BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Paparan Dimensi Penelitian
Implikatur percakapan merupakan implikasi pragmatik yang diperoleh secara tidak langsung dari makna kata. Makna yang terkandung dalam tuturan penutur lebih banyak daripada yang diungkapkan. Wujud impliktur percakapan dalam penelitian ini adalah prinsip kerjasama dan prinsip sopan-santun. Prinsip kerjasama yang dimaksud yaitu lebih menekankan penggunaan ujaran sesuai dengan tujuan percakapan yang telah disepakati atau sesuai arah percakapan yang diikuti sering dilanggar untuk mematuhi prinsip sopan-santun. Prinsip sopan-santun dalam hal ini yaitu berkomunikasi yang dipandang sebagai usaha untuk menghindari konflik antara penutur dan mitra tutur karena lebih bersifat sosial, estetis, dan moral dalam melakukan suatu percakapan.
Peneltian ini hanya menganalisis wujud implikatur percakapan pada prinsip kerjasama dan prinsip sopan-santun dalam interkasi belajar-mengajar. Hal ini sesuai dengan penanaman 9 nilai karakter dalam berperilaku di lingkungan SD Islam Athirah II Makassar.
87
Pilar Karakter tersebut adalah :
1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya
2. Tanggung jawab, Kedisiplinan, dan Kemandirian 3. Kejujuran/Amanah dan Diplomasi
4. Hormat dan Santun
5. Dermawan, Suka menolong dan Gotong-royong/Kerjasama 6. Percaya Diri, Kreatif, dan Pekerja keras
7. Kepemimpinan dan Keadilan 8. Baik dan Rendah Hati
9. Toleransi, Kedamaian, dan Persatuan
a. Implikatur Percakapan dalam Penerapan Prinsip Kerjasama 1) Maksim Kuantias
Maksim kuantitas dapat ditentukan melalui informasi yang diberikan tidak boleh kurang atau melebihi yang diinginkan mitra tutur (MT).
Wujud tuturan dapat dilihat pada data berikut : Konteks : Guru melakukan apersepsi
(a) Guru : Nanti ulangannya jam 9. Nah, sekarang naikkan dulu bukunya kita belajar tentang simbiosis.
Siswa : (mengeluarkan buku pelajaran)
(b) Guru : Oke, coba buka bukunya halaman 54. Ini sebentar saya bagi dalam 5 kelompok. (Sambil menunjuk
siswa) ini kelompok 1, kelompok 2, kelompok 3, kelompok 4, kelompok 5.
88
Siswa 1 : Kelompok 4 ini bu.
(c) Guru : Iya.
Siswa 2 : Hancur na kelompokna.
Konteks data di atas terjadi saat guru melakukan kegiatan apersepsi atau membuka kegiatan belajar sebelum masuk pada penjelasan materi ajar. Wujud tuturan yang terlihat pada saat guru memberi penjelasan tentang ulangan yang akan dilakukan jam 9, artinya ada batasan waktu yang mengikat sehingga guru bisa menyelesaikan materi sebelum jam ulangan tersebut. Siswa dalam hal ini sudah dapat memahami, meskipun guru tidak memberikan informasi yang berlebihan. Pada tuturan (b) terlihat guru memberi arahan tentang pembagian kelompok diskusi secara cepat tanpa adanya penjelasan atau informasi yang berlebihan kepada siswa. Wujud tuturan yang dibangun oleh guru dalam konteks di atas memberikan gambaran pemberian materi ajar kepada siswa dalam batasan waktu yang telah ditentukan sehingga tidak perlu adanya penjelsan informasi yang berlebihan kepada siswa selaku mitra tutur (mt).
Bentuk implikatur percakapan dalam penerapan maksim kuantitas juga dijumpai pada tuturan berikut :
(a) Guru : Rapikan tempat sepatunya. Kembalimi yang lain. Dua orang saja!
Siswa 1 : Hey dua orangji, bukan kau yang disuruh!
