• Tidak ada hasil yang ditemukan

PTPN VIII Gunung Mas dipimpin oleh seorang Administratur yang bertanggung jawab kepada Dewan Direksi . Sistem yang

4.2. Identifikasi Rantai Pasokan

4.2.2. Pabrik Pengolahan

Aspek-aspek yang dibahas terkait dengan pengolahan adalah persediaan dan proses pengolahan yang akan diuraikan sebagai berikut.

1. Persediaan

Persediaan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam produksi dan rantai pasokan. Persediaan merupakan bahan atau barang yang disimpan untuk tujuan tertentu, antara lain untuk proses produksi, jika berupa bahan mentah akan diproses lebih lanjut, jika berupa komponen (spare part) maka akan dijual kembali menjadi barang dagang (Siagian, 2005). Persediaan menjadi salah satu faktor penting dalam produksi, karena merupakan asset yang sangat berpengaruh terhadap proses produksi perusahaan. Persediaan di sepanjang rantai pasokan memiliki implikasi yang besar terhadap kinerja finansial suatu perusahaan. Banyak kendala yang dihadapi dalam mengatur persediaan, seperti permintaan yang bervariasi,

perputaran yang tidak stabil, hubungan dengan pemasok yang terganggu, sehingga berakibat pada gangguan penjadwalan, mutu produk, dan gangguan pada pemenuhan persediaan. Oleh karena itu, pengelolaan persediaan dalam suatu perusahaan harus optimal dan benar.

Pengelolaan persediaan di PTPN VIII Gunung Mas mencakup pengelolaan persediaan bahan baku dan produk jadi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Pengelolaan pucuk teh sebagai bahan baku dalam kegiatan pengolahan di PTPN VIII Gunung Mas dilakukan secara Just In Time, yaitu jumlah bahan baku yang digunakan sesuai dengan kebutuhan pengolahan sehingga tidak ada jumlah persediaan dalam stok yang besar. Pucuk teh diperoleh dari pemasok teh dan dikirim ke pabrik setiap hari. Pucuk teh langsung diolah menjadi produk jadi, sehingga tidak ada persediaan pucuk teh.

Kegiatan pengolahan berlangsung selama enam hari dalam seminggu yang dimulai dari hari Selasa sampai Minggu sesuai dengan jumlah pucuk teh yang tersedia untuk diolah. Produk yang dihasilkan adalah berupa produk jadi, yang terbagi menjadi produk komoditas dan produk langsung pakai. Produk komoditas adalah produk jadi (teh hitam) yang dijual kepada pelanggan industri untuk diproduksi dan dipasarkan dengan menggunakan merek mereka. Salah satu perusahaan yang menjadi pelanggan adalah Unilever yang memproduksi teh dengan merek Sariwangi. Pelanggan industri pada dasarnya tidak mengolah kembali produk yang mereka peroleh dari PTPN VIII Gunung Mas, tapi menambahkan sesuatu sesuai variasi dari produk yang ingin mereka hasilkan (seperti: teh madu dan teh melati). Produk langsung pakai adalah produk jadi (teh hitam) yang dikemas sendiri oleh PTPN VIII Gunung Mas sehingga dapat langsung dikonsumsi oleh konsumen akhir. Salah satu contoh produk, sehingga tidak ada biaya simpan. Produk jadi tersebut pakai yang dihasilkan adalah teh kemasan dengan merek Teh Walini.

Produk jadi disimpan dalam gudang sendiri yang merupakan bagian dari pabrik pengolahan biasanya maksimal berada dua minggu di gudang perusahaan. Perusahaan juga tidak mengeluarkan biaya persediaan lain, yaitu biaya pesan, biaya penyiapan, dan biaya kehabisan bahan. Hal ini dikarenakan pucuk teh diambil setiap hari sebagai kegiatan rutin perusahaan tanpa perlu ada sistem pemesanan. Pucuk teh yang diperoleh langsung dibawa dan diolah ke bagian pabrik pengolahan sesuai jumlah pucuk teh yang ada, sehingga perusahaan tidak mengeluarkan biaya penyiapan dan kehabisan bahan.

