BAB III METODOLOGI PENELITIAN
H. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis berbagai data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain. Sehingga mudah dipahami dan dapat diinformasikan pada orang lain.
Hal ini dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih nama yang penting dan yang akan dipelajari, kemudian dibuat kesimpulan (Sugiyono, 2014:334).
Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai dilakukan analisis terhadap jawaban responden.
Aktivitas dalam analisis data antara lain:
1. Reduksi Data
Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu.
Dengan demikian data yang telah direduksi membantu peneliti untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya (Sugiyono, 2014:338).
2. Penyajian Data
Penelitian kualitatif erat kaitannya dengan penyajian data berupa teks yang bersifat naratif dan memaparkan data, maka akan mempermudah peneliti untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut (Sugiyono, 2014:341).
3. Verifikasi
Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2014:345) menyebutkan bahwa langkah terakhir dalam analisis data adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan masih dapat berubah bila tidak ada bukti-bukti kuat yang mendukung pengumpulan data.
Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pada bagian ini penulis memaparkan hasil penelitian dengan metode wawancara. Penelitian ini melibatkan beberapa responden yakni guru BK, guru agama, penanggungjawab kesiswaan, dan wali kelas yang mengajar di SMP Maria Immaculata Yogyakarta. Hasil penelitian ini merupakan rangkuman atas jawaban responden tentang praksis pelaksanaan pendidikan karakter kristiani di SMP Maria Immaculata Yogyakarta. Penelitian ini dibagi ke dalam tiga bagian yakni pengetahuan mengenai Dokumen Gereja yang meliputi nilai-nilai Kekatolikan dan pendidikan kristiani, Visi-Misi Sekolah, serta praktek pelaksanaan pendidikan karakter.
1. Profil Sekolah a. Sejarah Singkat
Sejarah singkat SMP Maria Immaculata diuraikan berdasarkan pada manuskrip yang memuat sejarah visi-misi sekolah. SMP Maria Immaculata Marsudirini merupakan sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Marsudirini berpusat dijalan Ronggowarsito 8 Semarang. Sejarah SMP Maria Immaculata diawali ketika Yayasan Kanisius pasca perang kemerdekaan membentuk MULO Katolik (SMP), para Bruder FIC diminta menangani murid laki-laki, sedang murid putri diserahkan kepada para Suster OSF.
Peristiwa ini seiring dengan keluarnya Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1952, tentang pengelolaan sekolah-sekolah swasta.
Sekolah-sekolah swasta harus dikelola oleh Yayasan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah tersebut, Keuskupan Agung Semarang mendirikan Yayasan Kanisius yang menaungi semua sekolah Katolik, termasuk sekolah-sekolah Katolik milik Suster-suster OSF. Dalam perkembangan waktu tarekat-tarekat mendirikan Yayasan sendiri dan melepaskan diri dari Yayasan Kanisius.
Pada tanggal 5 Juli 1954 para Suster OSF mendirikan Yayasan Marsudirini yang menaungi sekolah-sekolah OSF, termasuk di dalamnya SMP Maria Immaculata Marsudirni Yogyakarta. Saat awal berdiri SMP Maria Immaculata Marsudirini Yogyakarta hanya menerima murid putri saja, dengan jumlah 4 lokal paralel.
Status SMP Maria Immaculata Marsudirini Yogyakarta mengalami perubahan serta perkembangan kejenjang yang lebih baik sesuai dengan kebijakan pemerintah, dari berstatus Bersubsidi pada tanggal 15 Februari 1950, menjadi status Disamakan pada tanggal 12 Mei 1986.
Usaha memenuhi kebutuhan masyarakat yang menginginkan murid putra diijinkan oleh pihak sekolah untuk itu pada tahun 1993 SMP Maria Immaculata Marsudirini menerima siswa putra. Dalam perkembangannya semakin banyak warga masyarakat yang mempercayakan pendidikan putra-putrinya ke SMP Maria Immaculata Marsudirini Yogyakarta, sehingga pada tahun 1993 SMP Maria Immaculata Marsudirini Yogyakarta menambah lokal menjadi 6 paralel
Tanggal 25 Februari 2005 telah mendapatkan hasil akreditasi yang pertama dengan mendapat nilai A, tanggal 22 November 2008 dalam akreditasi kedua mendapatkan nilai A, tanggal 15 Agustus 2011 berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan, Pemuda dan Olah Raga nomor 798 tahun 2011 mendapatkan Penetapan Sekolah Standar Nasional Mandiri. Tahun 2013 SMP Maria Immaculata Marsudirni Yogyakarta melaksanakan proses akreditasi lagi dan hasil dari akreditasi yang dikeluarkan oleh Badan Akreditasi Nasional Sekolah pada tanggal 21 Desember 2013 mendapatkan nilai A.
