• Tidak ada hasil yang ditemukan

Organisasi K.H. Abdul Wahid Hasyim

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3. Organisasi K.H. Abdul Wahid Hasyim

a. K.H. Abdul Wahid Hasyim dan Ikatan Pelajar Islam (IKPI)

Untuk mengorganisasikan kegiatan para pemuda dan santri, Wahid Hasyim mendirikan Ikatan Pelajar Islam (IKPI) pada tahun 1936. Beliau sendiri yang langsung menjadi pemimpinnya. Ussaha ikatan ini antara lain mendirikan

taman bacaan.19

Tidak lama ikatan pelajar itu telah beranggotakan lebih dari 300 orang. Lalu beliau mendirikan sebuah taman bacaan atau bibliotheek, yang menjadikan tidak kurang dari 500 buah kitab bacaan untuk anak-anak dan pemuda. Kitab-kitab bacaan itu terdiri dari bahasa Indonesia, Arab, Jawa, Madura, Sunda, Belanda, dan Inggris. Suatu kemajuan yang sangat luar biasa pada pesantren pada saat itu.20

b. K.H. Abdul Wahid Hasyim dan Nadhlatul Ulama (NU)

Nahdlatul Ulama (NU), artinya kebangkitan ulama. Sebuah organisasi yang didirikan oleh para ulama pada tanggal 31 Januari 1926 M/ 16 Rajab 1344 H di Surabaya.

Lahirnya NU berkaitan dengan perkembangan pemikiran keagamaan dan politik dunia Islam kala itu. Pada tahun 1924, Syarif Husein, Raja Hijaz (Mekkah) yang berpaham Sunni ditaklukkan oleh Abdul Aziz bin Saud yang beraliran

18

Lihat Azyumardi Azra; Saiful Umam (ed.), op. cit., hal. 102. 19

Ensiklopedi Islam, Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam Jilid 5, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997), hal. 163

20

Wahabi. Tersebarlah berita penguasa baru itu akan melarang semua bentuk amaliah keagamaan ala kaum Sunni yang sudah berjalan sejak lama di Tanah Arab, dan akan menggantinya dengan model Wahabi. Pengamalan agama dengan sistem bermadzhab, tawasul, ziarah kubur, maulid Nabi, dan lainnya akan dilarang, bahkan Raja Ibnu Saud juga ingin melebarkan kekuasaanya ke seluruh

dunia. Dari sinilah akhirnya Jam’iyah Nahdlatul Ulama didirikan.21

Hampir warga NU yang berada di desa, baik yang berprofesi sebagai petani, pedagang, buruh, maupun tukang, dalam menjadi warga NU lebih mempertimbagkan emosional. Kebanyakan dari mereka menjadi warga NU karena keluarga, tetangga, majikan, sahabat, dan tokoh yang menjadi panutan mereka.

Akan tetapi hal ini tidak terjadi pada diri Wahid Hasyim. Beliau memiliki pertimbangan tersendiri ketika terjun dalam organisasi pergerakan. Padahal saat itu beiau sudah terkenal sebagai tokoh muda yang cerdas, apalagi ia seorang anak dari pendiri NU. Banyak tawaran dari berbagai organisasi agar ia berkiprah dalam berbagai organisasi tersebut. Akan tetapi, Wahid Hasyim melihat saat itu berbagai organisasi tersebut selalu saja ada kekurangannya. Apakah itu massnya, kurang militan-radikal-revolusioner, ataupun kurang banyak kaum terpelajar dalam organisasi pergerakan tersebut.

Oleh sebab itu beliau membutuhkan empat tahun lamanya sebelum akhirnya berkeputusan bergabung dengan NU.

