• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

E. Tinjauan Pustaka

Di Indonesia, kajian tentang Orientalisme memang merupakan hal yang asing karena belum banyak orang yang meneliti hal tersebut. Akan tetapi, bukan berarti bahwa tidak ada kajian yang menjelaskan mengenai Orientalisme di

Indonesia. Di kalangan akademisi sendiri, sejauh ini sudah ada karya tulis tesis yang membicarakan mengenai Orientalisme. Hasan Basri (2010), menulis tesis berjudul Respon Intelektual Muslim Indonesia terhadap Buku Orientalisme Karya

Edward Said.12 Meskipun demikian, fokus penelitian Basri pada akhirnya menunjukkan dua hal. Pertama, Basri menunjukkan bahwa para intelektual Muslim di Indonesia sulit untuk menerima perspektif kritis yang disampaikan oleh Said dalam buku Orientalisme. Kedua, para peneliti di Indonesia, secara khusus kaum intelektual Muslim, cenderung menerima dan mengafirmasi karya orientalis Barat.

Dalam pandangan Basri, tujuan utama penulisan tesisnya adalah untuk melihat respon intelektual Muslim di Indonesia terhadap buku Orientalisme Said. Untuk melihat respon intelektual muslim Indonesia, Basri dalam tesisnya menggunakan teori empat wacana Lacanian (Lacanian four discourses).13 Akan tetapi, fokus Basri dalam penelitian tesis ini hanya ingin melihat bagaimana kaum Muslim terdidik di Indonesia merespon buku karya Edward Said serta melihat bagaimana implikasi buku Said terhadap kaum muslim Indonesia terdidik.

Hasil penelitian tesis Basri merupakan hasil karya tulis orang Indonesia dalam merespon buku Orientalisme karya Edward Said. Meskipun demikian, penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, baik itu yang pernah diteliti oleh para akademisi Barat maupun oleh peneliti Indonesia. Dalam penelitian ini, penulis ingin menguraikan bahwa argumen Said dalam bukunya

12 Tesis Hasan Basri. Respon Intelektual Muslim Indonesia terhadap Buku Orientalisme Karya Edward Said. Mahasiswa IRB, 2010.

13 Tesis Hasan Basri. Respon Intelektual Muslim Indonesia terhadap Buku Orientalisme Karya Edward Said. Mahasiswa IRB, 2010. Abstrak, hal. xii

Orientalism dapat diperluas dengan mengambil contoh kasus di Indonesia. Dalam

kasus yang terjadi di Indonesia, penelitian ini ingin menunjukkan bahwa sikap orientalistik ternyata juga bisa dilakukan oleh orang-orang Timur sendiri terhadap sesama orang Timur. Dalam buku Orientalism, Said menjelaskan bagaimana orang-orang Barat memandang Timur dan membicarakannya. Oleh karena itu, untuk memasuki wilayah Indonesia maka penulis akan menggunakan beberapa literatur mengenai Indonesia yang ditulis oleh para peneliti Barat.

Sejauh ini sudah banyak para peneliti Barat yang menulis tentang Indonesia. Namun, dalam penelitian ini penulis hanya akan menggunakan beberapa literatur yang penulis anggap dapat membantu melihat permasalahan yang akan penulis teliti. Simon Philpott (2000), misalnya menulis Rethinking Indonesia:

Postcolonial Theory, Authoritarianism and Identity.14 Menurut Philpott, Indonesia di masa kolonial dikuasai oleh orang-orang Eropa seperti, Portugis, Inggris, dan Belanda yang menggunakan pendekatan filosofis, sedangkan di masa pascakolonial hegemoni atas Indonesia yang awalnya dipengaruhi oleh Belanda digantikan oleh Amerika Serikat dan Australia dengan menggunakan pendekatan berbeda dari penjajah Belanda, yakni social sciences (akademis).

Dengan berakhirnya kolonialisme Eropa (Belanda) atas Indonesia, tidak membuat bangsa Indonesia benar-benar terbebas dari pengaruh asing. Hal ini tampak dari terus direproduksinya ilmu pengetahuan Barat di negara-negara Asia yang baru saja merdeka, misalnya Indonesia. Sebagai sebuah negara yang baru saja merdeka, bangsa Indonesia di masa pascakolonial memang telah terbebas dari

14 Simon Philpott. Rethingking Indonesia: Postcolonial Theory, Authoritarianism and Identity.

pengaruh pemerintah Belanda. Namun, pengaruh pemerintah Belanda atas Indonesia di masa pascakolonial diambil alih oleh pemerintah Amerika Serikat dengan cara menanamkan gagasan-gagasan Barat di bidang ekonomi dan kajian politik.

