• Tidak ada hasil yang ditemukan

[email protected]

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan pembelajaran cooperative

learning tipe STAD berbantuan LKS untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa SMP Negeri 5 Batam. Penelitian ini termasuk dalam jenis deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan cara rekaman menggunakan video. Hasil rekaman dideskripsikan dan dianalisis secara kualitatif berdasarkantahapan–tahapan pembelajaran kooperative tipe STAD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran cooperative STAD dapat meningkatkan antusiasme belajar dan kreativitas siswa. Siswa juga lebih memahami konsep dan prosedur menentukan volume tabung.

Kata kunci : Cooperative Leaaning, STAD, Volume Tabung

Proses belajar mengajar yang dilakukan selama ini biasanya hanya bersifat ceramah, dan penugasan. Dalam proses pembelajaran guru banyak menjelaskan, sementara siswa hanya memperhatikan penjelasan guru tersebut. Setelah selesai satu pokok bahasan, guru melakukan ulangan. Ulangan dimaksudkan untuk melihat kemampuan siswa sampai dimana pemahaman siswa tersebut dapat menguasai materi yang sudah disampaikan.Orientasi ulangan ini menuntut siswa banyak menghafalkan. Menurut Silver (dalam Subanji, 2013:40) pembelajaran yang menekankan pada pengulangan disebut “mastery”. Pembelajaran seperti ini masih banyak kelemahan, antara lain: siswa mudah lupa dan tidak bisa menyelesaikan masalah yang tinggi tingkatannya.

Guru sebagai pusat (center) dalam pembelajaran terlalu mendominasi rangkaian pembelajaran, sementara siswa hanya sebagai pendengar dan melakukuan apa yang diperintahkan oleh guru.Dalam pelaksanaannya guru kurang memberikan motivasi pada siswa, akibatnya siswa tidak menyadari apa maanfaat materi yang diberikan oleh guru tersebut. Sehingga hasil belajar siswa rendah.

Dalam proses pembelajaran siswa “kurang” bisa aktif dalam proses pembelajaran. Ketika guru menyajikan materi dan siswa belum memahami materi tersebut, mereka tidak berani bertanya. Karena siswa beranggapan bahwa semua ilmu yang diberikan guru tersebut adalah benar dan siswa cukup menerima saja. Seiring dengan pertumbuhan siswa, bahwa gejolak pertumbuhan siswa sangat mempengaruhi daya ingat siswa tersebut.Yang sebenarnya adalah bahwa ingatan seorang anak biasanya lebih kuat dari pada orang dewasa.

Proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru ternyata terlalu kaku dan monoton, hal ini terjadi karena guru menjelaskan materi,memberikan latihan,atau mengerjakan LKS,hanya itu-itu saja, guru tidak mampu menumbuhkan semangat bagaimana siswa tersebut terinsfirasi untuk berbuat dan menemukan sesuatu hal yang baru.Kendala-kendala tersebutlah yang memicu rendahnya prestasi belajar siswa. Kondisi pembelajaran yang demikian menyebabkan perlunya guru merubah pendekatan dan model pembelajaran yang dapat memacu siswa untuk aktif, kreatif, proaktif meningkatkan kemampuan berpikir, kerjasama serta memahami konsep pembelajaran yang dianggap sulit. Dari pengalaman tersebut, guru mengambil tindakan pembaharuan dalam proses belajar mengajar. Salah satu tindakan yang dilakukan adalah menggunakan model pembelajaran cooperative learning dengan tipe Student Team Achievement Devition (STAD) yang berbantuan dengan Lembar Aktivitas Siswa (LAS), di kelas IX.

Pembelajaran kooperatif telah banyak dilakukan (Herman Mau, 2013; Supriono Santoso, 2013; Liliek Sulastri,2013; Sudarto;2013,). Sudarto (2013) menemukan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana,dapat digunakan untuk memberikan pemahaman konsep materi yang sulit kepada siswa dimana materi tersebut telah dipersiapkan oleh guru melalui lembar kerja siswa atau perangkat pembelajaran yang lain. Menurut Liliek Sulastri(2013) tipe STAD ini merupakan

melalui kelompok. Anggota kelompok menggunakan lembar kegiatan, atau lembar pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajaran. Kemudian, siswa saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran dan memecahkan masalah melalui diskusi. Model pembelajaran kooperatif model STAD memberikan kesempatan kepada siswa terlibat aktif, berkomunikasi dengan teman dalam kelompok, lebih giat dalam belajar dan selalu dalam keadaan siap (Herman Mau,2013).

Lembar Kerja Siswa dapat dipandang sebagai media interaksi pembelajaran yang ditandai dengan adanya tugas dari guru untuk dikerjakan peserta didik baik di sekolah ataupun di rumah, secara individu maupun berkelompok (Benediktus Herson Lagut,2013). Dalam penugasannya materi dalam lembar kerja siswa perlu disusun sedemikian rupa agar Lembar Kerja Siswa tersebut menjadi suatu kegiatan pembelajaran yang sistematis. Dalam pembelajaran, tidak cukup jika guru hanya menjadi pengajar atau penyampai informasi. Karena guru bukan merupakan satu-satunya sumber belajar yang mengetahui segala hal yang dibutuhkan oleh siswa. Begitupula guru tidak cukup jika hanya “memfasilitasi” siswa untuk belajar. Peran guru sebagai fasilitator berarti pemberi fasilitas (LKS, Buku, soal latihan, dan sebagainya) sehingga siswa bisa belajar (Subanji,2013).

