BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
Sistem pembelajaran di kelas V lebih mengarahkan siswa untuk dapat memahami pelajaran melalui bentuk diskusi atau tanya-jawab sehingga siswa lebih aktif berkomunikasi dengan guru sesuai dengan kompetensi dasar yang ada di SD Islam Athirah II Makassar. Selain itu sistem komunikasi yang baik dalam berbahasa juga diutamakan dalam kegiatan belajar mengajar, hal ini sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan BSNP (2006) bahwa peserta didik harus mampu berkomunikasi dengan bahasa yang efektif sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulisan. Berdasarkan hasil penelitian wawancara dengan wali kelas V bahwa sistem pembelajaran berkelompok dengan lebih mengutamakan kegiatan diskusi merupakan bentuk kegiatan belajar yang sudah lama dilaksanakan dan dianggap paling efektif karena lebih
100
membangun komunikasi antara guru dan siswa maupun siswa dengan siswa.
Selain itu, berdasarkan pendapat guru-guru bidang studi dalam hasil wawancara bahwa memang ada beberapa siswa yang sangat aktif dan memiliki kemampuan kognitif yang tinggi, seperti siswa (2) (maksim kearifan). Kemampuan siswa ini dalam menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru lebih menonjol dibanding teman-temannya, demikian juga dengan kemampuan berbicara yang terkesan lepas sehingga sangat mudah menerima pengaruh dari luar dan cenderung super aktif. Hal ini sesuai dengan pendapat Jalaluddin Rakhmat (2001: 25) yang mengatakan bahwa peserta didik belajar melalui peniruan respon orang lain saat kegiatannya dilakukan.
Kegiatan pembelajaran diskusi yang sama juga pada bidang studi lain, namun respon yang diberikan siswa juga terlihat jelas dari reaksi yang diberikan pada saat guru menunjuk kelompok tanpa ada diskusi terlebih dahulu. Seperti yang terdapat pada hasil penelitian di atas (maksim kuantitas), apa yang diucapkan siswa sebagai respon penolakan terhadap keputusan guru.
Tuturan berimplikatur percakapan dalam pembelajaran digunakan untuk mematuhi prinsip kerja sama dan prinsip sopan santun, karena itu dalam berkomunikasi perlu adanya penanaman nilai berbahasa yang santun sebagai acuan pada peserta didik. Kemampuan guru dalam membangun interksi belajar mengajar di kelas dapat dilakukan dengan
101
penerapan maksim-maksim pada prinsip sopan-santun, seperti yang terdapat pada maksim pujian pada hasil penelitian. Guru berupaya membangun interksi melalui proses tanya-jawab, dengan menerapkan maksim pujian agar siswa lebih antusias dalam mengikuti pelajaran. Hal ini sesui dengan pendapat Flanders (2004) bahwa mengelompokkan interaksi yang terjadi di dalam kelas menjadi tiga bagian, yaitu (1) ujaran guru, (2) ujaran siswa, dan (3) keadaan kelas. Interaksi dalam ujaran guru yang dimaksud adalah pemberian pujian atau dorongan yang dapat memicu motivasi siswa lain.
Berdasarkan beberapa wujud implikatur percakapan yang ditemukan dalam peneltian ini ada beberapa maksim dalam penerapan prinsip kerja sama dan prinsip sopan-santun yang dapat membagun kualitas pembelajaran di kelas. Hal ini sesuai dengan pendapat Larsen-Freeman (1986) menyatakan bahwa pola komunikasi interaksi komunikatif memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) aktivitas yang dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa, (2) aktivitas yang dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran secara langsung mengarah pada latihan atau praktik penggunaan bahasa, baik secara Iisan maupun tulis, (3) aktivitas yang dilaksanakan dapat membina dan mengarahkan kemampuan siswa dalam memilih, menata kata, frasa, atau kalimat sesuai dengan faktor penentu tindak komunikatif, dan (4) aktivitas yang dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran mengarah pada kreativitas penggunaan bahasa, bukan pada penggunaan bahasa yang bersifat
102
mekanik. Jadi dalam hal ini perlu adanya komunikasi dalam bahasa yang santun menjadi cermin dalam peningkatan kualitas belajar.
Hasil penelitian di atas juga menggambarkan skala pengukur kesantunan yang banyak digunakan sebagai dasar acuan dalam penelitian kesantunan, yaitu pada skala ketidaklangsungan (indirectness scale) lebih mengacu pada peringkat langsung atau tidak langsungnya maksud sebuah tuturan, seperti pada tuturan Banyakna! (sambil keluar masuk membuang sampah yang banyak ditemukan di dalam laci bangku).