Pada tahun 1938, Wahid Hasyim bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU). Alasan beliau adalah tidak ada satu pun perhmpunan yang 100% memuaskan atau sempurna. Masing-masing ada kekurangannya, maka harus dipilih yang paling ringan kekurangannya. Dari sini, beliau memakai ukuran keradikalan (ketangkasan dan kecepatan), NU jelas bukan. Akan tetapi, NU adalah organisasi yang mengalami perkembangan pesat dengan cabang di mana-mana. Jadi, apa artinya radikal jika selama 10 tahun hanya mempunyai sepuluh cabang. Sementara NU yang dikatakan lambat bergerak itu sudah mempunyai

21

Soeleiman Fadeli dkk, Antologi NU: Sejarah-Istilah-Amaliah-Uswah, (Surabaya: Khalista, 2007), hal. 1-2.

cabang 60% di berbagai daerah dan hampir merata di seluruh Indonesia.22 Melihat kenyataan ini beliau mengenyampingkan ukuran radikalisme, beliau memandang bahwa yang terpenting bukanlah kegagalan dalam berjuang, melainkan hasil dari perjuangan itu sendiri. Dari sini bisa kita lihat karakter berfikir Wahid Hasyim yaitu satu sisi beliau terlihat sebagai sosok yang tradisionalis dan di sisi lain tentunya jalur radikal. Akan tetapi beliau melihat NU mempunyai prospek yang bagus kedepannya dari pada organisasi yang lainnya.

Dalam karir dan perjuangan di NU ini, Wahid Hasyim tidak langsung menjadi tokoh penting. Padahal, jika beliau mau, bisa saja beliau menjadi seorang tokoh dalam NU, apalagi beliau adalah anak tokoh salah satu pendiri organisasi NU yang saqngat dihormati oleh para ulama sepuh. Namun, beliau memulai karir dan perjuangannya di tubuh NU dari bahwa sekali.

Karirnya di NU dimulai sebagai penulis ranting NU Cukir, kemudian dipilih beliau menjadi Ketua NU Jombang, dan kemudian pada 1940 beliau menjadi anggota PBNU bagian Ma’arif (Pendidikan).23

c. K.H. Abdul Wahid Hasyim Al-Majlis al-Islam al-A’la

al-Indonesia (MIAI)

MIAI merupakan gabungan dari ormas-ormas Islam yang berdiri atas prakarsa dari K.H. Abdul Wahab dari NU, K.H. Mas Mansur dan K.H. Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah serta W. Wondoamiseno dari Serikat Islam. pada

tahun 1937 M di kota Surabaya.24 MIAI dikenal dalam bahasa Indonesia dengan

sebutan Majlis Islam Tinggi.

Kiprah Wahid Hasyim dalam organisasi MIAI ini bisa dikatakan penting selain karena kepribadiannya yang terbuka, mudah bergaul, berpengethuan yang luas, dan kepandaiannya, juga karena pengaruh ayahnya, K.H. M. Hasyim Asyari, yang sebenarnya ditunjuk oleh para ulama dan para pemuka Islam kala itu menjadi pemimpinnya organisasi tersebut. K.H. M. Hasyim Asyari menerima

22

Muhammad Rifai, Wahid Hasyim: Biografi Singkat 1914-1953, (Jogjakarta: Garasi, 2009), hal. 58

23

Ibid., hal. 60 24

Shofiyullah Mz (ed), K.H. A. Wahid Hasyim, Sejarah Pemikiran, dan Baktinya bagi Agama dan Bangsa, (Yogyakarta: Pesantren Tebuireng, 2011), Cet I, hal. 276.

dirinya ditunjuk sebagai penasehat MIAI, tetapi pendelegasian dan pelimpahan tugas-tugas atas kepemimpinan organisasi tersebut dilimpahkan kepada anaknya, yaitu Wahid Hasyim.

Wahid Hasyim masuk ke dalam MIAI dan berkiprah di sana ketikan MIAI mengadakan kogres pada 1939. Dalam kongres tersebut, beliau terpilih sebagai ketua MIAI mewakili dari NU. Organisasi yang bergabung dalam MIAI pada 1941 antara lain: PSII, PBII, Muhammadiyah, Persatuan Ulama Indonesia, Persis, Nahdlatul Ulama, Ijtihadul Islamiyah, Al-Islam, Al-Irsyad, PAI, Musyawaratun Thalibin, dan Jamiatul Washilah.