SMP Maria Immaculata Marsudirini dari tahun ke tahun terus berbenah diri agar lebih dapat berkompetisi dengan sekolah lain, terlebih SMP Maria Immaculata Marsudirini Yogyakarta berlokasi di tengah kota pendidikan yang memiliki nilai kompetisi tinggi.
b. Visi, Misi dan Tujuan
Visi : SMP Maria Immaculata Marsudirini mengembangkan pribadi yang cerdas, beriman pada Tuhan, mencintai sesama dan alam ciptaanNya.
Misi :
1) Menjadikan peserta didik yang cerdas, intelektual, berkarakter dan berbudaya.
2) Membantu peserta didik menggali dan mengembangkan minat, bakat dan kreatifitas.
3) Membantu peserta didik mampu menguasai dan menggunakan teknologi secara tepat di era globalisasi.
4) Meningkatkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungan sosial dan lingkungan ciptaan-Nya.
Tujuan :
1) Menjadikan peserta didik yang cerdas, intelektual, berkarakter dan berbudaya.
a) Terlaksananya tugas pokok dan fungsi peranan masing-masing setiap warga dan komponen sekolah (kepala sekolah, guru, karyawan, dan peserta didik).
b) Terlaksananya tata tertib dan segala ketentuan yang mengatur operasional sekolah berstandar nasional pendidikan.
c) Memiliki jiwa cinta tanah air yang diinternalisasikan lewat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan hormat bendera pada awal pelajaran dan Pramuka.
d) Meningkatkan mutu guru dengan MGMP, Workshop dan seminar.
e) Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan juga budaya bangsa, sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak.
f) Melaksanakan pendampingan dan pelatihan secara efektif dalam pembelajaran, sehingga nilai ujian dan daya saing yang tinggi untuk masuk jenjang pendidikan lebih tinggi.
g) mengembangkan pembelajaran dengan moving class.
h) mengembangkan pembelajaran berbasis kemarsudirinian.
i) menjadikan komunitas sekolah memiliki nilai-nilai kehidupan berdasarkan spiritualitas kemarsudirinian.
2) Membantu peserta didik menggali dan mengembangkan minat, bakat dan kreatifitas.
a) Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya, sehingga dapat dikembangkan secara lebih optimal dan melaksanakan pendisiplinan terhadap semua komponen sekolah untuk mewujudkan disiplin diri yang mantap, kepatuhan tata tertib, bekerja dan belajar.
b) Menyediakan sarana dan prasarana untuk menyelenggarakan proses belajar mengajar, pembinaan olah raga serta kegiatan ekstrakurikuler.
c) Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga setiap siswa dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
d) Menjadikan sekolah meraih prestasi dalam berbagai kompetisi baik akademik maupun non akademik.
3) Membantu peserta didik mampu menguasai dan menggunakan teknologi secara tepat di era globalisasi.
a) Mengembangkan media pembelajaran berbasis TIK.
b) Memfasilitasi peserta didik untuk menguasai dan menggunakan teknologi secara tepat.
4) Meningkatkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungan sosial dan lingkungan ciptaan-Nya.
a) Menyelenggarakan kegiatan yang menumbuhkan kepedulian bagi sesamanya dengan mengumpulkan sembako, menyisihkan uang jajan untuk aksi sosial / membantu teman/saudara yang membutuhkan.
b) Memiliki kesadaran terhadap kelestarian lingkungan hidup disekitarnya.
c) menjadi sekolah bersih, sehat, dan berwawasan lingkungan sehingga kondusif untuk bekerja dan belajar.
Motto : Muda, Disiplin, Kreatif dan Berbudaya
c. Kurikulum Pengembangan
Pengembangan pendidikan karakter bangsa, ekonomi kreatif dan jiwa kewirausahaan yang dilakukan di SMP Maria Immaculata Marsudirini Yogyakarta diintegerasikan melalui:
1) Kurikulum Sekolah
Penerapan pendidikan karakter, ekonomi kreatif, dan jiwa kewirausahaan diintegrasikan ke dalam kurikulum SMP Maria Immaculata Marsudirini Yogyakarta.
