• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teoritis

F. 2. Orientalisme dan Wacana Kolonial

Ania Loomba dalam bukunya Colonialism/Postcolonialism telah menjelaskan bahwa sifat dari pengetahuan itu tidak polos, namun sangat berkaitan dengan operasi-operasi kekuasaan.28 Menurut Loomba, Said mencoba untuk menguraikan kembali bagaimana kajian formal tentang dunia Timur (yang

sekarang disebut Timur Tengah) dengan cara menggunakan naskah-naskah kunci literer dan kultural, dengan mencoba mengkonsolidasikan cara-cara tertentu untuk melihat, memikirkan, dan membantu berfungsinya kekuasaan kolonial. Apa yang terjadi bukanlah materi yang telah dibahas oleh analis tradisional mengenai kolonialisme, namun saat ini itu semua bisa terlihat sangat penting dalam pembentukan serta berfungsinya masyarakat-masyarakat kolonial yang terjadi dengan adanya buku Orientalism serta perubahan perspektif tentang ideologi dan budaya.

Dalam pandangan Loomba, buku Orientalism karya Said bisa dikatakan mampu untuk mengantarkan pada suatu jenis studi baru atas kolonialisme. Loomba mengutip peryataan Said yang mengatakan bahwa penggambaran

“Timur” dalam berbagai buku, naskah-naskah literer Eropa, kisah-kisah perjalanan, dan tulisan-tulisan Orientalis lainnya telah membantu terciptanya suatu dikotomi antara Eropa dan wilayah-wilayah lainnya, suatu dikotomi yang mampu menempati posisi sentral dalam pembentukan budaya Eropa dalam mempertahankan serta menyebarluaskan hegemoni Eropa atas negeri-negeri lain di luar Eropa. Tugas utama yang dilakukan oleh Said adalah menunjukkan bagaimana pengetahuan tentang orang-orang non-Eropa adalah bagian dari sebuah proses untuk mempertahankan kekuasaan atas mereka; menjadikan sebuah status

“pengetahuan” itu didemistifikasi, serta batas-batas antara yang ideologis dengan yang objektif dibuat kabur.

Menurut Loomba, semua ilmu pengetahuan yang dimiliki para orientalis

yang sangat mengesankan itu disaring melalui bias kultural mereka karena “studi”

atas Timur itu bersifat tidak objektif melainkan bersifat:

A political vision of reality whose structure promoted the difference between the familiar (Europe, the West, „us‟) and the strange (the Orient, the East, „them‟). When one uses categories like Oriental and Western as both the starting and the end point of analysis, research, public policy. The result is usually to polarize the distinction-the Oriental becomes more Oriental, the Westerner more Western-and limit the human encounter between different cultures, traditions, and societies.29

Kutipan pernyataan Loomba di atas menunjukkan bahwa analisis wacana memungkinkan kita menelusuri hubungan-hubungan antara yang kelihatan dengan yang tersembunyi, yang dominan dengan yang marjinal, gagasan-gagasan dengan lembaga-lembaga. Semuanya dapat memungkinkan kita melihat bagaimana kekuasaan itu bekerja melalui bahasa, sastra, budaya, dan semua lembaga-lembaga pemerintahan yang telah mengatur kehidupan kita sehari-hari. Dengan menggunakan pengertian yang diperluas mengenai kekuasaan ini, Said mampu meninggalkan pemahaman sempit dan teknis tentang otoritas kolonial serta menunjukkan bagaimana otoritas ini berfungsi dengan menghasilkan suatu

“wacana” tentang Timur, yaitu dengan melahirkan struktur-struktur pemikiran yang terdapat dalam produksi literer dan artistik, dalam tulisan-tulisan politis dan ilmiah, terutama dalam penciptaan studi-studi Timur.30

Dalam pandangan Loomba, tesis dasar yang ingin disampaikan oleh Said dalam bukunya Orientalism adalah bahwa Orientalisme atau studi mengenai dunia

29Ibid, hal. 45

Timur, pada akhirnya merupakan suatu visi yang bersifat politis mengenai realitas yang wilayah strukturnya mengemukakan suatu perlawanan biner antara yang

dikenal (Eropa, Barat, “kita”) dengan yang asing (Orient, Timur, “mereka”). Said

menunjukkan bahwa perlawanan ini menjadi sangat penting bagi konsepsi diri Eropa. Said memberi contoh jika rakyat terjajah itu irasional, maka orang-orang Eropa disebut rasional. Selanjutnya, jika yang pertama tidak beradab, sensual, dan malas, Eropa adalah peradaban itu sendiri, dengan nafsu seksual yang terkendali dan etik dominannya adalah kerja keras. Dengan kata lain, jika Timur itu statis, Eropa dilihat berkembang dan maju ke depan, dan Timur harus feminin agar Eropa bisa menjadi maskulin.