(b) Guru : Dua orang saja, yang lainnya kembali ke tempatnya. Naikkan
89
buku tulisnya ! Siapa suruh patah itu rak?
Siswa 2 : (Masih sibuk bolak balik merapikan sepatu di raknya).
Bukan saya! Tadi barusan saya taro!
Bentuk tuturan di atas terjadi sebelum guru memberikan materi pelajaran. Penerapan maksim kuantitas terdapat pada tuturan siswa (1), informasi yang di sampaikan guru sebagai penutur dan disesuaikan oleh siswa sebagai mitra tutur.
2) Maksim Kualitas
Maksim kualitas menuntut kesesuaian antara tuturan dan fakta sebenarnya yang didukung bukti-bukti saat tuturan tersebut diujarkan, wujud tuturannya dapat dilihat pada konteks data di atas (c).
Pembagian kelompok belajar secara cepat oleh guru, seperti pada tuturan : “Ini sebentar saya bagi dalam 5 kelompok” yang langsung dibuktikan dengan menunjuk siswa dalam beberapa kelompok.
Dampak dari apa yang disampaikan oleh guru, memberikan respon cepat kepada siswa seperti pada tuturan (c). Ujaran siswa mengambarkan adanya ketidakpuasaan terhadap hasil pilihan guru sehingga menimbulkan bentuk ujaran yang secara spontan, yaitu
“Hancur na kelompokna”.
Penerapan maksim kualitas juga terdapat pada tuturan (b) pada bagian ke dua maksim kuantitas di atas. Jawaban yang diberikan siswa menegaskan adanya usaha penyesuaian antara tuturan dan fakta saat tuturan diujarkan.
90
3) Maksim Hubungan
Maksim hubungan digunakan dalam menjalin kerjasama yang baik antara penutur dan mitra tutur dengan memberikan konstribusi tuturan yang relevan. Wujud tuturan dalam maksim tersebut dapat dilihat pada data berikut :
Konteks : Guru menjelaskan materi
(a) Guru : I need two more pieces of papers oww two... tidak ada yang mau kasi mam ? pelit sekali yah...(sambil tertawa) Siswa 1 : (berdiri sambil membawa selembar kertas kepada guru) (b) Guru : Ok now, I will throw this ball. Look at mam please. I throw
this ball and than you must take it. Membuat bola kertas. For example you.take this ball yeah. I will throw this ball.
(melempar bola ke arah siswa, lalu memberikan pertanyaan). And than I choose What must you do when you in hospital. Apa yang harus kamu lakukan di rumah sakit ketika kamu menjenguk seseorang?
Siswa 1 : ( tertawa )kasi buah
(c) Guru : (guru menghitung) five, four, three, two, one... ok. Bisa disebutkan?
Siswa 2 : Be quite.
(d) Guru : Yeah.. you must be quite. Good.
Siswa : (menjawab bersama-sama)
91
Konteks situasi data di atas terjadi pada saat guru memberikan materi pelajaran Bahasa Inggris. Guru menggunakan media pembelajaran yang unik yaitu bentuk bola kertas yang dilempar kepada siswa dan selanjutnya diberikan pertanyaan. Siswa yang terkena bola kertas wajib menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Wujud tuturan (a) memperlihatkan guru yang meminta kertas kepada siswa tanpa menunjuk kepada siswa yang dimaksud, sehingga siswa yang memaknai apa yang disampaikan gurunya, tiba-tiba berdiri dan memberikan kertas. Hal ini menggambarkan adanya hubungan kerjasama yang mulai dibangun oleh guru diawal pembelajaran.
Selanjutnya, pada tuturan (b) menggambarkan bentuk pertanyaan yang diberikan guru dengan mudah dipahami siswa, sehingga siswa merespon dengan tertawa. Hal ini menunjukkan adanya hubungan pertanyaan yang disampaikan oleh guru dengan kegiatan yang pernah dilakukan siswa, wujud tuturannya dapat dilihat pada jawaban yang diberikan secara bersamaan oleh siswa, seperti pada tuturan (c).