Adapun langkah-langkah pembelajaran cooperatif learning tipe STAD adalah sebagai berikut: Fase 1) Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa, Fase 2) Menyajikan/ menyampaikan informasi, Fase 3) Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar, Fase 4) Membimbing kelompok bekerja dan belajar, Fase 5) Evaluasi, Fase 6) Memberikan penghargaan (Slavin dalam Subanji, 2013)

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dalam kegiatan lesson study yang pelaksanaannya adalah plan, do dan see, yang bertempat di Pulau Buluh, SMP Negeri 5 Batam, tepatnya hari Rabu, tgl 15 Oktober 2014. Pengambilan datanya dilakukan dengan cara merekam (mendokumentasikan). Data yang terkumpul di analisis dengan tahap-tahap pembelajaran sehingga penelitian ini tergolong penelitian deskriptif kualitatif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan dalam kegiatan lesson study, dengan tahapan: PLAN – Perencanaan, DO- pelaksanaan pembelajaran, dan SEE- refleksi pelaksanaan pembelajaran. Pada tahap plan (perencanaan) peneliti bersama 2 orang guru matematika yang tergabung dalam guru hinterland berdiskusi membuat rancangan pembelajaran.Adapun yang dipersiapkan adalah: (1) menentukan standar kompetensi, (2) menentukan kompetensi dasar, (3) membuat RPP, (4) memilih model pembelajaran yang hendak diterapkan, (5) merancang LKS, dan juga menentukan siapa yang menjadi guru “model” serta siapa-siapa saja yang akan menjadi “observer”.

Pada tahap Do, real teaching dilaksanakan pada tanggal 15 Oktober 2014 dengan waktu 2x40 menit dengan materi menentukan rumus volume tabung, dan menghitung volume tabung. Guru model mengimplementasikan pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah model pembelajaran tipe STAD. Pada awal pembelajaran guru model memberikan salam dan mengecek kehadiran siswa, mengkondisikan dan memusatkan perhatian siswa dengan menunjukkan kaleng susu. Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan mengadakan dialog.

Guru : anak-anak,lihah ibu membawa apa? Siswa: kaleng susu bu.

Guru: tahu kah kalian, kaleng susu itu berbentuk apa? Siswa: tabung, bu.

Guru: baik hari ini kita belajar menemukan rumus volume tabung dan menghitung volume tabung

Dari dialog tersebut, siswa sudah mengenal bentuk-bentuk tabung. Karena itu guru melanjutkan kegiatan mengungkap lebih jauh penguasaan materi prasyarat terkait dengan lingkaran.

Guru : anak-anak, masih ingatkan rumus luas lingkaran?

Siswa: masih bu (sebahagian siswa demikian), lupa bu (bagi siswa yang lupa tentang luas lingkaran)

Siswa : saya bu( salah seorang siswa) πr2 Guru : bagus,benar sekali.

Setelah melakukan dialog, guru membentuk kelompok diskusi.

Gambar 1. Kelompok Diskusi

Guru model membagikan LKS ketiap-tiap kelompok. Guru memberi petunjuk ke pada siswa bagaimanalangkah-langkah yang harus dikerjakan tiap kelompok pada LKS tersebut.Guru mengarahkan siswa untuk mengerjakan lembar aktivitas ke-1.

Dalam waktu yang sudah di tentukan (10 menit) guru meminta siswa untuk melanjutkan ke lembar aktivitas ke-2. Setelah diskusi kelompok selesai,guru meminta siswa untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Berikut hasil kerja salah satu kelompok.

Gambar 2. Hasil Kerja Kelompok

Dari hasil presentasi siswa, ternyata siswa masih belum bisa menghubungkan volume prisma dan volume tabung. Siswa tidak memperhatikan konteks bacaan yang terdapat di dalam LKS yang direpresentasikan sebagai gambar yang ada di dalam LKS.Kemudian guru meminta kelompok lain yang berbeda dengan kelompok V untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Berikut hasil diskusi kelompok I.

Gambar 3. Hasil Kerja Kelompok 1

Dari hasil presentasi kelompok I ternyata kelompok tersebut dapat mempresentasi-kan dengan baik dan benar. Bahwa volume tabung = volume prisma dan volume tabung = luas alas x tinggi, sehingga diperoleh volume tabung = πr2t.

Setelah itu guru meminta tiap kelompok untuk mempresentasikan lembar aktivitas ke-2, yaitu bagaimana cara menghitung volume tabung.

