bagi masyarakat, maka pertama sekali para penyelenggara pendidikan harus merumuskan bahwa landasan filosofis yang mana yang akan menjadi acuan sebagai tempat berpijak untuk merumuskan pendidikan yang baik pada institusi yang ingin dikembangkan tersebut. Dengan kata lain, konsep filsafat pendidikan mana yang akan dijadikan sebagai landasan teoritis dalam pengembangan lembaga pendidikan tersebut.
Di samping landasan filosofis, perlu juga kepada perumusan visi dan misinya. Dengan visi yang bagus, maka otomatis minat para peserta didik akan lebih banyak untuk masuk ke lembaga pendidikan tersebut. Karena dilihat dari visinya tidak membuat para peserta didik bimbang untuk menentukan lembaga pendidikan mana yang lebih cocok untuk mengembangkan kreativitasnya. Setelah visinya bagus, tetapi harus juga diikuti dengan misi yang diemban oleh lembaga pendidikan tersebut mau diapakan peserta didik yang ada di lembaga pendidikan tersebut. Hal in juga sangat tergantung pada masa perumusan misinya.
b. Pembelajaran karakter
Mengajarkan karakter kepada peserta didik, di mulai dengan merumuskan sebuah tujuan pendidikan yang efektif, memilih
pendidik-Internalisasi Nilai dalam Pendidikan
135
pendidik yang berkualitas, kurikulum yang relevan dan fleksibel, dan diikuti oleh metode mengajar yang baik. Sebuah tujuan yang bak meliputi aspek-aspek kepribadian, sosial, jasmani, dan rohani peserta didik sehingga apa yang ingin didapat pada proses pendidikan yang dijalankan akan bermanfaat bagi peserta didik sendiri dan juga bagi masyarakat secara umum.Pendidik yang berkualitas sangat menentukan maju tidaknya pendidikan, dan berhasil tidaknya suatu proses pendidikan. Sebuah lembaga pendidikan menggunakan dan merekrut calon pendidik yang berkualitas dan profesional. Jika tidak terjadi seperti itu, artinya pihak lembaga pendidikan atau pihak yang berwenang merekrut tenaga pendidik atas dasar karena teman, saudara, atau kolega, bukan dengan cara profesional. Maka lembaga tersebut menghasilkan ouput dan outcome yang tidak berkualitas. Akibatnya akan nampak dan dirasakan secara luas pada perjalanan sistem pendidikan kita ke depan.
Kurikulum, juga sangat menentukan dalam membentuk karakter peserta didik. Karena kurikulum adalah semua hal yang berkenaan dengan tercapainya suatu tujuan pembelajaran atau dengan kata lain adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Lebih sempit lagi, kurikulum menyangkut dengan rancangan pembelajaran yang dilakukan di sebuah lembaga pendidikan. Maka materi ajar yang diajarkan dan juga referensi yang digunakan di sebuah lembaga pendidikan adalah sangat menentukan juga terciptanya sebuah pendidikan yang efektif dan berdaya saing. Dengan demikian, sangat diperlukan merumuskan dan mengembangkan suatu kurikulum yang relevan dan fleksibel.
Di samping itu, metode penyampaian materi ajar yang efektif juga menentukan berhasil tidaknya sebuah lembaga pendidikan dalam mengembangkan kreativitas peserta didik. Metode yang efektif salah satunya adalah metode pembelajaran yang tidak monoton dan kaku. Tetapi perlu kepada metode yang lebih bervariasi dan menyenangkan
136
Dr. Saifullah Idris, S.Ag., M. Ag.peserta didik. Karena banyak sekali peserta didik bosan terhadap sebuah materi ajar atau bahkan menimbulkan rasa benci pada pelajaran tertentu karena metode yang digunakan oleh pendidik dapat membosankan peserta didik. Dengan demikian, perlu kepada pendidik-pendidik yang berpikir kreatif, inovatif dan dinamis supaya peserta didik tidak bosan terhadap pelajaran yang diajarkannya.
c. Membangun atmosfer belajar yang baik
Ada beberapa aspek yang menjadi perhatian dalam membangun suasana belajar yang baik, di antaranya adalah: situasi untuk mengajarkan karakter, perhatian dan peduli, dan belajar yang menyenangkan dan punya rasa memiliki atau bertanggung jawab. Situasi atau keadaan yang diperlukan dalam pembelajaran situasi yang nyaman, tenteram dan kondusif, supaya materi-materi yang diajarkan kepada peserta didik dapat diserap dengan sepenuhnya. Membuat situasi seperti, dengan membentuk kelompok-kelompok diskusi atau memang disediakan tempat-tempat khusus untuk membicarakan hal-hal yang berkenaan dengan dunia akademik. Hal seperti ini nantinya diharapkan supaya dapat membudaya di semua lembaga pendidikan.