Perusahaan tidak mengalami kendala yang berarti dalam mengelola persediaan, terutama produk jadi. Tempat penyimpanan produk jadi di pabrik pengolahan dapat menampung jumlah produk yang dihasilkan sebelum diantarkan ke pelanggan atau ke perusahaan jasa distributor independen di daerah Tanjung Priok, yaitu PT. Varuna Tirta Prakarsa. Penggunaan jasa distributor independen ini tidak berpengaruh terhadap biaya PTPN VIII Gunung Mas karena biayanya dikelola oleh perusahaan pusat yaitu PTPN VIII, Bandung. 2. Proses Pengolahan

Penentuan kebijakan produksi di PTPN VIII Gunung Mas dilakukan dengan menetapkan target produksi. Produksi yang dihasilkan berbeda setiap harinya tergantung pada jumlah pucuk teh yang ada. Pengolahan pucuk teh untuk menjadi produk jadi yang berupa teh hitam dimulai dari penerimaan pucuk segar, pembeberan dan pelayuan, analisa petik dan pucuk, penggilingan dan fermentasi, pengeringan, sortasi dan pengepakan. Proses produksi teh hitam Crushing Tearing Curling (CTC) ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Diagram proses Pengolahan Teh Hitam CTC

Waktu (jam) Simbol Diagram Deskripsi Proses

1-2 Penerimaan pucuk segar

10-24 Pembeberan dan pelayuan

1 Analisa petik dan analisa

pucuk 2-3 Penggilingan dan fermentasi 13’-18’ Pengeringan 1-2 Sortasi 2 Pengepakan 17,33 - 34,18 7 5 7 1 1 TOTAL Keterangan : = Operasi = Transportasi = Inspeksi = Menunggu = Penyimpanan

Urutan proses pengolahan teh hitam CTC di PTPN VIII Gunung Mas dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Proses pengolahan teh hitam CTC No Proses

Pengolahan

Kegiatan Mesin yang

digunakan

Tujuan 1. Penerimaan

pucuk teh

Menerima pucuk teh

dari pemasok teh -

Mengetahui kualitas dan kuantitas pucuk teh yang akan diolah 2. a. Pembeberan b. Pelayuan a. Membeberkan pucuk teh b. Melayukan pucuk teh Withering Through (WT) a. Memecahkan gumpalan pucuk teh

b. Mengurangi kadar air pucuk teh

3. Analisis petik dan pucuk

Mengamati pucuk teh yang akan diolah

- Mengetahui kelayakan

pucuk teh

4. Penggilingan dan fermentasi

a. Pemisahan pucuk teh dari material lain seperti ulat dan krikil b. Proses penggilingan pertama dengan ukuran 1 cm c. Menghancurkan lebih halus d. Proses fermentasi e. Uji hasil a. Grean Leaf Shifter (GLS) b. Barbora leaf Conditioner (BLC) c. Crushing Tearing Curling (CTC) d. Fermenting Unit (FU) a. Menghancurkan sel-sel daun b. Memberi kesempatan terjadinya reaksi enzimatis

c. Proses Crushing Tearing

Curling (CTC)

5. Pengeringan a. Mengeringkan teh yang telah digiling b. Uji hasil a. Fluid Bed Dryer (FBD) b. Head Exchanger (HE) Menghentikan oksidasi enzimatis agar teh dapat disimpan lebih lama

6. Sortasi Memisahkan teh yang telah digiling berdasarkan ukuran a. Midle Tone (MT) yang terdiri dari Mini Crusher dan Vibro Black b. Chotta Sifter Conveyor (CSC) c. Suction Winower (SW) d. Vibrek

Memisahkan bubuk teh yang dihasilkan berdasarkan ukuran partikel, berat jenis, dan kandungan serat/tulang

7. Pengepakan Mengemas produk yang telah dihasilkan

Conveyor Tea Bulker (CTB)

Melindungi produk dari kerusakan, memudahkan transportasi, penyimpanan dan pemasaran.

Proses pengolahan teh hitam tersebut diuraikan berikut : a. Penerimaan Pucuk Segar

Tujuannya adalah untuk mengetahui kuantitas dan kualitas pucuk yang akan diolah, serta menjamin dan memastikan bahwa pucuk teh bisa dilayukan sehingga siap untuk digiling. Penerimaan pucuk teh ini membutuhkan waktu selama 1 - 2 jam dalam sehari. b. Pembeberan dan Pelayuan

Pembeberan bertujuan untuk memecahkan gumpalan pucuk teh untuk memudahkan sirkulasi udara. Lama waktu yang dibutuhkan 10-24 jam. Pembeberan dilakukan dengan cara menurunkan pucuk dari Monorail (alat pengangkut container) dan dibeberkan pada Mesin Withering Trough (WT). Sebelum pucuk disimpan pada mesin WT, udara segar telah dialirkan terlebih dahulu. Isi setiap mesin WT 20–30 kg/m² dengan ketinggian beberan 30–40 cm.

