• Tidak ada hasil yang ditemukan

Guru SMP Negeri 14 Batam [email protected]

Abstrak :Kegiatan pembelajaran pada kelas IX A SMP Negeri 5 Batam masih bersifat

konvensionalberpusat kepada guru, sehingga membosankan bagi siswa. Peneliti tertarik untuk memperbaiki proses pembelajaran matematika khususnya materi menemukan rumus luas permukaan bola melalui pembelajaran inquiry setting kooperatif. Penelitian ini dilaksanakan pada kegiatan lesson studymelalui tiga tahap yaitu perencanaan(plan), pelaksanaan (do) dan refleksi(see). Data diambilmelalui perekaman video. Hasil rekaman

ditranskrip dan dianalisis untuk dideskripsikan sesuai dengan tahapan-tahapan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa menjadi aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran di kelas dan meningkatkan hasil belajar siswa pada materi menemukan rumus luas permukaan bola.

Kata kunci: Rumus Luas Bola, Inquiry, Kooperatif

Proses pembelajaranyang efektif pada intinya adalah bagaimana guru mampu melibatkan siswa dalam proses pembelajaran sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Hal ini menuntut seorang guru untuk lebih kreatif dalam menentukan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang akan disampaikan kepada siswa.

Pada proses pembelajaran matematika, selama ini guru berperan lebih dominan di dalam kelas. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya guru matematika yang hanya menggunakan metode ceramah untuk menyampaikan hampir semua materi pembelajaran. Aktivitas siswa hanya mendengar, mencatat, menyelesaikan soal seperti yang dicontohkan oleh guru dan mengerjakan soal pada lembar kerja siswa (LKS). Hal ini yang menyebabkan pembelajaran matematika menjadi monoton sehingga siswa menjadi pasif, tidak kreatif, malas dan bosan dalam mengikuti pelajaran matematika.

Kegiatan pembelajaran yang terpusat pada guru menyebabkan siswa tidak memiliki pengalaman dan ketrampilan belajar karena siswa hanya mendapatkan apa yang disampaikan oleh guru dan tidak bisa mengembangkan materi yang diperoleh lebih lanjut. Selain itu siswa juga tidak bisa mengembangkan sendiri konsep-konsep matematika yang ada. Hal ini menyebabkan rendahnya prestasi dan motivasi belajar siswa terutama pada mata pelajaran matematika.

Untuk itu guru perlu mengunakan metode pembelajaran yang dapat memunculkan keaktifan, kreatifitas dan antusias siswa pada pembelajaran matematika. Salah satu metode yang dapat meningkatkan antusias siswa terhadap pembelajaran matematika adalah pembel-ajaran inquiry. Dalam pelaksanaanya pembelajaran ini bisa dilaksanakan dengan model pembelajaran kooperatif.

Beberapa penelitian (Fitri Mulyani, 2013; Vera Kartika, 2013) menunjukkan bahwa pembelajaran inquirysangat efektif untuk meningkatkan partisipasi, keaktifan dan antusias siswa dalam proses pembelajaran. Dengan pembelajaran inquiry ini diharapan siswa terlibat dalam pembelajaran sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.

Subanji (dalam Fitri Mulyani, 2013) menjelaskan bahwa pembelajaran dengan penemuan atau inquiry merupakan pembelajaran yang berlangsung sebagai hasil dari manipulasi, menstukturkan, dan menstransfer informasi sehingga siswa menemukan informasi baru. Dalam penemuan, siswa mungkin membuat konjektur, merumuskan hipotesis atau menemukan kebenaran suatu pernyataan matematika menggunakan induksi, deduksi, observasi, dan ekstrapolasi. Hal penting dalam penemuan adalah siswa harus menjadi bagian yang aktif dalam memformulasikan dan dalam mencapai atau mendapatkan informasi baru. Selain itu Vera Kartina (2013) juga menjelaskan bahwa pembelajaran inquiry adalah metode yang memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran melalui percobaan maupun eksperimen sehingga melatih siswa berkreasi dan berpikir kritis untuk menemukan sesuatu.

Pembelajaran inquiry dalam praktiknya dapat dilakukan dalam setting individu atau setting kooperatif. Setting koopratif diperlukan untuk membangun komunitas balajar pada siswa untuk saling membantu memahami materi.