Kiprahnya Wahid Hasyim adalah menjaga persaudaraan antar-umat Islam bisa dilakukan dengan konsekuen. Hal ini dilakukan dengan mengedepankan kesamaan ketimbang perbedaan di antara golongan, aliran, dan perbedaan mazhab Islam di Indonesia.

Perjalanan Wahid Hasyim dalam organisasi ini relatif tidak banyak. Pada 1941 beliau mengundurkan diri dari MIAI dan mengundurkan diri pula di PBNU ketua bidang Ma’arif NU, dengan alasan dipanggil ayahnya untuk megasuh

Pesantren Tebuireng karena ayahnya sudah lanjut usia.25 Dengan demikian beliau

hanya menjadi anggota biasa di MIAI. Tidak lama MIAI dibekukan oleh Jepang, kemudian menjadi Masyumi.

d. K.H. Abdul Wahid Hasyim dan Masyumi

Pada tahun 1943 didirikan Masyumi di Jakarta (pada masa pendudukan

tentara Jepang) di bawah pimpinan K.H. Mas Mansur sebagai ketua dan Wahid Hasyim sebagai wakil ketua.

Setelah proklamasi Kemerdekaan Indonesia, maka timbullah fikiran dari pemuka-pemuka Islam, di antaranya M. Nasir dan Wahid Hasyim hendak mengadakan Mu’tamar Islam dari segala golongan seluruh Indonesia. Akhirnya

diadakanlah: Kongres Umat Islam di Yogyakarta (Nopember 1945). Pada waktu

itu lahirlah satu partai politik baru dengan nama Masyumi.

25

Waktu itu di diambillah ikrar bersama, yaitu hanya mengakui Masyumi

sebagai satu-satunya partai politik dijadikan anggota istimewa dalam Masyumi.

Partai-partai politik yang telah berdiri sebelum proklamasi ditiadakan dan dilebur

menjadi Masyumi.26

Wahid hasyim menyadari bahwasanya organisasi Masyumi adalah alat penjinak Jepang terhadap gerakan politik Islam. Maka dari itu, sejak masuk ke Masyumi Wahid Hasyim mencari para pemuda untuk menyelamatkan organisasi ini dan masyarakat agar tidak sekedar menjadi alat propaganda Jepang semata. Wahid Hasyim mengajak M. Natsir, Harsono Cokroaminoto, Prawoto Mangkusasmito dan Zainul Arifin. Perekrutan ini bertujuan untuk meminimalisir pengerahan pemerintah Jepang untuk Romusa secara masal. Dan berusaha mengadakan persiapan-persiapan penting dan diam-diam, persiapan-persiapan yang ditujukan untuk memperkuat perlawanan rakyat, baik rohani berupa penyiaran ajaran Islam yang sebenarnya, dan jasmani dalam mengisi Tentara Pembela Air (PETA) atau persiapan tentara Islam (Hizbullah). Kebingungan tentara Jepang berhubung dengan hasil-hasil penyerangan tentara sekutu. Dipergunakan sebaik-baiknya untuk menguntungkan pertahanan bangsa, tanah air

dan Agama.27

Kemudian, Wahid Hasyim menguatkan bidang media pada organisasi ini.

Beliau bersama kawan-kawan yang progresif mendirikan majalah Suara Muslimin

Indonesia, tempat ia menjadi pimpinannya. Media ini kebanyakan berisi himbauan kepada pemuda untuk mengobarkan semangat jihad dan peperangan melawan jepang. Didalam menulis beliau sering menggunakan nama samaran atau tak bernama. Penyamaran ini dipakai utuk menyinggung “politik manis” Jepang. Di dalam media ini juga terdapat karangan semangat jihad dari berbagai penulis, seperti K.H. A. Mokti, R.H. Adnan, Asa Bafagih, H.M. dahlan, A. Bahri, Abdullah Aidit, maupun Hatta.

Di samping itu beliau juga memelopori berdirinya Badan Propaganda Islam (BPI) yang anggotanya didik agar trampil dan mahir berpidato di hadapan

26

Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1996), hal. 368

27

umum. Para ahli pidato atau da’i ini di gunakan sebagai penyambung gagasan -gagasan Masyumi dan Wahid Hasyim untuk memperkuat rasa persatuan dan persaudaraan umat Islam Indonesia. Di Jakarta diadakan latihan ulama yang didalamnya beliau memberikan pelajaran kedisiplinan dan ceramah-ceramah mengenai pengetahuan umum dan perjuangan. Latihan ini setiap bulannya mengeluarkan 60 kiai yang tersebar di seluruh Jawa.

