• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan K.H. Abdul Wahid Hasyim

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

2. Pendidikan K.H. Abdul Wahid Hasyim

Pendidikan dan bimbingan agama beliau dapatkan langsung dari ayahnya dalam lingkungan keluarga yang sangat religius yaitu pesantren Tebuireng. Sebagaimana umumnya anak-anak yang lain, pada umur 5 tahun beliau belajar

membaca al-Qur’an pada ayahnya selepas shalat Maghrib dan Dzuhur, di samping

6

Ruchman Basori, The Founding Father, Pesantren Modern Indonesia: Jejak Langkah K.H. A. Wahid Hasyim, (Jakarta: Inceis, 2006), Cet I, hal. 62

bersekolah di Madrasah Salafiyahdi Tebuireng dan khatam al-Qur’an pada usia 7 tahun. Memang sudah menjadi kebiasaan bahwa anak-anak kecil seusia 7-13

tahun belajar al-Qur’an sebagai pendidikan agama tingkat dasar.7

ketika usianya 7 tahun ia mulai belajar kitab Fathul-Qarib, Minhajul

Qawim, Mutamimmah pada ayahnya juga. Merupakan umur yang relatif muda untuk anak pada zamannya dan kitab-kitab tersebut sebenarnya baru diajarkan bagi santri yang cukup senior. Pada umur 12 tahun wahid hasyim telah tamat dari Madrasah Salafiyah Tebuireng, dan mulai mengajar adiknya (A. Karim Hasyim)

kitab „Izi pada malam hari. Pada masa itu wahid hasyim sangat giat mempelajari

ilmu-ilmu kesusastraan bahasa Arab dan sastranya, akan tetapi cara belajarnya sebagian besar dengan kekuatan muthala’ah dan membaca sendiri. Kitab-kitab yang sering ditela’ahnya antara lain “Diwanusy-Syu’ara” dan oleh karenanya tiada sedikit hafalan syair-syair dalam bahasa Arab. Syair-syair tersebut dihimpun

dan disusun dalam sebuah buku tebal.8

Perkembangan pengetahuan yang diperoleh oleh Wahid Hasyim selalu menjadi perhatian ayahnya. Ketika Wahid Hasyim dipandang sudah cukup dalam menguasai ilmu-ilmu agama, ayahnya mengirim dia untuk lebih mendalami ilmu agama di berbagai pesantren. Pada usia 13 tahun, beliau mulai pengembaraannya dari satu pesantren kepesantren lainnya.

Pesantren pertama yang dikunjungi adalah Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, pesantren dimana ayahnya juga pernah belajar. Dibawah bimbingan

ayahnya dan Kyai Chozin Panji, Wahid Hasyim belajar kitab-kitab Bidayah,

Sullamut Taufiq (kitab tentang Tauhid dan Tasawuf), Taqrib (Tentang Hukum

Islam) dan Tafsir Jalalain (tentang Tafsir al-Qur’an). Wahid Hasyim tinggal

disana selama 25 hari selama bulan Ramadhan9. Kemudian kembali ke Tebuireng.

Tahun berikutnya beliau mulai pengembarannya ke berbagai pesantren di Jawa,

7

Ibid., hal. 63 8

Aboe Bakar Atjeh, Sejarah Hidup K.H. A. Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar, (Jakarta: Panitia Buku Peringatan alm. K.H. A. Wahid Hasyim, 1957), hal. 145-146.

9

Pada bulan Ramadhan, di pesantren-pesantren ada kebiasaan pengajian “Kilatan” atau “Tabarrukan” jumlah kitab yang dibaca diperbanyak, begitu juga waktunya, dengan target kitab

termasuk Pesantren Lirboyo, Kediri, sebelum akhirnya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar otodidak di pesantrennya sendiri.

