• Tidak ada hasil yang ditemukan

(Suatu Pendekatan pada Penulisan Karya Ilmiah)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "(Suatu Pendekatan pada Penulisan Karya Ilmiah)"

Copied!
209
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Bahasa Indonesia Versi Mahasiswa Nonjurusan Bahasa Indonesia

(Suatu Pendekatan pada Penulisan Karya Ilmiah)

(3)

Sanksi Pelanggaran Pasal 72:

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor:

12 tahun 1997 Tentang Hak Cipta

1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(4)

Bahasa Indonesia Versi Mahasiswa Nonjurusan Bahasa Indonesia

(Suatu Pendekatan pada Penulisan Karya Ilmiah)

(5)

Bahasa Indonesia Versi Mahasiswa

Nonjurusan Bahasa Indonesia

(Suatu Pendekatan pada Penulisan Karya Ilmiah)

Penulis : Dr. Martius, M. Hum.

Tata Letak : Andik April dan Dewi ISBN: 978-602-6302-38-0

Cetakan 1, 2017 Cetakan 2, 2018 Penerbit : Asa Riau Jl. Kapas No 16 Rejosari,

Kode Pos 28281 Pekanbaru - Riau e-mail: [email protected]

Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang dan dilarang memperbanyak buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

(6)

PRAKATA

Puji Syukur penulis sampaikan kehadhirat Allah Swt. karena atas limpahan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan buku ini tampa menghadapi kendala yang berarti.

Buku ini merupakan buku materi bahasa Indonesia yang lebih mengarah pada tuntunan untuk penulisan karya ilmiah. Selain berisi materi mengenai bahasa Inonesia untuk mahasiswa non-Jurusan Bahasa Indonesia, buku ini secara sederhana juga memuat materi tentang penulisan karya ilmiah. Dengan demikian, buku ini juga dapat dipakai oleh siapa pun yang sedang menulis karya ilmiah, baik karya ilmiah akademik, seperti makalah, skripsi, dan disertasi, maupun karya ilmiah pengembangan, seperti laporan penelitian.

Secara keseluruhan, buku ini tidak lain merupakan refleksi dari beberapa buku yang ditulis oleh penulis-penulis terdahulu. Oleh sebab itu, beberapa bagian dalam buku ini berisikan karya Finoza, Dwiloka dan Rati Riana, Wardani dkk., Moliong, Keraf, Yunus, Wijayanti dkk, dan para penulis lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu dalam tulisan ini.

(7)

Buku ini tidak akan tercipta jika tidak ada dorongan dari berbagai pihak. Pihak yang paling banyak memberikan dorongon untuk penyelesaian buku ini adalah istri tercinta Ernitati, S.E., M.M. dan Kedua Putra Kami Deo Mursyid Marent dan Rayhan Beyhaqi Marent, beserta Ibunda tercinta kami Hj. Halimah Yunus.

Penulis Menyadari bahwa buku ini belum sepenuhnya dapat mengakomodir apa yang diharapkan pembaca karena masih terdapat berbagai kelemahan di luar jangkauan kemampuan penulis. Untuk itu, kiritik dan saran dari berbagai pihak, demi kesempurnaan penulisan buku ini, penulis terima dengan senang hati.

Namun, dibalik ketidaksempurnaan tersebut, penulis berharap buku ini tetap bermanfaat bagi para pembaca yang membutuhkannya.

Pekanbaru, Juni 2017

Dr. Martius, M. Hum.

(8)

DAFTAR ISI

PRAKATA ... v

DAFTAR ISI ... vii

BAGIAN 1 HAKIKAT BAHASA (PENGERTIAN FUNGSI, LARAS DAN RAGAM BAHASA) ... 1

1.1 Pengertian Bahasa ... 1

1.2 Fungsi Bahasa ... 2

1.3 Ragam Bahasa dan Laras Bahasa ... 11

BAGIAN 2 EAJAAN YANG DISEMPURNAKAN .... 15

2.1 Pendahuluan ... 15

2.2 Ruang Lingkup Kajian Ejaan Yang Disempurnakan ... 17

2.2.1 Pemakaian Huruf ... 20

A. Huruf Kapital ... 20

B. Huruf Miring... 32

C. Huruf Tebal ... 34

2.2.2 Penulisan Kata ... 36

A. Kata Dasar ... 36

B. Kata Turunan ... 36

C. Bentuk Ulang ... 40

D. Gabungan Kata ... 42

E. Kata Depan di, ke, dan dari ... 43

F. Singkatan dan Akronim ... 44

2.2.3 Pemakaian Tanda Baca ... 48

(9)

A. Tanda Titik (.) ... 48

B. Tanda Koma (,) ... 54

C. Tanda Titik Koma (;) ... 61

D. Tanda Titik Dua (:) ... 62

E. Tanda Hubung (-) ... 64

BAGIAN 3 DIKSI (PILIHAN KATA) ... 67

3.1 Konsep Pilihan Kata ... 67

3.2 Panduan Memilih Kata ... 72

BAGIAN 4 KALIMAT EFEKTIF ... 85

4.1 Unsur Kalimat ... 85

4.1.1 Fungsi Subjek ... 86

4.1.2 Fungsi Predikat ... 87

4.1.3 Fungsi Objek ... 89

4.1.4 Fungsi Pelengkap ... 90

4.1.5 Fungsi Keterangan ... 92

4.2 Kalimat Efektif ... 94

4.2.1 Pengertian ... 94

4.2.2 Syarat-Syarat Kalimat Efektif ... 95

BAGIAN 5 PARAGRAF ... 105

5.1 Pengertian ... 105

5.2 Fungsi Paragraf ... 106

5.3 Unsur-Unsur Pembangun Paragraf ... 107

5.3.1 Kalimat Topik ... 108

5.3.2 Kalimat Penjelas ... 109

5.4 Syarat-Syarat Membangun Paragraf ... 113

(10)

5.4.1 Kesatuan (Kohesi) ... 113

5.4.2 Kepaduan (Koherensi)... 114

5.5 Jenis Paragraf ... 126

5.5.1 Jenis Paragraf Berdasarkan Posisi Kalimat Utama ... 127

5.5.2 Jenis Paragraf Berdasarkan Sifat Isinya ... 130

5.5.3 Jenis Paragraf Berdasarkan Fungsinya dalam Tulisan ... 136

BAGIAN 6 KARYA TULIS ILMIAH ... 141

6.1 Posisi Karya Ilmiah Dilihat dari Karya Tulis Lainnya ... 141

6.2 Pengertian Karya Tulis Ilmiah ... 144

6.3 Ciri-Ciri Karya Tulis Ilmiah ... 147

6.4 Jenis-Jenis Karya Ilmiah ... 147

6.5 Sistematiaka Artikel, Makalah, dan Skripsi/Laporan Penelitian ... 153

6.5.1 Sistematika Artikel ... 154

6.5.1.1 Sistematika Artikel Hasil Penelitian ... 154

6.5.1.2 Sistematika Artikel Nonhasil Penelitian ... 165

6.5.2 Sistematika Makalah ... 167

6.5.3 Sistematika Skripsi/Laporan Penelitian ... 168

6.5.3.1 Penelitian Kuantitatif ... 169

6.5.3.2 Penelitian Kualitatif ... 171

(11)

