BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.9 Operasionalisasi Konsep
a. Jika indikator standar input, jumlah pegawai yang tersedia sudah memadai, tersedianya alat pelayanan yang memadai seperti alat tulis dan alat elektronik, ruang pelayanan yang tersedia aman dan nyaman, tersedianya papan inforrmasi pelayanan perizinan di ruang pelayanan, kursi yang tersedia di ruang tunggu cukup, dan blanko surat izin selalu tersedia. Maka, kinerja pegawai Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Medan adalah kinerja yang maksimal.
b. Jika indikator standar proses, proses pelayanan perizinan tidak berbelit-belit, pegawai cekatan mengoperasikan aplikasi perizinan
dicomputer, pegawai selalu berusaha menjelaskan prosedur pelayanan perizinan kepada masyarakat, pegawai selalu berusaha memberikan informasi kepada masyarakat terkait persyaratan surat izin, pegawai selalu berusaha memberikan informasi kepada masyarakat terkait biaya pelayanan pengurusan surat izin, dan pegawai selalu berusaha memberikan informasi kepada masyarakat terkait waktu penyelesaian surat izin. Maka, kinerja pegawai Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Medan adalah kinerja yang maksimal.
c. Jika indikator standar output, surat izin yang diterbitkan tepat waktu, surat izin yang diterbitkan sesuai dengan SOP, dan surat izin yang dikeluarkan tidak pernah rusak. Maka, kinerja pegawai Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Medan adalah kinerja yang maksimal.
2. Variabel Kinerja Pegawai
a. Jika indikator produktivitas, pegawai tidak membuang-buang waktu dalam pekerjaan untuk mendapatkan output kerja yang lebih baik, pegawai berkompeten dalam menggunakan sarana dan prasarana pelayanan yang tersedia, pegawai tidak pernah meminta biaya tambahan pengurusan surat izin dari yang sudah di tetapkan, dan pegawai selalu mencapai target kuantitas kerja instansi dengan maksimal. Maka, kinerja pegawai Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Medan adalah kinerja yang maksimal.
b. Jika indikator kualitas pelayanan, pegawai selalu melayani masyarakat dengan menerapkan 5S (senyum, sapa, salam,sopan dan santun), pegawai selalu melayani masyarakat dengan cermat dan berusaha menghindari kesalahan, pegawai selalu berusaha cepat dalam melayani masyarakat untuk menghindari antrian panjang, pegawai mampu memahami dan memberikan solusi terhadap masalah yang di adukan oleh masyarakat, dan pegawai selalu mampu menyelesaikan permintaan masyarakat terkait surat izin yang diurus. Maka, kinerja pegawai Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Medan adalah kinerja yang maksimal.
c. Jika indikator responsivitas, pegawai selalu bersikap tanggap dalam menerima keluhan masyarakat dan berusaha menyelesaikannya, pegawai selalu membangun komunikasi yang baik dengan bidang lain dalam malayani masyarakat, kritik dan saran dari masyarakat dijadikan sebagai bahan evaluasi kinerja dan perbaikan pelayanan dimasa mendatang, pegawai selalu siap mambantu dalam menyelesaikan permintaan masyarakat, dan pegawai selalu mampu berkomunikasi dengan baik kepada masyarakat dalam memenuhi permintaan surat izin yang diurus. Maka, kinerja pegawai Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Medan adalah kinerja yang maksimal.
d. Jika indikator responsibilitas, pegawai melayani masyarakat dengan adil tanpa adanya diskriminatif, pegawai tidak memperlama proses pelayanan surat izin, pegawai berusaha meminimalisir kesalahan yang
melanggar aturan instansi, pegawai menerima sanksi dari instansi setiap kesalahan kinerja yang diperbuat, dan atasan mengapresiasi kinerja pegawai karena memuaskan. Maka, kinerja pegawai Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Medan adalah kinerja yang maksimal.