Dalam pandangan Loomba, orientalisme telah menunjukkan sejauh mana pengetahuan tentang Timur yang dihasilkan oleh orang-orang di Eropa merupakan penggiring ideologis kekuasaan kolonial. Menurut Loomba, buku Orientalism karya Edward Said bukanlah berisi tentang budaya-budaya non Barat melainkan tentang pandangan Barat terhadap budaya-budaya di luar Eropa dalam disiplin penelitian orientalisme.31 Loomba mengatakan bahwa Said mencoba untuk menunjukkan bagaimana pandangan Barat atas Timur diciptakan bersamaan dengan penetrasi yang dilakukan orang-orang Eropa ke wilayah “Timur Dekat”

serta bagaimana hal tersebut mendapat dukungan dari berbagai disiplin ilmu lain seperti filologi, sejarah, antropologi, filsafat, arkeologi, dan sastra.

Loomba mengatakan bahwa orientalisme memakai konsep wacana untuk menata kembali studi mengenai kolonialisme. Buku Said, menurut Loomba,

melihat bagaimana sebuah studi formal atas “Timur” (yang saat ini disebut Timur

Tengah) bersama dengan naskah-naskah kunci literer dan kultural, mengkonsolidasi cara-cara tertentu untuk melihat serta memikirkan segala sesuatu yang pada akhirnya akan membantu berfungsinya kekuasaan kolonial. Semua ini bukanlah naskah-naskah yang telah dibahas oleh para analis tradisional tentang kolonialisme. Namun, saat ini hal tersebut bisa dilihat sangat penting sebagai pembentukan masyarakat kolonial yang dihasilkan oleh buku orientalisme serta perubahan pandangan tentang ideologi dan budaya. Loomba mengutip tulisan Said tentang naskah-naskah yang diberi:

The authority of academics, institutions, and government. Most important, such texts can create not only knowledge but also the very reality they appear to describe. In time such knowledge and reality produce a tradition, or what Michel Foucault calls a discourse, whose material presence or weight, not the originality of a given author, is really responsible for the texts produced out of it.32

Pada akhirnya, orientalisme menurut Loomba akan mampu mengantarkan suatu jenis studi baru atas kolonialisme. Hal ini disebabkan oleh

penggambaran-penggambaran “Timur” dalam naskah-naskah literer Eropa dan kisah perjalanan, serta tulisan-tulisan lain telah membantu terciptanya suatu dikotomi antara Eropa

dan “pihak-pihak lainnya” di mana dikotomi ini mampu menempati posisi sentral

dalam pembentukan budaya Eropa, serta mempertahankan dan memperluas hegemoni Eropa atas negeri-negeri lainnya.

Leela Gandhi (1998), dalam buku Postcolonial Theory: A Critical

Introduction, mengatakan bahwa Orientalisme adalah buku pertama dalam suatu

trilogi yang dicurahkan untuk mengeksplorasi hubungan historis yang tidak

32Ibid, hal. 44.

seimbang antara dunia Islam di Timur Tengah dengan imperialisme Eropa dan Amerika di sisi lainnya.33

Menurut Gandhi, pada dasarnya orientalisme merupakan kumpulan yang berisi suatu pemahaman unik tentang imperialisme dan kolonialisme yang merupakan sikap kultural dan efistemologis orang-orang Barat berdasarkan kebiasaan mereka untuk mendominasi dan memerintah daerah-daerah yang berada jauh dari wilayah Eropa. Untuk mempertegas penyataannya Gandhi lalu mengutip tulisan Said dalam buku Culture and Imperialism yang mengatakan:

Neither imperialism nor colonialism is a simple act of accumulation and acquisition. Both are suported and perhaps even impelled by impressive ideological formations which include notions that certain tertitories and people require and beseech domination, as well as forms of knowledge affiliated with that domination (Said 1993, p. 8).34

Tulisan Said di atas, menurut Gandhi, ingin menunjukkan bahwa orientalisme menjadi bagian tak terpisahkan dari kolonialisme. Dengan kata lain,

orientalisme menjadi bagian dari terbentuknya “formasi idiologi” yang

mendukung dan melatarbelakangi terjadinya kolonialisme. Bagi Gandhi, orientalisme telah berhasil menempatkan posisi orang-orang Eropa berada di atas posisi orang-orang Timur. Bagi orang-orang Eropa yang menduduki daerah-daerah Timur, mereka tidak merasa bahwa orang-orang Eropa sedang mendominasi orang Timur, melainkan memang orang-orang Timur yang menginginkan untuk didominasi oleh orang-orang Eropa.

33Leela Gandhi, hal. 66.

G. Teknik Pengumpulan Data