BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Pada bagian ini penulis akan membahas dan mendeskripsikan secara kualitatif penerapan nilai-nilai Kekatolikan dalam Pendidikan Karakter Kristiani
oleh guru di SMP Maria Immaculata Yogyakarta. Deskripsi kulitatif pendidikan karakter Kristiani ini akan dibagi menjadi 4 bagian besar, diantaranya: (1) deskripsi nilai-nilai Kekatolikan dalam dokumen Gereja; (2) deskripsi konsep pendidikan kristiani; (3) deskripsi implementasi pendidikan karakter Kristiani di sekolah; (4) deskripsi praksis pelaksanaan pendidikan karakter kristiani di kelas.
1. Nilai-nilai Kekatolikan dalam dokumen Gereja
Penulis menemukan keragaman tanggapan para responden terkait pemahaman mengenai nili-nilai Kekatolikan yang terdapat dalam dokumen Gereja. Berdasarkan hasil penelitian, secara umum penulis menyimpulkan bahwa responden masih sangat asing terhadap dokumen Gereja, namun sebagian besar mengetahui nilai-nilai Kekatolikan yang ingin dikembangkan dalam proses pendidikan. Hal ini terbukti dari jawaban masing-masing responden pada bagian ini.
Responden 2 mengungkapkan adanya spiritualitas yang dihayati di sekolah menjadi nilai-nilai dasar yang akan ditanamkan dalam keseluruhan proses pendidikan khusunya melalui spiritualitas pelindung sekolah. Jawaban ini mengindikasikan bahwa disatu sisi responden belum memiliki pengetahuan tentang dokumen Gereja, namun disisi lain responden punya pandangan yang sudah cukup sesuai dengan apa yang terdapat dalam dokumen Gereja [Wawancara R2, 12 November 2018; lih. hal. 12]. Tampaknya pengetahuan tersebut diperoleh dari pengalaman dan penghayatannya selama menjadi guru di sekolah ini.
Sedikit berbeda dengan R2, tanggapan yang diberikan oleh R4 lebih lengkap. Beliau tidak hanya menguraikan spiritualitas, tetapi juga nilai-nilai yang
memang menjadi ciri sekolah Katolik. Dikatakan bahwa sekolah Katolik selain memiliki spiritualitas yang dijunjung, juga memiliki toleransi yang amat besar serta disiplin yang tinggi juga kerjasama dalam hidup masyarakat [Wawancara R4, 14 November 2018; lih. hal. 13]. Meski hampir sama, namun jawaban yang diberikan oleh R4 sudah masuk pada nilai-nilai yang berguna dalam kehidupan masyarakat. Namun dari jawaban yang diberikan, penulis melihat bahwa jawaban yang diberikan hanya atas dasar apa yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, bukan berlandakan dokumen Gereja.
Secara teoritis Gereja meyakini bahwa sekolah memiliki peranan yang cukup penting di dalam pembentukan karakteristik anak. Sekolah Katolik perlu mewujudkan suatu proses pendidikan yang dijiwai oleh semangat mengajar Kristus sendiri. Hal ini ditunjukkan melalui identitas gerejawi dan budayanya;
misi pendidikannya sebagai karya cinta; layanannya kepada masyarakat; sifat-sifat yang harus menjadi ciri komunitas pendidik (Sacred Congregation of The Catholic School 4). Oleh karena itu, nilai-nilai yang dihidupi di sekolah Katolik haruslah mengarah pada pengembangan aspek sosial dan budaya dari berbagai komunitas dan masyarakat di mana ia berasal, berpartisipasi dalam kegembiraan dan harapan mereka, penderitaan dan kesulitan mereka, upaya mereka untuk mencapai yang asli. kemajuan manusia dan anggota komunitas.
Dengan demikian berdasarkan jawaban dari responden dibandingkan dengan teori yang ada mengenai nilai-nilai Kekatolikan maka dapat terlihat bahwa responden sudah sedikit memahami nilai-nilai yang perlu dikembangkan dalam
proses pendidikan. Hal ini nampak dari tanggapan responden yang sudah mencakup aspek sikap dalam hidup bermayarakat.