Subanji (2013) menjelaskan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan suatu metode dimana siswa belajar bersama-sama dalam kelompok dan anggota dalam kelompok tersebut saling bertanggung jawab satu dengan yang lain.Dalam pembelajaran kooperatif, peranan guru adalah mendorong dan atau mengkondisikan kelas sedemikian hingga siswa bekerja sama dalam suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas bersamanya. Demikian juga guru harus mengkondisikan agar dua atau lebih individu saling bergantung sama lain untuk mencapai satu tujuan bersama.

Desi Rusnita (2013) menjelaskan karakteristik pembelajaran kooperatif diantaranya, (a) siswa bekerja dalam kelompok kooperatif untuk menguasai materi akademis, (b) anggota - anggota dalam kelompok diatur terdiri dari siswa–siswa yang berkemampuan rendah, sedang

suku, budaya dan jenis kelamin,(d) sistem penghargaan yang berorientasi kepada kelompok dalam individu. Pembelajaran kooperatif memiliki manfaat atau kelebihan yang sangat besar dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan-nya dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan dalam pembelajaran kooperatif siswa dituntut aktif dalam belajar melalui kegiatan kerjasama dalam kelompok.

Karli dan Yuliariatiningsih (dalam Desi Rusnita, 2013) mengemukakan kelebihan pembelajaran kooperatif antara lain; (1) dapat melibatkan siswa secara aktif dalam mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilannya dalam suasana belajar,(2) dapat mengembangkan aktualisasi berbagai potensi diri yang dimiliki oleh siswa,(3) dapat mengembangkan dan melatih berbagai sikap, nilai, dan keterampilan sosial untuk diterapkan dalam kehidupan di masyarakat,(4) siswa tidak hanya sebagai objek belajar melainkan juga sebagai subjek belajar karena siswa dapat menjadi tutor sebaya bagi siswa lainnya,(5) siswa dilatih untuk bekerjasama, karena bukan materi saja yang dipelajari tetapi tuntutan untuk mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesuksesan kelompoknya, (6) memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar memperoleh dan memahami pengetahuan yang dibutuhkan secara langsung, sehingga apa yang dipelajarinya lebih bermakna bagi dirinya. Kelebihan pembelajaran kooperatif berorientasi pada optimalnya kegiatan pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif melalui dukungan guru dan siswa dalam pembelajaran.

Dalam artikel ini penulis mencoba menerapkan pembelajaran inquiry setting kooperatif pada materi bangun ruang sisi lengkung yaitu untuk menemukan rumus luas permukaan bola pada siswa kelas IX A SMP Negeri 5 Batam.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan dalam kegiatan lesson study pada tanggal 15 November 2014 di SMP Negeri 5 Batam pada kelas IX A. Adapun tahapan yang dilaksanakan adalah Perencanaan (Plan), Pelaksanaan (Do) dan Refleksi (See). Data diambil dengan cara merekam atau mendokumentasikan aktivitas kegiatan pembelajaran dikelas. Data yang diperoleh di analisis dan dideskripsikan berdasarkan tahapan-tahapan pembelajaran inquiry sehingga penelitian ini tergolong deskriptif kualitatif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitan ini dilaksanakan pada kegiatan lesson study dengan melalui tiga tahapan yaitu: (1) Perencanaan (Plan), (2) Pelaksanaan (Do) dan (3) Refleksi (See).

Tahap Perencanaan (Plan)

Pada tahap perencanaan peneliti bersama dua orang guru merencanakan pelaksanaan pembelajaran. Pada tahap ini dilakukan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang diharapkan mampu membelajarkan peserta didik secara efektif dan menyenangkan, sehingga peserta didik lebih termotivasi dan antusias terhadap pembelajaran yang akan dilaksanakan.

RPP disusun dengan standart kompetensi “memahami sifat-sifat tabung, kerucut dan bola, serta menentukan ukurannya”, dan kompetensi dasar “menghitung luas selimut dan volume tabung, kerucut dan bola”. Materi Pembelajaran dalam penelitian ini adalah menemukan rumus luas permukaan bola melalui pembelajaran inquiry.

Pemilihan pembelajaran inquiry karena dengan pendekatan ini siswa diajak secara aktif dalam proses pembelajaran melalui percobaan atau eksperimen sehingga melatih siswa berkreasi dan berpikir kritis untuk menemukan luas permukaan bola. Pembelajaran inquiry dilakukan dengan setting kooperatif.