Dengan demikian, pendidikan Wahid Hasyim diperoleh dari ayahnya secara informal dan secara formal dari beberapa kyai di berbagai pesantren yang dikunjunginya. Program pembelajaran yang diikuti, termasuk program Ramadhan

yang sering dikenal dengan nama pesantren kilat dengan sistem halaqoh,

biasanya bebentuk membaca kitab dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Jawa atau Melayu. Program dianggap selesai apabila seluruh kitab sudah dibaca. Untuk

mendalaminya, santri diharapkan mengulang kembali (mereview) apa yang telah

dipelajarinya secara sendiri.10

Dengan berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu seolah-olah yang diperlukan Wahid Hasyim adalah keberkatan dari sang Guru, bukan ilmunya itu sendiri. Soal ilmu, demikian mungkin beliau berfikir, bisa dipelajari di mana saja dan dengan cara bagaimana saja. Tapi soal memperoleh berkat kyai harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menetap si pesantren. Inilah yang agaknya menjadi pertimbangan utama dari Wahid Hasyim ketika itu.

Kebiasaan mengembara ke pesantren satu dan pesantren lainnya dapat

dipahami sebgai aplikasi metode pengajaran modern yaitu studi comperatif, yaitu

dengan cara melihat dari dekat, membandingkan sistem pengajaran, karakter pesantren satu dan pesantren lain. Agar nantinya dapat diambil pelajaran yang lebih berharga untuk kehidupan kita. Ternyata hal ini menjadi sangat positif bagi

pembentukan dan mengembangan pendidikan pesantren di kelak kemudian hari.11

Meskipun Wahid Hasyim telah menguasai bahasa Arab dan kitab-kitab, tetapi Wahid Hasyim belum bisa membaca tulisan yang ditulis dengan huruf latin. Beliau baru belajar huruf latin pada usia 15 tahun. Dalam waktu yang cukup singkat, dia sudah bisa menguasainya. Meskipun tidak diketahui bagaimana dia dapat menguasainya begitu cepat, akan tetapi semenjak Moh. Ilyas, sepupu Wahid Hasyim, lulus dari HIS dan datang ke Tebuireng untuk memdalami ilmu Agama pada tahun 1925, dapat diasumsikan bahwa Wahid Hasyim belajar huruf latin dari

10

Achmad Zaini, op. cit., hal. 13 11

sepupunya tersebut. Semenjak itu Wahid Hasyim menjadi seorang kutu buku. Berbagai buku, majalah dan jurnal dibacanya, baik itu ditulis dalam bahasa Indonesia, Jawa maupun Arab. Dia juga berlangganan beberapa jurnal dan

majalah dalam negeri dan luar negeri, seperti Penyebar Semangat, Daulat Rakyat,

Pandji Pustaka, Umm al-Qura’, Shaut al-Hijaz, al-Latha’if al-Musawarah,

Kullusha’in wa al-Dunya dan De Locomotif.

Kemampuan membaca huruf latin mengantarkan Wahid Hasyim mengenal ilmu pengetahuan “sekuler” dan berbagai bahasa asing, seperti bahasa Belanda dan Inggris. Disamping dia mempelajari ilmu dan bahasa tersebut secara otodidak

dari Sumber Pengetahuan, majalah tiga bulanan, Wahid Hasyim belajar juga

kepada Imam Sukarlan12, Moh. Ilyas13, dan beberapa santri ayahnya yang

mempunyai kemampuan dalam bidang tersebut. Hal ini dimungkinkan karena santri yang belajar dari Tebuireng datang dari berbagai lapisan dan daerah, yang mana sebagian mereka pernah belajar di sekolah-sekolah Belanda.

Wahid Hasyim juga tercatat sebagai anggota perpustakaan di Surabaya. Tidak seperti anggota lainnya yang membaca berdasar sesuatu yang menjadi

keinginan (interes) mereka, Wahid Hasyim membaca semua buku yang tersedia di

perpustakaan, bahkan dilaporkan bahwa dia meminjam berdasarkan nomor buku secara berurutan. Sayangnya, informasi berkaitan dengan hal ini sangat sedikit. Bisa jadi bener bahwa dia membaca seluruh buku yang ada dikarenakan jumlah

buku yang tersedia masih sangat terbatas, atau dia mereview buku tersebut untuk

melihat isi buku, kemudian dia membaca secara selektif sesuai dengan minatnya. Singkatnya, melalui otodidak, pengetahuan yang didapat sangat luas mulai tafsir,

hadis, fiqih, sampai pegetahuan tentang sejarah, politik, dan filsafat. 14 Kegemaran

membacanya kian meningkat, sampai-sampai Wahid Hasyim harus menggunakan

kaca mata.15 Ini semua bekal ilmu pengetahuan yang luas ini menjadikan modal

12

Imam Sukarlan adalah Guru pada Taman Siswa yang belajar ilmu keislaman sekaligus mengajar bahasa Belanda di Tebuireng.