Tujuan pemerintah AS menanamkan gagasan-gagasan Barat di Indonesia adalah untuk menjauhkan Indonesia dari pengaruh komunis dan untuk menguasai kembali Indonesia. Untuk melaksanakan tujuan tersebut, pemerintah AS mendirikan lembaga studi Ford Foundation yang bertugas untuk mengirim para ilmuan Barat ke Indonesia. Selain bertugas mengirim ilmuan Barat ke Indonesia, lembaga ini juga bertugas mengirim para pelajar Indonesia untuk belajar di universitas-universitas yang ada di AS.

Menurut Philpott, Ford Foundation tidak hanya bertugas untuk mengirim para ilmuan Barat ke Indonesia, melainkan juga ikut mendanai pendirian Modern

Indonesia Project di Cornell University yang oleh Philpott kajian ini bisa

dikatakan sebagai program studi tentang Indonesia paling berpengaruh selama empat puluh tahun terakhir. Untuk menunjukkan hal tersebut, Philpott lalu mengutip pernyataan Kahin yang mengatakan bahwa pengaruh intelektual Barat atas Indonesia sudah tidak perlu lagi diragukan:

(e)ven Indonesian universities must use Cornell‟s elite-oriented studies to teach post-independence politics and history…”Most of the people at the university came from essentially bourgeois or bureaucratic families”, recalls Kahin. “They knew precious little of their society”.15

15 Simon Philpott. Rethingking Indonesia: Postcolonial Theory, Authoritarianism and Identity.

Tampak jelas, pernyataan Kahin yang dikutip oleh Philpott menunjukkan bahwa hanya sedikit para elit Indonesia yang mengetahui tentang kehidupan orang-orang di Indonesia dalam konteks diskursus baru setelah berakhirnya Perang Dunia II. Namun, menurut Philpott, justru dari asumsi inilah genealogi orientalis dari studi kawasan terlihat jelas. Dalam pandangan Philpott, cara

tradisional bisa digunakan untuk mengetahui bahwa “sejarah” tunduk pada ilmu -ilmu sosial yang dianggap lebih superior.16

Selain itu, Philpott juga menyoroti reaksi kaum elit Indonesia dalam menyikapi urusan pendanaan Ford Foundation. Dalam buku yang sama, Philpott memberikan ilustrasi bagaimana ketika presiden Soekarno mengeluhkan

perubahan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menjadi „sekolah ekonomi, statistik, dan administrasi bisnis yang bergaya AS, Presiden Soekarno justru mendapat perlawanan dari lembaga Ford Foundation:

„When Sukarno threatened to put an end to Western economics‟ says John Howard, long-time director of Ford‟s International Training and Research Program, „Ford threatened to cut off all programs, and that changed Sukarno‟s direction.‟17

Kutipan di atas menunjukkan bagaimana bangsa Indonesia yang sudah merdeka dari tangan penjajahan Belanda, di masa pascakolonial ternyata sangat bergantung pada bantuan pemerintah AS. Tampak jelas pula bahwa pendirian lembaga Ford Foundation dimaksudkan untuk menanamkan pengaruh Barat atas Indonesia dengan cara menanamkan gagasan-gagasan Barat seperti pembangunan ekonomi dan politik yang berbasis ke AS. Pemberian beasiswa bagi pelajar

16Ibid, hal. 119

Indonesia serta pengiriman para ahli AS ke Indonesia merupakan bagian dari usaha pemerintah AS untuk mereproduksi ilmu pengetahuan Barat di Indonesia.

George McTurnan Kahin (1970), menulis Nationalism and Revolution in

Indonesia.18 Dalam Bab I bukunya, Kahin menguraikan bahwa pengaruh

orang-orang Belanda terhadap kehidupan sosial penduduk pribumi di Indonesia dimulai sejak perusahaan Belanda mendirikan Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) tahun 1602. Tujuan dari pendirian ini adalah untuk memonopoli ekspor-impor rempah-rempah dari Indonesia (dulunya Nusantara). VOC memusatkan kegiatannya di Pulau Jawa dengan cara ikut campur dalam urusan politik dan ekonomi. Namun pada tahun 1798 perusahaan VOC mengalami kebangkrutan akibat ulah para pejabatnya yang melakukan korupsi. Tahun 1799 perusahaan VOC ditutup dan wilayah kekuasaannya diambil alih oleh pemerintahan Belanda.