Pembelajaran direncanakan meng-gunakan media berupa kertas karton, bola plastik dan Lembar Aktifitas Siswa (LAS) yang nanti dibagikan kepada setiap kelompok.

Dalam RPP juga ditentukan alokasi waktu pembelajaran yaitu 2 jam pelajaran atau 2 x 40 menit. Dalam kegiatan perencanaan ini juga dibahas tentang kelebihan dan kekurangan beserta alternatif pemecahan masalah, sehingga dapat mengantarkan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu juga ditentukan siapa yang akan menjadi “guru model” dan yang menjadi “observer”.

Tahapan Do dilaksanakan oleh guru model yang sudah ditentukan sebelumya dan dilaksanakn pada hari Rabu, 15 Oktober 2014 di kelas IX A SMP Negeri 5 Batam. Open class ini diikuti oleh 35 siswa kelas IXA dan dihadiri oleh dua orang guru yang bertindak sebagai observer. Pada tahap Do, kegiatan yang dilakukan adalah menerapkan rancangan pembelajaran yang dibuat pada tahap perencanaan.

Sebelum memulai kegiatan pembelajaran, observer telah mempelajari RPP dan lembar observasi. Dalam RPP telah diinformasikan bahwa pembelajaran yang akan dilakukan menggunakan model pembelajaran inquiry dan kooperatif. Berikut deskripsi pembelajaran inquiry setting kooperatif.

Kegiatan awal pembelajaran

Pada saat masuk kelas, guru model dan siswa saling memberi salam. Setelah mengecek kehadiran siswa guru model membagikan kertas bernomor kepada masing-masing siswa sesuai dengan nomor pada daftar absen siswa.

Kegiatan pembelajaran diawali dengan menggali pengetahuan awal siswa dengan mengadakan tanya jawab dengan siswa.

Guru : anak-anak apakah kalian masih ingat pelajaran tentanglingkaran? Siswa : ingat bu

Guru : kalau benda yang ibu bawa ini apa namanya? (guru menunjukkah bola plastik)

Siswa : Bola bu...(Ada satu orang siswa bernomor 17yang menjawab benda yang dibawa guru adalah lingkaran).

Dari dialog tersebut terlihat bahwa siswa sudah mengenal bangun ruang bola dan bisa mengaitkan dengan lingkaran. Kemudian guru menanyakan kembali kepada siswa nomor 17 tersebut.

Guru : Mengapa ini disebut lingkaran nak? Siswa nomor 17 :Karena bulat bu

Kemudian guru menindaklanjuti pemahaman siswa terkait dengan konsep bola dan lingkaran dengan mengajukan pertanyaan kepada semua siswa.

Guru : Benarkah ini lingkaran? Apa bedanya lingkaran dengan bola? (guru berperan sebagai pemacu berpikir)

Siswa nomor 32 menjawab : Itu bola bu bukan lingkaran, bedanya kalau lingkaran itu bangun datar, kalau bola bangun ruang bu.

Dari dialog tersebut, terlihat bahwa siswa sudah bisa menyimpulkan lingkaran sebagai bangun datar sedangkan bola sebagai bangun ruang. Dalam hal ini guru menguatkan kembali tentang perbedaan lingkaran dan bola.

Kegiatan dilanjutkan dengan guru menyampaikan bahwa tujuan pembelajaran hari ini adalah siswa dapat menemukan rumus luas permukaan bola dengan menggunakan media bola plastik yang akan dibagikan kepada setiap kelompok. Guru juga mengingatkan kembali kepada siswa tentang unsur-unsur terkait lingkaran terutama luas lingkaran, karena itu merupakan materi prasyarat yang harus dikuasai sebelum pembelajaran luas permukaan bola.

Dalam kegiatan ini siswa mengaitkan pengetahuan lama (luas lingkaran) dengan pengetahuan baru (luas permukaan bola). Dari apersepsi yang dilakukan guru terlihat bahwa pengetahuan lama siswa sudah cukup untuk membangun pengetahuan baru.

Kegiatan Inti

Dimulai dengan guru membagi siswa secara acak menjadi 5 kelompok dengan masing kelompok terdiri dari 7 orang siswa yang heterogen. Setelah terbagi kelompok, guru membagikan kertas karton, bola plastik kecil masing-masing satu buah, gunting dan lem.