2) RPP dan Silabus
SMP Maria Immaculata Marsudirini Yogyakarta mengembangkan RPP dan Silabus tersendiri dengan mengintegrasi pendidikan karakter bangsa untuk semua mata pelajaran wajib dan muatan lokal.
3) Program Tamanisasi Sekolah
Program ini merupakan salah satu indikator dalam pendidikan karakter bangsa berkaitan dengan peduli lingkungan dan kekhasan pelajaran kemarsudirinian yang menjadi ciri khas sekolah Marsudirini.
4) Program Field Trip
Program ini adalah program yang mengintegrasikan pendidikan ekonomi kreatif dan jiwa kewirausahaan. Program ini merupakan kegiatan untuk menambah wawasan tentang dunia usaha dalam bidang pertanian mulai dari penanaman hingga pemasaran
5) Kemarsudirinian
Program ini adalah program yang mengintegrasikan spiritualitas yang dibawa Fransiskus Assisi dan Magdalena Daemen yakni cinta pada lingkungan dan ciptaan-Nya dalam bentuk suatu pendampingan.
6) Lokakarya
Program ini adalah program pengembangan sikap yang disesuaikan dengan tingkatan kelas sesuai kebutuhan mereka guna mengembangkan karakter anak dengan mengangkat tema-tema yang berdasarkan keprihatinan remaja dan masyarakat saat ini.
2. Profil Responden
Responden 1 –dengan inisial SMS, adalah seorang Guru Bimbingan Konseling di SMP Maria Immaculata Yogyakarta.
Responden 2 –dengan inisial HW, adalah seorang Guru Bimbingan Konseling di SMP Maria Immaculata Yogyakarta.
Responden 3 –dengan inisial EDLK, adalah seorang Guru Pendidikan Kewarganegaraan sekaligus Pembina OSIS di SMP Maria Immaculata Yogyakarta.
Responden 4 –dengan inisial AES, adalah seorang Guru Pendidikan Kewarganegaraan sekaligus Pembina Ta-Tib di SMP Maria Immaculata Yogyakarta.
Responden 5 –dengan inisial FK, adalah seorang Guru Matematika sekalgus Wali Kelas 8C di SMP Maria Immaculata Yogyakarta.
Responden 6 –dengan inisial GBK, adalah seorang Guru Pendiidkan Agama Katolik di SMP Maria Immaculata Yogyakarta.
3. Hasil Wawancara
Pada bagian ini penulis menyajikan jawaban atau tanggapan responden tentang : (1) nilai-nilai Kekatolikan dan Pendidikan Kristiani menurut Dokumen Gereja, (2) Visi-Misi yang menjadi landasan pelaksanaan pendidikan di SMP Maria Immaculata dan (3) praktek pelakanaan pendidikan karakter yang diterapkan oleh masing-masing guru di kelas sesuai dengan mata pelajaran maupun kegiatan yang diampu.
Untuk mendapat tanggapan atas hal-hal tersebut, penulis menyiapkan beberapa pertanyaan kunci yang mudah dijawab oleh responden. Penulis menemukan adanya variasi jawaban yang beragam dari masing-masing responden dalam memahami nilai-nilai Kekatolikan dalam Pendidikan Karakter Kristiani, serta penerapannya baik dalam lingkup sekolah maupun kelas. Untuk menguji kebenaran tanggapan responden, dilakukan proses triangulasi sumber dengan cara mewawancarai pihak lain yang dinilai dapat mengonfirmasi pernyatan responden secara valid.
Praktek pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah sangat bergantung pada nilai-nilai apa aja yang menjadi landasan proses pendidikan, serta bagaimana nilai-nilai itu terlaksana dalam lingkup pendidikan Kristiani. Menurut penulis, mengetahui dan praksis pelaksanaan adalah kedua hal yang berbeda secara substansial, namun tidak bisa dipisahkan. Terkadang orang hanya mengenal konsep nilai yang dihidupi tanpa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Begitu juga sebaliknya, praksis kegiatan yang dilaksanakan belum tentu sesuai dengan nilai-nilai yang dihidupi. Dalam penelitian ini, penulis ingin mencari tahu seberapa besar pengetahuan responden tentang nilai-nilai Kekatolikan dalam dokumen Gereja, serta bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam visi-misi sekolah, program, dan praktek masing-masing guru di kelas dalam rangka pendidikan karakter kristiani.