13

Moh. Ilyas adalah saudara sepupu Wahid Hasyim. Dia adalah alumni sekolah Belanda, Holland Inlandsche Scholen (HIS) di Surabaya. Di Tebuireng, Ilyas selain belajar ilmu keislaman juga mengajar bahasa Belanda dan Sains.

14

Achmad Zaini, op.cit., hal. 14 15

utama untuk mengajar di Tebuireng dan sekaligus bahan untuk ceramah dan pengajian.

Pada tahun 1931 mulailah Wahid Hasyim mengajar kitab “Ad-Durarul Bahiyah” dan “Kafrawi” kepada murid-muridnya di malam hari, dan kadang-kadang ia diminta untuk berpidato, kalau kebetulan ada rapat umum. Pendek kata,

pengaruhnya sudah mulai tampak sekalipun masih samar-samar.16

Ketika menginjak umur 17 tahun (1932-1933), beliau dikirim ayahnya belajar selama 1 tahun di Mekkah, disamping untuk menunaikan ibadah haji dengan ditemani Moh. Ilyas (sepupunya), yang telah banyak berjasa pada pembentukan kecerdasan dan pribadi Wahid Hasyim. Pergaulan dengan bermacam-macam bahasa Islam yang sama ke Mekkah untuk kepentingan Ibadah dan menuntut Ilmu pengetahuan agama, membuat wahid Hasyim luas cara

berfikirnya dan tidak sombong (ta’ashub) dalam menghadapi suatu persoalan.

Disamping belajar ilmu pengetahuan, bersama Moh. Ilyas beliau turut menginsafkan masyarakat Indonesia di Mekkah menurut ukuran kebangsaannya, berupa menentang pelecehan (penghinaan-penghinaan) yang pada waktu itu ditujukan kepada bangsa Jawa.

Setelah kurang lebih satu tahun di Mekkah, Wahid Hasyim kembali ke Indonesia. Selain sebagai seorang Ulama, beliau menjadi staf pengajar di

Tebuireng. Beliau juga ditunjuk menjadi asisten (badal) ayahnya yang tugasnya,

antara lain menjaga kesinambungan proses belajar mengajar (PBM), menjawab surat-surat yang berkaitan dengan fiqih yang di tujukan kepada ayahnya dan mendatangi pengajian atau ceramah. Hal yang demikian itu sudah menjadi pola kaderisasi di pesantren, seorang Gus yang dikirim ke Mekkah dan sekembalinya dari Mekkah setatusnya bukan lagi sebagai santri ayahnya melainkan sebagai staf pengajar dan harus siap suatu saat menggantikan ayahnya dalam memimpin

pesantren.17

Selanjutnya Wahid Hasyim mengakhiri masa lajangnya pada usia sekitar 25 tahun dengan menikahi Solehah binti K.H. bisyri Syamsuri, pendiri dan

16

Ibid., hal. 147 17

pimpinan Pesantren Denanyar Jombang serta salah satu pendiri Nahdlatul Ulama dan pernah juga menjadi Rais Aam PBNU. Dari perkawinan ini Wahid Hasyim dikaruniai 6 anak, 4 putra dan 2 putri. Masing-masing adalah Abdurahman ad-Dachil (Sekarang lebih dikenal dengan Abdurahman Wahid/ Gus Dur, Persiden 4 RI), Aisyah, Salahuddin Al-Ayyubi (dikenal dengan Shalahuddin Wahid dan sekarang Pemimpin Pesantren Tebuireng), Umar, Lily Chadijah, dan Muhammad

Hasyim.18

Dokumen terkait