• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistematika Artikel Hasil

Dalam dokumen (Suatu Pendekatan pada Penulisan Karya Ilmiah) (Halaman 165-176)

BAGIAN 6 KARYA TULIS ILMIAH

6.5 Sistematiaka Artikel, Makalah, dan

6.5.1 Sistematika Artikel

6.5.1.1 Sistematika Artikel Hasil

Artikel hasil penelitian merupakan sebuah hasil penelitian yang dikemas dalam bentuk artikel. Jenis artikel ini biasanya dipublikasikan melalui majalah ilmiah atau jurnal ilmiah. Artinya, artikel-artikel yang dimuat dalam jurnal ilmiah cenderung berupa artikel hasil penelitian. Bahkan, jurnal tertentu tidak menerima atau memublikasikan artikel yang bukan hasil penelitian.

Apabila sebuah hasil penelitian dikemas dalam bentuk artikel dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, akan bernilai lebih bila dibandingkan dengan hasil penelitian yang hanya ditulis dalam bentuk laporan penelitian. Walaupun laporan hasil penelitian memiliki komponen-komponen yang lebih lengkap dibanding

artikel dalam jurnal, tetapi laporan penelitian biasanya hanya dibaca oleh kalangan terbatas, bahkan lebih ektrim lagi hanya menumpuk di gudang, lapuk, dan dimakan rayap. Sebaliknya, hasil penelitian yang dikemas dalam bentuk artikel, biasanya memuat hal-hal yang penting saja. Apabila artikel tersebut dipublikasikan dalam jurnal, terutama pada jurnal yang terpublikasi secara online, siapa saja di seluruh dunia ini dapat mengakses dan membaca artikel tersebut, sehingga akan lebih bermanfaat.

Berkenaan dengan sistematika artikel hasil penelitian yang akan dipublikasikan, Moleong (2010: 377) mengemukakan sebagai berikut:

1. Judul 2. Abstrak 3. Pendahuluan 4. Materi dan Metode 5. Hasil/Temuan 6. Pembahasan/Diskusi 7. Kepustakaan

Sistematika yang dikemukakan oleh Moleong pada dasarnya tidak berbeda dengan yang dikemukakan oleh Dwiloka dan Rati Riana (2005). Akan tetapi, Dwiloka dan Rati mengemukakannya lebih rinci, seperti berikut ini:

a. Bagian awal, terdiri atas:

1) judul

2) nama penulis

3) abstrak dan kata kunci b. Bagian inti, terdiri atas:

1) pendahuluan 2) metode 3) hasil

4) pembahasan

5) Simpulan dan saran

c. Bagian akhir, yang berisi daftar rujukan

Berikut merupakan penjelasan setiap bagian dari komponen-komponen tersebut:

1. Judul Artikel

Judul artikel hendaklah dirumuskan secara lengkap, informatif, dan tidak terlalu panjang atau terlalu pendek, yakni sekitar 5 s.d. 15 kata. Dalam sebuah rumusan judul harus tergambar variabel-variavel yang diteliti atau kata kunci yang menggambarkan masalah yang diteliti. Oleh sebab itu, dalam perumusan judul karya ilmiah, dalam hal ini artikel ilmiah, dapat dengan cara melontarkan pertanyaan masalah apa, siapa, mengapa, di mana, kapan, dan bagaimana. Akan tetapi, tidak musti semua pertanyaan itu harus tejawab dalam rumusan sebuah judul.

Berikut ini merupakan contoh prosedur perumusan judul dengan mengajukan pertanyaan.