a. Menyangkut Dokumen Gereja
Untuk mendapatkan tanggapan yang komprehensif tentang pengetahuan mengenai Dokumen Gereja, penulis membaginya menjadi dua bagian yang berhubungan dengan: (1) Nilai-nilai Kekatolikan dengan pertanyaan kunci; (a) dokumen yang memuat konsep pendidikan Kristiani;(b) nilai-nilai Kekatolikan yang relevan bagi pendidikan karakter dalam dokumen Gereja; dan (c) nilai-nilai Kekatolikan yang melandasi proses pendidikam di SMP Maria Immaculata; (2) Pendidikan Kristiani meliputi: (a)pelaksanaan pendidikan kristiani di sekolah, dan (b) komponen Pendidikan Kristiani di sekolah.
(1) Nilai-nilai Kekatolikan
Penulis bertanya kepada semua responden tentang apa yang mereka ketahui tentang Dokumen Gereja.
(a) Dokumen yang Memuat Konsep Pendidikan Kristiani Responden 1 dengan singkat mengatakan :
Wah, itu saya kurang tau mbak, guru agama yang paham [Wawancara R1, 12 November 2018].
Responden 2 dengan yakin namun terlihat seperti berpikir keras mengatakan:
Ya yang saya tahu Kitab Suci yang kita mengajarkan untuk selalu peduli pada sesama dan mengajarkan cinta kasih [Wawancara R2, 12 November 2018].
Responden 3 dengan singkat mengatakan :
Kalau soal itu saya tidak memiliki kapasitas mbak, yang ngerti guru agama [Wawancara R3, 13 November 2018].
Responden 4 kurang yakin menjawab dengan mengatakan:
Saya kurang tahu mengenai hal tersebut [Wawancara R4, 14 November 2018].
Responden 5 dengan singkat mengatakan :
Saya kurang tahu ya mbak [Wawancara R5, 14 November 2018].
Responden 6 dengan yakin menjawab dengan mengatakan:
Yang jelas dalam Dokumen Konsili Vatikan II ada GE, selebihnya ada pada Surat Gembala [Wawancara R6, 14 November 2018].
Semua data yang dijabarkan di atas adalah valid. Semua data wawancara divalidasi ulang dengan meminta responden melihat kembali hasil transkripnya, sehingga kutipan di atas benar dan kredibel.
Penulis melakukan wawancara dengan orang lain sebagai Informan 1 yang mengenal responden. Informan 1 mengatakan bahwa meskipun seluruh responden merupakan guru beragama Katolik, tidak semua dari mereka mengetahui perihal dokumen Gereja. Pada jawaban R1, R2, R3, dan R5 dapat dilihat bahwa responden belum mengetahui adanya dokumen gereja yang memiliki fokus pada pendidikan kristiani. Namun, pada R4 sudah ada gambaran mengenai dokumen Gereja meskipun belum sepenuhnya benar, dan R6 sudah mengetahui adanya dokumen Gereja yang memuat Pendidikan Kristiani meskipun tidak dapat menyebutkan secara terperinci. [Wawancara I1, 14 November 2018]
(b) Nilai-nilai dalam Dokumen Gereja yang Relevan Bagi Pendidikan Karakter
Penulis memberikan gambaran isi dokumen Gereja kepada semua responden sebagai gambaran bagi responden untuk melihat nilai-nilai Kekatolikan yang relevan bagi pendidikan karakter. Secara keseluruhan responden memberi jawaban yang berbeda-beda. Berikut tanggapan masing-masing responden.
Responden 1 dengan yakin mengatakan:
Kalau menurut saya pribadi, yang pertama sikap saling menghormati mbak. Soalnya anak jaman sekarang tuh jangankan menghormati orang lain, lha wong sama gurunya aja susah mbak. Selain itu menurut saya sopan santun ya mbak, karena budaya individualisme yang ada sekarang ini bikin anak tidak bisa membedakan mana perilaku yang sopan mana yang kurang baik, terutama di depan orang yang lebih tua. Kemudian yang terakhir cinta kasih. Anak sekarang tuh mood-moodan mbak, mau nolong ya kalau yang ditolong itu temen deketnya, atau sahabatnya sendiri. Kalau
suruh bantu temen yang gak deket susahnya minta ampun mbak, padahal ya menolong itu bentuk mengasihi sesama. Contoh sederhananya,meminjamkan alat tulis pada teman yang membutuhkan kalau bukan temannya ya tidak mau memberi [Wawancara R1, 12 November 2018].
