DAFTAR LAMPIRAN
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Nilai Tambah Ekonomis
Konsep Nilai Tambah Ekonomis (Economic Value Added/EVA) dipopulerkan oleh G. Bennet Stewart III, managing partner dari Stern Steward & Co pada tahun 1991, akan tetapi sebenarnya EVA diluncurkan Stern Stewart & Co pada tahun 1989. Dasar teoritis dari konsep nilai tambah ekonomis (EVA) disajikan dalam kertas akademis yang dipublikasikan antara tahun 1958 dan 1961 oleh dua ekonom keuangan, yaitu Merton H. Miller dan Franco Modigliani. Keduanya memenangkan hadiah nobel dalam bidang ekonomi pada tahun 1990 dan 1985. Mereka berargumentasi bahwa laba ekonomis merupakan sumber penciptaan nilai di perusahaan dan bahwa tingkat pengembalian ditentukan berdasarkan risiko yang diharapkan oleh investor. Akan tetapi, Miller
dan Modigliani tidak memberikan teknik untuk mengukur laba ekonomis dalam suatu perusahaan. Barulah pada tahun 1990-an konsep EVA mulai digunakan secara luas, tepatnya dipopulerkan pertama kali oleh G. Bennett Stewart III.
EVA adalah nilai tambah yang diberikan oleh manajemen kepada pemegang saham selama satu tahun tertentu (Bringham dan Houston, 2001). EVA membantu manajer memastikan bahwa perusahaannya dapat menambah nilai pemegang saham, sementara investor dapat menggunakan EVA untuk mengetahui saham mana yang akan meningkatkan nilainya.
Penilaian kinerja keuangan dengan menggunakan konsep EVA lebih unggul daripada menggunakan ROE (Return on Equity) dan ROA (Return on Asset) yang mengukur rasio laba terhadap investasi, asset dan ekuitas. EVA mengukur nilai tambah yang dihasilkan perusahaan kepada investor. Seperti halnya hukum besi investasi, semakin tinggi tingkat risiko maka tinggi pula tingkat pengembalian yang dituntut investor, model ini diangkat dari konsep biaya modal. Dengan pendekatan EVA, kemampuan perusahaan dalam memberdayakan kapitanya menjadi transparan karena biaya modal, termasuk premi risikonya pun ikut dihitung.
Menurut Young dan O’Byrne (2001), EVA sama dengan Net Operating Profit After Tax (NOPAT) dikurangi biaya modal. NOPAT merupakan laba operasi perusahaan setelah pajak dan mengukur laba yang diperoleh perusahaan dari operasi berjalan. Biaya modal sama dengan modal yang diinvestasikan oleh perusahaan dikalikan rata-rata tertimbang dari biaya modal (Weighted Average Cost of Capital / WACC). WACC sama dengan jumlah biaya dari setiap komponen modal yaitu hutang jangka pendek, hutang jangka panjang, dan ekuitas pemegang saham, ditimbang berdasarkan proporsi relatifnya dalam struktur modal perusahaan pada nilai pasar.
Modal yang diinvestasikan adalah jumlah seluruh keuangan perusahaan, terlepas dari kewajiban jangka pendek, passiva yang tidak menanggung bunga (non interest bearing liabilities) seperti hutang upah yang akan jatuh tempo dan pajak yang akan jatuh tempo. Modal yang diinvestasikan sama dengan jumlah ekuitas pemegang saham, seluruh hutang jangka pendek dan jangka panjang yang menanggung bunga, hutang dan kewajiban jangka panjang lainnya.
Jadi komponen EVA terdiri dari Net Operating After Tax – NOPAT (laba bersih setelah pajak), dan Cost of Capital-COC (biaya modal). Biaya modal (COC) merupakan perkalian antara Weighted Average Cost of Capital
(WACC=biaya modal rata-rata tertimbang) dengan Invested Capital (IC= modal yang diinvestasikan).
Rumus lengkapnya:
EVA = NOPAT – Cost of Capital ………..(1) = NOPAT – (WACC x Invested Capital)………...(2) Dimana:
NOPAT = laba operasi setelah pajak WACC = biaya modal rata-rata tertimbang
Invested Capital = jumlah modal yang tersedia bagi perusahaan untuk membiayai usahanya yang terdiri dari hutang dan modal sendiri.
Sehingga dalam analisis EVA mempunyai lima langkah utama yang perlu dilakukan dalam mengukur nilai, yaitu:
1. Menghitung laba operasi bersih sesudah pajak (NOPAT). 2. Menghitung biaya modal yang diinvestasikan (Invested Capital).
3. Mengitung biaya modal rata-rata tertimbang (Weighted Average Cost of Capital / WACC) dari seluruh komposisi modal perusahaan.