2. Konsep pendidikan kristiani
Pada bagian ini penulis menemukan kesamaan jawaban akan konsep pendidikan kristiani, meskipun dengan contoh yang beragam. Seluruh responden melihat pendidikan kristiani merupakan pendidikan yang membantu anak untuk memiliki sikap iman yang baik. R1 memiliki jawaban yang berbeda, beliau menganggap pendidikan kristiani tersirat melalui visi-misi sekolah yang sarat akan nilai-nilai, kegiatan kerohanian, dan simbol-simbol keagamaan [Wawancara R1, 12 November 2018; lih. hal. 16-17]. Jawaban yang diberkan R1 cukup singkat. R1 kurang dapat menjelaskan apa itu pendidikan kristiani dan bagaimana penerapannya lebih lanjut dengan jelas. Kemungkinan karena pemahaman R1 mengenai konsep pendidikan kristiani masih kurang mendalam, sehingga belum dapat menguungkapkannnya dengan lebih terperinci.
R2 memiliki pandangan yang berbeda dengan R1. Beliau melihat bahwa pendidikan kristiani tercermin melalui sikap hidup yang juga menjadi budaya sekolah seperti adanya “tiga S” (senyum, sapa, salam) kepada siapapun yang ada di lingkungan sekolah. Di samping itu R2 melihat perlu adanya keteladanan dari guru, di mana guru perlu memiliki sikap hidup yang dapat diteladani siswa. Dan yang terakhir dengan adanya kebiasaan refleksi yang tidak ada di sekolah lain [Wawancara R2, 12 Noveber 2018; lih. hal. 17]. Hal ini sejalan dengan pendapat R3 yang melihat bahwa refleksi menjadi bagian dari penerapan pendidikan kristiani. R3 menuturkan bahwa refleksi merupakan ciri khas yang tidak ada di
sekolah lain, karena hanya ada di sekolah Katolik [Wawancara R3, 13 November 2018; lih. hal. 17]. Nampaknya jawaban yang muncul dari R2 dan R3 merupakan hasil pengamatan dan refleksi selama mengajar. Hal ini terlihat dari tanggapan keduanya yang melihat pendidikan kristiani tidak hanya dari segi kegiatan kerohanian, tetapi juga melalui berbagai keteladanan, khususnya sikap hidup dalam masyarakat. Sikap dalam kehidupan sehari-harilah yang menjadi penciri utama pendidikan kristiani.
R4 melihat pendidikan kristiani sebagai sesuatu yang erat kaitannya dengan kerohanian. Beliau memberikan contoh yaitu misa bulanan, ibadat, peringatan BKSN, dan seperti R2 dan R3, beliau melihat refleksi sebagai bagian dari perwujudan pendidikan kristiani [Wawancara R4, 14 November 2018; lih.
hal. 17]. Dari jawaban yang diberikan, penulis melihat adanya keraguan dari jawaban yang diberikan R4. hal ini terlihat dari kurang jelasnya jawaban yang diberikan oleh R4 mengenai konsep pendidikan kristiani, serta bagaimana penerapannya. Namun R4 memaknai pendidikan kristiani sebagai upaya pengembangan sikap spiritual anak.
Berbeda dengan responden yang lain, R5 melihat pendidikan kristiani dalam dua hal yakni kerohanian dan sikap. Dalam hal kerohanian meliputi peribadatan, di samping itu dalam peribadatan juga ada pembinaan sikap dengan memberi terguran bagi anak yang tidak serius dalam mengikuti perayaan ekaristi.
Di samping itu, pembinaan sikap dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan sekolah seperti aksi sosial, pembiaan, dan peduli lingkungan [ Wawancara R5, 14 November 2018; lih. hal. 17]. Dari jawaban yang diberikan oleh R5, penulis
melihat bahwa R5 melihat pendidikan kristiani bukan semata-mata tentang hubungan dengan Allah, tetapi juga mengenai sikap dalam hidup sehari-hari. R5 memang mengatakan cukup singkat, dan penjelasan yang kurang lengkap, namun jawaban yang diberikan cukup mengindikasikan pengetahuan R5 mengenai pendidikan kristiani.