BAGIAN 7 TEKNIKS PENULISAN KARYA

ILMIAH ... 175

7.1 Margin ... 175

7.2 Penomoran Halaman ... 175

7.3 Spasi Pengetikan ... 176

7.4 Kutipan ... 176

7.4.1 Tujuan Membuat Kutipan ... 176

7.4.2 Jenis Kutipan ... 177

7.4.3 Cara Penulisan Kutipan ... 178

7.5 Catatan Kaki (Foot notes) ... 180

7.5.1 Jenis Catatan Kaki ... 181

7.5.2 Cara Membuat Catatan Kaki ... 182

7.5.3 Teknis Penulisan Catatan Kaki ... 183

7.5.4 Beberapa Contoh Bentuk Catatan Kaki ... 184

7.5.5 Singkatan-Singkatan dalam Catatan Kaki . 188 7.5.6 Penerapan Catatan Kaki dan Singkatan- singkatannya ... 190

7.6 Daftar Pustaka ... 191

7.6.1 Pengertian Daftar Pustaka ... 191

7.6.2 Unsur-Unsur Dalam Menyusun Daftar Pustaka ... 191

7.6.3 Cara Membuat Daftar Pustaka ... 192

7.6.4 Beberapa Contoh Bentuk Daftar Pustaka .. 194

DAFTAR PUSTAKA ... 196

(12)

HAKIKAT BAHASA

(PENGERTIAN, FUNGSI, RAGAM DAN LARAS BAHASA)

1.1 Pengertian Bahasa

Bila merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, akan ditemukan, bahwa kata bahasa memiliki pemahaman sebagai, “Sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri” (Pusat Bahasa, 2014: 116). Namun, kata bahasa tersebut dalam bahasa Indonesia memiliki banyak arti atau pemahaman.

Untuk melihat makna kata bahasa tersebut, dapat dicermati melalui beberapa kalimat berikut:

(1) Reyhan belajar bahasa Arab, sedangkan Deo belajar bahasa Indonesia.

(2) “Kamu jangan berkawan dengan anak yang tidak tahu bahasa itu!” kata ibu kepada Iwan.

(3) Manusia mempunyai bahasa, sedangkan binatang tidak.

BAGIAN 1

(13)

(4) Dalam menangani kasus tersebut, polisi dan satpol PP tidak memiliki bahasa yang sama.

(5) Pertikaian itu tidak bisa diselesaikan dengan bahasa militer.

(6) Ketika berpidato, bahasa Pak Saleh selalu mengguna- kan kata ya toh.

Kata bahasa pada kalimat (1) jelas merujuk atau menunjukkan bahasa tertentu. Saussure dalam (Chaer, 2012) menyebutnya dengan istilah langue; pada kalimat (2) kata bahasa berarti sopan-santun; kata bahasa pada kalimat (3) berarti bahasa pada umumnya, yang disebut dengan istilah langage ; Pada kalimat (4) kata bahasa berarti kebijakan dalam bertindak; pada kalimat (5) kata bahasa berarti ‘dengan cara’; dan pada kalimat (6) kata bahasa berarti ujarannya, yang disebut dengan istilah parole (Saussure dalam Chaer, 2012). Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa kata bahasa pada kalimat (1), (3), dan (6) merupakan kata yang digunakan secara harfiah, sedangkan pada kalimat lain digunakan secara kias (Chaer, 2012: 30-31).

1.2 Fungsi Bahasa

Dalam beberapa literatur bahasa, para ahli merumuskan, ada empat fungsi bahasa secara umum, yaitu:

1. sebagai alat mengekspresikan diri;

2. sebagai alat komunikasi;

(14)

3. sebagai alat berinteraksi dan adaptasi social;

4. sebagai alat kontrol sosial (Keraf, 1989: 3).

Bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri dapat dilihat pada seorang anak. Ketika seorang anak merasa lapar atau sakit mungkin dia akan menangis atau mengeluarkan kata atit; ketika dia kenyang, mungkin dia akan tertawa. Ini merupakan ungkapan bahasa nonverbal yang bertujuan untuk mengekspresikan dirinya agar apa yang dirasakannya dapat diketahui oleh orang sekitarnya. Bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, juga dapat kita lihat pada orang dewasa. Ketika seseorang menulis puisi, pada dasarnya karya puisi tersebut merupakan ungkapan ekspresi diri. Pada saat menulis puisinya, penulis tidak memikirkan siapa yang akan membaca puisi tersebut. Apakah puisinya dapat dipahami orang atau tidak, yang penting dia berkarya dan mengekspresikan dirinya.

Selain sebagai alat mengekpresikan diri, bahasa juga berfungsi sebagai alat komunikasi. Ketika sudah beranjak besar, anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Dengan kata lain, komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan berjalan sempurna apabila ekspresi diri kita tidak dipahami oleh orang lain, misalnya ketika kita menyampaikan penderitaan kita kepada orang lain

(15)

sambil tertawa atau ekspresi senang. Orang akan bingung memahami apa yang kita sampaikan.

Ketika kita menggunakan bahasa sebagai alat kumunikasi, kita sudah tahu siapa lawan komuniksi kita, baik komunikasi lisan maupun komunikasi tertulis. Oleh sebab itu, kita dapat memilih kata-kata yang sesuai dengan tingkat pengetahuan lawan komunikasi kita. Hal ini bertujuan agar komunikasi kita berjalan lancar dan komunikatif.

Dalam berkomunikasi, kita juga memiliki tujuan tertentu. Kita ingin apa yang kita komunikasikan dapat dipahami oleh orang lain sehingga tujuan kita berkomunikasi dapat tercapai. Kita ingin menyampaikan gagasan kepada orang lain agar orang tersebut dapat menerima gagasan kita dengan mudah. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita.

Dengan bahasa, kita juga dapat mempengaruhi orang lain dengan mudah. Semua itu mencerminkan fungsi bahasa dalam ranah sebagai alat komunikasi.

Bahasa dalam fungsi ekspresi diri dan alat komunikasi sudah dapat dipahami sepenuhnya. Selain itu, bahasa juga dapat berfungsi sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Sebagai alat integrasi, dapat dilihat pada fungsi bahasa sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia.

Melalui bahasa, anggota-anggota suatu masyarakat dapat dipersatukan secara efisien. Melalui bahasa sebagai alat komunikasi, akan memberi efek yang lebih jauh yang akan memungkin setiap orang untuk merasa dirinya

(16)

terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya.

Dengan demikian, integritas sesama pemakai bahasa yang sama akan lebih kuat.

Ketika kita beradaptasi dengan kelompok masyarakat atau lingkungan sosial tertentu, kita akan menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan bahasa masyarakat tersebut. Kita akan menggunakan bahasa baku untuk tulisan ilmiah. Kita akan menggunakan bahasa formal untuk situasi yang bersifat formal. Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan teman sebaya akan berbeda dengan berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Hal itu bertujuan agar proses adaptasi dengan kelompok sosial tersebut berlangsung dengan baik.

Selain tiga fungsi yang telah dijelaskan terdahulu, bahasa juga berfungsi sebagai alat kontrol sosial. Funngsi ini antara lain dapat kita lihat pada penggunaan bahasa pada orasi ilmiah, pidato politik, dan ceramah agama.

Buku-buku pelajaran, buku-buku instruksi, dan buku- buku agama juga merupakan bentuk penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang akan menunjang perkembangan cara berpikir kita, sikap hidup, dan pandangan hidup kita.

Di samping empat fungsi terdahulu, (Finoza, 2013:

2–3) menambahkan satu fungsi lagi, yaitu sebagai alat berpikir. Fungsi bahasa sebagai alat bepikir, selama ini kurang disadari oleh masyarakat. Seperti yang kita ketahui, ilmu tentang cara berpikir adalah logika. Dalam

(17)

proses berpikir bahasa selalu hadir bersama logika untuk merumuskan konsep, proposisi, dan simpulan. Segala kegiatan yang menyangkut penghitungan atau kalkulasi, pembahasan atau analisis, bahkan berangan-angan atau berkhayal, dimungkinkan berlangsung hanya dengan menggunakan bahasa.