4. Menghitung biaya modal perusahaan yang terdiri dari beberapa sumber pembiayaan.
5. Menghitung Economic Value Added (EVA). 2.5.1 Laba Operasi Bersih Sesudah Pajak
Menurut Tunggul (2001), Laba Operasi Bersih Sesudah Pajak (Net Operating Profit After Tax/NOPAT) adalah laba yang diperoleh dari operasi perusahaan setelah dikurangi pajak penghasilan, tetapi termasuk biaya keuangan dan biaya penyusutan. Perusahaan yang membiayai bisnisnya dari utang atau modal sendiri, maka nilai NOPAT akan identik. Dan untuk perhitungan NOPAT dapat dilakukan pada laporan laba rugi perusahaan.
2.5.2 Modal yang diinvestasikan
Modal yang diinvestasikan (Invested Capital/IC) merupakan penjumlahan dari ekuitas pemegang saham, seluruh utang jangka pendek dan
jangka panjang yang menanggung bunga, utang dan kewajiban jangka panjang lainnya (Young dan O’Byrne, 2001).
2.5.3 Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang
Biaya modal rata-rata tertimbang (Weighted Average Cost of Capital / WACC) adalah tingkat pengembalian minimum yang dibobot berdasarkan proporsi masing-masing instrument pembiayaan dalam struktur permodalan perusahaan yang harus dihasilkan perusahaan untuk memenuhi ekspektasi kreditor dan pemegang saham. Pembobotan perlu, karena setiap bentuk pembiayaan yang berbeda baik jangka pendek maupun jangka panjang tidak sama resikonya bagi investor. Bentuk pembiayaan yang dipergunakan perusahaan bermacam-macam, tetapi secara umum dapat diklasifikasikan dalam dua bagian besar yaitu hutang dan ekuitas (Tunggal, 2001). Langkah-langkah dalam menghitung WACC adalah sebagai berikut:
1. Tentukan proporsi relatif dari berbagai komponen dalam struktur modal perusahaan.
2. Hitung biaya yang tepat dari setiap komponen sumber dana.
3. Kalikan proporsi relatif dari setiap komponen dengan biaya dari setiap komponen.
Biaya modal rata-rata tertimbang sebagai tingkat biaya modal dari suatu perusahaan dapat diformulasikan sebagai berikut:
WACC = kd (1-t) W1 + Ke W2 …..………..….……(3) Dimana:
W1 = proporsi hutang W2 = proporsi modal saham kd = biaya hutang
Ke = biaya modal saham (biaya ekuitas) t = tarif pajak
Tingkat biaya penggunaan modal yang diukur melalui pendekatan WACC akan berubah apabila terjadi perubahan struktur modal ataupun perubahan biaya dari masing-masing komponen tersebut. Selama struktur modal dan biaya masing-masing komponen dapat dipertahankan maka tingkat biaya penggunaan modal tidak akan berubah meskipun ada penambahan atau pengurangan modal yang digunakan (Gunawan, 2002).
2.5.4 Biaya Hutang
Menurut Sartono dalam Prehatiningsih (2007), biaya hutang perusahaan tidak lain adalah sebesar tingkat keuntungan yang diminta (required rate of return) oleh investor. Besarnya biaya hutang yang harus dibayar perusahaan secara umum ditentukan oleh faktor-faktor berikut: (1) Tingkat suku bunga berjalan (untuk hutang dan dengan suku bunga mengambang), apabila tingkat suku bunga naik maka biaya hutang yang ditanggung perusahaan pun akan naik demikian juga sebaliknya; (2) Resiko kegagalan perusahaan yaitu apabila resiko kegagalan perusahaan meningkat; serta (3) Keuntungan pajak yang disebabkan atau berhubungan dengan adanya hutang karena beban bunga (interest expense) mengurangi pajak.
2.5.5 Biaya Modal
Biaya modal (Cost of Capital/COC) adalah tingkat dari pengembalian yang diharapkan oleh penyedia dana. Dengan kata lain, biaya modal adalah suatu biaya kesempatan. Tiga langkah penting dalam mengestimasi biaya modal, yaitu:
1. Identifikasi komponen modal yang harus dimasukkan ke dalam perhitungan biaya modal.
2. Menentukan biaya untuk setiap komponen modal
3. Mencari biaya rata-rata tertimbang untuk seluruh komponen modal.
Langkah pertama adalah mengidentifikasi dan menentukan biaya dari masing-masing komponen modal dan kemudian mengkombinasikan komponen-komponen tersebut kedalam biaya modal rata-rata tertimbang (Weight Average Cost of Capital/WACC). Komponen biaya modal adalah biaya hutang (cost of debt) dan modal saham (cost of equity).