Responden 2 dengan yakin namun terlihat seperti berpikir keras mengatakan:
Sekolah ini kan memiliki spiritualitas yang diambil dari Fransiskus Assisi dan Magdalena Daemen, ya yang jelas kita mengajarkan nilai mencintai alam ciptaan dan sesama. Hal ini dapat diwujudkan misalnya dengan memberi salam. Di sekolah ini mbak, kalau pagi itu ada guru sama beberapa siswa istilahnya piket di depan untuk menyambut guru dan teman-teman yang datang dengan memberikan salam. Terus ada juga Jumat kasih, anak diajak menyisihkan uang jajannya untuk berbagai kepada teman yang membutuhkan, entah sakit, atau malah ndak mampu bayar SPP, dan lain sebagainya. Dan yang terakhir anak diajak percaya pada Penyelenggaraan Ilahi mbak, jadi tiap pagi anak diajak refleksi setelah doa untuk melihat apa yang akan saya lakukan hari ini, terus juga memberi motivasi bagi anak yang mau menghadap lomba dan ujian [Wawancara R2, 12 November 2018].
Responden 3 memberi jawaban yang berbeda dengan mengatakan :
Kalau urusan hubungan dengan yang di atas mungkin itu nanti urusan guru agama ya mbak. Tapi bagi saya, nilai yang relevan itu ya yang berguna bagi kehidupan sehari-hari. Misalnya dengan mengajak anak untuk mau menaati norma dan peraturan yang ada. Dari hal yang sederhana saja, menggunakan seragam sesuai dengan ketentuan, sampai yang ada di luar sekolah seperti mau membuang sampah pada tempatnya. Yang lain itu misalnya ya cinta kasih mbak. Nah, cinta kasih ini diwujudkan melalui sikap positif sebagai warga Negara, misalnya melalui bakti sosial, peduli alam sekitar, dan lain-lain. Yang terakhir, yang jarang dijumpai di sekolah lain yakni kekeluargaan di mana anak merasa dicintai, dihargai, diperhatikan [Wawancara R3, 13 November 2018].
Responden 4 sangat yakin dan singkat menjawab dengan mengatakan:
Jelas mbak, toleransi itu yang utama, apalagi kondisi bangsa saat ini sungguh sedang krisis. Di samping itu, kondisi siswa di sini kan juga beragam mbak, meskipun sekolah Katolik. Lalu di sekolah ini ada kemarsudirinian, salah satu nilai yang hendak diangkat adalah persaudaraan, di mana semua adalah sama. Persaudaraan ini juga ada
kaitannya dengan kerja sama. Kalau kita menyadari siapa sesama kita, maka kita mau bekerjasama dengan siapapun. Soalnya banyak kejadian anak itu gak mau kerja sama kalau bukan sama temen deketnya. Dan yang terakhir kedisiplinan mbak sebagai ciri khas yang sudah melekat pada sekolah Katolik [Wawancara R4, 14 November 2018].
Responden 5 dengan tenang dan yakin menjabarkan dengan mengatakan:
Ada dua yakni sikap sosial dan sikap spiritual. Sikap spiritual dulu ya mbak. Namanya anak sekolah kan kadang masih belum dong bagaimana saya haru bersikap. Sederhana saja melalui doa pagi. Anak ki masih sering ketawa-ketawa, tengok kanan kiri, guyon sama temennya, padahal posisi sedang berdoa. Nah, di sini kita mengajak anak untuk tahu apa yang sedang kita lakukan, dan bagaimana saya herus bersikap. Kemudian anak dibiasakan untuk membuat refleksi. Yang kedua adalah sikap sosial. Untuk hidup sehari-hari, anak itu harus diajarkan rasa tanggungjawab, baik dalam tugas, kegiatan, atau apapun, karena usia anak SMP itu masih labih dan suka sakarepe dewe. Kemudian nilai persaudaraan yang dibangun melalui kerja sama dan komunikasi. Ini penting sekali karena anak jaman sekarang itu seringnya nge-judge dulu tanpa tahu kebenarannya [Wawancara R5, 14 November 2018].
Responden 6 dengan yakin menjawab dengan mengatakan:
Saya pribadi selalu menginginkan anak-anak saya dapat merayakan kebebasan iman mereka masing-masing. Seringkali anak terlalu ditekan, diancam, dan menghadapi banyak aturan. Padahal anak muda butuh kebebasan supaya mereka mampu menjadi diri mereka seutuhnya, terutama kaitannya dengan iman akan Allah. disaat anak diberikan kebebaan itu, maka mereka akan berproses dan berkembang sehingga perlahan-lahan dia tahu apa yang baik dilakukan dan apa yang buruk bagi dirinya [Wawancara R6, 14 November 2018].