Gambar 1. Guru Membagikan Media

Guru membagikan satu Lembar Aktivitas Siswa (LAS) kepada setiap kelompok sebagai panduan untuk menemukan rumus luas permukaan bola. Dalam LAS tersebut langkah-langkah yang harus dikerjakan oleh masing-masing kelompok yaitu:

1. Guntinglah bola plastik menjadi dua bagian yang sama besar

2. Gambarlah dua buah lingkaran pada karton menggunakan jangka dengan jari-jarinya sama dengan jari-jari bola

3. Guntinglah salah satu belahan bola menjadi potongan-potongan kecil

4. Tempelkanlah menggunakan perekat potongan-potongan kecil bola tersebut pada dua buah lingkaran yang yang telah dibuat di karton sampai memenuhi semua daerah lingkaran tersebut

5. Setelah itu isilah pertanyaan dibawah ini.

Setengah bola setelah dipotong kecil dapat mengisi penuh 2 buah lingkaran, maka : Satu bola akan dapat terpenuhi

= ...lingkaran

= ... x Luas lingkaran = ...x...

Potongan dari satu bola yang dapat memenuhi lingkaran = Luas permukaan Bola Maka luas permukaan = ...

Setelah siswa menerima LAS langsung terjadi interaksi antar siswa dalam kelompok. Beberapa kelompok nampak masih kesulitan untuk memahami maksud intruksi dalam LAS. Beberapa siswa dalam kelompok ada yang berinisiatif untuk bertanya kepada guru, akan tetapi ada kelompok yang juga kesulitan akan tetapi tidak berani untuk bertanya kepada guru. Menyikapi kondisi ini guru segera mengecek ke setiap kelompok untuk memberikan penjelasan langkah-langkah dalam LAS (guru melakukan scaffolding).

Penelitian tentang penerapan scaffolding dalam memahamkan siswa terhadap materi pelajaran telah dilakukan oleh Velix Meyfy M (2013). Scaffolding digunakan sebagai cara guru memberikan bantuan kepada siswa agar terbentuk pemahaman yang diharapkan dari siswa. Bantuan yang diberikan tujuannya untuk mempermudah siswa agar dia lebih mudah memahami materi pembelajaran. Agar siswa mudah memahami materi pembelajaran maka guru harus bisa menjadi penghubung yang baik antara kemampuan awal siswa dengan masalah yang berhubungan dengan materi pembelajaran.

Gambar 2. Guru Membimbing Kelompok

Selama kerja kelompok, dalam pengamatan peneliti, nampak di kelompok V ada siswa nomor 23 sejak mulai berkelompok tidak terlibat aktif dalam diskusi maupun kerja kelompok.

Gambar 3. Siswa Bermain

Siswa ini dari mulai awal kelompok hanya bermain jangka dan pena, sayangnya hal ini tidak terpantau oleh guru. Siswa ini hanya nampak aktif jika guru mendekat ke kelompoknya. Peneliti bertanya kepada siswa nomor 23.

Peneliti : kok tidak ikut mengerjakan nak? Siswa : sudah ada yang mengerjakan pak

Dari dialog tersebut siswa berpendapat bahwa tugaskelompok yang penting selesai, jadi tidak semua siswa harus mengerjakan tugas yang diberikan kepada kelompok. Hal ini perlu ditanamkan pemahaman kepada siswa bahwa tujuan berkelompok agar terjadi interaksi dan saling membantu untuk menyelesaikan permasalahan yang ada

Setelah batas waktu yang diberikan masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok, namun sampai batas waktu yang diberikan ada satu kelompok, yaitu kelompok V belum selesai tugas kelompoknya.

Dari hasil presentasi masing-masing perwakilan kelompok di dapatkan bahwa siswa sudah dapat menyimpulkan hubungan antara luas daerah lingkaran dengan luas daerah bola.

Presentasi dari kelompok III yang diwakili oleh siswa nomor 32 sudah bisa menjelaskan proses menemukan rumus luas permukaan bola. Siswa tersebut menjelaskan bahwa untuk menemukan rumus luas permukaan bola, bola plastik dipotong menjadi dua bagian yang sama besar. Kemudian menggambar lingkaran dengan jari-jari sama dengan jari-jari bola. Setelah itu salah satu belahan bola tersebut di gunting menjadi bagian kecil dan ditempelkan pada gambar lingkaran yang telah dibuat sampai memenuhi kedua lingkaran tersebut.