4) Maksim Cara
Maksim cara atau pelaksanaan yaitu mengharuskan penutur menggunakan tuturan secara jelas dan tidak mengaburkan.
Wujud tuturan pada maksim ini dapat dilihat pada data berikut : Konteks situasi : Guru membacakan soal cerita
a) Guru : Kegiatan ekonomi apa yang pernah kamu lakukan ? Siswa 1 dan 2 : konsumsi
92
b) Guru : Selain konsumsi? (sambil sesekali memberi gambaran kegiatan tersebut, agar lebih jelas)
Siswa 2 : Eh…produksi Siswa 3 : Distribusi
c) Guru : Ya, distribusi. Kemarin kan itu pembagian sembakokan salah satu paket distribusi toh?
Siswa : (tersenyum)
Konteks situasi di atas, mengambarkan bentuk pembelajaran dengan membacakan soal cerita dianggap efektif untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran sebelumnya.
Pada tuturan (a) sebelum memberikan pertanyaan, guru terlebih dahulu memberikan batasan tentang bentuk kegiatan ekonomi, sehingga pertanyaan yang disampaikan dapat dijawab dengan jelas berdasarkan batasan sebelumnya yang disampaikan oleh guru.
Demikian halnya dengan tuturan (b) bentuk pertanyaan yang diberikan guru ditambahkan memberikan gambaran kegiatan yang pernah dilakukan siswa, sehingga siswa dapat menjawab pertanyaan tersebut. Hasil jawaban yang berikan siswa kemudian diperjelas kembali oleh guru dengan memberi tambahan penjelasan seperti pada tuturan (c).
Selain kontes implikatur percakapan di atas, bentuk implikatur percakapan dalam penerapan maksim cara yang menekankan aspek
93
kajian berbicara singkat dan teratur, dapat dijumpai pada bentuk tuturan berikut :
Konteks : Guru melakukan apersepsi
(a) Guru : Sebelum pelajaran dimulai, mari kita membersihkan bangku! Semua posisi tangan di dalam laci cari sampah.
Siswa : (Semua siswa mencari sampah di laci dan membuang sampah pada tempatnya).
(b) Guru : Oke, yang sudah kosong, bangkunya dirapikan!
Siswa : Banyakna! (sambil keluar masuk membuang sampah yang banyak ditemukan di dalam laci bangku).
(c) Guru : Ya, kembali ke tempat lagi!
Siswa : (Masing-masing kembali ke bangku masing-masing).
(d) Guru : Oke, pagi ini bapak mau menyapa dulu. Apa kabarnya?
Siswa : Alhamdulillah luar biasa, tetap semangat, Allahuakbar!
(e) Guru : Athirah?
Siswa : Anggun, unggul, cerdas!
Konteks situasi percakapan di atas, menggambarkan kegiatan awal guru sebelum pelajaran dimulai. Bentuk tuturan guru (b) dapat direspon dengan cepat siswa walaupun guru tidak menjelaskan kembali seperti pada tuturan (a). Demikian halnya dengan tuturan (c) dan bentuk pertanyaan guru (e) yang sekaligus semboyan atau slogan SD Islam Atirah II Makassar. Jadi, guru cukup bebicara dengan
94
singkat, siswa sudah dapat merespon makna dari tututan yang di sampaikan.
b. Implikatur Percakapan dalam Penerapan Prinsip Sopan Santun Implikatur percakapan dalam penerapan prinsip sopan-santun pada penelitian ini dijabarkan sebagai berikut :
1) Implikatur Percakapan dalam Penerapan Maksim Kearifan
Konsep dasar kearifan atau kebijaksanaan yaitu berprinsip mengurangi kerugian dan memaksimalkan keuntungan orang lain.