Sejalan dengan uraian terdahulu dapat diformulasikan, makin tinggi kemampuan berbahasa seseorang, makin tinggi pula kemampuan berpikirnya;

makin teratur bahasa seseorang, makin teratur pula cara berpikirnya. Dengan demikian, seseorang tidak mungkin menjadi intelektual tanpa menguasai bahasa. Seorang itelektual pasti berpikir, dan proses berpikir pasti memerlukan bahasa.

Apa yang disampaikan oleh Finoza tersebut tidak dipungkiri karena hal tersebut memang merupakan realita dalam kehidupan manusia. Namun, lebih jauh lagi penulis berpendapat, bahwa antara bahasa dan berpikir merupakan dua hal bersifat mutualisme. Artinya, ketika manusia berpikir, manusia memerlukan bahasa;

sebaliknya, ketika manusia berbahasa manusia perlu berpikir.

Selain fungsi bahasa secara umum yang sudah dipaparkan sebelumnya, terdapat pula fungsi bahasa Indonesia yang dilihat secara khusus. Dalam melihat fungsi bahasa Indonesia ini, Chaer (2011: 2), dalam pemaparannya tidak membedakan dan tidak memilah antara fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional

(18)

dan fungasi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.

Dalam penjelasannya, Chaer menetapkan fungsi tersebut sebagai berikut:

1. Alat untuk menjalankan andmistrasi negara. Ini berarti, segala kegiatan administrasi kenegaraan, seperti surat-menyurat dinas, rapat-rapat dinas, pendidikan, dan sebagainya, harus diselenggarakan dengan menggunakan bahasa Indonesia;

2. Alat pemersatu pelbagai suku bangsa di Indonesia.

Aktivitas komunikasi yang berlansung di antara anggota masyarakat yang berasal dari berbagai suku bangsa, relatif tidak mungkin berlangsung dengan baik dengan menggunakan salah satu bahasa daerah komunikan. Oleh sebab itu, menggunakan bahasa Indonesia akan lebih efektif dalam situasi tersebut karena bahasa Indonesia merupakan bahasa nasinal yang berfungsi sebagai alat perhubungan antarbudaya dan antardaerah;

3. Untuk menampung kebudayaan nasional. Kebuyaan daerah dapat ditampung dengan media bahasa daerah, tetapi kebudayaan nasional Indononesia dapat dan harus ditampung dengan media bahasa Indonesia.

Berbeda dengan paparan dalam buku Chaer, Finoza (2013: 3-5) mengemukakan, selain fungsi umum tersebut, ada dua fungsi khusus bahasa Indonesia yang

(19)

perlu kita ketahui, yaitu (1) sebagai bahasa nasional dan (2) sebagai bahasa negara.

Dalam Keputusan Seminar Politik Bahasa Nasional, ditegaskan, sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:

1. lambang kebanggaan nasional;

2. lambang identitas nasional;

3. alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budayanya;

4. alat perhubungan antarbudaya dan antardaerah (Halim, 1979 dalam Finoza, 2013: 3).

Sebagai lambang kebanggaan nasional, bahasa Indonesia harus mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebanggaan kita. Atas rasa kebanggaan ini, bahasa Indonesia kita pelihara dan kita kembangkan, dan rasa kebanggaan memakainya senentiasa kita pupuk.

Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia kita junjung tinggi, di samping menjunjung tinggi bendera dan lambang negara kita. Dalam melaksanakan fungsi ini, bahasa Indonesia tentu harus memiliki identitas. Bahasa Indonesia akan memiliki identitas apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga bersih dari unsur-unsur bahasa lain, terutama bahasa Inggris, yang sebisa mungkin tidak digunakan jika tidak benar- benar diperlukan.

(20)

Selanjutnya, sebagai alat pemersatu antara berbagai suku bangsa yang berbeda latar belakang sosial budaya dan bahasa, bahasa indonesia akan membawa bangsa Indonesia ke dalam satu kesatuan kebangsaan yang bulat.

Dalam hubungan ini, bahasa Indonesia mendukung berbagai suku bangsa untuk mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatu dengan tidak perlu meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan pada nilai-nilai sosial, budaya, dan bahasa daerah masing- masing.

Fungsi bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional, yang keempat adalah sebagai alat penghubung antarwarga, antardaerah, dan antarsuku bangsa. Berkat adanya bahasa nasional, kita bisa berkomunikasi dan berinteraksi antara yang satu dengan yang lainnya sedemikian rupa sehingga kesalahpahaman sebagai akibat perbedaan latar belakang sosial budaya dan bahasa dapat dihindari.

Fungsi bahasa Indonesia secara khusus yang kedua adalah sebagai bahasa negara. Hal ini tercermin dalam salah satu ikrar Sumpah Pemuda tahun 1928 yang berbunyi, “Kami poetra dan poetri Indonesia menjoenjoenng bahasa persatuan, bahasa Indonesia” dan UUD 1945, pasal 36 yang di dalamnya dinyatakan, “ Bahasa negara adalah bahasa Indonesia.” Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:

(21)

1. bahasa resmi kenegaraan;

2. bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga Pendidikan;

3. bahasa resmi dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan;

4. bahasa resmi dalam pembangunan kebudayaan dan pemanfaatan pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.

Sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa Indonesia dipakai dalam segala upacara dan kegiatan kenegaraan, baik dalam bentuk lisan maupun tertulis. Termasuk di dalamnya adalah penulisan dokumen-dokumen kenegaraan, keputusan-keputusan, pidato-pidato kenegaraan, dan surat-surat yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah.

Dalam fungsi kedua, yakni sebagai bahasa pengantar pada lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak sampai ke perguruan tinggi di seluruh Indonesia, termasuk sekolah-sekolah Indonesia di luar negeri.

Fungsi ketiga, sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia merupakan alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional dan untuk kepentingan pelaksanaan pemerintahan. Dalam hubungan ini, bahahasa Indonesia bukan hanya sebagai alat komunikasi timbal balik antara pemerintah dan

(22)

masyarakat luas, bukan saja sebagai alat perhubungan antardaerah dan antarsuku, melainkan juga sebagai alat perhubungan di dalam masyarakat yang sama latar belakang sosial dan budayannya.

Selanjutnya, fungsi keempat, dalam hal ini sebagai alat pengembangan kebudayaan nasional, ilmu pengetahuan, dan teknologi, bahasa Indonesia dapat menjadi alat untuk pembina dan mengembangkan kebudayaan nasional, termasuk sebagai alat untuk menyatakan nilai-nilai sosial budaya nasional kita.

1.3 Ragam Bahasa dan Laras Bahasa

Sebagian ahli bahasa, seperti Sugono (2009), menyamakan antara istilah ragam bahasa dan laras bahasa.

Namun, ada juga yang membedakan antara kedua hal tersebut, salah satu di antaranya adalan Finoza. Menurut Finoza (2013: 5 – 6) ragam bahasa adalah variasi bahasa yang terjadi karena pemakaian bahasa, sedangkan laras bahasa adalah kesesuaian antara bahasa yang dipakai dan fungsi pemakaiannya.