e. Jika indikator akuntabilitas, pegawai memperbaiki surat izin yang telah diterbitkan apabila terdapat kesalahan, pegawai mematuhi prosedur pelayanan yang telah ditetapkan, setiap informasi pelayanan perizinan yang disampaikan kepada masyarakat dapat dipertanggungjawabkan, pegawai selalu bekerja sesuai dengan prosedur pelayanan yag sudah diketauhi masyarakat, dan pegawai memastikan masyarakat mendapat informasi melalui sms gateway terkait sejauh mana surat izin sudah atau sedang di proses. Maka, kinerja pegawai Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Medan adalah kinerja yang maksimal.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian ini menggunakan penelitian asosiatif (hubungan) dengan teknik analisis data kuantitatif dan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif (mixed research). Menurut Yusuf (2014:428), penelitian gabungan (mixed research) merupakan penelitian kuantitatif dan kualitatif dalam suatu proses penelitian yang dilakukan secara serempak (concurent) dan dapat pula secara sekuensial (sequential) dalam suatu masalah atau aspek yang ingin diteliti sehingga didapat hasil yang lebih utuh dan komperehensif terhadap suatu fenomena atau masalah yang diteliti. Adapun model mix research dalam penelitian ini menggunakan strategi embedded konkuren, yang mana penelitian kualitatif menginduk/di dalam/melekat dalam penelitian kuantitatif. Dalam hal ini pengumpulan data kuantitaif dan kualitatif secara bersamaan. Analisis temuan dilakukan secara bertahap dan pada akhirnya integrasi temuan (Yusuf, 2014:435).
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Medan yang beralamat di Jl. Jenderal Besar A.H. Nasution No. 32, Lt II & III. Permasalahan yang menjadi fokus penelitian peneliti adalah pengaruh standar pelayanan terhadap kinerja pegawai pada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, karena adanya permasalahan dalam penyelenggaraan standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh DPMPMTSP Kota Medan yaitu ketersedian papan informasi tidak diletakkan pada ruang pelayanan tetapi diletakkan pada ruang pegawai yang semestinya
masyarakat berhak mendapatkan informasi pelayanan perizinan. Selain itu, ruang pelayanan yang panas sehingga membuat masyarakat tidak nyaman dalam mengurus surat izinnya (https://medanbisnisdaily.com/news/online/read/2020 /03/11/102831/ombudsman_pelayanan_perizinan_di_medan_memalukan_seperti_
pajak_sambu) Hal lainnya adalah proses waktu penyelesaian surat izin yang masih lambat. Selanjutnya, penelitian ini dilaksanakan kurang lebih 3 bulan.
3.3 Populasi, Sampel, dan Informan 3.3.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah 154 responden pegawai DPMPTSP Kota Medan.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu.
Teknik pengambilan sampel menggunakan rumus dari Slovin sebagai berikut:
๐ = ๐
1 + ๐๐2 Keterangan :
N = Jumlah Populasi
d2 = Persen kelonggaran penarikan sampel
Perhitungan jumlah sampel responden adalah sebagai berikut:
n= 154
1+ 154 (0,1)2 n=60.6
Berdasarkan perhitungan sampel di atas maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 60.6 yang dibulatkan menjadi 61 responden.
Adapun pengambilan sampel menggunakan probability sampling atau teknik pengambilan sampel secara acak, menggunakan metode simple random sampling. Simple random sampling adalah pengambilan sampel dengan cara undian dari daftar para pegawai DPM-PTSP Kota Medan.
3.3.3 Informan Penelitian
Penentuan informan berfungsi untuk mendapatkan informasi yang maksimum. Dalam penelitian kualitatif subjek penelitian ditentukan secara sengaja. Adapun informan dalam penelitian ini terdiri dari:
Tabel 3.1 Informan Penelitian
No. Informan Informasi yang dibutuhkan Jumlah
1. Kepala bidang
perizinan kesehatan, ketenagakerjaan, dan perizinan lainnya
Informasi terkait standar pelayanan meliputi standar input, standar proses, dan standar output; dan kinerja pegawai meliputi produktivitas, kualitas pelayanan, responsibilitas, responsivitas, dan akuntabilitas.
1
2. Kepala seksi
pengolahan data
Informasi terkait standar pelayanan meliputi standar input, standar proses, dan standar output; dan kinerja pegawai meliputi produktivitas, kualitas
pelayanan, responsibilitas, responsivitas, dan akuntabilitas.