Petama sekali pertanyaan yang kita ajukan adalah masalah apa (yang diteliti). Jawaban untuk hal ini tentu

bermacam-macam, bergantung pada minat, kemampuan, dan bidang ilmu yang ditekuni oleh peneliti. Seseorang yang berkecimpung di bidang pendidikan, akan meneliti masalah seputar pendidikan, seseorang yang menekuni bidang ekonomi akan meneliti seputar ekonomi, dan begitu juga yang menekuni di bidang hukum, pertanian, dan sebagainya. Contoh masalah tersebut adalah:

a. minat belajar b. kinerja

c. kemampuan berbicara

Setelah masalahnya ditentukan, penulis dapat mengajukan pertanyaan mengapa. Jawaban yang dapat dikemukakan untuk pertanyaan ini adalaha:

a. meningkatkan atau peningkatan b. menurun atau penurunan

Dengan dua pertanyaan tersebut dapat dirumuskan judul sementara sebagai berikut:

a. Meningkatkan Minat Belajar b. meningkatkan kinerja

c. Peningkatkan Kemapuan Berbicara

Setelah mengajukan pertanyaan apa dan mengapa, penulis selanjutnya dapat mengajukan pertanyaan siapa (yang diteliti) jika yang diteliti atau subjek penelitiannya manusia. Dengan tiga pertanyaan tersebut, dapat pula dirumuskan judul sementara sebagai berikut:

a. Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas VI SD b. Upaya meningkakan Kinerja Pegawai Negeri Sipil c. Peningkatan Kemampuan Berbicara Siswa Kelas IX

MTsN

Agar karya ilmiah berpijak pada suatu masalah dan luang lingkup yang tidak mengambang, judul tersebut perlu dibatasi pada lokasi atau daerah tertentu.

Untuk itu, perlu diajukan pertanyaan di mana (penelitian tersebut dilakukan). Dengan penambahan unsur lokasi tersebut, dapat pula dirumuskan judul sementara sebagai berikut:

a. Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas VI SD pada Mata Pelajaran Agama Melalui Metode Diskusi di SD 003 Kuok Kebupaten Kampar Tahun 2014

b. Upaya meningkakan Kinerja Pegawai Negeri Sipil Pada Pemerintahan Kota Pekanbaru Provinsi Riau Melalui Motivasi dan Pengembangan Karier Tahun 2016

Judul b tersebut juga dapat dirumuskan dalam bentuk berikut:

Pengaruh Pemberian Motivasi dan Pengembangan Karier terhadap Peningkatan Kinerja Pegawai Negeri Sipil Pada Pemerintahan Kota Pekanbaru Provinsi Riau Tahun 2016

c. Peningkatan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia Siswa Kelas IX MTsN Andalan Pekanbaru Melalui Metode Bermain Peran Tahun 2015

Untuk membuat lingkup kajian yang lebih sempit lagi, pada kajian masalalah tertentu dan dalam bidang tertentu terkadang penulis harus mencantumkan tahun penelitian pada bagian akhir judul tersebut. Hal ini dilakukan apabila simpulan penelitian hanya berlaku untuk tahun tertentu atau tahun dilakukannya penelitian.

Sejalan dengan pola perumusan judul di atas, Arikunto (1992) juga telah mengemukakan bahwa pada rumusan judul penelitian yang lengkap, khususnya penelitian lapangan, harus memuat lima hal, yaitu sifat atau jenis penelitian, subjek penelitian, objek penelitian, lokasi penelitian, dan waktu penelitian (tahun terjadinya penomena yang diteliti).

Bila mengacu pada tiga rumusan judul di atas, tampak bahwa ketiga rumusan judul tersebut telah memenuhi kelima unsur yang disyaratkan dalam rumusan judul penelitian. Sebagai contoh kita mengacu pada judul b seperti berikut:

Sifat atau jenis penelitian : korelatif

Subjek penelitian : pegawai negeri sipil Ojek penelitian : kinerja pegawai

Lokasi penelitian : Pemerintahan kota Pekanbaru Waktu/Tahun penomena yang di teliti : Tahun 2016 Perlu diketahui, tidak semua judul penelitian harus mencantumkan kelima unsur tersebut. Hal ini bergantung pada permasalahan yang diteliti.

2. Nama Penulis

Nama penulis artikel tidak disertai gelar akademik atau gelar apa pun. Jika ada dua nama penulis, hanya nama penulis yang pertama yang dicantumkan di bawah judul, sedangkan nama yang lain ditulis pada catatan kaki (Dwiloka dan Rati Riana, 2005).

3. Abstrak dan Kata Kunci

Abstrak merupakan gambaran keseluruhan isi sebuah laporan penelitian. Abstrak memberi gambaran singkat dan padat tentang ide-ide penting kepada pembaca. Panjang abstrak tidak melebihi 250 kata (Moleong, 2010) dan ditulis dalam satu paragraf. Abstrak diketik dengan spasi tunggal dengan marjin kiri dan kanan 5,2 cm (Dwiloka dan Rati Riana, 2005).

Adapun komponen yang dimuat dalam abstrak adalah sebagai berikut:

1. Gambaran singkat latar belakang masalah 2. Tujuan penelitian,

3. Menguraikan metodologi yang digunakan (subjek, objek, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis) atau sesuaikan dengan jenis penelitiannya,

4. Ikhtisar hasil temuan, dan

5. Simpulan yang sesuai dengan rumusan masalah Seluruh aspek tersebut harus disusun dengan bahasa yang mengalir sehing terjalin dalam satu konstruksi alinea yang koheren.

Abstrak biasanya juga disertai dengan kata kunci.

Kata kunci merupakan kata pokok yang menggambarkan bagian masalah yang diteliti. Kata kunci dapat berbentuk kata tunggal atau gabungan kata (frasa). Jumlah kata kunci berkisar 3 s.d. 5 kata.

4. Pendahuluan

Bagian pendahuluan dalam karya ilmiah merupakan bagian yang mengungkapkan posisi suatu masalah dan perlu dilakukannya kajian tersebut.

Kongkritnya, sebuah pendahuluan dalam artikel ilmiah memuat kepustakaan yang relevan untuk mengarahkan perhatian pembaca secara teoretis. Jumlah rujukan pada bagian ini harus proporsional (tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit).

Unsur lain yang biasanya dimuat dalam pendahuluan adalah gambaran kondisi empiris yang terjadi di lapangan. Bagian ini menggambarkan ketimpangan-ketimbangan antara ketentuan dengan kenyataan, sehingga terjadi kesenjangan. Hal inilah yang disebut dengan masalah yang perlu dicari pemecahannya melalui sebuah penelitian. Masalah tersebut terkadang dikongkritkan dalam bentuk sebuah rumusan kalimat tanya.

Paparan ketimpangan tersebut, biasanya diikuti oleh uraian-uraian yang mengemukakan mengapa masalah tersebut penting untuk dikaji atau diteliti, baik yang berimplikasi terhadap perkembangan ilmu

pengetahuan, kemaslahatan umat, maupun terhadap pembangunan.

Secara tegas Moleong (2010: 378) mengemukakan, bahwa dalam menulis pendahuluan sebuah artikel ilmiah disarankan memuat hal-hal berikut:

1. harus mengemukakan hakikat dan lingkup masalah yang diteliti secara jelas;

2. harus mereview kepustakaan tekait, terutama yang bersumber dari jurnal. Hal ini berguna untuk mengarahkan pembaca;

3. menguraikan keadaan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini;

4. harus menyatakan metode yang digunakan dalam penelitian, beserta alasan pemilihan metode tersebut;

5. harus menyatakan temuan pokok dalam penelitian terdahulu.

5. Metode

Uraian yang dimuat pada bagian ini pada dasarnya merupakan hal-hal yang berkenaan dengan bagaimana penelitian itu di lakukan. Uraian dapat disajikan dalam beberapa paragraf tanpa dipilah-pilah menjadi beberapa subbagian. Dengan kata lain, subbagian tersebut disajikan langsung dalam bentuk alinea.