Ragam bahasa dapat dilihat berdasarkan media pengantar atau cara berkomunikasinya dan situasi pemakainya. Berdasarkan media pengantar atau cara berkomunikasinya, ragam bahasa dapat diklasifikasikan atas dua macam, yaitu (1) ragam lisan dan (2) ragam tulis, sedangkan berdasarkan situasi pemakainya, ragam bahasa dapat diklasifikasikan atas tiga macam, yaitu (1)

(23)

ragam formal, (2) ragam semiformal, dan (3) ragam nonformal. Lihat bagan berikut ini.

Bagan 1

Bagan Ragam Bahasa

Sumber : Utorodewo dkk. dalam Finoza (2013: 6)

Pada bagan tersebut dapat dipahami bahwa jumlah ragam bahasa hanya ada lima, yaitu (1) ragam lisan, (2) ragam tulis, (3) ragam formal, (4) ragam semiformal, dan (5) ragam nonformal. Jika ada istilah lain yang berhubungan dengan variasi penggunaan bahasa, sebaiknya tidak disebut sebagai ragam bahasa, tetapi disebut sebagai laras bahasa. Dengan demikian, tidak ada sebutan bahasa ragam sastra, ragam jurnalistik, ragam ilmiah, ragam hukum, dan sebagainya. Untuk penyebutan hal tersebut sebainnya digunakan dengan

(1) Ragam lisan (2) Ragam tulis

Ragam bahasa

(1) Ragam formal (2) Ragam semiformal (3) Ragam nonformal Berdasarkan

media pengantar/

cara berkomunika- sinya

Berdasarkan situasi pemakaiannya

(24)

sebutan laras sastra, laras jurnalistik, laras ilmiah, dan laras hukum.

Laras bahasa adalah kesesuaian antara bahasa yang dipakai dengan fungsi pemakaian bahasa tersebut (Finoza, 2013: 6). Bahasa yang dipakai dalam bidang sastra disebut laras sastra, bahasa yang dipakai dalam bidang hukum disebut laras hukum, bahasa yang dipakai dalam jurnalisti disebut ragam jurnalistik, dan bahasa yang dipakai dalam penulisan karya ilmiah disebut laras ilmiah.

Berkenaan dengan ragam lisan dan ragam tulis yang disebutkan terdahulu, terdapat beberapa perbedaan antara kedua ragam tersebut. Perbedaannya adalah sebagai berikut:

1) Ragam lisan menghendaki adanya lawan tutur yang secara langsung dalam satu waktu siap untuk mendengar apa yang dituturkan oleh penutur, sedangkan ragam tulis tidak selalu memerlukan lawan komunikasi secara langsung dalam satu waktu;

2) Pada ragam lisan, unsur fungsi gramatikal seperti subjek, predikat, objek, dan keterangan, tidak selalu diucapkan dengan kata. Unsur- unsur tersebut, sering dinyatakan dengan gerak tubuh dan mimik wajah. Pada ragam tulis, unsur-unsur fungsi kalimat tersebut harus dinyatakan secara eksplisit. Hal ini dilakukan

(25)

agar pembaca dapat memahami tulisannya secara jelas, lengkap, dan pasti;

3) Ragam lisan terikat pada situasi, kondisi, ruang, dan waktu, sedangkan ragam tulis tidak terikat kepada keempat hal tersebut;

4) Pada ragam lisan, isi atau makna dipengaruhi oleh nada pengucapan, seperti tinggi, rendah, panjang, dan pendek pengucapan, sedangkan pada ragam tulis, makna sangat ditentukan oleh pemakaian tanda baca.

(26)

EJAAN YANG DISEMPURNAKAN

2.1 Pendahuluan

Ejaan merupakan seperangkat aturan tentang tata cara penulisan lambang bunyi ujaran, penulisan kata, dan penggunaan tanda baca. Batasan tersebut menunjukkan, bahwa kata ejaan berbeda maknanya dengan mengeja.

Dalam kamus KBBI (2014) disebutkan, bahwa mengeja merupakan proses pelafalan huruf atau suku kata satu demi satu, sedangkan ejaan adalah seperangkat aturan yang jauh lebih komplit dari sekadar masalah pelapalan bunyi ujaran.

Lahirnya ejaan yang berlaku di Indonesia sekarang ini, yang dinamakan Ejaan yang Disempurnakan (EYD), berawal dari beberapa jenis ejaan aksara latin yang pernah ada di Indonesia sebelumnya. Ejaan yang dimaksud adalah:

a. Ejaan van Ophuysen, yang disusun oleh Ch. A. van Ophuysen. Ejaan ini merupakan ejaan Latin resmi

BAGIAN 2

(27)

pertama di Indonesia untuk bahasa Melayu yang dimuat dalam Kitab Loghat Melayoe. Ejaan van Ophuysen dibelakukan mulai tahun 1901 s.d.1947.

b. Ejaan Soewandi atau Ejaan Republik, yang merupakan penyempurnaan dari ejaan van Ophuysen. Nama ejaan Soewandi berasal dari nama Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan yang menandatangani surat keputusan penggunaan ejaan Republik tersebut.

Ejaan ini diberlakukan sejak surat keputusan tersebut ditandatangani, yaitu tanggal 19 Maret 1947.

c. Ejaan Pembaharuan, merupakan ejaan yang dirancang oleh sebuah panitia yang diketuai oleh Prijono dan E.

Katoppo pada tahun 1957. Ejaan ini merupakan hasil keputusan Konggres Bahasa Indonesia II di Medan.

Sistem ejaan ini tidak pernah diberlakukan.

d. Ejaan Malindo (Melayu Indonesia), yang merupakan hasil usaha penyatuan sistem ejaan huruf Latin di Indonesia dan sistem ejaan huruf latin di Persekutuan Tanah Melayu pada tahu 1959. Sitem ejaan ini tidak pernah di berlakukan.

Jadi, dari lima bentuk ejaan yang pernah ada, hanya tiga ejaan yang pernah diberlakukan, yaitu Ejaan van Ophuysen, Ejaan Soewandi, dan Ejaan yang Disempur- nakan.

Sekedar untuk mendapatkan gambaran peruba- han ejaan van Ophuysen ke ejaan Soewandi dan ejaan Soewandi ke Ejaan Yang Disempurnakan dapat dilihat pada kutipan kata pada tabel berikut.

(28)

Tabel 1

Perubahan Pemakaian Huruf dalam Tiga Ejaan Bahasa Indonesia

Ejaan van Ophuysen (1901- 1947)

Ejaan Soewandi (1947 - 1972

Ejaan yang Disempurnakan

(EYD) (mulai 16 Agustus

1972

choesoes chusus khusus

Djoem’at Djum’at Jumat

ja’ni jakni yakni

pajoeng pajung payung

tjoetjoe tjutju cucu

soenji sunji sunji

(Finoza, 2013:20)

2.2 Ruang Lingkup Kajian Ejaan Yang Disempur- nakan

Merujuk pada buku EYD yang diterbitkan oleh Dwimedia Press, ruang lingkup EYD mencakup:

A. Pemakaian huruf, yang meliputi:

1. huruf abjad 2. huruf vokal 3. huruf konsonan 4. huruf diftong

5. gabungan huruf konsonan

(29)

6. huruf kapital 7. huruf miring 8. huruf tebal

B. Penulisan kata, yang meliputi:

1. kata dasar 2. kata turunan 3. bentuk ulang 4. gabungan kata 5. suku kata

6. kata depan di, ke, dan dari 7. partikel

8. singkatan dan akronim 9. angka dan bilangan

10. kata ganti kau, ku, mu, dan nya 11. kata si dan sang

C. Pemakaian tanda baca, yang meliputi:

1. tanda titik (.) 2. tanda koma (,) 3. tanda titik koma (;) 4. tanda titik dua (:) 5. tanda hubung (-) 6. tanda pisah (--) 7. tanda tanya (?) 8. tanda seru (!) 9. tanda elipsis (...) 10. tanda petik (“ “)

(30)

12. tanda kurung siku ([ ]) 13. tanda garis miring ( / )

15. tanda penyingkat atau apostrof ( ‘ )

D. Penulisan unsur serapan, terutama unsur serapan dari bahasa asing;

E. Pedoman umum pembentukan istilah;

F. Pedoman pemenggalan kata;

G. Imbuhan bahasa Indonesia; dan H. Bentuk terikat bahasa asing.

Dari sejumlah lingkup kajian tersebut, tidak semua kajian di uraikan dalam buku ini. Pembahasan lebih berorientasi kepada hal-hal yang frekuensi pemakaiannya tinggi sehingga dapat memberikan tuntunan kepada penulis, terutama bagi mahasiswa yang sedang menulis karya ilmiah. Dengan demikian, pembahasan tentang EYD dalam buku ini mencakup hal-hal berikut:

A. Pemakaian huruf, yang meliputi:

1. huruf kapital 2. huruf miring 3. huruf tebal

B. Penulisan kata, yang meliputi:

1. kata dasar 2. kata turunan 3. bentuk ulang 4. gabungan kata

(31)

5. kata depan di, ke, dan dari 6. singkatan dan akronim

C. Pemakaian tanda baca, yang meliputi:

1. tanda titik (.) 2. tanda koma (,) 3. tanda titik koma (;) 4. tanda titik dua (:) 5. tanda hubung (-) 2.2.1 Pemakaian Huruf A. Huruf Kapital

Ada beberapa hal yang harus ditulis dengan huruf kapital, terutama untuk penulisan hal-hal yang bersifat formal, seperti surat dinas, karya ilmiah, dan laporan.

Kegunaan tersebut meliputi:

1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Misalnya:

Adi sangat suka makan rendang.

Apa kabar Anda hari ini?

Gubernur Riau akan meresmikan jembatan Siak empat 2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada

petikan langsung.

Misalnya:

Ibu bertanya kepada Reyhan, “Kapan kamu akan ujian semester?”

(32)

Menurut Finoza (2013:185), “Kalimat efektif paling tidak harus memenuhi enam syarat, yaitu adanya (1) kesatuan, (2) kepaduan, (3) keparalelan, (4) ketepatan, (5) kehematan, da (6) kelogisan.”

“Kemarin engkau juga terlambat,” kata Pak Johan kepada Andri.

“Tahun depan,” kata Pak Somad , “dia akan menunaikan ibadah haji.

3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan dengan nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya:

Islam Quran

Kristen Alkitab

Hindu Weda

Allah Yang Mahakuasa

Yang Maha Pengasih

Tuhan akan selalu melindungi hamba-Nya yang beriman.

4. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti oleh nama orang.

Misalnya:

Mahaputra Yamin Datuk Kasim Marajo

(33)

Sultan Syarif Qasim Haji Agus Salim Imam Hanafi

Nabi Muhammad

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti oleh nama orang.

Misalnya:

Dia baru saja diangkat menjadi sultan.

Pada tahun ini dia akan berangkat menunaikan ibadah haji.

Ilmunya belum seberapa, tetapi lagaknya sudah seperti kiai.

5. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti oleh nama orang, nama instansi, atau nama tempat.

Misalnya:

Wakil Presiden Yusuf Kala Rektor UIN Suska Riau Gubernur Jawa Barat Jenderal Sudirman

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang merujuk pada bentuk lengkapnya.

Misalnya:

(34)

- Sidang itu dipimpin oleh Prediden Republik Indonesia.

Sidang itu dipimpin oleh Presiden.

- Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Kementerian Agama.

Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Kementerian.

c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan nama pangkat yang tidak merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama tempat tertentu.

Misalnya:

Berapa orang camat yang hadir pada rapat itu?

Devisi ini dipimpin oleh seorang mayor jenderal.

Di setiap kementrian terdapat seorang inpektur jenderal.

6. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur- unsur nama orang.

Misalnya:

Amir Hamzah Dewi Sartika

Wage Rudolf Supratman Halim Perdana Kesuma

(35)

Catatan:

(1) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama seperti de, van, dan der (dalam nama Belanda), von (dalam nama Jerman), dan da (dalam nama Portugal)

Misalnya:

J.J. de Holander

van Ophuysen

H. van der Giessen

Otto von Bismarek

Vasco da Gama

(2) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama pada unsur seperti bin atau binti yang terdapat pada nama orang.

Misalnya:

Ali bin Abi Tolib

Abdul Rahman bin Zaini

Fatimah binti Muhammad

Maimunah binti Ibrahim

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya:

pascal second Pas

newton N

amper A

(36)

c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya:

mesin diesel 10 volt 5 ampere

7. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

Misalnya:

bangsa Eskimo suku Melayu bahasa Indonesia

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama bangsa, suku, dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan.

Misalnya:

pengindonesiaan kata-kata asing keinggris-ingrisan

kejawa-jawaan

8. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya.

Misalnya:

tahun Hijriah tahun Gajah

(37)

bulan Desember hari Jumat hari Lebaran

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur- unsur nama peristiwa bersejarah:

Misalnya:

Perang Candu

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Perang Dunia I

c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak digunakan sebagai nama.

Misalnya:

Soekarno dan Hatta memroklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia

9. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur- unsur nama diri geografi.

Misalnya:

Banyuangi Asia Tenggara

Pekanbaru Amerika Serikat

Eropa Sumatera Barat

(38)

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur- unsur nama giografi yang diikuti oleh nama diri giografi.

Misalnya:

Sungai Kampar Pulau Sumatera Laut Merah Gunung Singgalang Danau Toba Jalan Diponegoro Jazirah Arab Ngarai Sianok Terusan Suez Selat Malaka

c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri geografi jika kata yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya.

Misalnya:

ukiran Jepara pempek Palembang tari Melayu tenunan Siak sate Madura rendang Padang d. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama

unsur nama giografi yang tidak diikuti oleh nama diri giografi.

Misalnya:

mendaki gunung mandi di sungai menyeberangi selat tenggelam di laut e. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama

diri giografi yang digunakan sebagai nama jenis (buah, makana, atau benda lainnya).

(39)

Misalnya:

nangka belanda kunci inggris kacang bogor pisang ambon

10. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nam dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, untuk, dan atau.

Misalnya:

Republik Indonesia Kementerian Keuangan

Majelis Permusyawaratan Rakyat Piagam Jakarta

Badan Kesehatan Ibu dan Anak

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi karena tidak diikuti oleh nama diri.

Misalnya:

beberapa badan hukum kebijakan pemerintah menjadi sebuah republik

menurut undang-undang yang berlaku

(40)

Catatan:

Jika yang dimaksud adalah nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatane- garaan, badan, dan nama dokumen resmi dari negara tertentu, misalnya Indonesia, huruf awal kata tersebut ditulis dengan huruf kapital.

Misalnya:

Pemberian gaji bulan ke-13 sudah disetujui Pemerintah.

Tahun ini Kementerian akan membahas masalah tersebut

11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi,dan judul karangan.

Misalnya:

Perserikatan Bangsa-Bangsa

Rancangan Undan-Undang Kepegawaian Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial

Dasar-Dasar Ilmu Pemerintahan

12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) dalam judul buku, majalah, surat kabar, karya ilmiah, dan cerita, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan untuk yang tidak terletak di posisi awal.

(41)

Misalnya:

Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.

Berita itu dapat di baca dalam koran Riau Pos.

Dia sedang membaca buku Asas-Asas Hukum Perdata.

13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.

Misalnya:

Dr doktor

S.E. sarjana ekonomi

S.H. sarjana hukum

S.S sarjana sastra

S.Kp. sarjana keperawatan M.Hum. magister humaniora

Prof. profesor

K.H. kiai haji

Tn. Tuan

Ny. nyonya

Sdr. saudara

14. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti Bapak, Ibu, Adik, Kakak, Saudara, Paman yang digunakan dalam penyapaan atau pengacuan.

(42)

Misalnya:

Adik bertanya, “Itu apa Bu?”

Besok Paman akan datang.

Surat Saudara sudah saya terima.

“Kapan Bapak berangkat?” tanya Harto.

“Silakan duduk Dik!” kata orang itu.

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan.

Misalnya:

Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

Dia tidak mempunyai saudara yang tinggal di Pekanbaru.

15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.

Misalnya:

Apakah Anda sudah sholat?

Siapa nama Anda?

Surat Anda sudah kami terima.

Besok saya akan menemui Anda.

16. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti keterangan, catatan, contohnya, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap

(43)

yang diikuti oleh pernyataan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap tersebut (lihat contoh pada setiap mengemukakan pernyataan pemakaian huruf kapital nomor 1 s.d. 15 ada kata Misalnya:)

B. Huruf Miring

Dalam tulisan resmi, seperti karya ilmiah, surat, laporan, dan sebagainya, ada beberapa hal yang ditulis dengan menggunakan huruf miring, yaitu:

1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

Misalnya:

Saya belum pernah membaca buku Negarakertagama karangan Prapanca.

Majalah Bahasa dan Sastra diterbitkan oleh Pusat Bahasa.

Berita itu dimuat dalam surat kabar Riau Pos.

Catatan:

Judul skripsi, tesis, atau disertasi yang belum diterbitkan dan dirujuk dalam tulisan tidak ditulis dengan huruf miring, tetapi diapit dengan tanda petik.

2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian

(44)

Misalnya:

Huruf pertama kata abad adalah a.

Dia bukan menipu, melainkan ditipu.

Bab ini tidak membicarakan pemakaian huruf kapital.

Buatlah kalimat dengan menggunakan ungkapan berlepas tangan.

3 a. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan yang bukan bahasa Indonesia.

Misalnya:

Nama ilmiah buah manggis adalah carcinia mangostana.

Orang tua harus bersikap tut wuri handayani terhadap anak.

Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.

b. Ungkapan asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia penulisannya disesuikan dengan ejaan bahasa Indonesia.

Misalnya:

Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.

Korps diplomatik memperoleh perlakuan khusus.

(45)

Catatan:

Dalam tulisan tangan atau ketikan manual, huruf atau kata yang akan dicetak miring cukup digarisbawahi.

C. Huruf Tebal

1. Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan judul buku, bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks, dan lampiran.

Misalnya:

Judul : HABIS GELAP TERBITLAH TERANG Bab : BAB I PENDAHULUAN

Bagian bab : 1.1 Latar Belakang Masalah

1.2 Tujuan

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR LAMBANG DAFTAR PUSTAKA INDEKS

LAMPIRAN

2. Huruf tebal tidak dipakai dalam cetakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata; untuk keperluan hal tersebut digunakan huruf miring.

(46)

Misalnya:

Preposisi ke ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.

Saya tidak mengambil bukumu.

Kata kerja sama harus ditulis terpisah.

Bagian tersebut ditulis dengan huruf miring:

Pereposisi ke ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.

Saya tidak mengambil bukumu.

Kata kerja sama harus ditulis terpisah.

3. Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan lema dan sublema serta untuk menuliskan lambang bilangan yang menyatakan polisemi.

Misalnya:

kalah v 1 tidak menang...; 2 kehilangan atau merugi...; 3 tidak lulus...; 4 tidak menyamai mengalah v mengaku kalah

mengalahkan v 1 menjadikan kalah ...; 2 menaklukkan ...; 3 menganngap kalah

terkalahkan v dapat dikalahkan ...

Catatan:

Dalam tulisan tangan atau ketikan manual, huruf atau kata yang akan dicetak dengan huruf tebal diberi garis bawah ganda.

(47)

2.2.2 Penulisan Kata A. Kata Dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.

Misalnya:

Buku itu sangat menarik.

Ibu sangat mengharapkan kebehasilanmu.

Kantor pajak penuh sesak.

Dia bertemu dengan kawannya di kantor pos.

B. Kata Turunan

1.a. Imbuhan (awalan, sisipan, dan akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.

Misalnya:

berjalan dipermainkan gemetar kemauan Iukisan menengok petani

b. Imbuhan dirangkaikan dengan tanda hubung jika ditambahkan pada bentuk singkatan atau kata dasar yang bukan bahasa Indinesia.

(48)

Misalnya:

mem-PHK-kan di-PTUN-kan di-upgrade me-recall

2. Jika bentuk dasarnya berupa kumpulan dua kata, yang berawalan atau berakhiran, awalan atau akhiran tersebut ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya dan kedua kata tersebut ditulis terpisah.

Misalnya:

bertepuk tangan menganak sungai garis bawahi sebar luaskan

3. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata tersebut ditulis serangkai.

Misalnya:

dilipatgandakan menggarisbawahi menyebarluaskan penghancurleburan pertanggungjawaban

(49)

4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.

Misalnya:

adipati aerodinamika antarkota antibiotik anumerta audiograrn awahama bikarbonat biokimia caturtunggal dasawarsa dekameter

demoralisasi

dwiwarna ekawarna ekstrakurikuler infrastruktur inkonvensional kosponsor mahasiswa mancanegara monoteisme multilateral narapidana nonkolaborasi pascasarjana

paripurna poligami pramuniaga prasangka purnawirawan saptakrida emiprofesional subseksi swadaya telepon transmigrasi tritunggal ultramodern Catatan:

(1) Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf kapital, diantara kedua unsur tersebut digunakan tanda hubung (-).

Misalnya:

non-lndonesia pan-Afrikanisme pro-Barat

(2) Jika kata maha sebagai unsur gabungan merujuk kepada Tuhan yang diikuti oleh kata berimbuhan,

(50)

gabungan itu ditulis terpisah dan setiap awal kata pada setiap unsurnya ditulis dengan huruf kapital.

Misalnya:

Marilah kita bersyukur kepa Tuhan Yang Maha Pengasih.

Kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.

(3) Jika kata maha, sebagai unsur gabungan, merujuk kepada Tuhan dan diikuti oleh kata dasar, kecuali kata esa, gabungan itu ditulis serangkai.

Misalnya:

Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup kita.

Mudah mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.

(4) Bentuk-bentuk terikat dari bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti pro, kontra, dan anti, dapat digunakan sebagai bentuk dasar.

Misalnya:

Sikap masyarakat yang pro lebih banyak daripada yang kontra.

Mereka memperlihatkan sikap yang anti terhadap kejahatan.

(51)

(5) Kata tak sebagai unsur gabungan dalam peristilahan ditulis serangkai dengan bentuk dasar yang mengikutinya, tetapi ditulis terpisah jika diikuti oleh kata yang berimbuhan.

Misalnya:

taklayak terbang taktembus cahaya tak bersuara tak terpisahkan

C. Bentuk Ulang

1. Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung di antara unsur-unsurnya.

Misalnya:

anak-anak berjalan jalan biri-biri buku-buku hati-hati kuda-kuda kupu-kupu lauk-pauk Cataan:

a. Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama saja.

Misalnya:

(52)

surat kabar surat-surat kabar kapal barang kapal-kapal barang rak buku rak-rak buku

b. Bentuk ulang gabungan kata yang unsur keduanya adjektiva ditulis dengan rnengulang unsur pertama atau unsur keduanya. Hal ini betujuan untuk memberi makna yang berbeda.

Misalnya:

orang besar orang-orang besar orang besar-besar gedung tinggi gedung-gedung tinggi

gedung tinggi-tinggi

2. Awalan dan akhiran ditulis serangkai dengan bentuk ulang.

Misalnya:

kekanak-kanakan perundang-undangan melambai-lambaikan dibesar-besarkan rnemata-matai Catatan:

Angka 2 dapat digunakan dalam penulisan bentuk ulang untuk keperluan khusus, seperti dalam pembuatan catatan rapat atau kuliah.

(53)

Misalnya:

Pemerintah sedang mempersiapkan rancangan undang2 baru.

Kami mengundang orang2 yang berminat saja.

Mereka me-lihat2 pameran.

Bajunya ke-merah2-an.

D. Gabungan Kata

1. Unsur-unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk ditulis terpisah.

Misalnya:

duta besar model linier

kambing hitam orang tua

simpang empat persegi panjang mata pelajaran rumah sakit umum

meja tulis kereta api

2. Gabungan kata yang dapat menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan menambahkan tanda hubung di antara unsur-unsurnya untuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan.

Misalnya:

anak-istri Ali anak istri-Ali ibu-bapak kami ibu bapak-kami buku-sejarah baru buku sejarah-baru

(54)

3. Gabungan kata yang sudah dirasakan sudah padu benar ditulis serangkai.

Misalnya:

acapkali darmasiswa

adakalanya darmawisata

akhirulkalam dukacita

alhamdulillah halalbihalal

apalagi hulubalang

bagaimana kasatmata

barangkali kepada

bilamana manasuka

bumiputra matahari

daripada peribahasa

darmabakti

E. Kata Depan di, ke, dan dari

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kata kepada dan daripada.

Misalnya:

Bermalam sajalah di sini.

Di mana dia sekarang

Kain itu disimpan di dalam lemari.

Dia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.

Mari kita berangkat ke sekolah.

(55)

Dia datang dari Jakarta kemarin.

Saya tidak tahu dari mana dia berasal.

Cincin itu terbuat dari emas.

Catatan:

Kata-kata yang dicetak miring di dalam kalimat seperti di bawah ini di tulis serangkai.

Misalnya:

Kami percaya sepenuhnya kepadanya.

Dia lebih tua daripada saya.

Dia masuk, lalu keluar lagi.

Bawa kemari buku itu Dik.

Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.

F. Singkatan dan Akronim

1. Singkatan ialah bentuk singkat yang terdiri atas satu huruf atau lebih.

a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik di belakang tiap-tiap singkatan itu.

Misalnya:

A.H. Nasution Abdul Haris Nasution

H. Hamid Haji Hamid

Suman Hs. Suman Hasibuan

W.R. Supratman Wage Rudolf Supratman

M.B.A. master of business administrasion

(56)

M.Hum. master humaniora

M.Si. master sains

S.E. sarjana ekonomi

S.Sos. sarjana sosial

S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat

Bpk. bapak

Sdr. saudara

Kol. Kolonel

b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas gabungan huruf awal kata, ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti oleh tanda titik.

Misalnya:

DPR Dewan Perwakilan Rakyat

PBB Perserikatan Bangsa-Bangsa WHO Worid Healt Organization

PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia

PT perseroan terbatas

SD skolah dasar

KTP kartu tanda penduduk

c.1) Singkatan kata yang berupa gabungan huruf diikuti oleh tanda titik.

Misalnya:

jml. jumlah

kpd. kepada

(57)

tgl. tanggal

hlm. halaman

yg. yang

dl. dalam

No. Nomor

2) Singkatan gabungan kata yang terdiri atas tiga huruf diikuti oleh tanda titik.

Misalnya:

dll. dan lain-lain

dsb. dan sebagainya

sda. sama dengan atas

ybs. yang bersangkutam

Yth. Yang terterhormat

Catatan:

Singkatan tersebut dapat digunakan untuk keperluan khusus, seperti dalam pembuatan catatan rapat dan kuliah.

d. Singkatan gabungan kata yang terdiri atas gabungan huruf (lazim digunakan dalam surat- menyurat) masing-masing diikuti oleh tanda titik.

Misalnya:

a.n. atas nama

d.a. dengan alamat

u.b. untuk beliau

u.p. untuk perhatian

(58)

e. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti oleh tanda titik.

Misalnya:

Cu kuprum

cm sentimeter

km kilometer

l liter

Rp rupiah

2. Akronim ialah singkatan dari dua kata atau lebih yang diperlakukan sebagai sebuah kata.

a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal unsur-unsur nama diri ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Misalnya:

LIPI Lembanga Ilmu Pengetahuan Indonesia LAN Lembaga Administrasi Negara

PASI Persatuan Atletik Seluruh Indonesia SIM Surat Izin Mengemudi

b. Akronim nama diri yang merupakan singkatan dari beberapa unsur hanya huruf awal yang di tulis dengan huruf kapital.

Misalnya:

Bulog Badan Urusan Logistik

Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan

Nasional

(59)

Iwapi Ikatan Wanita Pengusaha

Indonesia

Kowani Kongres Wanita Indonesia

c. Akronim bukan nama diri yang berupa singkatan dari dua kata atau lebih ditulis dengan huruf kecil.

Misalnya:

pemilu pemilihan umum

iptek ilmu pengetahuan dan teknologi rapim rapat pimpinan

rudal peluru kendali tilang bukti pelanggaran

radar radio detecting and ranging Catatan:

Jika pembentukan akronim dianggap perlu, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut.

1) Jumlah suku kata akronim tidak melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia (tidak lebih dari tiga suku kata).

2) Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata yang lazim dalam bahasa Indonesia agar mudah diucapkan dan diingat.

2.2.3 Pemakaian Tanda Baca A. Tanda Titik (.)

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan

(60)

Misalnya:

Ayahku tinggal di solo

Biarlah mereka duduk di sana.

Dia menanyakan siapa yang akan datang.

Catatan:

Tanda titik tidak digunakan pada akhir kalimat yang unsur akhirnya sudah bertanda titik.

Misalnya:

Buku itu disusun oleh Drs. Sudjatmiko, M.A.

Dia memerlukan meja, kursi, dsb.

Dia mengatakan, “Kaki saya sakit.”

2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.

Misalnya:

a. IlI. Departemen Pendidikan Nasional A. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi B. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan

Menengah

1. Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini 2. ...

b.1. Patokan Umum 1.1 lsi Karangan 1.2 Ilustrasi

1.2.1 Gambar Tangan 1.2.2 Tabel

1.2.3 Grafik 2. Patokan Khusus

2.1 ...

(61)

2.2 ....

Catatan:

Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.

3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu

Misalnya:

pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik atau pukul 1, 35 menit, 20 detik)

Catatan:

Penulisan waktu dengan angka dapat mengikuti salah satu cara berikut.

a. Penulisan waktu dengan angka dengan sistem 12 dapat dilengkapi dengan keterangan pagi, siang, sore, atau malam.