1
3. Masyarakat Informasi terkait standar pelayanan meliputi standar input, standar proses, dan standar output; dan kinerja pegawai meliputi produktivitas, kualitas pelayanan, responsibilitas, responsivitas, dan akuntabilitas.
3
Total 5
3.4 Teknik Pengumpulan Data 3.4.1 Kuesioner
Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain bersedia memberikan respons (responden) sesuai dengan permintaan pengguna. Tujuan penyebaran kuesioner ialah mencari data yang lengkap mengenai suatu masalah dari responden. Pemberian kuesioner dilakukan dengan mendatangi dan memberikan kuesioner secara langsung kepada responden. Jawaban-jawaban responden diberi nilai/skor menggunakan skala likert.
3.4.2 Wawancara
Wawancara yaitu proses memperoleh keterangan atau informasi untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan terlibat berdasarkan pedoman wawancara.
3.4.3 Observasi
Observasi yaitu pengumpulan data dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek penelitian kemudian mencatat dan menghimpun data yang diperlukan untuk mengungkap penelitian yang dilakukan. Instrumen yang digunakan dalam observasi dapat berupa pedoman observasi, rekaman gambar, dan rekaman suara.
3.4.4 Dokumentasi
Dokumentasi adalah ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film dokumenter, dan data yang relevan penelitian.
3.5 Teknik Penentuan Skor
Melalui penyebaran angket yang berisikan beberapa pertanyaan yang akan diajukan kepada responden, maka ditentukan skor pada setiap pertanyaan. Teknik pengukuran skor yang digunakan adalah memakai skala likert untuk menilai jawaban kuesioner responden. Skala Likert (Sugiyono 2017:107) adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang terhadap suatu kejadian atau keadaan sosial, dimana variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item pertanyaan.
Umumnya pemberian skor pada setiap pertanyaan sebagai berikut : Untuk jawaban โsangat tidak setujuโ diberi skor 1 Untuk jawaban โtidak setujuโ diberi skor 2 Untuk jawaban โnetralโ diberi skor 3 Untuk jawaban โsetujuโ diberi skor 4 Untuk jawaban โsangat setujuโ diberi skor 5
Untuk mengetahui atau menentukan kategori jawaban responden dari masing-masing variabel apakah tergolong tinggi, sedang atau rendah maka terlebih dahulu ditentukan skala intervalnya dengan cara sebagai berikut:
๐ ๐๐๐ ๐ก๐๐๐กi๐๐๐i โ ๐ ๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐๐๐โ i = ๐๐๐๐ฆ๐๐ ๐i๐๐๐๐๐๐
5 โ 1 i = 5
i = 0.80
Sehingga dapat diketahui kategori jawaban responden untuk masing-masing variabel yaitu :
a. Skor kategori sangat baik = 4,21 โ 5,00
b. Skor kategori baik = 3,41 โ 4,20
c. Skor kategori cukup baik = 2,61 โ 3,40 d. Skor kategori buruk = 1,81 โ 2,60 e. Skor kategori sangat buruk = 1,00 โ 1,80
Untuk menentukan jawaban responden tersebut tergolong sangat baik, baik, cukup baik, buruk, dan sangat buruk maka dari jumlah skor dari variabel akan ditentukan rata-ratanya dengan membagi jumlah pertanyaan.
Dari hasil pembagian tersebut maka akan dapat diketahui jawaban responden termasuk dalam kategori yang mana.
3.6 Teknik Analisis Data
3.6.1 Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif yaitu statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul (Sugiyono, 2017:169-170). Data tersebut berasal dari jawaban yang diberikan oleh responden atas item-item yang terdapat
dengan cara dikelompokkan dan ditabulasikan kemudian diberi penjelasan.
3.6.2 Analisis Statistik Inferensial
Statistik inferensial (statistik induktif atau statistik probabilitas), adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi (Poulus, 2018:224). Sesuai dengan hipotesis yang telah dirumuskan, maka dalam penelitian ini analisis data statistik inferensial diukur dengan menggunakan software SmartPLS version 3.3.2 (Partial Least Square) mulai dari pengukuran model (outer model) dan struktur model (inner model) serta software SPSS 20.00 untuk analisis regresi sederhana.