Setelah VOC ditutup, pemerintahan Belanda membuat kebijakan baru yang bernama Cultivation System (Tanam Paksa) yang mewajibkan rakyat pribumi untuk membayar pajak pada pemerintahan Belanda. Sistem ini pada akhirnya hanya menimbulkan penderitaan bagi rakyat pribumi. Selanjutnya, pada tahun 1901, berdiri sebuah perusahaan dagang Islam bernama Sarekat Dagang Islam, yang awalnya hanya mengurusi perdagangan namun dalam perkembangannya mengarah pada tujuan politik. Jadi, menurut Kahin, Sarekat Dagang Islam adalah gerakan nasionalis pertama yang bersifat anti-kolonial. Setelah berdirinya perusahaan dagang Islam, pada tahun 1906-1908 berdiri sebuah organisasi nasionalis pertama, yaitu Boedi Utomo.

18George McTurnan Kahin. Nationalism and Revolution In Indonesia. London: Cornell University Press. 1970.

Bradley R. Simpson (2010) menulis buku Economists with Guns: Amerika

Serikat, CIA, dan Munculnya Pembangunan Otoriter Rezim Orde Baru.19 Dalam bukunya Simpson menguraikan bagaimana Indonesia pascakolonial dipengaruhi oleh Amerika Serikat (AS) dalam hal politik, ekonomi, maupun budaya. Buku karya Simpson ini menguraikan bagaimana pada masa pemerintahan Eisenhower, AS berusaha untuk mengubah arah politik Indonesia dengan cara menggulingkan presiden Soekarno yang oleh AS dianggap cenderung sosialis. Buku ini juga menguraikan bagaimana usaha AS mengusai Indonesia karena dipengaruhi oleh Perang Dingin. Pada masa Perang Dingin, tujuan utama bantuan AS pada Indonesia menurut Simpson bersifat sangat politis. Tujuan politis ini bertujuan untuk menjauhkan Indonesia dari pengaruh Uni Soviet.

Dalam penelitian ini, penulis ingin menunjukkan bahwa kolonialisme yang terjadi di Indonesia pada masa pascakolonial tidak lagi dilakukan oleh orang-orang Barat pada umumnya, melainkan dilakukan oleh orang-orang-orang-orang Indonesia sendiri terhadap sesama orang Indonesia. Berlanjutnya kolonialisme di Indonesia pada masa pascakolonial, salah satunya tercermin dalam kebijakan transmigrasi yang diadopsi oleh pemerintah Indonesia dan dilanjutkan secara besar-besaran oleh pemerintah Orde Baru.

Di Indonesia sendiri pada masa pascakolonial, kajian mengenai program transmigrasi bukanlah hal yang asing. Sejauh ini sudah banyak para peneliti yang menulis tentang kajian transmigrasi di Indonesia. Namun, di dalam penelitian ini

19 Bradley R. Simpson. Ekonomist With Guns: Amerika Serikat, CIA dan Munculnya Pembangunan Otoriter Rezim Orde Baru. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama. 2010

penulis hanya akan menggunakan beberapa literatur yang menurut penulis dapat membantu dalam melihat persoalan transmigrasi di Indonesia.

Sri Edi Swasono dan Masri Singarimbun (1986), misalnya menulis

Transmigrasi di Indonesia (1905-1985).20 Mereka menyoroti permasalahan yang terjadi dalam program transmigrasi di Indonesia. Permasalahan transmigrasi yang terjadi di Indonesia diakibatkan oleh adanya kontak budaya antara penduduk pendatang dengan penduduk lokal. Kontak budaya tersebut diakibatkan adanya pertemuan budaya baru dengan budaya lama. Jika tidak diatasi dengan baik, tidak jarang akan menimbulkan gesekan antara penduduk pendatang dengan penduduk lokal. Berbagai gesekan bisa terjadi karena faktor kesenjangan sosial antara penduduk pendatang dengan penduduk pribumi.

Menurut Swasono, biasanya warga pendatang kehidupan ekonominya jauh lebih baik dari warga lokal. Sebagai contoh, Swasono dan Singarimbun dalam buku yang sama melakukan penelitian dengan mengambil lokasi transmigrasi di wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Di wilayah ini, program transmigrasi telah berhasil mengubah nasib penduduk pendatang, sedangkan untuk penduduk lokal program transmigrasi dianggap gagal menyejahterakan penduduk lokal.

H. J. Heeren (1979) menulis buku berjudul Transmigrasi di Indonesia.21 Heeren membahas persoalan transmigrasi yang terjadi di Indonesia, secara khusus di Sumatera Selatan pada tahun 1952-1958. Penjelasannya dimulai dengan mempertanyakan mengapa perlu adanya program transmigrasi di Indonesia.