Ada yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh R6. Selain melihat dari sisi kerohanian, beliau juga melihat pelayanan keluar sekolah sebagai suatu bentuk perwujudan pendidikan kristiani. Tidak hanya membangun relasi dengan Allah, tetapi juga dengan sesama manusia yang membutuhkan, terutama mereka yang masih membutuhkan perhatian khusus [ Wawancara R6, 14 November 2018;
lih. hal. 17]. Di sini penulis melihat bahwa R6 memiliki pandangan yang hampir sama dengan responden lainnya di mana melihat pendidikan kristiani sebagai suatu upaya membangun relasi dengan Tuhan dan sesama.
Berdasarkan teori yang ada, dikatakan bahwa pendidikan kristiani adalah pendidikan yang mengikhtiarkan pembinaan pribadi manusia untuk tujuan akhirnya dan serentak untuk kepentingan masyarakat. Manusia adalah angota masyarakat dan setelah dewasa berperan serta dalam tugas-tugas masyarakat (GE 1). Dalam hal ini Gereja hendak mengatakan bahwa pendidikan hendaknya mampu mendorong siswa untuk menghayati nilai-nilai moral dengan hati nurani yang tepat agar mampu menyesuaikan diri dengan peran sosialnya. Dengan kata lain, tujuan dari pendidikan itu sendiri mampu membawa siswa menjadi pribadi yang tidak hanya beriman, tetapi juga memiliki sikap hidup yang sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Dengan demikian berdasarkan dari jawaban dari semua responden dibandingkan dengan secara teoritis mengenai konsep pendidikan kristiani, maka dapat terlihat bahwa reponden sudah memiliki pandangan yang benar memiliki pendidikan kristiani meskipun belum tepat sepenuhnya.
3. Deskripsi implementasi pendidikan karakter Kristiani di sekolah
Pada bagian ini penulis menemukan jawaban yang beragam dari masing-masing responden. R1 melihat bahwa pendidikan karakter di sekolah dikembangkan melalui berbagai kegiatan baik kerohanian dan terkhusus melalui pendampingan oleh BK, serta melalui berbagai kegiatan yang bertujuan untuk membangun sikap siswa supaya memiliki sikap iman dan sikap sosial yang baik [Wawancara R1, 12 November 2018;lih. hal. 24]. Drari jawaban yang diberikan oleh R1, penulis melihat implementasi pendidikan karakter kristiani masih sebatas pada pengembangan sikap anak supaya dapat tumbuh sesuai dengan perkembangan usianya, serta bagaimana anak dapat memiliki sikap iman yang baik, tetapi belum sampai pada pengembangan sikap sosial anak.
Berbeda dengan R1, R2 melihat pengembangan pendidikan krakter kristiani tidak pertama-tama pada program pengembangan karakter, tetapi melalui nilai-nilai dan spiritualitas yang diangkat oleh sekolah. Hal ini diwujudkan melalui adanya visi-misi sekolah yang kemudian baru dibentuk program pendampingan maupun program sekolah tertentu yang berkaitan dengan pengembangan sikap anak [Wawancara R2, 12 November 2018;lih. hal. 24]. Di sini penulis melihat adanya konsep yang berbeda antara R1 dan R2. R2 berpandangan bahwa pendidikan karakter kristiani tidak semata-mata soal
perkembangan sikap, tapi perlu adanya nilai-nilai yang dihidupi di sekolah melalui kurikulumnya.
R3 memiliki pandangan yang berbeda dengan responden sebelumnya.
Beliau melihat adanya keteladanan setiap warga sekolah dalam menunjukkan sikap hidup yang sungguh mencintai alam sekitar serta sesama. Beliau juga melihat bahwa praksis kehidupan sehari-hari menjadi menjadi kunci utama dalam mengembangkan karakter kristiani, tidak hanya semata-mata menjadi manusia beriman, tetpi juga memiliki sikap yang bisa dibawa hingga masa mendatang [Wawancara R3, 13 November 2018;lih. hal. 24]. Penulis melihat R3 memiliki pandangan mengenai bagaimana pengembangan karakter kristiani dilaksanakan melalui praksis hidup sehari-hari terutama dalam sikap yang diterapkan. Penulis melihat R1 tidak hanya memberikan teori tetapi sungguh mengangkat bagaimana penghayatan hidup sehari-hari yang sungguh dapat memengaruhi sikap seseorang terutama dalam keteladanan.
Hampir sama dengan R2, R4 melihat bahwa pendidikan karakter kristiani pertama-tama dilihat melalui nilai-nilai yang diangkat dalam visi-misi sekolah serta kurikulum yang berlaku. Nilai-nilai inilah yang nantinya akan menjadi pegangan bagi setiap warga sekolah. Dengan demikian diharapkan seluruh warga sekolah dapat menjadi pribadi yang sungguh-sungguh menghayati nilai-nilai khususnya nilai kemarsudirinian yang tercermin dalam sikap hidup mereka sehari hari [Wawancara R4, 14 November 2018;lih. hal. 25]. Pada bagian ini penulis melihat bahwa R4 menghayati praksis pelaksanaan pendidikan karakter kristiani tidak semata-mata perihal kegiatan kerohanian, tetapi penanaman nilai-nilai apa
yang perlu dimiliki dan dihidupi oleh sekolah menjadi pegangan hidup sehari-hari. Penulis melihat adanya penghayatan nilai sebagai poin pokok dalam hal ini.
Sejalan dengan R2 dan R4, R5 juga memiliki pandangan di mana implementasi pendidikan karakter kristiani pertama-teama melalui rumusan visi-misi serta tujuan yang sarat akan nilai-nilai yang hendak digeluti. Nilai-nilai itulah yang nantinya akan dicapai melalui berbagai macam program yang diselenggarakan di sekolah. Harapannya dengan adanya berbagai hal tersebut, anak akan memiliki sikap iman dan sikap sosial yang baik kedepannya meskipun membutuhkan proses yang panjang [Wawancara R5, 14 November 2018;lih. hal.
25]. Penulis melihat adanya kesamaan konsep antara R2, R4, serta R5 dalam melihat pendidikan karakter kristiani sebagai suatu proses pembentukan sikap yang didasari oleh visi-misi serta tujuan yang jelas guna mencapai nilai-nilai tertentu. Dari jawaban yang dituturkan, terlihat bahwa R5 memiliki penghayatan yang mendalam mengenai bagaimana nilai yang ada dapat memengaruhi sikap hidup anak.
Berbeda dengan responden lainnya, R6 melihat bahwa anak perlu menemukan kebebasan dalam merayakan imannya. Anak butuh kebebasan yang dapat membantu mereka menghayati iman mereka dengan cara mereka masing-masing, sehingga anak memiliki Kristus dalam diri mereka yang dapat menuntun langkah hidup mereka. Sama seperti responden yang sebelumnya, R6 juga melihat bahwa nilai-nilai yang terdapat dalam visi-misi menjadi kunci utama dalam membantu anak memiliki arahan yang jelas atas apa yang mereka imani [Wawancara R6, 14 November 2018;lih. hal. 25]. Di sini penulis melihat adanya
wawasan yang luas pada R6 sehingga dapat melihat bahwa anak perlu memiliki kebebasan dalam melakukan sesuatu seturut dengan nilai yang ia miliki dalam hidup dan keyakinan yang ada dalam diri anak. Penulis juga melihat bahwa R6 memiliki pemahaman yang mendalam akan perkembangan anak sehingga tidak hanya tahu apa yang dibutuhkan anak, tetapi juga bagaimana anak dapat diarahkan sebaik mungkin sesuai dengan kapasitasnya.
Berdasarkan teori yang ada, dikatakan bahwa sekolah Katolik merupakan suatu perwujudan misi kerasulan Gereja, sehingga segala proses serta kegiatan yang menunjang pendidikan perlu dijiwai oleh semangat-semangat Gerejawi yang diwujudkan melalui pelayanan pastoral bagi siswa. Berkaca pada realita pluralitas budaya yang dihadapi, maka perlu adanya sintesis antara kebudayaan serta iman.
