SUMBER AJARAN ISLAM
6. Otoritas As-Sunnah Sebagai Sumber Hukum
Al-Siba’i mengatakan bahwa dari ketiga fungsi sunnah sebagai diterangkan di atas, dua yang pertama disepakati oleh para ulama, sementara yang ketiga dan keempat diperselisihkan. Adapun masalah pokok yang diperselisihkan itu apakah As-Sunnah dapat menetapkan suatu hukum tanpa tergantung kepada Al-Qur’an, ataukah produk hukum baru itu selalu mempunyai pokok (asl) dalam Al-Qur’an.
Dalam persoalan tersebut, Jumhur Ulama berpendapat bahwa Nabi mempunyai otoritas untuk membuat hukum. Dalil yang dimajukan kelompok mayoritas itu antara lain:
a. Selama Nabi diyakini maksum, maka otoritasnya untuk melalukan tasyri’ adalah suatu hal yang dapat diterima akal. b. Kenyataan bahwa banyaknya nas Alqur’an yang
menunjuk-kan wajibnya mengikuti sunnah.
Kelompok lain yang berpendapat bahwa ketetapan As-Sunnah selalu merujuk kepada Al-Qur’an, dengan alasan: a. Kenyataan bahwa tidak dijumpai suatu perkara dalam
As-Sunnah kecuali Al-Qur’an sendiri telah menunjukkan maknanya baik secara global maupun terinci.
b. Bahwa kewajiban menta’ati As-Sunnah adalah dalam arti keta’atan kepada Rasul sebagai penjelas.
Jika dianalisis kedua pendapat diatas memiliki titik persamaan, yaitu sama-sama mengakui adanya hukum-hukum yang terbit dari As-Sunnah. Hanya saja kelompok Jumhur melihat sebagai produk hukum yang berdiri sendiri. Sedangkan kelompok kedua melihat produk hukum As-Sunnah tersebut
sebagai sesuatu yang tidak terlepas dari Al-Qur’an. Disepakati oleh para ahli, bahwa As-sunnah yang dijadikan dasar hukum adalah sunnah yang memiliki kualitas mutawatir atau hadis-hadis shahih.
C. Ijtihad
Ijtihad merupakan derivasi dari kata jahada artinya berusaha sungguh-sungguh. Dalam terminologi hukum ijtihad adalah menggunakan seluruh kesanggupan berpikir untuk menetap-kan hukum syara’ dengan cara istimbath dari Al-Qur’an dan Sunnah. Lapangan ijtihad adalah pada persoalan persoalan yang tidak dijelaskan secara tuntas oleh Al-Qur’an dan Sunnah terutama menyangkut perkembangan ilmu dan peradaban umat manusia. Disepakati para ulama bahwa ijtihad tidak boleh merambah pada dimensi ibadah mahdhah seperti shalat, puasa dan lainnya.
Ijtihad merupakan dinamika Islam untuk menjawab tantangan zaman. Ia adalah semangat rasionalitas Islam dalam konteks kehidupan modern yang kian kompleks permasalahan-nya. Banyak permasalahan baru yang tidak ada pada masa hidup Nabi Muhammad SAW.
Kebolehan ijtihad sebagai sumber hukum Islam ketiga diindikasikan dalam sebuah hadis Riwayat Tarmizi dan Abu Daud yang berisi dialog antara Nabi Muhammad SAW dan Mu’adz bin Jabal yang diangkat sebagai gubernur Yaman.
Nabi bertanya: Hai Muaz, bagaimana caramu memutuskan perkara? Muaz menjawab: Saya akan mencarinya dalam Kitabullah. Nabi Bertanya: Jika kamu tidak menemukannya? Muaz menjawab: Saya mencarinya dalam sunnah Rasul Nya. Nabi bertanya lagi: “Jika kamu tidak menemukan dalam sunnah RasulNya? Muaz menjawab: “Saya akan berijtihad. “kamu
Dari peristiwa tersebut jelaslah bahwa Rasul sudah memberi peluang kepada Muaz untuk menggunakan kemampuan untuk berijtihad terhadap hal-hal yang tidak ditemukan dalam al-Qur’an dan Hadis.
Orang yang malakukan ijtihad dinamakan Mujtahid. Adapun syarat-sayarat seoarng mujtahid adalah:
a. Islam
b. Menguasai al-Qur’an dan ilmu-ilmunya c. Memahami hadis dan ilmunya
d. Memahami kaedah bahasa Arab
e. Memiliki ilmu-ilmu yang terkait dengan masalah yang bahas. Macam-macam ijtihad:
1. Ijma’: Kesepakatan semua mujtahid pada suatu masa terhadap suatu masalah hukum.
2. Qiyas: Secara bahasa artinya mengukur atau mempersama-kan, yakni membandingkan atau mempersamakan hukum suatu perkara yang belum ada ketentuan hukumnya dengan perkara lain yang sudah ada ketentuan hukumnya dalam al-Qur’an atau sunnah dengan melihat persamaan ‘illat (sebab yang mendasari ketetapan hukum). Misalnya: arak (khamr) diharamkan karena memabukkan. (Q.S: 2: 219) dan riba diharamkan karena mengandung unsur penganiayaan (Q.S. 2:275). Maka secara qiyas, benda dan hal lainpun jika ternyata memabukkan atau mengandung unsur penganiayaan menjadi haram juga.
3. Istihsan: Menetapkan suatu hukum berdasarkan prinsip-prinsip umum ajaran Islam, seperti keadilan, kasih sayang. Istihsan juga merupakan perpindahan dari suatu qiyas kepada qiyas lainnya yang lebih kuat atau mengganti argumentasi
dengan fakta yang dapat diterima untuk mencegah kemudharatan. Contohnya: menurut aturan syara’, dilarang mengadakan jual beli yang barangnya belum ada saat terjadi akad. Akan tetapi berdasarkan istihsan jual beli yang demikian dibolehkan dengan sistem pembayaran diawal kemudian barangnya dikirim kemudian asalkan sudah jelas identitas barangnya.
4. Istishab, yaitu menetapkan menurut keadaan sebelumnya sampai ada dalil lain yang mengubah keadaannya. Contohnya, seseorang yang ragu-ragu apakah ia sudah berwudhu’atau belum. Di saat seperti ini, ia harus berpegang atau yakin kepada keadan sebelum berwudhu’, sehingga ia harus berwudhu’ kembali karena sholat tidak sah bila tidak berwudhu’.
5. Maslahah Mursalah: Menetapkan hukum berdasarkan tinjauan kegunaan atau kemanfa’atannya sesuai dengan tujuan syari’at, sementara tidak ada dalil yang melarang atau mewajibkan pencapaiannya. Misalnya membukukan atau mencetak al-Qur’an, menggaji muazzin, imam, khotib dan guru agama serta mengadakan perayaan hari besar Islam. 6. Urf, yaitu menetapkan hukum sesuatu berdasarkan adapt
yang sudah menjadi kebiasaan orang banyak. Contoh keharusan ijab kabul dalam jual beli dapat diganti dengan ucapan terimakasih karena sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat.
7. Syar”u man Qablana, yaitu syari’at yang diturunkan Allah melalui Nabi-nabi yang diutus sebelum Nabi Muhammad SAW selama tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah.
8. Sududz Dzari’ah, yaitu menurut bahasa artinya menutup jalan. Sedangkan menurut istilah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi