• Tidak ada hasil yang ditemukan

Panduan Memilih Kata

BAGIAN 3 DIKSI (PILIHAN KATA)

3.2 Panduan Memilih Kata

Yunus (2013: 2.4)

Bila kita perhatikan kata-kata yang bercetak miring pada wacana di atas, terdapat kejanggalan dalam pemakaiannya. Kata material secara bentuk tidak tepat digunakan. Mestinya digunakan kata materi; kata kultural sebaiknya digunakan kata kultur; kata kependidikan sebaiknya digunakan kata pendidikan; kata pembasmian sebaknya diganti dengan kata pengentasan atau pemecahan;

dan frasa bermacam-macam pedekatan-pendekatan sebaiknya diganti dengan bermacam pendekatan.

e. Apakah saya tidak menggunakan kata-kata secara berulang sehingga akan membosankan pembaca?

Perlu diketahui, bukan berarti bahwa setiap menggunakan kata dalam menulis, kita harus melakukan kelima pertanyaan di atas. Kelima itu hanya digunakan sebagai rambu-rambu yang akan melengkapi pengetahuan kita dalam menggunakan kata. Proses pemilihan kata tersebut pada dasarnya terjadi secara spontan saja.

Selain lima hal di atas, agar dapat melakukan pemilihan kata dengan benar, seorang penulis juga harus memahami hubungan makna antarkata (sinonim, antonim, polisemi, hiponim, dan homograf), perubahan makna (meluas, menyempit, peorasi, dan ameliorasi), majas (asosiasi, metafora, personifikasi, dan sebagainya).

Dalam pemilihan kata ini, Yunus, dkk. (2013) dan dilengkapi dengan Finoza (2013), mengemukakan, dalam memilih kata, seorang penulis harus memiliki beberapa kemampuan, yaitu:

1. Mampu membedakan kata-kata yang mengandung makna denotatif dan konotatif.

Makna sebuah kata tidak selalu hanya mengacu pada pengertian dasarnya, tetapi juga dapat mengacu pada tautan atau asosiasi kata dengan sesuatu yang lain.

Contoh:

a. Andi sangat suka makan buah jeruk.

b. Ibu Aminah merasa cemas karena buah hatinya belum pulang dari sekolah.

Kita tentu dapat membedakan makna kata buah pada kalimat a dan b di atas. Kata buah pada kalimat a di atas mengandung makna denotasi karena makna yang terkandung dalam kata tersebut merujuk pada jenis buah yang dapat dikonsumsi manusia, sedangkan kata buah pada kalimat b mengandung makna konotasi.

Suatu hal yang perlu diperhatikan oleh penulis adalah batas penggunaan kata-kata konotasi dan denotasi tersebut. Kata-kata denotasi merupakan bahan utama untuk jenis tulisan apa pun, baik ilmiah, nonilmiah, maupun karya fiksi. Akan tetapi, kata-kata konotasi sebaiknya tidak digunakan dalam penulisan karya ilmiah. Sekalipun penulis harus menggunakannya, usahakan penggunaannya tidak mengganggu pemaknaan wacananya.

2. Mampu menggunakan kata-kata yang bersinonim secara cermat.

Setiap kata yang bersinonim mempunyai makna yang khas. Bagamanapun tingginya tingkat kesinoniman sebuah kata dengan kata yang lainnya, tidak ada kata bersinonim yang dapat saling menggantikan dalam setiap konteks kalimat. Artinya, tidak ada kata yang mempunyai persamaan makna

secara mutlak atau obsolut. Nuansa perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh keumuman dan kekhususan jangkauan makna kata tersebut, atau bisa juga disebabkan oleh kandunga emosi atau nilai rasa yang terdapat pada makana kata yang bersinonim tersebut. Seperti kesinoniman kata melihat (makna umum) yang bersinonim dengan kata memandang, memantau, memperhatikan, mengamati, menonton, mengintai, mengintip, dan sebagainya (makna khusus).

Pemakaian kata-kata tersebut tidak bisa saling menggantikan karena ada nilai rasa atau nilai emosi tertentu yang terdapat dalam kata-kata tersebut.

a. “Amir, anak saya yang berumur dua tahun itu, suka sekali mengamati kucing yang sedang menyusui anaknya”, kata Bu Mira.

b. Nanti malam saya mau melihat pertandingan bola di televisi karena ada pertandingan antara Perisib dan Persija.

Kata mengamati pada kalimat a di atas tidak cocok digunakan karena kata tersebut tidak sesuai dengan konteks kalimatnya (orang yang melakukan pengamatan). Seorang anak umur dua tahun tidak mungkin mampu melakukan pengamatan dengan melihat dan menganalisis gejala-gejala yang ada dari prilaku kucing yang sedang menyusui tersebut.

Untuk itu, kata mengamati lebih cocok diganti dengan kata melihat. Pada kalimat b, kata melihat juga

merupakan pemakaian kata yang tidak cocok karena tidak sesuai dengan konteks kalimatnya. Kata yang cocok sebagai pengganti kata melihat pada kalimat tersebut adalah kata menonton.

3. Memahami masalah pergeseran atau perubahan makna kata yang terjadi

Makna sebuah kata dapat saja berubah dari waktu ke waktu. Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal. Di antaranya disebabkan oleh kreatifitas pemakinya supaya tulisannya terasa lebih hidup dan menarik. Kata yang ada diberikan makna yang makin meluas atau menyempit, atau nilai rasa yang positif atau negatif yang dalam buku-buku smantik dikenal dengan nama meluas, menyempit, peyorasi, ameliorasi, metafora, metonemia, dan sinestesia.

Dalam menulis karya tulis, seorang penulis harus memperhatikan makna kata-kata yang dipilih secara cermat. Kata manis misalnya, tidak hanya mengacu pada rasa makanan atau minuman yang dirasakan oleh lidah, tetapi juga mengacu kepada wajah/rupa dan bicara seseorang. Hal ini disebut dengan sinestesia. Contoh lain seperti kata kemerdekaan. Pada masa perjuangan, kata tersebut dimaknai dengan kebebasan suatu negara terhadap cengkraman penjajah. Kini, selain makna tersebut, kata kemerdekaan juga dimaknai dengan kebebasan

berpikir atau berbuat setiap anggota masyarakat dalam berbangsa dan bernegara, atau rasa bebas dari beban dan persoalan yang selama ini terasa membelenggu. Hal inilah yang disebut dengan perluasan makna.

4. Mampu mencermati pemakaian kata-kata teknis dan populer

Istilah kata-kata teknis dan populer dibedakan berdasarkan frekuensi dan lingkup pemakaiannya dalam lapisan masyarkat pemakai bahasa. Kata-kata teknis biasanya digunakan oleh kalangan terpelajar atau dalam ruang lingkup komunikasi yang agak terbatas (bidang keilmuan tertentu) dan bersifat resmi, seperti seminar, diskusi ilmiah, rapat dinas, penulisan makalah, artikel ilmiah, dan laporan penelitian.

Perlu dipahami, sebenarnya batas antara kata populer dan teknis tersebut bersifat relatif.

Maksudnya, pada suatu masa kata-kata tertentu dikelompokkan pada kata-kata teknis. Namun, bila kata-kata tersebut sudah sering digunakan di kalangan masyarakat umum, kata-kata tersebut bergeser menjadi kata-kata populer. Seperti kata frustasi dan partisipasi, yang dahulu merupakan kata-kata teknis, tetapi sekarang sudah bergeser menjadi kata-kata populer karena masyarakat awampun memakai kata-kata tersebut.

Untuk lebih jelasnya, kedua macam kata tersebut dapat dilihat pada senarai kata-kata berikut:

Kata Populer Kata Teknis

alasan argumen

simpulan kongklusi

kuman bakteri, virus

kolot konservatif

terbatas minim

kesempatan/waktu momen

mata uang valuta

perselisihan konflik

pandangan visi

penyesuaian adaptasi

Penulis dituntut untuk bijak dalam memakai kata-kata populer dan kata-kata teknis tersebut. Bila tulisan yang ditulis dimuat dalam jurnal ilmiah, penulis dapat menggunakan kata-kata teknis tersebut. Akan tetapi, apabila tulisan tersebut dimuat dalam media massa yang akan dikonsumsi oleh masyarakat umum, sebaiknya penulis mengurangi pemakaian kata-kata teknis tersebut.

5. Mampu mencermati pemakaian kata-kata umum dan kata-kata khusus

Perbedaan kata-kata umum dan kata-kata khusus dilihat dari ruang lingkup semantiknya.

Semakin luas dan umum jangakauan makna suatu

kata, semakin umum pula sifatnya. Sebaliknya, semakin sempit jangkauan makna suatu kata, semakin khusus pula sifat kata tersebut. Kata umum digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide umum, sedangkan kata khusus digunakan untuk penjabaran jenis unsur-unsur dari gagasan umum tersebut.

Kata logam, merupakan kata umum, sedangkan besi, timah, perak, dan emas, merupakan kata-kata khusus. Selanjutnya kata unggas, merupakan kata umum, sedangkan ayam, burung, bebek, dan angsa merupakan kata-kata khusus. Batas keumuman dan kekhusususan suatu kata bersifat gradual atau bertingkat (Yunus, dkk., 2013). Kata burung, misalnya, lebih khusus dari kata unggas dan lebih umum dari kata punai, marpati, gagak, cendrawasi, dan sejenisnya.

Dari penjelasan tersebut dapat dipahami, semakin umum suatu kata, semakin banyak pula kemungkinan penafsirannya. Sebaliknya, semakin khusus suatu kata, semakin terarah pula pemaknaannya. Meskipun demikian, bukan berarti kita harus selalu menggunakan kata-kata khusus dalam sebuah tulisan. Kata-kata umum tetap diperlukan, seperti dalam membuat klasifikasi dan generalisasi.

6. Mampu mewaspadai penggunaan kata-kata yang belum lazim digunakan

Ketika menulis, kadang-kadang penulis ingin menggunakan kata-kata yang bervariasi. Selain itu, kadang-kadang penulis tidak menemukan kata-kata yang pas dan cocok untuk menyampaikan maksud tertentu. Untuk itu, kadang-kadang penulis menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing yang diindonesiakan sendiri. Pada sisi lain, sekalipun kata yang digunakan itu sudah ada dalam kamus bahasa Indonesia, tapi belum populer digunakan, tentu penulis khawatir memakai kata tersebut karena pembaca akan bingung memahami tulisannya.

Jika penulis terpaksa menggunakan kata-kata yang belum lazim digunakan, penulis dapat menyiasatinya dengan cara berikut:

a. Setelah kita menggunakan kata yang belum populer tersebut, berilah penjelasan dengan menggunakan kata-kata yang maknanya sepadan dengan kata-kata tersebut. Penjelasan tersebut dimuat dalam tanda kurung.

Contoh:

Seorang guru yang baik harus mengetahui ancangan (pendekatan) pembelajaran yang sesuai dengan materi dan kondisi siswanya.

b. Jika penjelasan tersebut cukup panjang sehingga diperkirakan akan mengganggu koherensi

kalimatnya, penulis dapat meletakkannya pada kaki halaman sebagai catatan kaki. Jika begitu halnya, diujung kata tersebut diberi tanda bintang (*) atau angka yang dinaikkan setengah spasi [1), 2), 3) ...]

Contoh:

“Pengentasan kemiskinan seyoyanya tidak sekedar dengan memberikan bantuan modal kepada orang-orang miskin, tetapi juga dengan memberikan keterampilan yang dapat memberdayakan1) dirinya.”

Jika kata memberdayakan belum dikenal oleh khalayak luas, kata tersebut dapat dijelaskan pada kaki halamannya.

1)Kata memberdayakan berasal dari bahasa Inggris, empower. Arti kata tersebut adalah....

7. Mampu mencermati pemakain kata yang baku dan tidak baku

Seorang penulis harus mampu menempatkan kata baku dan tidak baku dalam tulisannya. Dalam tulisan-tulisan yang tidak formal, seperti surat pribadi, penulis tidak dituntut menggunakan kata-kata baku. Akan tetapi, jika surat tersebut berupa surat dinas, penulis dituntut untuk menggunakan kata-kata baku. Begitu juga apabila menulis makalah,

artikel ilmiah, laporan penelitian, penulis dituntut untuk menggunakan kata-kata baku. Penggunaan kata-kata yang tidak baku dalam surat dinas, makalah, laporan penelitian, dan bentuk tulisan formal lainnya, mencerminkan kekurangcermatan penulisnya dalam berbahasa.

8. Mampu membedakan makna kata-kata yang hampir mirip ejaannya

Contoh:

intensif – insentif korporasi – koperasi interferensi – inferensi preposisi – proposisi karton – kartun

9. Mampu menggunakan kata penghubung yang berpasangan secara tepat

Pemakaian yang

Salah Pemakaian yang Benar antara ... dengan ...

tidak ... melainkan ...

bukan ... tetapi ...

baik ... ataupun ...

antara ... dan ...

tidak ... tetapi ...

bukan ... melainkan ...

baik ... maupun ...

10. Mampu menggunakan idiomatik secara tepat

Idiomatik merupakan pasangan kata yang harus selalu muncul bersamaan dalam pemakaian-nya. Artinya, apabila kita menggunakan kata yang satu, harus diikuti oleh kata yang menjadi pasangannya karena kedua kata tersebut memiliki hubungan sangat erat seolah-olah berbentuk idiom, tapi bukan idiom. Pasangan kata tersebut hanya berbentuk frasa.

Contoh:

terdapat pada/dalam/di diperuntukkan bagi bergantung pada bertemu dengan berkenaan dengan dibacakan oleh sesuai dengan diberikan oleh berkaitan dengan sehubungan dengan dibacakan oleh terbuat dari

terdiri atas berangkat ke

berdasar pada tiba/sampai di

Hubungan antara kedua kata tersebut tidak seerat hubungan pasangan kata pada idiom karena kedua kata tersebut masih dapat dijabarkan maknanya satu per satu.

KALIMAT EFEKTIF

4.1 Unsur Kalimat

Unsur-unsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang dalam buku-buku tata bahasa lama disebut jabatan kalimat. Dalam buku-buku tata bahasa baru, istilah tersebut disebut fungsi sintaksis kalimat. Fungsi sintaksis kalimat dalam bahasa Indonesia terdiri atas subjek (S), predikat (P), Objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (K).

Fungsi sintaksis dalam kalimat bahasa Indonesia baku sekurang-kurangnya terdiri atas dua, yaitu S dan P.

Unsur yang lain (O, Pel, dan K), dapat wajib hadir, tidak wajib hadir, dan wajib tidak hadir di dalam kalimat.

Seorang penulis, terutama penulis karya ilmiah, harus memahami dan memperhatikan penggunaan unsur-unsur satuan bentuk yang akan mengisi fungsi S, P, O, Pel, dan K. Satuan bentuk yang akan mengisi fungsi kalimat bukan hanya berbentuk kata, melainkan juga dapat berbentuk frasa atau klausa. Sekedar untuk

Dokumen terkait