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Leech (1993) dalam skala kesantunan, yaitu semakin tuturan itu bersifat langsung akan dianggap makin tidak santunlah tuturan itu. Demikian sebaliknya makin tidak langsung maksud sebuah tuturan akan dianggap santunlah tuturan itu.
Pengukuran skala lain pada hasil penelitian di atas, juga nampak pada bentuk-bentuk tuturan siswa yang cenderung kasar dan kurang beretika, seperti ahh..dipa’boteki ka’, banyakna, dan kenapa ko...kaya apa mi saja’ ! Bentuk tuturan tersebut nampak jelas menggambarkan bagaimana tingkat umur dalam proses pembentukan karakter. Hal ini sesuai dengan pendapat skala kesantunan menurut Brown dan Levinson (1978), yang menyatakan bahwa perbedaan umur antara penutur dan mitra tutur dapat menciptakan tuturan kesantunan. Makin tua umur peringkat kesantunan semakin tinggi. Hal ini karena faktor usia dan pengalaman hidup yang dirasa sudah banyak pengalaman dalam memecahkan sesuatu hal.
103
Sebaliknya orang yang masih berusia muda cenderung memiliki peringkat kesantunan yang rendah.
Selanjutnya, wujud implikatur pada skala ketidaktegasan juga nampak pada hasi penelitian di atas, seperti tuturan pada maksim hubungan di atas. Guru yang senantiasa membangun suasana santai namun tetap dalam proses kegiatan belajar-mengajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Lakoff (1973) dalam skala ketidaktegasan (hesitency scale) yaitu skala yang sering kali disebut dengan skala pilihan (optionality scale) dalam kegiatan bertutur penutur dan mitra tutur dapat saling merasa nyaman dan kerasan, pilihan-pilihan dalam bertutur harus diberikan oleh kedua belah pihak. Dengan tujuan menciptakan suasana santun agar tidak tercipta suasana tegang karena suasana tegang akan dianggap kurang santun.
104
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Penelitian ini mengambil kesimpulan berdasarkan data penelitian terhadap adanya implikatur percakapan dalam interaksi belajar mengajar siswa SD Islam Athirah II Makassar sesperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut.
Wujud implikatur percakapan yang ditemukan dalam pembelajaran di kelas yaitu pada prinsip kerja sama yang lebih menekankan penggunaan ujaran sesuai dengan tujuan percakapan yang telah disepakati atau sesuai arah percakapan yang diikuti sering dilanggar untuk mematuhi prinsip sopan-santun, yaitu (1) penerapan maksim kuantitas, penggunaan bahasa yang seperlunya oleh guru memberi respon pada siswa. (2) penerpan maksim kualitas, hal ini merupakan dampak dari respon siswa pada maksim kuantitas. (3) penerapan maksim hubungan, kemampuan komunikasi yang dibangun oleh guru melalui bentuk pembelajaran dengan menggunakan media. (4) penerapan maksim cara, bentuk tuturan guru yang jelas dalam menyampaikan materi merupakan cara efektif dalam peningkatan kualitas belajar.
Prinsip sopan-santun dalam hal ini yaitu berkomunikasi yang dipandang sebagai usaha untuk menghindari konflik antara penutur dan mitra tutur karena lebih bersifat sosial, estetis, dan moral dalam
105
melakukan suatu percakapan. Prinsip sopan-santun yang ada dalam penelitian ini diterapkan dalam beberapa, yaitu maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, dan maksim kesepakatan. Penerapan maksim ini yang masih perlu ditingkatkan karena masih ada kecenderungan siswa melakukan pelanggaran maksim tersebut, sehingga melalui Interaksi belajar-mengajar sebagai suatu kegiatan yang berproses antara guru dan siswa, guru melaksanakan pengajaran dan siswa dalam keadaan belajar, dapat diupayakan memberikan komunikasi yang lebih efektif dan baik. Dalam interaksi belajar-mengajar apabila guru yang selalu aktif memberi informasi kepada siswa, sedangkan siswa hanya pasif mendengarkan keterangan guru, yang tidak ada reaksi terhadap keterangan guru, maka hal demikian sebenarnya tidak terjadi interaksi proses belajar-mengajar.
B. Saran
Penulis dapat memberikan beberapa saran yang didasari dari hasil penelitian di atas, sebagai berikut :
1. Bagi sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keprofesionalan guru dan peserta didik dalam peningkatan kualitas belajar mengajar khususnya di dalam kelas.
2. Bagi guru bidang studi
Para guru diharapkan membantu mengrahakan dan membekali peserta didik menggunakan bahasa yang sopan sehingga nantinya
106
akan terbiasa berbahasa yang sopan dan santun, baik di kelas maupun di luar kelas.
3. Bagi peserta didik
Peserta didik diharapkan dapat menggunakan bahasa yang baik dan santun ketika dalam situasi belajar, karena kebiasaan berbahasa yang baik dapat membangun karakter kepribadian siswa tersebut.