Hal ini dapat diwujudkan misalnya melalui pencapaian mata pelajaran tertentu yang tidak hanya ditinjau dari penguasaan materi saja, tetapi juga nilai-nilai yang diperoleh dalam proses pembelajaran tersebut. Proses pembelajaran harus bisa berjalan sejalan dengan pembentukan karakter, meskipun dilaksanakan dalam waktu yang terpisah (Sacred Congregation of The Catholic School 14). Hal ini dapat diartikan bahwa pendidikan karakter kristiani tidak hanya membantu anak memperoleh sikap iman yang semakin terarah pada kedewasan, tetapi lebih kepada bagaimana nilai-nilai yang hendak dihidupi seluruh komunitas sekolah melalui kurikulum yang dijiwai semangat Kristus, sehingga seluruh anggota sekolah dapat menjadi saksi Injil melalui sikap hidup yang baik di tengah mayarakat. Di samping itu, sekolah Katolik perlu membangun relasi yang intensif dengan orangtua tak hanya ketika ada masalah, tetapi sungguh dilibatkan dalam
proses pendampingan anak sehingga anak memiliki kebebasan dalam merayakan imannya.
Berdasarkan teori tersebut, dapat dilihat bahwa sebagian besar responden belum memiliki pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana konsep pendidikan kristiani tersebut dapat terlaksana dalam lingkup sekolah. Namun ada beberapa responden yang memberikan jawaban yang sudah mengarah pada konsep pendidikan karakter kristiani yang sesungguhnya.
4. Praksis pelaksanaan pendidikan karakter kristiani di kelas.
Pada bagian ini, penulis menemukan keragaman jawaban yang diberikan oleh responden. R1 menuturkan bahwa beliau menekankan komunikasi baik antara guru dan siswa, maupun antar siswa. Hal ini menjadi penting mengingat sekolah merupakan tempat yang multikultural, maka komunikasi membantu anak untuk dapat membangun rasa toleransi antar satu dengan yang lainnya. Di samping itu, keteladanan guru juga mengambil peranan yang cukup penting.
[Wawancara R1, 12 November 2018;lih. hal. 26-27]. Penulis melihat adanya pemahaman guru akan kebutuhan anak, terutama tantangan yang ada di zaman sekarang, sehingga toleransi menjadi salah satu nilai utama yang ditanamkan di kelas.
Sama hanya dengan R1, R2 juga melihat toleransi sebagai salah satu nilai yang sungguh perlu ditanamkan dalam diri anak supaya menghindari adanya anak yang merasa tersingkirkan. Selain itu, R2 juga melihat perlu adanya nilai kejujuran dalam diri anak yang menjadi bekal untuk kehidupan di masa mendatang. Ada juga nilai keberanian yang membantu anak menjadi lebih percaya
diri dalam mengekspresikan diri mereka, serta nilai kedisiplinan yang membantu mereka menjadi pribadi yang patuh pada peraturan yang ada [Wawancara R2, 12 November 2018;lih. hal. 27]. Pada bagian ini penulis melihat adanya wawasan yang luas dalam diri responden, sehingga memiliki pengetahuan yang memadai tentang pengembangan pendidikan karakter kristiani. Di sini penulis melihat bahwa R2 memiliki niilai-nilai yang memang sudah mengarah pada praksis pendidikan karakter kristiani di sekolah.
Berbeda dengan R3 yang lebih menekankan pada kedisiplinan yang erat kaitannya dengan menaati peraturan. Di sini R3 melihat bahwa melalui hal-hal yang sederhana seperti mematuhi peraturan lalu lintas yang ada, anak dapat diajak untuk mematuhi perintah Allah. Di samping itu, sebagai pendamping OSIS, beliau mengajak para pengurus OSIS untuk memiliki sikap hidup yang dapat menjadi teladan bagi teman-temannya [Wawancara R3, 13 November 2018;lih. hal. 27].
Pada bagian ini penulis melihat bahwa R3 menghayati pendidikan karakter kristiani dalam kelas yang diampunya sebagai suatu bentuk pendisiplinan anak supaya dapat berperilaku sesuai dengan aturan yang berlaku.
Sejalan dengan pendapat R3, R4 juga melihat hal yang sama yakni kedisiplinan dalam diri siswa. Tidak hanya dalam hal mengumpulkan tugas, tetapi lebih-lebih dalam mematuhi peraturan yang berlaku. Sebagai pembina tatib, beliau sungguh ingin supaya anak-anaknya taat pada peraturan yang sudah ada dengan harapan ketika berada di luar sekolah anak juga mematuhi peraturan yang ada dimasyarakat. Selain itu R4 juga menilai anak perlu memiliki sikap iman yang baik dimulai dari hal yang sederhana seperti mengikuti doa pagi dengan khusyuk.