Kebenaran data yang diperoleh telah diuji validitasnya dengan mempersilahkan reponden untuk memeriksa kembali jawaban yang diberikan selama proses wawancara, sehingga jawaban yang diberikan sungguh benar dan terpercaya.
Berdasarkan wawancara kepada orang yang mengenal reponden, Informan 1 mengatakan berdasarkan pengalamnnya mengajar bersama responden, semua
responden memiliki preferensi yang berbeda dalam memberikan jawaban.
Biasanya hal ini dipengaruhi juga oleh mata pelajaran dan kegiatan yang ada di bawah naungan guru yang bersangkutan. Misalnya R1 dan R2 memiliki jawaban yang hampir mirip dan saling melengkapi. Sedangkan R3 dan R6 memiliki jawaban yang sama sekali berbeda namun masih sesuai dengan konteks. Begitu pula dengan R4 dan R5, memiliki jawaban yang hampir sama.[Wawancara I1, 14 November 2018]
(c) Nilai-nilai Kekatolikan yang melandasi proses pendidikan di SMP Maria Immaculata
Penulis bertanya kepada responden tentang nilai-nilai Kekatolikan apa saja yang melandasi pendidikan di sekolah ini. Secara keseluruhan responden memberi jawaban yang sama. Berikut tanggapan masing-masing responden.
Responden 1 dengan singkat mengatakan :
Ada dua aspek mbak, yang pertama mencintai lingkungan yang diwujudkan melalui kemarsudirinian dan merawat tanaman. Yang kedua persaudaraan, baik dengan teman sekelas maupun dengan seluruh warga sekolah [Wawancara R1, 12 November 2018].
Responden 2 memberikan jawaban yang serupa dengan mengatakan :
Ya dari Fransiskus Asisi dan Magdalena Daemen itu mbak, diajak mencintai lingkungan dan sesama yang terwujud dalam kemarsudirinian.
Konkretnya ya dengan merawat tanaman, cinta sesama, memberi salam, dan lain-lain [Wawancara R2, 12 November 2018].
Responden 3 dengan singkat mengatakan :
Ya kemarsudirinian mbak, cinta alam ciptaan dan sesama [Wawancara R3, 13 November 2018].
Responden 4 dengan singkat mengatakan :
Yang jelas karena sekolah ada di bawah Yayasan Marsudirini, maka kita mengambil nilai kemarsudiriniaan yakni kesederhanaan, cinta lingkungan, dan sesama [Wawancara R4, 14 November 2018].
Responden 5 dengan yakin dan jelas menjawab dengan mengatakan :
Ada dua hal yang ingin dikembangkan di sini yaitu menjadi pribadi yang sederhana dengan memperlakukan semua siswa dengan cara yang sama supaya tidak ada kecemburuan sosial dan siswa dapat bersikp rendah hati.
Kemudian mencintai alam ciptaan dan sesama yang terangkum juga di dalam kemarsudirinian [Wawancara R5, 14 November 2018].
Responden 6 memberikan jawaban yang jelas dengan mengatakan :
Spiritualitas sekolah ini adalah semangat yang dibawa oleh Fransiskus Asisi dan Magdalena Daemen. Pertama-tama yang saya tangkap adalah semangat pertobatan. Di sini kita diajak untuk menyadari bagaimana kita di masa lampau, lalu ada yang namanya evaluasi diri sehingga kita bisa menuju pada suatu suasana pertobatan menjadi diri yang baru. Kemudian kesederhanaan. Kesederhanaan tercermin bukan hanya melalui penampilan tapi juga sikap serta tutur kata yang santun sehingga menghargai orang lain. Kemudain syukur atas apa yang dimiliki, diperoleh, dan diberikan oleh Allah. Dan yang terakhir persaudaraan, di mana kita semua adalah satu, saudara, dan kita semua sama [Wawancara R6, 14 November 2018].
Kebenaran data yang diperoleh telah diuji validitasnya dengan mempersilahkan reponden untuk memeriksa kembali jawaban yang diberikan selama proses wawancara, sehingga jawaban yang diberikan sungguh benar dan terpercaya.
Berdasarkan wawancara kepada orang yang mengenal reponden, Informan
Berdasarkan wawancara kepada orang yang mengenal reponden, Informan