107
DAFTAR PUSTAKA
Allan, Keith. 1986. Linguistic Meaning. New York: Monash University.
Austin, John Langshaw. 1962. How To Do Things With Words. London :
Carston. 1988. Explicature and Semantics. Departement of Phonetics and Linguistics. University College London.
Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: CV.
Pustaka Setia.
Depdikbud. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Edisi Ketiga). Jakarta:
Balai Pustaka.
Freeman, Larsen. 1986. Techniques and Principles in Language Teaching. Oxford University Press.
Gazdar. 1979. Pragmatics : Implicature, Presupposition and Logical Form.
Academic Press.
Grice, H.P. 1975. Logic and Conversation. Dalam Peter Cole dan Jerry L.
Morgan. (Eds.). Syntax and Semantics Volume 3: Speech Acts (hlm.41-58). New York: Academic Press.
________. 1991. Studies in the Way of Words. Cambridge. Harvard University.
Gunawan. 2000. Sosiologi Pendidikan. Bandung: Rineka Cipta.
Hunter. 1986. Analisis Varian Statistik. Jakarta: Universitas Terbuka Depdikbud.
Hymes. 1972. Models of Interaction of Language and Social Life. New York.
Kempson, R. M. 1977. Semantic Theory. Cambridge: Cambridge University Press.
108
Lakoff T. Robin. 1973. Language in Society Vol 2: Language and Woman’s Place. Cambridge University Press.
Lamzon, Th. Dan Richard B.N. 1986. Sosiolinguistics Aspects of Language Learning and Teaching. Cambridge: Cambridge University Press.
Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Terjemahan M.D.D.
OKA. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Levinson, S.C. 1983. Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press.
Lubis, Hamid. 1993. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa.
Mey, J.L. 1996. Pragmatics An Introduction. New York: Blackwell Oxford UK dan Cambridge USA.
Moleong, L.J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyana. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung.:Remaja Rosdakarya
Nababan, P.W.J. 1987. Ilmu Pragmatik (Teori dan Penerapannya).
Jakarta: Depdikbud.
Priyatni, E. 1993. Karakterstik Interaksi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Malang: IKIP Malang.
Purwo, B. K. 1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa. Yogyakarta:
Kanisius.
Rahardi, K. 2000. Imperatif dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Rakhmat, J. 2001. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Rodgers dan Richard. 1986. Approaches and Methods in Language Teaching. Cambridge University Press.
Rohmadi, Muhammad dan I Dewa Putu Wijaya. 2009. Semantik Teori dan Analisis. Jakarta: Lingkar Media
109
Rusminto. 2009. Analisis Wacana Bahasa Indonesia. Bandar Lampung:
FKIP Universitas Lampung.
Rustono. 1998. “Implikatur Percakapan sebagai Penunjang
Pengungkapan Humor di dalam Wacana Humor Verbal Lisan Berbahasa Indonesia”. Disertasi. Yogyakarta: Universitas
Negeri Yogyakarta.
Sardiman. 1994. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:
Rajawali Pers.
Searle, J.R. 1979. Indirect Speech Acts. Dalam Peter Cole dan Jerry L.
Morgan. (Eds). Syntax and Semantic Volume 3 Speech Acts (hlm. 59-82). New York: Academic Press.
Soetomo. 1993. Interaksi Belajar Mengajar. Jakarta: Usaha Nasional.
Sudjana, Nana. 2002. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung:
Sinar Baru Algesindo.
Suparno dan Martutik. 1998. Wacana Bahasa Indonesia. Jakarta:
Depdikbud.
Suparno. 2002. Analisis Wacana dari Linguistik sampai Dekonstruksi.
Yogyakarta: Kanisius.
Surakhmad, Winarno. 1984. Metode Pengantar Pendidikan. Bandung:
Tarsito.
Sutopo. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.
Suwandi, Sarwiji. 2008. Evaluasi Pembelajaran Bahasa Indonesia.
Yogyakarta: Multi Pressindo.
Suyanto. 2009. Asesmen Pembelajaran di Sekolah. Yogyakarta: Multi Pressindo.
Wahab. 2007. Implikatur Tindak Verbal Pujian Guru dan Siswa dalam Interaksi Belajar Mengajar di Kelas XI SMA Negeri 5 Makassar.
Tesis Tidak diterbitkan. Makassar: Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar.
Wahid, Sugira. 1996. Analisis Wacana. Ujung Pandang: FPBS IKIP Ujung Pandang.
Wijana, I D.P. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Press.
110
Wiryotinoyo, Mujiono. 1986. Implikatur Percakapan Anak Usia Prasekolah.
Disertasi tidak diterbitkan. Malang: IKIP Malang.