PLS (Partial Least Square) merupakan factor indeterminacy metode analisis powerful oleh karena tidak mengasumsikan data harus dengan pengukuran skala tertentu, jumlah sampel kecil (Ghozali,2008:18).
PLS digunakan untuk konfirmasi teori dan digunakan untuk analisis yang bersifat prediktif dengan dasar teori yang lemah dan data tidak memenuhi asumsi SEM yang berbasis kovarian. Dengan teknik PLS, diasumsikan bahwa semua ukuran variance berguna untuk dijelaskan (Haryono, 2017:367).
Pengukuran kecocokan model PLS SEM yang terdiri dari Outer model dan Inner model:
1. Model Pengukuran (Outer Model)
Model Pengukuran (Outer Model) sering juga disebut (outer relation atau measurement model) mendefinisikan bagaimana setiap blok indikator berhubungan dengan variabel latennya.
Model pengukuran adalah teknik mengukur signifikansi hubungan antara indikator yang terukur dalam membentuk sebuah variabel laten yang tidak bisa diukur secara langsung kecuali melalui dimensi atau indikator. Dalam model pengukuran terdapat uji validitas dan uji reliabilitas. Uji validitas yaitu mengukur validitas indikator terhadap konstruk yang dibentuknya dengan nilai loading factor โฅ 0,5. Sedangkan Uji reliabilitas yaitu mengukur internal consistency reliability dari Cronbach Alpha dan Composite Reliability dengan nilai batas โฅ 0,7.
2. Model Struktural (Inner Model)
Model Struktural (Inner Model) adalah hubungan antara konstruk yang mempunyai hubungan kausal (sebab-akibat), dengan demikian, model struktural terdiri dari variabel independen dan variabel dependen. Menurut Jogiyanto (2011:72), model struktural dalam PLS-SEM dievaluasi dengan menggunakan R2 untuk konstruk dependen, nilai koefisien path atau t-values tiap path untuk uji signifikansi antar konstruk dalam model struktural. Nilai R2 digunakan untuk mengukur tingkat variasi perubahan variabel independen terhadap variabel dependen. Semakin tinggi nilai R2 berarti semakin baik model prediksi dari model penelitian yang diajukan.
3.6.3 Reduksi Data
Usman & Akbar (2009:85) โreduksi data di artikan sebagai proses memilih, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan lapanganโ.
Lebih jelas lagi Usman & Akbar (2009, hlm. 85-87) menerangkan bahwa:
Reduksi dilakukan sejak pengumpulan data, dimulai dengan membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, membuat gugus-gugus, menulis memo, dan lain sebagainya, dengan maksud menyisihkan data atau informasi yang tidak relevan. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengkategorisasikan, mengarahkan, membuang data yang tidak perlu, dan mengorganisasikan data sedemikian rupa sehingga akhirnya data yang terkumpul dapat diverifikasi.
Berdasarkan pengertian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa Reduksi data dilakukan dengan merangkum dan memfokuskan hal- hal yang penting tentang penelitian dengan mencari tema dan pola hingga memberikan gambaran yang lebih jelas serta mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.
3.6.4 Penyajian Data
Data yang direduksi tidak memberikan gambaran secara menyeluruh. Maka diperlukanlah penyajian data.
Usman & Akbar (2009:87) menyatakan bahwa โpenyajian data ialah pendeskripsian sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakanโ.
Usman & Akbar (2009:87) kembali menjelaskan bahwa โpenyajian data kualitatif disajikan dalam bentuk teks naratif, juga dapat berbentuk matriks, grafik, jaringan, dan bagan. Semuanya dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam bentuk yang padu dan mudah dipahamiโ.
Maka, penulis mengambil kesimpulan bahwa penyajian data bermakna sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberikan
tindakan. Penyajian data ini dilakukan dalam bentuk teks yang bersifat naratif, bagan, dan dalam bentuk lainnya.
3.7 Pengujian Hipotesis
Menurut Riduwan (2018:183) menjelaskan bahwa ukuran signifikansi keterdukungan hipotesis dapat digunakan perbandingan nilai T-table dan T- statistic. Jika T-statistic lebih tinggi dari nilai T-table, berarti hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Dalam penelitian ini untuk tingkat keyakinan 95% maka nilai T-table untuk hipotesis satu ekor (one-tailed) adalah
>1.671. Analisis PLS (Partial Least Square) yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program SmartPLS version 3.3.2 dan SPSS version 20.00 yang dijalankan dengan media komputer.
BAB IV
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
4.1 Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Medan DPMPTSP adalah Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu sebagai penghubung utama antara dunia usaha dan pemerintah. DPMPTSP diberi mandat untuk mendorong investasi langsung, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, melalui penciptaan iklim investasi yang kondusif. Setelah DPMPTSP terbentuk pada akhir tahun 2016 fungsinya bertambah sebagai penyelenggara Pelayanan Terpadu Satu Pintu sesuai Permendagri 100 Tahun 2016, maka target perangkat daerah ini tidak hanya untuk meningkatkan jumlah investasi yang lebih besar dari dalam maupun luar negeri, namun juga meningkatkan pelayanan perizinan dan non perizinan yang prima sebagaimana yang tertuang dalam Keputusan Menpan Nomor 81 Tahun 1993, antara lain: sederhana, jelas, aman, transparan, efisien, ekonomis, adil dan tepat waktu.
Fungsi Perangkat Daerah urusan Bidang Penanaman Modal sebagaimana yang tertuang pada Permendagri 100 tahun 2016 adalah perencanaan penanaman modal, pengembangan iklim penanaman modal, promosi penanaman modal, perizinan penanaman modal, pengendalian dan pelaksanaan penanaman modal serta pengolahan data dan informasi penanaman modal. Lembaga ini tidak semata bertindak sebagai advokat yang proaktif di bidang investasi, namun juga sebagai fasilitator antara pemerintah dan investor. Tujuan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu yaitu:
1. Penyederhanaan prosedur perizinan penanaman modal melalui PTSP bidang penanaman modal.
2. Peningkatan koordinasi di tingkat Pemerintah Provinsi maupun pemerintah Kota Medan dengan dunia usaha dan stakeholder penanaman modal.
3. Pembangunan sistem informasi dan promosi yang efektif serta berbasis teknologi dan peningkatan kegiatan promosi yang berskala luas.
4. Peningkatan infrastruktur, sumber energi, jaminan berusaha serta keamanan berinvestasi.
5. Meningkatkan kualitas pelayanan prima perizinan dan non-perizinan.
4.1.1 Visi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Medan
โTerwujudnya iklim investasi yang menarik dan kondusif dengan dukungan pelayanan prima perizinan dan penanaman modal untuk mewujudkan Medan kota masa depan yang multikultural, berdaya saing, humanis, sejahtera dan religiusโ
4.1.2 Misi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Medan
1. Meningkatkan daya tarik investasi dan realisasi investasi di Kota Medan sekaligus penciptaan iklim investasi yang menarik dan kondusif,
2. Mewujudkan pelayanan perizinan yang sederhana, transparan, tepat waktu dan memiliki kepastian hukum,
3. Meningkatkan peran serta masyarakat dan stakeholder dalam pelayanan perizinan terpadu.
4.2 Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Medan
Dinas Penanaman Modal dan PTSP Kota Medan dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 15 Tahun 2016 tentang Pembentukan Perangkat Daerah Kota Medan. Petunjuk pelaksanaan peraturan daerah dimaksud adalah Peraturan Wali Kota Medan Nomor 1 Tahun 2017 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi, dan Tata Kerja Perangkat Daerah, dimana struktur organisasi Perangkat Daerah dapat dilihat pada gambar 4.1 berikut ini.
Susunan organisasi Dinas Penanaman Modal dan PTSP, terdiri atas:
a. Kepala Dinas;
b. Sekretaris, membawahkan:
1. Sub Bagian Umum;
2. Sub Bagian Kepegawaian; dan 3. Sub Bagian Keuangan.
c. Bidang Pengolahan Data, Perencanaan, dan Pengembangan:
1. Seksi Pengolahan Data dan Informasi;
2. Seksi Perencanaan; dan 3. Seksi Pemberdayaan Usaha.
d. Bidang Promosi Penanaman Modal:
1. Seksi Pengembangan Promosi Penanaman Modal;
2. Seksi Pelaksanaan Promosi Penanaman Modal; dan 3. Seksi Sarana dan Prasarana Promosi Penanaman Modal.
e. Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal, Pengaduan Kebijakan, dan Pelaporan Layanan:
1. Seksi Pemantauan dan Pembinaan Pelaksanaan Penanaman Modal;
2. Seksi Pengaduan dan Informasi Layanan; dan
3. Seksi Kebijakan, Deregulasi, Penyuluhan, dan Peningkatan Layanan.
f. Bidang Pelayanan Perizinan Usaha dan Tanda Daftar:
1. Seksi Pelayanan Izin Gangguan;
2. Seksi Pelayanan Izin Usaha; Dan 3. Seksi Pelayanan Tanda Daftar.
g. Bidang Perizinan Tata Ruang, Perhubungan, dan Lingkungan Hidup:
1. Seksi Perizinan Tata Ruang dan Pembangunan;
2. Seksi Perizinan Perhubungan; dan 3. Seksi Perizinan Lingkungan Hidup.
h. Bidang Perizinan Kesehatan, Ketenagakerjaan dan Perizinan Lainnya:
1. Seksi Perizinan Petugas Kesehatan;
2. Seksi Perizinan Layanan Kesehatan; dan 3. Seksi Ketenagakerjaan dan Lainnya.
i. Tim Teknis;
j. UPT;
k. Kelompok Jabatan Fungsional dan Pelaksana.
Gambar 4.1
Struktur Organisasi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Medan
Sumber : dpmptsp.pemkomedan.go.id
Sesuai Peraturan Wali Kota Medan Nomor 69 Tahun 2017 tentang Tugas dan Fungsi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Medan, disebutkan bahwa Dinas Penanaman Modal dan PTSP merupakan unsur pelaksana urusan pemerintahan bidang penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu yang dipimpin oleh Kepala Dinas yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Wali Kota melalui Sekretaris Daerah. Dinas mempunyai tugas dan kewajiban membantu Wali Kota dalam pelaksanaan urusan pemerintahan bidang penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu. Dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Medan menyelenggarakan fungsi:
a. Perumusan kebijakan urusan pemerintahan bidang penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu;
b. Pelaksanaan kebijakan urusan pemerintahan bidang penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu;
c. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan urusan pemerintahan bidang penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu;
d. Pelaksanaan administrasi Dinas sesuai dengan lingkup tugasnya;
e. Pelaksanaan tugas pembantuan berdasarkan atas peraturan perundang- undangan; dan
f. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Wali Kota Medan terkait dengan tugas dan fungsinya.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Karateristik Responden
Peneliti menyajikan penelitian yang telah dilakukan selama penulisan penelitian ini dengan menyebarkan kuesioner. Adapun kuesioner yang disebarkan terdiri atas 2 variabel, yaitu :
1. Variabel bebas/Standar Pelayanan (X) terdiri dari 15 pernyataan.
2. Variabel terikat/Kinerja Pegawai (Y) terdiri atas 24 pernyataan.
Bagian ini dimaksudkan untuk mengetahui nilai masing-masing variabel yang diteliti tersebut yang kemudian akan digunakan dalam analisis data untuk mengetahui pengaruh Standar Pelayanan terhadap Kinerja Pegawai pada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Medan. Data karakteristik responden dimaksudkan untuk mengidentifikasi responden.
Responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 61 orang pegawai.
Karakteristik responden ini meliputi jenis kelamin, umur, pendidikan dan golongan. Untuk lebih jelasnya dilihat pada tabel-tabel yang diuraikan peneliti di bawah ini :
Tabel 5.1: Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)
1 Wanita 40 65,6 %
2 Pria 21 34,4 %
Jumlah
61 100%
Sumber: Hasil Penelitian, 2021
Berdasarkan tabel 5.1 karakteristik responden terkait jenis kelamin
diperoleh hasil bahwa mayoritas responden wanita sebanyak 40 orang (65,6%) dan 21 orang (34,4%) pria. Hal tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini adalah wanita.
Tabel 5.2: Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Umur Frekuensi Persentase (%)
<50 51 83,6 %
>50 10 16.4 %
Jumlah 61 100%
Sumber: Hasil Penelitian, 2021
Sumber: Hasil Penelitian, 2021