Pemaksimalan keuntungan mitra tutur biasanya dilakukan dengan tuturan yang “diada-adakan” agar mitra tutur tidak sungkan dan penutur terhindar dari anggapan sikap marah, iri dan kurang sopan saat menginginkan mitra tutur melakukan sesuatu. Berikut wujud percakapan dalam penerapan maksim kearifan.
Konteks situasi : Guru Menjelaskan Materi
(a) Guru : Yang sudah sampai 10 orang, tentukan jumlah siswa yang berat badanya kurus, yang berat badanya ideal, kemudian yang berat badanya gemuk di kolom warna orange.
Siswa 2 : (datang menghampiri guru yang sedang memberi penjelsan pada siswa 1) ini hasilnya dilihat dari berat badannya atau tinggi badannya.
Guru : Makanya diperhatikan cakaranya nak.. (sambil terus memberikan penjelasan kepada siswa)
Siswa 2 : Ahhh...dipa’boteki ka’...( sambil berjalan )
95
(b) Siswa 3 : Kenapa ko.. kaya apa mi saja’ ! Siswa 2 : cocokmi tadi...
Konteks situasi di atas terjadi saat guru melanjutkan kembali materi pelajaran yang lalu, sementara masih ada beberapa orang siswa yang belum memahami materi tersebut sehingga guru memberikan penjelasan kapada siswa yang belum mengerti. Wujud peneran maksim kearifan dalam tuturan di atas terlihat pada adanya bentuk penjelasan kembali materi lalu meskipun hanya sebagian kecil siswa yang belum mengerti.
Hal ini sesuai dengan konsep dasar kearifan yang memaksimalkan keuntungan mitra tutur atau siswa, dapat dilihat pada tuturan (a).
Demikian halnya dengan tuturan (b), apa yang diutarakan oleh siswa selaku mitra tutur merupakan respon dari wujud penerapan maksim keraifan, walupun ujran siswa tersebut terkesan kurang santun.
2) Implikatur Percakapan dalam Penerapan Maksim Kedermawanan Maksim ini mengharapkan penutur dapat menghormati orang lain dan memaksimalkan kerugian diri sendiri. Penerapan maksim ini digunakan untuk mengarahkan mitra tutur yang melakukan hal yang tidak disukai penutur dengan menambahkan beban pada penutur.
Dalam penelitian ini, maksim kedermawanan dapat dijumpai dalam implikatur percakapan sebelumnya (c) pada maksim kearifan. Tuturan tersebut, merupakan hasil dari tuturan (b) dan sekaligus merupakan bentuk pelanggran maksim kedermawan yang menyebabkan munculnya ujaran dari siswa 3.
96
3) Implikatur Percakapan dalam Penerapan Maksim Pujian
Maksim ini bertujuan agar para partisipan tidak saling mengejek atau merendahkan orang lain sehingga sangat cocok untuk mitra tutur yang berkarekteristik pendiam tetapi sangat peka perasaanya. Dalam penerapannya, maksim ini berusaha memberikan penghargaan bagi mitra tutur. Penelitian ini juga menemukan tuturan mengandung implikatur percakapan dalam penerapan maksim pujian.
a) Guru : Bagaimana caranya, dengan apa ?
Siswa 1 : Dengan menghitung jumlah kubus satuannya...
b) Guru : Yang mana, kubus satuannya... yang mana ? Siswa 1: Yang dalam isi..
c) Guru : Sedikit lagi jawabannya mau mendekati..
Siswa : (berbisik-bisik)
d) Guru : Tadi sudah ada temannya yang menjawab...
Siswa : Menghitung jumlah satuannya bu.