Pelayuan bertujuan untuk mengurangi kadar air pucuk segar sehingga didapatkan kadar air 68 – 74 persen dan memudahkan dalam proses penggilingan serta fermentasi. Untuk mendapatkan kelayuan yang seragam dan sempurna dilakukan pembalikan satu sampai dua kali atau sesuai kebutuhan. Pembalikan bertujuan untuk meratakan pelayuan antara pucuk bagian bawah dengan bagian atas. Lama pelayuan antara 10 – 24 jam (tergantung keadaan pucuk dan cuaca).

Sebelum pucuk teh digiling, dilakukan pengujian kadar air pucuk layu dengan cara mengambil contoh pucuk yang telah dibalik sebanyak (1) satu kg yang diambil dari masing-masing bagian Withering Trough lalu diaduk rata dan diambil sebanyak 10 gram. Pengujian dilakukan dengan menggunakan alat ukur Sartorius yang dilakukan oleh Mandor pelayuan atau petugas uji mutu dan hasil pengujian dicatat dalam buku pelayuan.

Pucuk teh siap digiling apabila kadar air berkisar antara 68 – 74 persen dan kerataan layuan 90 persen. Kerataan kelayuan

pucuk pada Withering Trough diketahui dengan melakukan analisa kerataan layuan dengan cara mengambil pucuk layu secara acak sebanyak 1 (satu) kg lalu diaduk dan diambil contoh 500 gram. Pucuk layu dengan pucuk kurang layu dipisah lalu masing-masing ditimbang dan dihitung persentasenya. Hasil analisa dicatat pada buku pelayuan. Pucuk dengan kadar air dan tingkat kelayuan yang sesuai siap untuk digiling.

c. Analisa Petik dan Analisa Pucuk

Analisa Petik dan Pucuk bertujuan untuk mengetahui berapa analisa pucuk yang memenuhi syarat. Analisa Petik dilakukan dengan cara mengambil pucuk yang telah dibeberkan pada Withering Trough masing-masing bagian satu titik lalu aduk rata kemudian ditimbang +/- 100 gram dan berlangsung selama 1 (satu) jam.

d. Penggilingan dan Fermentasi.

Penggilingan dan fermentasi bertujuan untuk menghancurkan pucuk teh layu menjadi partikel kecil, sehingga mempunyai cita rasa yang diinginkan dalam kondisi yang terkendali, sesuai standar dan bebas kontaminasi. Penggilingan pucuk layu dilakukan sesuai dengan nomor girik urutan turun giling. Pucuk layu masuk ke mesin Green Leaf Shifter (GLS) dipisahkan dari material yang tidak diinginkan seperti ulat dan kerikil. Kemudian masuk ke Mesin Barbora Leaf Conditioner (BLC) yang tujuannya untuk memudahkan dalam proses selanjutnya, dimana pada proses ini pucuk layu dipecah-pecah dengan ukuran kasar (1 cm). Kemudian masuk ke Mesin Triplek Crushing Tearing Curling (CTC) melalui conveyor yang telah dahulu diratakan dengan speader. Pada mesin CTC bubuk basah digiling melalui tiga tahap, yaitu CTC I , CTC II, CTC III yang dibedakan berdasarkan ukuran gigi dan celah antar pasangan Roll-nya.

Butiran teh kemudian masuk ke Mesin Fermenting Unit (FU) yang diratakan oleh speader. Pada proses fermentasi ini bubuk halus

basah hasil penggilingan dihamparkan diatas meja FU yang bergerak perlahan hingga mencapai ruang pengeringan. Tujuan proses ini yaitu untuk mendapatkan bubuk teh basah yang berwarna coklat tua dan harum baunya akibat aktivitas Enzim Polifenol Aoksidase.

Pada proses penggilingan dilakukan uji mutu, yang disebut Green Dhool Testing terhadap bubuk teh yang keluar dari mesin CTC menuju ke FU. Pengujian ini dilakukan pada tiap seri yang dilaksanakan tergantung pada kondisi kematangan bubuk dan kebutuhan dalam penentuan waktu atau jadwal Oksidasi Enzimatis. e. Pengeringan

Pengeringan bertujuan untuk menghentikan proses oksidasi enzimatis dan mengeringkan teh agar dapat tahan disimpan lama. Pengeringan dilakukan dengan Mesin Fluid Bed Dryer (FBD) dengan sumber panas pada Mesin Heat Exchanger (HE). Pengeringan dilakukan selama 13 – 18 menit. Kadar air bubuk yang keluar dari FBD antara 2,5 – 3,5 persen. Sebelum proses pengeringan mesin harus dipanaskan dahulu 10 – 20 menit dengan udara panas. Kematangan bubuk teh yang keluar dari mesin FBD diperiksa secara inderawi (dilihat, diraba, dicium) dan non inderawi (pengujian dengan alat).