Dengan demikian anak akan tahu makna dari doa yang diucapkan setiap hari dan sungguh membuat mereka memiliki sikap spiritual yang dewasa [Wawancara R4, 14 November 2018;lih. hal. 27-28]. Pada bagian ini penuli melihat adanya pemahaman dari R4 bahwa kedisiplinan memiliki peran yang cukup penting dalam mengembangkan karakter anak. Dalam penghayatannya, R5 menilai kedisiplinan yang diberlakukan di sekolah akan berdampak pada kehidupannya dmasyarakat.
R5 melihat perlunya penanaman nilai persaudaraan dalam diri anak.
Sebagai suatu komunitas, anak perlu memiliki rasa persaudaraan supaya rasa toleransi dapat tumbuh dalam diri mereka. Toleransi inilah yang membantu anak supaya dapat hidup dalam lingkungan yang beragam. Di samping itu, kedisiplinan juga memegang peranan penting dalam mengembangkan karakter anak [Wawancara R5, 14 November 2018;lih. hal. 28]. Pada bagian ini penulis melihat bahwa R5 menyadari pentingnya penyadaran dalam diri anak sebagai bagian dari komunitas agar rasa persaudaraan tumbuh di antara mereka dan dapat mengembangkan karakter kristiani mereka khususnya dalam hal kedisiplinan dan toleransi.
Terkait praksis pendidikan, R6 memiliki pandangan yang hampir sama dengan responden yang lain yakni perlunya anak diberi pemahaman mengenai toleransi. Dengan berbagai permasalahan yang muncul dalam kehidupan yang majemuk, sikap toleransi ini juga membantu anak supaya mau membangun komunikasi dengan sesamanya. Komunikasi inilah yang menjadi jembatan supaya terbangun hubungan yang baik antar anak. Anak membutuhkan role model dalam
hidup mereka untuk memperkembangakn diri mereka, sehingga mereka tahu dirinya mau tumbuh dan memiliki sikap serta kepribadian yang macam apa. Anak juga membutuhkan rasa kebebasan yang bertanggungjawab. Terutama dalam mengungkapkan imannya akan Kristus dan menjalankan perintah-Nya [Wawancara R6, 14 November 2018;lih. hal. 28]. Pada bagian ini penulis melihat bahwa toleransi masih mendapat peranan yang sangat penting dalam mengembangkan sikap anak khususnya di dalam kelas. Di samping itu, keidisiplinan juga membantu anak unuk dapat menjalankan peraturan yang ada dengan penuh kebebasan yang bertanggungjawab.
Berdasarkan teori yang ada, Paul Suparno (2015:104-116) mengatakan bahwa pendidikan karakter sangat erat kaitannya dengan penanaman nilai serta pengembangan moral siswa supaya menjadi lebih baik lagi. Maka siswa perlu diajak untuk memperkembangakan diri sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam agama yang dianut. Hal ini dimaksudkan agar siswa semakin menghargai dan mencintai dirinya sebagai makhluk ciptaan-Nya, serta menghargai berbagai makhluk yang ada di bumi. Serta toleransi dan daya juang supaya siswa dapat menghargai dan menerima berbagai perbedaan yang ada. Dan secara tidak langsung siswa juga belajar arti keadilan. Hal ini juga dalam rangka membentuk siswa menjadi disiplin dan taat pada hukum.
Dari teori yang ada dan jawaban yang diberikan oleh responden dapat dilihat bahwa seluruh responden memiliki konsep yang hampir sepenuhnya betul mengenai bagaimana penerapan pendidikan karakter kristiani dalam kelas. Yang masih belum nampak adalah sikap iman akan Kristus, meskipun sedikit diulas
oleh beberapa responden. Namun secara keseluruhan, niali-nilai yang diberikan sudah mencakup apa yang dibutuhkan dalam pendidikan karakter kristiani. Di samping itu, keteladanan guru menjadi suatu hal yang mendapat perhatian khusus mengingat masih banyaknya guru yang masih belum mau terlibat secara penuh dalam upaya pendidikan karakter anak.