Gambar 4. Hasil Kerja Kelompok 3

Dari hasil presentasi kelompok III pada lembar aktivitas ke-2, setelah diamati ternyata masih terdapat kesalahan dalam perkalian sehingga tidak sesuai dengan apa yang diharapkan yaitu terdapat sekelompok siswa yang tidak mahir dalam perkalian, padahal langkah penyelesaiannya sudah benar.Dalam pelaksanaan pembelajaran guru model banyak memperoleh pengalaman baru yang sebagian besar hampir tidak terbayangkan pada saat merancang persiapan. Misalnya; pada saat guru menjelaskan materi ada anak yang tidak menghiraukan sama sekali apa yang di ajarkan oleh guru model dan tidak mempedulikan bahkan sering mengganggu teman yang lain dan harus dituntaskan dengan cara apa. Kemudian pada saat tanya jawab muncul hal yang tak terduga yaitu siswa belum bisa memahami perkalian dengan baik. Dalam hal inilah guru berusaha untuk membimbing siswa supaya menguasai perkalian, supaya dapat menyelesaikan soal dengan baik dan benar. Kemudian guru meminta kelompok IV untuk mempresentasikan hasil diskusinya, seperti terlihat pada gambar berikut :

Gambar 5. Hasil Kerja Kelompok 4

Dari hasil presentasi kelompok IV ternyata dapat diselesaikan dengan baik dan benar,seperti terlihat pada gambar di atas.

Selama proses belajar mengajar berlangsung, guru sudah mencatat hal-hal yang perlu ditindaklanjuti untuk kemajuan belajar siswa. Setelah presentasi dari tiap kelompok selesai, guru memberikan reward ke pada siswa yang menampilkan hasil diskusinya dengan baik dan benar. Guru model mengulas kembali materi yang didiskusikan secara singkat sekaligus menyimpulkannya dan memberikan pujian kepada semua kelompok yang telah mempersentasikan hasil diskusinya dengan baik dan benar. Pada kegiatan terakhir guru memberikan kuis secara individu untuk melihat hasil belajar siswa pada topik “volume tabung”. PadaTahap Refleksi (See), kegiatan refleksi dilakukan di suatu ruangan, dimana guru model dan para observer berkumpul untuk menyampaikan hasil pengamatannya masing- masing. Refleksi di pandu oleh seorang moderator. Kegiatan refleksi ini merupakan tahapan yang merisaukan dan sekaligus menyenangkan karena dari kegiatan ini guru model dapat memperoleh ilmu dan pengalaman yang baru, yang terkait dalam proses belajar mengajar. Sebagai guru model, perlu persiapan fisik maupun mental karena di dampingi oleh para observer, gambaran keberhasilan dalam pelaksanaan pembelajaran yang sudah dilakukan. Demikian juga, guru pengamat akan bisa memberikan masukan terkait dengan kekurangan dan

keberhasilan dari guru model dalam menjalankan skenario pembelajaran yang sudah dibuat bersama-sama tersebut. Dalam kegiatan refleksi ditemukan fakta sebagai berikut.

1. Sebagian besar siswa masih kurang memahami materi perkalian.

2. Siswa yang benar-benar mendengarkan penjelasan guru bisa menjawab pertanyaan yang di berikan dengan benar, sedangkan bagi siswa yang tidak mendengarkan penjelasan guru tidak bisa menjawab pertanyaan dengan baik dan benar.

3. Siswa masih kurang dalam pemahaman kontek bacaan yang terdapat pada lembar aktivitas siswa.

KESIMPULAN

Pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD dilengkapi dengan LKS (menemukan rumus volume tabung dan menyelesaikan soal yang berhubungan dengan volume tabung) dapat meningkatkan antusiasme belajar siswa untuk tercapainya kompetensi dasar berkaitan dengan volume tabung. Siswa juga lebih memahami konsep dan prosedur menentukan volume tabung. Pembelajaran dilakukan dengan berkelompok dengan tipe STAD dapat meningkatkan kreativitas belajar siswa dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

DAFTAR RUJUKAN

Herson L, Benediktus,2013.Pembelajaran Limas Dengan Menggunakan LKS dan Model Limas di SMP N 2 Langke Rebong Kabupaten Manggarai NTT.Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang.

Ma, Herman, 2013. Penerapan Pembelajaran Kooperative Model STAD Berbasis Lesson study Dalam Pembelajaran Sifat Komutatif Penjumlahan dan Perkalian.Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang.

Subanji, 2013. Revitalisasi Pembelajaran Bermakna dan Penerapannya dalam Pembelajaran Matematika Sekolah. Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang.

Subanji, 2013.Pembelajaran Matematika Kreatif dan inovatif. Penerbit Universitas Negeri Malang (UM PRESS )

Sudarto, 2013. Peningkatan hasil belajar siswa, Materi FPB dan KPK Melalui Pembelajaran Kooperative Model Students Team Achievement Division (STAD) Di Kelas IV MIN Tanah Grogoat.Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang. Sulastri, Liliek, 2013.Penerapan Pembelajaran Tipe STAD Untuk Meningkatkan Hasil Belajar

Geometri dan Pengukuran,Siswa SMP 12 Tanjung Jabung Timur.Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang.

AKTIVITAS SISWA MEMAHAMI KONSEP HIMPUNAN