Pengujian mutu inner quality dilakukan untuk penilaian penampakkan air seduhan (aroma, rasa dan warna air). Pengujian dilakukan dengan cara menimbang 5,6 gram bubuk teh lalu dimasukkan kedalam cangkir seduhan, dituangkan air mendidih (96 %) dan ditutup selama lima sampai enam menit, kemudian air seduhan tersebut dituangkan ke dalam mangkok seduhan. Penilaian aroma dilakukan dengan cara menghirup udara seduhan teh dengan membuka sedikit tutupnya. Penilaian rasa dilakukan dengan cara mencicipi air seduhan yang ada dalam mangkok. Penilaian warna air dilakukan dengan cara mengamati air seduhan dalam mangkok.

Pengukuran kadar air bubuk teh dilakukan dengan alat Sartorius yang caranya hampir sama dengan pengukuran kadar air

pucuk layu dan data tersebut dicatat dalam buku pengeringan. Kadar air bubuk teh 2,5 – 3,5 persen. Pengujian lainnya adalah berat jenis bubuk, pengukuran dilakukan dengan alat Tea Densimeter. Bubuk teh ditimbang 2,5 gram lalu dimasukkan kedalam gelas ukur Tea Densimeter dan alat diset sejumlah 20 kali ketukan kemudian ditekan tombol On. Kemudian permukaan bubuk diratakan dan dilihat volumenya, selanjutnya dibandingkan dengan Standar Mutu Densitas Teh Hitam CTC (SMDTH CTC).

f. S o r t a s i

Sortasi bertujuan untuk memisahkan jenis teh yang dihasilkan berdasarkan ukuran partikel, berat jenis dan kandungan serat/tulang, sehingga diperoleh partikel bubuk teh yang seragam sesuai dengan standar yang diinginkan pelanggan atau pasar. Lama waktu yang dibutuhkan antara 1 – 2 jam. Ruangan sortasi bersuhu 20 C – 25º C dan pada kelembaban 50 - 60 persen agar tidak terjadi penurunan mutu bubuk teh kering karena sifatnya yang Hidrocopis mudah menyerap air.

Proses sortasi teh hitam CTC dibagi menjadi dua jalur, yaitu jalur A (Halus) dan jalur B (kasar). Tujuannya untuk memproses ulang teh yang tidak memenuhi syarat mutu pada jalur A dan diulang pada jalur B. Bubuk teh dari pengeringan masuk ke Mesin Midle Tone untuk memisahkan teh kasar dan halus. Bagian yang kasar masuk ke Mesin Mini Crusher (B) dan bagian halus masuk ke Mesin Vibro Blank (A). Vibro Blank berfungsi untuk memisahkan daun dan serat, bagian yang berwarna hitam dari daun, sedangkan coklat dari batang. Bagian yang lolos masuk ke Mesin Vibro Mesh yang berfungsi untuk memisahkan daun dan serta jenisnya.

Setelah itu masing-masing jenis teh dimasukkan ke Mesin Chotta Sifter Conveyor untuk meratakan ukuran. Untuk memisahkan teh berdasarkan berat jenis dan debu teh dimasukkan ke Mesin Suction Winower. Pada suction winower terdapat empat keluaran bubuk teh, pintu satu dan dua berukuran berat, sedangkan pintu tiga

dan empat berukuran ringan. Untuk memastikan teh bersih dari serat setelah keluar dari suction winower teh masuk ke Mesin Vibrek, lalu ditimbang kemudian disimpan di Peti Miring sampai mencukupi untuk pengepakan.

g. Pengepakan.