Pada zaman inilah bisa dikatakan sebagai masa emas politik Islam ketika masing-masing golongan bekerja sama dan mengetahui posisinya masing-masing. Muhammadiyah giat mengadakan latihan untuk menolong fakir miskin sedangkan NU giat latihan untuk mempersiapkan kiai-kiainya. Menjelang kemerdekaan (1944) Wahid hasyim pindah di Jakarta karena banyak tenaga dan pekerjaan yang harus dicurahkannya di ibukota. Bisa dikatakan pada tahun inilah fase politisnya dimulai. Apalagi pada tahun 1945 beliau menjadi ketua Masyumi. Organisasi ini bisa dikatakan adalah partai politik Islam terbesar di Indonesia saat itu.

Fase ini sebelumnya dimulai ketika Wahid Hasyim yang berada dalam BPUPKI mempersiapkan proklamasi kemerdekaan dengan tujuan menyusun Pancasila, UUD 1945. Di dalam tugas tersebut, Wahid Hasyim mewakili NU juga mewakili MIAI. Kemudian hal itu dilanjutkan ketika beliau menjadi wakil Masyumi masuk kedalam stuktur pemerintahan Indonesia yang baru terbentuk, yaitu dalam kabinet Soekarno sebagai dan dalam kabinet Parlementer sebagai Menteri Agama mewakili Masyumi. Setelah terjadi penyerahan kedaulatan dari pemerintah Belanda kepada pemerintah Indonesia dan berdiri R.I.S. maka dalam

kabinet Hatta (1950) Wahid Hasyim dipilih menjadi Menteri Agama. Jabatan itu

terus menerus dipegangnya sampai tiga kali kabinet yaitu dalam kabinet Natsir dan Kabinet Sukiman.

Kiprah Wahid Hasyim dalam Masyumi juga bisa dilihat dari susunan kepengurusan Masyumi dari periode ke periode. Misalnya pada periode 1945 dalam pengurusan Pimpinan Pusat Masyumi Wahid Hasyim menjabat Ketua Muda II bagian Majlis Syuro dan ketua umumnya adalah ayahnya. Kemudian, pada tahun 1949 perubahan kepengrusan Pimpinan Pusat Mayumi, yaitu menghilangkan kepengurusan Majlis Syuro. Wahid Hasyim menjadi salah satu

anggota pimpinan pusat Masyumi. Hal ini dilanjutkan kembali pada 1951. Pada periode inilah NU mengalami perselisian kemudian berlajut perpecahan dengan Masyumi dan akhirnya memutuskan keluar dari Masyumi.

Namun demikian, bahwa NU keluar dari Masyum lebih disebabkan karena pembagian kursi atau kepentingan politiknya di parlemen dan pemerintahan tidak adil dan menindas NU yang kebanyakan memberikan sumbangsihnya. Wahid Hasyim mengakomodir persoala ini agar tidak jauh menjadi perpecahan. Akan tetapi, ketika sulit diatasi maka beliau lebih memilih untuk memperjuangkan NU dan tetap menjaga hubungan baik dengan kelompok lain dengan mendirikan LMI

(Liga Muslim Indonesia). 28

e. K.H. Abdul Wahid Hasyim dan Liga Muslim

Pada tahun 1952 Wahid Hasyim memprakarsai berdirinya Liga Muslim Indonesia (LMI), suatu badan federasi yang anggotanya terdiri atas wakil-wakil NU, Partai Serikat Islam Indonesia (PSII), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), dan Darul Dakwah wa al-Irsyad. Susunan kepengurusannya adalah K.H. A. Wahid Hasyim sebagai ketua, Abikusno Cokrosuyoso sebagai wakil ketua I, dan

H Sirajuddin Abbas sebagai wakil ketua II.29

Dokumen terkait