Gambar 5. Hasil Jawaban Siswa

Setengah bola tersebut setelah dipotong kecil dapat mengisi penuh 2 buah lingkaran, maka menurut siswa tersebut :

Satu bola akan dapat terpenuhi = 4 lingkaran = 4 x Luas lingkaran = 4 x

Maka luas permukaan Bola = 4 .

Dari penjelasan siswa tersebut menunjukkan bahwa siswa tersebut sudah mampu menemukan rumus luas permukaan bola dengan media yang diberikan.

Kegiatan Penutup

Setelah semua siswa melakukan presentasi, guru mengajak siswa untuk menyimpulkan pembelajaran pada hari itu. Guru memberikan apresiasi kepada semua siswa yang ternyata berhasil menemukan rumus luas permukaan bola mengunakan media yang diberikan.

Refleksi (See)

Dalam kegiatan refleksi dilakukan oleh tim lesson study yang terdiri dari tiga orang yaitu dua observer dan satu guru model. Pada kegiatan ini, guru model menyampaikan hal – hal tentang kesannya selama menjadi model dan juga pelaksanaan pembelajaran. Apa yang dirasakan, dan apa yang kurang dari pembelajaran yang telah dilakukan. Kemudian dilanjutkan oleh observer menyampaikan hasil pengamatan selama pembelajaran. Dari hasil refleksi diperoleh fakta dan masukan untuk perbaikan sebagai berikut :

1. Pada proses pembelajaran guru tidak cukup waktu untuk memberikan soal latihan terkait dengan materi yang disampaikan. Untuk selanjutnya diperlukan manajemen waktu dalam proses pembelajaran perlu dilaksanakan dengan baik sesuai dengan RPP yang telah dibuat sehingga semua yang telah direncanakan dapat terlaksana dengan baik.

2. Dalam proses pembelajaran sebagian besar siswa antusias untuk mengikuti pembelajaran meskipun masih ada beberapa siswa yang tidak tidak terlibat aktif dalam diskusi kelompok sehingga perlu pendekatan dan pemahaman kepada siswa yang bersangkutan. Berdasar informasi dari guru bahwa siswa tersebut memiliki motivasi belajar yang rendah, sering membolos dan sering kehilangan konsentrasi belajar sehingga perlu penanganan khusus dari sekolah

3. Meskipun siswa mengerjakan tugas sambil bermain - main namun siswa mampu menemukan inti pelajaran yaitu menemukan rumus luas permukaan bola menggunakan media yang diberikan.Siswa nampak senang dan antusias dengan cara belajar yang disampaikan oleh guru

4. Perlu disiapkan media dan alat pembelajaran lengkap karena ketika pembelajaran alat dan media yang disiapkan masih kurang ketika dibagi ke setiap kelompok sehingga untuk mengerjakan tugas, siswa saling menunggu untuk menggunakan alat

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Materi menemukan luas permukaan bola lebih mudah diterima siswa menggunakan pembelajaran inquiry setting kooperatif

2. Pembelajaran inquiry setting kooperatif pada materi menemukan luas permukaan bola siswa diajarkan untuk bekerja aktif dalam kelompok sehingga siswa termotivasi dalam belajar matematika

3. Pembelajaran inquiry setting koopertif pada materi menemukan luas permukaan bola menjadikan siswa antusias dan aktif dalam pembelajaran yang berimbas kepada meningkatnya hasil belajar siswa

DAFTAR RUJUKAN

Kartika, Vera, 2013 Penerapan Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Inquiry dalam Pembelajaran Luas Persegi dan Persegi Panjang Siswa Kelas III SDK II Atambua. Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang.

Mulyani,Fitri, 2013Penerapan Pembelajaran Kooperatif Setting Inquiry Dalam Praktik Open Class TEQIP 2013 Kelas IX.2 SMP N 1 Bunguran Timur Natuna Kepulauan Riau. Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang. Vol 1 : 965-972 Pontotoring, Velix M, 2013Penerapan Scaffolding untuk Memahamkan Kesebangunan dan

Kongruensi Bangun Datar Siswa Kelas IX A SMP Negeri 2 Tabukan Tengah. Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang. Vol 1 : 855-860

Rusnita Desi dan Putrama Ramon, 2013 Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Melalui Lembar Kerja Siswa (LKS) pada Materi KPK di Kelas IV. Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang

Subanji. 2013. Pembelajaran Matematika Kreatif dan Inovatif. Penerbit Universitas Negeri Malang (UM Press)