Pengepakan bertujuan untuk melindungi produk dari kerusakan, memudahkan transportasi, penyimpanan, kemasan dalam jumlah jenis tertentu dan pemasaran. Pengepakan merupakan akhir proses pekerjaan di pabrik sebelum barang tersebut dikirim ke pembeli. Teh akan dikemas apabila telah mencukupi untuk dibuat satu Chop (ekspor) dan satu KB (lokal). Jenis teh yang akan dikemas dikeluarkan dari peti miring melalui conveyor ke Tea Bulker. Tea Bulker berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sebelum pengepakan. Jika persediaan teh dalam Tea Bulker mencukupi, maka dilakukan pengepakan dengan mengeluarkan bubuk teh melalui corong pengeluaran. Bubuk teh dikemas dalam Paper Sack yang beratnya 0,7 Kg dilapisi dengan fail untuk mencegah kenaikan kadar air dalam teh kering. Bubuk teh di kemas sambil ditimbang kemudian dipadatkan menggunakan tea bag packer selama 15 detik. Kemudian dipadatkan (press) menggunakan bag shaver, sehingga ketebalannya menjadi sekitar 20 cm. Waktu yang dibutuhkan pada proses pengemasan sekitar 2 (dua) jam tiap kali produksi.

Mutu produk dijaga oleh badan pengawas mutu di setiap urutan proses pengolahan. Produksi yang dilakukan PTPN VIII Gunung Mas tidak menggunakan bahan baku penolong. Kendala yang dihadapi oleh PTPN VIII Gunung Mas dalam melakukan proses produksi adalah cuaca dan alat atau mesin produksi. Cuaca mempengaruhi lamanya proses pelayuan sehingga akan mempengaruhi lamanya proses pengolahan. Usaha yang dilakukan adalah dengan memaksimalkan fungsi mesin Withering Trough agar kualitas pucuk yang dilayukan sesuai dengan yang diharapkan.

Kendala kedua yaitu alat atau mesin yang kondisinya tidak selalu baik. Usaha yang dilakukan untuk mengatasi kendala ini adalah dengan melakukan perawatan mesin secara teratur yang dikelola oleh bagian teknik. Selain itu, dilakukan pengarahan kepada para pegawai pengolahan tentang cara menggunakan mesin yang baik dan benar, sehingga diharapkan dapat mencegah terjadinya kerusakan mesin.

Produk yang dihasilkan terbagi ke dalam tiga tingkat mutu, yaitu mutu I, mutu II, dan mutu III. Ketiga jenis mutu tersebut terbagi lagi dalam beberapa kelas, yaitu :

a. Mutu I : Brokken Pecco 1 (BP1), Pecco Fanning 1(PF1), Pecco Dust (PD), Dust 1 (D1), Fanning (FANN)

b. Mutu II : Dust 2 (D2), Fanning GS (FNGS) c. Mutu III : Broken Mix 2 (BM2), PLUFF

Kriteria ketiga jenis mutu tersebut dapat dilihat lebih jelas pada Tabel 6.

Tabel 6. Kriteria Penilaian Mutu Teh Hitam CTC

Kriteria penilian mutu Teh Hitam CTC Karakteristik A B C D MUTU I 1. Apearance Warna kerataan Kebersihan Bentuk dan ukuran

2. Liqour Warna air Kekuatan Aroma 3. Ampas Warna Kerataan

MUTU II dan III

1. Apearance Warna Kerataan Kebersihan Bentuk dan ukuran 2. Liqour Warna air Kekuatan Aroma 3. Ampas Warna Kerataan Well mode Blackish Clean Grainy, granular, curly, few tips Good

Bright, red and colourly Strength, pungent, brisk Flavoury Good Bright copery Even Good Fairly black Even

Few fibres stalk Fairly grainy curly

Good

Bright red and colourly Strength pungen Flavoury Good Bright copery Even Fair mode Failry blackish Fairly even Fairly even Fairly grainy, fourly curly Fairly good Fairly bright Fairly strength Has flavoury Fairly good Fairly bright Fairly even Fair mode Brownish Uneven

Some fibres stalk Open flaket Fairly good Bright red Fair strength, less brisk Has flavoury Fairly good Fairly bright Fairly even Unsatisfactory Browniss grayish Uneven few powder Few fibres, few embedded Open, smaller bold Unsatisfactory Light Lack in strength, bitter soft No flavoury, slight dry Unsatisfactory Bitt dull, greenish uneven Unsatisfactory Grayish Few powdery Fibrous Smaller, bold, long stalk Unsatisfactory Light Bitter, harsh, greenis No flavoury, slight dry Unsatisfactory Bitt dull, greenish Uneven Bad Reddish Regged mixed Somefibres, fibrows Irreguller, crispy Bad Darkin cup/dull Flat, tainted Oldish, gone off, tainted Bad Dull/dark Mixed, tainted Bad Reddish Regged too powdery mixed To much fibres, much stall Too smaller, too bad crispy