Misalnya:

pukul 9.00 pagi pukul 11.00 siang pukul 5.00 sore pukul 8.00 malam

b. Penulisan waktu dengan angka dalam sistem 24 tidak memerlukan keterangart pagi, siang, sore, atau malam.

(62)

Misalnya:

pukul 00.45 pukul 07.30 pukul 11.00 pukul 17.00 pukul 22.00

4. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.

Misalnya:

1.35.20 jam (1jam, 35 meit, 20 detik) 0.20.30 jam (20 menit, 30 detik) 0.0.30 jam (30 detik)

5. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit.

Misalnya:

Alwi, Hasan, Soenjono Dardjowidjojo, dan Hans Lapoliwa. 1920. Azab dan Sengsara. Weltervreden: Balai Pustaka.

Catatan:

Urutan informasi mengenai daftar pustaka tergantung pada lembaga yang bersangkutan.

(63)

6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.

Misalnya:

Desa itu berpenduduk 24.200 orang.

Siswa yang lulus masuk perguruan tinggi negeri 12.000 orang.

Penduduk Jakarta lebih dari 11.000.000 orang.

Catatan:

a. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.

Misalnya:

Dia lahir pada tahun 1956 di Pekanbaru.

Lihat halaman 2345 dan seterusnya Nomor gironya 5645678.

b. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi.

Misalnya:

Acara Kunjungan Menteri Pendidikan Nasional

Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 1945) Salah Asuhan

c. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) nama dan alamat penerima surat, (2) nama dan alamat

(64)

pengirim surat, dan (3) di belakang tanggal surat.

Misalnya:

Yth. Kepala Kantor Kementerian Agama Porovinsi Riau

Jalan Sudirman 71 Pekanbaru

Yth. Sdr. Moh. Hasan Jalan Arif Rahmad 43 Palembang

Adinda

Jalan Diponegoro 82 Jakara

21 April 2008

d. Pemisahan bilangan ribuan dan kelipatannya atau desimal ditulis sebagai berikut.

Rp200.250,75 8.750 m 8,750 m

7. Tanda titik dipakai pada penulisan singkatan. (Lihat juga penulisan singkatan bagian 1.a.)

Misalnya:

A.H. Nasution Abdul Haris Nasution

(65)

H. Hamid Haji Hamid

Suman Hs. Suman Hasibuan

W.R. Supratman Wage Rudolf Supratman

M.B.A. master of business

administrasion

M.Hum. master humaniora

M.Si. master sains

S.E. sarjana ekonomi

S.Sos. sarjana sosial

S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat

Bpk. bapak

Sdr. saudara

Kol. Kolonel

B. Tanda Koma (,)

1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.

Misalnya:

Saya membeli kertas, pena, dan tinta.

Surat biasa, surat kilat, ataupun surat kilat khusus memerlukan perangko.

Satu, dua, ... tiga!

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan klausa yang satu dari klausa berikutnya yang didahului

(66)

oleh kata tetapi, melainkan, sedangkan, dan kecuali dalam kalimat majemuk setara.

Misalnya:

Saya akan membeli baju kemeja, tetapi kau yang akan memilihnya.

Ini bukan buku saya, melainkan buku kakak saya.

Reyhan suka bermain voli, sedangkan Deo suka bermain basket.

Semua mahasiswa harus hadir, kecuali yang tinggal di luar kota.

3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya

Misalnya:

Kalau ada undangan, saya akan datang.

Karena tidak congkak, dia mempunyai banyak teman

Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca buku.

Catatan:

Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat rdari induk kalimar jika anak kalirnat mengiringi induk kalimatnya.

Misalnya:

Saya akan datang kalau ada undangan.

Dia rnempunyai banyak teman karenak tidak congkak.

(67)

Kita harus banyak membaca buku agar memiliki wawasan yang luas.

4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan akan tetapi.

Misalnya:

Anak itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia mendapat beasiswa.

Ani memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, wajar kalau dia menjadi bintang pelajar.

Salmah termasuk siswa yang cantik, pintar, dan anak orang berada. Akan tetapi, dia tidak pernah tinggi hati.

Catatan:

Ungkapan penghubung, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan akan tetapi, tidak dipakai di awal paragraf.

5. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seru, seperti o, Ya, wah, aduh, atau kata-kata yang digunakan sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, dan Mas, dari kata lain yang terdapat dalam kalimat.

Misalnya:

O, begitu?

Wah, bukan main!

(68)

Hati hati, ya, jalannya licin.

Bu, kapan pulang?

Mengapa kamu diam, Dik?

6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat

Misalnya:

Kata Ibu, “saya gembira sekali.”

“Saya gembira sekali,” kata Ibu, “karena kamu lulus ujian.”

Catatan:

Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.

Misalnya:

“Di mana Saudara tinggal?” tanya Pak guru.

“Masuk ke kelas sekarang!” perintah Bu Nani kepada muridnya.

7. Tanda koma dipakai diantara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Misalnya:

(69)

Saudara Abdullah, Jalan Garuda No. 3, Pekanbaru.

Dekan Fakultas Ushuluddin, UIN Suska Riau, Jalan Soebrantas No. 5, Panam

Pekanbaru, 21 April 2015 Pekanbaru, Riau

8. Tanda koma dipakai di antara bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Misalnya:

Finoza, Lamuddin. 2013. Komposisi Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa Nonjurusan Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia.

Sugono, Dendy. 2009. Mahir Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

9. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian pada catatan kaki atau catatan akhir.

Misalnya:

Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia, jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.

(70)

Lamuddin Finoza, Komposisi Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa Nonjurusan Bahasa Indonesia (Jakarta:

Diksi Insan Mulia, 2013), hlm. 101.

10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya. Tanda koma ini bertujuan untuk membedakan singkatan tersebut dengan singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Misalnya:

Deo Mursyid, S.E.

Reyhan Beyhaqi, S.H.

Siti Fatimah, S.E., M.M.

Catatan:

Bandingkan antara,

Siti Khadijah, S.H. (sarjana hukum) denagan Siti Khadijah S.H. (Sidik Harun)

11. Tanda koma dipakai di muka angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Misalnya:

12,5 m

27,8 kg Rp500,50 Rp750,00

Referensi

Dokumen terkait

Pada tumbuhan pacar air yang diletakkan di tempat yang terik memperlihatkan banyaknya selisih berkurangnya volume air di waktu yang ditentukan sehingga dapat

Pada tahap ini akan diuraikan hasil dari analisis penelitian dan pembahasan dari rumusan masalah yang telah dibuat. Data yang diperoleh berupa tuturan, dan telah

umum untuk menyisihkan sebagian dari dana pihak ketiga yang berhasil dihimpunnya dalam bentuk giro wajib minimum (GWM) berupa rekening giro bank yang bersangkutan

Kabupaten Kulon Progo tentang Perubahan Status Desa Wates Menjadi

Dari hasil penelitian di simpulkan bahwa, penggunaan media audio visual secara keseluruhan mebuat guru untuk menyampaikan materi yang akan disampaikan kepada siswa

Dari uji coba yang telah dilakukan dan setelah melakukan analisis hasil pengujian terhadap implementasi segmentasi citra medis dengan algoritma deteksi tepi kontur

(b) Diagnosis, Diagnosis merupakan langkah penetapan masalah yang dialami oleh subyek kasus berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang diperoleh dari hasil

Berpikir secara kronologis sangat diperlukan terutama dalam sejarah,agar runtutan peristiwa yang ada bisa tersusun secara rapi,logis,dan tidak menyimpang dari kejadian