BAB VI PEMBAHASAN
6.2 Norma Subjektif Orang Tua/Pengasuh terhadap
Dalam penelitian ini orang tua/pengasuh memiliki keyakinan bahwa orang lain yang mereka anggap penting akan mendukung agar mereka memberikan makanan bergizi pada anak. Tekanan sosial agar orang tua/ pengasuh dapat memberikan makan bergizi kepada anak terinfeksi HIV didapatkan dari dokter, pengurus LSM/ yayasan dan teman sebaya.
Menurut Achmat (2010), seorang individu akan berniat menampilkan suatu perilaku tertentu jika ia mempersepsikan bahwa orang lain berfikir bahwa seharusnya ia
melakukan hal itu. Orang penting yang memiliki pengaruh tersebut bisa pasangan, sahabat, dokter, dan sebagainya.
Berdasarkan hasil wawancara, orang tua/pengasuh merasa dokter memiliki pengaruh yang besar terhadap perlaku pemberian makanan bergizi pada anak. Dalam penelitian ini, dokter berperan memberikan informasi mengenai makanan bergizi dan memberikan sukungan agar orang tua memberikan anaknya makanan bergizi. Dokter memiliki pengaruh dalam memberikan pemahaman akan baik dan buruk, atau sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Merujuk pada etik kedokteran (UU No.29 tahun 2004), beberapa peran dokter adalah sebagai pendidik yakini memberikan promosi pendidikan kepada masyarakat baik individu, keluarga, maupun masyarakat. Sebagai pengembang teknologi, dokter dituntut untuk memiliki kreatifitas dan inisiatif untuk menemukan dan memecahkan masalah yang sedang dihadapi pasien sesuai dengan pengetahuan dan kemampuannya. Serta sebagai pengabdi masyarakat, dokter dituntut memiliki kesediaan untuk memberikan pertolongan (Sudarma, 2009). Oleh karena itu dalam penelitian ini, dokter bisa dikatakan sebagai kekuatan sosial yang mempengaruhi orang tua/ pengasuh agar memberikan anak mereka makanan bergizi, dimana orang tua/pengasuh akan menuruti permintaan dari dokter karena informan menganggap dokter sebagai orang ahli.
Selain dokter, pengurus LSM /yayasan memiliki pengaruh dalam memberikan pengetahuan kepada orang tua/pengasuh anak terinfeksi HIV melalui kegiatan penyuluhan dan pendampingan yang dilakukan LSM/yayasan. Sedikit berbeda dengan dokter, pengetahuan yang diberikan LSM/yayasan lebih kepada pengetahuan mengenai penyakit HIV, belum ada pengetahuan yang mendalam mengenai kebutuhan gizi anak
HIV. Pendampingan yang dilakukan pengurus yayasan juga masih sebatas membantu orang tua/pengasuh mengurus administrasi pengobatan di rumah sakit. Diakui oleh informan F sebagai pengurus dari Yayasan Tegak Tegar, bahwa yayasan belum pernah melakukan penyuluhan mengenai kebutuhan gizi anak HIV yang berbeda dari anak yang tidak terinfeksi.
LSM dan orgnaisasi/lembaga non pemerintah memainkan peran paling penting dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Karena dapat menjangkau orang-orang dan kelompok dengan kebutuhan khusus seperti, kelompok remaja, agama, wanita, profesi, ODHA yang biasa sulit terjangkau oleh pemerintah. Kegiatan yang dilakukan LSM meliputi penyuluhan, pelatihan, pendampingan ODHA, pemerian dukungan dan konseling (KPAN, 2003).
Keberadaan teman sebaya ini mempengaruhi terbentuknya keyakinan orang tua/pengasuh dalam memenuhi kebutuhan gizi anak HIV. Teman sebaya yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sesama orang tua/pengasuh yang memiliki anak terinfeksi HIV. Salah satu program kerja Yayasan Tegak Tegar adalah pertemuan rutin bulanan. Pertemuan ini dijadikan sebagai wadah ODHA untuk bertukar cerita, pengalaman, saran dan motivasi. Tidak hanya itu, teman sebaya secara tidak langsung mempengaruhi perilaku orang tua/pengasuh dalam memberikan makanan yang bergizi pada anak. Kondisi kesehatan anak terinfeksi HIV yang lebih baik atau lebih buruk dari anak yang informan asuh memotivasi informan agar dapat memberikan makanan yang bergizi pada anak mereka. Selain itu, dengan adanya teman sebaya membuat orang tua/pengasuh merasa tidak sendirian atau bukan hanya mereka yang harus merawat anak terinfeksi HIV. Menurut KPAN (2003), peran sesama ODHA antara lain melaksanakan
penyuluhan melalui kelompok sebaya dan kegiatan pendampingan. Hal ini guna mengurangi stigma dan diskriminasi dan bentuk peran aktif ODHA menanggulangi HIV-AIDS.
Selain normative belief, motivasi orang tua untuk mengikuti pemikiran orang lain yang mereka anggap penting juga mempengaruhi norma subjektif orang tua/pengasuh agar dapat memberikan makanan yang bergizi pada anak. Semua informan memiliki tanggapan positif terhadap saran yang diberikan orang lain mengenai pemberian makanan bergizi. Dengan adanya saran dari orang lain, selain memberikan pengetahuan atau informasi baru juga memotivasi mereka agar dapat memberikan makanan yang bergizi pada anak. Seperti informan A yang sangat termotivasi saran dokter sehingga bersemangat dalam memberikan makanan yang bergizi pada anak. Begitu juga informan E, meskipun merasa tidak pernah mendapatkan saran dan dukungan dokter agar dapat memberikan makanan bergizi pada anak, namun pujian dokter terhadap status kesehatan anak memberikan semangat kepada orang tua agar dapat memberikan makanan bergizi pada anaknya. Sedangkan informan lainnya merasa akan lebih baik jika mengikuti saran yang diberikan dokter mengenai makanan yang dianjurkan untuk diberikan kepada anak.
Berdasarkan normatif belief dan motivational to comply yang dimiliki orang tua yang telah dipaparkan sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa orang tua/pengasuh anak terinfeksi HIV di Yayasan Tegak Tegar Wilayah Jakarta Timur memiliki norma subjektif yang positif untuk memenuhi kebutuhan gizi anak mereka.
Anak informan B dan informan D memiliki asupan makanan yang kurang. Pada wawancara mendalam mengenai norma subjektif ini, informan B dan informan D hanya
meyakini dokter yang sangat berperan memengaruhi mereka dalam memberikan makanan bergizi pada anak. Meski demikian, informan B dan informan D memiliki norma subjektif yang positif.
Secara umum, semakin individu memersepsikan bahwa rujukan sosial merekomendasikan untuk melakukan suatu perilaku maka individu akan cenderung merasakan tekanan sosial untuk melakukan perilaku tersebut; sebaliknya, semakin individu mempersepsikan bahwa rujukan sosialnya merekomendasikan untuk tidak melakukan suatu perilaku maka individu akan cenderung merasakan tekanan sosial untuk tidak melakukan perilaku tersebut (Ajzen, 2005).
Oleh karena itu, perlunya yayasan/LSM lebih aktif memberikan penyuluhan dan pendampingan kepada orang tua/ pengasuh. Lebih aktif dan rutinnya yayasan memberikan pengetahuan mengenai makanan bergizi kepada orang tua akan mendorong orang tua/pengasuh mempersepsikan bahwa yayasan mendukung mereka untuk memberikan makanan bergizi pada anak.
Berdasarkan penelitian Sumarlin (2013), faktor dukungan orang lain paling berpengaruh terhadap perubahan perilaku seseorang. Dan menurut KPAN (2003), LSM dan orgnaisasi/lembaga non pemerintah memiliki peran paling penting dalam penanggulangan HIV/AIDS. Karena dapat menjangkau orang tua yang memiliki anak terinveksi HIV dan memengaruhi mereka melalui penyuluhan, pelatihan, pendampingan, pemberian dukungan dan konseling.
6.3Persepsi atas Kontrol Perilaku Orang tua/ Pengasuh terhadap Pemberian Makanan