Bad

Dark in cup/dull Glat, gone off, tainted, oil dish Gone off, tainted dry bakey

Bad

Dull/dark Mixed tainted

Sumber : Bagian Produksi PTPN VIII Gunung Mas, 2007 4.2.3. Distribusi

Proses distribusi di PTPN VIII Gunung Mas dilakukan oleh distributor perusahaan sendiri dan perusahaan jasa distributor independen. Distribusi produk yang dilakukan oleh PTPN VIII Gunung Mas berdasarkan pada surat perintah angkut (SPA) dari bagian pemasaran kantor pusat, yaitu PTPN VIII, Bandung. Terdapat dua saluran distribusi yang dilakukan PTPN VIII Gunung Mas. Pertama, PTPN VIII Gunung mas menggunakan distributor perusahaan sendiri dan langsung mengantarkannya ke pelanggan sesuai dengan SPA. Biasanya untuk saluran distribusi pertama ini pelanggan yang dituju adalah pelanggan lokal. Kedua, PTPN VIII Gunung Mas menggunakan distirbutor perusahaan sendiri dan mengantarkannya ke perusahaan jasa distributor independen yaitu PT. Varuna Tirta Prakarsa di Tanjung Priok. Biasanya saluran distribusi kedua ini ditujukan untuk pelanggan luar negeri atau ekspor. PTPN VIII Gunung Mas selama ini tidak pernah mengalami kendala dalam sistem distribusi, sehingga produk bisa sampai ke pelanggan tepat waktu.

4.2.4. Pelanggan

PTPN VIII Gunung Mas adalah salah satu unit perkebunan yang dikelola oleh PTPN VIII, Bandung. Pemasaran produk selama ini dilakukan oleh kantor pusat. Sistem pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan terbagi dalam dua bentuk pemasaran, yaitu sistem kontrak dan lelang (auction). Sistem pemasaran pertama dilakukan dengan cara pembeli yang berminat untuk membeli produk perusahaan datang langsung ke bagian pemasaran kantor pusat di Bandung. Pembeli akan melakukan negosiasi dengan bagian pemasaran mengenai berapa jumlah produk yang diinginkan dan harga yang disepakati bersama. Kesepakatan yang disetujui kedua belah pihak didokumentasikan dalam bentuk kontrak kerja. Pembeli akan mendapatkan jasa layanan antar barang sampai ke tempat perusahaan pembeli tersebut berada. Sistem pemasaran yang kedua adalah melakukan pelelangan terhadap produk yang dihasilkan,

yang dilakukan di Kantor Pemasaran Bersama PT. Perkebunan Nusantara di jalan Cut Mutiah No. 11 Jakarta, Indonesia. Produk teh dilelang setiap hari Rabu pukul 10.00 WIB. Perusahaan menawarkan produk kepada pelanggan baik lokal maupun luar negeri yang telah memenuhi persyaratan administrasi. Harga teh yang dilelang tergantung pada jumlah pasokan dan serapan pasar dunia. Biasanya pembeli yang mengajukan penawaran harga tertinggi berhasil mendapatkan hak beli produk. Perusahaan yang terpilih menjadi pelanggan akan membuat kontrak pembelian dengan perusahaan dan memperoleh layanan jasa antar barang. Produk yang dibeli perusahaan lokal diantarkan langsung oleh distributor perusahaan. Sedangkan produk yang dibeli pelanggan luar negeri diantarkan dengan menggunakan jasa perusahaan distributor independen yaitu PT. Varuna Tirta Prakarsa. Pemasaran produk pakai (Teh Walini) dilakukan melalui promosi berupa iklan televisi, brosur, dan langsung ke pelanggan. Pelanggan yang berkunjung ke perusahaan dapat membeli produk pakai tersebut di tempat-tempat yang telah ditunjuk oleh perusahaan, yang masih berada di lingkungan perusahaan sendiri seperti kantin dan kantor wisata agro.

Jenis pelanggan yang banyak dilayani perusahaan adalah pelanggan industri. Pelanggan yang dilayani oleh perusahaan adalah pelanggan luar negeri (90%) dan pelanggan lokal (10%). Negara yang menjadi tujuan ekspor yaitu Inggris, Pakistan, Belanda, Amerika Serikat, Irak dan India. Pelanggan industri baik lokal maupun luar negeri yang saat ini masih aktif menjadi pembeli antara lain Unilever, Lipton Ice, Van Rees, Les Raymen, Pada Kersa, Jakarta Tea Trader, Sinar Maluku, dan Yousuf Akbani.