Dengan terbentuknya atmosfer belajar yang bagus, maka akan muncul respek peserta didik dan peduli kepada lingkungan pendidikannya di lembaga di mana peserta didik sedang menuntut ilmu. Respek dan peduli itu juga harus diciptakan oleh pihak pengelola pendidikan, pendidik, dan semua staf yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan pada sebuah lembaga pendidikan. Respek dan peduli juga perlu dimunculkan sebaliknya, artinya peserta didik juga harus memiliki rasa respek dan peduli tidak hanya kepada pihak pengelola pendidikan dan staf yang ada di lingkungan tersebut, tetapi juga mereka harus respek dan peduli kepada dirinya sendiri, teman-temannya dan juga kepada ilmu pengetahuan.
Internalisasi Nilai dalam Pendidikan
137
Kemudian, setelah atmosfer dan respek serta peduli sudah dimiliki oleh peserta didik, maka muncullah rasa memiliki terhadap ilmu pengetahuan dan lembaga pendidikan tempat di mana dia menuntut ilmu, termasuk perangkat lunak dan perangkat keras yang ada di lembaga pendidikan tersebut. Lalu terjadi suatu kesadaran yang penuh tanggung jawab pada diri peserta didik, yaitu belajar dan memperoleh pendidikan serta berbuat baik itu menjadi tanggung jawab kita semua. Karena kita diciptakan tidak hanya untuk mengembangkan kepribadian kita sendiri, tetapi juga kita harus membantu orang-orang yang ada di sekeliling kita supaya mendapat hak yang sama untuk memperoleh pendidikan seperti kita.d. Perubahan dan keberlanjutan pembelajaran karakter
Dalam menghadapi kenyataan sosial yang selalu berubah dan perlunya keberlajutan pendidikan karakter secara terus menerus. Maka perlu diperhatikan untuk menghadapi kedua kenyataan tersebut adalah dengan mempraktekkan (practic) dan juga dengan membiasakan (tradition) dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mempraktekkan semua apa yang telah diketahui secara teori, maka perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dapat ditangani secara baik. Karena karakter dan tingkah laku yang sudah ditanamkan pada peserta didik tidak sebatas teori saja, tetapi juga sudah menjadi dan terjelma dalam pribadi peserta didik.
Selanjutnya, keberlanjutan suatu tingkah laku atau karakter atau jenis pendidikan apa saja yang dimiliki oleh seseorang atau peserta didik, akan tetap tertanam dan mempribadi di dalam kepribadiannya apabila tingkah laku atau karakter tersebut sudah mentradisi dalam dirinya. Tradisi di sini tidak dipahami sebagai kebiasaan-kebiasaan atau ritual-ritual semata, tatapi sudah menjadi sebagai ’habit’, ’menginstitution’ dan juga bahkan sudah menjadi suatu ’belief’ dalam kepribadian peserta didik (Holly Shepard Salls, 2007: 110).
138
Dr. Saifullah Idris, S.Ag., M. Ag.Untuk membangun sebuah tradisi, perlu kepada komunikasi yang baik di antara pengelola pendidikan, memiliki prinsip-prinsip yang dianut, mendengarkan pendapat orang lain yang bijak, gagasan, usulan dan juga kritikan para karyawan, para peserta didik merubah teori-teori menjadi kenyataan, menciptakan kebaikan dalam ruang kelas, melakukan aktivitas ko-kurikuler, memberikan pengharapan-pengharapan, pendidik mengungkapkan misi-misinya, menjadikan pendidik itu adalah sebuah penghormatan, dan pendidik yang baik itu adalah teladan bagi peserta didiknya.
3. Pembinaan Hubungan yang Baik antara Sekolah, Keluarga, dan