20 Sri Edi Swasono, Masri Singarimbun. Tranmigrasi di Indonesia (1905-1985). Jakarta: Universitas Indonesia, 1986.

Menurut Heeren, ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemerintahan melanjutkan program transmigrasi. Pertama, jumlah penduduk pulau Jawa bertambah pesat, namun sebagian besar penduduknya menderita kemiskinan.

Kedua, pembangunan nasional dianggap tidak merata ke setiap daerah karena

hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Oleh karena itu, pemerintahan melanjutkan program transmigrasi dengan tujuan dapat memindahkan penduduk sekaligus menyediakan lapangan kerja baru di lokasi transmigrasi. Namun, menurut Heeren, program transmigrasi yang sudah berlangsung sejak tahun 1905 hingga tahun 1974 di masa pemerintahan Orde Baru tidak berhasil mengatasi jumlah penduduk pulau Jawa-Madura dan Bali yang setiap tahun terus meningkat.

Rukmadi Warsito dkk (1984), menulis Transmigrasi: dari Daerah Asal

sampai Benturan Budaya di Tempat Pemukiman.22 Rukmadi Warsito dkk menjelaskan berbagai persoalan yang terjadi dalam kebijakan transmigrasi di Indonesia. Menurut Warsito, ada tiga persoalan mendasar yang terjadi dalam pelaksanaan program transmigrasi di Indonesia. Pertama, permasalahan dengan daerah asal para transmigrasi. Kedua, benturan sosial budaya antara penduduk pendatang dengan penduduk lokal. Ketiga, kerja sama dengan dinas terkait yang berhubungan dengan kebijakan transmigrasi tidak maksimal. Rukmadi dkk dalam buku yang sama menjelaskan bahwa kebijakan transmigrasi terjadi karena permasalahan sosial masyarakat di pulau Jawa-Madura dan Bali yang sudah terjadi sejak masa kolonial Belanda. Masalah kemiskinan dan kurangnya lahan untuk pertanian memaksa pemerintahan Hindia Belanda menjalankan Politik Etis

22 Rukmadi Warsito dkk. Transmigrasi Dari Daerah Asal Sampai Benturan Budaya di Tempat Pemukiman. Jakarta: CV. Rajawali, 1984

yang bertujuan untuk memperbaiki keadaan sosial-ekonomi yang dialami masyarakat pedesaan Jawa. Untuk itu pemerintahan Hindia Belanda melaksanakan program ini dengan tujuan dapat mengatasi permasalahan sosial masyarakat Jawa di pedesaan.

Menurut Warsito, kebijakan emigrasi telah dilaksanakan pada tahun 1905 melalui suatu program yang diberi nama kolonisasi. Tujuan dari program ini adalah untuk mengatasi kemiskinan, sekaligus untuk mengatasi kepadatan penduduk yang ada di pulau Jawa-Madura dan Bali. Di masa pemerintahan Orde Baru, program ini diadopsi dan dilanjutkan oleh pemerintahan. Tujuan pemerintahan Orde baru melanjutkan program ini adalah untuk mempercepat pembangunan daerah yang ada di Indonesia. Rukmadi dkk, dalam buku yang sama mengutip pidato presiden Soeharto di depan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang berlangsung pada tanggal 16 Agustus 1975. Dalam pidatonya, Soeharto menyampaikan bahwa ada empat tujuan dari transmigrasi antara lain:

Pertama, transmigrasi bertujuan untuk memindahkan penduduk dari

pulau Jawa, Bali, Madura, dan Lombok ke pulau-pulau lain di Indonesia. Kedua, transmigrasi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di daerah-daerah yang kurang padat penduduknya dan membutuhkan tenaga kerja. Ketiga, transmigrasi bertujuan untuk memperluas lahan pertanian agar produksinya dapat ditingkatkan.

Keempat, transmigrasi bertujuan untuk memperkuat keamanan dan

pertahanan nasional.23

Bertolak dari uraian buku-buku di atas, tampak bahwa penelitian tesis ini berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian tesis ini tidak akan

23 Rukmadi Warsito dkk. Transmigrasi Dari Daerah Asal Sampai Benturan Budaya di Tempat Pemukiman. Jakarta: C.V. Rajawali. 1984, hal. vii.

menguraikan menguraikan tentang kajian transmigrasi di Indonesia, melainkan hanya memakai program transmigrasi sebagai salah satu contoh yang bisa menunjukkan bahwa kolonialisme di Indonesia terus berlanjut pada masa pascakolonial, secara khusus di masa pemerintahan Orde Baru.