Apabila artikel tersebut merupakan hasil penelitian lapangan yang bebentuk kualitatif, materi pokok yang disajikan pada bagian metode ini adalah dimana penelitian tersebut dilakukan, bagaimana data dikumpulkan, apa atau

siapa sumber datanya, dan bagaimana data tersebut dianalisis.

Sebaliknya, jika artikel terbut berupa hasil penelitian lapangan yang berbentuk kuantitatif, materi pokok yang perlu disajikan adalah dimana penelitian tersebut dilakukan, subjek dan objek penelitian, populasi dan sampel, bagaimana data dikumpulkan dan bagaimana data tersebut dianalisis.

6. Hasil

Bagian ini merupakan bagian utama dari sebuah tulisan ilmiah, termasuk juga artikel. Bagian ini mengemukakan data yang sudah diperoleh melalui penelitian. Penyajian data juga dapat dilengkapi dengan gambaran tabel-tabel agar uraian tampak lebih jelas dan mudah dipahami. Bagian ini secara jelas juga menyatakan temuan penelitian yang diperoleh. Penulis tidak boleh melakukan interpretasi terhadap data pada bagian ini.

Jika tidak begitu panjang, bagian ini dapat saja digabungkan dengan bagian pembahasan.

7. Pembahasan

Bagian pembahasan merupakan bagian terpenting dari keseluruhan isi artikel ilmiah. Menurut Dwiloka dan Rati Riana (2005), tujuan pembahasan adalah (1) menjawab masalah penelitian atau melihat apakah tujuan penelitian sudah tercapai, (2) menafsirkan temuan-temuan. Dalam menafsirkan temuan-temuan tersebut harus berdasarkan logika dan teori-teori yang relevan.

Umpamanya ditemukan adanya korelasi antara

ditafsirkan dari teori yang mengatakan bahwa lingkungan dapat memberikan masukan mematangkan proses kognitif anak, dan (3) mengintegrasikan temuan penelitian ke dalam kumpulan pengetahuan yang sudah mapan. Hal ini dilakukan dengan cara membandingkan temuan baru dengan temuan sebelumnya, dengan teori yang ada, atau dengan kenyataan di lapangan (kenyataan empiris); dan (4) menyusun teori baru atau memodifikasi teori yang ada.

8. Simpulan dan Saran

Simpulan merupakan pernyataan sebagai jawaban dari rumusan masalah. Penyajian bagian ini harus sejalan dengan bagian pendahuluan dan pembahasan sebuah tulisan (Kusmana, 2012). Apabila penelitiannya menggunakan pendekatan kuantitatif, pada bagian ini penulis tidak lagi menyajikan angka-angka pembuktian.

Dengan kata lain, bagian ini penulis hanya mengemukakan makana dari setiap pembuktian hipotesis sebagai jawaban dari rumusan masalah penelitian.

Bagian saran dalam karya ilmiah merupakan rekomendasi dari penelitian. Saran yang disajikan harus berdasarkan simpulan penelitian. Artinya, saran yang dikemukakan bukan berupa pendapat atau pemikiran penulis terhadap suatu fenomena, melainkan berupa tindak lanjut dari penyelesaian suatu permasalahan yang belum tuntas dan perlu di teliti lebih lanjut oleh peneliti berikutnya.

9. Daftar Rujukan

Daftar rujukan harus lengkap dan sesuai dengan rujukan yang dipakai dalam batang tubuh tulisan.

Artinya, buku-buku yang tidak dirujuk dalam batang tubuh tulisan tidak boleh dikemukakan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, buku-buku yang dirujuk dan disajikan dalam penulisan batang tubuh tulisan, tidak boleh ada yang tertinggal pada penulisa daftar rujukan.

Dalam dokumen (Suatu Pendekatan pada Penulisan Karya Ilmiah) (Halaman 165-176)

Dokumen terkait