Konteks situasi di atas menggambarkan guru yang memberikan pertanyaan tentang materi ajar, siswa terkesan takut dan ragu memberikan jawaban dari pertanyaan guru tersebut. Guru berusaha memberi gambaran atas pertanyaan yang diberikan agar siswa tidak ragu dalam mengeluarkan pendapatnya. Tuturan (a) menggambarkan wujud implikatur percakapan guru dan siswa dalam interkasi belajar-mengajar, sedangkan penerapan maksim pujian ada pada tuturan (d). Guru menggunakan tuturan (d) yang menjadikan contoh atau landasan bagi
97
siswa lain untuk mau mengeluarkan pendapatnya seperti yang dilakukan temannya. Dengan kata lain, tuturan tersebut dapat antusias siswa dalam menjawab pertanyaan guru selanjutnya.
4) Implikatur percakapan dengan penerapan maksim kesepakatan
Maksim ini menggariskan setiap penutur dan mitra tutur untuk memaksimalkan kecocokan di antara mereka dan meminimalkan ketidakcocokan di antara mereka. Penerapan maksim ini dilakukan untuk menghindari tuturan yang membantah atau memenggal tuturan dari mitra tutur. Penelitian ini menentukan tuturan yang mengandung implikatur percakapan untuk menerapkan maksim kesepakan. Berikut wujud implikatur percakapannya :
a) Guru : Ok, lihat semua dulu ke sini. Perhatikan semua. Perhatikan dulu nak... ! yang ke dua kita gambar kemarin, batas apa..?
Siswa : Batas berat badan ideal (secara bersamaan) b) Guru : Batas apa...?
Siswa 1 dan 2 : Batas berat badan ideal Guru : Yahh...
Konteks situasi di atas menggambarkan suasana kelas pada saat guru menjelaskan materi dengan mengambil contoh materi yang lalu. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui atau menguji kembali kemampuan siswa, untuk dapat memastikan siswa apakah sudah paham tentang penjelasan guru pada pertemuan yang lalu. Tuturan (a) menggambarkan bagaimana menguji kembali pemahaman siswa, sedangkan tuturan (b)
98
guru mengulang pertanyaannya sehingga terkesan tidak mendengar jawaban siswa, walaupun ada beberapa siswa yang antusias menjawab.
Hal ini dimaksudkan dalam penerapan maksim kesapakatan atau menguji kesapakatan siswa dalam menjawab pertanyaan dan adanya kecocokan jawaban. Dengan demikian tuturan (a) dan (b) mengandung implikatur percakapan dalam penerapan maksim kesepakatan.
5) Implikatur percakapan dengan penerapan maksim simpati
Maksim ini bertujuan membangun rasa simpati dengan orang lain sebanyak mungkin atau mengurangi rasa antipati antara diri dengan orang lain. Bentuk tuturan dalam penerapan maksim simpati terdapat dalam implikatur percakapan berikut :
(a) Guru : Nah, tulis. Makanan yang mengandung gizi seimbang.
Siswa : (menyalin apa yang dibacakan oleh guru) (b) Guru : Makanan yang mengandung gizi seimbang.
Siswa : Jammi menyontek!
(c) Guru : Lanjut, yang kedua. Bergizi.
Siswa 2 : Sari makanan yang sangat penting bagi pertumbuhan.
Siswa 3 : Salai. Oe..oe..sotta.
(d) Guru : Coba kamu ulangi, apa arti bergizi?
Siswa 4 : Sari makanan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan kesehatan.
Siswa 5 : Pertumbuhanji.
(e) Guru : Ada yang dapat lain? Coba kamu apa?
99
Siswa 6 : Makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan dan kesehatan.
(f) Guru : Oke, semua betul ya.
Konteks data di atas, terjadi pada saat kegiatan proses pembelajaran berlangsung. Guru yang tetap mejelaskan meteri dan melanjutkan dengan member pertanyaan-pertanyaan pada siswa, seperti tuturan guru (b) sampai (f) meskipun ada siswa yang memberikan komentar lain, pada tuturan siswa (b), siswa (c), dan siswa (d). Hal ini menegaskan penerapan maksim simpati atau guru selaku penutur (Pt) berusaha membangun rasa simpati kepada siswa selaku mitra tutur (mt).